Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
Bab 137. Ikatan Bathin,.


__ADS_3

Zayin menyusuri goa dengan sikap siap membidik, mata terlatihnya fokus mengawasi sekitaran yang mereka lewati mengarah ke kiri dan kanan.


Sementara Jeno yang dibelakangnya memotret setiap benda yang dilihatnya, tiga truk mengangkut persenja*taan, bo-m rakitan, dan beberapa jenis nar-koba, lalu ia menempelkan tanah lempung pada bawah body truk, dan mengubur bom ke tanah.


Dilanjut, tiga peti berisi emas batangan, lima peti gra.nat, dua puluh peti peluru, tiga belas motor trial, sepuluh mobil Jeep.


Tik...


Jeno menginjak sesuatu, perasaannya tidak nyaman.


" Jangan bergerak, Lo nginjek ranjau." Zayin berjongkok, memeriksa ranjau.


 


" Beb,..." Panggil William. Bersikap sama dengan Zayin begitu memasuki goa.


" Yo...play..." Sahut Zayin kuat.


William dan Bayu berjalan mendekati arah suara Zayin.


" Lapor, beb."


" Bang..."


Jeno menyebutkan penemuan mereka secara rinci.


William berbalik badan sigap memastikan keamanan sekitaran, Bayu turut berjongkok disebelah Zayin, " Lo urus, Bul. Gue sama play periksa ke depan dulu."


" Hmm." Bayu langsung berkonsentrasi.


Dua orang itu meneruskan memeriksa goa tersebut.


" Lo jangan gerak, bang."


" Gue pegal, efek gugup."


" Salah sendiri." Jeno mendengkus atas respon tidak bersimpati dari Bayu.


Dua personil berdiskusi akan langkah selanjutnya.


" Lorong ini kelihatannya masih jauh, fokus kita gak di sini, jadi gue putusin kita sampai sini aja, dilanjut oleh bang kapten." Seru Zayin.


William mengangguk menyetujui.


5 menit kemudian Jeno dan Bayu menghampiri mereka.


" Kita balik. Bang, gimana?"


Jeno mengangkat satu jempolnya sambil menghampiri mereka." sip, disetiap benda, lempung dan bom."


" Gak perlu yang berdaya ledak tinggi, cukup pemicu saja, toh isinya bakal meledakkan diri sendiri." Ujar William.


" Iya, paham."


" Kita keluar."


Begitu mereka tiba di luar sudah ada Arvan, dan beberapa anggota kopassus lain beserta kelompoknya.


zayin melirik kepada para penebang yang diam tidak berkutik, karena ketakutan.


Dua anggota kopa-ssus dan kelompoknya sedang berpencar menyisiri area sekitar, sedang yang lain melakukan kegiatannya sendiri.


Mereka menghampiri Arvan yang sedang berbincang dengan petinggi Gaunzaga, dan RaHasiYa.


Dikaki Daniel sudah ada drone yang tadi diterbangkan Zayin.


Zayin berasumsi mereka sedang mendiskusikan hasil tangkapan kamera drone.


" Sudah menanyai mereka juga?"Tunjuk Zayin pada para penebang, Arvan mengangguk


" Pak, ada sisir di muka jalan masuk." Seru Leo, yang berlari menghampiri Hito 


" Ini masih baru." Ucapnya.


Satu kopa-ssus ditugasi menindak lanjutinya.


" Bang, lihat ni." Zayin memberikan gambar hasil jepretan Jeno pada Arvan.


Iris mata Mumtaz melirik Jeno, yang diangguki tipis oleh Jeno. Sudah disepakati oleh anak RaHasiYa, hasil penyelidikan seluruh misi akan terlebih dahulu dikirim ke pusat data perusahaan sebelum diberikan ke pihak lain.


Itulah mengapa seseorang bisa mengirim gambar kamp sebelumnya ke para wartawan.


" Ini sepertinya pusat penyimpanan mereka." seru William yang paham kalau Zayin tidak akan memberi keterangan lanjutan.


Setelah mengamati gambar Jeno, Arvan mengangguk, " Oke, tiga personil kopa-ssus akan menyusuri goa itu."


tiga kopassus yang ditugasi langsung bergerak begitu mendapat titah dari atasannya.


Brem..brem...


Kelompok Jarud yang tiba terakhir, begitu dekat, dia langsung ke Mumtaz yang berdiri tak jauh dari Zayin.


