Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
bab 63 Skandal (2)


__ADS_3

Di rumah sakit pun turut heboh dengan berita Mumtaz karena mereka mengenal Mumtaz yang sering antar-jemput Zahra.


Masih pagi tapi Zahra sudah memijat-mijat pelipisnya karena kasus plagiatnya, sebenarnya dia tidak terlalu memusingkannya karena manajemen kerjanya yang rapih, dia tahu dunia penelitian rentan akan pembocoran data, oleh karenanya dia selalu melakukan double protect terhadap setiap data, dan dia pun menggunakan beberapa metode yang diajarkan Mumtaz dalam menyimpan data.


Tok!! Tok!!!


" Masuk." Ujar Zahra.


Zahira dengan santai masuk ruangan Zahra.


" Gue disuruh manggil Lo sama prof. Farhan, ada sesuatu yang gue gak tahu?" Selidik Zahira.


" Nanti gue cerita kalau masalah dan solusinya jelas, gue pergi dulu." Zahra memberesi segala hal yang perlu dibawanya.


" Kayaknya Lo sedang terkena masalah serius, para pemegang saham sedang berkumpul."


Zahra menatap Zahira kaget, dia mencoba menetralkan raut wajahnya."


" Tergantung sudut pandang, gue mesti pergi." Zahra melangkah ke pintu.


" Lo tahukan gue akan selalu ada buat Lo." Ucap Zahira, Zahira tersenyum kemudian mengangguk dan meninggalkan Zahira.


Di luar ruangan, Zahra melihat para suster menonton berita perihal Mumtaz yang ternyata sedang memenuhi panggilan kepolisian.


" Dok," ucap suster Reni.


" Kami percaya kok Mumtaz anak baik, jadi tenang saja jangan banyak pikiran." Ucap suster lainnya.


Zahra tersenyum " terima kasih, ini isu sensitif ya." Zahra mengernyit miris.


" Tergantung, kalau saya di posisi Mumtaz mungkin saya juga akan melakukan hal yang sama." Ucap rekan dokter laki-laki.


" Hebat juga Mumtaz punya pacar putrinya pak Gama Pradapta, salah satu konglomerat di Indonesia." Ucap sang bidan.


" Ya sudah teruskan kalian menontonnya, saya dipanggil prof. Farhan." Mereka mengangguk, Zahra meninggalkan mereka.



Di ruang pertemuan telah hadir para petinggi rumah sakit, dan pemeganh saham rumah sakit benar perkiraannya mereka sedang menunggu klarifikasinya terkait plagiat ini.



" Penelitian ini sendiri sedang berjalan memasuki tahap akhir baik dibawah pengawasan rumah sakit Atma Madina maupun rumah sakit universitas di Jerman dimana saya mengawali penelitian. Saya sudah baca disertasi dari Doktor Ratih, saya yakin apa yang tertulis di sana masih bersifat umum, artinya hanya bersifat teori belum mencakup prakteknya karena memang pada saat penelitian lapangan Doktor Ratih tidak diikutsertakan, jadi 80% saya yakin bukan saya yang menjiplak, tapi beliau yang mencuri teori saya."



"  Saya termasuk orang yang melakukan pengawasan penelitian ini saya pikir siapa menjiplak siapa hanya bisa dipraktekkan di lapangan." Ujar prof. Farhan.



" Apa doktor Ratih turut serta sewaktu kalian melakukan penelitian awal." Tanya salah satu dokter senior.



" Iya, awal penelitian hanya saya dan profesor saya, tetapi perkembangannya kami membentuk tim, dan salah satu anggotanya adalah doktor Ratih ini, tapi beliau pun tidak lama entah mengapa profesor kami mengeluarkan beliau dari tim penelitian."



" Lusa tim dari Jerman akan datang ke Indonesia untuk mengkonfrontasikan kalian berdua, saya harap anda siap dengan ini." Ucap direktur rumah sakit.



" Kami para pemegang saham masih yakin terhadap anda dokter, jangan kecewakan kami." Aryan Atma Madina mengucapkannya dengan tenang.



" Tentu, saya siap. Penelitian ini sudah tahap akhir, sebenarnya saya sudah ingin mengajukan proposal pengobatannya setelah uji coba operasinya sukses."



