
Zahra dan ketiga dokter lain dibantu beberapa pwrata sangat khusu' saat hendak mengambil proyekt peluru dari dada Adelia.
Adelia, si itik lucu dengan kecentilannya dan kebucinannya yang tidak tertandingi pada Zayin bahkan saat tidurpun kini tidak bisa tidur dengan cantik pasti rusuh kini anteng tidak bergerak di atas meja operasi dengan wajah pucat pasi.
Si pipi chubby itu terbaring dilengkapi alat medis yang melekat di tubuhnya karena dua peluru yang bersarang di area dada dan pundaknya yang dia dapatkan untuk melindungi lelaki yang menurutnya adalah kekasih sejatinya, lelaki masa depannya, lelaki yang akan menjadi imam dalam hidupnya, lelaki yang saat ini dibalik pintu tengah menangisinya.
Setelah proyektil itu berhasil Zahra menaruh peluru itu ke dalam wadah stainless.
" Satu lagi, prof. Di bagian pundak." Seru Zahra yang diangguki para rekannya.
Deg...
Zahra berhenti bergerak saat hendak membuka kulit bagian pundak Adelia, merasakan dadanya terasa tercubit nyelekit oleh sesuatu yang cukup menyakitkan.
Ia meremas kain di dadanya berharap rasa sakit itu berkurang, namun tidak jua mengurang. Zahra meringis kesakitan.
Zahira dan dokter yang lain
Mulai panik," prof, are you okay?" Tanya dokter pendamping di sampingnya.
" Prof, tolong ambil alih, entah mengapa dada saya terasa sakit, but I am okay."
" Baik, anda istirahatlah. Anda baru pulih dan langsung tindakan yang sudah berlangsung dua jam 45 menit." Mereka pikir Zahra kelelahan.
Satu suster mngambil kursi untuk Zahra." Silakan prof."
" Terima kasih." Zahra masih memegang dadanya yang terasa diremas kuat.
Di balik pintu Zayin pun merasakan hal yang sama, ia yang duduk di kursi tunggu di samping Adgar bangun dan berjalan menjauh dari mereka diikuti William dan Bayu yang saling lempar lirik melihat keganjilan tingkah Zayin yang mengusap dadanya.
" Yin, ada apa?" Tanya William.
" Entahlah, tapi dada gue sakit berasa sesuatu yang gak ngenakin banget.
" Lo jangan terlalu overthinking soal Adelia." tutur Bayu.
" Ini bukan soal dia, tapi sesuatu yang lain. Ya tuhan ini tuh gak nyaman banget buat dirasainnya."
Zayin mengusap-usap kedua telapak tangannya karena keresahannya yang tidak kunjung dia temukan apa penyebabnya.
" Apa terjadi sesuatu dengan Aa Mumuy? Tebaknya.
" Yin, ayolah jangan berpikir kemana-mana. Semuanya akan baik-baik saja mereka tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada bang Mumtaz." Tutur William.
" Iya gue tahu, kita harus selalu optimis sampai penghujung usaha kita tapi ini tuh..perasaan yang gue rasain sewaktu mama meninggal, persis banget gak enaknya" Ucap Zayin penuh keresahan.
" Yin, istighfar." Bayu mengingatkan.
" Gue mau ke mushalla dulu, mending gue shalat ketimbang gila merisaukan sesuatu yang gue gak tahu karena apa." Zayin pergi menuju lift tujuannya mushalla yang berada di lantai satu.
" Itu baru Zayin gue." Bayu menepuk pundak Zayin.
Zayin selalu mengakhiri pekerjaannya dengan shalat dua rakaat atau tengah menghadapi masalah sebagai treatment dia agar menghadapi setiap persoalan dengan tenang.
^^^^^^
Dia tempat lain, Tia pun tiba-tiba mengalami kegundahan, dia bolak-balik di atas ranjangnya merasakan keresahan yang sangat kuat.
" Ya, Lo kenapa sih gak mau diem.?" omel Dista.
" Gak tahu, cuma gue merasa cemas aja."
" Iya sama gue juga. Dari tadi perasaan gue gak enak." Timpal Sisilia.
" Apa terjadi sesuatu dengan mereka?" Gumam Tia yang didengar kedua sahabatnya.
