Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
bab 15 melindungi


__ADS_3

keluarga Hartadraja digemparkan dengan penculikan Cassandra dilingkungan sekolah. bagaimana tidak gempar, sekolah BINAKU bangsa adalah sekolah milik keluarga Hartadraja, dan sekarang salah satu penerus Hartadraja diculik dilingkungan sekolahnya sendiri.


" siapa yang berani melakukan ini terhadap Hartadraja. " amuk kakek Fatio. kakek sendiri kaget mendapat laporan dari pihak sekolah jika Cassandra dipaksa oleh dua orang siswi untuk keluar dari lingkungan sekolah


" cari orang itu sampai dapat. hadapkan kepada saya." seru keras kakek Fatio. Cassandra adalah cicit kesayangannya. tentu jika ada yang berani macam-macam pada Cicitnya beliau yang akan langsung menanganinya.


saat ini dikeluarga besar Hartadraja telah berkumpul dirumah keluarga besar Hartadraja. minus om Hito dan Akbar yang masih berada di hotel Darma.


kring....kring...telpon rumah berbunyi yang diangkat oleh oleh kepala pelayan rumah


" hallo. dengan keluarga Hartadraja? buka kepala pelayan.


" hallo. ini dari rumah sakit Atma Madina. ingin memberitahukan bahwa terdapat pasien bernama Cassandra Hartadraja..."


mendengar kata rumah sakit dan nama Cassandra " tunggu sebentar nona saya panggil kan tuan besar sebentar." menaruh telpon disisi badannya kepala pelayan itu tergopoh-gopoh ke ruang keluarga.


" tuan ada telpon dari rumah sakit Atma Madina. nona Cassandra berada disana tuan." ucap kepala pelayan panik


mendengar perkataan kepala pelayan kakek Fatio mengangkat telpon yang berada diruangan ya.


" hallo.."


" tuan kami dari rumah sakit Atma Madina hendak melakukan tindakan terhadap pasien Cassandra Hartadraja. namun disini belum ada perwakilan dari Hartadraja." jelas pihak rumah sakit.


" lakukan apa yang harus dilakukan. kami akan ke sana." menutup telpon kakek dan yang lain beranjak ke rumah sakit.


*****


Dista duduk ditengah antara Bara dan Daniel dalam mobil Bara. sejak dari tadi tangan Daniel tidak pernah lepas dari merangkul Dista. baru kali ini Daniel merasa emosi teramat sangat.


derrrt... Derrrt.....


" hallo " sapa Daniel ke seseorang diseberang


" gw sekarang dirumah sakit Atma Madina. Cassy lagi ditangani." ujar Jimmy diseberang.


melirik kesamping kiri " kata Jimmy Cassy dirumah sakit. gimana kita kesana atau kemana?" ucap Daniel ke Bara.


" langsung aja ke rumah sakit."


" oke gw juga otw sana." Daniel menutup sambungan telpon Jimmy.


tangan Dista masih digenggam kuat oleh tangan kanan Daniel. jempolnya mengusap tangan Dista. sedangkan tangan kirinya merangkul Dista mengusap lengan kiri Dista. Dista masih menangis ketakutan.


" sudah. semuanya sudah berakhir." ucap Daniel pelan dan lembut.


" dek, mereka gak ngapa-ngapain kamu kan dek?" khawatir Bara. Dista menggeleng.


" mereka cuma sempet ngelus-ngelus pipi Ita kak." lirih Dista semakin membenamkan tubuhnya kedalam pelukan Daniel. Daniel semakin mengeratkan pelukannya.


" Tio, hubungi pihak rumah sakit untuk menyediakan tiga ranjang dalam satu ruangan dilantai teratas." titah Bara kepada asistennya.


" justru yang paling parah Nerima pelecehan Tia kak." tengok Dista ke Bara.


" maksudnya?"


" Tia menghalangi tu orang the Devils nyentuh aku. jadi setiap dia mengulurkan tangannya Tia menghalangi tubuh Ita. katanya biar besok Ita bisa ulang tahun dengan senang." Dista sesegukan menceritakannya. orang-orang dalam mobil terdiam mendengarkan.


*****


rumah sakit Atma Madina


dilantai teratas rumah sakit Jimmy, Rizal, Ubay, Juan, Sisilia. sedang menunggu didepan ruang operasi.


karena sayatan tajam yang cukup dalam, Cassandra harus dioperasi.


terdengar suara langkah kaki dari arah lift. Bara, Dista, Tia, Daniel, Mumtaz, dan Raja


" gimana?" tanya Bara tergesa


" lagi dioperasi. udah hubungi Hartadraja sih buat tindakan. kata dokter lukanya cukup dalam." jelas Jimmy.


