Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
bab 66. Awal Kehancuran.


__ADS_3

Dari Pema Zahra pulang bersama Hito, meski mendapat tatapan tajam dari Zayin dan Mumtaz, Hito tetap nekat minta ijin mengantar Zahra pulang.


" Kamu kurusan." Komentar Zahra usai mengamati penampilan Hito.


" Masa sih, perasaan biasa aja ."


" Udah makan?"


" Belum, habis lihat instastory Radit dari ponsel Akbar langsung meluncur ke kampus." Hito menyetir dengan satu tangan karena tangan yang lain menggenggam tangan Zahra yang sebenarnya berkali mencoba melepas, namun ditahan Hito.


" Kamu makan malem sama Ziva." Zahra langsung menyinggung peristiwa kemarin.


" Nenek maksa pengen makan malem sama aku pas sampe rumah makan udah ada dia."


" Kamu tertawa sama dia."


" Refleks, manner kesopanan yang sudah mendarah daging melihat orang tertawa ikut tertawa. Aku bahkan gak dengar apa yang dia omongin."


" Kamu tolak telpon aku."


" Aku berniat telpon kamu setelah pulang dari rumah makan."


" Kamu bohongin aku bilangnya meeting."


" Aku anggap pertemuan dengan dia memang meeting kerja, kalau enggak aku tinggalin dia."


" Kenapa enggak ditinggalin?"


" Ada nenek."


" Aku enggak lihat."


" Masa sih? Ada kok, mungkin pas itu nenek lagi ditoilet." Hito melirik Zahra.


" Aku sakit hatinya bukan karena kamu sama Ziva, tapi kamu bohongin, aku merasa gak dihargai aja gitu."


" Aku gak angkat telpon kamu, karena gak mau diceramahi sama nenek buat tinggalin kamu aku enggak mau dengar itu lagi."


Zahra terdiam, merasa apa yang diucapkan Hito itu kejujuran.


" Aku ngerasa kamu gak suka waktu aku telpon kamu."


" Bukan gak suka karena kamu, tapi gak suka ada si Husain itu."


" Kamu udah makan?" Tanya Hito melirik Zahra.


" Belum, tapi kenyang dari tadi makan jajanan."


Hito memarkirkan mobilnya di depan rumah Zahra, menghadapkan diri ke Zahra.


" Aku pengen ngomong maaf, tapi takut kamu bosen dan nyebut aku pembohong. Aku gak bisa janji untuk gak bikin kamu sakit hati, tapi aku mohon bersabar sedikit lagi." Ucap memohon Hito dengan mengeratkan genggamannya.


" Boleh aku tahu sedikit bersabar untuk apa?"


" Mempersiapkan segalanya untuk kamu, dan keluar dari tekanan nenek."


" Aku pengen kamu hubungi aku."


" Untuk sekarang gak bisa, ponsel aku hancur, belum mau beli lagi, tapi kamu bisa hubungi ponsel Heru."


Hito segera melakukan panggilan dengan menggunakan ponsel milik Heru.


" ini..." Zahra melihat nomor panggilan masuk baru tak bernama.


" Punya Heru, si Edel juga marah-marah terus ponsel Heru di aku. Aku butuh ponselnya buat hubungi kolega aku."


Tok...tok...


Mama mengetuk jendela mobil Hito, Hito menurunkan kaca jendelanya.


" Hito, mau mampir dulu enggak?"


" Maaf, Tan. Mau langsung pulang aja."


" Oh, ya udah Tante masuk dulu ya. Jaga Zahra-nya, tangannya masih sakit itu." Mama melesak pergi.


Hito refleks mengadukan tangan Zahra dengan keningnya kala mengingat kecelakaan itu.


" Maaf...maafin aku." Meski sungkan, tapi tak ayal kata itu terucap juga mengingat rasa sesal saat Zahra kecelakaan karenanya.


" Udah, aku gak apa-apa. Mama cuma mau balas kamu yang udah bikin aku nangis." 


