Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
147. Satu Untuk Atma Madina.


__ADS_3

Sesaat sebelum perdebatan di kantor Alfaska.


Di ruang rapat Alatas architecture, Mumtaz sedang memijat-pijat pelipisnya, padahal hari masih terhitung pagi.


Duduk berhadapan di meja bundar, Alatas bersaudara, Hazam, dan Ibrahim Husein, Ibnu, Mumtaz serta para asistennya yang menatap Mumtaz dengan rasa bersalah.


Mumtaz menegakkan duduknya, ia menatap langsung peserta rapat dengan tegas.


" Tuan-tuan, maaf, mengganggu pagi kalian."


" Jangan sungkan, kita memahami keadaan tidak biasa ini." ucap Ibrahim Alatas.


Matanya menelisik mereka semua." Saya butuh bantuan kalian semua."


" Saya tidak keberatan, katakan apa yang bisa kami bantu." Kata Ibrahim Husein yang disetujui oleh semuanya.


Tok...tok...


Jasmine membuka pintu," maaf, menginterupsi, tuan Hartadraja, tuan Birawa, tuan Pradapta, dan tuan Dirgantara, serta tuan besar Argadinata ingin bertemu anda, bapak Mumtaz."


Mumtaz tertegun untuk sesaat." Minta mereka kemari."


Mumtaz beranjak menyambut mereka ketika pintu dibuka.


" Paman, ayah, kakek.." Mumtaz mencium tangan mereka semua."


" Maaf, mengganggu." Kata Teddy. 


" Tidak, silakan duduk." Ujar Ibrahim menunjuk kursi yang kosong.


" Saya pikir kita di sini akan membicarakan hal yang sama." Ibrahim Alatas menyalakan televisi yang menayangkan berita bisnis.


" Pukul setengah delapan tadi, hampir dalam waktu bersamaan Irawan, Wilson, dan beberapa pengusaha lain menelpon terkait simpang siur penjualan saham Atma Madina." ucap Teddy.


" Ayah, aku gak paham masalah bisnis, tetapi nurani ku tidak bisa membiarkan Atma Madina jatuh. Apa yang harus aku lakukan?"


" Kami tadi berkumpul di kediaman tuan Argadinata, kita sepakat untuk membeli saham Atma Madina begitu saham itu ditawarkan." Ucap Aznan.


" Pasti kalian membutuhkan dana besar untuk itu." Kata Mumtaz.


" Untuk dana, kami bisa melempar saham kami..."


" Tidak, kalian tidak perlu menjual saham kalian, paman."  Mumtaz menyela omongan Gama.


Para orang tua saling lempar pandangan menanggapi ucapan Mumtaz, Mumtaz melirik kepada Ibnu.


Ibnu mengambil alih percakapan." Rekan kami yang berada di Rusia, Amerika, Italia, dan timur tengah bersedia menalangi dana pembelian saham Atma Madina." Ucapan Ibnu mengagetkan mereka.


" Rekan..?"


Dengan agak sungkan Ibnu menjelaskan," kami melayani jasa perlindungan perusahaan mereka di dunia digital dengan imbalan pembagian saham."


" Apa nanti saham itu menjadi milik mereka?"


" Tidak, mereka membeli saham itu atas nama Bara dan Alfaska sesuai permintaan Mumtaz..."


" Dan Ibnu." Tambah Mumtaz yang mendapat delikan tajam dari Ibnu.


" Kami juga mempunyai beberapa obligasi, dan cash yang kami kira cukup menambah dana para tuan sekalian." Tukas Ibnu.


Mereka hanya manggut-manggut saja.


" Tentang pesan yang kamu kirim..."


" Itu hanya berlaku untuk saham yang ditawarkan oleh Navarro corp." Mumtaz menyela ucapan Aznan.


Tok..tok...


Kembali, Jasmine menginterupsi rapat.


Jasmine merasa tidak enak hati, mengingat yang di dalam semuanya orang penting di negeri ini." Maaf, ada pemuda bernama Dewa ingin bertemu bapak Mumtaz dan bapak Ibnu, mendesak!" Tekan Jasmine.