Bara mengangguk cemas. dia menyalahkan dirinya yang tidak bisa melindungi Cassandra.


tak berapa lama keluarga Hartadraja tiba. mereka tak menyangka banyak orang yang menunggu Cassandra. mengingat Cassandra tidak mudah bergaul.


mama Julia mendekati Sisilia yang berdiri dibelakang dekat tiang.


" kamu teman Cassy kan"


Sisilia gugup dihampiri mama Julia " iya Tante. maaf Lia tidak bisa melindungi Cassy Tan" ucapnya menunduk


menggelengkan kepala " jangan salahkan diri sendiri. kamu udah berbuat yang terbaik. terimakasih ya." ucap mama Julia.


" kalian tahu siapa pelakunya?" tanya tiba-tiba kakek Fatio.


mereka saling pandang tak tau harus jawab apa. apa keluarga Hartadraja akan menerima kalo sepupunya yang mencelakai Cassandra.


" daripada kita berkumpul disini lebih baik kita tunggu diruang tunggu. " bara melangkah meninggalkan ruang operasi diikuti oleh yang lain.


lantai teratas dari rumah sakit Atma Madina hanya diperuntukan bagi keluarga Atma Madina dan kolega atas ijin Atma Madina. terdiri dari beberapa ruangan luas dan dan sangat privasi.


duduk dalam ruang tunggu yang terdapat disebelah ruang perawatan inap sekelompok remaja gusar dan gelisah menunggu diagnosa dokter yang tengah memeriksa Dista, dan Tia.


butuh waktu satu jam para dokter memeriksa para pasien.


dokter keluar ruangan.


" bagaimana dok?" tanya Mumtaz.


" mere syok. tapi Alhamdulillah mereka melewati tragedi ini dengan baik. karena ini perkara psikis, jadi pendekatan personal obat mujarabnya."


" mereka hanya mengalami trauma ringan. bagaimanapun ini diluar keinginan mereka."


" baik dokter, kami ucapkan terimakasih." Mumtaz tak henti bersyukur.


" jangan sungkan itu sudah tugas kami. baiklah saya permisi." dokter meninggalkan ruangan.


mereka serempak masuk ruangan rawat memperhatikan dua perempuan kesayangan mereka.


" Dista, Tia,. huhu....Lia sedih!" Sisilia menghampiri mereka sembari menangis.


" maaf Lia gak bisa bantu apa-apa." sesal Sisilia menundukkan kepala.


" apa sih Lia ini. kita juga udah gak apa-apa." Tia menenangkan Sisilia.


kriett... pintu ruangan dibuka, masuklah Cassandra yang tertidur dalam brankarnya yang diantar oleh dua orang perawat dan seluruh anggota keluarga Hartadraja.


membiarkan tiga pasien itu beristirahat. mereka pindah ke ruang tunggu disebelahnya.


" apa yang terjadi sebenarnya? tanya kakek Fatio.

__ADS_1


" saya melihat Cassandra ditarik paksa oleh dua orang siswi kek. bernama Merry dan Indah. saya ikuti mereka kek. terus saya telpon kak Ubay buat hubungi kak Mumtaz dan yang lainnya. " terang Juan.


" saya ucapkan terimakasih nak atas pertolongan kamu kepada cicit saya." ujar tulus kakek Fatio.


" gak masalah kek. saya dan Cassandra kan temen kek."


*****


di UDG


terjadi keributan dari teriakan pasien muda yang terus berteriak kesakitan dan tubuhnya mulai terkulai lemas karena banyaknya darah yang keluar.


Tanura pasien itu dibawa segera ke ruang operasi karena luka yang dalam dan sudah lama.


butuh dua jam bagi Tanura meminta pertolongan hingga dia sampai ke rumah sakit ini


berita keberadaan Tanura dirumah sakit ini diketahui oleh Bara dan lainnya. Bara melarang Tanura dirawat dilantai teratas meski dia anggota keluarga Hartadraja. dan ini membuat bingung keluarga Hartadraja.


sekelompok pemuda masih sibuk mengurus penyelesaian perkara ini. sedangkan keluarga Hartadraja saat ini mengurus Tanura. kecuali Akbar dan om Hito. yang tetap bersama para remaja itu


*****


esok harinya.


kak Zahra sedari tadi merasa terganggu dengan keributan diluar, maka dengan pelan-pelan dia menengok keluar mencari tahu.


dia membuka sedikit pintu yang memang tidak tertutup rapat. mendengar pembicaraan orang-orang didalamnya.


membulatkan mata karena kaget tentang apa yang terjadi, kak Zahra menerobos kedalam.


