Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
188. Malam Yang Menegangkan.


__ADS_3

" Bagaimana kelanjutan dari kasus Mumtaz?" Tanya Alfred.


Mateo yang berdiri di samping Alfred tanpa beban menceritakan apa yang terjadi perihal pembebasan Mumtaz, Andre yang sudah ditahan dan menjadi tersangka, dan mulyadi yang berstatus buronan.


Wajah Alfred seketika memerah menahan amarah," hubungi para politisi lainnya.'


" Tuan, mereka mengundurkan diri, mereka telah mengembalikan apa yang sudah kita beri. Rupanya mereka sudah memahami keadaan kalau anda berurusan dengan RaHasiYa, dan  mereka tidak mau dan mengambil resiko mempertaruhkan keamanan keluarga seperti yang terjadi dengan keluarga Andre dan Mulyadi."


" Si4l, kekacauan ini tidak akan terjadi kalau saja aku tidak terjebak di rumah sakit ini."


" Apa kau belum menemukan bocah tengik itu, jika dihitung mundur, usianya sekarang berkisaran 20 sampai 24 tahunan."


" Kami sudah meretas dinas kependudukan untuk usia sekitaran itu, kami tidak menemukan warga bernama Ibnu Faris Mahmud, tuan."


" Mungkinkah dia meninggal saat kebakaran itu? Apa kau sudah mengecek namanya di bagian warga yang telah meninggal?" Lanjut Alfred bersemangat atas idenya.


" Bisa jadi, tapi sudah kami cari, tidak ada nama itu di sana. Hal ini bisa dipahami, karena banyak warga tidak melaporkan sanak saudaranya yang meninggal."


Kembali Alfred dihempaskan oleh realita.


" Sekarang, bagaimana kabar Navarro di Italia?"


" Tuan, saya tidak bisa lagi menyimpan berita ini dari anda, saya terpaksa memberi kabar yang tidak menyenangkan untuk anda."


" Jangan bertele-tele, katakan semuanya."


" Tuan Riina memerintahkan tuan Filippo untuk menempatkan anak buahnya di tanah yang berbatasan dengan wilayah Navarro, sewaktu-waktu mereka bisa menyerang kita."


Wajah Alfred terkejut," kenapa?"


" Tuan Valentino dengan gegabah mencoba menculik adik tuan Dominiaz di rumah sakit Atma Madina tempo hari."


" Bukankah mereka sudah membalasnya dengan menghancurkan gudang persenjataan kita, seharusnya itu sudah lunas."


" Itu balasan dari tuan Dominiaz. Nona muda merupakan satu-satunya cucu perempuan yang dimiliki tuan Riina, dan tuan Filippo sangat menyayangi saudara perempuannya, nyonya Elena, ibu dari tuan Dominiaz."


" Kita telah mencoba menyerang keluarga Gaunzaga sebanyak 2 kali, tuan Filippo berpikir untuk tidak mengampuni kita. Oleh karena itu tuan Filippo mengambil tindakan ini."


" Tuan, sepertinya mereka juga mengawasi nona Ivanka." lanjut Mateo


Alfred Navarro sudah meradang dikungkung emosi, tangannya sudah mengepal kuat.


" Tidakkah mereka sudah cukup menggagahi cucuku itu? Haruskah mereka merenggut kebebasannya juga dengan cara menerornya? Apakah ini juga ulah Gaunzaga?"


" Bukan, tetapi RaHasiYa. Nona muda Pradapta-Gaunzaga merupakan kekasih dari salah satu petinggi RaHasiYa."


Sesaat Alfred terdiam mencerna, selanjutnya umpatan dan cacian keluar dari mulutnya.


" Si4l, dari dulu sifat tidak sabar Valentino menjadi boomerang bagi kita." Katakan padanya untuk tidak lagi terlibat dalam urusan ini."


" Cepat laksanakan pemindahan anak buah kita dari rumah sakit itu."


" Tuan, rencananya besok malam kita akan menyelinap ke rumah sakit."


" Bagus, mereka harus segera dievakuasi sebelum TNI atau polri bertindak."



 20 menit sudah Mateo melakukan pertemuan online dengan Valentino, wajah Valentino memerah karena marah dan tersinggung setelah dia menyampaikan titah Alfred yang menyuruhnya untuk tidak lagi melibatkan diri dengan urusan Alfred di Indonesia.



