
" Jadi, kamu bertetangga dengan Ibnu Abdillah, petinggi RaHasiYa!?"
" Siap, betul. tapi dulu sebelum dia pindah rumah."
" Apa hubunganmu dekat dengan Ibnu?"
" Siap, biasanya saja layaknya bertetanggaan pada umumnya."
" Kamu memanggil dia selayaknya kalian mengenal sudah lama, apa kamu kenal dia?"
Sedetik itu juga Berto merutuki dirinya,"--- dia sahabat dari Ibnu." Ergi menangkap kehati-hatian dalam perkataan Berto.
Tok...tok...
" Masuk."
" Siap, pak. Pak Andre memukuli tahanan Mumtaz hingga ia terluka parah." Lapor sang bawahan.
Ergi mengusap wajahnya kesal." Berto mulai saat ini kamu yang bertugas menjaga Mumtaz."
" Siap."
" Tahan pak Andre, beserta para petugas tahanan untuk dimintai keterangan dalam ruangan yang terpisah.
" Siap."
" Kalian bubar."
Hanya butuh waktu 1 jam setelah kejadian, video kekerasan Andre pada Mumtaz langsung menyebar, dan mengundang kemarahan masyarakat. Ini kontan menambah sederet daftar hitam instansi hingga kapabilitas instansi dipertanyakan.
Hal ini menuai rasa ketidakpercayaan masyarakat semakin besar, mereka menuntut Andre dicopot dari jabatannya, dan penuntasan segera kasus korupsi oleh 50 polit1s1 yang dirasa berjalan ditempat.
Kabar gugatan cerai dari sang istri pun turut menghiasi kisah kesengsaraan Andre, ditambah video s3xnya dengan Devi dibanyak versi.
Kisah cinta segitiganya dengan Devi yang notabene mantan penghibur Surga Duniawi, mengulik sanubari netizen yang mendesak k4polr1 untuk segera menuntaskan penjualan m4nusi4 yang dilakukan Aloya yang terkesan lambat hingga masyarakat curiga ada orang kuat yang mempengaruhi kasus ini.
Berto menonton itu semua dari tv yang menyala." Apa Lo harus segininya hanya untuk menjatuhkan Andre? Tanya Berto sengit pada Mumtaz di ruang inap.
Mumtaz langsung dilarikan ke rumah sakit setelah para penjaga berhasil menjauhkan Andre dari tubuh Mumtaz yang terlihat tidak berdaya
Sebelah mata Mumtaz membengkak, sebagian wajah dan tubuhnya lebam." Lo sudah membaca maksud gue, huh!?"
" Gue gak tahu apa yang terjadi hari itu, tapi gue melihat beberapa orang keluar dari sana sebelum rumah itu terbakar. Apa dia satu diantara beberapa itu?" Kini Berto memasang wajah serius.
" *Clue* gue, Lo teliti kembali sepak terjang Andre di instansi ini hingga menjadi w4k4polr1 di usia yang masih terbilang muda untuk jabatan itu."
Berto mendengkus," pengangkatan mereka tidak dipungkiri sarat akan politik, kalau Lo lanjut, lo akan berakhir berhadapan dengan orang yang berkuasa di n3geri ini."
Tatapan Mumtaz merenung ke masa lalu," Sejak gue tersadar dari pingsan gue saat itu, gue sudah mempersiapkan diri untuk hari itu tiba."
" Tanpa mereka sadari gue sudah bergerak dan berada diantara mereka." Suara itu semakin dingin, hingga mampu membuat tubuh tegap Berto mematung.
" Gue ditugaskan mengawasi Lo, sebagai tetangga dan orang yang Lo tolong, gue cuma bisa lindungi Lo selama di sini, gue terikat sumpah pada negara ini."
" Bantuan apa yang Lo maksud?" Sinis Mumtaz curiga.
Berto terkekeh getir mengingat masa lalu." Lo pikir gue gak tahu, kalau Bonyok Lo yang membiayai pemakaman nyokap gue? Sementara bokap gue sendiri tidak peduli, dia sibuk dengan keluarga barunya." Mumtaz terbeliak karena terkejut.
