
Mulyadi ketar ketir melihat perkembangan kasus Andre yang meluas, dia tidaklah bodoh, jika waktu gilirannya tidaklah lama lagi.
Di ruang kerjanya dia menelpon banyak pihak agar mendapat perlindungan politik dari para koleganya.
Drrrt...drttt....
Mulyadi merutuk saat tahu siapa yang menelponnya yang ia abaikan untuk ke sekian.
" Si4l, tahu begini aku gak bakal kerjasama dengannya."
Dengan menggunakan telpon kantornya, ia lantas segera menelpon seseorang yang menurutnya bisa membantunya.
" Hallo, tuan Mateo. Bisa saya bicara dengan tuan Navarro?"
" Maaf, kali ini juga anda belum bisa bicara dengannya, kebetulan beliau sedang terapi." Jawab Mateo lugas, sebenarnya dia kasihan pada lelaki sok berkuasa ini, tetapi apa mau dikata jika ini titah sang atasannya.
" Baiklah, kalau begitu nanti saya hubungi lagi."
Gerahamnya bergeletuk kesal saat menyadari rekan bisnis ilegalnya ini menghindarinya.
Dia tidak bisa mengambil resiko mengkaitkan namanya dengan orang itu, terllau besar akibatnya bagi dia dan keluarganya.
Tok...tok...
Ceklek...
Ajudan dan dua asisten staf ahli Mulyadi memasuki ruangan dengan membawa satu amplop berlogo p4rlem3n pusat.
" Pak, d3wan kehormatan memanggil anda, mereka meminta klarifikasi keterikatan anda dengan Gonzalez dan Brotosedjo."
Mulyadi menggeram karena kesal, kedua tangannya mengepal erat.
" Ini pasti buntut kelakuan Juna dan Agung, saya tidak paham mengapa mereka sangat bersemangat untuk terus membahas surga Duniawi."
" Mereka punya bukti bahwa sebagian besar dari 50 yang tertangkap kemarin selain pelanggan, juga partner bisnis Aloya yang notabene anak buah Brotosedjo." Ungkap ajudan.
" Darimana mereka dapatkan bukti itu?"
" Entahlah, kita sudah mencoba menyadap mereka, tapi sampai saat ini tidak ada panggilan yang mencurigakan.
" Apa yang harus saya lakukan saat ini?" Pada staf ahli hukumnya
" Anda tidak punya pilihan selain memenuhi panggilan itu, jika anda mangkir, semakin kuat kecurigaan mereka pada anda. Dan citra
D3w4n semakin buruk dimata rakyat." Ujarnya sang asisten.
" Bagaimana posisiku saat ini?" Tanyanya pada staf ahli politiknya.
" Partai mulai melepas diri untuk melindungi anda, bukti yang mereka dapatkan terlalu menyudutkan anda, partai tidak mau mengambil resiko, makanya mereka hanya menunggu saja."
" Si4l, partai menerima dana dari saya terbilang banyak untuk pemilu yang akan datang, kini mereka mencoba cuci tangan."
Pelan tapi pasti Janu dan Agung melakukan lobi pada setiap ketua fraksi secara tertutup, kredibilitas Juna sebagai politisi muda yang dikenal jujur dan teguh pendirian sangat memudahkan baginya mendapatkan kepercayaan hingga membuat Mulyadi semakin disorot karena banyaknya proyek yang dia lakukan dia masa jabatannya lima tahun periode pertama banyak yang melibatkan Gonzalez dan Brotosedjo.
Sedangkan dukungan dari Agung, politisi senior yang berstatus ketua partai memudahkan Janu untuk masuk ke dalam circle orang-orang yang memiliki pengaruh.
" Siapa?" Tanya Rodrigo.
" Mulyadi, wakil d3wan. Sepertinya perkembangan kasus Andre yang mulai melibatkan Surga Duniawi membuat dia kalang kabut."
" Kenapa?" Tanya Raul.
Mateo melempar berapa foto dan sebundel berkas ke atas meja bundar di depan mereka.
" Dia, Andre dan beberapa pol1t1si adalah pelanggan sekaligus partner Brotosedjo dalam perjudian, penjualan wanita dan anak dibawah umur untuk dijadikan psk di bagian Eropa. Mereka bersama Aloya untuk menyediakan para wanita itu, dan Tuan Eric selaku penghubung dengan Navarro yang menempatkan mereka di mana. Khususnya bagi para pedofil penyuka ras Asi4."