" Muy, lihat..." Jarud berjongkok, dia mengeluarkan benda kecil yang berceceran di jalan yang mereka lewati ke atas tanah.


Mereka serempak turut berjongkok


" Ini yang bikin kita terlambat. Barang ini berserakan di jalan kamp nomor lima, dan beberapa di dekat semak belukar dekat lokasi kamp." Ujar Jarud.


Mereka memeriksa satu persatu benda tersebut, sampai kepada pin kecil berlogo rumah sakit Atma Madina.


Tubuh Hito, Zayin dan petinggi RaHasiYa menegang.


" Si-@l, kita gak bisa membuang waktu lagi, setiap menitnya berharga." Kesal Alfaska.


" Kamu,..." Suara tegas Zayin membuyarkan kegusaran yang lain.


Tunjuk Zayin tegas pada penebang muda.


" Siapa namamu?" 


" Miftah, pak." 


" Kamu ikut kami, jadi penunjuk jalan kami."


" Tapi,..."


" Jangan takut kehilangan pekerjaan, lihat beliau." Tunjuknya pada Hito dan Dominiaz, dan Samudra.


" Mereka para pengusaha, kalau kamu dipecat, saya berjanji kamu akan berkerja dengan mereka." Seru Zayin seenak diri.


Miftah menghela nafas lega, " baiklah. Tapi sebaiknya kita buat tongkat, jalannya sangat terjal, kemarin hujan, jadi licin juga."


GUK....GUK...GUK...!!!


GUK...GUK...GUK...!!!


Suara robot bagai alarm bahaya bagi mereka. Perasan mereka semakin dilanda kecemasan akut.


" Oke, berkumpul." Seru Arvan, semuanya merapat.


" Melihat hasil tangkapan drone, jelas jalan hanya untuk satu arah dan sangat sempit, karena di sisinya ada jurang jadi tidak bisa bawa personil banyak. Para petinggi Gaunzaga, dan RaHasiYa bisa memilih siap yang ikut serta atau yang jaga di sini."


Mereka langsung berunding, selain kemampuan anak Kalimantan, tidak sulit bagi mereka mengenal kemampuan bawahannya Maka Derry dimintai bantuannya untuk memilih.


Arvan menyebutkan nama yang disepakati para petinggi, " Empat anggota kopa*ssus akan ikut serta termasuk saya. Sisanya kalian selalu bersiaga ditempat."


" SIAP..." Seru serempak mereka.


Para penebang merinding mendengar  semangat yang menggelegar ditengah hutan.


" Oke, hari menjelang sore, waktu semakin sempit."


Personil-personil yang akan turut naik, segera mempersiapkan diri.


Pukul 16.39 waktu setempat, mereka mulai bergerak memasuki jalan sempit sesuai arahan Miftah dan anak buah Derry.


Dipijakan pertama, sudah terasa tekstur kelicinan jalan berlumpur ini.



"*Finally*,..." Empat orang terakhir yang menandu Zahra tergeletak di tanah begitu mereka tiba di kamp mereka.



Nafas mereka ngos-ngosan, sedangkan Zahra tertidur dengan posisi kepala agak menyamping ke kanan.



Penculik bertatto, Eduardo berdiri menjulang di hadapan Zahra, menelisik secara perlahan dari kaki terus keatas dan jatuh pada kulit leher kuning langsat yang terlihat dari kelonggaran kerah Hoodie, berhasil memunculkan naluri kelelakiannya.



" Sh\*\*\*, gue butuh pele-pasan. Sudah lama gue gak sama wanita." Gerutunya, sesekali lirikan matanya kembali tertuju pada bagian da-da, leher, dan bi-bir ranum Zahra.



Pikiran mesu\*mnya mengambil alih otaknya, hal itu terpantau oleh Nacho.



" Nacho..." Teriak Eduardo.



" Iya, tuan." Nacho tergelagapan.



" Kau bawa wanita ini ke tenda belakang." Titahnya.



" Eh,...tapi..tuan..."



" Apa?" Bentaknya.



" I..itu tenda tempat penyimpanan barang berharga kita." Dalih Nacho.



" Lalu?" 



" Ba.. bagaimana kalau dia membocorkannya ketika para penolongnya datang "



" Hahahaha.... kalaupun mereka datang, kita sudah semakin menjauh, kau lihat sendiri bagaimana sulitnya jalan tempuh kemari." Pongah Eduardo.



" Ta..tapi..."


__ADS_1


" Laksanakan, apa kau berani membantahku?" Hardiknya.



