Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
bab 38. Atur Siasat


__ADS_3

Kediaman Fatio Hartadraja


Seluruh keluarga Hartadraja berkumpul di ruang santai rumah kakek Fatio atas undangan nenek Sri.


" Katanya ini pertemuan keluarga, dia bukan dari keluarga ada di sini." sindir Edel menunjuk Sivia yang duduk manis di samping nenek Sri


" Dia calon keluarga, jadi harus mulai diikutsertakan urusan keluarga Hartadraja agar terbiasa." ucap santai nenek.


" Apa? kebuy ( kakek buyut )mau poligami? emang masih kuat? seloroh kacau Adgar yang mengundang tawa serempak dari yang lainnya.


Kakek Fatio melempar bantal sofa ke wajah Adgar " dasar cubuy ( cucu buyut ) laknat. mau lomba keganasan?" tantang kebuy Fatio, Adgar nyengir kuda angkat tangan menyerah.


" Lagian kalaupun kakek mau poligami juga milih-milih masa bekasan cucu sendiri, gak estetik amat." sarkas kakek Fatio


" Terus siapa? Lo bang?" tanya Edel


" Idih sembarangan. masih banyak yang perawan diluaran sana Tan, iya kali aku nikahin yang udah jebol plus bekasan paman sendiri." sarkas Akbar.


Hito memukul kepala Akbar " om emang pernah pacaran sama dia, tapi gak sampe make. Alhamdulillah masih dijaga sama Allah, om hanya buat Zahra seorang." ucap alay om Hito. yang lain memasang wajah jengah.


Sivia yang menjadi objek pembicaraan terdiam menahan amarah. dia mengepal kedua tangan yang ada di pangkuannya. hinaan ini tidak akan terlupakan olehnya.


Kalau bukan paksaan dari ayahnya untuk mendekati Hartadraja dia juga tak Sudi berada ditengah-tengah keluarga ini.


Sivia memijit-mijit kepalanya, sakit kepala yang dirasakan sejak dua tahun yang lalu menambah kesal dirinya. dia sebenarnya ingin segera pergi dari sini, namun ancaman sang ayah yang akan menjualnya ke mucikari memaksa dia bertahan di sini.


Sejak skandal dirinya dan perusahaan keluarganya empat tahun yang lalu keluarganya bisa dikatakan bangkrut. Hito Hartadraja benar-benar membuktikan ucapannya bahwa dia tidak akan membiarkan seluruh keluarganya hidup tenang.


Brakkk!!!


Nenek Sri melempar iPad ke atas meja.


" Cukup omong kosongnya." ucap nenek Sri


" Cassandra, putuskan Bara Atma Madina kelakuannya tidak mencerminkan orang terhormat." titah nebuy Sri


" Maaf Nebuy, Cassy gak bisa." cicit Cassandra merapat ke tubuh papa Damian


" Nek, urusan Cassandra urusan Julia, karena dia anak Julia." ujar mama Julia. sedari dulu Julia sangat tidak menyukai kediktatoran nenek nya, dan sekarang dia tidak akan biarkan keluarganya masuk ke dalam kediktatoran sang nenek.


" Tapi anakmu itu masih kecil udah genit, gak lihat kamu gimana gaya pacaran dia."


" Nek, kak Cassy itu udah calon dokter. lagian cuma pegangan tangan, itu masih wajar." bela Adgar.


" Itu yang ditangkap kamera, siapa yang menjamin di belakang kamera mereka ngapain?" tuduh Nebuy Sri


" Aku percaya Cassy bisa jaga diri. lagian kalo Bara macam-macam papanya yang langsung turun tangan. nenek belum lupa siapa Damian kan!?" sarkas Julia.


" kalo kamu gak mau nenek berindak, ya kamu bicara kepada anakmu itu suruh dia putuskan si Bara itu."


" Julia pribadi tidak keberatan Cassy berhubungan dengan Bara. dia memperlakukan Cassy baik."


" Ya,... Tuhan,... kenapa generasi muda Hartadraja tidak pintar memilih pasangan." keluh nenek Sri.


" Kamu Hito sampai kapan kamu sendirian? perempuan itu sudah pergi, usia kamu sudah di atas 30 tahun, tapi belum juga menikah. sudah nenek putuskan kamu akan menikah dengan Sivia."