Para pemegang saham saling bertanya bingung dengan ucapan Zahra.



" Sebenarnya Atma Madina sedang melakukan  penerapan penelitian terhadap pasien yang sedang mengalami luka bakar parah, momen ini saya rasa pas untuk membuktikan bahwa penelitian ini original milik kita." Ujar prof. Farhan.



" Mengenai pengobatan tadi?" Tanya pak Gama.



" Maaf, saya bagikan modul ini." Zahra membagikan modulnya ke setiap orang.



" Setiap melakukan penelitian medis pasti dengan pengobatannya, khusus kasus ini karena mencakup jaringan darah dan lapisan kulit saya menciptakan metode pengobatan secara herbal dari tanaman asli Indonesia untuk mengurangi resiko dampak negatif zat kimia pada tubuh. Sejauh ini meski lambat tapi menunjukan progres positif bagi pasien." Terang Zahra.



" Keterangan secara medis akan saya sampaikan sekaligus di depan tim Jerman, karena tim Jerman pun tertarik melakukan cara metode kita." Mereka menganguk-anggukan kepala.



" Baiklah, Terima kasih atas pemberitahuannya. Untuk saat ini kita konsentrasikan dulu ke plagiat ini, saya harap anda mempergunakan waktu anda sebaik mungkin." Ucap Aryan Atma Madina.



" Baik, terima kasih. Saya permisi." Zahra meninggalkan ruang pertemuan itu dengan hati lega.



" Ratih, Ratih, masih jauh buat Lo menyamai gue." Gumam Zahra.



" Bagaimana?" Tanya Zahir. Yang menungguinya di depan pintu.



Zahra tersenyum," biasa saja, makan yuk belum sarapan gue."



Di koridor menuju kantin terdengar saling adu bicara antar dua dokter yang selama ini berselisih.



" Dengar dokter Ziva, saya seorang Sanjaya akan membalas semua perbuatan kamu." Ucap Anna.



Dari ujung pandangannya Anna melihat Zahra dan Zahira, dia dokter yang terkenal bersahabat baik dengan Zivara. Ana tersenyum smirk akan rencana yang terbesit dipikirannya.



" Saya tidak paham pembalasan pa yang anda maksud, saya tidak merasa melakukan apapun pada ada jadi tak perlu repot-repot." Balas Zivara.



" Saya dengar Husain diambang kebangkrutan, apa jadinya jika Dirgantara memutuskan kontrak dengan Husain, kau pasti tahu kalau saya dijodohkan dengan Samudera dirgantara." ucap Anna.



" Apa kau pernah dengar aku, Zivara Husain akan bersanding dengan Hito Hartadraja? Apa kau pikir Husain masih membutuhkan Dirgantara ketika kami punya Hartadraja?" Balas Zivara.



Anna pura-pura kaget melihat sosok Zahra dan Zahira yang berdiri di belakang Zivara.



" Dokter Zahra..." Panggil Anna, Zivara berbalik badan terkejut dan lebih mirisnya dia mendapati Zahra dengan mimik datar dingin.



" Kami kira pak Hito itu kekasih anda, tapi tadi dokter Ziva mengatakan kalau dia dan pak Hito menikah, apa benar begitu?"



Zahra memandangi mereka dengan pandangan jengah, " dokter Hira, bisa kau telpon Samudera Dirgantara untuk bergabung makan siang dengan ku dan prof. Farhan? Kau bisa gabung denganku." Ucap Zahra santai berlenggang meninggalkan mereka.



" Tentu, aku udah lama tidak berkencan dengan Samudera." Zahira menempelkan ponselnya ke telinganya sambil melirik Anna dan Zivara menyusul Zahra.



Zivara tertegun, Anna terbengong bingung.


\*\*\*\*

__ADS_1



Dari kantor polisi Mumtaz dan para sahabat langsung ke kampus, bersikap santai tanpa beban seolah kasus ini tidak ada.



" Hai, mum. Apa kabar bro." Sapa  anggota BEM lainnya.



" Baik, thank ya atas dukungannya." Mumtaz meletak beberapa bungkusan berisi makan di atas meja rapat.



