Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
bab 41. titik terang


__ADS_3

 Kediaman Santoso 


Pukul 05.30 WIB


" Apa anda tidak punya waktu yang lebih baik dari ini untuk bertamu? Sindir Ari Santoso mengambil duduk di sofa panjang sebrang Budi


Budi, asisten pribadi Bara duduk santai mendengar sindiran tuan rumah


" Saya ditugaskan untuk menyampaikan salam dari tuan Bara." Budi meletak satu map besar di atas meja, dan mendorongnya ke hadapan Santoso


Mengernyitkan dahi sembari menatap Budi, Santoso melihat isi map tersebut, matanya membulat lebar menatap menilai Budi.


Budi mengedikan bahu " Saya tidak tahu isinya apa, tuan hanya mengatakan bahwa putera anda tahu, dan dia marah. Sebagai pembalasannya pukul delapan pagi ini dia akan bertemu dengan Birawa dan Rugawa guna membereskan segala masalah yang anda buat."


Santoso langsung berdiri dengan murka " lelucon apa yang kamu katakan?" Santoso menunjuk-nunjuk Budi.


" Saya sarankan anda turunkan tangan anda, saya utusan Bara Atma Madina. Menunjuk saya, berarti menunjuk Bara Atma Madina." Budi mengucapkannya  berdiri sembari merapikan jasnya.


" Untuk memastikan sebaiknya anda datang sendiri, saya permisi."


Sepeninggal Budi, Santoso mengamuk, menghancurkan segala benda yang dijangkaunya sambil mengucapkan segala caciannya.


****


Apartemen Janu Januar


" Lo pagi-pagi udah berdiri di depan pintu apartemen orang?, Begini kelakuan soon jadi duda? Sindir Janu diambang pintu yang terbuka 


Farhan tanpa sungkan menerobos masuk, dan duduk bersila kaki di sofa single.


" Ck. Ngapain sih lo? Tumbenan gaje gini? Rutuk Janu.


" Gue juga gak faham, tapi gue dimintai tolong sama Birawa muda untuk kesini." Jelas Farhan.


Janu mengambil duduk di seberang Farhan," serius?" Farhan mengangguk.


" Gue di sini juga karena dia." Terang Janu. Farhan mengernyitkan dahi bingung.


" Lo, kenapa kusut gitu?, Nyesel Lo mau cerai dari Ana?" Farhan menggeleng.


" Ziva balik." Ucap Farhan pelan sambil memainkan kunci mobilnya


" Terus Lo kenapa kalo dia balik? Dia ganggu Lo lagi?," Farhan menggeleng.


" Ziva yang kalian omongin dr. Zivara bukan sih? Tiara datang dari arah dapur dengan membawa dua cangkir kopi, dan satu cangkir coklat panas


" kamu kenal dia, Yang? Tanya Janu.


Tira menggeleng " secara pribadi enggak, tapi tiga tahu lalu aku sempat jadi konsultan dia." 


Janu dan Farhan terbelalak kaget mendengar ucapan Tiara.


" Rahasia ya. Bocor, kalian yang aku kebiri." Ancam Tiara, mereka hanya mengangguk ngeri. Antara takut, tapi juga penasaran.


" Gak lama sih cuma beberapa bulan aja. Dia frustasi ditinggal nikah sama orang yang dia cintai. Itu juga temennya dr. Hira yang bawa." Tiara menatap lurus Farhan.


Raut Farhan seketika memucat " kamu tahu dia dimana?"


Tiara menggeleng " dia cuma bilang kalau dia perlu suasana baru, kalau di sini dia gak yakin akan sembuh. belum gawat sih, tapi beresiko tinggi ke depresi."


Farhan memejamkan matanya erat, dia mengusap-usap gusar wajahnya.


" Apa ini ada hubungannya sama kamu? Selidik Tiara.


" Mungkin, sejak masih mahasiswi dia termasuk orang yang sering gombalin aku. Aku pikir dia seperti yang lain hanya bercanda, tapi tiga tahun yang lalu dia melamar untuk aku nikahin, aku tolak. Tapi gak lama dari itu aku nikah sama Ana." Setiap kata Farhan tercermin penyesalan.


Usai ucapan itu tak ada yang berucap kembali. 


****


Cafe' D'lima


" Kamu, kenapa ubah jam ketemuannya sih?" Protes Tamara ke Bara yang duduk santai di meja pojok cafe'.


