
" Mommy ngomong apa sih!, Jangan mikir yang aneh-aneh. Lia tahu siapa kak Mumtaz, kalau dia orang yang kasar mana mau teman-teman pada jadi saksi." Ucap Sisilia berkeberatan dengan komentar mommy.
" Bukan begitu, mommy hanya khawatir, sekali orang udah kasar dia akan dengan mudah bertindak kasar lagi." bujuk mommy memberi pengertian.
" My, Lia akui kak Mumtaz memang bukan kali ini bertindak kasar, tapi semua alasannya untuk melindungi, dan memang ceweknya yang gak bisa dibilangin. Lia gak mau mommy memandang Kak Mumtaz rendah setelah apa yang sudah dia perbuat untuk Lia." Ucap Lia emosi.
" Sil, mommy cuma khawatir..."
" Kekhawatiran mommy gak beralasan, pikiran mommy sempit." Sisilia beranjak ke pintu utama yang keburu di buka oleh Bi Ijah.
" Loh, non Lia gak berangkat bareng den Mumtaz?" Tanya bi Ijah bingung.
Lia dan mommy terkaget " apa maksud bibi?"
" Tadi di depan bibi ketemu den Mumtaz yang katanya mau jemput non, ya bibi suruh langsung masuk, bibi tadi nanggung lagi beli sayur."
Mommy dan Lia saling pandang, dan mereka tersentak kala menyadari obrolan terakhir mereka, Lia bergegas pergi ke kampus tanpa pamit ke mommy.
*******
Heru melihat Zahra yang sedang duduk dibangku tunggu di lobby rumah sakit.
" Mau pulang?" Tanya Heru yang mengambil duduk di samping Zahra.
" Iya."
" Bareng aja yuk."
" Makasih, tapi Daniel mau jemput aku."
" Tumben?"
" Iya, mau ke kampus hadiri pema, mama udah nunggu di sana."
Heru memperhatikan Zahra yang berulang-kali memeriksa ponselnya.
" Lagi nunggu telpon dari Hito?"
" Hah!?" Zahra canggung , menggelengkan kepala lemah.
" Dia gak bisa telpon kamu, ponselnya hancur dibanting."
Zahra terkaget " Kenapa?"
" Jengkel, si Ziva atau nenek nelponin dia mulu."
Zahra terdiam tak tahu harus merespon apa.
Heru memperbaiki duduknya agak menghadap Zahra.
" Dia juga sama kayak kamu sedang sakit hati, ini lihat." Heru menunjukan foto Hito yang sedang serius memeriksa berkas dengan wajah terlihat lelah, rambut tak beraturan dan pakaian yang tidak berdasi, lengan baju digulung sampai siku, jauh dari kata CEO eksekutif muda yang metroseksual.
Zahra mengusap bagian rambut dan wajah Hito yang terdapat di layar ponsel Heru dengan sedih.
" Saya harap kamu gak cepat menyerah, dia saat ini sedang melakukan sesuatu demi kamu, makanya dia susah dihubungi. Itu kejelekan dia sewaktu bertekad melakukan hal yang besar."
" Dia makan malam dengan Ziva." Tutur Zahra lemah menyerahkan ponsel ke Heru.
" Kemungkinan besar dijebak oleh nenek, belakangan nenek bersusah payah mempertemukan mereka yang berhasil dihalau oleh Hito.
" Dia tertawa senang dengan Ziva, sementara telpon aku ditolak."
" Saya khawatirnya itu kamuflase Hito." Ucap parau Heru resah, Zahra mengernyitkan dahi bingung.
" Ketika dia dalam keadaan tidak baik-baik saja, pada umumnya orang akan lebih pendiam dan mengasingkan diri. Hito akan menampilkan mimik santai atau senang sebagai penarikan diri sehingga orang-orang sekitar tidak menyadari mentalnya, sampai puncaknya dia akan melakukan hal yang ekstrim." Heru menghela nafas berat merubah letak duduknya menjadi bersandar pada kepala kursi.
" Itu yang terjadi saat kecelakaan ayah kamu, pasca pengkhianatan Sivia secara terang-terangan Hito masih menampilkan sikap santai seperti tak terjadi apa-apa, sampai dia mabuk dan terjadi kecelakaan itu barulah keluarga tahu betapa dia rapuh. Dia rapuh ketika dengan Sivia, saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika dia kehilangan kamu." Ucap pelan Heru diakhir kalimat.