" Santai, itu gunanya teman. Btw, ganteng juga tampang Lo di lihat di tv." Choky.



Mumtaz tersenyum smirk " Heh, baru nyadar Lo, tapi gue tetap lurus gak niat belok."



" Sialun Lo. Ini buat kita kan. Kita udah siap kapan aja dipanggil tu polisi." Ucap Rendi sang wakil ketua BEM.



Mumtaz mengangguk," makan gih, mumpung ada rezeki gue. Gue mau ke kantin dulu ya."



" Bucin akut Lo."



" Gak asik kalo udah punya pacar."



Dan masih banyak lagi ledekan buat Mumtaz.



" Cara iri jomblo begini ni." Celetuk Mumtaz.



" Dih suombong Lo."



" Takabur."



Mumtaz terkekeh dengan dengan cemoohan mereka.



Di kantin Mumtaz mendapati Sisilia yang berdiri berhadapan dengn Riana, sedangkan para pengunjung kantin memperhatikan mereka seksama.


Mumtaz melirik lewat ujung matanya mengamati beberapa orang anak UAM yang di tugasi menjaga Sisilia.


"...jadi Sisilia gue bisa cabut laporan gue asal Lo jauhin Mumtaz." Ujar Riana.


Sisilia yang melihat Mumtaz mendekati mereka tersenyum senang " gimana ya... Setelah gue analisa kak Mumtaz tuh orang yang wajib diperjuangkan, seribu kali Lo laporin dia gue yakin seribu kali Lo gagal, cowok pilihan gue tuh cap mantap bukan kaleng-kaleng kosong bekasan."


Mumtaz tersenyum mendengar jawaban Sisilia, dia meraih tangan Sisilia dan mencium punggung tangannya." Makasih atas kepercayaannya, pulang yuk."


Riana terkejut Mumtaz yang datang dari arah belakangnya. " Mumtaz..." Panggilnya sendu


" Mumtaz, aku sudah bujuk papa untuk gak laporin kamu, tapi papa gak dengerin aku meski aku sudah berusaha membujuk papa." Ucap Riana mendekati Mumtaz dan memegang tangannya.


Mumtaz menepis tangan Riana." Its okey, udah terlanjur juga."


" Mumtaz, apa kamu gak pernah sekalipun peduli padaku? Aku terluka karena kamu." Riana mencoba mengambil simpati Mumtaz dan yang lain.


" Apa Lo peduli kepada Sisilia? Gue lukai lo karena Lo akan melukai Sisilia."


" Aku bisa bujuk papa untuk menarik laporan itu? Dan kamu akan terbebas kalau kamu mau menyesali semua perbuatan kamu padaku?"


" Lo dan bokap Lo melaporkan gue ke polisi dengan laporan pidana penganiayaan, tolong teman-teman anak hukum kasih edukasi padanya tentang hukum pidana." Ujar Mumtaz kepada para pengunjung kantin.


Kejadian Riana berbicara dengan Sisilia dan Mumtaz dalam sekejap menyebar di dunia maya dan menjadi perbincangan para netizen.


*****


Tok... tok...


" Assalamualaikum."


" Wa, alaikumsalam." Jawab mama Aida membuka pintu.


" Ada paket Bu atas nama Zahra." Ucap petugas jasa antar.


Mama Aida menerima bungkusan berwarna coklat itu, " ooh, terima kasih." 


" Tanda tangan di sini dulu Bu, bukti penerimaan."


" Iya."


" Baik, terima kasih. Assalamu'alaikum."


"Wa, alaikumsalam." Mama Aida memperhatikan bungkusan tipis persegi itu dnegan heran. Zahra bukanlah orang yang suka membeli barang secara online.


****


Di ruang konferensi, Dewa sedang menjelaskan situasi dunia cyber terkait berita Mumtaz di depan para petinggi RaHasiYa dan para asistennya, dan Bara.


" Para hackers membantu kita mengawal berita ini mereka melenyapkan setiap akun secara permanen yang mencoba menggoreng berita ini apalagi bagi yang memfitnah anda bos."


" Untuk media, Yuda, dan Rio sebagai asisten anda sudah bertindak menghubungi mereka atas nama RaHasiYa, ditambah Gata tv membuat gerak cepat dengan menampilkan cuplikan rekaman CCTV kampus penyebab anda melakukan kekerasan terhadap Riana."