" Astaga, si bodoh tua itu mempercayakan berkas ini padamu?" Tanya Rodrigo tak habis pikir akan kecerobohan Alfred.
" Dia tidak punya kaki tangan lagi yang bisa dipercaya selain saya, tuan."
" Bagaimana keadaanya, Sekarang?" Tanya Raul.
" Semakin memburuk, kulitnya memperlihatkan infeksi yang mulai menjalar. Sungguh prof. Zahra itu sangat tidak bisa dibeli, padahal tuan Alfred sudah menawarkan 1 milyar dollar agar dia bersedia mengobatinya."
" Punya saudara sekelas Mumtaz, Atma Madina, Birawa, dan pacar sekelas Hito? Uang segitu tidak sulit dia dapatkan." Dengkus Raul.
" Saya ambil berkas ini untuk diberikan pada Dominiaz." Ucap Raul.
" Silakan, itu fotocopyan, aslinya saya amankan untuk menjatuhkan mereka berdua jika membocorkan rencana tuan Alfred, itu perintahnya." Sahut Mateo.
" Apa kamu akan melayat ke kediaman Atma Madina? Ini hari ketujuh mereka berduka." Tanya Raul pada Rodrigo.
" Aku mengantar kakek, bagaimanaoin kita sudah berpartner."
" Aku ikut."
" Hmm."
*****
Tahlilan Sandra tanpa pernah Mumtaz hadiri, namun ini tidak menjadi soal bagi mereka selama nama baik Mumtaz sedikit demi sedikit membaik seiring banyaknya bukti tindakan kejahatan yang dilakukan oleh Andre.
Saat ini Sisilia menjenguk Mumtaz seorang diri sambil membawa makanan untuknya.
Mumtaz membelai wajah kekasihnya yang dia rindukan bagai mengelus porselen antik, mengingat dulu hanya sedikit waktu yang diberikan untuk kekasihnya, ia menyesalinya.
Sejak dalam tahanan yang mana rindu tidak bisa bebas dituntaskan, ia memahami berartinya sosok Sisilia.
" Kakak kangen,..." Ucapnya lembut.
Sisilia mengangguk cepat." Lia juga. Kakak betah di sini?"
" Mana ada. gak bisa lihat kamu."
" Ishh, apaan sih. Sampai kapan kakak di sini?" rengeknya, menghalau rasa malu.
" Seriusan ini, aku kangen banget sama kamu. Nyesel dulu jarang ngapelin kamu, tapi Insyaa Allah gak lama lagi kita bareng lagi, tunggu Kakak ya."
Sisilia mengangguk." Memang Lia mau kemana?"
" Ya siapa tahu kamu tergoda sama yang lain."
" Mana ada, gimana mau lirik yang lain kalau setiap main dikintilin sama para bocah freak itu." Kesalnya pada Adgar dan para sahabatnya yang selalu mengikuti kemana dia dan para sahabatnya pergi.
Mumtaz terkekeh, " kakak yang nyuruh mereka, kak Domin banyak kerjaan, begitu juga yang lain. Kami gak mau ngambil resiko ada yang nyelakain kalian. Sabar ya. Gak lama lagi." Mumtaz mengecup tangan Sisilia yang berada dalam satu genggamannya yang lain.
" Kakak pasti bebas, kan?"
" Pasti."
" Jadi besok gak bisa ngampus bareng?"
" Belum bisa, kalau kakak udah keluar kita berangkat bareng."
" Janji?" Sisilia mengajukan kelingkingnya pada Mumtaz, yang dibalas olehnya.
" Janji." Kelingking mereka saling menaut.
" Ya,..." Panggil Mumtaz sambil dengan tatapan penuh sayang
" Hmm?"
" Love you!" Ungkapan yang diucapkan dengan nada syahdu itu mampu menembus jantung Sisilia.
Blushhh...
Sedetik kemudian wajah putih Sisilia berubah merah karena salah tingkah.
" Ishh... Jangan gombal terus, berasa gimana gitu. aneh tahu!"
" Mana ada aku gombal, ini beneran adanya, sayang. Aku gak mau nahan-nahan perasaan lagi, kita gak pernah tahu bagaimana takdir berjalan.
Di sini serba terbatas, aku lebih menghargai kesempatan dan waktu. bersamamu, aku akan fokus hanya untuk kamu, bersama teman, aku juga akan memanfaatkan untuk mereka.