" sekarang Dimana Tia?" tanya Kaka Zahra kepada orang-orang yang terdiam kaget atas kedatangan kak Zahra.


" disebelah kak. Tia udah baik-baik saja " ucap Mumtaz menenangkan. tanpa bicara kak Zahra ke ruangan sebelah.


" kakak..." rengek Tia ketika mendapati kak Zahra disana. kak Zahra langsung memeluk Tia erat dan lama.


" kamu gak apa-apa?" khawatir kak Zahra memegang sisi wajah Tia dengan kedua tangannya


Tia menggelengkan kepala " mereka dihajar sama Aa Mumuy kak. Aa Mumuy keren." cengir Tia.


" ishh masih sempet ya kamu merhatiin kayak gitu. ada luka gak"


" gak serius kak" memperlihatkan pergelangan tangan yang lecet memerah.


berbalik badan menghampiri dan memeluk Dista dan Cassy. bagi kak Zahra mereka berdua seperti adiknya.


melihat Sisilia yang duduk disofa pojok " Lia gak apa-apa? mereka gak nyulik Lia juga kan?"


Lia yang ditanya mengangkat kepala " gak kak. Lia baik-baik aja."


" syukurlah" kak Zahra lega.


" siapa dalangnya?" tanya kak Zahra tak terbantahkan kepada Mumtaz.


" Tanura."


" Tanura Hartadraja sepupu dari Cassy Hartadraja?" kak Zahra memastikan.


" iya.". kak Zahra keluar dari ruangan menuju lift yang diikuti oleh Mumtaz dan yang lainnya karena khawatir kak Zahra mendatangi Tanura.


kak Zahra jika marah sangat menakutkan. dia tak akan pandang bulu dan keadaan.


kak Zahra langsung menghampiri ranjang Tanura tanpa menghiraukan om Damar dan Tante Nadya beserta kakek Fatio dan nenek Sri.


mencekik leher Tanura " Lo gila. masih kecil udah bikin kejahatan kayak gini. asal Lo tau gw dan keluarga gw gak merasa hutang Budi pada kalian." mengeratkan cekikannya sehingga Tanura susah tuk bernafas dan meronta-ronta minta dibebaskan


" apa yang kamu lakukan pada cicitku?" bentak kakek Fatio.


menoleh dengan delikan tajam, " cicit tuan ini yang nyuruh orang buat culik adik-adik saya, dan mencelakai Cassandra yang juga cicit anda tuan"


terbelalak terkejut. kakek Fatio berdiri dari duduk diatas sofa.


" benar itu Tanura?" tanya menekan kakek Fatio.


Tanura hanya menggelengkan kepala berbohong. berharap kakek Fatio percaya padanya.


" Lo mau bohong hah. Lo tolol berurusan dengan Mumtaz dan teman-temannya. Lo pikir mereka gak punya bukti. bego." menghentakkan kepala Tanura kebelakang.


mengusap leher bekas cekikan Tanura mendelik tajam


" Lo dan keluarga Lo beban keluarga gw aja. sampai kapan kelurga Lo jadi benalu di keluarga gw." ucap Tanura hilang akal.


semua orang terkesiap mendengar perkataan Tanura.


menatap tajam Tanura " gw dan keluarga gw gak punya hutang Budi sama keluarga lo, tapi keluarga Lo berhutang nyawa kepada keluarga gw" desis kak Zahra.


om Hito yang mendengar itu menyenderkan bahu kebawah dengan raut wajah sendu


" itu mulu yang kalian omongin. bosen tau. bapak Lo mati ya udah mati. itu udah takdirnya." ucap Tanura tanpa rasa bersalah.


" Lo manfaatin kematian bapak Lo buat memeras keluarga gw."


yang mendengar perkataan Tanura seketika marah. Jimmy menghampiri Tanura.


" kenapa gw gak sekalian bikin Lo lumpuh ya. itu takdir Lo." Jimmy menekan kuat kaki Tanura yang terluka.