" Satu informasi kecil, Aloya mencoba mencari panggung dalam berita ini dengan menghubungi beberapa stasiun tv mengkaitkan anda sebagai kakak dari Tia yang menikah dengan calon suami Adinda, tetapi sudah ditangani oleh Yuda dan Rio."


"Gata tv setelah berdiskusi dengan para petinggi RaHasiYa setuju kembali membahas pertolongan yang kalian lakukan kepada Dominiaz Gaunzaga beberapa waktu lalu, dan ini berhasil karena mengikutsertakan beberapa anak UAM dan teman lainnya yang mengenal kalian sebagai narasumber."


" Gue yakin banget Yuda manfaatin ini buat promosi Pema."  Sindir mumtaz. Melirik Yuda yang anteng duduk di samping Rizal.


" Orang bijak memanfaatkan segala kesempatan, apa Lo tahu sejak kasus ini dan berita tentang kalian kembali diberitakan Bazaar makin rame, yang datang bukan hanya anak kampus lain tapi juga anak SMA, mantap ga tuh." Yuda berjumawa


" Iya in aja supaya beres." Sarkas Rio.


" Kejadian di kantin juga cukup menolong, kubu yang awalnya bersimpati pada Riana berbalik arah mendukung Lo bos." Lanjut Dewa.


" Perasaan gue lagi gak nyalon jadi pejabat." Monolog Mumtaz.


" Biasa netizen, kaum rebahan." celetuk Radit.


" Secara keseluruhan semuanya terkendali." Tukas Dewa.


" Terima kasih para sahabatku, buat makan malam gue traktir kalian, Jeno megang kartu gue."


" Semua satu gedung di traktir bos?" Tanya Dewa.


" Kalau Lo yakin bisa jaga kasus ini di cyber oke aja sih." Ucap Mumtaz.


" Yuhu...."


" Horreee...."


Sambut pegawai RaHasiYa.


Mumtaz meninggalkan ruangan konferensi diiikuti para sahabat.




Bara duduk di kursi yang berada di balkon ruangan mumtaz, Mumtaz berdiri memandangi kota Jakarta dari balkonnya, sedangkan para sahabat merebahkan diri di lantai dan sofa.



" Husain akan melepas saham rumah sakit mereka. Lo berminat?"



" Lo nawarin gue beli cabe?" Sarkas Mumtaz.



" Hehehe...gue dengar Alatas kontraktor bergabung dengan Alatas architecture berkat Lo join sama mereka."

__ADS_1



" Butuh duit gede itu."



" Hampir lima tahun duit Lo mendem diberbagai bank bergengsi di dunia dan gak Lo toel sama sekali ya kali hanya karena Alatas kontraktor duit Lo mengecil."



" Wah keren pasukan Lo bisa bobol RaHasiYa." sindir Mumtaz.



Bara melempar cangakang kacang kesal " ck, Jimmy yang sering cuap-cuap tentang kejayaan finansial para petinggi RaHasiYa."



Mumtaz dan para sahabat terkekeh geli " apa keuntungan gue gabung rumah sakit Lo."



" Hari ini Zivara mengucapkan kata-kata yang membuat kak Ala marah." Ucap Ibnu yang sibuk memutar rekaman pembicaraan Zivara dan Anna di rumah sakit ke layar di ruangan Mumtaz.



Selama menonton rekaman Mumtaz tak berekspresi, " bagaimana dengan om Hito?"



" Beliau diwakili om Heru, sepertinya beliau sangat sibuk belakangan ini. Banyak meeting antar perusahaan diwakilkan kepada om Damar." Ucap Bara.



Mumtaz melirik Daniel dan Bara secara bergantian " apa kalian tidak keterlaluan memutus kontrak dengan Husain hanya karena kasus ini."



" Beberapa tahun ini Husain mengalami performa negatif, sebenarnya ayah dari tahun kemarin mau putus kontrak dengan mereka, tapi diurungkan karena memandang paman Hazam. Kasus ini hanya mendorong ayah mengambil keputusannya." Ujar Daniel.



" Idem." Ucap singkat Bara.



