Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
Bab 136. Lebih Dekat...


__ADS_3

Sivia menatap pria tua yang masih terlihat gagah dan tampan meski sudah menua dengan secangkir teh hangat sembari menatap kota Jakarta di waktu fajar di sebuah penthouse


" Kakek,..." Alejandro menoleh ke arah yang memanggilnya, senyumnya terlukis seiring kedua tangan Sivia memeluknya.


Di belakangnya berdiri seorang pemuda metroseksual dengan penampilan kasual.


 Alejandro menangkup wajah Sivia yang masih membekaskan akan lebamnya.


" Untung Raul menemukanmu, bagaimana mungkin dia bisa melakukan hal kasar padamu, cucunya sendiri." Geramnya, kembali membawa Sivia kedalam rengkuhannya.


" Sivia, kenapa kamu tidak pernah memberitahu Kakek, kalau tuan Fatio kakek dari Hito?" Ucap Alejandro lembut.


Tubuh Sivia, mematung," Apa kakek tahu kalau nenek terobsesi pada kepada kakek Fatio?"


" Iya, karena itu kakek melarangnya Setiap kali dia ingin berkunjung ke Indonesia."


" Kek, demi Tuhan, awalnya Sivia tidak tahu hal itu, tetapi setelah acara pertunangan, setiap kali Vivi berkunjung ke kediaman Hartadraja nenek selalu memaksa ikut denganku."


" Tepatnya dua bulan menjelang Vivi membatalkan pernikahan, nenek memaksaku terus berkunjung pada Hito, sedangkan aku sudah enggan. Saat itu nenek memberitahukan ku kalau dia begitupun mencintai kakek Fatio. Hal itulah yang mempercepat Vivi membatalkan pertunangan itu."


" Apa karena itu kamu menjadi kacau selama di Amerika?"


lagi, Sivia tertegun. lalu menggeleng.


" Semuanya berawal dari aku yang tahu bahwa papa Eric bukanlah papa kandungku, kakek tahu betapa aku sangat menyayanginya..dulu, mendapati fakta ia bukan ayahku cukup membuat mentalku down, dan selanjutnya aku hanya tidak bisa mengendalikan kegilaan saat itu." Sivia menunduk penuh sesal.


" Semuanya begitu cepat, aku sangat membutuhkan Hito, tetapi hanya kekecewaan yang ku dapatkan, dia selalu sibuk dengan bisnisnya, sampai muncul Herry, yang sellau ada untukku." suara Sivia bergetar mengingat kekacauannya dulu.


Alejandro menatap pria yang masih setia menggenggam tangan Sivia.


" Lantas kalian berselingkuh?" tersirat kekecewaan dalam suara Alejandro.


" Kek,..maafkan aku, aku... hanya butuh seseorang... hiks..." akhirnya Sivia menangis.


" Kenapa kamu ingin kembali pada Hito? apa kamu masih mencintainya?"


Sivia menggeleng," papa yang memaksaku untuk kembali pada Hito, selepas pembatalan pertunangan itu, Hartadraja menutup semua jalan Gonzalez corp. Bodohnya aku memperparahnya dengan bersikap kasar pada Eidelweis dan Zahra."


" Apa nenekmu selalu bersikap kasar padamu?"


" Kek, aku selalu takut pada nenek Guadalupe, dia selalu marah-marah, sedangkan aku selalu rindu pada nenek Esperanza, tetapi papa selalu melarang ku untuk mengunjunginya."


" Kek, apa kakek tahu siapa ayah kandungku?"


Alejandro mengangguk, sembari matanya seperti pada asistennya yang berdiri sigap tak jauh dari meja.


" Tentu."


" Apa dia tahu tentangku?"


" Dia tahu lengkap tentang kamu dan kakakmu, selama ini dia selalu memantaumu."


" Kenapa dia bisa meninggalkan ku?"


Rahang Alejandrondro berubah mengeras, "Sivia, dengarkan kakek, bukan ayahmu yang meninggal mu, tetapi kalian dipisahkan oleh Eric."


" Mengapa?"


" Cinta! ayahmu mencinta mama Belinda, Belinda tidak mencintainya, tetapi mencintai ayahmu."


" Demi keselamatanmu, ayahmu hanya bisa memantau mu."


" Apa dia tidak ingin bertemu denganku, memelukku?" ucap Sivia dengan kesedihan teramat dalam.


Diego mengusap air matanya, mendengar permintaan putrinya.


