Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
Bab 102. RIP FOR HITO HARTADRAJA


__ADS_3

Beberapa jam sebelum Dewa menyerahkan dirinya.


Begitu pintu lift terbuka Zahra, Zahira, dan Zivara bergegas keluar, di depan pintu rawat inap Sri Guadalupe didampingi beberapa pria asing berperawakan kekar berpakaian hitam sedang berteriak-Teriak menggunakan bahasa spanyol memaksa untuk masuk yang dihadang oleh pihak keamanan Gaunzaga.


Mereka khawatir karena menurut informasi pihak keamanan saat ini tidak ada pria dari pihak keluarga, mereka semau keluar sejak mendapat telpon dari Akbar entah untuk apa.


" Ada apa ini? Ini rumah sakit bukan tempat konser yang bisa berteriak seenaknya." Tegur Zahra menghampiri mereka sementara Zahira dan Zivara memasuki ruangan pasien.


" Lagi-lagi kamu, minggir. Ini bukan urusan dokter." bentaknya menggunakan bahasa Inggris, Guadalupe mendorong tubuh Zahra dengan kedua tangannya yang sudah keriput.


Zahra terdorong beberapa langkah kecil, dia menepuk-nepuk jubah putihnya seakan menghilangkan kotoran.


Geram dengan sikap arogan dari pengunjung satu ini, Zahra menatap tajam padanya. Dia melangkah berdiri tepat dihadapannya, para pengawal Guadalupe merapat berniat mengintimidasinya yang dihadang Leo dan anak buahnya yang turut merapat berdiri mengelilingi Zahra.


" Kalau itu menyangkut pasien itu menjadi urusan saya, sebaiknya anda pergi. Pasien sekarang sedang tidak menerima kunjungan."


" Kau... Kau berani melarang saya?"


" Tentu, kenapa tidak."


Mata Guadalupe melotot," apa mereka tidak memberitahukan anda siapa saya?"


" Siapapun anda itu tidak ada pengaruhnya buat saya, di sini saya yang menentukan."




Yuda dan para sahabat yang masih berada di ruangan Bara tak jauh dari tempat Sri keluar untuk melihat keributan yang mereka dengar.



Begitu mereka lihat yang adu mulut adalah Zahra, mereka secara bersamaan keluar menghampiri Zahra, Yuda memberi kode Leo untuk menelpon Hito.



petugas Gaunzaga mundur begitu Yuda dan para sahabat berdiri di belakang Zahra. Yuda menelpon Mumtaz, begitu sambungan diangkat ia mengarahkan ponselnya ke Zahra agar Mumtaz mendengar apa yang terjadi di sini.



\*\*\*\*\*\*



" Guadalupe di rumah sakit memaksa masuk ruangan Nenek." Tutur Hito begitu menutup sambungan telpon dari Leo.



Mereka yang hendak keluar dari toko tato langkahnya terhenti. Ibnu langsung menuju mobil yang ditumpanginya bersama Alfaska dan Daniel.



Di bangku penumpang Ibnu langsung mengeluarkan laptopnya meretas cctv rumah sakit lantai zuper VVIP.



Alfaska sudah duduk di bagian kemudi, " gue susul Mumtaz ke hotel the Sultan." Tutur Daniel pada Alfaska di depan pintu mobil kemudi yang mana Alfaska sudah menyalakan mesin.



" Oke, kita ke rumah sakit."



\*\*\*\*\*



" Kau,... Kalau kau masih sayang nyawamu minggir dari hadapanku." Bentak Guadalupe penuh penekanan.



" Sebaiknya anda menyingkir dari sini secepatnya sebelum saya melaporkan anda ke pihak yang berwajib." balas Zahra.



" Lancang sekali anda, saya bersumpah akan membunuh mu karena berani menghalangi langkahku, ini janji seorang Gonzalez." Telunjuknya menusuk-nusuk dada Zahra yang langsung dicekal oleh Zahra.



