
Tok..tok...
" Masuk."
Sisilia menyembuhkan diri dari sela pintu melihat keadaan kamar terlebih dahulu sebelum memakai kamar.
" Loh, ada bang Fatih. kalau kalian bersama romannya bau-bu cuan ni. kali ini dollar, euro atau real?" seru Sisilia menghampiri meja kerja Diaman Mumtaz dan Fatih tengah berdiskusi dengan satu kertas besar gambar blue print proyek merak terbaru.
Mumtaz dan Fatih saling lemari lihat geli menanggapi ucapan Sisilia." Rupiah, untuk kalangan menengah bawah." jawab Fatih.
" Oooohhh, rupiah." timpal Sisilia tidak bersemangat.
" kenapa? kok gak bersemangat gitu." ledek Mumtaz melihat antusiasme Sisilia menurun.
" Enggak apa-apa, oh, iya, kak. aku ke sini disuruh manggil kakak buat makan malam yang lain sudah menunggu di bawah."
" Sorry Mum, gue ambil waktu istirahat Lo, tapi ini urgent
bang Ibra bilang malam ini harus sudah fix semua." Fatih menggulung kertas itu."
" Santai saja, gue yang minta maaf ngerepotin kalian."
"Ck, jangan sungkan. gue pergi dulu, gabung yang lain." Fatih beranjak keluar kamar.
" Salam sama kak Jasmine ya, kak." ucap Sisilia saat Fatih diambang pintu.
" Jasmine? kalian dekat?"
" Enggak juga, cuma sering ketemu mendampingi om Hazam aja sih jadi sering ngobrol random gitu, terutama ngomongin kakak." Sisilia terkikik-kikik.
" Kamu ngapain ngomongin Fatih? suka sama Arab satu ini?" tanya Mumtaz tidak suka.
" Roman-romannya ada yang cemburu, Sil." seloroh Fatih
" Bukan aku yang ngomong tapi kak Jasmine, dan dia sendiri yang ngomong tanpa diminta. Kaka Jasmine pikir mungkin kak Mumuy sering ngomongin kak Fatih makanya dia ngomong tapi aku lebih ke mendengarkan sih, keluh kesah dia yang masih dicueki kak Fatih."
" Masih Lo cueki dia, Tih."
"B aja."
" Kak, dia mau nyerah loh. dia mau ngelirik cowok lain, ada kKating yang suka dia. dan besok mereka mau nonton."
" Kalau bisa, kantor lagi sibuk mana ada dia waktu senggang." jawab Fatih ketus. terlihat jelas Fatih yang gusar meski ia mencoba mengelak.
"Besok weekend, iya kali kerja mulu." timpal Mumtaz geli melihat kecemburuan dari ucapan Fatih.
"Gue pamit."
Braakkhh ... Fatih menutup pintu agak keras.
" Ck, cemburu tapi gengsi." cibir Sisilia.
" Kak, ayok kita makan."
"Di bawah banyak orang kayak kemarin-kemarin?" tanya Mumtaz was-was.
"Iya, mereka antusias merayakan kesembuhan kakak, aku kan selalu di samping kakak, do, jangan khawatir." Sisilia mengulurkan tangan mungilnya.
Mumtaz berdiri menyambut tangan lentik itu," makasih,aish bersama ku di waktu yang tidak mudah ini." ucap syukur Mumtaz.
" Senang rasanya dibutuhkan kakak." Sisilia melempar senyum.
" Tidak buruk juga berbagi rasa, aku bisa melihat sayangnya kamu ke aku." Mumtaz mentik Sisilia untuk dia peluk.
" Makasih sabar dengan aku yang sedang tidak baik ini." Mumtaz mengecup pucuk kepala sisilia.
Sisilia menengadah wajah melihat Mumtaz yang menunduk melihatnya." jangan risau lagi, mereka juga sayang kakak. membagi kesusahan tidak menjadikan kakak terlihat lemah, bagiku kakak masih yang terbaik." ucap serak Sisilia menahan tangis.
Selama di rumah Mumtaz mengalami panic attack karena banyaknya orang yang berkunjung dan berkumpul di rumah. beruntung para sahabat dan satu psikiater selalu ada untuknya.
" Yuk, turun."
"Hmm." tangan mereka saling mengait kala menuruni tangga yang sesekali dapat godaan dari Alfaska seperti biasa.