" Tak lama lagi, kalian akan berkumpul, itu janji kakek."


" Kakek, katakan padanya kalau aku sangat merindukannya, ya..meski aku lupa bagaimana rupanya, tapi aku ingat pelukan hangatnya." mata Sivia menerawang ke masa lalu.


Mata Diego memancarkan kerinduan ke arah punggung putrinya.


Fatio merenungi ucapan cucunya, untuk menentukan langkah apa yang akan dia ambil untuk pernikahannya dengan Guadalupe.


*****


" Selamat pagi, Tante..." Sapa Tamara manis menghampiri Julia yang sedang membaca majalah fashion.


" Ini sudah jam sepuluh, menginap di rumah orang, dan kamu baru bangun?!" sarkas Julia.


Tamara tersenyum kikuk," maaf, Tante. semalam saya terlalu lelah, jadi bablas tidurnya.


Julia membuka mulut berbentuk 0 sambil mengangguk-angguk.


" Di rumah ini, sarapan hanya sampai jam sembilan, akan ada makanan lagi nanti pas makan siang, jadi kalau kamu laper, nunggu jam makan siang."


Tamara meneguk sulivanya, ia sangat lapar. Seharusnya tadi begitu bangun, langsung turun membantu Tante Julia masak, alih-alih rebahan santai ala anak konglomerat." rutuk Tamara dalam hati


" Enggak apa-apa, Tante. kebetulan saya belum lapar." jawab Tamara nyengir masam.


Tamara melangkah ke arah kanan, " kamu mau kemana?" tanya Julia.


" Ke dapur, Tan. mau minum."


Julia bersedekap dada," aneh, kamu tahu dimana dapur saya, kamu kan baru pertama kali menginap di rumah ini?"


Ingin Tamara memutar bola matanya jengah, namun belum bisa dilakukan," kamar saya kan dekat dapur, Tan."


" ooh hihihi..iya, ya. lupa saya kalau kamar kamu di tempat mbak-mbak rumah." kelakarnya sembari tangannya menutup mulutnya nya yang tertawa.


*****


Guadalupe yang waktu kepulangannya ke Jakarta berbarengan dengan Sri, ketika hendak masuk ke ruang tunggu begitu terkejut melihat Sri yang duduk di atas kursi roda yang didorong Fatio.


Pandangan mereka saling beradu saat masuk ke ruang tunggu, Guadalupe begitu iri melihat kehidupan Sri yang dilindungi oleh banyak pengawal dan Fatio beserta keluarganya sedangkan dirinya hanya didampingi hanya oleh sepuluh pengawal saja.


" Kau pasti kesal rencanamu untuk membunuhku gagal, tidak lama lagi kau akan merasakan pembalasanku." Tegas Sri penuh kebencian.


Guadalupe menyisir penglihatannya kepada semua orang yang ada, dia tersenyum miring dengan culas.


" Aku tidak melihat Zahra, calon cucu mantumu. Apa dia mati?"


Seketika semua orang terkesiap marah dengan kelancangan Guadalupe, kedua tangan Sri mengepal kuat, Fatio berjongkok di depan Sri, mengurai kepalannya, lalu menangkupkan dalam satu tangan untuk mencium punggung tangan-nya dengan sayang.


" Sudah, sayang. Zahra akan pulang."


" FATIO..." Murka Guadalupe tidak tahu malu atas sikap romantis Fatio kepada Sri.


" Lo kayaknya gila deh, stuck di masa labil, padahal raga udah peyot, mau jadi pelakor? Dulu aja Lo gagal rebut hati kebuy gue, apalagi sekarang badan lo udah banyak gelambirnya, mana doyan kebuy gua." Culas Adgar.


Semuanya terbahak-bahak mendengar celaan Adgar, " gak percuma kamu main sama Zayin, selalu ada ilmu yang bisa diambil dari teman, dan kamu udah menyerap ilmu julid dan arogan dari Zayin. Good, son. Good." seloroh Damian.


Mata Guadalupe terbeliak lebar, hinaan itu tidak bisa dia terima.


Mengabaikan keberadaan Guadalupe, mereka melanjutkan berjalan menuju pesawat.


" Leo, apa kau akan pulang ke Jakarta?" Tanya Fatio begitu semua keluarga sudah berada dalam pesawat


" Maaf, tuan kami akan langsung kembali ke hutan. Di Jakarta akan ada orang yang melindungi kalian."