" Jangan lagi nangis karena aku."


" Aku juga gak mau, tapi hati aku sakit."


" Tahan aja, kalau ketemu aku kamu bisa langsung pukul aku. Pokoknya jangan nangis karena aku lagi." Paksa Hito.


" Ih, gimana? Itu air matanya keluar sendiri."  Zahra merajuk.


Hito tersenyum simpul " makasih udah cinta aku." Lagi, Hito mencium punggung tangan Zahra, karena hanya itu yang bisa dia lakukan.


Zahra Malas berdebat, karena kenyataan begitu.


" Aku masuk ya, udah malem banget juga. Gak nyangka aku sama mama di Pema sampai akhir acara." Zahra membuka pintu penumpang, Hito terkekeh.


" Emak-emak juga butuh refreshing." Celetuk Hito.


 Zahra tertawa geli, dia menutup pintu mobil " hati-hati."


Hito melirik ke pintu pagar rumah yang terdapat Mumtaz dan Zayin yang menunggu Zahra dan memperhatikan mereka secara terang-terangan.


 Menghela nafas lelah " Iya,Aku cinta kamu. Kedepannya kamu cukup pegang kalimat itu. Aku pulang Langsung istirahat, jangan buka modul atau laptop lagi." Ujarnya sambil menyalakan mesin mobil.


Zahra tersenyum " iya, kamu juga istirahat, jangan masuk ruang kerja lagi." Mereka saling lambai tangan.


******


Setelah mengaji Al-Qur'an dan shalat subuh para penghuni rumah membantu mama membersihkan seluruh area rumah


" Terpesona aku terpesona memandang memandang wajahmu yang manis..." 


" terpesona aku terpesona menatap menatap wajahmu yang manis..."


Nyanyian wajib Zayin setiap pagi saat melakukan latihan fisiknya yang ditujukan selalu untuk mama dengan kerlipan mata genit dan shirtless di halaman samping rumah.


Sementara Mumtaz bertugas menggali tanah karena mau menanam pohon mangga


Mama seperti biasa hanya akan tersenyum menanggapi kegombalan para anaknya.


" Ck...ck... kasihan. hari gini yang digombali masih mamanya, tentara cemen ngaku ganteng, tapi gak ada ceweknya." Cibir kakak yang berdiri di pintu teras samping


" Ngapain gombalin anak gadis orang gak ada pahalanya, bikin mama bahagia itu gudang pahala." Alibi Zayin masih dengan pull upnya dengan Shirtless.


" Ma, udah ni." Ucap mumtaz menendang bokong Zayin sewaktu hendak duduk di teras.


Zayin yang tidak terima langsung bersikap kuda-kuda, Zahra mendengus jemu dia bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya antara dua adiknya itu pasti sparing guna memamerkan kemampuan bela diri masing-masing.


" A, coba kamu mulai bikin gambar buat kamar Jimmy sama Tia di belakang, ada pekarangan kosong  antara rumah ini sama rumah belakang kan kamu bangun jadi kamar mereka."


" Kamar Ibnunya gimana?"


" Pindah ke kamar Tia, kalian gak mau dengar suara mereka di kamar lagi kan?" Tanya mama, sontak para anak menggelengkan kepala.


" Ma, itu kolam kamar mandinya langsung diisi air lagi atau enggak?" Tanya Daniel yang bertugas menguras kolam.


" Isi aja, kan bentar mau pada mandi."


" Aku sih enggak, habis ini mau tidur lagi." Ucap Daniel yang mengambil duduk di samping Mumtaz.


" Ibnu, mana? Panggil geh makan pisang goreng cokelat keju bareng gitu." Titah mama menuju tempat jemuran baju.


" IBNUUUUU, SINI MAKAAAANNN." teriak Daniel.


" Astagfirullah, kalau cuma teriak mama juga bisa." Mama menjitak kepala Daniel.


Ibnu bergabung seusai bertugas membersihkan selokan air area rumah.