" Jangan berlebihan, gak baik buat dedek bayi dalam kandungan Lo." Jawab Dista.
" Ta, Lo gak ngerasain apapun?" Tanya Sisilia yang dijawab gelengan kepala oleh Dista.
" Dia kan sama kak Aniel sudah putus makanya gak ada feeling apapun lagi." Seloroh Tia.
" Terus aja ledek gue, mentang-mentang udah rujuk Lo."
" Dih, udah lama itu mah, basi. Ini buah dari rujuk." Tia mengusap perutnya yang mulai terlihat buncit.
" Soumbong." Ledek Dista.
" Jones." Balas Tia yang mendapat cebikan dari Dista.
Sementara Sisilia memilih pergi ke dapur mengambil air putih berharap meminum air bisa menghilangkan kegelisahannya, namun yang didapatinya kegelisahan hatinya kian menjadi.
Sisilia jalan bolak-balik di dapur dengan mengusap kasar dadanya yang makin lama berasa sakit.
" Dek, kamu kenapa?" Tanya Elena yang melihat putrinya risau.
" Enggak tahu mom tapi Lia merasa ingin menangis tapi agak tahu karena apa, cuma hati Lia merasa mendadak sedih banget mom." Tia merintih pilu entah karena apa, dia sendiri bingung.
" Mom, tolongin Lia, hati Lia berasa sakit." Lirihnya terdengar pilu.
Elena membawa putri bungsunya ke dalam dekapan hangat seorang ibu.
" Tenanglah, tarik napas, lalu buang. Beristighfar dan berdzikir ya."
" Mom, ini sakit,...sakit banget mom..." Sisilia menangis semakin kencang.
Elena mengeratkan pelukannya, ia sendiri gundah memikirkan suami dan putranya, dia khawatir terjadi sesuatu dengan mereka.
Tamu yang di lantai sembilan berlarian menuju lift naik lantai teratas dengan Bara yang sibuk menelpon.
pun dengan keluarga Gurman-Gonzalez, namun saat mereka di epan pintu Raul menelpon Rodrigo, Hinga saat Rodrigo berhenti melangkah mereka pun turut berhenti.
" Siapa?" tanya Alejandro.
" Raul."
" Kamu ceritakan apa yang terjadi padanya." titah Alejandro yang diangguki Rodrigo yang berjalan menajuh ke sudut lain ruangan.
Sivia terduduk di kursi dengan tatapan kosong." kenapa paman Alfred begitu jahat?kakek, aku bersumpah aku tidak mungkin terlibat dalam kejahatan dia." racau Sivia.
Diego berjongkok di depan putrinya yang kebingungan, ia merasa kasihan pada putrinya.
" Sayang, bukankah kamu tadi mendengar kalau kamu membantu mereka?"
" Chip, aku tidak tahu di dalam tubuhku ada chip."
" Belinda mendekat, ia merangkul putrinya." sayang, apa selama ini kamu tidak merasakan apapun pada tubuhmu?"
Sivia terdiam merenung," sakit kepala. mama selama empat tahun aku di Itali saat menenangkan diri aku sering sakit kepala yang hebat, saat ku periksa ke dokter tidak ada apa-apa di kepalaku. apa menurutmu itu kerja chip papa?"
__ADS_1
" Entahlah. tapi kamu jangan risau, mereka tidak akan mengusik kamu."
" Tuan, mungkin sebaiknya kita di sini saja." usul Diego yang memperhatikan Belinda dan Sivia yang berwajah pucat.
Alejandro mengangguk." iya, sebaiknya kita di sini saja."
" MUMTAZZZZ..." para sahabat secara berbarengan berlari mengerumuni Mumtaz yang terkapar dengan yang napas terputus-putus, mata lemahnya mengarah pada Ibnu yang menangis tersedu-sedu, Alfaska dan Daniel segera memangku kepala Mumtaz.
Keadaan lengah ini dimanfaatkan oleh Navarro bergerak mengambil pistolnya yang ditendang Matunda, namun gerakan dia terbaca Matunda yang langsung memukulnya.
BUGh...