Heru menatap Zahra dengan memohon " percaya padanya, seperti pria lainnya, jika dia mencintai wanita dia yang akan mendekati wanita itu. Dia tidak akan membiarkan wanita yang dia cintai mengejarnya, jadi entah berapa ribu kali kau akan melihat atau mendengar dia dengan Ziva, saya bisa jamin itu bukan dia yang mendekatinya."
" Kenapa begitu?"
Heru tersenyum " Dia selalu bilang, jika dia punya waktu luang untuk orang lain dia akan menghabiskan waktu itu dengan kamu." Heru melirik Zahra ingin mengetahui respon Zahra atas ucapannya.
Zahra tersipu, dan salah tingkah.
" Itulah mengapa om selalu mewakili dia di sini?"
Heru mengangguk " iya, hampir semua urusan kantor kak Damar yang mewakili, sedangkan saya mondar-mandir ngurusin bisnis pribadi dia."
" Dia punya bisnis di luar Hartadraja?"
" Iya, dia tidak suka berada di bawah tekanan nenek, jadi secara diam-diam dia membangun bisnisnya sendiri. katanya buat kamu." Heru tersenyum geli melihat zahra yang grogi.
Zahra melihat mobil Daniel yang memasuki area parkir depan lobby, dia bergegas beranjak menghampirinya.
" Om, terima kasih atas obrolannya, salam buat kak Hito." Ucap Zahra sebelum pergi meninggalkan Heru yang menatap Zahra.
*****
Fatih menghampiri Mumtaz yang duduk sendiri di bangku taman belakang gedung teknik dengan kepala tertunduk dan menautkan kedua tangannya di pangkuannya.
Menghembuskan nafas berharap dapat menghilangkan kegusarannya dan menengadahkan kepala memandangi awan, dalam hati dia bershalawat untuk meringankan kegalauannya.
" Hei, napa Lo?" Tanya Fatih yang mengambil duduk di samping Mumtaz.
" Kagak napa, Ada apa?" Tanya Mumtaz menetralkan wajahnya.
" Rancangan rumah Lo gol."
" Oooh."
" Kok, respon Lo b aja. Gue sama Abang Ibra aja sampe nari jaipong pas dihubungi mereka.."
" Ya itu udah Lo wakilin, lagian Lo ngasih tahu gue nya telat" dumel Mumtaz.
" hehe... Lo yang susah dihubungi." Omel Fatih.
" Maybe bulan depan kita ke Eropa buat kontrak."
" Kita?"
" Iya, Lo kan tim kita, mereka pengen keterangan lanjutan tentang proyek itu sebelum survei lapangan."
" Oke, tapi jangan maksa gue stay lama di sana, kita masih kuliah."
" Oke, itu gw urus. Btw, gue denger Lo beli saham Husain yang di rumah sakit Atma Madina?"
" Cepat banget sampe kuping Lo."
" Lo gak bermaksud hancurin Husain gara-gara kasus kemarin kan?" Tanya Fatih terselip kewas-wasan
" Kenapa? Lo khawatir Jasmine!?"
" Apa sih, gak lah." Fatih menjawab dengan tidak yakin.
" Tenang, gue gak maksud begitu. Itu cuma kebetulan aja. Lo mau gabung sama mama gue gak? Beliau kesini."
" Serius? Okelah kuy."
****
Sejak datang di kampus bunda tak berhenti bercerita segala memori di setiap tempat yang disinggahi. Dikerumuni oleh para sahabat Daniel seperti penguntit mama dan bunda.
" Emang bunda lulusan UAM?" tanya Radit sambil mengunyah brownies yang tersebar di atas meja besar BEM universitas.
" Iya, anak desain interior ini."
" Cie... Keren anak seni euy, kalau ayah?"
" Ya... Anak sains dan tekno. Geng Kaku dan gak lucu."
" Hahahaha......" Sontak mereka tertawa bareng.
" Untung Daniel nurun kecerdasannya doang." Tutur bunda.
"Kalau mama lulusan mana? Tanya Juan yang mulutnya penuh makanan.
" Untar, anak hukum." ucap singkat mama yang sedang menikmati batagornya.
" Waaah, emak-emak aku keren-keren euy." Teriak Raja.
Sisilia mencari sosok Mumtaz sejak mama dan bunda memasuki ruang BEM yang ternyata tidak ada, mama menghampiri sisilia " kamu anak BEM juga?" Tanya mama yang duduk di samping Sisilia.