Karena sudah tidak ada orang tua, bagiku kalian sama berartinya untukku. Kamu dan mereka bagian hidup aku, yang menjadi alasan aku untuk tetap berpikir waras.
Ya, maafkan aku yang dulu sering mengabaikan kamu, tapi kamu satu dari sedikit orang yang ingin aku bahagiakan. Yakinlah akan hal itu."
Sisilia menunduk mendengarkan curahan hati kekasihnya, sungguh ia tidak menyesal mempertahankan cintanya sejak masa SMP, meski waktu kebersamaan mereka jarang, tapi Mumtaz selalu memberinya kebahagiaan. Dia tidak bisa lagi mengeluh yang lain.
Tidak tahu mesti merespon bagaimana, Sisilia malah menawarkan makan." Kakak, harus makan yang banyak."
Mumtaz menghembuskan nafasnya berat. " Kamu itu orang lagi romantis juga. Ck, dasar perusak suasana."
Sisilia terkikik" maaf, aku gak tahu harus gimana kalau terus diromantisin kayak gitu."
Ia terkekeh seraya mengucak rambut Sisilia yang kemudian dia rapihkan kembali." Pasti aku makan, tapi bareng sama sipirnya ya. Kamu bawa makanannya banyak banget."
Ceklek..
" Waktu berkunjung selesai." Seru Berto.
Sisilia berdiri sambil merapihkan penampilannya." Aku pamit."
" Sini dulu." Mumtaz merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
Tak sanggup menolak, Sisilia berhambur kedalam dekapan yang selalu membuatnya merasa diinginkan, dan disayangi.
" Jangan nangis, temani Tia dan kak Ala. Kalau kamu kelelahan, datang ke kakak, kita istirahat bareng, kamu kan bucin banget sama aku." Bisiknya disela kecupan di pucuk kepala Sisilia yang mengangguk patuh sambil mencubit punggungnya karena malu akan perkataan terakhirnya.
" Aku sayang kakak banget." Ucapnya melepas pelukan itu.
" Aku lebih sayang, kita bucin bareng ya." Untuk terakhir Mumtaz mengecup tangan Sisilia.
__ADS_1
" Pacar Lo cantik " kata Berto.
" Jaga mata, punya gue, mutlak! Makan yuk."
" Yow.."
" A, mengapa Tia tidak bisa menjenguk Aa Mumuy? sedangkan tiap hari Lia menjenguknya." keluh Tia pada Alfaska dan Zayin yang duduk di ruang tamu menunggu yang lain untuk pergi ke kampus bareng.
" Sini." Zayin menepuk tempat kosong di sampingnya.
" Ini dilakukan untuk melindungi kalian, Lia ada di sana, untuk memberitahu pada mereka yang saat ini menjadi lawan Aa kalau di belakang Aa banyak orang kuat, mereka sudah tahu identitas Lia."
Ucapnya seraya merangkul Tia," Sabar, sebentar lagi Aa pulang."
" Aa Ayin, antel Adel ke cekolah." teriak Adelia dari teras depan di ikuti Heru yang membawa tas dan tas bekal Adelia.
" Adel, gak perlu teriak. Aa anter, tunggu Kak Ayu dulu ya." Zayin memangku Adelia.
Seketika wajah Adelia cemberut." Aa cuka kak Ayu? Aa celingkuhi Adel? tega Aa lakukan itu ke Adel? Adel udah ceria lho cama Aa pake nolak teman-teman yang nembak Adel. kok Aa celingkuh." marah Adelia memukul dada Zayin dengan tangan gemuknya.
Zayin mengusap wajah Adelia karena gregetan." heh, jangan ngomongin itu, belajar baca aja dulu." omel Zayin.
" Adel udah bica baca ya..." balas Adelia tidak mau kalah.
" Oke, berarti nanti malam Adel baca cerita sendiri, Aa yang dengerin."
" Gak bica begitu, buku dongeng mah banyak dan beda hulufnya gak kayak buku cokolah Adel dikit hulufnya "
" Banyak alasan."
Tin...tin...
" Tuh, kak Ayu udah datang, ayok Aa anter Adel."
" Ya, Aa berangkat dulu, jangan banyak pikiran, Aa Mumuy baik-baik aja." ucapnya seraya mengecup kening kembarannya itu.
" Baik-baik dimanapun kamu berada, temani bang Afa." Zayin mengulurkan tangannya agar disalami oleh Tia.
" Jangan bikin aku malu, Yin." protes Alfaska sendu.