" Jangan coba-coba mengatur Hito. dari pada menikah dengan dia lebih baik Hito dikebiri." ucap tajam Hito. keluarga Hartadraja yang lain kaget mendengar jawaban Hito.


" Nenek sudah persiapkan Sivia. dia memang punya kesalahan, tapi dia sudah berubah, Hito."


" Ya udah buat kakek aja. kalo Hito, ogah. Hito udah punya calon mau nenek setuju atau tidak itu gak pengaruh buat Hito." tandas Hito.


" Berani sekarang kamu lawan nenek?"


" Seperti yang nenek bilang aku sudah tidak muda lagi seharusnya aku yang menentukan hidupku termasuk pasangan."


" Berapa kali nenek bilang dia tidak pantas untuk mu,... Sivia sudah menjadi lebih baik, dia dari keluarga terpandang."


Hito mendengus meremehkan " mana ada jalang terhormat dan keluarga korup terpandang. aku lebih tahu tentang mereka daripada nenek. ini terakhir kalinya aku dengar nenek menjodohkan aku dengan Sivia."


" Nenek juga tidak mau ngatur kamu, kalo kamu punya pilihan lain. kamu sendiri yang merusak rencana nenek, nenek gak habis pikir dengan tingkah Kamu yang mengumpulkan semua perempuan-perempuan pilihan nenek, dan mengakui wanita miskin itu kekasih kamu." hardik nenek Sri.


Hito geram dengan ucapan neneknya yang menghina Zahra, tak ingin melampiaskan amarahnya kepada neneknya Hito keluar dari ruangan.


" Mau kemana kamu Hito? nenek belum selesai."


" Mau ke Jerman jemput calon bojo."


" go,... go,... om Hito." sorak Adgar


" gas keun kak." teriak Edel


melihat antusiasme Edel dan Adgar yang lain tepuk tangan. Nenek Sri diam dengan wajah tertekuk.


***


Apartemen Hito


Berdiri di balkon kamarnya Hito menelpon seseorang


" Assalamualaikum, Hito, apa kabar?" sapa Zahra di seberang sana.


Hito tersenyum, pertanyaan yang sama setiap kali Hito menelponnya, dan selalu menghasilkan perasaan hangat dihatinya.


" Baik. bagaimana kabar bidadari ku di sana? Hito tertawa pasti sebentar lagi Zahra akan mengomelinya, namun dia rela diomeli Zahra.


" Ishh kamu mah gitu mulu kan jadinya pengen cepet pulang buat mukul kepala kamu supaya isinya gak pindah-pindah." dumel Zahra.


" Kamu,... kenapa?" tanya Zahra gusar


" Hah?, kenapa? aku gak apa-apa!" lagi, salah satu hal ini yang buat Hito gak bisa lepas dari Zahra-nya. tanpa kata Zahra selalu tahu jika dirinya sedang tidak baik-baik saja.


" Jangan sok rahasiaan kalo akhirnya cerita." cibir Zahra.


" Biasa nenek masih ngerecoki jodoh aku."


" masih sama Sivia?"


" Hmm."


" Awas kamu kalo sampe jadian sama dia. aku suruh Mumtaz mundur dari segala kerja sama dengan Hartadraja." ancam Zahra


" Gak usah diancem juga aku gak minat, Ra."


" Kamu gak minat cari perempuan lain gitu?"


seketika raut Hito mengeruh " kamu tahu aku sayang kamu, sekarang kamu nyuruh aku cari yang lain? gak ada cara lain buat kamu hina perasaan aku?" Suara Hito menajam.


" Maaf, bukan maksud aku begitu, tapi aku gak mau kamu buang waktu menungguku takut hal itu sia-sia."


" Aku gak ngerasa menunggu mu. selama empat tahun ini aku juga lirik sana-sini, tapi emang gak ada yang menarik. hati aku beneran udah buat kamu." Hito terus meyakinkan Zahra.


" Terima kasih udah sayang aku. sabar sama nenek Sri ya."


" Kalo bukan karena kamu empat tahun ini mungkin aku gak pernah mau ketemu nenek. omongannya selalu gak enakin kalo ngomongin kamu."


" Ya itu tantangan kamu."


" Kamu gak niat balik dalam waktu dekat? udah empat tahun loh. bukannya empat tahun waktu yang cukup ngejar gelar spesialis?"