Berto menarik lalu menghembuskan nafasnya dengan berat, matanya memberat karena air mata yang mendesak keluar." Pendeta yang bilang ke gue, saat itu gue putus asa. Bisa mengkebumikan ibu dengan layak dan terhormat harapan gue, dan kalian yang melakukannya.*Thanks*." ucapnya tulus.
" Hmm." Mumtaz tidak nyaman dengan pembicaraan ini, dia selalu tidak suka obrolan mengenai masa lalu yang ada kaitannya dengan Ibnu.
" Ditengah ketakutan gue yang tinggal sendiri di tanah perantauan, lo, melalui tetangga gue selalu meminta mereka mengajak gue main. Lo juga yang selalu menyelipkan roti dan makanan bekal di laci meja gue. ironinya kita belum pernah bertegur sapa di sekolah." tawanya getir.
Mumtaz diam menunduk, mendengarkan apa yang tidak dia ketahui tentang tetangga ramah Ibnu itu.
" Meski keadaan kalian tidak lebih baik dari gue, tapi kalian yang setiap tanggal muda meninggalkan beras dan sembako lainnya di depan rumah gue, itu diikuti oleh tetangga lainnya pada gue. Hingga gue masih bisa hidup dengan gizi yang baik." Kekehnya hambar.
Berto menengadahkan wajahnya untuk menahan laju air mata, dia kembali menatap Mumtaz.
" Pertanyaan gue, kenapa Lo lakukan itu pada gue?" Suaranya sudah serak.
Mumtaz membalas tatapan Berto dengan hangat pertemanan." Karena cuma Lo yang tidak berubah sikapnya pada Ibnu semenjak tragedi itu."
" Apalagi setelah gue sibuk ngurus Afa dan yang lain, hingga gue tidak selalu bisa ada untuk dia. Kalau tidak ada Lo, mungkin dia sudah bvnvh diri. Btw, kalau Lo ketemu dia, dia mungkin melupakan Lo, dia mengalami trauma hingga beberapa ingatan masal lalunya hilang."
Saat Mumtaz mengatakan itu, tangannya saling mengepal kuat menekan emosi marahnya.
Berto terkesiap, dia tidak menyangka tragedi itu berdampak besar pada tetangganya yang bertubuh kecil itu.
Dari luar terdengar banyak langkah kaki yang dipastikan menuju arah mereka, membuyarkan mereka dari rekaman masa lalu, segera mereka menetralkan diri.
Brakgh...
Ibnu yang pertama masuk dengan wajah pias, ia langsung memeluk Mumtaz dengan tubuh gemetar, di belakangnya para sahabat, dan ayah mengikutinya mengelilingi ranjang.
Melihat wajah Mumtaz, sontak suhu ruangan yang sempit dipenuhi ketegangan dari para pengunjungnya.
Perlahan Berto melipir keluar ruangan, tapi satu suara menghentikan langkahnya.
" Kau siapa?" Tanya Gama curiga.
Semua pasang mata menatapnya, termasuk Ibnu yang sudah berdiri tenang. Ibnu menatap sosok asing di depannya, Ibnu menatap Berto dengan tatapan mengganjal, seakan ia mengenali sosok itu, namun tidak tahu kapan dan dimana.
Gusar karena tatapan intens dari Ibnu, Berto segera menjawab." Saya yang ditugaskan mengawasi Mumtaz."
" Nama?" Daniel sudah mengeluarkan ponselnya dari saku celana.
Entah mengapa Berto merasakan dirinya menegang, ekor mata Berto melirik Ibnu.
" Berto Simanjuntak."
Mendengar nama itu, Daniel melakukan sambungan telpon pada seseorang, sedangkan Ibnu yang sedari tadi memutar memori otaknya untuk mengenali sosok itu, mengerutkan dahinya entah mengapa seketika dadanya merasa sesak sekaligus hangat.
" Berto..." Tanpa sadar mulutnya mengatakan nama itu, yang terdengar oleh Mumtaz yang langsung menegang.
Untuk mengalihkan pikiran Ibnu, Mumtaz menggapai tangannya, namun Ibnu terlanjur larut dalam memorinya.
" Berapa lama kamu bersama Mumtaz berdua di sini?" Kali ini Alfaska yang bertanya.
" Eh,. Apa.. maksudnya.." bingung Berto.