" Nu, kata mama kamar Lo pindah ke kamar Tia, kamar Lo mau dibobok buat bikin kamar Jimmy." Ujar Mumtaz sambil menikmati pisang dengan segelas susu segar.

__ADS_1


" Atur aja, tapi ma kamar Tia nya dicat ulang ya! Masa Inu kamarnya warna pink." Pinta Ibnu yang menerima suapan dari Mumtaz.


" Iya, kamu pilih aja mau warna apa entar mama minta tolong mang Ujang buat cat-in kamar itu." Ujar mama sibuk menjemur pakaian dibantu oleh Zayin.


" Muy, kamar Jimmy yang lama dibobok aja jadi satu sama kamar kakak, kamar yang sekarang sempit."


" Kalau itu kamu tanya dulu sama Jimmy." Tutur mama ikut bergabung makan pisang duduk di samping Daniel.


Daniel menyuapi mama, Zayin dengan santai duduk diantara mereka menggeser Daniel, dan mengambil peran Daniel. Daniel mencibir sebal, tak mau kalah Mumtaz pindah duduk di samping mama satunya yang kosong berebut menyuapi mama dengan zayin.


Zahra yang duduk di kursi di belakang Zayin dengan santai menendang punggung Zayin sampai tersungkur.


" Apa sih, kak. Ngajak sparing?"   Jengkel Zayin.


" Kalian tuh bisa enggak sih gak bucin barang sehari!?"


" Enggak, kasihan deh enggak ada yang bucinin, punya pacar berasa jomblo." Komentar Zayin menohok.


" Eh, tapi pacarnya kan sibuk tunangan sama cewek yang katanya sahabatnya." Celetuk Zayin.


" Kamu ngomong apa sih, Yin." Tegur mama.


" Emang iya, Ayin baca dari berita online." Zayin menyodor ponselnya ke mama


" Online tuh banyak yang hoax, Yin." Daniel ikut mengomentari berita.


" Syukurlah kalau hoax, tapi kalau benar..." Zayin menggantung kalimatnya, tubuhnya di hadapkan ke Zahra.


" Setetes aja, dengar, setetes aja kakak ngeluarin air mata untuk berita itu aku samperin kantornya, dan aku hancurin." Ucap Zayin serius menatap langsung iris mata Zahra 


" Aku tepat di belakang kamu, Yin." Kata Ibnu.


" Aku tepat di belakang Ibnu." Daniel menimpali.


" Aku mengawasi dari luar." Ucap Mumtaz sambil mengunyah pisang.


" Kok dari luar, gak gantle banget." Protes Zayin menoleh ke Mumtaz


" Ck...hancurin gedung Hartadraja tepat kalian keluar dari gedung itu." Tutur Mumtaz santai.


" Oke, deal." Tukas Zayin.


" Kalian jangan berlebihan." Omel Zahra.


" Gak ada yang berlebihan buat kakak, itu harga yang harus dia bayar jika mengkhianati kakak yang selalu sabar atas penolakan nenek Sri." Tukas ibnu.


" Lagian mana punya aku waktu buat nangis masalah aku aja juga udah banyak." Gumam Zahra.


****


Televisi ruang administrasi rumah sakit lantai tiga sedang menayangkan berita pertunangan antara Hartadraja muda dengan anggota keluarga Husain.


Zivara tersenyum kemenangan yang diarahkan kepada Anna Sanjaya yang berdiri tak jauh darinya.


" Saya sudah bilang jangan pernah membuat masalah, apa kau tidak melihat Husain dan Hartadraja beberapa hari ini wara-wiri di rumah sakit ini? Mungkin saja mereka membicarakan penggabungan saham seiring kedua nama besar itu, bersiap-siaplah dipecat." Ucap Zivara senang dengan bersedekap.


Zahra mencoba menormalkan raut wajah mendengar ucapan Zivara,  kebetulan dia berdiri tepat di belakang Zivara.