" Oh kalo cuma ngejar spesialis dari dua tahun lalu udah dapet. cuma sekarang aku terlibat penelitian penyembuhan kanker otak dengan metode baru yang bagus buat dunia kedokteran."


" Berarti kamu gak bakal pulang-pulang dong penelitian mulu. aku bakal jadi perjaka selamanya dong." rengek Hito.


Terdengar tawa terbahak dari Zahra " gak gitu juga. ini penelitian terakhir aku. aku udah nolak dilibatkan sebagai anggota inti pada penelitian-penelitian lainnya. jadi abis ini kelar yang kemungkinan sebentar lagi, aku langsung pulang."


" Beneran?"


" Beneran sayangku, cintaku!"


Hito tertegun mendengar panggilan sayang itu.


" Apa? coba ulangi apa yang tadi kamu omongin!"


Tak ada jawaban dan akhirnya terdengar


" Tuut." suara putus sambungan telpon


Hito tertawa kecil bisa dia bayangkan saat ini Zahra sedang mengamuk dan mencak-mencak ke diri sendiri karena keteledorannya.


Iseng Hito kembali menelpon Zahra, pada deringan ketiga baru diangkat


" Hallo ini siapa? nama anda tidak tertera, jadi anda salah sambung. Tut." serobot Zahra dalam satu tarikan nafas.

__ADS_1


Hito sekarang benar-benar tertawa terbahak sampai berguling-guling di atas kasur. dia memegang perutnya yang kram akibat terlalu lama tertawa.


***


Tia duduk di kantin sendirian menunggu para sohibnya keluar kelas, iseng memainkan ponselnya.


" Hallo, Marya. lama tak jumpa." mendengar panggilan ' Marya' tubuh Tia seketika menegang, tanpa melihat siapa yang berdiri di sampingnya Tia beranjak pergi, namun pundaknya ditahan menekan oleh tangan lentik seseorang.


Dua Minggu ini dia mencoba terus menghindar dari orang ini, kenapa dia bisa lalai.


Tia memejamkan mata guna menenangkan pikiran dan hatinya dia mencoba mengingat materi psikologi melawan orang gila seperti seseorang di depannya, namun sial pikirannya blank. dia gak ingat apapun.


Untuk mencoba bertahan, Tia mengingat wejangan mamanya agar melawan segala Bullyan, kalo ada anaknya yang kalah meghadapi bullyan, maka mamanya akan marah besar, dari pada dia harus menghadapi amarah mamanya lebih baik dia melawan kekunyuk ini.


Tia membuka matanya di luar aura Tia tenang, tapi dari dalam segala rasa marah, takut, menyesal, dan rasa lainnya bercampur


" Mau kemana? Lo pikir berapa lama Lo bisa menghindar dari gue, hmm?" orang itu dan satu teman lelakinya mengambil duduk di seberang Tia bersedekap sombong.


" Lo masih inget gue? teman baik Lo sewaktu SD," gadis itu menekankan kata ' SD'


" Gue gak kenal siapa Lo. Lo salah orang." elak Tia


" Gue yakin siapa Lo. Maryatul Qibtiah. mainan gue." desis gadis itu.


" Biar gue perkenalkan diri gue biar refresh otak lo, gue Adinda Aloya, sohib baik Lo, dan ini Samuel partner in crime Lo." sindir Dinda.


Tia tahu pasti siapa mereka, tapi dia tak sudi mengenalnya.


" lantas?" ucap datar Tia.


Sedari awal datang Samuel menatap Tia intens dengan senyum mesum. Jari telunjuknya digerak-gerakan seolah-olah sedang memainkan sesuatu. Tia merasakan seluruh tubuhnya berkeringat dingin. susah payah dia pertahankan raut tenang dan cuek, tapi ingatan masa kecilnya memunculkan kembali rasa ketakutannya.


" Sejak Lo lulus SD hidup gue membosankan, tapi siapa sangka di kampus ini kita bertemu lagi. gue yakin hidup gue akan lebih menyenangkan karena ada lo. jalang cilik." bisik Dinda


Tia mensugesti dirinya tenang. Sesungguhnya tiada yang lebih mengerikan selain amarah mamanya.


" Lo maksa gue jadi kekeyi, dia aja gak mau jadi boneka, apalagi gue."


" Ooh mulai berani Lo sama gue."


" Gak ada alasan gue takut sama Lo."


