
" Armando..." Panggil gudalupe dengan lirih. Ia duduk bersandar disandaran brankarnya
Armando bergegas mendekati brankarnya." Iya, Nyonya."
" Apa ada pesan dari tuan Gurman?"
" Tidak ada, nyonya. Tetapi beliau telah mengetahui jika kita mengkhianatinya."
" Jangan mengkhawatirkan itu, biar saya yang mengurusnya."
Gudalupe menyodorkan iPad padanya." Tolong sambungkan saya pada link yang tertera dalam chat saya dengan bapak Andre."
Tanpa bertanya lebih lanjut, agar tidak menimbulkan kecurigaan, Armando langsung melaksanakan tugasnya.
Di layar iPad tertayang rombongan ambulance.
Melihat raut bingung sekaligus bertanya dari Armando, Guadalupe tertawa.
" Malam ini akan menjadi malam kehancuran RaHasiYa, letakan iPad tersebut di penyangganya di atas bed table."
" Maksud nyonya?"
" Dalam ambulance tersebut terdapat Sandra Atma Madina, siapa yang menyangka ada orang yang berani menyentuh milik RaHasiYa, dan saya akan menuntaskannya dengan mencabut nyawa Sandra.
Mereka meremehkan istri ketua mafia, saat ini akan saya tunjukan bagaimana jika mafia itu marah." Desis Guadalupe penuh amarah.
" Nyonya, kita sudah terlalu banyak kehilangan, termasuk tuan Eric. Coba pikirkan kembali."
Guadalupe langsung menoleh menatap tajam Armando." Justru karena saya kehilangan seorang putra, saya harus membalas mereka."
" Tuan Gurman tidak akan menyukai ini."
" Hahahaha, hanya dia yang akan hancur kehilangan kartelnya, saya dan Eric sudah mempersiapkan untuk hal ini."
Armando terdiam melihat aura jahat dari wanita tua ini.
Sambil matanya tersenyum smirk melihat kebrutalan anak buahnya menembaki para petugas Guadalupe berucap;
" Setelah ini Fatio Hartadraja dan negara ini akan merasakan juga kehancurannya."
Armando menatap layar dengan dingin, ingin ia segera keluar dari ruangan ini.
" Pergilah, ambilkan Champagne, saya akan menikmati kemenangan ini. Tidak lama lagi kita akan pergi dari negara ini, jadi bersiaplah berpesta."
Armando langsung keluar tanpa protes, setelah masuk ke dalam pintu darurat rumah sakit yang tanpa cctv, ia lekas mengirim pesan pada seseorang tentang apa yang diucapkan oleh Guadalupe.
*******
Tanpa tedeng aling-aling mereka mengeluarkan senjata api, menembaki para petugas secara brutal, beberapa petugas terkena tembakan, termasuk badan kendaraan patroli, jalan yang licin akibat hujan membuat dua motor dan satu mobil melaju secara acak karena tergelincir sebelum akhirnya terguling dan menabrak pembatas jalan, sedangkan sisa kendaraan lain untuk menghindari kecelakaan hebat, p0lis1 menabrakkan diri ke benda di samping jalan termasuk pohon, tiang lampu , dan pembatas jalan.
" Kyaaa..."
Jeritan para warga di tengah malam melihat adegan itu menggema, banyaknya asap yang keluar dari mobil membuat warga bergegas menolong para petugas dikhawatirkan ada percikan api.
Tim RaHasiYa terkejut dengan yang apa yang mereka lihat. Melihat polisi sudah tidak bisa melanjutkan perjalanan, Jeno dan pasukannya segera memacu motornya mengejar pelaku.
Mumtaz mengeluarkan macbooknya dari ransel langsung membuka sistem ke gedung RaHasiYa.
" Fa, lindungi para bocil." Seru Bara.
Tidak ingin menghambat operasi para Abang, Tia yang semula duduk di bangku tengah bersama Alfaska dan Mumtaz pindah ke bagian belakang yang terdapat para sahabatnya.