" Prof. Farhan." Zahra menghampiri Farhan yang baru keluar dari ruang pemulihan pasca operasi (PACU).


Zivara berbalik badan terkejut mendapati keberadaan Zahra, sementara Zahra tidak menghiraukan Zivara.


" Apa kita ke hotel sekarang?" Tanya zahra menunggu Farhan, yang diangguki oleh Farhan yang sekilas melirik Zivara, Mereka bersama menuju lift.


Zivara termenung mendapati keakraban keduanya.


" Memang seharusnya Zahra yang pantas bersanding dengan Farhanku." Anna meninggalkan Zivara yang masih berdiri dengan pikiran kosong.



Hari ini Zahra dan Ratih dijadwalkan akan mempresentasikan penelitiannya sebagai klarifikasi atas kasus plagiat di hadapan tim Jerman dari pihak pusat penelitian kampus dimana Zahra belajar beserta tim rumah sakit Atma Madina dan Medika beserta para pemegang saham rumah sakit Atma Madina di hotel the Sultan.



Di pintu ruang pertemuan Zahra bertemu dengan rivalnya Ratih yang menghampirinya dengan percaya diri.




" Aku kembalikan ucapan itu kepadamu. Siapapun yang baca disertasi mu dan berkasku akan tahu siap menjiplak siapa." Ucap tegas Zahra.



" Tamat riwayatmu, Ratih. Kau pilih lawan yang salah." Ucapnya tepat di depan wajah Ratih.



Ratih mengepalkan kedua tangannya, mengetatkan rahangnya menahan emosi marahnya. Sejak di Jerman dia benci Zahra mahasiswi dengan segudang prestasi yang menjadi rebutan para profesor dalam setiap penelitian mereka.



Di usianya yang masih muda dan dalam waktu singkat menyandang gelar doktor tentu mengundang iri para rekan lainnya yang memiliki ambisi besar tapi tidak didukung kemampuan, seperti Ratih.



Ratih, seorang dokter Putri dari direktur rumah sakit Medika yang selalu dituntut sempurna baik akademisi maupun visual oleh orang tuanya yang selalu merasa tidak puas dengan segala pencapaiannya.



 Orang tua Ratih yang merupakan dokter selalu membandingkan dia dengan Zahra yang hanya dokter unggulan dari rumah sakit Atma Madina, itu yang membuat dia selalu benci Zahra bahkan sebelum dipertemukan di universitas di Jerman.



" Kakak." Panggil Mumtaz yang menghampirinya dengan penampilan formal rambut tersisir rapih, kemeja berwarna biru,dengan dasi bersalur biru hitam, dilapisi jas navy blue, dan celana bahan senada jas.



Zahra menatap heran Mumtaz yang berada di hotel, Mumtaz menarik Zahra menjauhi Ratih dengan melirik tajam Ratih.



" Kenalkan dia Dimas, anak buahku. Dia yang akan menjadi asisten kakak di depan para profesor." Ujar Mumtaz, Zahra melirik pemuda yang tampak grogi berdiri di depannya.



" Abaikan kesan kikuk dia, dia fans berat kakak meski tingkahnya kayak keong kejepit sendal jepit." Ucap asal Mumtaz yang mendapat kekehan dari Zahra.



" Dia memiliki rekaman dan berkas yang memuat sejarah awal kakak penelitian sampai akhir kakak nulis di laptop." Zahra mengernyit bingung atas ucapan Mumtaz.



" Jangan tanya sekarang, itu atas perintah aku. Sekarang kalian diskusi, aku ada perlu." Mumtaz bergegas pergi diikuti Yuda dan Rio dibelakangnya.



Saat pertemuan berlangsung Zahra terkejut kala mendapati Mumtaz diperkenalkan sebagai pemegang saham rumah Sakit Atma Madina dan di belakang kursinya yang biasa di duduki para asisten terdapat Yuda dan Rio.