" Sungai udah kering, Muy
gak perlu pegangan mulu." cibir Alfaska.
" Ini kita lagi nyeberang samudera, kak." dengkus Sisilia sebal. tiap hari pasti aja calon adik iparnya itu meledak mereka.
Seperti biasanya juga Mumtaz malas meladeni, dia memilih menyalami orang-orang yang ikut serta riungan, lalu duduk di sisi Aryan yang mengobrol dengan tamu.
" Gimana keadaan kamu?" tanah Aryan pelan.
" Lebih baik, Pi. not bad juga ngumpul gini."
" Kakek Fatio kalau mengadakan acara selalu besar gini, om?" tanyanya pad damar yang duduk berselang dua orang dari mereka.
" Lebih dari ini. makanya Akbar suka ngumpet kalau kakek mengadakan acara."
Mumtaz dan Aryan terkekeh," pasti si paling introvert itu merasa tersiksa."
"Banget, besoknya pasti dia bete teru mengurung diri di kamar seharian."
Perhelatan acara pun berjalan lancar, ditutup do'a oleh ustadz setempat. seminggu Mumtaz harus memaksakan diri berbaur dengan para warga dan disorot kamera, diberitakan secara internasional diulas secara rinci membuka banyak jawaban tentang Mumtaz yang mereka kenal biasa saja ternyata sosok luar biasa.
" HAH..HAH..HAH..." napas Mumtaz memburu dia bangun tersentak dari mimpi mengenai tragedi 10 tahun yang lalu yang kembali datang semenjak dia sadar dari kritisnya.
Segera dia membuka selimut, berlari ke kamar mandi mencuci wajah berharap bayangan jeritan ibu dan suara memohon bapak pergi dari otaknya.
" Tidak...aku tidak bisa begini terus...ya tuhan ini sangat menyiksaku." rintihnya di depan cermin, tampak wajah naas tercetak jelas di sana sembari menjambak rambutnya.
Jantungnya berdegup hebat, ia masuk ke bilik shower masih berpakaian lengkap ia memutar kenop air, lalu membaurkan shower menyirami dirinya.
Lama berdiri di sana, lam kelamaan suara cicit dilanjut rintih diakhir tangisan meruntuhkan pertahanan Mumtaz yang menangis tergugu memegang dadanya seakan sakit yang teramat sangat ia rasakan.
"Mama..mama...peluk aku. Mama . Aa butuh mama, please peluk aku..." tangisnya sambil meringkuk memeluk kedua lututnya
Mumtaz sangat berharap di saat seperti ini mamanya masih ada bersamanya, ia yakin jika mama-nya melihat kondisinya saat ini ia sedang berada dalam pelukan mama-nya.
Mama akan memeluknya Samapi ia meras baik-baik saja," Mama..peluk Aa,..Ma..peluk Aa...Ma.." racauan pengharapan yang menyimpan kerinduan itu terus mengulang kalimat yang sama selama 25 menit.
Mumtaz mematut dirinya di d pan cermin besar setinggi dirinya, ia menghela napas berat kar na hidup harus berlanjut.
Dengan tidak semangat dia mencakol ranselnya, keluar dari kamar melirik kamar di sebelah kanan dan kirinya belum ad ayang terbuka.
Menuruni tangga dengan ransel di pundak, ia berdiri tegak saat melihat Eidelweis lewat di ruang tengah sambil membawa piring yang berisi brownies, Eidelweis tersenyum ceria padanya," pagi Mumtaz, apa kabarnya hari ini?"
Eidelweis mengernyit kala Mumtaz tidak menyambut sapaannya malah berdiri mematung di tangga, namun tidak berapa lama dia tersentak kaget begitu dengan gerakan cepat mumtaz melemah ranselnya lalu memeluknya, perut besarnya seakan bukan penghalang Mumtaz merengkuh seluruh tubuh Eidelweis.
" Muy,..."
" Sebentar saja, kak. hanya sebentar
aku ingin dipeluk. sebentar saja, aku membutuhkannya saat ini." ucap getir Mumtaz di balik punggung Eidelweis.
Eidelweis merasakan tubuh yang bergetar lalu disusul rembasan air mata dari bahunya.