Nacho gugup, dia hanya mencari alibi agar Zahra tidak dibawa kesana setelah melihat senyum mesum Eduardo.



" Ti..tidak...saya akan bawa dia kesana."



Setelah menyelimutinya, Nacho menggendong Zahra ala bridal ke tempat yang ditunjuk.



" Bodoh, dikasih hidangan lezat, malah dibungkus." Cerca Eduardo.



Di dalam tenda, Nacho menidurkan Zahra di atas selimut tebal yang sudah dia atur, udara mulai terasa dingin.



" To...longh..."



" Nona,..."



Zahra mengerjap-ngerjapkan mata menyesuaikan dengan cahaya yang ada.



" Nacho..."



" Apa anda merasakan sakit?"



" Nacho, oleh saya mint air panas seperti yang kemarin."



" Tentu, kak...Maaf, saya lancang, saya tidak bermaksud..."



" Panggil saya kakak, jika kamu ingin."



" Boleh?"



" Tentu."



Air muka Nacho berubah sumringah, dia senang ada seseorang yang mau menjadi keluarganya kembali, setelah seluruh keluarga kandungnya dibunuh oleh anak buah kartel besar.



" Nacho, tolong ambilkan aspirin di tas saya."



" Tapi kakak harus makan dahulu, saya akan memberi kakak makan, dan air panas, secepatnya."



Nacho bergegas keluar dari tenda mengarah ke dapur Yanga Endah menyiapkan makan malam.



\*\*\*\*\*.



Julia menggedor-gedor pintu kamar Tamara, " Tamara, kamu bantu saya masak untuk makan malam."



Meski malas, Tamara keluar dari kamar dengan wajah cemberut sok imut.



" Kamu cuma numpang, tahu diri untuk membantu." 



" Kenapa Tante masak sendiri, bukan mbaknya."



" Urusan saya, kamu kalau gak mau bantu, jangan makan, ya!"



Mata Tamara membola, " yang benar tadi pagi dia tidak sarapan, makan siang, dia ketiduran, kalau sekarang dia tidak makan malam, mampuslah dia." bathinnya.




Tidak ada jawaban, Damian melangkah ke ruang santai dimana istrinya selalu menghabiskan waktu selama menunggu dirinya pulang dari kantor, ternyata kosong.



Lantas mereka berjalan ke arah dapur, di sana mereka melihat Julia yang anteng di depan kompor, dengan Tamara yang sibuk wara-wiri ke sekeliling dapur mengikuti perintah Julia.



" Sayang, aku pulang." Damian mengecup kening dan bibir Julia sekilas.



" Kamu pulang, dek." Satu tangan Julia mengusap rambut Adgar yang berantakan.



Julia memeluk tubuh Adgar yang terlihat lesu.



" Mam, aku langsung ke kamar ya, capek banget."



" Adgar, mau aku bawain makan?" Tamara memulai aksi pendekatannya, yang tidak diacuhkan oleh Adgar, bahkan melihatnya saja tidak



Damian dan Julia saling berpelukan guna menyembunyikan tawa mereka.



" Mbak, tolong teruskan masaknya, mbak bisa menyuruh dia kalau butuh sesuatu." Tunjuk Julia pada Tamara yang bermuka kucel.



" Iya, Nya."



Damian merangkul pinggang Julia berjalan ke kamarnya, Tamara menggigit ujung celemeknya dengan kesal.



Melihat majikannya yang masih romantis, membuat mbak tersenyum hangat.



Setelah beristirahat sejenak, Sri bergabung dengan anggota keluarga lainnya yang sedang berkumpul dengan beberapa warga di teras.


Matanya yang menyendu memandangi rumah Aida yang berisik.


" Apa mereka tidak mengganggu kalian?" tanya Sri.


" Tidak, bu. Justru ada mereka kami merasa sangat aman." Ujar salah satu bapak berkepala botak.


" Del, pesan makanan untuk mereka. Makanan apa yang mereka sukai?"


" Banyak. pizza, burger, tongseng apapun itu, sate..."


" Pizza saja. Sepertinya mereka sedang menonton tv." Potong Fatio.


Eidelweis membuka aplikasi toko pizza.


" Sudah, 25 box jumbo, buat di sini dan para bapak juga."


" Apa orang tua mereka tidak mencari mereka?" Tanya Sri.


" Sudah izin, para orang tua tahu apa yang sedang terjadi, biasanya mereka ada yang membawa makanan." Jawab Heru.


