
"Assalamualaikum,..." ucap salam dari beberapa orang yang berdiri di pintu utama.
om Damar, Tante Nadya, Akbar, dan juga om Damian masuk rumah dan menyalimi semua orang
" kenapa? ada apa? kok mukanya pada gak enak dipandang gitu? tanya om Damar memperhatikan kesekelilingnya
" Sivia. " Tante Dewi bergumam pelan. dia melirik sungkan ke Zahra. yang terlihat biasa saja. semua yang baru datang menoleh ke Sivia.
" Tante..." Sivia maju mendekati Tante Dewi sembari memberikan bingkisan parcel buah
" iya Dew. ini calon mantu kamu udah kembali. " nenek Sri mengajak Sivia untuk duduk disofa.
" maaf ma. kita mau ke meja makan. mama mau ikut makan atau nunggu disini. Aznan hari ini memang rencananya hanya menjamu Zahra." om Aznan mengambil sikap jelas
" jadi kamu gak suka mama datang? " sarkas nenek Sri
" mama itu keluarga. bebas keluar masuk
hanya saja kalau mama mau bawa orang asing kesini harus konfirmasi Aznan atau Dewi dulu. kan mengganggu lalu ternyata Aznan ada tamu."
" dia bukan orang asing. dia calon mantu kalian. " tegas nenek Sri
" mantan. ma. mantan! " tegas Aznan.
Sivia yang tahu dirinya tidak diterima dirumah ini, dengan tak tahu malu mulai beraksi mengharap simpati.
" om. Via minta maaf. Via tahu kesalahan via besar hingga sulit untuk dimaafkan. tapi via tak bermaksud lain selain mengharap maaf dari om dan Tante. " lirih Sivia
" saya dan keluarga saya sudah memaafkan kamu. jadi kamu tak perlu kembali untuk mencoba masuk ke keluarga saya. " telak om Aznan.
" tapi om saya dan Hito masih berhubungan. Minggu kemarin kami baru jalan bareng. " Sivia mencoba segala cara untuk mendapatkan Hito kembali.
mendengar perkataan Sivia om Aznan dan Tante Dewi terkaget. pasalnya Hito tak pernah bercerita tentang kembalinya Sivia.
menghela nafas bosan Hito berucap
" maaf pa, ma Hito gak bilang, karena Hito pikir itu gak penting. sedangkan jalan bareng. karena Hito bodoh percaya kalau dia hanya mau temenan sama Hito. tapi Hito sudah memutuskan untuk tidak berhubungan lagi dengannya. " Hito mengambil sikap tegas.
Hito tidak percaya jika Sivia nekat mendekati neneknya setelah kejadian terakhir mereka bertemu.
" Hito tidak sopan kamu. sebagai lelaki kamu tidak patut berkata kasar kepada perempuan. " bentak nenek Sri.
" Sivia sudah tahu kalau Hito tidak berminat padanya. sekarang Hito sudah ada Zahra. gak mungkin Hito pisah dari Zahra hanya untuk mantan yang gak move on nek. " jengah Hito.
" benar kak. si Sivia ini tidak patut cuma diomongin kasar, tapi harus ditindak kasar juga iya kan nek? " sindir Edel.
" kamu... Edel masih jadi perempuan nakal kamu. " hardik nenek Sri berdiri dari duduknya. Edel tak bergeming dengan ucapan nenek baginya itu sudah biasa.
Zahra yang melihat Hito merespon kesal kepada neneknya karena mengatai Edel mendekati Hito dan menggenggam lengan Hito dengan satu tangan dan tangan yang lain dan mengusap lengan Hito menenangkan.
" nek, nenek sadar gak kalo nenek tu ngerusak suasana. gak liat kak Hito dengan pakaian resmi rapihnya kayak mau ngelamar Zahra. pakaian mereka juga serasi. "
nenek meneliti gaya pakaian Hito dan Zahra. kemeja lengan panjang warna biru tua yang dipasangkan celana bahan panjang warna hitam rambut disisir rapih tak ada cacat diteruskan perhatiannya ke arah Zahra yang memakai tunik model simpel berwarna senada dengan Hito dipadu padankan dengan celana panjang bahan berwarna senada kerudung bergaya simpel berwarna biru muda.