Eidelweis pun lantas membalas pelukan itu,, tak ayal suara tangis terendam kini tak terelakan.
" Sini, kakak peluk. peluk saja kakak sepuasnya semuanya akan baik-baik saja, A. kakak bersama Aa, kakak tidak akan meninggalkan Aa sendiri." Cici Eidelweis tidak bisa menahan tangisnya.
Tubuhnya ikut bergetar hebat saat ia mengatakan kalimat sakti mama Aida saat diirnaud terpuruk lima tahun yang lalu.
Di saat nenek buyutnya mencela dia sebagai aib keluarga karena hamil diluar nikah, Aida, perempuan yang berjilbab dan sangat religius yang semula membuat dirinya insecure akan dosa yang memalukan malah menerimanya dengan tangan terbuka.
Kata-kata sakti penghibur bathinnya yang membuat dirinya kuat, menjadi ibu yang bisa membanggakan Adelia. Kini Mumtaz yang berad Adi titik rapuh, tentu dia tidak akan melepaskannya.
Mumtaz mendapatkan kehangatan seorang ibu, memang tidak persis mamanya, tapi kehangatan ibu selalu terasa berbeda.
Heru yang menggendong Adelia, bersama Hito dan mama Dewi yang semula berniat sarapan gabung terhenti langkahnya di pintu antar ruangan saat tiba-tiba Mumtaz menerjang istrinya.
Ucapan Mumtaz mengiris hati siap saja yang mendengar, air mata membasahi pipi mereka. ini pertama kalinya mereka secara terang melihat mumtaz yang tenang berganti rapuh, rasa bersalah menggelayuti hati mereka.
bagaimana keluarga mereka memberi banyak masalah pada keluarga sederhana nan bersahaja ini hingga mereka melupakan bahwa Mumtaz terlalu muda untuk menanggung beban seberat itu.
Di lain sisi, tepatnya di ruang atas tangga Ibnu, Zayin, Tia dan Alfaska yang hendak turun menunda niatnya saat Mumtaz berlari ke arah Eidelweis, mereka mendengar semua curahan hati itu, hati mereka pun sama pedihnya dengan Mumtaz kerinduan terhadap orang tua namun tidak bisa bertemu adalah suatu penderitaan tersendiri bagi yatim-piatu.
" Yah, Aa Mumuy kenapa meluk Mama? Aa Mumuy juga cayang Mama?" tanya polos Adelia.
" Hmm, Aa Mumuy sayang mama, Adel harus sayang Aa Mumuy juga ya?" Heru bertanya dengan suara yang tertahan.
" Pasti, Yah. Aa Mumuy kan calon Ipal Adel.
"Jangan karena Aa Ayin, tapi Adel harus sayang Aa Mumuy karena Kakak."
__ADS_1
" Adel gak mau kalau Aa mumuy kakak Adel, belati Aa Ayin juga kakak Adel, telus kita gak bica nikah. Gak mau." jawab Adelia tegas tidak terbantahkan.
"Terserah Adel, sekarang kita lewat belakang aja." Hito mengambil Adelia dari Heru, saat hendak merangkul ibunya, Dewi menolak.
"Mama mau telponan seorang dulu, kamu duluan aja ke sana."
"Mama jangan sampe gak nyusul."
" Iyaz bawel." Dewi berjalan keluar rumah menuju ruang Eidelweis.
Sementara yang di atas kembali ke kamar masing-masing.
Zahra yang berdiri bersembunyi di tembok ruang makan menggunakan serbet mengigit kuat mulutnya agar tangisannya tidak bersuara.
Romli menatap sendu wanita yang dia idolakan itu, dia tidak menyangka kelurga ini menyimpan banyak kesedihan.
suara ketokan dari dapur kembali menyibukkannya, ia berjalan berbalik ke dapur, Zahra mengusap air matanya, berjalan ke kamar mandi yang di samping dapur.
15 menit kemudian mereka berkumpul di ruang makan seakan tidak terjadi apa-apa." udah Mulai masuk kuliah, Muy." tanya Zahra yang sedang menyiapkan sarapan.
"Iya, udah kelamaan gak masuk." Mumtaz duduk di kursi.
" Kamu gak masuk kuliah, Mi." tanya Heru pada Romli.
" Masuk siang, om. datang sekarang buang waktu doang. masih banyak kerjaan di sini, om." Romli membantu menata makanan.