" Kau tidak berbohong padaku kan?"



" Tuan, mana berani saya mengkhianati kalian, bagi saya anda dan tuan Alfred sama-sama tuan saya."



" Apa yang papa perintahkan untukmu?"



" Mengeluarkan anak buah kita dari rumah sakit." jawab Mateo, menahan senyum penuh artinya



" Kapan?"



"  Tengah malam lusa."



" Katakan padanya saya terima keinginannya, dan bilang padanya jangan mencampuri urusan keluarga kecilku dengan mengutus orang untuk membuntutinya." Tuding Valentino.



Sambil Manahan tawanya Mateo menunduk hormat padanya." Baik, tuan."



" Selamat tinggal."



Ketika  monitor laptopnya gelap, barulah tawa itu tampak nyata, yang merupakan tawa iblis.



" Hahahaha, bahkan sampai saat ini kau masih dikelabui oleh RaHasiYa, Valentino. Yang aku pikir anak buah papa mu itu adalah musuhmu, satu hari saya berjanji kau akan mendapati putri tercintamu dalam keadaan overdosis seperti yang kau lakukan  pada adik manisku." Desisnya geram.



Matanya menatap sendu foto yang disimpan di meja kerjanya, foto perempuan cantik berambut coklat panjang yang tergerai indah dengan senyum sumringah, senyum yang telah hilang selama bertahun-tahun karena ulah Valentino yang memperkosanya dan mencekokinya dengan puluhan butir narkoba hingga dia overdosis, beruntung Raul menemukannya sebelum terlambat.



Namun kini perempuan cantik itu harus mendekam di rumah sakit jiwa karena trauma."



" Dolores, sebentar lagi Kakak dan Raul akan menepati janji kita untuk menghabisi 1bl1s itu. kau sehatlah di sana." Lirihnya, tangannya mengusap figura kecil itu dengan sayang.



" Kau dengar perintahku, Armando?" Bentak Valentino tidak sabar, karena Armando diam bergeming mendengar perintah atasannya itu


" Armando gelagapan," saya dengar, tuan."


" Pasukan kita yang ada di Jakarta masih tersedia banyak bukan?"


" Iya, tuan. Selama ini mereka menitik beratkan menghancurkan persediaan persenjataan kita, Tetapi ini terlalu beresiko jika kita melakukannya tanpa perencanaan matang, mengingat mereka dijaga ketat."


"Kau jangan mengkhawatirkan itu, saya tahu mereka hanya dijaga oleh polisi. Saya akan mengirim denah posisi mereka."


" Tuan, pengamanan rumah sakit dibawah tanggung jawab RaHasiYa."

__ADS_1


" Kau tenang saja, saat ini mereka terlalu sibuk berpesta merayakan kebebasan Mumtaz. Setiap orang setelah berpesta terlalu lelah untuk bekerja, ini saatnya kita menyusup ke daerah mereka."


Kening Armando mengkerut, bagaimana bisa Valentino menembus cctv rumah sakit ini yang terkenal dengan kecanggihannya, selain mereka membiarkannya. Itulah kesimpulan terakhir yang bisa Armando dapatkan 


Ricky yang berada dalam topeng wajah Armando merutuk diri harus terjebak bekerjasama dengan orang bodoh yang sayangnya memiliki kekuasaan di atasnya. Dia harus segera memberitahukan Damian atas rencana gila Valentino.


" Baiklah, tuan. Saya akan mempersiapkan pasukan untuk menyusup kesana, saya tutu.."


" Jangan kau tutup VC ini, saya ingin turun langsung memimpin mereka."


Umpatan dan kata kasar dari Ricky untuk Valentino hampir saja bersuara, " oh God..hempaskan makhluk B0D0H satu ini ke jurang manapun asal dia enyah." Bathinnya.


" Baik, tuan." Ucapnya menahan emosi.


Dan lihatlah wajar datar dari para pria gagah dan terlatih ini menanggapi rencana dari Valentino atas aksi mereka malam ini, rencana yang menurut isi kepala mereka dapat dianalogikan dengan strategi petak umpat anak SD, Ricky menggigit bagian dalam bibir bawahnya menahan tawa.


Kasihan sekali mereka keluar dari kesatuan akibat termakan rayuan halunisasi Alfred yang optimis membangun negara baru di wilayah strategis ekonominya dengan tanah subur, yaitu Indonesia.