" Suruh ke sini." Titah Mumtaz kalem.


" Baik."


Dewa terkaget melihat peserta rapat, 


" Ee..h maaf, saya bisa menunggu."


" Dewa, katakan apa yang ingin kamu kabarkan." Ibnu memerintah dengan tegas tanpa bisa dibantah.


Dewa mengangguk," Baiklah, ini." Dewa menyerahkan flashdisk kepada Mumtaz yang memberikannya kepada Ibnu yang langsung menyambungkannya pada iPadnya.


" Anak RaHasiYa yang kuliah di fakultas ekonomi, bisnis, dan hukum berkumpul, dan berdiskusi membahas mencari solusi mengenai Navarro dan Atma Madina."


" Hasil yang termasuk cepat mengingat baru tadi pagi berita ini ada." Ucap Teddy.


" Eh,...itu... dilakukan sejak lama...mereka mendapat email terkait hal ini jauh sebelum berita ini ada, kemudian mereka meretas semua perusahaan dimana Navarro berbisnis diseluruh negara."


" Kesimpulan hasilnya..." Mumtaz sengaja menggantung kalimatnya.


" Semua bisnis Navarro merupakan tindakan pencucian uang yang bersumber dari penjualan senjata ilegal dan narkoba, juga penghindaran dari pajak di negara yang bersangkutan, ."


" Strategi kalian..."


"Untuk hal itu kami menunggu persetujuan kalian, Dimas telah siap ditempat menerima tugas." Dewa menatap silih berganti antara Mumtaz dan Ibnu.


Mumtaz melirik Ibnu," untuk urusan luar negeri, berikan segala bukti Navarro kepada pemerintah setempat, beri mereka bantuan sesuai permintaan mereka dengan imbalan seperti biasanya."


" Untuk Indonesia, siarkan tentangnya setiap satu jam sekali." Ucap Mumtaz.


" Ini melibatkan penguasa."


" Terus,..." Tatapan Mumtaz mengatakan memang kenapa?"


" Baik, kami lakukan."


" Dewa..."


Saat Dewa hendak berbalik, Mumtaz memanggilnya.


" Pastikan tidak ada masalah dikemudian hari."


" Pasti, semua dibawah pengawasan Dimas dan saya."


" Saya percaya."


" Permisi, tuan-tuan." Dewa undur diri.


" Sepertinya cucuku punya teman yang baik." Tutur tuan besar Argadinata dengan haru.


" Kakek,... jangan berlebihan, Ibnu memang selalu posesif kepada Afa." Seloroh Mumtaz.


" Jambak teman sampai botak halal gak sih." Dumel Ibnu sebal.


Semuanya terkekeh geli.


" Mumtaz, saya dengan sang hati membantu kamu, tetapi keadaan saya tidak dalam posisi untuk membantu." Ucap Hazam.


" Saya memang telah melakukan perubahan besar-besaran kepada perusahaan anda, tuan. Kecuali satu, perusahaan pusat anda di Bandung."


Yuda atas lirikan Mumtaz memberikan Hazam sebuah map hitam.


Hazam terkejut dengan isi dari map tersebut. Semua susunan manajemen, direksi masih sama dengan yang dulu dia pimpin.


Hazam memberikan map tersebut kepada Ibrahim.


" Hanya komisaris yang berbeda, anak RaHasiYa yang di Bandung menggantikan bapak Rayhan.


" Saya masih CEO-nya." Gumam tidak percaya Hazam.


" Oh iya namanya juga berubah menjadi Romli corp, hal itu dilakukan karena bapak Rayhan selalu mengganggu."


" Mumtaz,..." Hazam speechless, ia ingin menangis kerena terharu.


" Sedari awal, saya tidak berniat mengambil alih, tetapi sebagai kepala keluarga saya hanya ingin memberi ajar kepada siapapun untuk tidak mengusik keluarga saya dalam bentuk apapun." tekan Mumtaz.