" Si paling sibuk banget." cibir Hito.
" Kakak malah lupa kamu mahasiswa." kekeh Zahra.
" Yang lain mana?"
" Belum muncul, rumah berasa lengang ya, kalau mereka pada balik kandang masing-masing.
Sejak dua hari yang lalu, ketika Alfaska menyatakan kasus Navarro ditutup penjagaan rumah Aida ditiadakan, rumah kembali normal seperti kasus Aloya belum menyentuh mereka.
" Nanti juga pada ngumpul lagi, ini menjelang UAS soalnya."
" Ck, suka banget ngumpul di sini?" dengkus Hito.
" Biarkan saja, itung-itung dapat ART gratisan." timpal Zahra.
" Aku gak suka mereka natap kamu."
"Gak usah cemburu sama anak kecil."
" Aku berangkat dulu, mau jemput Lia." Mumtaz menengahi pasangan ini.
" Gitu dong, pacaran secara normal, lihat Lia punya pacar tapi kayak jomblo, kemana-mana sama Ita, Cassy atau Tia." cibir Heru.
" Hehehe, ini lagi nebus waktu. Kakak mau sekalian aku anter?" tanya Mumtaz pada Zahra.
"Enggak, kak Hito yang anter kakak. mumpung sedang senggang." jawab Hito.
" Aku pergi dulu, kalau gitu." Mumtaz mencivm pipi dan kening Zahra, hal yang sama juga pada Eidelweis DNA Adelia
Hati Eidelweis terasa hangat, ia tersenyum lembut pada Mumtaz." Hati-hati gak usah ngebut."
Mumtaz tertegun sejenak, kata-kata itu adlah kata-kata rutin yang dia dengar dari Mama-nya saat mereka pergi.
" Iya, kak. masih sayang nyawa juga ini."
" Have nice day, jangan mikirin orang lain dulu, sembuhin kamu dulu, okay?" ujar Zahra yang diangguki Mumtaz.
Saat Mumtaz menuju pintu, dia berpapasan dengan Ibnu, Alfaska yang merangkul Tia, dan Zayin yang berjalan ke arah ruang makan tidak menyadari mata mereka yang sedikit memerah.
"Gue berangkat duluan." seru Mumtaz.
"Hari ini jadi?" tanya Ibnu.
"Jadi, calon gue aja kalau Lo selesai kuliah."
" Mau kemana?" tanya Zayin.
" Ke rumah gue." jawab Ibnu.
Zayin tertegun sesaat," Yakin, Lo, A?" tanya ragu Zayin. dia Thu pasti Mumtaz mengalami kesulitan pengendalian jika mengingat memory Mahmud.
" Harus, gue gak bisa terus-terusan gini."
"Hmm. gue pergi, Lia udah nunggu." Mumtaz keluar dari rumah.
"Kak, Ala tahu soal ini?" tanya Zayin pada Ibnu.
"Tahu, Radit ikut kita juga kok." Ibnu melanjutkan langkah ke ruang makan.
Semenit berikutnya Alfaska dan Tia bergabung bersama mereka.
" Nu, kapan baikan sama Daniel? dia udah ngasih hukuman Sania, gue yakin tu cewek gak bakal muncul lagi setelah dia ketahuan nyelakain Ita."
" Apa yang dilakukan Daniel?" tanya Zahra soal Dista yang terserempet mobil yang sengaja dikemudian sania, wanita gila yang ingin memili Daniel.
" Dibawa ke the Baraz dengan pintu terbuka tanpa penjagaan."
Labrador Bara kenyang tuh." ucap culas Zayin.
" Mancing tuan muda Birawa, sih oon. dia juga yang mau racunin Ayu." banyak kejadian setelah keluarga Sania dibangkrutkan oleh Mumtaz.
" Ck, cewek, itu. syukurlah sudah menghilang." celetuk Eidelweis.
"Perjuangan Daniel mendapatkan Dista yang paling sulit." tutur Alfaska.
" Lo masih besanan sama peselingkuh itu?" tanya sinis Ibnu.
" Mereka gak pacaran."
" Tapi memprioritaskan, apa bedanya." celetuk Tia.
" Kalau kakak melakukan itu, jangan harap Tia maafkan."
" Aa bawa Tia jauh dari bang Afa." celetuk Zayin.