" Hey, *stop it*. Dia cuma nemenin gue." Seru Mumtaz pada yang lain.
" Maaf, kamu boleh pergi." Ujar Teddy.
" I..iya..mari." Berto bingung kenapa dia harus gugup berhadapan langsung dengan para konglomerat itu.
__ADS_1
Baru tiga langkah yang diambil kakinya, tubuhnya kini mematung tegang saat mendengar ucapan Ibnu yang mengoyak hatinya.
" Ber..Berto... tetanggaku, Berto Simanjuntak, tetangga batakku yang ramah?"
Tubuh Ibnu terhuyung karena satu ingatan yang dilupakannya, ia menumpukan diri berpegangan pada kepala ranjang."...kau kah itu?" Pertanyaan yang diajukan dengan suara tercekat mengundang atensi lainnya padanya.
Mereka memandangi bergantian antara Berto dan Ibnu dengan rasa bingung.
Ibnu menutup kedua telinganya saat kilasan memori menyapa ingatannya, ingatan beruap ejekan padanya.
" *Koruptor..anak koruptor*..
" *Ibnu anak koruptor... Dafi anak koruptor*..." Ejekan dari banyak suara itu mampu menjatuhkan tubuh Ibnu pada posisi meringkuk ketakutan diujung menempel pada sisi ranjang.
" Tidak. tidak..ayahku bukan koruptor..." Racaunya pilu.
Mumtaz segera turun dari ranjang dan memeluk Ibnu erat.
" Bukan, tentu kamu bukan anak koruptor... ucapnya menenangkan sambil menepuk-nepuk punggung Ibnu.
Berto menatap sendu Ibnu, ia ingin mendekat, melindungi Ibnu seperti masa lalunya.
" Nu..."
Suara Berto menghentakkan Ibnu pada realitas, matanya yang basah menatap memohon pada Berto.
" To,...Berto...to..long.. Mumuy berdarah..." lirihnya dengan kedua tangan terbuka seakan di tangannya penuh berlumur darah
Berto menggeleng...Ibnu lekas memeriksa tubuh Mumtaz yang berbalut pakaian rumah sakit.
Mumtaz memaksa membingkai wajah Ibnu." Shuut ..aku gak apa-apa. Aku sudah sehat...aku kuat... lihat ..aku kuat." ucap Mumtaz parau.
" *Ibnu anak koruptor*...."
" *Bapak..Ibnu koruptor*..."
Ejekan itu kembali terngiang, membuat Ibnu kembali menutup telinganya dengan meronta-ronta.
" To,....Berto, to..long...mereka..."teriak Ibnu menangis.
Tak bisa lagi menahan diri Berto turut memeluk Ibnu, " tentu, aku tolong. Siapa yang bikin kamu nangis. Kamu digalakin siapa?"
" Mereka..." Tunjuknya ke sembarang are kosong secara acak.
" Shut,...udah aku singkirin mereka, kamu tenanglah." Bisiknya.
" Hiks..hu..hu...hiks...takut..." Ibnu menangis tergugu, tak lama ia pun terjatuh pingsan dalam pelukan Berto, tetangganya, sang pahlawannya.
Ruangan berubah hening, tatapan mereka semuanya tertuju pada tiga pemuda tersebut, mereka dengan mas lalunya.
" Muy, bisa Lo cerita ada apa? Dengan keahlian bela diri Lo, gak mungkin Lo sampai bonyok begini kecuali membiarkannya." Tanya Alfaska setelah Ibnu dibaringkan di atas brankar.
Mumtaz menegakkan tubuhnya menghadap mereka, ia menghembuskan nafasnya berat." Gue akan cerita."
Setelah Dua jam mendengarkan cerita mereka yang menguras emosi bagi semuanya, saat ini raut wajah mereka cukup meresahkan. karena diliputi amarah yang besar.
Terdengar suara adzan Maghrib dari Maghrib dari masjid setempat.
" Kita shalat dulu, toh kita belum bisa minta keterangan pak Ergi karena saya dengar beliau setelah konferensi dipanggil pr3s1den." Seru Gama.
Derrt ...
" Hallo." Bara menjawab panggilan dari Farhan.
.....
Menelisik dari air muka Bara, mereka tahu telah terjadi sesuatu.