" nenek tidak setuju kalo Hito menikah dengan dia. mungkin dia baik tapi dia tak sederajat dengan kita. " hina frontal nenek Sri yang disambut kaget oleh semua orang sementara Sivia tertawa dalam hati.
" ekhem om maaf. kalo gak keberatan kapan kita makannya ya. Zahra lapar. tadi Hito larang Zahra makan siang supaya makan banyak di rumah om. " Zahra tak tau lagi bagaimana menanggapi hinaan yang dilontarkan nenek Hito selain mengalihkan perhatian ke hal lain guna meredam emosinya.
" oh iya om lupa mantu om laper. Hito bawa Zahra ke meja makan. " ujar om Aznan sumringah.
Hito menggandeng lengan Zahra lembut sembari tersenyum melangkah ke ruang makan
" KAU... berani mengabaikan saya. orang miskin yang mencoba naik status dengan mendekati keluarga Hartadraja. " hardik nenek Sri.
semuanya terkaget tak percaya jika nenek Sri mampu berkata kasar secara frontal setelah apa yang Zahra lakukan untuk menyelamatkan Cassandra.
Hito berhenti melangkah dengan tangan terkepal berbalik ke nenek Sri, namun didahului zahra
Zahra berbalik melangkah maju ke depan nenek Sri. dengan tenang mencium tangan nenek Sri menuntun nenek Sri untuk duduk disofa sementara Zahra berjongkok didepan nenek Sri.
" tidak ada alasan saya takut sama nenek. karena orang tua yang peduli pada keluarganya tidak untuk ditakuti tapi disegani. "
" tatakrama yang diajarkan oleh orang tua saya yang melarang saya membalas ucapan nenek, tapi perkataan nenek menyakiti saya, jadi dari pada saya lepas kendali lebih baik saya makan. "
" maaf kalo sikap saya menyinggung nenek. apa yang nenek katakan tentang hubungan saya dan Hito itu tidak benar. jadi saya tidak marah. saya sayang Hito. sebagaimana Hito sayang saya. " Zahra sendiri terkejut dengan apa yang dia ucapkan pada kalimat terakhir.
Hito dan yang lain mendengarnya terkejut dengan apa yang diucapkan Zahra, namun sedetik kemudian hito tersenyum pelan. tak dapat pungkiri dia senang mendengarnya.
tak ingin berlarut dalam ke melow an. Zahra beranjak melangkah ke ruang makan tanpa melihat Hito yang menatapnya dengan pandangan jahil.
" nek, jangan coba lagi mengatur masa depan cucu nenek. tak semuanya beruntung seperti Damar. " Damar menggenggam tangan Nadya menuju ruang makan.
***
ruang makan
" via ambilkan Hito makanannya. belajar melayani. jadi kalau kalian sudah menikah sudah terbiasa. " nenek Sri masih berulah.
Sivia yang merasa mendapat dukungan berdiri mengambilkan nasi untuk Hito. ketika mau mengambilkan lauknya Zahra mengambil piring yang dipegang Sivia.
" terimakasih. kamu memang perlu belajar. karena saya setelah menikah nanti butuh pembantu. " ucapan frontal Zahra melawan nenek Hito. Sivia terbelalak kaget dengan keberanian Zahra.
" mau makan pake apa sayang? " tawar Zahra dengan berat hati.
Hito menahan senyum " apa aja. kalo kamu yang kasih pasti rasanya enak aja. " gombal Hito yang mendapat delikan jengah dari Zahra.
meletak piring di depan Hito " Sivia tolong ambilkan air untuk semua orang ya. kamu pasti senang melayaninya kan." Zahra mengambil duduk disamping Hito.
Edel yang melihat sikap Zahra angkat kedua jempolnya, sedangkan Tante Dewi dan om Aznan tersenyum memberi dukungan. nenek Sri melotot tidak senang.
dengan geram Sivia berkeliling meja menyediakan minum bagi semua orang. waktunya giliran Hito Sivia dengan semangat mendekati kursi Hito. sewaktu mau mengambil gelas minumannya didahului Zahra yang berdiri disampingnya
" ini minuman kamu sayang. terimakasih Sivia." meletak gelas itu disamping tangan Hito.
" terimakasih sayangnya Hito. "mengikuti drama Zahra. raut wajah Zahra berubah geli mendengar ucapan Hito. Hito terkekeh melihat itu.