" Maaf, gak bermaksud, ini cuma amanah dari Aa."
" Ayok, Adel dipangku ya, cupaya Kak Ayu tau kalau Aa punya Adel." kedua tangannya memeluk posesif leher Zayin dengan mata menatap tajam pada Ayunda yang mendadahi mereka dari kursi penumpang saat digendong ke mobil.
" **Kak Edel, ajarin Adel yang bener napa, jangan genit gini**." pekik Zayin kesal ke arah rumah besar tak jauh dari rumahnya.
" Salut aku sama om, tahan hidup bersama modelan kak Edel gitu." timpal Zayin yang dikekehin Heru.
" Terima nasib, Yin. tolong jaga Adel."
" Pasti itu mah tanpa harus dipinta."
" Ayah, Adel belangkat, assalamualaikum." Adelia mencium tangan Heru ta'dzim.
" Wa'alaikumsalam, jadi anak baik di sekolah."
" Gak janji, banyak yang ganggu Adel kalena iri cama kecantikan Adel.
" Soumbhong...om kita berangkat dulu." Zayin mencium tangan Heru diikuti oleh Ayunda, Bayu, dan William."
" Ayu juga pamit." Ayunda mencium tangan Heru.
" Ayah, jangan cuka kak Ayu, inget dia caingan Adel mendapatkan hati Aa Ayin."
" HEH!" tegur Zayin, sementara yang lain menertawainya.
" Sabar, Yin. Bayu, hati-hati di jalan." ujarnya pada Bayu yang mengemudikan mobil.
\*\*\*\*\*
Setiap hari selalu saja ada kejutan, tindakan agresif tak kasat mata dari RaHasiYa Akhirnya menghancurkan Andre, tidak hanya karirnya, tetapi juga kehidupan pribadinya.
Putrinya ditetapkan sebagai tersangka pelaku aksi pornografi dan pelanggar UU ITE dengan menyebarkan video.
Andre dipecat tidak hormat karena berdasarkan bukti permulaan terbukti terlibat dalam prostitusi, dan perjudian ilegal, polisi berjanji akan mengembangkan penemuan mereka, mengingat bisnis Surga Duniawi mencakup banyak hal termasuk n4rkob4, dan miras ilegal.
Gugatan cerai yang diajukan istrinya dikabulkan oleh PA hanya dalam dua kali sidang. Kini Andre sudah tidak punya pendukung lagi, dia harus berjuang untuk menyelamatkan dirinya.
Dananya yang di rekening dibekukan, semua aset yang dicurigai hasil dari pencucian uang disita oleh negara.
" Tidak bisa hanya gue yang hancur, kalau gue karam, kalian pun harus tenggelam juga." Gumamnya.
Dia kesal Mulyadi tidak menjawab atau mengangkat teleponnya.
" Oke, Mulyadi. Kini saatnya Lo juga tampil di panggung, S3n4yan kembali terguncang." Gumamnya smirk.
" Berto..." Panggil Andre saat Berto memasuki ruangan atas titah dari mantan atasannya ini.
__ADS_1
" Kamu, ambillah map berwarna hijau di ruang kerjaku, lalu berikan pada media."
" Siap, tapi kami dilarang memasuki ruang kerja anda, pak."
" Ayolah, kamu bisa melakukannya tanpa jejak. Ini *urgent*."
" Siap."
" Ini.." Berto melempar sebuah map hijau. Pada Mumtaz yang sedang berbaring, mengernyitkan keningnya.
" Punya pak Andre."
Mumtaz membuka isi map tersebut, lantas ia tersenyum miring setelah melihatnya.
" Kenapa Lo kasih ke gue?"
" Cuma mau ngasih tahu Lo, siap-siap untuk bebas."
" Gue gak buru-buru."
" Ck, songong Lo, gue pergi dulu disuruh nyebarin itu."
" Hmm."
*****
Dominiaz memberikan map hijau itu kepada kepala redaksinya, Agus Salim.
YTak lama bola mata Agus melebar, " kamu yakin kita harus memberitakan ini?" tanyanya pada Berto.
" Itu titah pak Andre, saya kemari dulu sebelum ke yang lain sebagai ucapan terima kasih pada kalian karena memberitakan hal yang baik tentang teman saya, Mumtaz."
" Baiklah akan kami urus, terima kasih." sahut Dominiaz.
" Kalau begitu saya permisi."
Agus dan Dominiaz beserta beberapa crew berita dan talkshow bidang hukum, sosial, dan politik.