" Iya, ma. Kak Mumtaz gak ikut?"
" Lagi ada kuliah katanya, tapi entar gabung kok. Kita mau menikmati pema, mau gabung?"
" Tentu." jawab Sisilia dengan wajah senang.
" Ruang BEM nya keren banget, dulu buluk. Lebih luas ya kayaknya." Ucapan bunda diangguki anak BEM dengan tertib.
Tiba-tiba Riana menghampiri mama dan menyalaminya yang diterima mama biasa saja sedangkan para anak BEM langsung terdiam tegang.
Bunda langsung mendelik tajam " apa kamu Riana?" Tanya bunda langsung
" Iya, Tante." ucap lembut Riana.
" Kenapa hanya menyalami mama, sedangkan kepada saya tidak? Lagi cari perhatian ya!?" Sarkas bunda.
Riana bergerak tak nyaman.
" Lain kali kalau suka seseorang jangan agresif, nyusahin. apalagi sampai lapor polisi, gak elit." Telak bunda.
ucapan yang sukses membuat Riana mati kutu.
" Udah Bun, calon menantu aku-nya aja santai kok." Ucap mama melirik Sisilia yang disambut ledekan oleh anak BEM lain.
Riana merengut kecewa mendengar ucapan mama.
" Anjay, ada yang udah diakui mantu." Teriak Dista hiperbola.
" Ada yang ngiri, Bun" ujar Juan yang sibuk makan cakue.
" Hihhihi....sini mantunya bunda, mana yang katanya kemarin ganggu kamu mau bunda bikin rujak." Bunda merangkul Dista dengan mata bunda memindai satu persatu anak BEM perempuan yang langsung pada gugup terutama Divanya dan kawan-kawan.
" Ma, bun. Ayo shalat dulu baru ke bazar." Tiba-tiba Mumtaz menghampiri mama, mencium kening mamanya sekilas melirik Sisilia yang tertunduk.
Anak BEM perempuan menjerit tertahan melihat sisi manis Mumtaz.
" kamu mau ikut?" Tanya Mumtaz ke Sisilia yang masih berdiri di tempatnya.
" Iya." Sepanjang jalan ke mushala Sisilia memeluk tangan Mumtaz seakan ingin mengurai emosi yang dirasanya.
" Hei, kenapa? Ada yang ganggu kamu?" Tanya Mumtaz khawatir, Sisilia menggelengkan kepala.
Lewat matanya dia menatap Sisilia sendu.
Suasana bazar yang ramai plus live musik dari mahasiswa mengundang orang untuk berdatangan.
" Ma, Bun. Duduk sini, kalau mau makan apa tinggal nyuruh para anak. Lia, Ita, cassy. Kalian temenin para emak jangan kemana-mana entar tenggelam diantara orang tinggi lagi." Ujar Daniel menyiapkan meja buat mereka, dan duduk di samping Dista.
" Kak ala mana?" Tanya mama sambil tengok kanan-kiri.
" Lagi keliling bareng Radit."
" Ck, itu kakinya masih sakit loh."
" Tenang, Radit itu pelayan bagi perempuan cantik."
Mama memperhatikan Sisilia yang celingak-celinguk ke stand jajanan.
" Lia, mau beli apa?" Tanya mama mendekatkan diri ke Sisilia.
" Itu mah, pengen sosis bakar sama coklat bubble, kayaknya enak deh."
" Mumtaz!" Panggil mama ke Mumtaz yang sedang mengobrol dengan para temannya tak jauh dari meja mama.
" Kamu ini, ngajak orang tapi dianggurin." Omel mama.
" Maaf, itu lagi diskusi soal panggung besarnya. Mama mau apa?"
__ADS_1
" Ini Sisilia pengen beli sosis bakar, anterin sana."
" Eh, enggak usah ma." Tolak Sisilia gak enak hati.
" ayo, maaf ya. Cuekin kamu." Mumtaz menarik lembut tangan Sisilia.
" Ada yang mau pesan lagi gak?" tanya Mumtaz ke penghuni meja.
" mau, entar di wa." Jawab Dista yang masih sibuk dengan ciloknya.
" Kamu kenapa gak manggil aku kalau mau lihat-lihat?" Mumtaz berjalan agak dibelakang Sisilia menjaga Sisilia dari senggolan orang.