" Pesan itu tersampaikan." tutur Aznan, Mumtaz tersenyum tipis.


" Jadi tuan, anda bisa membantu saya?"


" Tentu saja."


" Kalau begitu, kita membahas pembagian pembelian saham." Ujar Teddy.


" Saham akan dilepas menjelang istirahat siang..." Info Yuda


Tok..tok...


" Maaf lagi, tetapi Rio bilang Pak Mumtaz dan bapak Ibnu ditunggu di ruang kerja."


" Saya permisi, kalian bisa lanjutkan rencana kalian." Mumtaz dan Ibnu segera beranjak meninggalkan ruang rapat.


" Gam, Lo bakal dapat mantu tajir ternyata." Seloroh Aznan, begitu pintu ditutup.


" Heeh, gak nyangka gue, melihat kendaraan yang dipakai masih motor pemberian Dominiaz." Ucap Gama.


" Pakaiannya gak branded."


" Gaya kasual."


" Pantas bisa melempar enteng black card ke muka mama, hidupnya irit." Celoteh Aznan.


" Black card?" tanya Teddy.


" Iya, Amerika, cuy." 


Para orang tua itu menggosipkan Mumtaz dan Ibnu melupakan Fatih yang berada di sana yang menatap mereka dengan geli karena mereka mirip ibu-ibu berdaster kompleks.



Kini di dalam ruang kerja Mumtaz, mereka melihat apa yang terjadi di dalam ruang kerja Alfaska di gedung Atma Madina.



Adu mulut antara Alfaska dan Sandra disaksikan oleh dua sahabatnya dengan wajah datar.



Tangan Mumtaz dan Ibnu mengepal erat kala melihat Alfaska menangis meluapkan emosinya, tatapan mereka berubah dingin ke arah Sandra begitu Alfaska keluar dari ruangan.



Derrt ..dert...



" Hallo," Ibnu menjawab panggilan dari ponselnya.



" Baik." Ibnu menutup sambungan telepon, kemudian membuka laptopnya.



" Ada apa?" Melihat raut tegang Ibnu, Mumtaz begitu mengkhawatirkan alfaska.



" Bara nyuruh mengosongkan jalan yang dilewati Afa." 



" Komunikasikan dengan Ragad, suruh Ragad buat pagar kendaraan dijalan manapun yang strategis untuk menghentikan kegilaan Afa. Kita langsung menuju the Baraz agar dia melampiaskan  emosinya." Seru Mumtaz.



Mumtaz menelpon Daniel yang sibuk memberi klarifikasi terkait kondisi Atma Madina kepada rekannya di luar negeri.



" Datang ke Alfa, biar Budi menggantikan Lo."



" Rio hubungi, Wilson, promono, Santoso, Alexander, serta Irawan. Bawa mereka ke the Baraz, ruang tengah."



" Haikal dan Rizal bersama Bara. Mereka sedang otw the Baraz." Informasi Rio.



Brak....



Pintu ruang kerja Mumtaz dibuka kuat oleh Dista yang berwajah pucat, dibelakangnya terdapat Cassandra, Tia, dan Sisilia.



" Apa benar Atma Madina bangkrut?" Dista menangis, meski sudah ia tahan.



Tanpa kata, Mumtaz beranjak berjalan menuju Dista.



Mumtaz memeluknya, ia mengusap-usap punggung Dista guna menenangkannya. Matanya melirik ke arah Sisilia yang berdiri memperhatikan mereka meminta pengertiannya.

__ADS_1



Sisilia tersenyum memakluminya, ia mengangguk kecil yang dibalas Mumtaz dengan senyuman terima kasih.



" Semuanya akan baik-baik saja."



" Dimana bang Bara? Dia pasti yang paling terluka." Lirih Dista disela isak tangisnya, ia meremas kemeja Mumtaz.



Mumtaz mengurai pelukannya, ia menyeka air matanya, " mereka sedang healing."