" Nanti siang gue ada keperluan mendadak, niatnya mau batalin, tapi pasti Lo marah, ya udah ubah jam ketemuan aja. Males gue kena marah Lo mulu." Sarkas Bara


Tamara tersenyum, dia mengibas rambutnya ke belakang " jadi hari ini kita gak bakal bisa lama dong?"


Bara menggeleng " sorry, ini beneran penting. Udah pesan gih."


Di sudut lain cafe'


Dalam satu meja empat orang terlibat percakapan yang sengit, diamati seorang pengacara dari pihak Birawa.


" Berdasarkan bukti valid yang ada, saya simpulkan bahwa penemuan teknologi mobil amfibi ini memang hak Rugawa." Ucap sang pengacara.


Alex tertegun, dia menatap kosong berkas-berkas yang ada di atas meja.


Brak!!!


Pukulan di meja mengagetkan semua pengunjung cafe'.


" Alex, kamu pikir apa yang sedang kamu lakukan, hah? Ari marah


Alex  berdiri menatap menantang kepada ayahnya yang berdiri pongah.


Alex menyodorkan kertas berisi surat kuasa penuh dalam proyek mobil amfibi. 


" Jangan berani membentakku. Kau, kau pikir apa yang kau dapatkan dengan mencuri hak cipta orang lain." Bentak Alex.


Alex melangkah lebih dekat dengan kertas di tangan memukul-mukul pelan ke dada Ari " Memalukan. selevel Ari Santoso berbisnis curang, berapa karya orang yang papa curi? Todong Alex. Dengan gerakan halus dia arahkan tangannya ke saku sang ayah, memasukan sebuah pulpen, dan beberapa bola kecil ke saku jasnya.


Santoso naik pitam mendengar omongan Alex. Dia mengangkat tangan hendak menampar, tapi dicekal Alex.


" Jaga sikapmu. jangan lupa tuan, kau telah berbuat curang padaku, perusahaan ini milikku." Tegas Alex


" Apa yang kau bicarakan?" Tanya bingung Ari.


Alex  kembali mengarah ke meja, mengambil beberapa kertas dan melempar berkas mengenai harta Santoso yang dialihkan atas nama Adinda ke dada sang ayah


" Kau pikir aku tidak akan mencari tahu segala perbuatan mu yang mengakibatkan keuangan perusahaan defisit?"


Alex juga menyodorkan beberapa photo adinda tidur dengan beberapa pria berbeda. Ari tebelalak terkejut yang dilanjut murka melihat photo itu 


" Kau pikir jalang cilik itu akan setia pada bajingan tua sepertimu?" Sindir Alex.


" Well, seperti kesepakatan kita sewaktu kau berpisah dengan isteri mu, jika kau mencurangi ku, semua aset mu menjadi milikku, jadi sekarang aku lah pemilik Santoso corp." Tukas Alex.


Ari Santoso terhuyung menyadari itu, Dia telah kehilangan semuanya. Keluarga, dan hartanya. Itu semua karena jalang cilik bernama Adinda Aloya.


Semua kejadian itu disaksikan seluruh pengunjung cafe'. Dengan amarah Santoso meninggalkan cafe itu.


Alex menegakan tubuh dan memperbaiki jasnya guna menetralkan emosinya " Baik lah dengan ini saya, Alex Santoso mengembalikkan seluruh hak anda atas penemuan teknologi ini." Ucap gantle Alex.


Rama Rugawa seketika memeluk putra sulungnya, dia menciumi seluruh wajah Raja sampai Raja merasa risih


" Pah, udah. Ini di tempat umum bukan di rumah. Imej playboy Aja entar ilang." Rengek Raja yang disambut gelak tawa geli dari orang yang se meja dengannya maupun beberapa pengunjung yang duduk dekat dengan mereka yang mendengar rengekan Raja.


Di meja pojok 


Bara tertawa kecil melihat adegan itu.


" Kamu kenapa Bar, senyum-senyum gitu, kesambet?" Ledek Tamara. Lagi, dia mengibas rambutnya ke belakang.


" Ck. Kalau rambut Lo ribet di kuncir aja, Napa sih?" 

__ADS_1


" Ini bukan ribet, tapi kebiasaan aja." Terang Tamara.


Kebiasaan Tamara mengibaskan rambut sekilas mengingatkan dia pada seseorang, Bara mengernyit mencoba mengingatnya, tapi nihil.