" Baiklah, terima kasih atas perlindungan kalian terhadap istri saya."


" Itu tugas kami, tuan." Leo dan ana buahnya membungkuk sempurna melepas kepergian keluarga Hartadraja dari bandara.


Saat hendak keluar, ia bersinggungan dengan pengawal Guadalupe, lirikannya memberi kode kepada pemimpin pengawal Guadalupe, yang diangguki oleh lawannya.


Sedangkan Guadalupe menatap benci kepergian keluarga itu.


*****


Konferensi pers yang semula direncanakan pukul 8, tertunda hingga pukul 10 wib.

__ADS_1


Kepala Humas polri, Bagus Rahardian melihat banyaknya awak media baik dari dalam maupun luar negeri.


"...para tersangka dikenakan pasal kejahatan pencucian uang, dan peredaran senjata api ilegal yang berkerjasama dengan Gonzalez..." Seru Humas.


Begitu sesi tanya jawab dibuka, para wartawan menggila mengulik informasi.


" Pak, Gonzalez juga sedang tersandung penyalahgunaan narkoba apakah kemungkinan pejabat ini terlibat?"


" Untuk hal itu masih dalam pemeriksaan lanjutan, untuk sementara hanya ini."


Tring... tring...tring...


Banyaknya notifikasi masuk ambil bersahutan dari satu ponsel dengan ponsel lainnya membuat Wartawan dan juga humas refleks memeriksa ponsel mereka.


Di ponsel mereka terkirim transaksi antara beberapa peja-bat dengan Gonzalez, Brotosedjo, dan Aloya.


Juga terkirim foto beberapa pej-abat dan asistennya sedang menghi-sap ga-nja.


Melihat pesan tersebut para wartawan semakin beringas mencecar pertanyaan kepada humas yang mau tidak mau ia jawab, meski awalnya mendapat titah untuk tidak menyinggung nar-koba yang sedang menjadi isu sensitif nasional.


" Pak, bapak katakan bahwa para tersangka merupakan partner dari Gonzalez, mengingat senjata yang disita begitu banyak, dan pak Gonzalez merupakan warga asing dan senjata ini merupakan senjata keluara Eropa, pertanyaannya, bagaimana senjata itu bisa masuk ke Indonesia? Apakah ada keterlibatan petugas bea-cukai? Atau pejabat berwenang lainnya?" Tanya wartawan berkumis tebal dan ber kacamata, dengan tahi lalat besar di dekat hidungnya. Yang sejak kedatangannya disebut si aneh oleh rekan wartawan lainnya.


Ruangan yang semula ribut karena kasus narkoba, kini senyap demi mendengarkan penjelasan humas.


Sesaat Bagus memijat keningnya, " kami sedang memperluas penyelidikan..."


Pak, jika memang benar adanya, apakah mereka dapat dikenakan pasal ma-kar?" Tanya si aneh.


" Saya pikir itu terlalu jauh..."


Tring...tring...tring....


Wartawan gerak cepat membuka isi pesan yang masuk.


Terpampang beberapa foto kamp yang dilumpuhkan Kopassus, dan daftar pengantaran persenjataan dengan jenis yang sama di Tan-jung Pri-uk selama dua tahun terakhir.


Kemudian muncul foto kelompok pemberon-tak yang mengepalkan senjata jenis yang sama dengan senjata yang disita di mansion Gonzalez.


Para wartawan semakin heboh tidak terkendali


Pijatan Bagus kini tidak lagi di pelipis, tetapi pindah ke kening yang sudah mengkerut dalam


" Pak, apa bapak bisa jelaskan gambar ini?"


"Apa benar mereka terlibat ma-kar?"


" Pak...."


" Pak...."


" Konferensi pers kami tutup." Bagus dan staf lainnya bergegas meninggalkan area konferensi dengan penjagaan ketat.


Si aneh masuk ke mobil SUV berlogo Gata tv, ia membuka kumis, kacamata dan tahi lalatnya.


" Sumpah gatel banget bulu kumisnya." Seru Yuda.


Haikal terkekeh," tapi Lo ganteng." Haikal menonaktifkan kameranya.


Dua wartawan Gata tv memperhatikan mereka dengan seksama," Apa RaHasiYa sejauh ini bertindak?" Tanya pria berkulit coklat hitam.


Yuda menggeleng," saya kurang paham, saya biasanya hanya mewakili mereka di dunia bisnis saja." Alibi Yuda.