" Sebelum kau mengancam ku, saya bersumpah anda terlebih dahulu yang akan merasakan penderitaannya, jadi menyingkirlah dari sini, dan jangan pernah kembali Jika tak ingin kena batunya." Zahra menghempaskan tangan Guadalupe dengan kasar.



" Jika kau menganggap sepele ucapan saya, saya Berani jamin anda tidak akan bisa kembali ke negara anda dalam keadaan sehat. Ini janji seorang Romli."



Mereka saling pandang menjaga wibawa masing-masing, akhirnya Guadalupe berbalik badan melangkah meninggalkan lantai zuper VVIP.



" Hubungi staf keamanan rumah sakit untuk melarang mereka memasuki area rumah sakit." Pintanya kepada Leo yang diangguki oleh Leo.



Saat hendak memasuki ruangan Sri dari ujung matanya dia Melihat Samudera dan Erwin menuju ruang inap Hito.



Setelah memastikan keadaan Sri secara keseluruhan Zahira mendekati Zahra yang duduk di sofa bersama Nadya, Zivara dan juga Sivia.



" Bagaimana?"



" Semuanya stabil, tak ada yang perlu dikhawatirkan." Jawab Zahira memberi hasil pemeriksaannya pada Zahra.



Dari brankarnya Sri memperhatikan Zahra yang terlihat lelah, sekelumit rasa bersalah bersarang di hatinya.



Zahra menyadari tatapan Sri semenjak dia masuk ruangan, terapi coba dia abai. Untuk saat ini konsentrasinya hanya untuk pemulihan Hito dan Dewi.



" Sivia, saya bisa mempercayakan penjagaan nyonya Sri pada kamu kan!? Jika kau lalai kau berhadapan denganku." Sivia menganggukan kepala pasrah.



Sebenarnya Zahra menaruh curiga akan keterlibatan pada Sivia atas apa yang terjadi pada keluarga Hartadraja karena dia notabene merupakan bagian keluarga dari Gonzalez



" Mbak, saya mau cek kondisi Cassandra."



" Iya, jangan mengkhawatirkan nenek kami bisa menanganinya." Seru Nadya.



" Mbak jangan terlalu lama di sini kasian Krystal."



" Kami akan pulang begitu para pria balik ke sini."



" Baiklah kami permisi." Tiga dokter yang terkenal dengan triple Z itu keluar ruangan meninggalkan nenek dengan tatapan sendunya.



" Nek, apa ada yang mengganggu nenek?" Nadya mendekat ke brankar Sri.



" Tidak ada, bagaimana keadaan Dewi?



" Mama berangsur membaik, Nenek cepat sembuh ya."



Sri tersenyum kecil dengan mata sayu," iya, nenek istirahat dulu ya."



\*\*\*\*



Begitu pintu ruang inap Casandra dibuka, triple Z terbelalak kaget melihat Casandra menangis histeris dalam pelukan Mamanya, Julia. yang terus menenangkannya juga oleh Radit yang sejak Cassandra masuk rumah sakit ditugasi untuk mendampingi penyembuhan traumanya.



" Kenapa?"  Zahra mendekati brankar Casandra untuk memeriksa kesehatan fisiknya.



" Ketakutan karena suara orang asing tadi." Julia memberitahunya dengan suara pelan.



Tanpa kentara, " Maaf, pasti teriakan kakak tadi mengagetkan Cassy ya." Sesalnya, Zahra memegang tangan Cassandra mengukur denyut nadinya.



Cassandra menggeleng ditengah tangisnya yang mulai memelan," Bu...bukan. Cassy ha...hanya...ya..takut i..itu...me..mereka." sesengguknya, Zahra mengangguk paham.



Meraup kedua tangan Cassandra dalam satu genggamannya, Zahra menatap lurus manik Cassandra yang muram.