Damian dan Damar terperangah geleng kepala melihat kelakuan Hito. Hito yang kalem dan tidak suka drama saat ini bertingkah konyol dengan main rumah-rumahan dengan Zahra.
" Zahra, kayaknya kamu sudah siap jadi isteri Hito ya." pancing Tante Nadya.
" ya gimana ya, Hito nya yang ngomongin nikah aja. jadi kan Zahra baper. " Hito terkekeh refleks mengusak jilbab Zahra.
" kalo gitu panggilannya ganti jangan om dan tente lagi ke kak Damar sama ke mbak Nadya tapi kakak dan mbak. berasa tua tau." kelakar kak Damar
__ADS_1
" asshiap mas kakak Damar." oceh absurd Zahra.
" apa? mas, kamu mau nikung mbak ya Ra," mbak Nadya cemberut cantik
" emang masih bisa kak?" Zahra menggoda
" enggak. hati kak Damar udah full isinya Nadya." gombal Kakak Damar menoel dagu mbak Nadya yang salah tingkah
" keretek..hati aku patah berkeping-keping." Zahra membuat gerakan orang jatah hati.
" Ra, tapi kamu kan ada obatnya kak Hito." ujar Edel
" oh iya lupa." Zahra menegakan badan dengan semangat. berhasil membuat om Aznan dan Tante Dewi tertawa.
" apa? kamu lupa sama aku?" Hito berlagak cemburu.
" iya. lupa tuk gak jatuh hati sama kamu. " memberi kerlingan sebelah mata dan finger lover. Hito tertawa gemas mengusak-usak jilbab Zahra.
Hito yang berubah lembut dan tak segan menunjukan emosi hatinya membuat keluarga lega. tak ada lagi Hito yang mengasingkan diri dari dunia.
selama bercanda tak ada komentar pedas dari nenek Sri. mengakui atau tidak nenek Sri menikmati suasana santai ini.
Sivia menahan kesal dengan keadaan yang tidak dia inginkan
***
di jalan sepulang dari rumah Hito
" mau langsung pulang atau mampir dulu?" tanya Hito ke Zahra yang duduk bersandar lelah.
" mampir bentar ya. aku mau beli martabak. dirumah lagi rame orang. temennya Mumtaz sama temennya Zayin lagi nginep dirumah. "
" oke. lama juga gak apa-apa. "
Hito kembali ke mobil seusai memesan martabak yang mengantri panjang.
" sumpah tadi tuh capek bathin banget. segini cuma pura-pura pacaran. gimana kalau beneran." keluh Zahra. Hito terkekeh mengusap jilbab Zahra.
" maaf. aku beneran gak tau nenek mau datang." ujar Hito. Zahra mengangguk
" aku cuma gak punya pengalaman aja. jadi kaget. "
" kamu gak pernah pacaran?" tanya Hito. Zahra menggeleng.
" aku gak mau bagi fokus aku antara cita-cita Sama cinta. jadi dokter adalah impian mama dan ayah. "
" jadi kamu kepaksa jadi dokter?" Hito menghadap Zahra
" enggak. kami bukan dari keluarga berkelebihan. aku sampai ke titik sekarang ini butuh perjuangan panjang bagi kami. yang bisa aku lakuin hanya fokus jadi dokter hebat buat mama dan ayah bangga. "
" sebentar lagi aku koas, menyandang predikat dokter. kalo memungkinkan mengambil spesialis. entah dimanapun ayah berada aku ingin ayah bangga. " Zahra tersenyum simpul ke arah Hito.
" maaf..." Hito menatap sendu Zahra
seakan memahami apa yang ingin diucapkan Hito Zahra menggeleng
" udah jangan minta maaf mulu. kau tau, aku selalu berpikir sesungguhnya hakikat manusia itu lebih dari sekedar fisik. tapi kualitas akhlaknya. "
Zahra menatap lurus ke manik ramah Hito " jadi bebaskan diri kamu dari rasa bersalah. aku yang minta maaf berulang kali menyalahkan kamu atas kepergian ayah."
" itu sudah takdirnya. ayah bisa pergi dengan dengan segala cara. hanya Allah memilihnya lewat kamu." tutur Zahra pelan.
