Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
bab 58. Kecewa


__ADS_3

Sepuluh menit sudah mumtaz berdiri bersandar di depan kelas Sisilia. Hari ini Mumtaz sengaja menjemput gadisnya langsung ke kelasnya, peristiwa kemarin menyadarkannya jika dia sedikit memberi waktu kebersamaan dengan kekasihnya.


Dia tidak bisa setiap malam Minggu mengapeli Sisilia, tidak juga sering mengajak Sisilia jalan selepas kuliah seperti yang lainnya. Hanya mengantar-jemputnya yang dijadikan kuality time mereka.


Waktunya lebih banyak dihabiskan mengurus keluarga, para sahabat, dan RaHasiYa. Mumtaz yakin jika kekasihnya bukan Sisilia hubungan mereka sudah kandas sejak lama.


Terlepas dari marahnya Sisilia kepadanya waktu dia mengantar Riana, Sisilia tidak pernah mengeluh, atau marah besar dengan kesibukannya hanya Omelan dan dumelan kecil karena kejahilan Mumtaz seakan dia memahami tanggung jawab Mumtaz, dan memakluminya.


Tubuh Mumtaz menegak ketika pintu kelas dibuka dan para mahasiswa berhamburan keluar, beberapa orang menatapnya heran, dan kaget mendapati dia di sini, dan berbisik-bisik dengan temannya yang langsung heboh.


Bibirnya tersenyum kala mendapati Sisilia berjalan melewatinya terus sembari sibuk dengan ponselnya tak menyadari kehadirannya, di belakangnya Mumtaz mengikuti langkah Sisilia tanpa menegurnya hanya tersenyum dengan tatapan lembut yang biasa dia berikan untuk Sisilia.


Sisilia terlonjak kaget kala ada tangan yang merebut Tote bag yang berisi keperluan kuliahnya.


" HEI,..." amarah Sisilia terpotong kala melihat mumtaz yang tersenyum jahil padanya.


" Biasa aja muka kagetnya, jangan cantik-cantik." Ucap Mumtaz sembari tertawa kecil.


Sisilia berdecak mendengar gombalan receh Mumtaz.


" Tumben ada di sini." Ucap sisilia sembari merapikan tali tas ranselnya yang sempat melorot


" Jemput pacar, supaya dapat diceritain ke anak cucu kita kalau leluhurnya romantis."


Sisilia tertawa geli " diceritanya selalu dijemput, padahal cuma sekali doang." Cibir Sisilia.


" Merekayasa cerita demi kebaikan tak mengapa, babe." Mumtaz mengerlingkan sebelah matanya jahil.


" Hahahaha, ops..."Sisilia membekap mulutnya kala tawa kerasnya  berhasil menarik perhatian orang-orang yang dilewati mereka.


" Mau langsung pulang atau mampir ke suatu tempat dulu?" Tanya Mumtaz.


" Aku sama yang lain habis ini mau ke salon, kita janjian ngumpul di kantin universitas." Ucap Sisilia yang menarik tangan Mumtaz menuju kantin, karena sudah mulai banyak orang yang memperhatikan mereka, dan dia risih dengan hal itu.




" Mum, hari ini bisa ke rumah gak? Proyek Lo masuk tahap dua, besok gue mesti presentase ada beberapa hal yang gue belum paham. Ucap Fatih yang menarik kursi di seberang Mumtaz dengan senampan makanan.



" Sorry, gue bisanya sore atau malem." Ucap Mumtaz sembari makan nasi capcay.



" Gini aja, hari ini gue ikut kemanapun Lo pergi. Pengen ketemuan sama Lo susahnya minta ampun." Pungkas Fatih yang melanjutkan makan nasi bistik ayamnya, cuek dengan tatapan heran Mumtaz.



" A, Iya pinjem Lia nya dulu ya." Ucap Tia yang datang bareng yang lain.



" Duduk, dan makan dulu." Ucap Mumtaz tegas.



" Entar aja, makan di mall." Balas Tia.



Mumtaz mengangkat kepala, dan bersedekap tangan " Punya duit dari mana bisa makan di mall level Ita. Tanya Mumtaz dengan tatapan menyelidik sembari melirik Dista yang cemberut.



" Kak Jimmy ngasih kartunya ke aku, katanya aku boleh make sesuka hati sama yang lainnya juga."Tia menunjuk kartu debit dari suatu bank terkenal.



Mumtaz mengambil kartu tersebut, dan menyimpannya dalam saku kemejanya.



Mumtaz meletak dompetnya ke atas meja " Aa masih bisa nafkahi kamu, ambil seperlunya, dan pesan makanan." Ucap Mumtaz menyiratkan rasa tidak suka.