"AAAAA.... papa sakit. " Tanura bergerak-gerak membebaskan diri dari tekanan tangan Jimmy.


papa Damar tetap bergeming ditempatnya tak bermaksud menolong Tanura. kekecewaannya terhadap Tanura begitu besar.


Jimmy terus menekan sehingga keluar darah dari luka itu.


" gw peringatan ini terakhir kalo Lo celakain orang-orang kesayangan gw." Bara berucap tegas.


" Bara kenapa kamu gak ngerti . aku sayang kamu. aku mau kita tunangan Bar. Cassandra wajahnya sudah terluka, dia sudah cacat." Tanura masih berucap tanpa bersalah.


kakek Fatio dan papa Damar yang mendengar perkataan Tanura menghela nafas berat menhan emosi


" dengar Tanura seribu kali Lo operasi plastik untuk mempercantik wajah Lo. bagi gw Cassandra masih jauh lebih cantik. Lo gak sebanding walau hanya dengan kuku Cassandra." mendengar penghinaan Bara Tanura menggenggam erat selimutnya.


" kakek saya harap kakek bertindak tegas terhadap Tanura yang melakukan penculikan siswi BINAKU BANGSA." Bara menoleh menghadap kakek Fatio


" soal siapa yang menjadi beban dan benalu keluarga Hartadraja tak lama lagi kita akan tau."


" seusai semester saya akan mendatangi kediaman keluarga Hartadraja. untuk sementara Cassandra dan yang lain dibawah perlindungan Atma Madina." yang diangguki oleh seluruh keluarga Hartadraja, sedangkan Tanura menggeram marah.


Bara menunduk sedikit kepala tanda menghormati kakek Fatio dan om Damar. mereka bergegas keluar ruangan.


*****


ruang VVIP

__ADS_1


Dista, Tia, Sisilia, dan Cassy bercakap ringan.


" sumpah gw pengen liat muka si Taruna pas dia tau kalo dia gagal." Tia berucap sombong.


" ya... paling-paling matanya melotot terus bersumpah serapah dalam hati kayak di sinetron" sambung Dista.


Cassy yang diam mengelus perban luka di pipinya.


" ini bisa ilang gak ya bekasnya." tanya Cassy lesu.


" itu kan bisa dioperasi plastik Cas. don't worry. entar gw anter ke Korea buat oplasnya. tawar Dista.


" cuih, sok baik padahal modus buat lihat oppa-oppa." cibir Tia.


" he..he...iri bilang bos. gimana kalo liburan semester kita kesana. asik cuy." girang Dista berkhayal


" enaknya jadi anak Sultan. apalah dayaku yang buat makan Sama teri aja harus banting tulang. " Tia menyindir.


" ishh Lo mah gak asik ya.. Lo ikutlah biar gw sama Sisilia traktir Lo." tawar Dista.


" kok gw dibawa-bawa. gw dari tadi diem aja ya." protes Sisilia.


" emang Lo mah orangnya diem Bae." cibir Dista.


BRUAK...pintu terbuka paksa karena terdorong keras sekelompok remaja.


"SELAMAT ULANG TAHUN KAMI UCAPKAN...." nyanyian ulang tahun dari kak Bara dan teman-temannya membuat kaget penghuni Ruang inap. terdapat kue ulang tahun yang terbuat dari es cream yang dipegang oleh Daniel. karena Dista tak terlalu menyukai cake.


Dista yang tak menyangka kakaknya akan tetap merayakan ulang tahunnya ditengah-tengah bencana ini menangis terharu.


Dista merentangkan tangannya minta pelukan kak Bara. Bara tersenyum melihat kemanjaan adiknya menghampiri untuk memeluknya.


dalam pelukan Bara Dista menangis " terimakasih kak. kak Bara kakak ter the best lah " Bara tertawa pelan mendengar ucapan Dista.


" jadi aku gak the best ni" cibiir Jimmy iri. karena yang dipeluk cuma Bara.


" iri aja kamu dek. " ucap papa Aryan. papa nya Jimmy.


" om Aryan, Tante Sandra. ..aduuh senengnya kalian ada disini." Dista turun dari ranjangnya menghampiri om dan tantenya.


" apa sih yang enggak buat ponakan Tante." Tante Sandra membalas pelukan keponakannya erat. mencium pucuk kepala dista.


" selamat ulang tahun sayang. sejahtera dan sehat selalu ya." ucap Tante Sandra lembut.


" iya tentu Tan. kalo kak Jimmy gak bikin ulah yang bikin tensi Ita tinggi." canda Dista.