Ini yang Sisilia suka dari kekasihnya, dia selalu merasa aman sekaligus nyaman jalan bareng dengannya
" Sini, jangan jauh-jauh. Sekarang tuh menjelang akhir pekan jadi rame." Mumtaz menempatkan Sisilia di depannya ketika mengantri sosis.
" Kak."
" Hmm." Mumtaz sedikit mencondongkan kepalanya ke Sisilia karena suara Sisilia yang tidak jelas.
" Kata bi Ijah, tadi pagi kakak jemput aku?"
Sesaat Mumtaz tidak menjawab, "iya." Jawab Mumtaz singkat sambil mengambil pesanannya.
" Habis beli bubble sekalian beli pesanan yang lain dulu baru ke meja, ya?!" Tawar Mumtaz yang memeriksa ponselnya yang diangguki Sisilia.
" Gak jadi jemput karena dengar omongan mommy ya?!" Tanya Sisilia meragu.
Mumtaz melirik Sisilia, menghembuskan nafas berat," iya."
" Maaf." Ucap Sisilia lesu, Sisilia meremas ujung kemeja Mumtaz seakan takut Mumtaz pergi.
Mumtaz mengernyitkan kening tak paham dengan reaksi Sisilia "Kenapa?"
" Jangan gara-gara ucapan mommy kamu ninggalin aku." Cicit Sisilia.
" Enggak lah." Mumtaz mengarahkan Sisilia ke stand takoyaki pesanan Cassandra.
" Pokoknya kakak tenang aja mommy bakal diam kalau Daddy udah kasih wejangan, mommy kan bucin akut ke Daddy." Ucap Sisilia tegas, Mumtaz tersenyum geli melihat mimik Sisilia.
" Kayak kamu."
" Apanya?"
" Bucinnya "
" Ke siapa?"
" Ke aku!"
" Mana ada?" Elak Sisilia.
" Ada, tadi siapa yang merengek gak mau ditinggalin?"
" Aku gak ngerengek ya!" Sanggah Sisilia salah tingkah.
" Iya gak ngerengek, tapi benar bucinnya kan." Ucap Mumtaz dengan menaik turunkan alisnya.
Sisilia yang keburu jengah mengambil langkah besar meninggalkan Mumtaz " issh, apa sih, gak ada ya aku bucin." Mumtaz terkekeh.
Mumtaz menarik tangan Sisilia " gengsi, iya gak bucin cuma cinta benget pake teramat sangat. Udah no debat! hibur aku napa camer aku lagi raguin akhlak aku ini sakitnya tu di perut." Jawab ngawur Mumtaz.
Sislia menggeplak gemas punggung Mumtaz . " Alay banget, dah." Cengirnya.
" Astagfirullah, banyak amat ini makanan!" Ucap kaget Mumtaz melihat makanan dan minuman yang memenuhi meja panjang mereka.
" Mama sama bunda ditraktir para anak." Ujar mama sumringah.
" Baik-kan kita." Ucap Radit sombong.
" Iya-in supaya Radit dekat jodohnya." Jawab Mumtaz santai menepuk bahu Raja agar berdiri dari kursinya diganti dengan Sisilia yang duduk, sementara mumtaz berdiri di samping Sisilia karena tidak kebagian kursi.
" Ma!" Panggil Zayin yang mencium kening mama dan kak Zahra, Zayin baru muncul bergabung dengan mereka.
" Darimana Lo baru nongol?" Raja menawarkan minumannya ke Zayin yang diserobot oleh Adgar.
" Habis kuliah lah, sumpah tu dosen gak ngasih Dispen waktu sama sekali selama Pema." Rutuk Zayin.
" Ma, Bun. Abis ini maghriban dulu ya, baru lanjut." Ujar Ibnu.
" Atur ajalah kita mah ngikut." Ucap mama yang masih setia dengan cireng merconnya.
\*\*\*\*
Semakin larut bazar semakin ramai, saatnya penampilan puncak malam ini dengan penyanyi terkenal dengan musik beat membawakan lagu 'astaga.' dilanjut " amburadul."
Sontak jeritan dan teriakan membahana para pengunjung yang berlari menuju area panggung.
" Itu Ruth Sahanaya bukan sih?" Tanya mama ke bunda.
" Kayaknya, kita gak boleh lewatin." Para emak itu beranjak menuju panggung bergabung dengan penonton lain yang membuat para anak panik takut terjadi yang tak diinginkan karena membludaknya penonton.