" Kamu percaya pada Kakak kan? Cassandra mengangguk, Zahra memberi senyuman yang meneduhkan.



"Papa, Mama, Kakak dan yang lainnya tidak akan membiarkan hal jelek terjadi padamu, jadi tenanglah. Sekarang lebih baik *merefreshingkan* diri dengan hal-hal yang menyenangkan semisal menjahili Bara untuk bersedia didandani? Gimana? Apalagi kalau akbar juga ikut didandani seru kali ya!" Zahra terkikik geli.



Cassandra pun turut terkikik geli membayangkannya," *keep strong okey? You still* *beautiful no matter what happened. Couz, you're our* Cassandra. and *we're accepted*" Mengecup kening Cassandra lama dan dalam menyalurkan rasa sayang padanya.


__ADS_1


Semua interaksi Zahra dan Cassandra terekam dalam pengamatan Tia yang duduk di sofa tunggal menghadap brankar, ia meremas permukaan tasnya karena merasa iri pada Cassandra. Dia lupa kapan terakhir kali dia berbicara penuh kasih dengan kakaknya itu. ia sadar ia egois dan berubah, tetapi dia tak mau kehilangan sosok seorang ibu yang dia dapatkan dari Sandra. Dia harus melakukan apa yang diinginkan olehnya agar Sandra menyukainya.



Tia menunduk menahan sesak di hati karena serangan berbagai emosi yang menghampiri hatinya. Ia rindu keakraban kekeluargaan saudaranya.



Cassandra menatap Zahra sambil tersenyum, " terima kasih, *love you aunty*."



" Hehehe, kalau nenek dengar matanya melebar itu." Zahra merapihkan selimut Cassandra.



" Kalian tidak kuliah?"



" Sudah, Ini kita baru datang ." Jawab Dista sambil memakan cemilan yang ada di atas meja.



Zahra mengangguk, " Mbak, aku jenguk Tante dulu ya." Pamitnya pada Julia.



" Terima kasih untuk semuanya." Sebenarnya Julia merasa sungkan pada Zahra karena mereka tidak terlalu dekat jika dibanding dengan Eidelweis,, tetapi keluarganya berkali-kali ditolong olehnya.



" Dan kalian jangan keluyuran sendiri, punya teman lelaki manfaatkan mereka." Serunya sebelum menghilang dibalik pintu.



Selepas memastikan keadaan Dewi yang ditunggui Eidelweis dan Adelia berangsur pulih cepat, beruntung Hito melakukan pencegahan hingga benturannya tidak terlalu keras, alhasil Dewi hanya mengalami gegar otak ringan saja. Triple Z mengunjungi ruang inap Hito.



Sambil melangkah masuk Mata Zahra mengamati sekelilingnya, ia berjalan ke ruang tunggu lalu menghembuskan nafasnya gusar setelah memastikan Hito tidak ada di tempat, hanya ada Erwin dan Samudera yang sedang membahas bisnis duduk di sofa.



Samudera tersenyum pada Zahira yang berdiri tak jauh dari pintu disamping zivara dibalas delikan sinis olehnya yang tidak dipedulikan oleh Samudera hingga ia tetap memberikan senyumannya seakan tanpa dosa.



Zahra berdiri di pintu antar ruangan, " Kemana Kak Hito?"



" Gak tahu, kita masuk Hito udah enggak ada." Jawab Erwin ragu-ragu, ia was-was kala melihat raut wajah Zahra yang datar begitu mendengar perkataanya.



Ceklek!!



Hito memasuki ruangan disusul Dominiaz, dan Heru dibawah tatapan tajam Zahra. Langkahnya terhenti di tengah ruangan, tangannya bertopang pada kepala sofa sebab menahan tubuhnya yang lemah dn Han butiran keringat di pelipis karena menahan pusing kepalanya.



" Darimana?" Tanya Zahra memindai Hito dari atas sampai mata kaki seolah-olah takut terjadi sesuatu dengan Hito.