Hito menunduk sejenak meresapi perkataan Zahra. ingin dia peluk Zahra erat memberi rasa memiliki. entah memiliki dalam artian apa.
" tadi kamu kenapa gak nganterin Sivia pulang nenek Loh yang nyuruh kamu." tanya Zahra mengalihkan pembicaraan
" terus bikin kamu marah sama aku, beresiko kehilangan kamu di hidup aku? NO WAY big NO WAY. cukup kemarin kamu marah besar sama aku. aku gak mau itu terjadi lagi. " ucap mantap Hito.
" apa sih kamu lebay banget gitu." Zahra salah tingkah. Hito terkekeh senang.
" aku seneng kamu bilang sayang sama aku tadi didepan nenek dan keluarga aku. meski itu hanya untuk pura- pura." Hito tersenyum
Zahra menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena malu.
" aku sendiri gak tau kenapa ngmong kayak gitu, tapi yang pasti itu bukan omong kosong. waktu itu aku inget aja kebaikan-kebaikan kamu ke aku dan keluargaku. maaf kalo itu ganggu kamu. " ucap Zahra pelan
Hito tertegun mendengar itu. ucapan itu sama sekali tak ia duga. namun dia suka.
" aku baik ya. entah kebaikan apa yang udah aku lakukan, tapi terimakasih udah sebut aku baik. " ucap Hito pelan
Zahra mengangguk. " kamu emang orang baik. beruntung aku ketemu kamu. "
" kamu sadar gak kalo belakangan ini kamu gak manggil aku pakai om lagi." Hiro memastikan
" iya sadar. kejadian kemarin bikin aku sadar kalo kamu sama aku sewaktu-waktu bisa jadi orang asing. apalagi masih ada kemungkinan kamu bareng lagi sama si Sivia itu. gak banget manggil om oyeuwh! " Hito terkekeh geli
" gak bakal lah aku balik lagi sama dia. " tolak Hito.
" ya siapa tau secara dia dapat dukungan dari nenek Sri. "
" aku bukan orang tolol yang bisa dipaksa hidup bareng orang kayak Sivia. " Hito mengucap itu sembari mengetuk-ketuk stir mobil
" tapi katanya dulu kamu cinta benget sama dia."
" aku tuh tipe kalo udah cinta sama satu orang. setia sama dia." jelas Hito
" sampe bucin? " tanya sarkas Zahra.
" gak tau sebutannya apa. tapi kalo aku cinta, aku bertahan sampe akhir. " Hito menegaskan
" jadi kamu gak perlu khawatirkan aku bakal selingkuh atau main curang. gak keren."
" sombuong amat bang." ledek Zahra.
" pokoknya tergantung siapa pasangan kamu nanti. kalau pasangan kamu bukan dia aku pertimbangan manggil om lagi, tapi kalo sama Sivia, jangan harap. mau ketemu aja juga males. "
" segitu bencinya kamu sama dia. " Hito terkekeh.
" banget."
" kalau pasangannya sama kamu? "
"......"
__ADS_1
****
seusai mengantar Zahra pulang. senyum Hito masih terpasang di wajahnya.
" kok lama amat nganter Zahra pulangnya." sindir mama Dewi yang lihat Hito mau naik tangga.
berbelok ke arah ruang tv ternyata yang lainnya masih disini. Hito ikut gabung.
" hehe...kayak gak pernah muda aja ma. kirain udah pada pulang." Hito duduk di sofa berukuran single
" lagi nunggu kamu cerita." ucap mbak Nadya yang duduk bersandar di bahu kak Damar.
" cerita apa? " Hito bingung.
" kalo sama Zahra mama setuju."
" Edel juga. " Eidelweis ikut gabung juga
" masih terlalu awal untuk memutuskannya ma."
" kamu masih ragu kerena kehadiran Sivia?" tanya kak Damian. Hito menggeleng.
" gak usah bahas si Sivia. dia selingkuh sama Heri sanjaya waktu masih bertunangan dengan kak Hito." beritahu Edel
" serius?" tanya kak Damar kaget.
Eidelweis memperlihatkan photo-photo Sivia dan Heri yang ada di galeri ponselnya ke papa Aznan. yang terus berganti tangan ke yang lain.
" untung gak jadi nikah. " mama Dewi mengusap dada.