" Memang kenapa kamu bisa ragu?" tanya Dominiaz.
Agus memberinya satu foto kebersamaan Andre, Mulyadi, Gonzalez, Tamara, Brotosedjo, dan Aloya.
" Dia juga melampirkan berkas kesepakatan bisnisnya."
" Ya bagus, sebar saja."
" Kita akan kena somasi, dan penuntutan dengan dasar penyebarluasan berita yang mengakibatkan keresahan dan kegaduhan bagi rakyat."
" Jangan konyol, tugas kita sebagai media yang menginformasikan berita, eksistensi kita salah satu pilar demokrasi melaksanakan salah satu fungsinya."
" Ck, jangan sok naif."
" Urusan dengan mereka biar saya yang hadapi, kalian lakukan tugas kalian, mumpung rating kita melesat tinggi meninggalkan stasiun televisi lain." tukas Dominiaz.
*****
" Akibat berita Gata tv dan Branz tv, Kasusnya kini makin Andre dan Mulyadi semakin serius setelah RaHasiYa juga menguliti kesepakatan pemasokan senjata pada para p3mberontak yang dilakukan oleh mereka..." kesimpulan Yuda.
" Yo, mulailah kupas semua, biarkan pak Ergi dan p4nglima bertindak." titah Yuda di ruang khusus ketua BEM.
" Gue udah minta Dewa nyebarin, dia mengikuti alur dari luar, apa yang mereka sebar, dia memungkasinya."
" Gimana keadaan Jeno?" Fine, lagi konsentrasi di terapi kaki.
Tok..tok...
Kepala Randi nongol di celah pintu." Ketua BEM dari beberapa universitas sudah berdatangan."
" Gue kesana."
Pintu itu tertutup rapat kembali.
" Gue pergi ke rumah sakit dulu, kata bima kita tunggu di depan pengadilan saja pas putusan praperadilan itu."
" Gak perlu, kita di RaHasiYa saja. Leo dan Ragad sudah punya rencana untuk itu."
" Terserah."
******
Kini hari putusan praperadilan yang diajukan oleh pihak Mumtaz, di depan gedung pengadilan sudah ada ratusan pria bertato berkumpul dengan pakaian serba hitam mengenakan berbagai atribut keagamaan dengan membentangkan panduk panjang bertuliskan;
" KAMI MANTAN PREMAN YANG VIRAL ITU, TAPI KAMI SUDAH BERTAUBAT SEJAK LAMA... KALAU MAU KEPO, TANYA DULU SEBELUM MEMFITNAH, KAN KAMU JADI MALU!!!"
Keberadaan mereka mengundang perhatian lebih bagi masyarakat yang menonton langsung di pengadilan, hingga banyak dari mereka yang diwawancarai oleh media dan direkam.
" Sumpah garing habis, gak ada bahasa alay lagi napa?" Komentar Raja.
Anak RaHasiYa dan mahasiswa lain berkumpul di taman dekat kantin kampus sedang menonton siaran live streaming di beberapa laptop kawan mereka.
" Lumayan nanjeb sih sindirannya. meski gak banget." Sahut Rizal.
" Zal, gimana rasanya punya nyokap tenar? Sarkas Adgar.
Sejak kemunculan beberapa emak-emak di televisi untuk memperbaiki nama Mumtaz yang dipimpin oleh Ibunya Rizal, beberapa kali beliau diundang ke televisi, yang dimanfaatkan olehnya untuk mempromosikan nasi uduknya.
" Nambah kerjaan gue, tiap hari gue dan adik gue keliling jadetabek nganterin uduk dari jam tiga pagi.
Disuruh nambah orang, gak mau katanya belum ada duit buat gaji. Padahal gue tahu omsetnya melesat tajam sejak beliau terkenal." Dumel Rizal.
" Udah sih jangan ngeluh." Juan terkekeh geli lihat muka Rizal yang cemberut.
" Gak ngeluh, tapi lo bayangin tiap hari Lo keliling dari jam 3 ampe jam setengah 8. Di suruh gabung aplikasi penjualan online gak mau, katanya untungnya berkurang. Apaan dah."
" Ambil positifnya, motor Lo udah ganti sama yang baru." Ubay ikut berkomentar.
" Gue paksa ngambil, tiap hari keliling udah 10 kali gue mogok di jalan."
" Yeayy...hakim mengabulkan praperadilan Mumtaz." Teriak Raja mengagetkan mereka yang terus mengghibahi ibunya Rizal.