" Kakak tahu siapa pelakunya?"



" Tentu, kamu pikir para Abang kamu akan diam saja melihat keadaan ini?"



" kalau dia wanita, izinkan Ita yang menghajarnya."



" Kalau begitu kalian sebaiknya menunggu di gedung RaHasiYa, tidur yang nyenyak agar punya banyak tenaga."



" Kakak harus pergi."



" Muy, kita berangkat. Daniel sudah sama Afa." Ibnu menepuk punggung Mumtaz.



Kemudian berganti memeluk Dista.



" Jangan dipikirkan."



" Cassy, pesanan makanan. jangan bersedih, kalian harus saling menjaga."



" Siap." jawab mereka bertiga.



Casandra menadahkan tangannya.



" Apa?"



" Isshh, uangnya. uang aku bulan ini habis."



" Kasih cash, Nu. jangan kartu, bobol Lo." peringat Mumtaz yang mendapat delikan sebal dari para bocil, Mumtaz hanya terkekeh.



" Rio panggil Ubay kemari bantu Yuda." titah Mumtaz.



" Siap."



" kakak pergi dulu." mereka berdua mencium kening mereka.



\*\*\*\*\*\*



 Selepas kepergian Alfaska dan yang lain, Sandra masih menangis, sedangkan Budi dibantu Ubay mengemasi barang Sandra sesuai instruksi Alfaska dan Bara.



" Sudah hentikan tangisanmu, berulang kali kamu buat salah, berulang kali kamu menangis, berulangkali kamu minta maaf, dan berulangkali kamu mengulanginya. Pantas Afa bosan memaafkanmu." Ujar Aryan tanpa belas kasih.



" Budi apa pengumuman pemecatan nyonya Sandra sudah keluar?" Tanya Aryan.



" Sudah, tuan. Sudah disebar ke seluruh website perusahaan dan rekan bisnis."



Sandra tertegun," sebegitunya Afa menghukum ku?"



" Sepertinya kamu merubah anak baik menjadi anak pemberontak."



" Tapi ini tidak seberapa, mengingat kamu sudah membuat Atma Madina bangkrut." Sinis Aryan.



Dert...



" Hallo." Ubay menjawab sambungan telpon yang masuk.



" Baik." 




" Tidak, nanti saya menyusul."



Kalau begitu untuk membantu bapak, saya panggilkan sekretaris."



" Kamu mau kemana?" Tanya Sandra melihat Ubay keluar dari ruangan.



" Ke gedung Alatas, nyonya."



" Selesaikan dulu tugasmu di sini."



" Saya bukan asisten nyonya, sebaiknya nyonya memberesi barang Nyonya sendiri."



" Kamu, berani sama saya?"



" Siapa anda sehingga saya harus takut, percayalah selama saya berada disamping anda itu semata-mata atas perintah Alfa, bukan karena anda." Ubay melanjutkan niatnya untuk pergi ke gedung Alatas.



Budi yang melihat keberanian Ubay hanya tersenyum tipis, Ia membuka pesan yang masuk  ke ponselnya.



" Budi, suruh sopir bawa barang saya."



" Anda bisa memerintahnya langsung, saya asistennya tuan Bara, dan saya harus segera menemui tuan Daniel."



Budi meninggalkan ruangan tanpa menoleh kembali sebagai bentuk kekecewaannya kepada Sandra.



Mata Sandra membeliak kaget akan penolakan oleh mereka.



Sandra menelpon asistennya, Nia. Ponselnya aktif, namun tidak dijawab.



" Kamu menelpon siapa?" 



" Nia."



Aryan tertawa sinis," dia tidak menjawabnya kan!?"



Sandra menanggapi ucapan sinis Aryan dengan bingung.



" Dia mungkin sudah kabur ke Italia, dia merupakan simpanan dari Navarro."



Sandra terkejut, hari ini sungguh hari yang penuh kejutan baginya.



Aryan beranjak dari kursinya, ia mengulurkan tangan kepada Sandra." Mari kita pulang, di sini bukan tempatmu lagi."