Bertahun-tahun mereka tinggal di Indonesia untuk digembleng menjadi pasukan terlatih agar siap menghadapi TNI dalam strategi gerilya, rela  meninggalkan keluarga, pacar, istri, anak, dan sanak saudara dengan keyakinan mereka bisa kembali menguasai dunia, dan b0dohnya mereka memilih Indonesia.


" Malam ini, pukul 23.00 wib. Kalian mulai bergerak memasuki wilayah target, saya sendiri yang akan memimpin aksi ini." terdengar suara penuh optimistis di sebrang sana


" Ya Tuhan, seriously? Pukul 11 malam? Jam segitu terbilang masih sore untuk masuk menyusup ke rumah sakit, dimana para petugas medis jaga masih berkeliling untuk visit, staf masih punya tenaga untuk bekerja.


Pada umumnya penyusupan di lakukan di atas jam 24.00 sebelum jam 03.00. dimana saat itu penghuni lebih memilih beristirahat dengan pikiran semua berjalan aman dan lancar.


" Hey ini Valentino, orang terbodoh yang pernah dia temui. Hei, dude. alih-alih kau bersikap seperti militer, kenapa kau tidak menghabiskan waktu dengan para j4l4nkmu seperti biasanya" gerutu Ricky. Dia sungguh kesal, pasalnya dia belum bisa menghubungi Damian.


" Kalian, siap?"


" Siap." Jawab pasukan.


" Baik, mulailah bergerak."


******


Panglim4 menatap Mumtaz yang terlihat tenang, tanpa merasa terintimidasi dengan kehadiran petinggi keamanan negara.


Di sisi lain, m4bes TN1, panglima, K4SAD, KA$AL, dan K4SAU dan k4polri bersama Mumtaz dan Ibnu duduk mengitari meja bundar. dibelakang mereka para ajudan, Zayin, dan William.


" Saya mencantumkan hanya anda yang kami undang, mengapa anda membawa rekan anda?" tanya panglima.


Saya mendapat undangan atas nama TN1, mengapa ada k4polri di sini?" telak balik Mumtaz terkesan terlalu santai.


" Saya harap kalian memahami maksud saya datang berdua, tidak sesuai seharusnya." sindir Mumtaz.


" Hahahaha, saya akui pemuda sekarang lebih berani. Apa kau tahu mengapa kami undang?" tanya p4nglima.


" Tidak, sejak tadi kalian belum bicara apapun, apa yang kalian dapatkan dengan memperhatikan saya secara intens dalam diam kalian?" frontal Mumtaz, wajahnya mulai mendatar.


" Hari ini Mulyadi melarikan diri, dan tidak ditemukan rimbanya." Ergi membuka suara.


" Hari ini saya sibuk di markas anda, dan rumah sakit, serta pesta menyambut kebebasan saya, jadi saya tidak punya waktu berurusan dengan otak udang macam pengecut itu." tantang Mumtaz.


Kata-kata kasar dari mulut Mumtaz dapat mereka artikan dia tidak peduli siapapun yang melawannya, dia siap menghadapinya.


" Saya ingin kau memberitahu kami siapa lawan kita?" tanya KA$AL


" Mengapa? Apa kalian sampai sekarang belum tahu siapa dalang dibalik pemasok senjata yang beberapa bulan ini meledak di beberapa wilayah NKRI, hingga membuat masyarakat resah?" 


" Jangan bertele-tele, kau tahu kami punya bukti anak buah mu mengendap-endap di operasi kami." Tegur Ergi.


Mumtaz menatap Ergi tajam,"  saya paham alur ucapan ini akan berakhir dimana kalian akan menuntut teman-teman ku sebagai mata-mata atau pengkianat. apakah Zayin sudah menyampaikan pesan dariku, jika kalian menyentuh temanku, aku pastikan negara ini akan lebih kacau dari saat ini.


Negara sekarang sedang mengalami resesi dalam bidang ekonomi akibat macetnya pendanaan ditubuh BUMN, apakah kau ingin memperparah di bidang hukum dan politik? yang berujung kekacauan di bidang sosial, seperti tahun 1998?" Ultimatumnya jelas.


" Kenapa kau begitu enggan memberitahu kami?" Tanya KASAD.


" Secara legalitas, kalian tanpa kami tidak bisa melakukan apa yang kalian tuju." ucap Ergi.