" Aaahh, Pema sekarang keren banget, Ruth, *i Miss you*!" Teriak bunda asik menari mengikuti alunan musik yang makin nge-beat
" Ruth, diva koh selamanya." Jerit mama tak kalah dari bunda.
Zahra yang tak mengira duo emak mode rockernya on mundur perlahan.
" Kenapa kak?"
" Malo koe!" Ucap tengsin Zahra, Zayin terkikik.
" Goyang kuy, mumpung mama sibuk sama brondong." Ujar Zahra yang melirik mamanya yang sudah menari bersama Mumtaz dan para sahabat untuk bergoyang.
Zayin menarik tangan Zahra ikut bergoyang mengikuti musik seperti penonton lainnya.
ketika Musik berubah menjadi selow dengan " kaulah segalanya" dilantunkan.
Mama menghampiri mereka ingin berganti partner.
" Yin, ganti. Bosen sama Aa Mumuy badannya kaku gak bisa goyang." Keluh mama menarik paksa tangan Zayin yang memeluk Zahra.
" Gak bisa gitu doang ma, istiqamah lah, terima nasib." Protes Zahra yang menarik tangan Zayin yang bebas.
Mumtaz merotasikan matanya mendengar keluhan mamanya, sementara Zayin tersenyum menang ke arah Mumtaz yang mencebik.
" Ih, lepas. Kamu sama Mumuy sana." Mama memukul-mukul tangan Zahra yang memegangi tangan Zayin sampai terlepas.
Seperti takut direbut kembali oleh Zahra, mama langsung memeluk pinggang Zayin.
Para anak yang berformasi mengelilingi mereka layaknya bodyguard menggeleng kepala.
" Dek."
__ADS_1
" Hemm"
" Kangen ayah." Mama merengsek masuk ke dada Zayin yang lebih mengeratkan pelukannya.
" Jangan bikin Ayin nangis, ma." Ucap Zayin mencium pucuk kepala mama."
" Waktu PDKT, ini lagu kebangsaan kita dek. Jadi pengen ketemu ayah." Lirih mama pada kalimat terakhir.
" Mama jangan ngomong begitu." Zayin lebih mengeratkan pelukannya.
ketika lagu " andai kau datang kembali" mengudara mama menangis.
Mumtaz yang cemburu melihat kemesraan Zayin dan mama menyela mereka.
" Ma, sini. lelaki macam apa kamu bikin wanitanya menangis." cibir Mumtaz Melepas paksa pelukan Zayin, Zayin berdecak sebal.
Mumtaz menjauhkan mama dari Zayin, dan membawa mama ke dalam pelukannya.
" A, kalau mama menyusul ayah kamu harus menjadi tonggak bagi saudara kamu." mama menengadahkan wajah menatap Mumtaz yang lebih tinggi darinya.
" mama masih lama bersama kami, mama harus lihat para cucu mama." Mumtaz membawa mama kembali dalam pelukannya dia mencium pucuk kepala mama dengan dalam dan khidmat, dan menyandarkan kepalanya di atas kepala mama.
Zahra yang ditinggal Mumtaz dengan sadis hanya mampu merotasikan mata, jengah lihat aksi cemburu antara dua lelaki tersebut yang selalu berakhir saling rebut atas diri mamanya. " Selalu begini, SEBAL!!" batinnya.
" Ayin, sini."
" gak mau, mau pantengin Aa mumuy jangan sampe Ayin kalah saing." Zayin menatap mama dan Mumtaz dengan mata memicing.
" Astaga, cuma berhadapan sama kalian wanita yang masih klimis kayak aku insecure sama wanita berumur." dumel Zahra menendang kaki Zayin.
Dia membalikan tubuh yang langsung bertabrakan dengan dada bidang seseorang.
Terkejut ketika menyadari siapa yang ditabraknya.
" Hai,...maaf!!! Ucap Hito tersenyum, membalikan tubuh Zahra menghadap panggung lagi dan berdiri di belakangnya dengan kedua tangan menahan bahu Zahra.
" Kangennn!!! Ucap lembut Hito tepat di sisi telinga Zahra.
" Juga!!!" Meski pelan masih terdengar oleh Hito, Hito mencium pucuk kepala Zahra lama dan syahdu.
\*\*\*\*\*
Papi menendang keras box yang berisi undangan sampai isinya berhamburan.