" Darimana Lo nyimpulin tentang makar?"


" Dari foto tadi,  jumlah senjatanya banyak banget. Kalau untuk ukuran jual-beli doang." kilah Yuda.


" Sudahlah, Lo kenapa wawancarai mereka. Kita balik ke kantor." Tutur rekannya.


derrt...derrt...


Yuda membuka Pesan dari wakil BEM-nya,


Yuda mengetik jawaban." Jangan di sana, di rumah Mumtaz saja, di sana, aman."


*****


Ergi beserta Bagus berembuk mengenai informasi dadakan dari nomor anonym.


" Dimana pak Indra?" tanya Ergi.


" Sejak pagi saya belum melihat pak wakil, pak."


Ergi terdiam sambil menganggukkan kepala.


Tok...tok...


" Masuk..."


kepala divisi cybercrime, Edo Kandalaid. memasuki ruangan, Bagus melirik keduanya bergantian.


" Do, saya ingin kamu mencetak isi rekening dari nomor-nomor ini." Ergi memberinya sebuah kertas.


" Jika sudah dapat, pastikan langsung menghadap saya."


" Siap, pak..."


*****


Di kantor mewah, duduk di sofa empuk, seorang pria tambun dengan setelan dengan atribut pangkat lengkap dan seorang pria berjas dengan pin Garuda menonton berita konferensi dengan rasa gugup sekaligus marah.


" kalau ini terus didiamkan kita semua akan masuk penjara." ucap pria tambun.


" Itu tugas kamu, kenapa sampai kita dipermainkan oleh orang tidak ada wujudnya, cepatlah bergerak."


" Dari cara bertindak, saya mencurigai seseorang, tetapi ini beresiko tinggi."


" Kita ambil resikonya, daripada kita diam tanpa perlawanan. kita tunjukan kepadanya siapa diri kita."


selagi mereka merancang rencananya masuk satu pesan ada ponsel masing-masing.


"BERTINDAKLAH KALAU KALIAN INGIN SEGERA TAMAT!"


Kemudian muncul pesan gambar mereka dan beberapa rekan bersalaman di atas tumpukan uang euro dengan seorang ras kaukasoid.


Dua pria tadi mengeram murka, mereka menantang balik ke nomor tersebut.


Pria berjasa mengirim pesan, " muncullah, kalau kau berani. hanya pecundang yang main belakang."


" Artinya, kalian berdua lah para pecundangnya!!" balas anonym.


*****


Begitu tiba di jalur kedatangan Halim Perdanakusuma, Sri dipeluk erat oleh klan Hartadraja lainnya, bahkan Bandara ditutup sementara demi keamanan keluarga Hartadraja.


" Mama...maafkan Dewi yang meninggalkan mama sendiri." Dewi menangis tersedu-sedu.


" Tidak mengapa, jangan merasa bersalah. itu sudah kesepakatan kita."


" Bagaimana keadaan nenek?" Eidelweis mencium pipi kanan-kiri Sri.


" Lebih baik setelah bertemu kalian."


" Sebaiknya kita pulang, nenek bisa bercerita di rumah Eidelweis." Damar mengambil alih mendorong kursi Sri dari Fatio.


" Kenapa ke rumah Eidelweis?"


" Untuk keamanan kita, selama kasus belum terpecahkan, kita menginap di rumah Eidelweis."


Sri tidak lagi bertanya, ia menyerahkan semuanya pada pihak yang bekerja.


****

__ADS_1


Seorang pemuda tersenyum tengil menatap dua pria yang mengamuk di kantor mewah, " Sebentar lagi kalian akan menyusul teman-teman yang lain, ma-tilah kalian! sebagaimana kalian membunuh ayahku!!! Ucapnya dengan kebencian.


****


Begitu Leo tiba di pos, mereka semua bergegas bersiap untuk mencari Zahra, dan briefing di depan pos.


Mensyukuri cuaca yang terbilang cerah,


Arvan, Dominiaz, dan Bara. berdiri di depan pasukan. Arvan maju satu langkah kedepan.


" Baiklah perhatian, kamp terdiri dari 30 kamp, semuanya kemungkinan besar bersenjata, kita dibagi menjadi 14 kelompok, jadi beberapa kelompok akan mendatangi dua kamp dan melakukan apa yang sudah disepakati dalam rapat." 