" Kalian berpegangan, Abang bakal ngebut." Ujar Ragad.
Keempat sahabat itu saling merapatkan diri saling berpelukan. Bara berpindah duduk ke bangku tengah
Ragad yang mengendarai Van segera menambah kecepatan lajunya di jalan yang sudah dibuka oleh anak RaHasiYa.
" Ibnu, raport." seru Mumtaz.
" Mereka keluar sejak pintu tol keluar, langsung menargetkan ambulance, sekarang ambulance dikepung mereka."
" Nu, kirim gambar terbaru."
Segera dilayar monitornya muncul keadaan terkini lalu lintas dimana ambulance dijaga ketat beberapa motor dan dua mobil. Bara dan Alfaska turut mengamati keadaan.
" Gue sudah mengintruksikan sopirnya untuk mengikuti mereka mengingat keadaan Tante."
Ambulance masih terus mencoba melaju, dari sebelah kanan terlihat satu orang menodongkan senjata pada bagian sang sopir.
" Di sebelah kanan satu orang siap menembak ku. Dokter, tolong berposisi siaga." Seru sang sopir.
" Saya akan mencoba sekali lagi merusak konsentrasi mereka."
Aryan, dokter, para perawat, langsung memegangi brankar, menekan kaki mereka diantara dibagian bawah brankar dan pemijak kursi agar brankar tidak turut bergerak.
Sandra sendiri sekujur tubuhnya sudah terikat tali pengaman dengan kencang.
__ADS_1
Sandra dari sorot matanya panik dan ketakutan, tidak banyak yang Aryan bisa lakukan selain memberinya senyuman menenangkan.
" Rileks, sayang. Afa tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padamu." Bisiknya lembut."
Jantung mereka berdetak kencang, rasa takut, cemas, khawatir bersatu, tapi sebagai profesional mereka tidak diperbolehkan panik, konsentrasi harus tetap dijaga. Apalagi mengingat pasien mereka adalah zuper VVIP dilarang membuat kesalahan.
" Kami siap." Seru sang dokter.
Sopir secara perlahan menginjak gas, melaju sedikit zig-zag, namun terdengar instruksi dari earphone agar sopir menghentikan usaha kaburnya.
"...Kami yang akan menangani para penyusup, kamu fokus menuju rumah sakit..." Seru Bara.
Sementara Bara sibuk berkomunikasi, ponsel Mumtaz bergetar. Ia membaca pesan yang masuk.
" Jeno?" Panggil Bara.
" Kami di belakang mereka, siap melaksanakan perintah." kata Jeno.
" Lindungi ambulance, serang para penyusup." Seru Bara.
" Siap."
Beberapa motor anak RaHasiYa yang bersiap sepanjang jalan mengikuti Jeno. Kini jalanan yang semula sepi ramai dihuni pemotor berseragam serba hitam, bedanya pemotor anak RaHasiYa dibagian punggung terdapat logo R dengan ukuran besar berwarna emas yang dilingkari benang berwarna emas menyala.
Mereka terbelah menjadi beberapa bagian, beberapa bagian menghilang di kegelapan malam.
Terlihat Jeno dan beberapa motor mendekati pelaku, tiba-tiba anak RaHasiYa menyerang penyusup dengan menembaki mereka.
Beberapa dari mereka terkena tembakan, termasuk yang menodongkan senjata, tetapi dari arah kegelapan pinggir jalan muncul beberapa kendaraan, rekan mereka yang membalas menembaki anak RaHasiYa.
Beruntung hujan turun menyertai serbuan mereka hingga beberapa tembakan mereka meleset dan tidak mengenai organ vital.
" KELUAR DARI MEDAN." ujar Bara.