" Zal, hubungi nyokap Lo yang nadzar bagi-bagi uduk kalau Mumtaz bebas." Titah Ubay.
" Iye,..kalian siap-siap saja muncul di instastory nyokap. Dia lagi banggain anak RaHasiYa."
" Siiiip..."
" Zal, kita juga ditraktir napa kita datang Lho ke m4bes saat mereka mengumpulkan keterangan dan saksi." Ujar salah satu mahasiswa yang diangguki para temannya.
" Datang aja ke rumah Mumtaz, kalian tahu kan? Besok pagi acaranya."
" Gampang itu mah "
" Sekalian. Kasih review ya ..."
" Ashiapp... Sama yang lain ya." Pinta mahasiswa lainnya.
" Terserah Lo pada."
"Zal, bilang sam nyokap lo uduknya komplit pake daging, telor, ayam..."pancing Vero.
" Heh, tau diri ya..ini gratisan..." Omel Rizal yang disambut tawa oleh yang lain.
****
Saat dirinya muncul di teras Bareskrim, Mumtaz memberikan senyuman pada yang menungguinya di depan m4bes.
Tak dapat dihindari kebisingan dari keributan audiens yang berasal dari para orang tua, mahasiswa, masyarakat, dan anak RaHasiYa menyebut namanya dengan suara keras mengalahkan orasi demontrasi.
audiens dan personil polisi yang berjaga saling dorong, bahkan para wartawan bersusah payah mempertahankan posisinya paling terdepan.
Mereka mengeluh kesakitan karena dorongan para emak berdaster dengan dandanan yang medok yang memenuhi sebagian besar yang hadir.
" Ampun dah gue sama emak-emak sekarang, iya kali m4bes juga mereka kuasai setelah kita tidak berdaya di jalan raya." Keluh beberapa mahasiswa yang tubuhnya terdorong makin ke belakang karena desakan dan gesekan.
" Pak Mumtaz, apa ada komentar setelah semua yang terjadi?" Tanya satu wartawan.
Mumtaz berdiri tegap, matanya menyisir memandangi mereka, kemudian menetap ke arah kamera Gata tv." Wahai pemuda Indonesi4 yang masih peduli pada negara dan bangsa ini, Beberapa hari belakangan kita telah dipertontonkan bahwa negara ini sedang dikuasai oleh orang yang bermental puding silk, saking halusnya mental mereka mereka tidak bisa mengalahkan godaan keserakahan.
Mari kita tuntut peninjauan ulang semua peraturan terkait perekrutan orang-orang yang memangku jabatan kenegaraan, khususnya UU kepartaian.
Yang tercium saat ini baru Surga Duniawi, sedangkan bisnis serupa di n3geri masih banyak, apakah mereka juga terlibat dilain tempat? Ini sungguh membahayakan!!
Mereka yang digaji dari keringat b4ngsa ternyata tidak lain adalah penjahat yang merusak moral b4ngsa, kita tidak bisa mempercayakan b4ngsa dan n3gara ini pada mereka, sebab jangankan berniat jahat, lalai saja mereka tidak patut!!!
Konstitusi melindungi kita, mereka duduk di kursi kekuasaan bukan kita yang minta, mereka yang menawarkan diri, kita punya hak untuk menyingkirkan pengkhi4nat itu dari kekuasaannya,
Pemuda Indonesia pantang takut, jangan lupakan negara ini merdeka dan memperoleh kedaulatannya oleh para pemuda, bukan mereka yang punya uang, bukan oleh mereka yang punya koneksi, jadi mengapa kita diam selagi mereka meracuni dan merusak generasi bangsa ini.
Saatnya kita bicara, saatnya kita bertindak, saatnya konstitusi dan ideologi kita implementaskan secara menyeluruh. Sekarang atau kita hancur!!"
Suara tegas penuh tekad dan keberanian yang menggelegar itu memenuhi m4bes mengheningkan suasana ricuh, air mata haru tak ayal bermunculan dari pasangan mata yang hadir.
Mata tajam dengan iris hitamnya menatap lurus pada kamera yang mampu membuat sang kameramen dibelakangnya merasakan aura kekuatan dan intimidasi yang menggetarkan hati mereka, ucapan kuat yang menyampaikan tantangan pada siapapun yang mendengarnya!!!
Tantangan telah dilayangkan, siap yang berani menjawabnya!!!??
__ADS_1