Hito bergeming di tempat, sementara Dominiaz sudah duduk di sofa *single*, Heru duduk di samping Samudera.



" Dari luar." Lirihnya memijat-mijat pelipisnya, Zahra menghalau rasa cemasnya.



" Apa kamu tidak bisa menurutiku untuk tidak banyak bergerak walau hanya sementara waktu?"



" Ini darurat, apa kamu tahu kalau Cassy diculik dan mau diperkosa?"



" Tahu, aku yang hubungi Ibnu, sehingga Cassy bisa selamat tanpa andil kamu." Tekan Zahra pada tiga kata terakhir.



Hito terkejut, ia meremas sandaran kursi, egonya tersentil.



" Jika kamu ingin menolong keluargamu, cukup beristirahat di sini. Ku pikir empat orang dari keluargamu terbaring di rumah sakit itu jumlah yang banyak."



" Bagaimana bisa aku istirahat, mungkin peranku kurang berarti tapi aku tak bisa berdiam diri ketika keluarga Hartadraja terancam hidupnya." sarkas Hito mulai menaikan nada suaranya membuat Zahra terkaget untuk sesaat.



" Kupikir hanya Gaunzaga dan RaHasiYa mampu saja mengatasinya, selama ini kinerja mereka belum mengecewakan."




" Kalau kau sehat aku tidak akan melarang mu, tapi kau sakit."



" Aku baik-baik saja." sambung cepat Hito.



" Apa selain sebagai pahlawan kesiangan kau juga berperan sebagai dokter hingga menganulir hipotesis ku?" Sindir Zahra frontal penuh tantangan.



Emosi Hito tersulut, sakit di kepala ya semakin jadi, Zahra tidak memahami kegundahannya. pikirnya.



" Zahra, kau tidak tahu bagaimana rasanya begitu tahu keluarga mu akan diperkosa dan dibunuh selain balas dendam tidak ada lagi yang kupikirkan, dan kau menyuruhku untuk tiduran, persetan dengan hipotesis mu." Hito membentaknya penuh emosi.



Zahra tertegun, kaget dengan emosi meledak Hito.



" Aku tahu kau tidak menyukai keluargaku, tapi demi Tuhan ini keluargaku, ini urusanku, kau tidak berhak ikut campur dan mengaturku."  Tuduh Hito memukul kepala sofa sebagai pelampiasan emosinya.



Zahra tercengang, kedua tangannya yang berada dalam kantong jubah putihnya mengepal, semua pasang mata yang hadir membola besar dengan tudingan Hito.



" Maaf, kalau kepedulian ku padamu dirasa mengatur hidupmu. Rumah sakit Atma Madina bisa memecat ku jika diagnosa ku padamu salah. Tentang kebencian, nenekmu yang tidak menyukaiku, namun aku bertahan karena aku mencintaimu dan menghargai apa yang sudah kau lakukan untukku." Zahra menghela nafas gusar.



" Kau benar kau tidak butuh aku, yang kau butuhkan mungkin adalah Sivia Gonzalez, putri dari Eric Gonzalez, cucu dari Guadalupe Gonzalez. Seseorang yang sejak kedatangannya keluarga Hartadraja mengalami beberapa hal buruk. Tidakkah kalian seharusnya mencurigai modus Sivia untuk kembali menjadi bagian Hartadraja?" Zahra menatap mereka yang hadir satu persatu, mereka merenungi perkataan Zahra.



" Kenapa kalian tidak mempertimbangkan  kemungkinan keterlibatan Sivia? ini sedikit kepedulianku dan aku bisa melakukannya tanpa mengharuskan ikut bersama RaHasiYa. Terima kasih sudah mengingatkan posisiku dalam kehidupanmu." Sindir Zahra kepada Hito.