" Cih, kayak yang punya duit banyak aja sok mau neraktir." Tia membuka dompet Mumtaz, dan matanya melebar dengan mulut menganga.



Dista, dan yang lain ikut nimbrung melihat isi dompet Mumtaz yang membuat Tia terkaget.



Tia tidak menyangka kakaknya seorang yang kaya, ini terlihat dari isi dompetnya yang hanya berwarna biru dan merah. 



" Ambil lembaran yang biru, Tia." Ujar Mumtaz yang melihat Tia akan mengambil uang seratus ribuan.



Dengan wajah sebal Tia menurutinya setelahnya mengoper dompet ke Cassandra, dan diteruskan ke Dista di bawah pengawasan mumtaz. Ketika Mayang dan Amanda hendak mengambil juga mumtaz menaikan kedua alisnya



" Kamu juga?" Tanya Mumtaz bingung



" Aku ini soulmatenya Tia." Jawab Mayang santai menarik lima puluh ribu, mengoper dompet ke Amanda, dan berlalu.



Mumtaz menatap Amanda bertanya.



" Aku kembar tak identiknya Tia." Jawab asal Amanda menaruh dompet di atas meja, dan pergi seperti yang lain sesudah mengambil uang. Mumtaz menepuk keningnya tak habis pikir dengan para sahabat Tia.



Dia menoleh ke Sisilia yang duduk di sampingnya sedang menahan tawa.



" Kamu gak sekalian? Itu baru minum juice aja." Tunjuknya dengan dagunya ke gelas yang sudah kosong.



" Enggak, nanti modal nikahnya gak ke kumpul lagi." Ucap Sisilia santai.



" Hahahhaaha, aku masih punya banyak kalau cuma buat ijab-Qabul di KUA aja. Ini, kamu bawa yang seratus ribu, bikin mereka iri." Mumtaz menyerahkan uang seratus ribuan untuk menjahili Tia dan para sahabatnya.



" Hihihi..." Sisilia tanpa sungkan menerimanya dan pergi ke stand makanan.



Fatih yang melihat semuanya hanya bisa menggelengkan kepala.



" Sering kayak gini?" Tanya Fatih.



" Ke gue baru ini, kalau ke yang lain hampir setiap ngumpul, khususnya ke Bara sama Daniel."



" Kalian sedekat itu?" 



" Udah terbiasa aja sih, kalau sama Mayang dan Amanda Tia temanan sejak SMA, sama yang lain sejak SMP. Jadi...ya...gitu."



Benar saja Tia dan yang lain datang sambil membawa nampan yang berisi makanan dengan wajah ditekuk.



Mumtaz mengigit bibir bawah dalamnya menahan tawa.



" Lia aja dikasih cepek, kita cuma gocap." Rungut Dista mencebikkan bibirnya.



" Yang birunya habis." Mumtaz berbohong.



" Boong banget, ini namanya diskriminatif." Ucap sewot Tia.



" Apaan sih, gak nyambung." Mumtaz menyentil pelan kening Tia.



Mumtaz memberi Tia kartu debitnya " Aa harus pergi, pake sewajarnya kita gak tahu apa yang terjadi besok." Ucap Mumtaz tegas.



" Kenapa enggak dikasih ke Lia?, pacar Aa." Tanya Tia melirik Sisilia.



" Untuk sekarang, kamu, adik Aa lebih berhak atas uang Aa. Kalau Lia, entar kalau udah ijab-qabul." Jawab Mumtaz yang membuat adik dan para sahabat mencibirkan bibir.



" Ini buat makan sehabis nyalon juga ya." Rayu Tia.



" Ini kalian lagi makan." Protes Mumtaz.



" Kak, nyalon itu butuh waktu lama, jadi habis nyalon biasanya kita lapar lagi." Terang Dista.



Mumtaz menghela nafas berat " karena kalian berenam, jatah tiga ratus ribu."



" Itu total minimalkan?" Harap Cassandra

__ADS_1



Mumtaz menggeleng " total maksimal." Yang langsung mendapat keluhan dan protestan para sahabat adiknya.



" Kalau lebih dari tiga ratus, awas aja nanti." Ancam Mumtaz beranjak berdiri mencium puncak kepala Tia dan Sisilia, dan meninggalkan mereka diiringi pekikan iri dari para mahasiswi pengunjung kantin.



\*\*\*\*


Cafe' D'lima.



" Woi, No." Mumtaz menggeplak punggung Jeno yang duduk dengan tiga pemuda lainnya.