" Demi tuhan, mereka sudah menikah, mi. Hormati pilihan Alfa." Ucap papi menahan emosi.
" Itu bukan urusan mami, yang mami mau Afa menikah dengan Adinda."
" Mi, kamu buang berlian hanya untuk sampah kotor?"
" Jaga ucapan papi." Bentak mami.
" Dia pelacur."
" Dia sudah taubat, Pi. Itu juga karena terpaksa sewaktu mereka belum seperti sekarang."
" Mi, dia hiperseksual, sampai sekarang dia masih aktif melakukan \*\*\* dengan sembarang pria yang mampu membayarnya."
" Papi jangan percaya gosip. Ini udah final, dia pilihan mami tak peduli Afa sudah menikah atau belum, mami pastikan dia akan menjadi menantu mami."
" Kalau begitu kenapa tidak kau bunuh saja Afa!?" Bentak balik papi.
" Apa yang kau lakukan akan menghancurkan anakmu."
" Aku hanya tak ingin Tia menjadi menantuku?" Hardik mami.
" Apa alasannya?"
Mami terdiam enggan menjawab pertanyaan papi.
" Sayang sekali rencanamu akan gagal, karena Alfa akan memperpanjang bulan madunya." Papi tersenyum smirk mencemooh mami.
Kesal dengan sikap arogan isterinya papi meninggalkan mami menuju ruang kerjanya.
Mami tertegun, dengan panik dia segera menghubungi Alfa.
\*\*\*\*\*\*
" Batalkan, kalian tidak lihat apa yang terjadi kepada Husain karena menantang Mumtaz." Ujar Pramono melempar surat undangan ke atas meja di ruang kerja Rudi Aloya.
" Gak bisa, itu Husain. Lain cerita dengan Atma Madina." Ucap Celine.
" Mumtaz tidak takut dengan siapapun, dia petinggi RaHasiYa." Terang Brotosedjo.
" Kenapa sih kalian pada takut kepada RaHasiYa? Apa hebatnya mereka?" Cemooh Celine.
" Tentu kamu tidak tahu tentang mereka, yang kamu tahu hanya duit saja." Sarkas Alexander.
" Dengar, kalau kamu teruskan rencana ini, kamu bisa bangkrut. Husain terdepak dari top 5, mereka sekarang terlempar di top 20. Itu maha dahsyatnya RaHasiYa." Lanjut Brotosedjo
" Kalian belum ada apa-apanya, dengan mudah RaHasiYa menghancurkan kalian." Lanjut Alexander.
" Kalian meremehkan kami?" Tantang Rudi.
" Bukan, tapi realita saja. Kalian tidak termasuk top 40. Itu ibaratnya ikan teri lawan hiu." Jelas Brotosedjo.
" Di bisnis kalian kami inves banyak, kami tidak mau semuanya lenyap hanya karena ambisi konyol ini." Pramono memberi alasan.
" Saya sudah mencari tahu tentang empat pemuda itu." Brotosedjo melempar amplop besar cokelat ke atas meja.
" Kesimpulannya, jangan bermain dengan mereka atau kita lenyap."
" Ini Sandra Atma Madina yang ingin." Celine masih berusaha membujuk.
" kau yang memprovokasi. Seorang Atma Madina tidak akan mungkin mengambil menantu seorang penghibur Surga Duniawi." ujar Pramono.
" Atma Madina bukan Sandra pemegang kendalinya, tetapi Aryan. Apa kau sudah mendapat restu dari dia?"tanya Brotosedjo.
Celine terdiam, teringat sikap penolakan secara terang-terangan dari sang pengendali.
" Saya asumsikan dari keterdiaman, kau tidak memegang restu dari Aryan, maka hentikan semuanya." Desak pramono.
" Jangan." Rudi menginterupsi.
" Jangan kamu hentikan, saya punya titik lemah Atma Madina yang bisa memaksa seorang Alfaska menuruti pernikahan ini." Rudi tersenyum licik.
" Terserah kalau kalian tidak mendengarkan ku, kalau rencana kalian gagal kau harus ganti kerugian kami dengan tubuh para wanita mu." Ancam Brotosedjo
Celine dan Fiona tersentak ketakutan.
" Terserah, yang pasti ini tidak akan gagal." Rudi meyakinkan.
^^^**mulai ke konflik keluarga gengs...^^^
^^^jangan lupa like, komentar, dan votenya...^^^
__ADS_1
^^^terima kasih, love you all**.^^^