Dia menatap Mumtaz dengan menyipit menuntut penjelasan yang dibalas kedipan sebelah mata dan cengiran khas orang tengil oleh Mumtaz mengabaikan presentasi dari Ratih.


Di tengah acara tubuh Mumtaz berubah tegang melihat sinyal berupa lampu merah berkedip di ponselnya yang mengarah dari rumahnya yang menandakan ada situasi genting, dia berdiri.


" Maaf, saya menginterupsi. Saya harus pergi, keberadaan saya akan diwakilkan oleh asisten pribadi saya." Tunjuknya kepada Yuda yang langsung menghampirinya.


Mumtaz menundukan kepala sesaat sebagai bentuk penghormatan, dia bergegas keluar ruangan pertemuan.


Mencoba tenang Mumtaz mengendurkan ikatan dasinya, dan melajukan motornya PCX 160 matte grey nya dengan kecepatan tinggi.


****


Eidelweis menatap Zivara dengan tatapan menelisik yang duduk bergerak resah dalam ruang privat di restoran yang berada di hotel the Sultan.


" Jadi benar kau yang akan dipasangkan dengan Kak Hito oleh nenek?" Tanya Edel menusuk tak menyembunyikan ketidaksukaannya mengabaikan mama Farah yang duduk di samping Zivara.


Zivara hanya bisa menganggukan kepala.


" Bukannya kau sahabatnya Zahra, kekasih dari Kak Hito?" Selidik Edel, Zivara bergeming. Mama Farah mengernyitkan kening bingung.

__ADS_1


" Bagaimana bisa kau khianati sahabatmu hanya untuk uang, Rendahan!" Desis menghunjam Edel.


" Edel, jaga bicaramu. Kami di sini atas permintaan nenekmu bukan kemauan kami." Hardik mama farah, ibu dari Zivara. 


" Kalau kau pikir dengan menikahkan putrimu dengan kakak saya akan menyelamatkan perusahaan anda, anda salah. Dia tak akan Sudi menikah dengan putrimu, dia sudah memiliki kekasih yang sangat dia cintai yaitu Zahra, sahabat dari putri anda." Ucap geram Edel 


Mama Farah tersentak, dia menatap Zivara menuntut penjelasan.


Zivara hanya bisa terdiam dengan menundukkan kepala. Zivara tanpa kata keluar dari ruangan private restoran.


Di depan pintu restoran dia bertubrukan dengan Zahira yang hendak memberi dukungan untuk Zahra.


Mereka sama-sama terkaget.


" Ziva, apa yang lo lakukan di sini? Bukannya lo bilang akan makan siang dengan keluarga Lo?" Cecar Zahira.


Zivara tak menjawab, dia bingung.


Dari ujung matanya Zahira dapat melihat Hito dan nenek yang menuju restoran.


Tatapan Zahira berubah sinis, dia tarik Zivara ke cafe terdekat dari restoran.


Mereka duduk di meja terdekat.


" Jelaskan, ada apa sebenarnya?" Tuntut Zahira.


Kesal tak mendapat jawaban, " apa kau serius akan mengkhianati Zahra?" Cecar Zahira.


Zivara menutup wajahnya kedua tangannya, dia menangis.


" Hentikan, semua perbuatanmu yang menyakiti Zahra sebelum mereka menyakiti kamu dan keluargamu." Ujar Zahira.


" Selain melakukan penelitian, memang apa yang bisa Zahra lakukan kepada keluargaku?" Tantang Zivara.


" Bukan zahra yang melakukannya, tetap dua saudara lelakinya. Jangan lupakan mereka yang sangat protektif terhadapnya ditambah para sahabatnya yang tergabung dalam perusahaan RaHasiYa." Zahira menjelaskan.


" Zayin yang cuek, akan menjadi monster. Dia akan menghancurkan apapun untuk membalas lawannya. Mumtaz yang tenang, akan membalas lawan tanpa jejak namun mematikan. Tentu kau belum lupa dengan nasib Sivia Gonzalez dan Erika Pramono." Seru Zahira mengingatkan.