Jeno dan kawan-kawan langsung meninggalkan arena, para musih tersenyum jumawa. Mereka melaporkan keadaan terbaru pada sang pemimpin. Salah satu dari mereka mengacungkan jari tengah pada Van yang ditunggangi oleh petinggi RaHasiYa.
Ekspresi geram menghantui wajah Bara petinggi RaHasiYa.
*****
Di rumah sakit Guadalupe tertawa terbahak meski punggung dan sekitar pinggangnya sakit melihat keberhasilan anak buahnya mengalihkan anak RaHasiYa.
Sama halnya dengan dua pria yang satu paruh baya dan satunya berusia sekitar 35,an yang terlihat gagah seorang wakil d3w@n di ruang kerja dengan slogan mengayomi rakyat di m@bes p*lr1.
Mata mereka berbinar melihat serangan para anak buahnya." akhirnya diantara kita ada yang bisa menaklukkan mereka." ucap senang sang d3w@n.
" Lakukan segera selagi mereka berduka dan sibuk akan diri mereka sendiri."
Lepas dari pengamatan mereka, gambar tersebut terus bersiar putar berulang-kali hasil dari sepenggal editan rekaman, kenyataannya tidaklah demikian.
*****
Atas perintah Bara, lapis kedua RaHasiYa pun turut muncul melakukan serangan balik dibarengi rentetan peluru yang berterbangan menembus diri mereka secara brutal.
" Mundur, tangkap salah satu dari mereka bawa ke gedung RaHasiYa." Seru zayin dari seberang sana.
Tidak siap akan kejutan itu, beberapa musuh berhasil dilumpuhkan, mereka berjatuhan dari motor mereka.
Beberapa anak RaHasiYa berhasil menarik kerah dua orang yang terkapar di jalan, lalu menyeretnya rekannya hendak mencegah, namun segera ditembaki anak RaHasiYa lainnya.
Sebelum sang lawan menyerang balik, mereka menghilang di tengah kegelapan malam.
" Zayin." Panggil Alfaska tidak puas.
" Gue dibangunin Nando yang sedang Tremor, gue lihat dari rumah. Melihat pergerakan mereka, mereka bukan orang sipil. Ibnu butuh salah satu dari mereka untuk mencari identitas pelaku." Jelas Zayin.
" Tapi kita dalam posisi di atas, Mami harus segera tiba di rumah sakit." Seru Alfaska.
" Dengarkan apa yang perintahkan Zayin." Ucap Mumtaz dengan suara datar. Aura marah dalam gestur tenangny5ta sangat meresahkan mereka.
" Muy..." Mumtaz menyongsong kan ponselnya pada Alfaska dan Bara.
" Mereka mengetahui operasi ini, ada pembocoran informasi keluar." ucap Mumtaz memijit pelipisnya menghalau kegusarannya.
" Rio, Lo pergi dari jalan menuju gedung RaHasiYa, cari informasi terkait pembocoran tersebut." Titah Mumtaz.
" Siap."
" Do , tampilkan apa yang gue tunjuk yang tadi gue suruh Lo periksa." Perintah Zayin.
Layar memperbesar gambar beberapa titik merah di ujung atas jalan.
" Ada drone asing selain punya kita, mereka memanfaatkan cctv lalu lintas mengamati pergerakan kalian. Bang Dewa dan tim sedang mencari tahu." Terdengar suara kalem namun tersirat ketakutan dari Nando.
Selanjutnya diganti Gambar yang terdapat lingkaran yang menunjukan bayangan orang berkendara.
" Mereka telah menyiapkan diri untuk bertempur, mereka mengawasi kalian, entah darimana sumbernya. Insiden tadi hanya suatu keberuntungan bagi RaHasiYa yang selalu tidak menurunkan pasukan secara keseluruhan." info dari Zayin.
__ADS_1
" Apa langkah selanjutnya, Yin."
Mata Mumtaz, Alfaska, dan Bara terus menatap monitor, wajahnya datar tanpa ekspresi.
Terdengar suara ketikan dari pihak Zayin.