Walau malu, Sandra menerima uluran tangan tersebut.



\*\*\*\*\*



" Shitt..." Umpat Bara melihat Alfaska melajukan mobil sportnya dengan mengebut meninggalkan parkiran gedung yang bersuara menggaung.



Bara segera menelpon Ibnu." Kosongkan jalan yang dilalui Afa." Ujar Bara setelah Ibnu menjawab telponnya.



Kalau bukan di depan gedung perusahaan, Bara sudah mengamuk melampiaskan kemarahannya.



Ia memijat-pijat batang hidungnya karena kesal akan keadaan hari ini



" Bagaimana keadaan Atma Madina?" Tanyanya kepada Haikal.



" Para direksi memutuskan melepas saham menjelang istirahat siang." Ucap Haikal.



" Rio menelpon." Haikal menjawab saluran yang masuk.


__ADS_1


" Okay."



" Kita disuruh ke the Baraz, sepertinya Mumtaz memutuskan untuk mengeksekusi Brotosedjo-Aloya saat ini."



" Kita kesana."



Rizal membuka pintu mobil untuk Bara.



" Apa yang sedang kalian lakukan?"



" Percayalah kita juga ogah melakukan ini, tetapi ini harus. Nando memberitahu kita anak buah Navarro mengawasi kita." Ucap Rizal.



" Si4l, gue melupakan dia."



" Santai Bar, *everything gonna be okay*." Seru Haikal.



" Hmm." Bara bagai tuan besar masuk ke kursi penumpang.



Air matanya terus mengalir membuat penglihatan Alfaska buram, sedangkan ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi ditengah kepadatan lalulintas.


Beberapa kali ia hampir menimbulkan kecelakaan, banyak pengendara yang memarahinya


" AAAAARRGGHH..." Alfaska memukul-mukul marah setirnya, gas ia injak sedalam mungkin, ia sungguh merasa frustasi.


" Kenapa...kenapa Mami..." teriaknya.


" Ya,...Tuhanku kenapa dia yang menjadi ibuku,.. aku sudah tidak tahan lagi...hiks"


Dengan kasar ia menyeka air mata yang tak kunjung berhenti.


Tatapan Alfaska tiba-tiba kosong, dengan wajah yang putus asa ia melajukan mobilnya.l dengan arah yang tidak tentu.


Ia menabrak gerobak kaki lima yang berjualan, tempat sampah, bahkan beberapa pengendara memilih menyingkir demi keselamatan mereka.


Jalan lengang khusus dirinya membuat pengguna jalan lain protes, sebagai bentuk kekesalan mereka, mereka mengabadikan kearogansian seorang konglomerat muda dengan ponsel mereka.


Tetapi begitu video atau gambar itu di-posting, postingan mereka hilang bahkan dengan akunnya, dan hasil bidikan yang berada di ponsel mereka seketika pun juga hilang.


Mereka semua kebingungan atas apa yang terjadi dengan dawai mereka.


Polisi tidak berdaya akan lampu lalulintas yang berwarna merah dijalan yang dilalui oleh Alfaska. Ketika mereka menghubungi pusat kontrol lalulintas, pihak mereka mengatakan itu bukan dari sistem mereka. Mereka tidak bisa menghentikan menghalangi siapa yang mengendalikan traffic light yang saat ini beroperasi.


Sehingga di bundaran HI Ragad dan anak buahnya membentangkan banyak mobil SUV menutup lintasan jalan lalu mereka berdiri disamping badan mobil menanti Alfaska.


 


Pengendara lain yang melihat dia simpang jalan lain menarik nafas kala Alfaska tak jua menurunkan laju mobilnya padahal jarak diantara mereka sudah dekat.


Laju mobil itu berjarak satu meter, tepat ke arah Ragad yang berdiri tegap tak bergeming.


"Aaaaa...." Teriak  ngeri pengendara yang melihat mereka.


Ckiitt....