" Mereka begitu peduli pada keluarga Aida." Renung Sri.


" Keluarga ibu Aida membawa dampak baik bagi wilayah sini. Dulu, di sini termasuk tempat dengan aksi premanisme yang tinggi."


" Begal, palak, pencurian, mabuk-mabukan, bahkan pelecehan jadi makanan sehari-hari. Para warga sebenarnya resah, bahkan sudah melapor pada polisi, tetapi hah..begitu."


" Suatu hari keberanian Mumtaz membela korban dan mengalahkan para preman menjadi titik awal perlawanan terhadap premanisme oleh kaum muda." Tutur bapak yang lain.


" Sekarang, dipimpin ketua remaja masjid setiap hari para pemuda bergantian untuk ronda. Semua itu tidak lepas dari bimbingan Mumtaz dan para sahabatnya." Tukas pak RT.


" Seperti yang nyonya lihat, wilayah ini lelangan menengah kebawah, walaupun ada yang punya usaha, masih terbilang remehan bagi Hartadraja. Mumtaz dan para sahabatnya mengajak pemuda disini menjadi enterpreneur."


" Meski masih terbilang kecil-kecilan, tapi diantara mereka sudah banyak yang punya usaha sendiri padahal masih sekolah, Akbar juga turut serta membantu." seru bapak bersarung.


Para klan Hartadraja terkejut, mereka tidak menduganya.


" Paksaan Alfa." sahutnya santai.


" Kok gak cerita?" Nadya bertanya.


" Gak seberapa dibanding yang lain, abang hanya bantu-bantu doang. kebetulan paham tentang bisnis."


" Para pemuda yang aktif, menularkannya pada para ibu-ibunya, berpusat di kediaman Aida, mereka membuat kue makanan lain, kini mereka aktif membantu perekonomian keluarga meski masih dengan gibahannya."


Hal itu disambut tawa oleh semuanya.


Tiba-tiba terdengar suara teriakan kesenangan yang susul menyusul dari rumah Aida.


" Permisi, pizza atas nama Eidelweis." sahut seorang pengemudi taxi online.

__ADS_1


" Iya, benar." Akbar menerima pizzanya tersebut, lalu memberi tip besar kepadanya.


" Kak Edel, terima kasih pizzanya, love, love, semuanya buat Kakak..." Teriak Raja.


" Kak Edel yang Ter the best." Timpal Juan.


Dan pujian lainnya terlontar dengan semangat dari yang lain.


Heru yang tidak suka dengan  respon berlebihan dari para hidung belang pada istrinya itu, melangkah ke luar gerbang.


" Bisa ucapan terima kasihnya jangan sambil menggombal?" Tudingnya kesal.


Para pemuda itu terdiam, saling sikut.


" Itu enggak ngegombal Om, kami hanya memuji kebaikan kak Edel."


" Jangan memuji perempuan yang bersuami."


" Bukan memuji, tapi mengapresiasi, Om." ucap Radit.


" Jangan berlebih, cukup bilang Terima kasih. Udah!!"


" Siap, Om." Ujar mereka serempak.


" Siap om, siap, om. Tapi tetap aja diulang." Gerutunya kembali ke teras rumah."


" Kamu masih aja cemburu." Ujar Eidelweis mengelus-elus lengan suaminya."


" Namanya punya istri cantik, kita harus tetap waspada ya, pak Heru." ujar bapak kepala botak.


" Betul itu, pak. Meleng dikit, digondol orang punya kita."


" Dulu aja dianggurin. Sekarang dibucinin." Celoteh Damar.


Semuanya terbahak-bahak. Heru diam mendengkus.


Bagi Sri, setelah mengalami penculikan, membuka paradigma baru tentang banyak hal, termasuk menerima seseorang dengan tulus.


******


Mumtaz dan pasukannya hanya berhenti untuk shalat Maghrib dan mengisi perut sekadarnya, mereka memasang kaca mata penglihatan malam dengan teknologi ENVG-B keluaran terbaru RaHasiYa, dengan kacamata ini mereka bisa melihat dan mampu membedakan mana manusia atau senjata, atau benda berbahaya lainnya, atau objek lainya baik yang bergerak maupun tidak bergerak.


" Wow, keren. Baru negara maju yang punya ini, akhirnya bisa merasakannya." Ucap Arvan.


" Ini produk kalian?" Tanya Dominiaz.