Pukulan itu sangat keras karena diiringi rasa marah ujung bibir Matunda berdarah dan pipinya lebam, kemudian Matunda menelungkupkan tubuh Navarro dengan kedua tangan di letakkan dibelakang kepalanya kemudian diikat dengan dasinya sekencang mungkin.
" Lepas, Matunda. Kau akan menyesalinya." Bentak Navarro.
" Kalau bukan harus tuan Ibnu yang menghabisimu sudah ku bvnvh kau, tua bangka." Balas Matunda menggeram kesal.
" Kau...sekarang kau tunjukan siapa dirimu, tapi lihatlah tuan mu itu sudah tidak berdaya, kalau kau ingin kembali padaku, akan ku ampuni kau."
" Aku lebih baik menjadi pembvnvhmu daripada bekerja sama dengan mu." Matunda lalu menyvmpal mulut Navarro dengan kaos kakinya yang dia lepas.
Netra Mumtaz melirik pada keduanya, Alfaska dan Daniel membungkukkan sedikit tubuh padanya," Ka..lian...harus... melindunginya..." Desis Mumtaz.
" Pasti ..pasti...Lo jangan banyak ngomong dulu, jangan tutup mata Lo, bang " rintih Alfaska.
Bibir Mumtaz menyungging senyum saat sahabatnya memanggilnya Abang." Lo akui juga kalau gue Abang Lo."
" Terpaksa...tapi Lo kan kakak ipar gue .ya..jadi..gitu deh..."
Daniel menutup dada Mumtaz yang tertembak dengan kemejanya yang dia lepas.
" Muy, please..bertahan." Daniel yang bicara.
" Niel, semua tentang Sania ada di komputer gue. Terserah mau Lo apain dia, tapi jangan sakiti Ita." Daniel mengangguk.
Kini matanya mengarah pada Ibnu," Nu, gue...sayang Lo, Lo berharga,..Lo kuat..untuk gue Lo sangat berharga."
Ibnu mengangguk, lalu menggenggam tangan Mumtaz, lalu punggung tangannya ia cium dengan khidmat.
" Jangan pergi, gue gak bisa tanpa Lo...hiks..please bertahan untuk gue, Muy." Punggung tangan lemah itu sudah basah dengan airmata Ibnu yang tidak bisa berhenti.
Ketiga sahabat itu terus menangisi orang yang sudah menguatkan mereka, tangan mereka saling menggenggam tangan lemah itu berharap kekuatan mereka tersalurkan untuk Mumtaz.
" Gue capek, Gue mau istirahat, gue mau tidur..."
" NOOOO ..." Alfaska dengan teganya memegangi kelopak mata Mumtaz agar tetap terbuka.
" Dokter...cepat panggil dokter..." Terikat Daniel kuat-kuat.
Ceklek...
Bara dan yang lain berlari cepat ke arah mereka dengan dua dokter dan beberapa perawat di belakangnya yang mana mereka berlari sambil mendorong brankar.
Segera mereka memberi ruang pada dokter untuk memeriksa, dibantu perawat melakukan tindakan pertama.
Saat sudah di atas brankar tngan Mumtaz menggapai pada Dominiaz, ia segera mendekati dan memberi telinga kanannya pada Mumtaz.
" Bang, jaga para adik gue,...tolong jaga kak Ala, sampaikan salam cinta dan sayang gue untuk adik cantik Lo, Lia. Gue cinta dia." lirihnya lemah, Dominiaz harus secara seksama mendengarkan rintihan terputus itu.
Ia mengangguk," pasti, Lo jangan mengkhawatirkan mereka. Gue sayang Lo, gue berharap lihat lo nikahi adik gue." Balas Dominiaz yang direspon senyum lemah oelh Mumtaz.
Di sisi lain para ayah mendekati Mumtaz, mereka satu persatu mencium keningnya lembut.
" Mantu om kuat ya,..kamu rela Lia dibawa lelaki lain?" Mumtaz menggeleng lemah.
" Kalau begitu kamu harus kembali, om sayang kamu, Mumtaz." Gama mencium keningnya sekali lagi.
Bara dengan langkah berat turut mengelilingi brankar Mumtaz, dia langsung mengecup kening sahabat sekaligus penolongnya, airmatanya membasahi kening Mumtaz.