Adinda melempar photo yang sedikit kusam ke atas meja, Tia melihat photo itu, dengan susah payah menenangkan hati dan tubuhnya yang mulai bereaksi terhadap photo itu.


Adinda mengamati reaksi Marya, sedikit kesal ketika dilihatnya Marya bersikap tak berpengaruh.


" Sepertinya Lo ketakutan Marya!?"


" Apa gue terlihat takut? sepertinya Lo marah pelacur, kenapa? gak ada laki waras di kampus ini yang mau sama Lo? serang Tia.


Wajah Adinda memerah ingin dia mengamuk, tapi dia tahan. susah payah dia menciptakan imej sebagai gadis baik nan menggemaskan


Tia senang mampu memancing amarah Dinda, sejauh ini dia bangga terhadap dirinya yang mampu menahan emosi.


Dinda menormalkan raut wajahnya " gue pengen Lo kenalin gue ke teman-teman lelaki Lo."


Tia mencemooh " jangan ngimpi. Lo terlalu menjijikan bagi mereka." serangan Tia berlanjut.


" menurut Lo, Lo gak menjijikan?"


" gue tahu siapa gue. ratusan abad yang dibutuhkan Lo untuk pantas diperbandingkan dengan gue."


Adinda sudah terpancing emosi, dia menyiram Tia dengan minuman yang ada di depan Tia


" Tia,..." panggil Dista


Adinda, Samuel dan Tia. Dista, Cassandra, dan Sisilia mendekati Tia. mereka menatap bertanya kepada dua orang yang duduk di seberang Tia.


" siapa dia?" tanya


" Biasa Maba cari pansos, gue kan terkenal." sindir Tia.


" modal apa yang dia punya buat pansos sama Lo? cemooh Dista.


Adinda belum punya nyali berhadapan dengan Dista, mahasiswa hukum yang terkenal pandai mempermalukan korbannya di depan umum.


" Maaf kak, saya cuma nyapa aja." kata Adinda lembut.


" Tunggu tanggal mainnya sayang." bisik Dinda mengambil photo dan meninggalkan Tia diikuti Samuel


Selepas Dinda dan Samuel pergi Tia menghembuskan nafas keras mengusap wajah tertekannya, meraup semua oksigen yang dia butuhkan.


Tia menjatuhkan kepalanya di atas meja. dia lelah.


" Lo kenapa Ya?" tanya Sisilia, Tia menggeleng


" itu yang barusan pergi siapa? tanya Dista


" bukan siapa-siapa. gak penting."


Para sohibnya saling pandang dan akhirnya mereka tidak bertanya lebih lanjut. pasalnya mereka melihat Adinda menyiram Tia.


***


Ruangan BEM Universitas.


saat ini ruangan BEM sedang mengadakan rapat.


" gimana Cin, dana udah terkumpul berapa? tanya Yuda, sang ketua BEM.


" Alhamdulillah tiga ratus juta Kebem!" kata Cindy sang bendahara BEM


" Kebem?" tanya serempak anggota rapat.


" ketua BEM. disingkat aja ya, kalo ngucap ketua BEM kepanjangan." jawab Cindy.


" terserah. asal cinta kamu ke aku jangan singkat aja." ujar Yuda. seketika ruangan riuh sorakan anggota rapat


" cuih, rapat juga dipake modus." Jimmy berekspresi jijik.


" gaskeun Kebem." goda Adul, sang anggota.


" Modus mulu kapan nembaknya? diambil orang baru nyaho." celetuk Juan yang mendapat pukulan di punggungnya dari Rizal.


" Tunggu aja tanggal official nya." celetuk Yuda.


Lagi, ruangan bergemuruh riuh. pasalnya mereka sudah gereget dengan pendekatan dua sejoli ini dari dua tahun lalu.


" Oke. cukup typonya kembali ke rapat. Jim, gimana penggalangan dananya? target kita lima ratus juta loh Jim."


" Kami usahakan Kebem zeyeng-nya Cindy. asal jangan disuruh datengin donatur sebelum Jum,atan lagi." sindir Jimmy yang mendapat tertawaan anggota lainnya atas ledekan Jimmy ke sang ketua.


" iya, enggak lagi."


" Mengingat salah satu donatur terbesar kita, pak Dominiaz Gaunzaga mendapat musibah, kita harus segera mencari penggantinya. Raja, bisa saya mengandalkan kamu?"