" Siapa yang butuh legalitas, dan jangan berbicara tentang hukum dan keadilan dengan kami ketika kalian mempertontonkan mempermainkan hukum."


" Apa kau menuduh kami berbuat curang?" Tanya Ergi tersinggung.


" Huh, pertanyaan yang tepat adalah kau dan jajaranmu bertindak adil? Semua bukti valid tentang 50 politisi yang kalian tangkap kemarin telah terang untuk mengadili dan menghukum mereka, tapi kalian masih membuang waktu dalam masa penyelidikan. Konyol bukan?"


" KAAAUU..." Hardik Ergi dengan kegeraman, isi kepalanya sudah mau pecah dengan perkara yang bertubi-tubi.


Ting..Ting..Ting...Ting...


Mumtaz segera memeriksa alarm bahaya dari ponselnya.


Saat melihat siapa yang dalam keadaan berbahaya, sontak dia berdiri.


" Maaf bapak-bapak,..saya harus pergi, ada keadaan darurat."


" Ada apa?" Tanya p4nglima."


" Kakak saya dalam keadaan berbahaya, titik koordinatnya persis di lantai para pelaku tabrakan di tempatkan." Saat ia berbicara matanya menatap Ergi penuh arti.


" Saya yakin itu tidak ada hubungannya dengan mereka, mereka dijaga ketat?"


" Alat alarm bahaya yang saya sembunyikan di kancing jas kakak saya merupakan alat tercanggih dan pengeluaran terbaru RaHasiYa yang biasa digunakan oleh pemimpin negara-negara maju, dan intel jadi kemungkinan ini informasi bohong adalah 0,01%." .


" Kalau kenyataan Kakak saya terluka karena ketidakbecusan bawahan mu dalam menjalankan tugasnya, kau...dan seluruh penghuni instansi mu.." mata tajamnya menatap langsung netra Ergi, " berurusan dengan RaHasiYa plus Atma Madina, Arvenio, Hartadraja, dan Birawa." Tegasnya.


 Ibnu dan Mumtaz beranjak berlari, Zayin menatap p4nglima dengan tatapan memohon diizinkan untuk pergi.


P4nglima menghela nafas berat." Pergilah, awasi mereka. Panggil rekan yang lain." alibi p4nglima.


Zayin berdiri hormat," Siap."


Selepas mereka pergi, tinggal menyisakan pihak TNI dan polri.


" Pak Ergi bisa anda jelaskan mengapa anda menyeranh Mumtaz? Saya panggil dia kesini karena butuh informasinya, ini menyangkut keamanan negara, dan anda merusaknya." tegur p4nglima.


" Saya tahu saya salah, saya banyak tekanan dari para elit politik, alibu yang mereka gunakan guna meredam amarah rakyat dengan cara menganulir bukti dari mereka,  memperhalus dugaan tindak pidana, dan meminimalkan hukuman."


" Jadi kau sedang mencari celah kesalahan mereka?" Tanya KASAL dengan mimik tidak habis pikir.


" Tidak, saya harus tahu apakah kekuasaan dan kekuatan mereka sepadan dengan senay4n atau ist4na?"


" Jawabannya?" Sindir p4nglima.


" Lebih baik saya biarkan senay4n dan 1stan4 berhadapan langsung dengan mereka." Tekad Ergi, dia terlalu muak dengan manuver para elit p0li1tik tersebut.


" Kami akan membantumu." Sahut KASAD.


" Pastikan rakyat terlindungi dibalik tindakan defensif kalian, berikan mereka paham kita ada bersama rakyat." Tutur p4nglima.


" Tentu., Sayangnya kalian tidak mendapatkan apa yang kalian mau." Ucap Ergi menyesal.


" Sangat disayangkan memang, tapi kami terlatih dalam keadaan lapangan yang rumit, bukan sekedar percaya dari data." Sarkas p4nglima."


" Astaga kalian ini, apa mau sejulid netizen? Saya harus memastikan apa yang terjadi." k4polri berdiri.


" Kita sudah mengenal lama dengan para petinggi RaHasiYa, jadi saya kira kau tahu siapa yang harus diprioritaskan untuk diselamatkan." Himbau P4nglima.


" Benar, pilihannya saya berhadapan dengan amukan para pemuda, atau ambisi oknum, huh?"