" Inu biar jadi urusan gue, Lo harus kembali siapa yang bakal ngomelin gue kalau gue erorr..hiks..cuma Lo yang bisa ngerem gue."
" Ada Cassy..." Bisiknya semakin lemah.
" Dia Bahkan hilang."
"DL."
" Permisi, pasien harus segera dibawa ke rumah sakit." Seru dokter berkumis.
Segera mereka menjauhi brankar tersebut. Di pintu Leo sudah standby menyambut brankar, sepanjang jalan menuju lift anak RaHasiYa membuat pagar manusia berjaga, lift yang sudah terbuka lebar untuk dihuni dijaga ketat, sepanjang jalan menuju rumah sakit anak RaHasiYa dan Gaunzaga yang mendapat kabar kondisi Mumtaz langsung berpencar ke seluruh kota yang dilalui menuju ke rumah sakit untuk menjaga keamanan, jalanan sudah dikosongkan dari pengendara lain.
Disertai derai airmata anak RaHasiYa tetap mengawasi kepergian ambulance, mata elang mereka mengawasi setiap pergerakan yang ada mereka tidak mau kecolongan meski lewat layar.
Bahkan rumah sakit Atma Madina begitu mendapat telpon dari Bara langsung sigap menghubungi dokter terbaik negeri untuk menangani Mumtaz.
Zayin yang semakin merasa gelisah berjalan hilir mudik tidak tentu arah di rumah sakit, sesekali dia usap wajahnya dengan kasar, saat netranya melihat Farhan bersama beberapa dokter berlarian ke bagian ICU, entah mengapa jantungnya berdetak cepat.
Tanpa sadar kakinya melangkah mengikuti para dokter dan perawat yang memasang raut cemas.
Di lobby UGD, dapat ia lihat banyak dokter berjejer menunggu yang pastinya pasien VVIP.
Matanya memicing tajam saat dilihat Leo dan beberapa anak RaHasiYa yang dia kenali turun dari motor memasuki dan berpencar mengelilingi ambulance dan area lobby. Kakinya refleks berjalan menelusuri lorong mendekati ambulance yang pintunya dibuka dan langsung dikerumuni para dokter.
Dia melipir ke samping saat brankar itu didorong dengan tergesa-gesa oleh para tenaga medis, Kakinya berhenti melangkah, dan tubuhnya menegang kaku saat dia melihat siapa pasien yang berbaring dengan banyak darah ditubuhnya di atas brankar yang melewatinya.
" Aa..." Gumamnya kosong nan lemah.
Saat Leo melesat di depannya tangannya langsung menahan Leo," apa yang terjadi?" Tanya Zayin dingin.
Leo tersentak, ia memberi kode pada para kawannya untuk tetap berjalan.
" Bang, jawab. Ada apa?"
Perlahan Leo melepas pegangan tangan Zayin, " maaf,..." Terlihat Leo ragu untuk mengatakannya, matanya melirik Bayu dan William yang berdiri di belakang zayin.
" Mumtaz tertembak."
Saat itu Zayin merasakan jantungnya berhenti berdetak, tangannya mengepal erat. Wajahnya memerah marah." Siapa yang melakukannya?" Suara itu semakin berat dan dingin.
" Navarro."
Raut Zayin langsung menajam, dengan tatapan membnvnvh.
" Navarro, Tua si-alan itu..." Geramnya, ia melangkahkan kakinya untuk keluar lobby yang langsung ditahan Leo.
" Semua sedang diatasi."
" Aku harus membvnvhnya."
" Itu tugas Ibnu."
" Inu, bang Inu? Bagaimana dia bisa menyentuh Navarro jika bayangan kematian bapak saja dia ketakutan."
" Itu kemauan dari Mumtaz."
" Kalau dia gagal?"
" Masih ada Alfaska, Daniel, Bara, bang Dominiaz dan yang lain."
" Gue adiknya, yang harus membnvhnya itu gue."
" Alfaska saja tidak diperbolehkan menyentuh Navarro, Mumtaz ingin Ibnu yang menghabisinya." Ucap Leo memohon pengertian Zayin.
__ADS_1
Sebenarnya dia takut Zayin bertindak melewati batas kemanusiaan, dia seorang tentara, sebagai yang lebih tua Leo harus mengamankan karir Zayin, karir impian mama Aida untuk putranya.