" garing Lo dek candanya. " kotak Jimmy yang kemudian memeluk Dista diganti dengan yang lain.


" udah ya. pelukannya sekarang kuy makan kuenya." Raja merusak momen mengharukan.


Sisilia yang masih setia duduk disofa pojok dihampiri Mumtaz yang membawa potongan kue es cream. duduk disamping Sisilia.


" gak gabung?"


" hah. entaran aja. gak mau bersaing sama Raja, Zayin, sama Juan. takut." melihat tiga remaja rebutan es cream.


" ini." Mumtaz menyodorkan kuenya.


" kak sendiri?"


" berdua aja. tadi motongnya sengaja gedean." Mumtaz mengambil satu sendok kecil diatas meja dan menyerahkan ke Sisilia.


Sisilia tersenyum " makasih kak" yang diangguki Mumtaz. jadinya mereka makan es cream sepiring berdua.


orang- orang dihadapannya tertawa terbahak-bahak seakan sebelumnya tidak terjadi kesedihan.


ceklek....


dokter Doni pamannya Ubay memasuki ruangan itu dengan pelan


" ohh lagi pada bahagia ya...senangnya..." basa basi dokter Doni tersenyum.


" om dokter. mari sini gabung." ajak Dista.


"om punya hadiah buat Dista. ikut om yuk." ajak dokter Doni


" Bara, Jimmy, pak Aryan, Bu Sandra juga harus ikut." mereka bertukar pandang heran meski mereka tetap mengikuti langkah dokter Doni.


dilantai yang sama, diruangan berbeda. Dista menggenggam tangan Bara erat mengharap kekuatan dari kak Bara. mereka tahu ini ruangan siapa.


ruangan rawat yang delapan tahun terakhir digunakan oleh seorang wanita spesial Atma Madina.


Dista berdiri dibelakang om Aryan dan Tante Sandra diapit oleh Bara dan Jimmy.


pintu dibuka secara perlahan oleh dokter Doni, mereka masuk dan terperangah terkejut melihat apa yang ada dihadapannya.


telah duduk diatas ranjang seorang perempuan yang masih terlihat cantik meski usianya sudah tidak muda lagi. perempuan itu menengok kebelakang dan tersenyum melihat orang-orang yang disayanginya.


" mama..." Bara dan Dista memanggil berbarengan. tanpa kata mereka berdua memeluk perempuan itu.


" mama udah sadar." tangis Bara pecah


mama Sherly mengangguk dan tersenyum dalam pelukan anaknya.


air mata jatuh dari kedua mata Mama Sherly. menahan haru.


" kak..." Tante Sandra menghampiri dengan air mata dipelupuk matanya


" hallo apa kabar adik centil kakak" suara pelan mama Sherly begitu dirindukan.


Tante Sandra yang diledek berdecak ringan.


" ooh ternyata Aryan masih sabar sama kamu." ucap mama Sherly menggoda.


" ya.. gimana ya kak. udah cinta mati aku tuh sama bidadariku ini." om Aryan merangkul hangat Tante Sandra yang melirik genit tersipu malu.


" huh sok malu-malu. padahal malu-maluin." jengah Jimmy melihat tingkah mamanya seperti anak ABG.


Jimmy melangkah mendekat Tante Sherly menghindari cubitan-cubitan yang akan dilayangkan mamanya.


" apa kabarnya Tan?"


" baik ponakan Tante yang petakilan." tawa Tante Sherly pecah melihat Jimmy yang cemberut sok lucu.


" sebenarnya nyonya Sherly sudah sadar dari dua Minggu yang lalu, tapi menolak memberitahukan anggota keluarga Atma Madina." ucap dokter Doni dibelakang mereka


" kejutan buat yang ulang tahun katanya. seneng gak" sambung dokter Doni.


Dista menganggukan kepala semangat. delapan tahun keluarga Atma Madina menunggu Sherly sadar dari koma panjangnya akibat kecelakaan lalu lintas dipuncak yang menewaskan sang suami ayahnya Bara dan Dista.


waktu itu garimis jalan berbelok-belok dan licin mengharuskan mobil melaju pelan. dari arah belakang muncul mobil yang memepet mobil ayah Tama dan mama Sherly. sehingga mobil tersebut masuk jurang. sang suami tewas ditempat mama Sherly mendapat pertolongan dari warga yang menarik mama Sherly keluar dari mobil sebelum mobil tersebut meledak.

__ADS_1


__ADS_2