Mereka saling menyalami ala lelaki, Jeno melirik Fatih yang duduk sebelum dipersilahkan.



" Tumben bareng."



" Gue ada proyek sama dia." Mumtaz menyeruput minuman milik Jeno.



" Enak lo, kartu gue kelamaan nginep di elo." Sindir Mumtaz, Jeno hanya cengengesan asem.



" Gue butuh Lo dan beberapa orang buat nyusup ke hotel paradise." Ucap Mumtaz sedikit melirik Fatih yang menegakan badan seperti antusias mendengar perbincangan Mumtaz dan para temannya.



" Lo ajak Zayin sama temennya juga." Jeno mengernyitkan kening heran dengan ucapan Mumtaz yang melibatkan adiknya dalam pergerakan dia.



" Jangan bilang gue yang ngajak." Mumtaz mengeluarkan tabletnya, dia menunjuk beberapa lokasi yang berada di hotel paradise.



" Ini ruang bawah tanah, tampat penyimpanan minuman super mahal mereka, gue pengen Lo pasang ini di beberapa tempat yang udah gue tandai." Mumtaz mengeluarkan beberapa benda persegi panjang dengan berbagai bagai ukuran seperti bentuk pulpen.



" Lo pelajari, kalau ada yang belum paham tanya Rio atau Yuda, atau Lo bawa juga Rio."



" Oke, sip.Urusan beres gue wa lo." Tanpa banyak tanya Jeno menyanggupinya.



" Buat nikahan Jimmy gue butuh beberapa orang yang stay dekat mereka, khusus Tia kalau bisa cewek supaya gak mencolok." ujar Mumtaz.



" Kemarin gue ketemu Jimmy, dia udah minta pengaman di seluruh  tempat acara bahkan kompleks." Ucap Jeno yang diangguki Mumtaz.



" Kalau untuk cewek, kita belum punya. Kenapa Lo gak minta tolong tempat latihan Lo." Usul Jeno.



Mumtaz memang sampai sekarang masih aktif sebagai pelatih senior dibeberapa cabang bela diri tempat dia berlatih dulu.



" Oke deh, gue hubungi mereka. Gue serahin masalah keamanan ke Lo, No. Thanks ya."



" Jangan sungkan begitu, kayak sama siapa aja."



" Kalau bisa urusan paradise di dahulukan, mumpung mereka masih sibuk ngurus yang lain."



" Oke."



" Kartunya bisa gue ambil sekarang?" Tanya Mumtaz, Jeno menggeleng.



" Gue butuh dana buat masuk sana." Ucapnya sambil nyengir, Mumtaz menoyor kepala Jeno sebal.



" Oke gue pergi dulu, thanks bro." Jeno dan para temannya mengacungi jempol ke Mumtaz.



\*\*\*\*




" Bang, ini orangnya yang punya tu maket." Fatih menghampiri kakaknya yang sedang sibuk di dapur.



Ibrahim, kakak Fatih menoleh dan menyalami Mumtaz.



" Mumtaz dari RaHasiYa, bukan?!" Ucap Ibrahim antusias



" Iya, bang." Jawab Mumtaz.



" Kenal?" Tanya Fatih bingung.



" Kemarin waktu pertemuan top 10." Terang Ibrahim.



" Kamu gak masalah ide kamu dipake Fatih?"



Mumtaz menggeleng." Enggak, saya juga lagi ajukan hak paten untuk beberapa teknologi terkait perumahan itu."



" Ide kamu brilian sih, tapi costnya terlalu besar untuk kami."



" Kalau masalah keuangan, saya minat nanam investasi di Alatas architecture." Ucap Mumtaz. Fatih, dan Ibrahim terbelalak kaget.



" Serius? Kita butuh dana besar loh."



" Tahu, InsyaAllah saya ada dananya, tapi dengan syarat."



" Apa?"



" Alatas kontraktor dijadikan satu manajemen dengan Alatas architecture, jadi Alatas architecture tidak monoton hanya bagian mendesain saja, setiap proyek dari Alatas architecture menggunakan perusahaan kontraktor dari Alatas kontraktor juga."



" Kayaknya bakal susah, mengingat 51% saham di Alatas kontraktor milik Husain group."



" Its okey, sepertinya mereka sedang butuh dana buat perusahaan mereka lainnya, kalau mereka mau lepas itu saham hubungi gue aja, bang. Untuk sementara gue bantu Alatas architecture aja dulu."



Ibrahim mengernyit berpikir mengapa Mumtaz seperti mengetahui perihal kondisi Husain group.



" Apa imbalannya?" Tanya Ibrahim mewanti-wanti.



" Imbalan apa? Tanya Mumtaz bingung.