" Masih kolab sama luar. Ini tersedia diseluruh ransel kalian." Seru Daniel.


" Pak Miftah. Ini.." Alfaska menyodorkan kacamata tersebut.


Begitu menggunakannya, Miftah ternganga takjub, berkali-kali mengucap kata "WOW"


" Birawa memang yang ter...di dunia militer." Seru Samudra


" Ayo, kita lanjut, jangan berpencar. Jalan sama lurus dengan yang di depannya." Seru Arvan.


Kembali mereka bergerak. Ditengah awan yang menghitam. Kesunyian hutan semakin mencekam.


Empat jam sudah mereka berjalan, di permukaan jalan yang semakin menyempit Arvan memutuskan untuk berhenti sejenak.


Arvan menyenter jalan di depan mereka." Sebaiknya kita bermalam di sini, jalan itu sangat berbahaya. dilalui siang hari saja masih berbahaya, apalagi malam begini."


Zayin dan Mumtaz menggeram dalam hati, perasaan mereka sangat resah. seakan-akan akan terjadi sesuatu dengan kakaknya.


" Kalian bisa beristirahat, tetapi izinkan saya untuk lanjut." ucap Zayin nyaring.


" Zayin..."


" Kapt, ini ikatan bathin antar saudara, saya bisa merasakan kakak saya tidak baik-baik saja." suara Zayin penuh permohonan.


" Tapi berbahaya, Yin."


" Meski saya terbilang masih junior, tapi anda tahu kapt, kalau saya berkali-kali tutur serta dalam misi rahasia." keuekuh Zayin.


" Zayin, saya paham kamu mengakhwatirkan kakak mu, tetapi..."


" Kapt, anda tahu pasti perasaan menyesal bagaimana yang akan saya rasakan jika saya mendapati bahwa saya terlambat menyelamatkan orang yang kita sayangi, saya lebih memilih mempertaruhkan nyawa saya, daripada berdiam diri."


Ya, Arvan sangat tahu hal itu, tragedi istrinya yang hendak diper-kosa oleh beberapa preman yang mabuk meski sedang hamil besar sangat membekas diingatannya.


Mereka sedang bertelponan ketika istrinya menjerit karena ulah preman, Arvan yang masih terhubung mempercepat laju motornya yang saat itu ingin menjemput sang istri dari rumah temannya.


Dia mendengar semua lirihan pilu istrinya yang penuh permintaan pertolongan ditengah isakan tangisan dan tawa para preman.


Beruntung ada Zayin, dan Bayu yang melihatnya, mereka menyelematkan istri, dan bayi dalam kandungannya yang harus lahir terlebih dahulu dari jadwal kelahirannya yang diperkirakan dokter.


" Sekali lagi, ini perasaan ikatan bathin kami. Saya mohon, saya berjanji, jika terjadi sesuatu dengan saya, saya melepaskan anda untuk untuk bertanggungjawab. tapi saya mohon izinkan saya." Suara Zayin bergetar, mereka tahu Zayin menahan tangisnya. tapi mereka tidak tahu air mata Zayin sudah luruh dibalik kacamatanya.


Suasana hening, tidak ada yang berani bicara, suara pilu Zayin menohok hati nurani mereka.


Mendengar penuturan Zayin mengenai perasaannya, hati Hito ketar-ketir semakin menggila tidak terkendali, kekhawatiran akan Zahra semakin membuncah.


" Saya kakaknya, saya akan menemaninya, dan bertanggung jawab atas dirinya." suara berat nan tenang milik Mumtaz membuat yang lain merinding.


Dalam momen seperti ini, wibawa Mumtaz sebagai petinggi perusahaan ternama tidak terbantahkan.


" Kamu sipil,..."


" Saya terlatih. meski tidak sebaik anda."


" Setiap libur kuliah, mainan dia adalah berkelana dari satu hutan ke hutan yang lain dengan seorang pasukan elit angkatan darat sebagai mentor." Ibnu memberi informasi.


Kembali suasana senyap, belum ada jawaban dari Arvan.


*****


Apa yang dirasakan oleh Zayin dan Mumtaz begitu juga dirasakan oleh Tia, sudah 30 menit dari pukul 01.00 dini hari, namun dia belum bisa tidur.


Malam ini mereka menginap di rumah Birawa, setelah kemarin mereka menginap di rumah Pradapta.


Hal ini dilakukan untuk menjauhkan Cassandra dari Tamara.