" Saat ini Husain group rajin melakukan pendekatan secara intens kepada Hartadraja, mengingat Pradapta juga memutus kontrak dengan mereka."



" Ayah mau bergabung dengan mereka dengan syarat raihan keluar dari dewan direksi."



" Idem." Bara menimpali.



Daniel mendengus " Atma Madina gak kreatif." Bara merotasikan mata jengah dengan komentar Daniel.



" Masuk." Ucap Mumtaz, tak lama masuk lah Dimas ke ruangan Mumtaz.



" Bos, doktor Ratih melakukan konspirasi dengan salah satu profesor terkait kasus kak Zahra. Lusa pihak Jerman ke Indonesia bos."



" Lo kirim data profesor itu ke gue, lo siapkan semua berkas terkait plagiat ini, Nu sambungkan gue dengan pihak universitas kak ala."



" Siap." Ucap Ibnu dan Dimas.



" Bar, gue ambil saham Husain."



Bara tersenyum " besok Lo ke rumah sakit. gue undang pemegang saham lainnya.



" Nu, awasi Husain, beli setiap saham Husain yang di Hartadraja. Kondisikan posisi Husain semakin lemah."



Mumtaz menuju meja kerjanya."



" Jeno, bagaimana untuk keamanan Sisilia di kepolisian untuk besok."



" Gue udah terima konfirmasi dari pihak keamanan Gaunzaga, mereka yang bertanggung jawab atas keamanan Sisilia di kantor polisi."



\*\*\*\*\*\*


Wajah Hazam Husain memerah menahan amarah, beliau melempar semua benda yang bisa diraihnya. Ruang keluarga berantakan karena berbagai benda yang berserakan.



" Habis, habis sudah Husain group. Harga saham terjun bebas paling bawah selama Abang memimpin. Kenapa kamu tidak berunding dulu sewaktu memutuskan untuk melapor Mumtaz." Geram Hazam.



" Bang, mana Raihan tahu kalau akan begini akibatnya, Raihan pikir terlukanya Riana akan menimbulkan simpati masyarakat Indonesia, dan mampu menaikan harga saham kita." Bela Raihan.



" Pikiran konyol darimana itu? Riana, om tegaskan kamu untuk menjauhi Sisilia dan juga Mumtaz..."



" Om..."



" Om tidak peduli tentang perasaan kamu, kalau kamu teruskan perbuatan kamu, kita bisa jatuh miskin."



" Pa, Hartadraja belum meninggalkan kita, kita bisa terus membujuk mereka untuk bekerjasama dengan kita menggantikan kolega kita yang lain." Ujar mama darah, isteri pak Hazam.



" Hito saat ini susah untuk dihubungi, Aznan memutuskan untuk bersikap pasif, semuanya karena karena kegagalan proyek kamu, Raihan." Hazam memijit-mijit pelipisnya.



\*\*\*\*\*\*



" Jadi ini undangan pernikahan Alfaska dan Adinda, jeng?" Tanya mami Sandra kepada Celine menunjuk kepada beberapa box yang terletak di atas meja.



" Iya, anda tinggal membagikannya."



" Kami sudah menyiapkan resepsi untuk pernikahan ini dengan megah mengundang semua media baik cetak maupun elektronik bahkan media online. Saya ingin pernikahan ini diketahui oleh semua rakyat Indonesia." Ucap Celine percaya diri.



" Pastikan anak anda pulang sesuai dengan jadwalnya."



" Tentu, hubungan kami memang sedang renggang karena wanita itu, tapi dia sangat menyayangi saya jadi dia tidak akan menolak pernikahan ini." Mami Sandra memegang satu undangan itu, menuliskan nama mama Aida dan keluarga di depan surat undangan...



^^^sebenarnya ini satu bab, dengan bab 62, tapi karena kepanjangan dijadikan satu bab. bab ini tu jembatan buat cerita tentang zahra-hito dan cerita akhir masa lalu Jimmy, Daniel, Mumtaz dan Ibnu kenapa mereka gak bisa lepas satu sama lain. juga membuka cerita kenapa nenek Sri gak suka sama keluarga Mumtaz sejak awal. ikuti aja ceritanya....^^^

__ADS_1


__ADS_2