Beberapa jam sebelum pertemuan


Gedung RaHasiYa


Seusai menyelesaikan urusan dengan Samuel, mereka beserta Raja, dan juga Alex menuju sebuah gedung pencakar langit yang terletak di tengah-tengah kota Jakarta.


Gedung RaHasiYa, perusahaan milik empat pemuda yang bergerak di bidang cyber bug. Ini yang orang tahu, sebenarnya RaHasiYa merupakan perusahaan lebih dari cyber bug.


" Wow, ini perusahaan keren banget. Birawa tekno lewat." Takjub Raja dengan segala kemodernan teknologi  yang dilihatnya begitu memasuki lobby perusahaan. Daniel menatap Raja jengah.


Naik ke lantai tiga belas menggunakan lift tanpa sentuh tombol apapun


Raja dan Alex mengernyit bingung


" Ini mana tombol angka lantainya, bang? Tanya Raja


"Cih, masih make tombol, kampungan banget. Cibir Jimmy.


" Lift ini akan terbuka otomatis dengan memindai suhu tubuh orang. Lantai ditentukan lewat retina mata  melalui kamera ini sesuai urutan angka terkecil sampai terbesar." Jelas Ibnu sambil menunjuk lobang kecil di samping pintu lift


" Serius? Bukannya retina itu hanya buat sidik jari ya?!"


" Dih norak. Pernah dengar pepatah, jika ingin tahu isi hati orang, maka lihat lah matanya. Itu yang disebut baca pikiran, dari situ kita kembangkan teknologi pembaca pikiran, sejauh ini yang bisa di pake baru melalui mata." Terang Jimmy sombong.


Raja dan Alex bertepuk tangan memandang hebat Jimmy layaknya orang hebat selevel Steve Jobs, pendiri Apple.


Para sahabat memutar bola mata jengah, mereka lelah, belum tidur sama sekali.


Lantai tiga belas merupakan lantai penyimpan segala alat teknologi termutakhir dari bentuk terkecil sampai dengan sebuah mobil tank yang biasa digunakan militer.


 Raja dan Alex dua anak muda yang tergila-gila dunia mata-mata ala James Bond langsung terperangah menganga. Mereka berpencar berkeliling melihat-lihat Semua alat spionase. Semua khayalan mereka ada di sini, bahkan melebihi ekspektasi mereka.


Iseng, Jimmy memasukan kamera berupa lalat ke mulut raja yang terbuka 


Raja tersedak " kayaknya gue nelan hewan deh." Ucapan polos Raja berhasil mengundang tawa terbahak mereka.


" Buka mulut Lo." Raja menuruti


Raja tambah terkejut kala dari mulutnya keluar seokor lalat.


" Aaa,...ad...ada lalat dari mulut gue, cuih, Peh." Raja panik mengelap-elap lidahnya


Mereka terpingkal-pingkal sampai guling di lantai melihat kepanikan dan ketakutan Raja.


Raja dan Alex hanya bisa bengong melihat mereka.


" Kalian, sini." Titah Daniel.


Dia memberikan Alex sebuah pulpen, bola seukuran kelereng, dan beberapa bola ebih kecil lagi.


" Pulpen ini Lo taruh di saku bokap lo, bola seukuran bola tenis ini Lo suruh orang taruh di mobil bokap lo. Pulpen ini berfungsi sebagai kamera dan alat perekam, dan bola-bola  ini akan bermutasi sebagai sebagai cctv di permukiman surga duniawi."


" Hah?" Ucap mereka berdua


" Ck,... Dari tadi kalian kayak anak TK dah." Ledek Jimmy.


" Hari ini kalian akan menyelesaikan urusan hak cipta mobil amfibi. Gue udah hubungi ayah, beliau bilang oke." Ucap Daniel.


" Bokap Lo juga udah di hubungi, Ja. Jadi Lo berdua nanti jam sembilan ke cafe' D'lima tempat pertemuan diadakan." Lanjut Daniel.


" Itu yang di tembok itu apa, bang?" Tanya Raja. Melihat dua sketsa wajah di dinding tidak jauh dari mereka. Di sampingnya terus berganti bermunculan wajah orang beserta identitasnya.


" Ooh, itu kita lagi nyari orang. Udah beberapa tahun ini kita cocokin semua wajah yang ada di dunia, tapi belum ketemu juga.


" Kayaknya gue pernah lihat orang ini sewaktu nganter bokap ketemuan di sekitaran surga duniawi." 