" Kamu gak mungkin ngasih bantuan yang begitu besar ini tanpa imbalan kan!?" Tanya Ibrahim waspada.



" Hehehe...mungkin kalau yang lain begitu, tapi saya murni mau nolong teman. Suerr." Mumtaz mengangkat tangannya dengan lambang peace.



" Udah ngobrolnya kan, kita mau ke kamar Fatih dulu." Ibrahim mengangguk.



" Oh, iya. Ini ada undangan nikahan Alfaska Atma Madina buat Alatas bersaudara." Mumtaz meletak undangan di atas meja pantry, dan menyusul Fatih ke lantai dua.



Ibrahim menatap punggung Mumtaz tak percaya dengan tindakan Mumtaz yang santai membantu perusahaannya dengan ide briliannya dan finansialnya.



\*\*\*\*\*

__ADS_1



Jimmy bertamu ke rumah mama Aida di temani papi, Bara, Dista, dan bude Sherly. Untuk menyerahkan bawaan syarat dari para kakak Tia.



" Kata Daniel, robot kamu di kantor RaHasiYa tinggal ambil." Ucap Jimmy.



" Terima kasih atas pemberiannya, maaf merepotkan dan pasti cukup menguras dompet ya " basa-basi mama.



" Ya...dompet Jimmy sekarang langsing, ma. Pasca nikah numpang di rumah Mertua dulu ya." Jimmy nyengir sok polos.



" Cih, basa-basi. Udah biasa numpang juga." Celetuk Zayin.



" Selain di sini, dimana lagi, kan gak direstui mami." Ucap kak Zahra telak.



" Iya, ya." Renung Jimmy.



" Loh, Tia nya gak dibawa ke rumah, siapa tahu kalau sering ketemu bisa akur." Ujar bude.



" Enggak bude, kami tahu karakter mami, saya gak mau adik saya sakit bathin." Ucap tegas Mumtaz yang diangguki Zayin, dan kak Zahra.



Papi diam tidak mempermasalahkan penolakan keluarga Mumtaz, baginya mereka tidak membalas hinaan Sandra, dan masih menerima Jimmy jadi bagian keluarga mereka saja patut disyukuri.



" Persiapkan untuk lusa, jangan memikirkan yang belum terjadi, dan tidak perlu. Hafalin ijab-qabulnya dulu." Tutur mama yang seketika membuat Jimmy nervous.



Zayin, Mumtaz, dan kak Zahra yang melihat perubahan raut Jimmy terkikik geli. Jimmy mengacungkan Bogeman tangan ke mereka meski di depan mama.



Selepas keluarga Atma Madina pamit, mereka sedang membuka segala bingkisan mereka dengan saling canda yang terhenti kala melihat sosok yang berdiri diambang pintu yang terbuka dengan senyum sinis dan mengejek.



Dengan gayanya yang autokrat ala seorang konglomerat penuh kuasa mendudukan dirinya di sofa panjang, dan menaruh tas super mahalnya di atas meja bagai memamerkan kekayaannya, serta mensedekapkan tangan dengan kesombongan.



" Heh, sepertinya kalian senang berhasil mendapatkan kartu kredit berjalan." Ucap sinis wanita paruh baya tersebut.



Mama Aida tersenyum ramah, tapi tidak dengan para anaknya, khususnya Tia yang seketika dilanda ketakutan.



" selamat  datang, kami senang menjamu anda di rumah sederhana kami, Nyonya besar Sandra Atma Madina." Sarkas kak Zahra.



Dalam mobil menuju rumah kerlipan ponsel Jimmy berupa lampu kecil merah menyala yang terhubung langsung dengan alat yang terdapat dalam cincin Tia. 



Jimmy memasang pelindung dalam cincin Tia dari segala bahaya, lampu merah kecil dalam ponselnya akan menyala jika tubuh Tia mengalami ketegangan sebagai akibat rasa takut atau terancam.



" Pak, tolong putar balik mobilnya kembali ke rumah mama Aida, sekarang!!!." Pinta Jimmy kepada pak sopir.



" Baik, tuan." Sekali gerakan mobil tersebut putar balik.



Papi, dan Bara yang terdapat di mobil lain turut putar balik meski tidak tahu kenapa.



Mami mendengus mendengar sindiran kak Zahra.



" Jadi, katakan padaku apa yang kalian inginkan agar kalian melepas anakku." Ucap mami merendahkan



" Mbak, boleh saya tahu kenapa mbak sangat tidak menyetujui hubungan mereka?" Tanya mama tenang.