Zivara tertegun ngeri akan fakta yang dia lewatkan.


" Apa kau tidak berpikir apa yang terjadi dengan perusahaanmu kemungkinan ada campur tangan dari Mumtaz? Aku dengar Mumtaz sekarang menjadi salah satu pemegang saham rumah sakit, dia membeli saham yang dilepas oleh Husain." Ucap Zahira dengan tatapan memperingati meninggalkan cafe tersebut.


Zahra tercengang dengan beberapa kenyataan yang tidak dia ketahui, kini kepanikan melanda dirinya.


*****


Mama terkejut mendapati anak dan menantunya berdiri dengan cengiran senang di wajah mereka.


" Mamaaa, Tia pulang." Tia menghamburkan diri ke pelukan sang mama.


" Kok udah pulang, katanya diperpanjang."


" Aa jimmy-nya dapat telpon dari mami suruh cepat pulang karena mami terbaring sakit parah." Ucap manja Tia mencium tangan mama yang diikuti oleh Jimmy.


Mama bingung, pasalnya dia tak mendapat kabar apapun tentang sakitnya mami Sandra.


" Ini juga Jimmy mau langsung ke rumah sakit." Ucap Jimmy meletakan koper mereka di ruang tamu.


" Enggak istirahat dulu barang sebentar."


" Istirahat di rumah sakit aja, ma." Jimmy mencium kening Tia sebelum pergi.


" Hei bro." Sapa Ibnu dari arah dalam rumah di belakangnya ada Zayin dan daniel, seperti baru bangun tidur.


" Kalian gak kuliah?" Tanya Jimmy yang menyalami mereka dengan gaya lelaki. Mereka menggelengkan kepala serempak.


" Ck..ck..gimana masa depan negara Indonesia kalau para pemudanya seperti kalian, jam sebelas baru bangun." Jimmy menggeleng-gelengkan kepala seperti bapak-bapak.


Daniel menendang kesal bokong Jimmy yang memang sedang melangkah keluar dari rumah. 


" Sok Lo, ngaca pake kuku jempol Lo sebelum ngoceh." Ujar Daniel melepas kepergian Jimmy menggunakan taxi.


Tak lama Jimmy pergi, mobil Mercedes Benz S-class putih terparkir di depan rumah mama.


Mami Sandra memasuki rumah tanpa permisi dengan gestur kesombongan.


Para anak terkaget melihat kedatangan mami yang katanya sedang sakit.


" Masa bahagiamu sudah berakhir Tia." Ucap mama mendramatisir.


Melempar beberapa undangan pernikahan ke atas meja.


" Itu undangan pernikahan Alfaska dengan Adinda Aloya. Saya harap kalian datang. Acaranya akan dilangsungkan lusa." Ucap mama dengan tersenyum smirk dan mengangkat wajahnya pongah.


Mereka terkejut, masing-masing dari mereka membaca undangan itu untuk memastikan.


" Licik sekali kau Aida, menjerat putra saya atas nama hutang Budi untuk memperkaya diri."


" Apa maksud kamu, mbak?" Tanya mama bingung.


" Kamu pikir saya enggak tahu kalau kalian berfoya-foya membeli mobil, membuka coffee shop, membeli motor. Kalau bukan pake duit dari anak saya darimana kalian dapat duit?" Tuding mami.


" Bisa-bisanya kalian menghina Dinda murahan, tapi kamu dan anak kamu yang memanfaatkan duit orang lain." Dakwa mami dengan melempar bukti pembayaran.


" Berhenti, sebelum mami menyesal. Berhenti menghina mama." Tekan Daniel.


" Daniel, sadarlah. Mereka itu miskin. Suatu hari kamu juga akan mereka kuras hartanya." Bentak mami.


" Mereka tidak perlu melakukan hal hina tersebut, jika mereka mengijinkan aku yang akan memberi semua hartaku untuk mereka." Bantah Daniel.