" Kalau menyerang sekarang terlalu beresiko, snapan mereka otomatis jenis M16, senapan serbu yang mematikan dan hanya biasa digunakan oleh militer Amerika dan sekutu, serta NATO dan non NATO yang beroperasi jarak pendek. Kalian bisa menghubungi pihak mereka, mengapa pihak diluar mereka mempunyai senjata ini."
Instruksikan anak RaHasiYa di jarak aman. bang Daniel, agar berjalan cepat, sebaiknya kalian menurunkan para robot serbu. Tunggu instruksi selanjutnya." tegas Zayin dengan suara dingin.
Ibnu yang semula menutup satu jalur, sekarang sayu ruas jalan sekitaran menuju rumah sakit dikosongkan. Hal ini dimanfaatkan ank RaHasiYa mengambil posisi mengepung berbentuk U dari arah belakang menjurus ke kiri dan kanan mereka dengan jarak aman.
Tidak berapa lama di tengah anak RaHasiYa bagian belakang drone pengangkut datang, serempak mereka membentuk formasi berbaris lurus ditengah kegelapan malam, dari atas terjuntai tali berukuran kecil, satu persatu para robot menjatuhkan diri di atas motor, melalukan pemindaian suasana, lalu melompat, kemudian terbang bertransformasi menjadi berbagai macam hewan, mereka hinggap di tempat yang sudah diarahkan oleh Zayin. Yang menimbulkan kernyitan dalam bagi petinggi RaHasiYa.
Keberadaan robot yang berukuran mini lepas dari penglihatan pihak lawan, secara serempak mereka hinggap dibagian bawah lampu.
" Bang Ibnu, dalam hitungan lima matikan semua lampu kita Jakarta kecuali gedung pemerintahan pertahanan, pamelayanan bantuan, dan pelayanan kesehatan. Kita akan memadamkan Jakarta.
Anak RaHasiYa bersiaplah dengan kaca mata malam kalian, instruksi pertama untuk kalian; tembaki ban motor Mereka, siapkan senjata untuk merampas senapan mereka tanpa sentuhan fisik, sesudahnya tembaki mereka tanpa jejak. Siapkan pasukan dlam waktu 10 menit.
Untuk para operator RaHasiYa, kalian fokus mengawasi sekeliling anak RaHasiYa, Dewa dan Bayu saat ini sedang masuk ke sistem mereka, kemudian mematikan sistem mereka dengan menggunakan gambar serangan dari pihak musuh. Kita bertindak setelah mendapat laporan dari Dewa." Komando Zayin.
Selama menunggu ambulance terus berputar di sekitar jalan menuju rumah sakit.
Selang 15 menit, Dewa dan Bayu menyelesaikan misinya.
" Dalam hitungan tiga, manipulasi gambar akan aktif. 1...2...3...ready. mereka sekarang sedang menonton adegan pertama mereka." Ucap Bayu.
" Pasukan siap." Seru Jeno.
Zayin memberi instruksi." Lakukan dengan cepat dalam waktu 10 menit untuk melumpuhkan mereka, 20 menit menghilangkan jejak. Kita diuntungkan dengan turunnya hujan, jadi tidak perlu merisaukan soal darah.
5...4...3...2...1...."
CTAK.... Dalam sekejap jakarta gelap gulita, berbarengan dengan matinya lampu motor para lawan, dan anak seluruh anak RaHasiYa.
Anak RaHasiYa membagimi diri dalam kelompok tembak, perampasan senapan, menghalau serangan dari regu lawan yang selanjutnya dengan duduk memunggungi sang pendeta dengan mengantispasi kiri dan kanan, dan pengakhiran lawan. Tembakan mereka menargetkan leher, lengan, paha dan kaki. Mengingat mereka mengenakan rompi anti peluru.
Dengan menggunakan kaca mata malam mereka tidak menemukan kesulitan untuk menembaki ban para musuh, mereka terkejut.