__ADS_1


" Oknum, 50 orang yang telah tertangkap, dan pasti ada beberapa orang otw, dan anda masih mengatakan oknum?" Sindir KASAL 


" Cari aman saja Guys, saya pergi."


*****


Puukul  23.40. Zahra dan Zahira memasuki lift untuk visit pasien terakhir mereka sebelum pulang, tibalah mereka di lantai dua bagian sayap kiri rumah sakit, dimana para pelaku tabrakan dirawat. 


Saat keluar dari lift, suasana ganjil sudah mereka rasakan. Dimana tidak ada penjaga yang biasanya ikut nimbrung mengobrol dengan petugas penjaga di bagian administrasi staf, sekarang tidak ada satupun orang terlihat.


Biasanya lampu koridor tidak seredup saat ini, bahkan terlalu ternagbuntuk ukuran malam standard rumah sakit, dengan alasan agar mudah mengenali lawan.


Dari depan lift terlihat hanya dua penjaga keamanan yang bertopeng, tidak biasanya, yang berdiri di depan kamar inap dengan siluet tubuh yang asing bagi mereka, mereka terlihat lebih besar, tinggi, dan tegap.


Saat terdengar pintu kamar dibuka dari dalam dan dua orang menarik brankar, Zahra menarik Zahira untuk bersembunyi di balik meja administrasi staf yang terletak tidak jauh dari lift.


" Ra, jelas mereka bukan polisi." 


" Tahu darimana?" Tanya Zahira.


 " Para pasien dibawah pengawasan gue, Lo dan pak Farhan. Tapi mereka mengeluarkan pasien tanpa izin kita."


" Oh iya." Zahira menepuk jidatnya.


" Gue harus telpon Mumuy, Bara atau kak Hito." Zahra meraba-raba kantong jubahnya, yang ternyata kosong.


" Astaga, gue lupa bawa ponsel dan earpieces-nya." Rutuk Zahra.


" Ponsel Lo mana" tanya Zahra pada Zahira.


" Sama gak kebawa." Jawab Zahira.


" Ck,...apes bener kita."


" Terus bagaimana? Kita gak bisa biarin mereka bawa pasien keluar." bisik Zahira.


" Lo ambil ponsel gue di ruang kerja gue di atas meja kalau gak salah. Cepat, gue lindungi Lo."


Dengan mengendap-endap mereka berlari kecil menuju lift, yang mana Zahira berposisi langsung menghadap lift, sedangkan Zahra menghadap depan memperhatikan pergerakan musuh.


Tombol turun sudah Zahira tekan, tinggal mereka menunggu lift datang, 


Ting...


Suara lift yang berbunyi ditengah heningnya malam mengundang penyusup yang sedang mengeluarkan brankar menoleh ke arah mereka.


" Masuk, Ra." Zahra mendorong kencang Zahira ke dalam lift, lalu menutup lift tersebut ke lantai dasar.


" Kau siapa?" Tanya pria asing, berjalan mendekati Zahra.


Zahra berdiri tegap menghalau kegugupan." Saya yang harusnya bertanya, siapa kalian."


Zahra melangkah mundur menjauh dari penyusup itu.


" Kami dari kepolisian."


" Huh, kau bohong. Kalau kalian dari kepolisian kalian pasti mengenal saya, saya dokter jaga mereka."


Seketika terdengar umpatan dalam bahasa asing terlontar dari mulut penyusup.


" Kalau anda ingin selamat, bergabunglah dengan rekan anda, di gudang sana." Tunjuknya pada gudang peralatan kebersihan.


" Hei, kau hentikan. Jangan bawa dia." Zahra menunjuk ke arah kamar inap, berhasil! Penyusup itu menoleh perhatiannya teralihkan.


Saat menyadari dirinya dikelabui, karena memang para rekannya belum ada yang bergerak dari semula terakhir Zahra melihat mereka.


Penyusup itu dengan marah kembali menoleh pada Zahra yang langsung disambut lemparan tempat sampah dari alumunium hingga sampah plastik dan bungkus makan dan minum berhamburan ke wajahnya dari Zahra yang bisa ditepis oleh tangannya.


" Refleks yang bagus, tapi apa kau bisa menepis ini."


Zahra menendang kuat tepat mengenai benda antara ************ pria tersebut.


"Aaaaaaaaawsssss..." Pekiknya keras memegangi juniornya, para rekannya meringis ngilu.


Ditambah t0njok4n tepat di hidungnya.