" Ada apa?" Tanya Alfaska pelan.
Bara menatap lekat Alfaska," Jeno telah sadar, dan ...juga papi..." Ucapnya tercekat penuh rasa syukur.
Segera mereka beranjak, namun gerakan mereka terhenti kala menyadari sesuatu. Mereka menatap Mumtaz dan Ibnu yang masih belum sadarkan diri.
" Gue akan jaga Inu, kalian pergilah."
" Tapi Jeno nanyain Lo." Kata Bara.
" Bilang saja gue sibuk, dan dalam keadaan baik. Gak mungkin kan gue ke sana saat ini." Ucapnya santai.
" Hmm, kita pergi." Ujar Daniel.
Saat mereka di depan ruangan, Teddy berkata;" Berto, sebagai petugas, dan teman. Saya minta tolong jaga mereka." Pinta Gama.
" Tentu, itu tugas saya selaku polisi " sahutnya diplomatis.
\*\*\*\*
Zahra yang mengenakan gamis berwarna hitam dengan pasmina abu-abu menuruni tangga dengan tergesa-gesa dengan mimik cemas, kekhawatiran melanda mereka yang melihatnya.
Hito beranjak mendekatinya," sayang, ada apa?"
" Papi dan Jeno sudah sadar, aku harus kesana memeriksa keadaanya."
Tia dan Dista dan beberapa orang turut berdiri.
" Kak, aku ikut." Kata Tia.
" Kami juga." Ucap Sherly.
Zahra menggeleng." Kalian di sini saja dulu, meski sudah sadar mereka belum tentu bisa ditemui.
__ADS_1
Kalau kita semua pergi yang menjamu para pelayat siapa?"
" Aku ikut. Ru, jadi tuan rumah, Alfa dan yang lain belum balik." Ucap Hito pada Heru yang duduk ngobrol bersama para tetangga.
" Kamu mau kemana?"
" Rumah sakit, Jeno dan om Aryan sudah sadar." Jawabnya sesaat sebelum memasuki mobil.
" Alhamdulillah..." Sahut mereka serempak.
Beberapa mobil mengikuti mobil Hito ke rumah sakit.
Tepat suara adzan berkumandang, di bangsal ICU dua pasang mata terbangun dari ketidaksadarannya.
Para perawat jaga segera sibuk menelpon para dokter, Farhan dan beberapa dokter ahli tergesa-gesa memeriksa para pasien yang berbeda kamar.
" Cepat, hubungi prof. Zahra." Pintanya pada satu suster.
" Baik..."
Setelah mengecek keadaan, Farhan menatap lurus pada Aryan." Tuan, tolong ikuti arah gerak tangan saya. Kalau anda memahami perkataan saya, cukup mengedipkan mata sebagai responnya."
Aryan mengedipkan matanya, Farhan menunjuk jari telunjuknya di depan Aryan, secara perlahan ia dari posisi kiri ia menggeser ke posisi kanan, terus dilakukan sebanyak dua kali.
" Alhamdulillah, meski demikian kami akan tetap menjaga anda."
Aryan mengedipkan matanya, ada setitik air mata yang luruh dari ujung matanya.
" Terima kasih, bagaimana keadaan istriku?" Bisiknya, namun masih terdengar oleh Farhan dan rekan lainnya yang menunduk dalam.
Sekuat tenaga Farhan menampilkan muka tenang," tuan, semuanya berjalan sesuai qodratnya. Anda selamat, kami bersyukur." Ucap Farhan diplomatis.
Di ruangan lain, Jeno mengedarkan pandangannya di ruangan yang terasa asing baginya.
Seorang dokter dan asistennya sibuk memeriksa dirinya.
Srek...
Zahra masuk ke ruangan menggunakan APD komplit.
" Kak..." Panggil Jeno serak.
" Kakak di sini." Balasnya tersenyum.
" Bagaimana dok?" Tanya Zahra pada dokter ahli.
" Syukurnya semua stabil, tinggal menunggu Hb-nyq normal."
" Syukurlah." Ucap Zahra menatap monitor.
" Kak, dimana Mumuy?"