" InsyaAllah siap Kebem gebetan-nya Cindy." lagi, mereka tertawa terbahak


" Tim, persiapan keseluruhan gimana?


" 75% ready. Kebem calon imamnya cindy." goda Timmoty yang mendapat pelototan Yuda, para anggota hanya bisa terkekeh


Yuda yang sedari tadi jengah mendapat ledekan dari para anggota absurdnya memilih mengakhiri rapatnya.


" Kantin kuy, habis rapat negara laper gue." ajak Jimmy.


" Kuy lah. mie ayam I am coming." teriak Juan tak tahu malu.


****


Kantin


" Hallo para penghuni meja, tolong perhatiannya." ucap Sisilia. seketika para sohib nya memeperhatikan dia.


" Selagi makan aku pengen ngasih tahu kalo papa ngundang empat pemuda pemberani untuk datang ke rumah."


" HAH, ngapain? aduh neng Sisilia Abang belum siap poligami. cinta Abang hanya buat nengTia seorang." ucap Jimmy ngasal, sang pacar hanya memutar bola mata jengah.


" Ishh lagian siapa juga yang mau sama kak Jimmy. itu Tia lagi khilaf berkepanjangan aja bang." balas Sisilia.


" Papa ngundang kalian secara resmi ingin mengucapkan terima kasih. orang yang kalian bantu itu kakak Lia."


HAH!! serius Lo? tanya Dista gak percaya.

__ADS_1


" double hah!! kan nama belakangnya Gaunzaga, bukan Pradapta." imbuh Daniel


" Namanya Dominiaz Gaunzaga pradapta. kakak emang sering hanya menggunakan nama keluarga mommy, sedangkan aku selalu pake nama Daddy." terang Sisilia.


" Aku mah terserah kang Mumuy." ujar Ibnu yang diangguki Daniel dan Jimmy.


Menghela nafas berat, Mumtaz mengangguk " sekalian mau ngembaliin tas kakak kamu."


" A...cie....Mumtaz mulai gerilya ke camer." ledek Rizal.


" Suit..suit..modus ngembaliin tas, gak tahunya mau minta adiknya." goda Ubay


" Mulai pergerakan inspeksi lapangan ya, Muy!" ucap ibnu.


Sisilia salah tingkah, Mumtaz tersenyum kecil " sesuka kalian mikir dah." tukas Mumtaz.


" Btw Dista, kamu kenapa akhir-akhir ini dekat sama Alex anak ekonomi?" tanya Ibnu.


" gak kenapa-napa, emang kenapa?" tanya balik Dista


" jangan terlalu dekat, dia bukan anak baik. dia anak geng motor yang suka meresahkan masyarakat." ujar Raja


" sejauh ini dia asik dan baik ke gue."


" ya,... orang lagi modus mana ada nunjukin kebejatannya." sarkas Daniel.


" itu lebih baik. daripada gantungin perasaan orang." sindir Dista


" Jleb,...melukai tanpa darah." dramatisir Ubay


" Kamu nyindir aku? tanya Daniel


" Kakak ke sindir?" balas Dista


" Kak gimana kasus kak Bara,? tanya Cassy ke kak Ibnu mengalihkan perhatian dari adu mulut unfaedah


" Dia mah enak istirahat di rumah, kakak mu ini yang sibuk sana-sini." dumel Jimmy.


Memang sejak ramainya skandal Bara, Jimmy yang menggantikan posisi Bara di perusahaan, nilai saham Atma Madina corp yang sempat turun dalam waktu singkat kembali stabil, bahkan naik beberapa persen.


Sekarang banyak orang yang mengenal Jimmy sebagai Alfaska. hal yang membuat Jimmy jengkel.


*****


Kediaman Aryan Atma Madina


" Assalamu,Alaikum, mi. Afa pulang." Jimmy mencari maminya. langkahnya berhenti kala melihat seorang perempuan berpakaian sexy dengan belahan dada rendah di ruang tamunya.


" Wa,alaikumsalam. sini duduk Fa. kenalin ini Jenny anak teman mami."


Rahang Jimmy mengeras " buat apa kenalan sama Afa? jadi, karena ini mami nyuruh Afa pulang?" sinis Jimmy.


" Ya,...siapa tahu kalian bisa berteman." mami menyembunyikan kegugupannya kala melihat tatapan menusuk anaknya.