Kembali dia berteriak kesakitan." Aaaawws..."


" Damn it,..." Umpat penyusup itu.


Zahra langsung berlari memutar koridor menjauh dari sana saat para rekannya berlari ke arah mereka.


" Issh, pasti diantara benda ini ada Alat canggihnya " sambil berlari Zahra menekan-nekan anting, kalung, cincin tunangan, gelang, bahkan satu persatu kancing jas putihnya.


" ****... mana Hira lama banget lagi, dia nyari hp atau kutu sih." Dumelnya.


" Hei, lady...berhenti di sana atau saya tembak." Teriak penyusup lainnya.


" Lo pikir gue oon, gue berhenti juga mati." Gerutunya, dia menutup kembali pintu kamar inap yang dibuka pengunjung karena terganggu dengan berisiknya langkah lari dari beberapa orang.


" Masuk..semuanya masuk..ada *******." Teriak Zahra pada beberapa pintu  yang dibuka oleh penghuninya. Pintu-pintu tersebut langsung ditutup kembali saat melihat mereka yang berlarian.


" Si4l," maki sang penyusup.


 Satu penyusup lain melepaskan  beberapa tembakan, Zahra menunduk lalu berbelok ke balik tembok yang menuju koridor lain guna menghindari tembakan itu 


" Stop menembak, panggil bantuan." Seru penyusup lain.


Zahra terus berlari menghindar.


" Gue gak bisa marathon tengah malam, harus segera keluar dari sini." Gumamnya, dia kembali ke arah tempat inap sang target lewat koridor lain.


Di depan lift lain, dia berpapasan dengan dua penyusup yang sedang menunggu lift dengan brankar pasien yang tidak sadarkan diri.


Ting...


Pintu lift, terbuka saat mereka hendak mendorong brankar Zahra berteriak.


" Hei, jangan bawa pasien, bisa mati dia." Tangannya kanannya memutar-mutar stetoskop lalu dilempar ke kepala penyusup yang bagian diaphragm-nya mengenai matanya, hingga ia memegangi matanya yang sakit.


Tidak buang waktu, Zahra menendang ulu hati penyusup itu yang langsung tumbang.


Sedangkan penyusup satu lagi terus berusaha mendorong brankar tersebut.


Saat setengah brankar berhasil masuk lift secara tiba-tiba Zahra menaiki brankar bagian kaki pasien, lalu melayangkan satu kepalan tangan keras ke rahang penyusup yang langsung terjatuh.


Memanfaatkan keadaan penyusup yang masih terkaget, Zahra meloncat turun dari brankar, lalu kaki kanannya menginjak ulu hati penyusup yang meraung kesakitan, dengan kaki kiri menginjak benda ditengah selangkangannya.


" Kau membuatku repot." Ucapnya berdiri tegak, saat melihat tangan penyusup hendak memutar senj4ta panjangnya yang kesusahan, Zahra menuju sisi kepalanya, dengan santai dia memutar lalu menghentakan kepalanya hingga patah, sang penyusup pun tidak sadarkan diri.


Saat menarik brankar pasien keluar terdengar dari arah belakangnya ternyata bala bantuan penyusup telah berdatangan, dengan satu orang memegang ponsel yang menyala, matanya menatap khawatir pada Zahra.


Alih-alih membawa pasien ke bawah, yang menurut Zahra akan menimbulkan wilayah berpotensi bahaya lebih luas, Zahra menarik  brankar tersebut, lalu mendorongnya kuat- kuat, ia berlari di sepanjang koridor dibuntuti oleh para penyusup yang mengejarnya.


Apesnya, diujung koridor tampak beberapa teman penyusup menungguinya, Zahra terkepung, menurutnya kini saatnya untuk pasrah.


Di lain tempat, Zahira terus berkeliling mencari benda yang dikatakan Zahra, setelah dia tidak menemukan kedua benda tersebut di atas meja.


" Zahra...dimana Lo simpan hp Lo."

__ADS_1


Zahira dengan panik membuka tas selempang zahra dan mengeluarkan semua bendanya, apa yang dicari tidak ada di sana. Ia melempar tas tersebut ke sembarang tempat, lalu mencari  ke bagian sofa, tidak ada. Ke tempat pemeriksaan, tidak ada.


" Oh my God..dimana hp Lo, Ra..." Paniknya merutuk, tangannya masih terus mencari...


__ADS_2