" sebenernya nya kita kemarin ketemu Sivia dan membeberkan semua kecurangan dia. bahkan Edel ancam dia kalo berani ganggu kak Hito, tapi dia masih gak tau malu deketin nenek. " sebal Edel.
" kamu tahu hal ini To?" selidik papa Aznan. Hito menggeleng.
" kan tadi Hito udah bilang Hito udah gak ada urusan sama Sivia." ucap Hito menajam
" tapi sepertinya Sivia akan menjadi duri dalam hubungan kamu sama Zahra." kak Damian memberi peringatan
" gak akan terjadi kalo kita menutup jalan masuk Sivia." ujar Edel memastikan
" kita kompak mendukung Zahra, tapi akan susah kalau Hito nya sendiri gak tegas sama perasaannya ke Zahra." timpal mbak Nadya
" terus kenapa kamu gak yakin sama Zahra?" tanya papa
" bukan gak yakin, tapi perjalanan dia masih panjang pa. Hito gak mau menghalanginya, " Hito menghela nafas lelah.
" emang dia mau sampe ngambil spesialis?" mama penasaran.
Hito mengangguk. " dia punya mimpi. Hito harus menghargai mimpinya itu.
" ya udah santai aja. toh kamu juga masih muda." papa memberi nasihat
" muda apanya usianya udah 26 tahun
harus nikah umur berapa?"
" ma, bagi laki-laki usia dibawah 30 tahun tu masih muda. iya gak pa." papa mengangguk setuju.
" ma, terus terang papa udah jatuh hati sama Zahra, meski usianya masih muda tapi dia dewasa. mama liat kan bagaimana dia memperlakukan nenek setelah terang-terangan nenek menghinanya. papa mau Zahra jadi mantu papa." bujuk papa
" Edel juga mau Zahra jadi kakak ipar Edel."
" damar juga setuju."
Akbar: 3in
kak Damian: 4in
" oke fix ya kita sepakat kawal percintaan kak Hito dan Zahra. jangan ada khianat diantara kita. " semangat Eidelweis. diangguki malas oleh yang lain.
" kamu udah dapet suara bulat. kamu sendiri gimana?" mama memastikan perasaan Hito.
Hito sedari tadi memperhatikan keantusiasan keluarganya sembari memainkan kunci mobilnya.
" hah. gimana nanti aja lah ma. Hito ke kamar dulu. "
" kak jangan terlalu santai nanti di embat orang stres lagi. " Hito tak menggubris Edel dia tetap melangkah pergi.
***
kamar Hito
membaringkan diri diatas kasur Hito bingung dengan perhatian keluarganya terhadap hubungan dia dan Zahra.
" gimana gw mau seriusin wong kita aja gak ada pacaran. heh kenapa jadi gini dah." Hito memejamkan mata beristirahat.
*****
" Muy, Lo yakin kak Ala gak pacaran sama om Hito? " ragu Ibnu.
Mumtaz yang sedang fokus mengetik menoleh ke Ibnu " kenapa emang? "
" belum lama ini kak Ala berkunjung ke rumah Aznan Hartadraja loh. bareng om Hito nya. " Ibnu memperlihatkan rekaman jejak aktifitas kak ala di laptopnya.
Mumtaz termenung melihat laporan itu. " memang sih beberapa kali om Hito nganter kak Ala pulang, tapi gw gak curiga mereka Deket. " ujar Mumtaz.
" masalahnya disaat bersamaan Sivia juga ada disana dia diajak nenek Sri." tambah Ibnu.
Mumtaz mengusap wajah gusarnya. dia menimbang langkah apa yang harus diambil untuk melindungi kakaknya.
" kapan kira-kira kita bisa tanam chip di Sivia?" tanya Mumtaz.
" yakin Lo? ini masih beresiko. syaraf Lo objeknya." Ibnu mengingatkan
" gak ada pilihan. gw gak mau ngambil resiko kak Ala celaka. "
" oke. lusa Sivia janji temu dengan nenek Sri di mall Grand Green. kita masuk disana." Mumtaz mengangguk.
" oke. cek semua kelengkapannya. ".....
^^^terimakasih yang masih mengikuti dan menyukai cerita ini....^^^
^^^taufan kamilah, 22,Juni, 2021^^^
__ADS_1