" Saya butuh seseorang dan keluarga besan yang pantas hidup bersanding dengan nama Atma Madina, kalian tidak memiliki kualifikasi itu. Saya sudah memiliki calon untuk pewaris tunggal saya, jadi tolong beri nasihat pada anak gadismu untuk meninggalkan anak saya."



Mama mengangguk kecil, " siap gerangan seseorang yang menurut mbak pantas bersanding dengan Jimmy itu?"



Mami menegakkan gestur tubuhnya bangga " Adinda Aloya, putri tunggal dari Rudi Aloya. Kalian tentu tahu siapa mereka?"



Mama dan para kakak terkejut mendengarnya.



Dengan raut tenang dan pasti mama menegakan badannya guna menandingi mami.



" Maaf, tepi demi apapun saya tidak akan pernah melepaskan Jimmy untuk mereka."



" Punya hak apa kau bersikap tak tahu diri seperti itu?" Hardik mami.



" Saya menyayangi Jimmy seperti anak saya, saya anggap dia anak ketiga saya, Daniel anak keempat saya. Sebagai seorang ibu saya tak akan menyerahkan Jimmy kepada keluarga itu meski nyawa taruhannya." Ucap tekad mama.



Mami geram mendapati mama melawannya." Dia bukan Jimmy, nama konyol apa itu. Dia anakku, aku yang melahirkannya, merawatnya. Hanya karena dalam beberapa waktu dia sering di sini kalian bersikap lancang begini, sungguh memalukan."



" Nyonya, apa kau tahu sayur yang paling ditakuti oleh Jimmy? Atau apa kau tahu jika ada satu sayuran yang Jimmy takuti?" Tanya Kak Zahra.



Mami mengernyit bingung menanggapi pertanyaan kak Zahra.



" Heh, kau bilang kau mengenal anakmu, tapi pertanyaaan sederhana ini saja kau tidak bisa menjawabnya. Kemana saja kau." Balas kak Zahra.



" Mumtaz bawa Tia keluar, dia tidak harus melihat penolakan konyol dari calon mertuanya ini." Tambah kak Zahra.



Mumtaz dan Zayin berjalan mengapit Tia sebagai simbol benteng dari segala kesakitan yang akan dia alami.



Seperti mendapat hinaan dari keluarga miskin itu, mami berdiri hendak keluar, tapi mama mencegahnya.



" Mbak, andai calon yang mbak pilih bukan dia mungkin saya akan mempertimbangkan lagi pernikahan ini, tapi sekarang saya yakin untuk menikahkan Jimmy dengan Tia sesegera mungkin." Ujar mama.



" Terserah, saya tidak akan merestuinya."



" Itu bukan sesuatu yang kami tidak ketahui, saya kecewa mendapati anda memperlakukan ahli waris tunggal anda sehina ini." Ujar kak Zahra.



" Apa maksudmu?"



" Mungkin kau ibu yang melahirkannya, tapi jelas kau bukan orang yang menyayanginya. Kau menyerahkan Jimmy kepada sampah seperti mereka." kak Zahra kesal.



Wajah mami memerah, dia ambil minuman yang di atas meja dan menyiramkannya ke tubuh kak Zahra.



Terdengar pekikan kaget dari arah luar, mami membalikan tubuhnya, dan terkejut. Di teras rumah terdapat Jimmy dan keluarga Atma Madina lainnya yang menatap mami kecewa



Tak tahan mendapati tatapan kekecewaan dari Jimmy, mami segera menghampiri Jimmy, dan hendak memeluknya.



Jimmy menepiskan tangan mami dari lengannya, " seharusnya kau jangan bertingkah sebagai ibu untuk saat ini, urusi saja butik-butikmu. Meski kau gagal menjadi seorang ibu, setidaknya kau masih bisa berhasil sebagai pebisnis." Ucap Jimmy kecewa, membalikan badan, dan meninggalkan rumah mama.



Mami menatap papi meminta pembelaan," tolong, jangan urusi anakku biarkan aku yang memperhatikannya sebagimana selama ini yang terjadi, sudah terlambat bagimu mengambil peran seorang ibu baginya." Ucap papi meyiratkan kekecewaannya, dan berlalu dari rumah mama diikuti yang lainnya.



Mami berdiri diam dengan bahu kebawah, tidak ada lagi kesombongan dan kebanggan diri dalam diri mami yang tadi ditunjukan kepada keluarga mama...



maafkeun telat update sekeluraga pada sakit semua euy, semoga masih bersabar mengikuti cerita sini...

__ADS_1



please... jangan plagiat , masa iya cerita dari orang amatir juga mesti diplagiat seberapa tidak mampunya anda...


__ADS_2