Dor..dor..dor..dor...dorr..dor..dor...dor..dor...dor....
Di tengah kegelapan dinihari bisingnya desing peluru mengisi heningnya malam terdengar ke seluruh arah, para musuh kewalahan tanpa persiapan, mereka belum sempat mengenakan kaca malam mereka, mereka tidak diberi kesempatan untuk membalas karena sibuk mengamankan diri. Termasuk tim cadangan mereka yang menunggu di pinggiran jalan yang dibombardir peluru oleh tim RaHasiYa.
Belum jua mampu mengendalikan kendaraan mereka karena jalanan yang licin, senapan yang mereka mulai siagakan tiba-tiba ditarik rantai besar dengan kencang hingga terlepas dari pegangan mereka.
Dor...dor...dor...
" Aaaaaa...."
Disusul kembali rentetan peluru yang menyerang diri mereka, jeritan kaget bercampur sakit menggema kencang, warga sekitar menoleh kanan-kiri mencari sumber suara mengerikan itu.
Terdengar tabrakan antar kendaraan hingga tidak ada lagi motor yang melaju. Semaunya jatuh saling menumpuk, ada beberapa terpental berserakan. Jalanan kacau.
Di belakang mereka, hampir seluruh anak RaHasiYa junior dari tingkat SMA dan kuliah sudah bersiap di pinggir jalan dengan senter di kepala, mereka secara gotong royong bergegas menarik satu persatu tubuh lalu melemparkannya ke dalam truk besar bagai sekarung sampah.
Pun demikian pada kendaraan mereka bernasib sama dengan sang penungganganya.
Butuh dua jam untuk membereskan semua kekacuan, setelah situasi sedia kala, lampu kembali menyala menyinari kota Jakarta.
*****
Ambulance melaju dengan kecepatan standard menuju rumah sakit dikawal oleh anak RaHasiYa dipimpin oleh jeno yang berkendara di depannya.
Menuju perempatan terakhir lalu lintas dekat rumah sakit, traffic light ruas samping sedang hijau terdapat beberapa kendaraan motor dan mobil melaju dengan kecepatan standard.
Saat melewati perempatan itu, tiba-tiba dari arah kanan dan kiri ruas, dua Van hitam dengan kecepatan penuh melajukan diri menabrak kendaraan yang lewat, menghantam ambulance dari dua arah tersebut.
Dua Van tersebut penyok hancur, dengan Jeno terkapar tidak sadarkan diri dibawah diantara mereka terhalangi tertindih belakang badan motornya
Ambulance terpental terbang beberapa meter sebelum jatuh terguling-guling lalu terseret menyamping kiri kemudian membentur cor pembatas jalan laku ambulance tersebut berputar-putar kayaknya komedi sebelum akhirnya berhenti dengan posisi badan mobil miring dengan bentuk badan sangat miris.
Kendaraan-kendaraan lain yang ditabrak dua Van tersebut pun turut menjadi korban bertebaran disembarang tempat di jalan besar itu, warga sontak berlari ke arah rumah sakit.
" MAMI....PAPI..." Jerit Alfaska penuh tenaga dengan syok.
Mumtaz langsung memeluk erat Alfaska yang berwajah pucat, sementara ekspresi bara bengong disusul dengan pucat.
Tia dan Dista sudah menangis menjerit dalam pelukan Cassandra dan Sisilia.
Begitupun dengan petinggi dan anak RaHasiYa lainnya baik yang berad aid gedung maupun jalanan mereka terhenyak diam mematung dengan mata membola besar, wajah mereka pias....
Maafkeun lama update..mulai sibuk kesibukan dua bocil masuk TK dan paud...jadi masih penyesuaian waktu gitu, belum lagi mikir alur cerita..maklum masih amatir..
selamat membaca, semoga masih suka.
komen, hadiah, vote dan like ya seperti biasa ..
__ADS_1