Mereka saling pandang " seirus, Lo?" Alex mengangguk


Tubuh Jimmy gemetar, raut wajahnya pucat ketakutan, keringat dingin bercucuran tangannya mengepal sampai memutih.


" Ya udah, thanks buat infonya. Sekarang Lo pada istirahat ini udah jam setengah tujuh." Ibnu menunjuk pintu yang ada bacaan kamar tidur, mengalihkan pembicaraan.


Raja dan Alex tanpa protes menurut saja bergegas ke kamar tidur.


" Jim, its oke, Lo dan kita pasti balas semuanya." Ucap Daniel memegang kedua pundak Jimmy.


" Tap,...tapi gimana kalo dia lecehin gue lagi? Lirih Jimmy.


Mumtaz berdiri dihadapan Jimmy meraup rahang Jimmy, dan memaksa jimmy menatapnya " Gak akan terjadi. Kamu bisa atasi dia sekarang, kamu kuat. Kamu bukan Jimmy beberapa tahun yang lalu. Aku jamin."


Jimmy menatap Mumtaz meminta tolong, tak berdaya. tatapan yang sama dengan beberapa tahun lalu. Mumtaz mendekap erat Jimmy, meyakinkannya. Jimmy menumpahkan tangisannya meraung, tubuhnya luruh Lemah ke lantai. Adegan yang sama dengan beberapa tahun lalu.


Daniel, Bara, dan Ibnu menatap tajam, dan dalam sketsa wajah bercodet di dinding berlabel Daftar Pencarian Orang ( DPO ).


*****


Rumah sakit Atma Madina


Tia duduk termenung di atas ranjang, dia menatap kosong keluar jendela. 


Mama dan mama Aida berserta para teman Bara sedang ke kantin rumah sakit untuk sarapan.


Tia menoleh kala pintu di buka seseorang, Mumtaz dan mama mendekat mengambil duduk di kursi samping ranjangnya. Tia seketika gugup.


Mumtaz meletakan ponsel Tia ke atas pangkuannya, Tia mengambil ponselnya menatap takut Mumtaz.


Mumtaz menangkup kedua tangan Tia dalam genggamannya menaruh di keningnya.


" Kamu gak tahu gimana perasaan Aa ketika melihat isi dari pesan itu, apa Aa gak bisa kamu andalkan?


Bulir bening jatuh dari mata Tia, dia menggeleng, " maaf, pas aku pengen cerita Aa masuk rumah sakit. Tia hanya gak mau jadi beban Aa, Tia gak mau Aa dan keluarga malu, hiks... hiks..." Isak Tia


" Kamu, adik Aa. tugas Aa lindungi kamu. Kamu gak tahu, Aa merasa jadi orang gak berguna karena gagal lindungi kamu. Please jangan simpen penderitaan sendiri lagi." Iirih Mumtaz


Mama memeluk Tia, putri kecilnya. Ia kecup puncak kepala Tia dalam.


" Mama dan kakak-kakak kamu gak akan biarin kamu berjuang sendiri. Lari kedalam pelukan mama kalo kamu lelah menghadapi kehidupan kamu." Mama terisak


" Maaf, mama gak peka keadaan kamu. Seharusnya mama tahu kamu dalam masalah kalau kamu lebih pendiam dan menghabiskan waktu di dalam kamar terus. Jangan menangis sendiri, jangan ketakutan sendiri. Bagi bersama kami, itu gunanya keluarga, sayang. Maafin mama, ya?"


Tia menangis dalam pelukan mamanya,Tia menangis histeris mengeluarkan segala emosinya.


Tanpa diminta Tia menceritakan kisah memalukan itu, awal dia ketemu Adinda kembali, sampai dengan kiriman pesan itu."


" Ya, apa dia menyakiti kamu? Tanya Mumtaz


Tia menggeleng " tidak secara fisik. Tia pikir, Tia bisa mengatasinya karena Tia sudah belajar, tapi setiap dia datang, segala teori itu hilang di otak Tia. Tia bisa bertahan, karena gak mau dimarahin mama kalo mama tahu Tia kalah dari tekanan ini."


" Aa, tahu kan gimana seremnya mama kalo lagi marah, Tia gak mau jadi korban mama." Tia bicara begitu sambil lirik-lirik mama.


Mumtaz menganggukkan kepala setuju, mama mendelik tajam kepada mereka berdua sembari menggeram " kherrrggghhh." mereka tertawa melihatnya.


Mumtaz menatap Silih berganti mama dan Tia.