Hatinya merasakan keresahan maha dahsyat, ia mondar-mandir di dalam kamar Mumtaz yang terdapat di rumah Birawa.


" Ya,...tidur." suara serak Sisilia menginterupsi langkah Tia.


" Gak bisa, gue juga gak paham kenapa malam ini sulit tidur. Gue yakin Aa Mumuy dan Aa Ayin ditambah orang-orang hebat lainnya yang membantu, mereka pasti bisa menyelamatkan kak Ala, tetapi hati gue...cemas akan sesuatu."


" Kalau begitu, shalat, dan berdo'a." ayo, gue temenin. Sisilia beranjak dari ranjangnya menuju kamar mandi.


" Iya, ya..kenapa gak kepikiran. Astagfirullah!" ucapnya.


*****


Berkali-kali Nacho mengintip lewat pentilasi udara tendanya, ia sungguh tidak tenang. Tatapan Eduardo terhadap Zahra tadi sore terus menghantuinya. Walau ia berharap hal buruk tidak terjadi pada Zahra.


Tapi sepertinya tuhan tidak mengabulkan harapannya, ia melihat Eduardo keluar dari tendanya, tengok kiri-kanan seakan memastikan keadaan sekitar sebelum berjalan ke arah tenda dimana Zahra berada.


Hatinya sungguh dag-dig-dug, ketegangan merayapi tubuhnya. Nacho memegang dadanya, mempersiapkan diri melakukan hal yang sudah direncanakannya.


" Pasti berhasil..." meyakinkan dirinya sendiri.


Nacho keluar dari tenda menyelinap berjalan ke kegelapan menghindari pencahayaan dari obor yang terdapat di setiap sudut kamp, dan bejalan di belakang tenda.


Matanya terus memperhatikan Eduardo yang sudah berdiri di depan tenda Zahra, namun beberapa detik kemudian dia berbalik melangkah ke toilet yang terletak persis di sebrang tenda Zahra.


Nacho menghembuskan nafasnya karena lega, ia mengusap-usap dadanya menghilangkan kegugupannya, Namun itu tidak bertahan lama.


Setelah sepuluh menit di dalam toilet, Eduardo kembali berjalan ke tenda Zahra, dia berdiri lama di depannya sebelum secara hati-hati membuka pintu tenda.




Zahra bergerak-gerak tidak nyaman dibalik selimut tebalnya, perutnya yang kram terasa kaku semakin menjadikan tubuhnya semakin sakit.  



Ia meringis sambil meremas kuat perutnya, bahkan ia sampai menekuk lututnya secara sempurna guna mengurangi rasa sakitnya.



Kreett....kreett...



Mata Zahra mengerjap-ngerjap cemas mendengar risleting pintu tenda berputar.



Tampak kaki pria memasuki tendanya, seketika tubuhnya menggigil karena ketakutan.



Sepatu boot hitam itu terus melangkah mendekatinya secara *slow motion* menambah kesan dramatis keadaan hatinya yang sudah ketar-ketir.



Zahra memejamkan matanya seolah-olah dia tertidur, dengan harapan pria itu pergi.



Namun yang ada dapat dia rasakan pria itu berjongkok di depan dirinya yang meringkuk.



" Aku tahu kamu tidak tidur, sayang. Kamu kedinginan bukan? Bagaimana kalau kita saling menghangatkan." Bisiknya sen-sual.



Saat tangannya berada di atas bagian paha Zahra, Zahra menepisnya karena tidak sanggup menahan lebih lama pelecehan tersebut.



" Hahahaha... keberingasanmu sangat menggodaku, saat ini aku yakin go-yanganmu pasti sangat dahsyat."



Tawanya menggelegar, membuat bulu kuduk Zahra meremang waspada.



Zahra menatapnya tajam, semua kesakitannya terlupakan berganti dengan kepanikan atas seringai nakal dari Eduardo.



Tangan Eduardo merayapi pipi Zahra yang langsung ditepisnya, namun gagal karena tangan kiri Eduardo memegangi tangannya, lalu dia mengecupnya.



" lembut, yang lain pasti lebih lembut, ya Tuhan.. aku sudah tidak bisa menahannya lagi, sayang. kau bisa merasakannya."



Eduardo menarik paksa tangan Zahra yang sedari tadi memberontak minta dilepaskan ke arah sela-ngkangannya,...



Ayok ramaikan komen dan like juga hadiah dan votenya....see you..

__ADS_1



review-nya lammma banget padahal udah dari malam....up-nya...


__ADS_2