Mobil itu berhenti tepat dimuka tubuh Ragad yang sedari tadi tanpa disadarinya menahan nafas.


Di belakangnya Daniel mengejarnya, kemudian berhenti di samping mobil Alfaska.


" Bawa mobil gue." Ujarnya kepada Ragad.


Ia membuka pintu mobil Alfaska, " minggir, gue yang nyupir. Mumuy sudah menunggu Lo."


Tanpa protes Alfaska mematuhi keinginan Daniel.


Sebelum menyalakan mesin, Daniel melirik sedih kearah Alfaska yang menatap keluar jendela.


" Lo lihat pesan dari kak Ala, Lo mati, kita semua koit."


Alfaska memeriksa pesan yang masuk dari banyak orang, ia membuat pesan dari Zahra.


Tangisnya kembali tergugu, ia membungkuk, saking sakit hatinya.


" Kenapa mami tidak peduli padaku, seperti mereka peduli padaku."


" Bertahanlah untuk mereka, jika kamu sudah tidak tahan lagi akan hidup mu.".


" Kita sudah bertahan sejauh ini, kehilangan Atma Madina corp, bukan berarti hidup Lo hancur."


" Tetapi itu segalanya untuk Bara."


" Bagi Bara, Lo lebih berharga."


" Jangan karena kesalahan satu orang, Lo mengecewakan orang banyak yang sayang sama Lo. bahkan sedari tadi Tia menelpon gue sambil nangis mencemaskan Lo."


Alfaska terdiam, ia menunduk." Maaf, selalu merepotkan orang kalian. mungkin sebaiknya gue gak ada diantara kalian." lirihnya.


Daniel meremas setir sekuat mungkin.


" Kalau Lo ingin pergi, hadapi dulu kak Ala, dan bunda."


Untuk sesaat keadaan hening.


" Gak jadi, hidup gue bakal diteror kalian terus."


" Hahahaha, untung Lo masih ada sisa kewarasan."


" Kita berangkat."


******


Tatapan mata Zahra terlihat nanar memandangi layar televisi perihal kemerosotan Atma Madina corp memenuhi hampir seluruh Chanel televisi.


Sontak ia mengambil ponsel yang terletak di atas meja, lalu menelpon Alfaska.


" Afa, angkat...demi tuhan, angkat Alfaska." geram Zahra dibarengi kekhawatiran yang teramat sangat.


Tidak mendapatkan jawaban dari Alfaska, ia lantas menelpon Mumtaz.


" Mumuy, jangan berani-berani mengabaikan kakak..."


Tetap tidak mendapat jawaban, kemudian ia menelpon Ibnu, Daniel, Bara, dan para sahabat lainnya. hasilnya tetap nihil.


Zahra pun memilih mengirim pesan kepada mereka.


" Kalau terjadi sesuatu dengan Alfaska dan Bara, kalian berhadapan dengan ku!!!"


Zahra sangat kesal, giginya bergemeletuk menahan amarah, lantas ia membuka kasar pintu penghubung.


" Tidak ada siapa-siapa." gumamnya, hal yang hampir mustahil selama ia di rumah sakit.


" Zahra.." Sri menghampiri Zahra dengan raut cemas disusul Julia, dan Nadya.


" Nenek, maaf. bukan aku menuduhmu, tapi aku tidak ingin berduga-duga, apa nenek..."


" Tidak, nenek tidak terlibat dalam hal ini. Nenek kesini karena mengkhawatirkan mu."


" Kita harus mencari Alfa, aku harus keluar dari sini."


" Tidak bisa, itu sangat beresiko. kalau kamu menyayangi mereka, jangan bikin beban mereka bertambah." tolak Julia.


" Tapi mbak, aku yakin Alfa tidak baik-baik saja."


" Aku paham kamu mencemaskan nya, tapi harus diingat, dia dikelilingi oleh orang-orang yang tidak akan membiarkan dirinya terluka." timpal Nadya.


" Kita cari berita tentangnya di sini saja. Hito, mana?" mata Julia mencari-cari sosok adiknya.