" Oke, fine. Gue gak bakal gegabah, tapi tetap kita butuh backup, dan itu gue."
Setelah menimbang dibawah tatapan tajam Zayin akhirnya Leo mengangguk, ia melepas pegangan di tangan Zayin.
Saat Zayin berjalan keluar lorong, Leo menelpon Yuda.
Sedangkan Bayu dan William menghembuskan napas berat saat kaki mereka mengikuti langkah lebar Zayin.
Bayu menyalakan ponselnya, ia mencari nomor kontak atasannya.
" Bay, kalau Lo telpon panglima atau KASAL, gak ada lagi gue yang jadi teman Lo." Ucap Zayin walau dirinya tidak menoleh ke belakang.
Bayu membatalkan panggilan yang sudah terlanjur tersambung lalu menyimpan ponsel tersebut dalam saku celananya. William menggeleng kepala tidak habis pikir akan tindakan Bayu yang seperti tidak mengenal Zayin.
Sedang di ruang berkubah suasana masih hening sepeninggalan Mumtaz, para sahabat masih merengkuh Ibnu yang menunduk dalam duduk bersimpuhnya kedua tangannya dipenuhi darah segar seakan Mumtaz masih terbaring di sana.
" Muy, jangan pergi,...gue gak bisa tanpa Lo..hiks.." Erang Ibnu menyayat hati.
" MUMUY.... Jangan tinggalin gue, Lo sandaran gue..Lo pegangan gue...MUMUY..."
Alfaska menegakkan tubuh Ibnu lalu memeluknya erat dengan mata merahnya.
Suara erangan marah dan gerakan amukan dari sudut lain mengalihkan perhatian mereka.
Ibnu melepas pelukan itu, sorot mata yang semula mendung tak ada kehidupan, sat ini mata itu berubah datar.
Ibnu berdiri yang mana Daniel, Bara, Alfaska langsung memepetnya berdiri di belakangnya.
Langkah tegasnya mendatangi Navarro yang diduduki Matunda dengan tubuh menggeliat meronta-ronta membuatnya menjadi sosok yang menyedihkan.
" Buka sumpalannya." Pinta Ibnu.
" Baik."matudna menarik kaos kakinya.
" Uhuk...uhuk...peeh..." Navarro melepeh sesuatu yang menurutnya kotor menempel di mulutnya.
" Ibnu, kau tidak bisa melakukan apapun tanpa mereka, kau lemah...kau pecundang, terima hal itu. Biarkan aku menjadi tuan mu, menjadi pelindungmu." Gertak Navarro yang melihat ketika keyakinan terhadap dirinya sendiri dalam sorot mata Ibnu.
Ibnu berdiri bergeming menatap Navarro yang wajahnya sudah memerah.
" Iya, kau benar aku memang pecundang. Buktinya Mumtaz yang menangani mu selama ini. aku kalah, aku akui itu, terima kasih sudah mengingatkan ku." ucapnya lemah.
Para sahabat dan yang lain terperangah tidak percaya akan kata-kata yang keluar dari bibir Ibnu.
Navarro tersenyum sumringah," lepaskan ikatanku, bebaskan aku."
" Bebaskan dia."
" Ibnu." Panggil mereka serempak
" Tu...tuan ..." Matunda keberatan.
" Lepaskan dia." Titah Ibnu tegas tidak terbantahkan.
" Ibnu jangan."
" Ingat pengorbanan Mumuy, Nu." Bujuk Daniel.
" Dia ingin membmvhmu, Ibnu." Bara menimpali.
" Buka." Bentak Ibnu.
Matunda menjauhi tubuh Navarro, ia membuka ikatan dasi di tangan Navarro.
Navarro berdiri, ia mengusap bekas ikatannya.
" Bagus, pilihanmu sudah tepat, Ibnu Faris Mahmud."
Navarro mengulurkan tangannya pada Ibnu," mari kita lupakan masa lalu, kita buat cerita baru untuk kita." Ucap Navarro enteng.
Ibnu memerhatikan tangan yang terulur itu, silih berganti dengan menatap Navarro yang tersenyum padanya.
Ia pun lantas mengangkat tangannya membalas ukiran tangan itu.
BRAKH....
__ADS_1