" Dek, maaf. Aa tahu kamu masih dalam keadaan belum membaik, tapi ada yang harus Aa beritahukan. Masalah kamu tidak seringan yang kita pikir, Aa kira ini akan berkaitan dengan masa lalu Jimmy, Daniel dan Bara." Ucap Mumtaz hati-hati


Tia dan mama saling pandang bingung


" Alex, temannya Dista mengenali salah satu yang kita kira adalah penculik mereka, dan juga yang melecehkan Jimmy."


Mereka terkesiap " terus, bagaimana keadaan kak Jimmy? Cemas Tia.

__ADS_1


" Selama ini Jimmy memanipulasi kita, Jimmy,...belum sembuh, Dek. Bahkan belum pernah sembuh." Mumtaz menunduk menatap kedua tangannya yang merengkuh Jimmy.


Tia menangis kecil, sesegukan dalam pelukan mama.


" Dia hanya mengendapkan, dan mengalihkannya dengan penelitian teknologi. Sekarang Aa paham kenapa dia selalu mensinergikan teknologi dengan manusia. Beda dengan Daniel yang murni menciptakan teknologi dengan sekitarnya saja."


" Dek, waktu kita tidak banyak, Aa bisa lihat kelelahan Jimmy dengan bayangan masa lalunya. Jimmy tidak akan sembuh, jika kamu tidak sembuh. Kamu kekuatan dan kewarasan Jimmy."


Tia menunduk dalam isakan-nya.


" Kak Radit,..." Ucap Tia


" Hah?" Mumtaz bertanya


" Biarkan Tia berkonsul dengan kak Radit."


" Yakin?" Sangsi  Mumtaz


" Iya. Emang sih sekilas meragukan, tapi di fakultas dia termasuk mahasiswa terkenal dengan prestasi pendekatan impresifnya di sejumlah penelitian psikis."


Menghela nafas berat Mumtaz menyetujuinya.


" Jangan sempai kamu termakan gombalan receh dia. Bisa diamuk Jimmy nanti." Tia mengangguk terkekeh.


" Kayaknya tali kasih keluarganya udahan ya, kita udah pegel nunggu di luar." Seru Jimmy diambang pintu tanpa permisi.


Jimmy memasuki kamar di susul segerombolan; orang para sohibnya, para sohib kakaknya ditambah keluarga Birawa, keluarga om Heru, dan keluarga Pradapta.


Jimmy memutari ranjang Tia menaruh bungkusan di nakas samping tempat tidur. Di duduk di kursi kosong samping ranjang. Kala teringat photo itu Tia sedikit menunduk menatap Jimmy kikuk.


" Dek, gimana mendingan?" Tanya bunda Hanna mencium kening Tia.


" Alhamdulillah, Bun." Tia menyalami cium tangan bunda dan ayah Birawa.


" Sayang, Adel nangis dari tadi nanyain kamu. Cepat sembuh ya." Kak Edel mencium kening Tia. Tia tersenyum.


" Adelnya mana kak?"


" Langsung di bawa ke ruang tunggu sama bapaknya, takut ngerusuh." Tia terkikik mengingat aktifnya tetangga ciliknya itu.


" Bapak, dan ibu Pradapta juga di sini? Tanya Jimmy, menyalami cium tangan mereka 


" Iya, Lia bilang Tia masuk rumah sakit, jadi sambil jenguk sekalian jemput Lia." Ucap mommy Elena


" Maaf pak, ibu, kami belum sempat anter Sisilia." Ucap Mumtaz.


" Ga apa-apa, kami memaklumi." Kata Daddy Gama 


" Mungkin waktu dan tempatnya kurang baik, tapi saya dan keluarga ingin mengucapkan terima kasih kepada kalian yang sudah menyelamatkan putera saya." Ucap Daddy Gama yang berdiri dibelakang kursi roda Dominiaz.


" Saya pribadi juga mengucapkan terima kasih, dan maaf saya memaksa kamu untuk mengambil tas saya sehingga kamu terluka." Dominiaz menatap Mumtaz


" Gak apa-apa kak, si Mumtaz memang biasa melawan malaikat maut." Ujar konyol Jimmy.


" Eh, berbicara tas, maaf kami belum sempat mengembalikannya. Rencananya sambil mengantar pulang Sisilia tas ini kami antarkan." Mumtaz mengambil sebuah tas hitam yang disimpan di bagian bawah lemari pakaian.