Zahra terluka, ia lelah, dan tak ingin lagi menyimpan emosinya, Zahra melempar keras kotak cincin yang dulu diberikan Hito sewaktu melamarnya. Selama ini Zahra selalu membawa kotak itu sebagai penguat diri untuk bertahan bersama Hito ditengah hinaan dan cacian nenek Sri.



Dugh!!



Kotak itu menghantam dada Hito dan jatuh tak jauh di depan kakinya.



Tanpa kata disertai kepala tegak Zahra meninggalkan ruangan mengabaikan tatapan sesal dari Hito dan yang lainnya.



Hito menatap penuh sedih kotak itu.



Zahira dan Zivara yang berdiri di belakang Hito menatapnya penuh kebencian.



" Ku beritahu padamu tuan Hito Hartadraja bahwa Zahra sejak kecelakaan mu sampai sekarang Zahra belum pernah meninggalkan rumah sakit karena mengkhawatirkan keadaan keluargamu, dan tuduhan kejam itu yang bisa kau berikan padanya sebagai balasannya? Hebat!" Zahira melirik dengan marah pada Samudera sebelum keluar.



" Beruntung kau tidak dijodohkan denganku oleh tuhan, orang yang tidak tahu mana ketulusan dan mana diktator." Sembur Zivara menyusul Zahira dan Zahra.



Hito tertunduk, nyeri dikepalanya semakin jadi, ia berbalik hendak menyusul Zahra, tetapi matanya terkaget mendapati orang-orang yang berdiri di sana, petinggi RaHasiYa, Zayin, Farhan, dan seluruh pria Hartadraja. Mereka berada di ruangan ini karena berencana hendak *meeting* membahas solusi perkara ini.



Mumtaz dengan kedua tangan dalam saku celana panjangnya dan Zayin bersedekap dada menatap kecewa pada Hito, tanpa kata Mumtaz berbalik dan menghilang dibalik pintu.



Sedangkan Zayin masih menatapnya  penuh perhitungan pada Hito," seharusnya kau tahu betapa kakakku peduli padamu dan keluargamu, menekan segala emosinya dan menerimamu dalam hidupnya dan membuktikan sekuat tenaga kalau kau pria yang baik meski kau telah menabrak ayahku bukanlah hal mudah baginya, tetapi kau masih mengatakan dia membenci keluargamu? Terima kasih atas kebaikanmu." Setelahnya dia pun pergi dari sana.



" Demi Tuhan, kenapa om tega berkata demikian, apa kau lupa dia sudah menolong Cassy, baik dulu maupun sekarang, menolong nenek meski dia sudah dihina dan direndahkan, mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan Tante Edel dan Adelia. Setelah semuanya apa kau harus mengatakan demikian?" Amuk Adgar kesal dengan kebo.dohan pamannya.



Tangan Hito mengepal erat kotak cincin yang dia ambil dengan kerja keras karena tubuhnya yang begitu lemah.



" Prof.Farhan, mengapa anda berada di sini?" Aznan mengambil duduk di tempat yang semula diduduki Heru.

__ADS_1



" Maaf, saya datang tidak dalam waktu yang tepat, tetapi saya harus menyampaikan hasil CT scan dan MRI tuan Hito." Ucapnya yang menyiratkan sindiran tentang peran masing-masing.



Tak lagi mampu menahan beban tubuhnya Hito dipapah Heru melangkah ke brankarnya, ia duduk bersandar kerena kelelahan.



" Hasil pemeriksaan CT scan dan MRI, tuan Hito mengalami cedera otak traumatis, bersyukurnya masih tahap ringan. Kemarahan dr. Zahra atas kelalaian tuan Hito sangat beralasan beliau khawatir tuan Hito mengalami cedera kembali sehingga memperparah cederanya." Farhan tak peduli jika ia dianggap tidak profesional dengan mengingatkan sikap Hito pada Zahra.



" Apa akibatnya jika Hito kembali terkena benturan?" Tanya Fatio.