" Dan Lo gak bakalan bisa menemukannya lagi " timpal Ibnu.
" Loh kok aku yang diserang?" aku gak ada minat buat lakukan itu."
"Bang Daniel juga kelihatan orang setia, tapi nyatanya...hanya alasan sepele membuang pacar yang sudah support dia. makan tuh nyaman!!! nyaman ternyata dimodusin buat diporotin, sakit gak tuh." cibir Tia gregetan.
^^^^^^^^
" Assalamualaikum," Mumtaz memasuki rumah besar Pradapta setelah dipersilakan oleh kepala pelayan yang langsung menuju ruang makan dimana penghuninya tengah berkumpul.
" Calon mantu akhirnya bisa jemput pacarnya." sambut Elena terlalu bersemangat.
" Bisa aja nyindirnya, Tante." Mumtaz terkekeh menyalami Elena dan Gama, tos ala pria pada Dominiaz.
" Makan, Muy." tawar Gama.
" Teh aja kalau ada, udah makan di rumah. Kak Ala masak." Mumtaz duduk di samping Sisilia.
" Bawa bekal aja ya, kata Lia kamu suka sandwich." Elena meminta chef rumah untuk membuat dia bekal makan siang.
" Dia mah apa aja, yang penting enak." ucap Dominiaz.
" Permisi, Nyonya.ada telpon." ucap kepala pelayan.
" Dari siapa? nyonya Birawa."
" Hanna?" gumam elena Herna tidak biasanya temannya itu menelpon di pagi hari
" Tante terima telpon dulu ya, Muy."
" Iya Tante." Mumtaz turut berdiri saat Elena bangun dari duduknya.
" Santai saja."
" Muy, ada waktu senggang gak hari ini?" tanya Dominiaz.
"Kakak, jangan bawa-bawa kak Mumuy dalam operasi kakak. dia belum sembuh." omel Sisilia.
"Enggak, dek. kakek minta dibenerin wabsitenya. ada orang yang menyelundup mengambil data perusahaan."
" Aku hubungi Dewa aja nanti buat nolong om Filippo. hari ini aku ada urusan bentar sama Ibnu."
" Lain kali juga gak apa-apa. dari pada kena omel Lia, dia lama kalau ngambek. sogokannya mahal." decak Dominiaz.
__ADS_1
Di lain ruangan, tubuh elena menegang yang disusul raut sendu di wajahnya. pandangannya ia palingkan ada Mumtaz yang terlihat di sela pintu antar ruang yang sedang mengusap sayang rambut Sisilia.
Elena menepuk-nepuk pipinya menenangkan diri mendengar ucapan Hanna di seberang sambil menahan air mata yang akhirnya lirih jua.
" Aku nyusul ke sana, jeng dengan bang Gama. iya, kita ketemuan langsung di sana aja. bye."
Bahu elena bergetar kecil saat menaruh telpon rumah di tempatnya, ia mentik napas lalu membuangnya, menghapus air matanya lalu berjalan setenang mungkin ke ruang makan.
" Yuk, kak. kita berangkat." Sisilia menyeka sisi bibir membersihkan sisa makan dengan serbet.
" Udah?"
" Udah."
" Ini bekalnya, dimakan sekalian sama yang lain." Elena memberinya papperbag berukuran besar yang berisi penuh sandwich.
" Makasih, Tan. kami pergi dulu."
Mumtaz tersentak kaget saat tiba-tiba Elena menarik kedalam pelukannya, begitupun yang lain. refleks Mumtaz melepas pegangan pada paperbag ia membalas pelukan Elena dengan rasa khidmat dan terenyuh.
Sisilia mengambil paperbag dari lantai, mendekat ayahnya merangkul pinggang ayahnya dan meringsek dalam pelukan Daddy-nya.
Dominiaz menjeda makannya, sebelum seutas senyum kecil menghiasi bibir se'xy-nya
********
Memasuki kampus, banyak mahasiswa menyapa mereka, kini Mumtaz menjadi salah satu mahasiswa populer, setelah dikupas tuntas tentangnya di Eropa dan Amerika terkait sepak terjangnya dengan RaHasiYa.
"Kakak sekarang populer, awas aja kalau selingkuh." rungut Sisilia. saat mereka sudah sampai di gedung farmasi.