 Raut Dominiaz sumringah mendapati tasnya masih bisa diselamatkan


Alhamdulillah, saya kira tasnya ikut terbakar mobil." Dominiaz menerima tas itu dari Mumtaz


" Kalau ada yang bisa kami lakukan,..."


" Ada, tentu ada." Sela Jimmy kurang sopan


" Kami ingin tv kalian mewawancarai kami." Ujar Jimmy.


" Kalian semua kan yang diwawancarainya?" Tanya Daddy Gama


" Enggak, cuma Jimmy." Jawab Daniel


" Lebih baik kalian semua. Ini demi suksesnya menutup skandal Bara." Usul papi Aryan.


" Papi nanti kepopuleran Afa dibagi sama mereka dong." Rengek Jimmy 


" Maaf, dek. Papi harus diakui Mumtaz yang lebih dicari dibanding kamu. Bukan kamu sih yang ambil tas itu, dasar gak gantle " cibir papi


" Itu karena yang dibisikin kak Domin Mumtaz, bukan Afa pengecut ya, Pi, catat." Bela Jimmy.


" Tapi ini demi sepupu kamu juga, Kecuali kamu mau diperpanjang ngurus perusahaan."


" Ya udah Jimmy yang tamvan ini mengalah, tapi untuk wawancara selanjutnya gue aja ya." Jimmy melotot ke para sahabatnya. Mereka mengangguk."


" Hah? Buat apa?" Tanya Ubay


" Ya,... Supaya terkenal lah


Mereka tertawa geli " pengen banget Lo terkenal, Jim? Mau gue endorse gak? Ejek Jeno


" Cih, sekarang kalian ledek gue, kalo gue terkenal awas minta tanda tangan."


" Dih males amat."


" Ogah."


" Najis."


Ucap mereka serempak. Jimmy hanya mendelik tajam


" Kalian, di sini? Tanya Jimmy ke Akbar dan Adgar


 " Dari tadi, Mau jemput Cassy." Ucap Adgar


" Kemana Om Damiannya ? Tanya Jimmy


" Lagi ada pertemuan  bisnis sama brotosedjo, tinggal tanda tangan aja sih." Info Adgar


Jimmy dan Mumtaz saling pandang " mending Lo telpon om Damian, Bar. Suruh batalin kesepakatannya, itu beresiko besar bagi  nama Hartadraja."


Akbar mengernyit dahi " apa Lo tahu sesuatu yang gue gak tahu?"


" Telpon aja dulu takut terlambat. petunjuknya Bara, Cassy, photo. secara terperinci nanti gue jelasin!"


Akbar bergegas keluar ruangan untuk menelpon pamannya


Tak lama Akbar kembali masuk ruangan " untung masih sempat, om pengen penjelasannya."


" Nanti kita ke gedung Hartadraja." Ucap Mumtaz. Akbar menatap silih berganti antara Jimmy dan Mumtaz, pasti ada sesuatu yang sangat serius jika harus melibatkan banyak orang.


Para pengunjung berkumpul di ruang tunggu sekedar bercengkrama begitu pun dengan Mumtaz dan mama.


Di ruang inap tersisa Jimmy dan Tia. " Kak,..." Panggil Tia pelan.


Jimmy Menatap Tia dalam, dia mengusap puncak kepala Tia yang tertutup jilbab.


" Kalo kamu udah siap cerita, kakak dengerin. Sebelum  itu, kakak akan menunggu. Kakak dan yang lain ada di samping kamu. Ingat, kamu gak sendiri. Kamu gak tahu gimana takut dan paniknya kakak mendapati kamu pingsan." 


Tia menatap lekat Jimmy, bagaimana dia bisa meragukan kekasihnya ini setelah apa yang sudah mereka lalui.


Tia menggenggam tangan jimmy., Memangkunya, " kita berjuang bersama-sama ya. Katakan jika belum mampu, katakan jika lelah, katakan,..." Tia tak sanggup melanjutkan ucapannya.


Jimmy menarik kepala Tia ke dadanya.


" Maaf, belum bisa jadi tempat bersandar Tia." Bisik Jimmy, Tia menggeleng.


" Tia masuk psikologi karena ingin memahami kakak, menjadi sandaran kakak, sebab selama ini Tia merasa kakak terlalu memaksakan diri."

__ADS_1


Terdiam sesaat, " Terima kasih."  Ucap mereka berbarengan, sesudahnya mereka tertawa bersama.


 


__ADS_2