" Dikhawatirkan mengalami pendarahan otak sehingga mempengaruhi fungsi syaraf yang fatalnya dapat mengakibatkan kelumpuhan." Farhan sambil berbicara menatap Hito.



" Jadi saya sarankan anda perbanyak istirahat agar kondisi isi kepala anda kembali normal." sarkas Farhan.



" Untuk sementara hanya itu yang dapat saya sampaikan. Biar dokter Zahra yang menangani ini, kebetulan beliau ahlinya, bukankah Hartadraja selalu ingin yang terbaik!? Maka dr. Zahra jawabannya."



Aznan mengusap wajahnya kasar, ia menatap para petinggi RaHasiYa yang masih berada di ruangan ini.



" Bagaimana dengan RaHasiYa?"



Alfaska beralih menatap Aznan, " saya sudah menarik semua anak RaHasiYa dari kasus ini, apa yang kami lakukan sejauh ini berdasarkan asas persahabatan, jika kalian masih berkenan bekerjasama dengan kami, kami tunggu pengajuannya di gedung RaHasiYa dan tergantung keputusan Mumtaz. Mulai saat ini semuanya hanya bisnis, kecuali Mumtaz memutuskan lain." tegas Alfaska penuh intimidasi.



Bara mendekati Alfaska dengan gusar," Afa, please kau tidak bisa menghentikannya kita sudah sejauh ini, ini demi Cassy..."



" Cassandra mungkin calon istrimu, tetapi Kak Ala pastinya kakak kami, tidak ada adik yang akan diam saja setelah kakaknya dituduh yang tidak dia lakukan." Potong Alfaska tegas.



" Maafkan kami, kami tidak bisa lanjut sebelum kalian yang mengajukan kelanjutannya, dan tentu harus


izin Mumtaz." Ujar Daniel membungkuk sedikit, dan bersama para petinggi RaHasiYa lainnya meninggalkan ruangan disusul oleh Bara.



" Dominiaz, apa menurutmu Gaunzaga dapat mengatasi kasus ini?" Fatio ingin memastikan sesuatu.



" Bisa, namun tidak mudah. Pasalnya ini melibatkan kartel Sinolan dan hanya Mumtaz yang bisa berkomunikasi dengan Alejandro dan pihak Sinolan lainnya. Banyak resiko yang merugikan kita jika kita tidak bekerjasama dengan RaHasiYa, mereka tahu banyak informasi tentang kasus ini daripada kita, jadi untuk kebaikan bersama kita seharusnya meminta bantuan mereka." Terang Dominiaz tenang.



" Prof. Farhan, apakah kami dapat mengandalkan anda untuk penyembuhan Hito?" 



" Kami akan berusaha yang terbaik, tetapi saya sarankan anda meminta bantuan Prof. Zahra."



" Apa menurutmu, Zahra akan bersedia membantu kami?"



" Saya yakin Prof. Zahra bukanlah orang licik yang mengabaikan tugasnya."



Fatio beranjak ke pintu ruangan," kakek, dan Papa yang akan menghadapi prof. Zahra, kalian tunggu di sini." Fatio dan Aznan bergegas pergi



" *Well*, gue ucapkan selamat untukmu Domin!" Hito melangkah menjauh dari brankar.



Kedua alis Dominiaz terangkat," Lo punya kesempatan merebut hati Zahra, ingat keadaan yang terbaik merebut hati seorang wanita adalah dimana si wanita dalam keadaan galau, gue pikir itu sesuai dengan suasana hati Zahra saat ini." Heru menghilang dibalik pintu.



Meski kepalanya masih sakit, tak menghalangi Hito memberi tatapan mengancam kepada Dominiaz.



" Apa? Gue diam aja ya meski Lo memang bo.doh." Dominiaz tidak terima ditatap penuh intimidasi begitu.