" Masing-masing kelompok terdiri dari satu pemimpin militer, anggota RaHasiYa, Gaunzaga dan anak motor dari Kalima.ntan sendiri. Sekarang cek peralatan kalian masing-masing, persenjataan, perbekalan, robot, ponsel, dan drone." Semuanya sudah siap?" Teriak Arvan mengelagar bersemangat.


" Siaapppp....." Seru serempak pasukan.


" Jika kalian menemukan jalan yang sulit, dan beresiko tinggi, sebaiknya kalian menggunakan robot anjing pelacak, anjing itu sudah menyimpan semua hal tentang kak Zahra, dan para penculik di memory-nya. Jika robot itu mendeteksi keberadaan mereka, dia akan menyalang." Terang Daniel.


" Jadi begitu mendapati sinyal partikel kak Zahra entah lewat bau, bentuk tubuh, atau suara, anjing akan menggonggong, para penculik, segala ciri-cirinya dalam jarak dekat seperti yang sudah direset dalam 'otak'nya, anjing serta Merta akan menyerangnya dengan mengigit, kalau kita bergerak cepat cukup mengalihkan perhatian penculik."


" Daya cium, dan daya tangkap sama persis dengan anjing pelacak sungguhan, saya sudah mengaktifkan semua robot tersebut, kekurangannya, harus pastikan robot tetap kering khususnya dibagian mesin." Lanjut Daniel.


" Pastikan senjata kalian berpeluru penuh, jangan segan menembak, jika ragu, tembakkan ke atas sebagai kode." Seru Arvan.


" Kita baca do' sebelum berangkat, sesuai agama masing-masing. Do'a dimulai." Ujar Dominiaz.


Mereka menunduk khidmat, menengadahkan kedua tangan.


" Do'a selesai. Silakan ke posisi masing-masing."


" Waktu kita tidak banyak, mengingat suhu teramat dingin, target diperkirakan dalam keadaan tidak baik, jadi konsentrasi diutamakan." Seru Hito tegas dengan aura wibawa.


Mereka bersiap di atas motor trail masing-masing berpenumpang dua orang.


" Dihitung mundur dari tiga, kita melaju ke lokasi yang sudah ditentukan. 3...2...1..."


Bremm...bremm....bremmm...!!!!


Suara motor saling bersahutan bising ditengah hutan yang senyap melaju secepat mungkin sesuai petunjuk kompas dan gambar dari masing-masing ponsel.


*****


Setelah dua jam menempuh perjalanan, Pasukan Ragad yang pertama tiba di kamp terdekat, mengikuti instruksi pemimpin, mereka di melakukan penyamaran, guna mengamati keadaan.


Setelah memastikan lokasi aman, mereka masuk menyusuri kamp dan area sejauh satu kilo dari kamp. Tidak ada tanda-tanda penghuni,l.


Setelah memeriksa sekitar, mereka menempelkan tanah lempung pada setiap kota sesuai arahan, dan menempelkan bom jika terdapat lobang atau ruang terbuka.


Guk...guk...anjing menyalang, namun terlambat.


Begitu Ragad menempelkan tanah di kotak kayu besar" Hei...siapa kalian?" Teriak seseorang sembari menodongkan senjatanya di punggung Ragad.


Penjahat itu berteriak-teriak memanggil para rekannya.


Sang pemimpin dan yang lain seketika tiarap, dengan merayap untuk bersembunyi.


Sementara pasukan bersembunyi, Pemimpin bergerak dengan penyamarannya sebagai semak belukar, perlahan-lahan mendekati Ragad yang sedang mengangkat kedua tangannya dibawah todongan senjata panjang


Pemimpin terus bergerak berusaha melumpuhkan penjahat sebelum para rekan penjahat datang, begitu ia rasa penjahat berada dalam jangkauan sasarannya, ia memposisikan diri di arah samping kiri penjahat, dengan lihai ia melempar belati yang langsung mencap menembus leher penjahat yang seketika roboh meninggal.


" Kita punya 30 detik untuk memasang peledak dan yang lainnya di lokasi." Teriak pemimpin, pasukannya bergerak cepat melaksanakan tugasnya.


Begitu tugas selsai, mereka secara berpencar menjauh sejauh satu kilometer dari lokasi yang langsung siaga menembak , lalu pemimpin meledakkan satu peledak yang berdaya besar.