Banyak mahasiswi yang curi lirik cari perhatian pada Mumtaz.
"Gak bakal berani aku selingkuh, memang ada yang lebih cantik dari kamu?" bisik Mumtaz, yang tertawa geli melihat Sisilia merona salah tingkah.
" Apa sih, gak jelas."
" Cie...salting. merah banget mukanya." gelak Mumtaz.
" Kak, jangan mulai. aku masuk dulu."
" Hmm, kalau ada apa-apa langsung telpon. makan siang langsung ke kantin univ aja, ya kayak biasa."
" Iya, sana pergi. jangan caper."
" Dah.."
" Gli, kak."
"Iya ya..katanya kamu pengen kayak yang lain."
" Gak usahlah geli banget."
" Wow..wow...tuan Mumtaz akhirnya ngampus, gimana perasaan anda masuk kuliah langsung UAS? enak gak? enak dong." tanya Haikal ala wartawan pada Mumtaz saat bergabung dengan mereka dengan formasi lengkap Bahakan Bara pun hadir di sana makan siang di kantin.
"Lumayan lah, gak perlu bete masuk kelas. btw, makasih buatt semuanya yang sudi direpotin bawa tugas selama gue online." Mumtaz menaruh papperbag ke tengah mereka yang duduk melingkar di atas rumput taman.
" Apasih, gak usah sok sungkan gitu." Rijal merasa risih dengan sikap santun Mumtaz.
" Tahu, lagian gue ngerasa keren bawa tugas Lo." timpal Raja.
" Ini apaan?" tanya Ubay melongok ke dalam paperbag." Wow sandwich, berkelas ini."
" Kiriman Tante Elena."
" Kak Mumtaz, ada waktu buat ngobrol sebentar?" dua mahasiswi cantik berdiri di belakang Mumtaz, yang dipanggil menoleh ke belakang mengerti bingung, pasalnya dia tidak mengenal dia gadis itu.
" Gak bida, kak Mumtaz sibuk." jawab ketus Dista dari arah belakang mereka berjalan bersama Sisilia dan Cassandra.
" eh, heheheh. ya udah lain kali aja."
" Gak ada lain kali ya. gue tahu kalian, adek tingkat yang lagi nyari pansos." Dista berdiri tegak menantang di depan dua mahasiswi yang berpenampilan sexy tersebut.
" Lo cermati satu persatu dari mereka lo dilarang deketin mereka atau Lo berurusan sama gue. kecuali yang berambut rapih itu dan yang setengah gondrong. Lo ambil dan gadai juga gak apa-apa." tunjuknya pada Daniel dan Rio. yang ditunjuk mendengkus sebal
"Kakak, siapanya Kakam Mumtaz? kok sewot. kak Sisil yang pacarnya aja santai tuh."
" Wah, nantangin Lo, dia pacarnya, gue adiknya. mau apa Lo? hah?"
" Bohong, nama belakangnya gak sama."
" Ngeyel Lo, ya." Dista memberi barang bawaannya pada Sisilia dan Cassandra, lalu menggulung kemeja flannelnya.
" Aku nanya, siapa jelas aja. jadi gak ada yang over acting di sini." balas lembut gadis berambut sebahu.
" Berani Lo sama gue."Mumtaz berdiri di tengah-tengah mereka saat Dista mendorong kasar mahasiswi tersebut.
"Pergi, gue gak ad sakti dan jangan cari gue lagi apapun tujuan Lo sama gue." tegasnya dengan mata menajam.
Dua mahasiswi tersebut berlari terbirit-birit malu disoraki yang lain menonton mereka.
" Dista *strong* dilawan, cewek idaman ini." raja memijit-pijit bahu Dista.
Daniel menatap tajam Raja, Adgar yang menyadari itu mentik keras Raja hingga di terjatuh.
" Apa sih, Gar. ngerusak cara."
" Duumduk, diem, mingkem. Lo liat mata bang Daniel ngelihat lo." kode Adgar dengan dagunya.
Raja melihat ke Daniel yang melotot padanya, Raja nyengir kuda mengangkat tangan membentuk V.
" Duduk, Ta." Mumtaz mengajak Dista duduk di samping Sisilia.
__ADS_1
Sisa hari itu dilewati dengan guyonan ala mahasiswa gabut...