" tetapi patut dipertimbangkan apa kata Heru." Tambahnya yang membuat Hito kesal.



 " Win, Lo gak ada komentar apapun tentang kejadian ini?" Samudera memprovokasi.



" RIP FOR HITO HARTADRAJA."  Ucapnya dengan menangkupkan kedua tangan di dadanya, para sahabatnya terkekeh meledak.



" Aaarrrgh." Teriak Hito penuh frustasi. Sesekali tangannya masih memijit-mijit pelipisnya.



\*\*\*\*



empat petinggi RaHasiYa kini berkumpul di ruang konferensi mengamati kepanikan Eric terhadap mansionnya, mereka marah ketika Eric menghina bangsa Indonesia dengan sebutan bodoh.



Mumtaz mengirim pesan kepada kepala pasukan pemadam kebakaran.



" **Keluarkan pasukan anda dari TKP, karena akan ada aleadkan baru**."



Terlihat para pemadam kebakaran berhamburan keluar menjauh dari mansion.



" Niel, Lo ledakan bangunan yang paling pojok itu." tunjuknya pada bangunan yang terletak paling kanan.



Daniel mengarahkan drone pemburu penampung bom sesuai keinginan Mumtaz dan meluncurkan satu bom tepat di atas atap bangunan itu, tak lama terdengar ledakan maha besar yang terus saling menyusul selama 10 menit.



Mereka bertiga pun terkejut," tempat apa itu?" tanya Ibnu penasaran.



" Penyimpanan senjata api dan pelurunya, dia memasoknya untuk pemberontak di Papua sana." ucap Mumtaz dengan tatapan dingin.



" Muy, gue pikir alasan itu bisa dijadikan alasan kita tidak berhenti sampai sini terhadap mereka." rayu Daniel, sesungguhnya dia tak tega memberhentikan penyelidikan kasus Cassandra, bagaimanapun ia sudah menganggap Cassandra sebagai adiknya.



" Bara sudah melakukan skors untuk Mutia karena dia sudah berani membantah kak Ala." timpal Alfaska.



Mumtaz melirik Ibnu yang sejak dari ruangan Hito lebih banyak diam.



" Gue mah terserah Lo. Lo maju, gue maju. Lo mundur, gue balik." Tuturnya yang disambut helaan nafas berat dari Daniel dan Mumtaz.



" Apa yang dilakukan di intership itu pada Kak Ala?"



" Mengabaikan tugas dari kak Ala, dan mempermalukan kak Ala di depan para staf, tetapi Bara sudah menskor dia selam dua Minggu, dan mengurangi point nilainya sebanyak setengah dari yang sudah dia peroleh." Jawab Alfaska, dia sungguh tidak tega melihat Bara memohon pada Zahra agak membujuk Mumtaz untuk tetap membantu memecahkan kasus Cassandra.



Belum juga Mumtaz menjawab Dewa memasuki ruangan dengan langkah kecil sambil tertunduk.



Dengan duduk bersimpuh sempurna," Maaf, saya sudah berlaku tidak pantas pada RaHasiYa."



" saya ingin terima alasannya kamu melakukannya, dan apa saja yang sudah kamu lakukan. Kami akan mempertimbangkan langkah selanjutnya." ujar Alfaska tegas.



Mumtaz menatapnya kecewa," jangan mencoba menjadi *double agent*, kalau tidak ingat bahwa kau tulang punggung keluarga mu sudah kami lempar kau ke jalanan, kami pastikan kau tidak dapat bekerja dimanapun. Kita keluarga, kita pastinya saling melindungi."



Dewa tertunduk malu," pergilah, lakukan apa yang diperintahkan Alfaska." titah Daniel.



Dewa mengangguk, " terima kasih."



" Itulah gunanya keluarga." imbuh Ibnu.


__ADS_1


Tak ayal air mata menyembur juga dari matanya, ia bergegas meninggalkan ruangan.


__ADS_2