Pancingan ledakan besar itu berhasil memancing sisa penjahat yang ada, maka mereka menembaki satu persatu di area kaki dan anggota bukan vital lainnya, cukup melumpuhkan gerak mereka, meski tidak sampai meninggal.


Setelahnya pasukan kembali bertemu, dan melanjutkan perjalanan pada kamp selanjutnya.


Sang pemimpin menginformasikan keberhasilan mereka kepada yang lain lewat earphone.


******


Tiga truk itu berhenti di depan jalan sempit nan terjal.


" Turun....turun..." gebrakan pada bak truk membuat Zahra meringis sakit, Nacho membuka penutupnya dan membimbing Zahra untuk turun dari truk.


Tubuhnya yang masih sakit membuat Zahra menopangkan tangan pada bahu Nacho, ia tidak sanggup lagi untuk berdiri.


" Kendaraan hanya sampai sini, untuk ke tempat tujuan kita harus jalan kaki." Ucap penculik.


Nacho mengangkat tangan," Tuan,  tubuh sandera panas sekali." 


Akhirnya Zahra mendudukan dirinya di atas tanah yang tertutupi rumput. 


Ketua penculik menghelakan nafas dengan kesal." Sekarang kita bikin tandu, buat angkat dia. Sebagian lagi tutupi amankan truk."


Selama satu jam mereka berkerja, truk sudah aman disembunyikan di goa buatan dibalik pepohonan rindang, hasil kerja keras mereka selama lima tahun.


Mereka berjalan secara hati-hati karena jalannya licin yang menanjak dan berliku, sedangkan di pinggirannya terdapat jurang, dan makin sulit bagi empat orang yang mengangkat tandu Zahra.


 


Ditengah jalan, mereka berpapasan dengan beberapa penebang yang memperhatikan mereka penuh minat, karena mereka yang terlihat bule, dan menandu seseorang wanita.


" Mau kemana, pak?" basa-basi salah satu penebang paruh baya.


Mencoba ramah, mereka pun menjawab," Mau ke atas pak."


" Ooh, hati-hati. Jalannya licin." Seru ramah penebang tanpa curiga.


" Iya, terima kasih. Mari kami jalan dulu." Mereka menunduk sesaat sebelum melanjutkan jalan.


Di jalan setapak pasukan Jeno berhenti, memberi jalan pada para penebang.


" Apa kalian gerombolan yang terpisah dari kelompok yang di depannya? tanya penebang tua.


" Apa bapak bertemu dengan teman-teman saya?" Zayin, sebagai pemimpin.


" Yang bule itu kan? yang memandu seorang wanita.


" Iya, bapak lihat mereka dimana?" antusias Zayin dengan jantung berdetak kencang. Ia turun dari motor yang diboncengi oleh Jeno.


" Ke atas sana, hati-hati jalannya terjal dan licin. Jalan di sana kecil gak bisa dilewati kendaraan."


" Bisa bapak tunjukkan?"


" Eh, gimana ya...bisa sih bisa..tapi saya harus kerja. Takut dipecat."


" Biar kami yang bertanggung jawab, saya pastikan ikan bapak tidak akan dipecat."


Zayin mengabari informasi dari penebang kepada yang lain, ia mengarahkan para penebang itu untuk diboncengi oleh yang lainnya.


" Berhenti di sini." seru pak tua.


Mereka semuanya turun dari motornya.


" tadi kami bertemu teman kalian ditengah jalan ini. pinggirnya jurang, makanya lewatnya jalan kaki.


Jeno mengoperasikan robot anjing, bukannya naik ke atas sesuai arahan penebang, robot malah bergerak maju lalu belok kanan, pasukan berlari kecil mengikuti larinya anjing.


sampai di depan pohon rindang, anjing mengendus-endus, sementara para rekan mengamankan keadaan, Jeno dan Zayin berjalan mendekati pohon, mereka terus berjalan sampai di depan lobang besar bak goa.


Dengan siap menembak, Zayin dan Jeno memeriksa goa tersebut, mereka mendapati tiga truk terparkir, terus menyusuri semakin kedalam mereka terperangah dengan apa yang mereka lihat.


Memutuskan menunggu para rekan lainnya, mereka menggunakan drone dan robot anjing menyusuri jalan kecil tersebut....


**Ayo aktifin lebih banyak lagi komen dan likenya, hadiah, dan votenya ya...


maaf gak bisa tiap hari update, terkendala berbagai hal...


terima kasih yang masih mengikutinya**....

__ADS_1


__ADS_2