" Hahaha... Kau, satu lagi pemuda yang terpedaya kemunafikan wanita yang kau sebut mama. Mereka hanya penipu, Aida ketua penipunya." Hardik mami


Zayin meradang mendengar hinaan yang semakin jadi, dia melangkah lebar keluar rumah mengambil palu Godam besar yang tersimpan di samping taman mungil mama, dan menghantamkannya ke kaca spion mobil mewah tersebut yang langsung patah dalam sekali hentakan.


Sang sopir yang duduk di bangku kemudi tebirit- birit keluar dari mobil karena terkejut dengan hunjaman palu tersebut.


Para perempuan yang ada di dalam rumah menjerit panik, mama terus memanggil nama Zayin untuk berhenti, Tia sudah menangis histeris yang langsung dipeluk oleh Ibnu, mami berteriak tidak terima mobilnya hancur, Daniel hanya menonton karena syok, sedangkan Zayin menghunjamkan palu terus-menerus sampai menghancurkan seluruh badan mobil.


Zayin baru berhenti setelah mobil tersebut ringsek tak berupa.


Dengan santai Zayin melempar palu tersebut di teras, masuk kembali ke dalam rumah menatap mami menusuk " satu kata lagi keluar dari mulutmu hinaan untuk keluargaku aku tidak jamin keluargamu aman." Tuturnya tepat di muka wajah mami.


Derrt...derrt....


" Hallo..." Zayin mengangkat sambungan telpon dari seberang.


"........"


" Siap, komandan." Setelah menutup sambungan telpon Zayin 


Melangkah pergi kamar tidurnya.


Mami melotot tak percaya apa yang dia lihat, mobil kesayangannya benar-benar hancur, suasana ruang tamu hening menegangkan.


Zayin menuruni tangga dengan pakaian serba hitam dan topi hitam sambil menenteng koper penyimpanan senjata berlaras panjang, aura membunuh menaunginya.


Dia menghampiri Tia, dan mencium keningnya dalam dengan sayang, " tenanglah, tak ada yang bisa menyakitimu, Aa jamin." Bisiknya di telinga Tia yang masih menangis ketakutan dalam pelukan Ibnu.


Kemudian dia melangkah menghampiri mama yang terduduk lemas di sofa dalam rangkulan Daniel.


" Ayin harus pergi, mama di rumah saja." Dia mencium kening mama dalam dan khidmat, dan mencium tangannya.


Interaksi hangat antara ibu dan anak tersebut terekam oleh mami yang merasakan kekosongan dalam hatinya.


" Bang, jangan pergi dulu sebelum para sahabat aku datang, tadi aku udah telpon mereka. Seakan Zayin memahami bahwa para sahabat Mumtaz akan menindaklanjuti perbuatan mami.


Di ambang pintu, dia berbalik menghadap mami." Pergi, tinggalkan Rumahku saat ini juga." Ucap pelan Zayin tegas.


Dengan wajah pucat mami meninggalkan rumah mama.


Mumtaz menatap iPad yang berada di pangkuannya kemudian menatap nanar wajah pucat mami yang berlari Meninggalkan rumahnya diikuti sopir pribadinya.


Mumtaz telah memarkirkan motornya di tempat agak tersembunyi tak jauh dari rumahnya sejak melihat Zayin menghancurkan mobil mami, dan tetap diam di atas motor sambil melihat perbuatan Zayin tanpa berniat menghentikannya.


Setelah melihat apa yang terjadi di rumahnya melalui cctv lewat iPadnya, Mumtaz paham akan kemarahan adiknya.


Tak lama Mumtaz dan Zayin bersirobok mata sebelum Zayin memasuki mobil SUV hitam yang telah menunggunya, tampak William yang duduk dikemudi.


Mumtaz melakukan sambungan telpon.

__ADS_1


" Nu, buat pertemuan dengan Wilson sekarang." Mumtaz menutup sambungan telponnya, melajukan motornya ke lokasi tujuan selanjutnya....


__ADS_2