" Sedang keluar, bilangnya sebentar, tetapi sampai sekarang belum juga balik." Zahra menggerutu.


" Gak ada dinanti, ada, dicuekin." seloroh Julia, Zahra hanya bisa mencebik.


******


Komunikasi terus terjalin antara Guadalupe dan Navarro, mereka berencana akan mengambil liburan mewah dari hasil penjualan saham Atma Madina.


Hal bodoh yang mereka lakukan seperti biasanya, karena semua pembicaraan mereka terekam oleh RaHasiYa.


" Bagaimana, sudah ada penawaran atas saham Atma Madina?"Tanya Navarro kepada Marco yang memasuki ruang tengah sambil membawa telpon.


" Sejak ditawarkan dua jam yang lalu belum ada penawaran, tuan."


" Bagaimana bisa, bukankah saham dari Atma Madina selalu dinanti oleh para pengusaha baik dalam maupun luar negeri!?" murka Navarro.


" Tuan, ada telpon dari mitra di Amerika." Marco memberikan telpon kepada Navarro.


Sambungan itu tidak lama, tetapi cukup membuat marah Navarro.


" Marco, cari siapa yang membocorkan rahasia perusahaan kita di Amerika? sehingga beberapa perusahaan kita di beberapa negara bagian diperiksa oleh FBI."


" Baik, tuan." Marco berbalik badan dengan senyum tipis yang tersungging di wajahnya.


******


The Baraz.


Alfaska dan Bara bertemu dia ruang khusus Bara, Bara langsung dari menubruk tubuh Alfaska kedalam pelukan yang erat.


" Jangan bikin gue kalut dan takut lagi, kalau bukan sama Lo, gue sama siapa lagi untuk bertahan." lirihnya.


Air mata yang sedari pagi Bara tahan akhirnya tumpah.


Alfaska membalas pelukan itu sama erat," maaf, maafin gue yang masih egois."


Dirasa oleh Alfaska Bara menggeleng, " gue punya Lo, itu cukup untuk gue."


Dua sepupu dengan karakter berbeda itu sejatinya ingin memberikan yang terbaik untuk satu sama lain.


Pengalaman hidup membuat mereka saling memahami, memberi, melindungi, dan melengkapi.


" Tali kasihnya udahan, kita harus menjamu para tamu." Ibnu memecah suasana haru itu.




Semua tamu undangan tengah menikmati suguhan berupa beraneka makanan ringan dan minuman yang menggiurkan di ruangan besar dalam rumah sambil menunggu para tuan rumah.



" Maaf, kami terlambat." Petinggi RaHasiYa, Bara dan Ruben memasuki  ruangan dengan pakaian formal tanpa berdasi.



" Kalau kalian tidak keberatan, bisa beritahukan kepada kami ada apa?" tanya Nathan.



" Hari ini kami akan memberikan surat-surat  setiap benda yang menjadi hak kalian."



Sebelum itu izinkan kami memberi kalian kejutan." Bara menekan remote yang dia pegang, bergeserlah gorden yang menutup dinding kaca ruangan.



Mempertemukan semua keluarga Brotosedjo dan Aloya dengan keluarga korban Mereka. Mereka bisa saling melihat dan mendengar.



Keluarga korban melihat dengan tatapan puas kan keadaan mereka yang memprihatinkan tidak terawat.



Keluarga Wilson memperhatikan keluarga Aloya, dimana Adinda sudah terlihat sangat menjijikan tanpa busana hanya berbalut penghalang segitiga dengan kebencian dan cemoohan.



Sedangkan keluarga Irawan menatap Naura dan Brotosedjo dengan menghinakan, Naura yang ditatap bengis hanya mampu tertunduk.



" Mari kita mulai eksekusinya..." seru Bara....



Ayok ramaikan like dan komen,...yang silent readers aktif yuk...



kasih vote dan juga hadiah ya....



Terima kasih masih membaca novel ini...

__ADS_1


__ADS_2