" Afa gak berteman dengan cewek yang mana dada ayam lebih mahal daripada dada cewek itu." sindir pedas Jimmy yang langsung meninggalkan rumahnya dalam keadaan marah.


****


Kediaman Sherly Atma Madina


Para Sohib mumtaz dan geng Bara plus geng Tia telah berkumpul di rumah Bara atas undangan papi Aryan guna membicarakan langkah lanjutan menangani skandal Bara.


" kalian tahu siapa pelakunya?" tanya papi Aryan


mereka mengangguk


" Namanya Tamara. teman dekat Bara Di kampus." lapor Ibnu.


Papi Aryan mengernyitkan dahi " kalian yakin?"


" Iya. beberapa photo yang di publish pernah dikirim sebelumya ke ponsel Cassy. setelah di telusuri semua yang tersebar di media sosial sama dengan dokumen yang ada di laptop Tamara


" Anak siapa dia?"


" Menurut data di kampus dia ber-orang tua-kan ibu Riska Irawan dan ayah Bram Brotosedjo, tapi ketika di periksa di bagian kependudukan mereka hanya memliki satu anak yaitu Nanda Brotosedjo dengan kata lain dia..."


" Memalsukan dokumen." sela papi Aryan.


" Kalian temukan identitas asli dia?"


Mereka menggeleng


" Itu anehnya. tidak ada dokumen apapun tentang dia. sama sekali!!" tekan Jimmy.


" Terus kenapa kalian tidak menghapus apa yang ada di sosial media?"


" Itu atas keinginan Bara sendiri." jawab Daniel


Papi Aryan mengalihkan pandangan ke Bara


" Bara sudah memiliki rencana membalas perbuatan dia, pi." ucap Bara


" Lakukan apapun yang ingin kamu lakukan, asal tidak menimbulkan skandal baru." tegur papi Aryan.


" Gak bakal. semuanya di bawah pengawasan mereka."


Nyatanya tiga Minggu ini Tamara berperan sebagai teman yang setia selalu di samping Bara. menenangkan, menghibur, bahkan pernah mengundang Bara untuk menginap di apartemennya dengan alasan merawat Bara agar tidak terpuruk yang langsung ditolak Bara tentunya.


" Pi, Jimmy pengen udahan ngurus perusahaan. kasih lagi aja ke Bara." bujuk Jimmy Yang udah bosan berkutat dengan dokumen perusahaan.


" Belum saatnya. para investor masih kecewa sama dia."


" Justru itu menjadi ajang pembuktian Bara bahwa moral bobrok dia gak ada pengaruhnya dengan profesionalitas dia."


" Ya,.. bisa aja sih, dengan sedikit pengalihan berita." ujar papi Aryan


" maksudnya?"


" Gata tv masih memberitakan perbuatan heroik kalian, identitas kalian yang misterius menjadikan masyarakat penasaran, jadi bagaimana kalau kalian muncul lakukan wawancara di tv?" usul papi Aryan


" Papi yakin skandal Bara akan terlupakan, karena mereka sibuk dengan berita kalian."


Mereka terdiam dan menilai, akhirnya mengangguk.


Daniel yang menyadari kekurangan personal di geng Tia


" Ita mana?" tanya Daniel


" Tadi sih ikut Alex enggak tahu kemana." jawab tia


Derrt...derrt..


" Hallo," sapa Daniel


" ini cewek Lo ada di club Flower bareng Alex." ucap Raja di seberang sana


" sumpah Lo? ini baru jam sembilan."


" serius gue."


" Lo ngapain di sana?"


" gue lagi mantau Maba bernama Samuel."


" siapa dia?"


" gak tahu. ini disuruh dari Zayin."


" anjir si Alex se-meja sama si Samuel." lanjut Raja


" Lo sama siapa di sana?"


" gue sama Juan. ada Brian sama gengnya juga di sini."


" Aaaa,... sialan. si Alex nyekokin si Dista miras."


" Lo sama Brian ambil Dista amanin dia. gue otw ke sana."


Daniel bergegas ambil kunci motor Rizal


" Muy, Bara dan semuanya ke club flower Dista dicekoki miras sama si Alex." mereka dalam sekejap beranjak pergi menuju club.


Meninggalkan mama Sherly dan papi Aryan dalam kekhawatiran...

__ADS_1


__ADS_2