Zahra dan dokter itu menatap Jeno." Kamu baru sadar, sudah menanyakan dia. Harusnya kamu mengkhawatirkan diri kamu yang terbaring di rumah sakit yang membuat kami mencemaskan kamu setiap saat."
" Maaf, tapi aku bermimpi yang terasa nyata bagiku, kalau dia sedang terkena masalah yang besar, itu yang membuat aku bangun." Lirihnya dengan tatapan menerawang.
" Mumuy baik-baik saja, sekarang kita konsentrasi pada pemulihan kamu aja ya." Mohon Zahra.
" Iya, bagaimana dengan Rio?"
" Aku yakin dia masih sibuk dengan urusan dia yang random itu."
Hanya senyuman yang bisa Jeno berikan sebagai respon usaha Zahra menghiburnya.
Rio, Alfaska dan para sahabat berlari ke ruangan direktur rumah sakit setelah mendapatkan informasi dari petugas jaga tentang keberadaan mereka.
Ceklek...
Tanpa permisi Bara dan yang lain memasuki ruangan dengan air muka risau.
" Bagaimana?" Tanya Alfaska yang duduk disamping Zahra.
Farhan menjelaskan keadaan mereka semua secara detil.
" Jadi kami belum bisa menemuinya?"
" Belum, kita tunggu perkembangannya."
*****
Beberapa hari kemudian Ergi dan jajarannya langsung bertindak cepat, polisi telah mengeluarkan laporan terkait kecelakaan itu, dan menyatakan kecelakaan itu dilakukan oleh pihak asing, hal ini diperkuat dengan para pelaku yang tertangkap yang akan dilakukan penyelidikan lebih lanjut.
Sedangkan Mumtaz secara meyakinkan tidak terlibat akan kecelakaan itu, jadi berita mengenai Mumtaz sebagai penyebab kematian nyonya Sandra adalah hoax semata.
Menimbang situasi yang berkembang memanas karena kemurkaan dari masyarakat yang setiap harinya selalu disuguhi skandal s3x Andre di Surga Duniawi dan atas tekanan dari masyarakat, menjelang akhir jam kerja, kembali dikejutkan dengan pengumuman penonaktifan Andre selaku petinggi instansi yang langsung dilakukan oleh k4polr1, Ergi beralasan tindakan ini diambil agar pemeriksaan terhadap Andre dan putrinya dilakukan secara objektif.
Berto dan Mumtaz duduk bersisian menonton berita.
" Lo sudah jadi orang hebat, Mum." Ucap Berto.
" Gue harus diposisi ini kalau tujuan gue ingin tercapai." Ucap Mumtaz datar menatap sosok Andre di layar tv yang terlihat menyedihkan.
" Gue dan Timothy bermimpi menjadikan instansi ini menjadi favorit rakyat, seperti mereka sangat menyayangi TNI. Kita berdua selalu cemburu pada kecintaan rakyat pada TNI, hampir setiap berita tentang TNI mendapat respon positif dengan emot love dari mereka, sedangkan tentang instansi gue, mereka hampir selalu skeptis." Keluhnya.
Mumtaz menepuk pundak Berto, Berto menoleh padanya." To,..." semangat."
Berto mendengkus mendengar perkataan yang penuh sindiran itu, pandangan mereka kini tertuju pada Ibnu yang serius dengan laptopnya. Ibnu memutuskan dia akan tinggal di rumah sakit selam Mumtaz tinggal.
" Nu, kenapa Lo gak sekalian jadi tahanan?" sindir Berto.
" Boleh, gue haj4r Lo ya!?" sahut Ibnu dengan mata masih pada laptopnya.
Kini Ibnu beralih menghadap Mumtaz." Muy, apa Andre ada sangkut-pautnya dengan ibu dan bapak?"
Mumtaz membalas tatapan Ibnu," Lo gak lihat dia mondar mandir di Surga Duniawi, gue dulu pernah bilang siapapun yang terlibat di bisnis itu, gue babat habis." ucapnya meyakinkan.
" Lo tidak menjawab pertanyaan gue, gue terlalu mengenal Lo untuk Lo kelabui, jawaban Lo hampir semuanya bermakna ganda.
Dia mencondongkan tubuhnya pada Mumtaz." kalau ini hanya soal Afa, Daniel, Tia, dan Bara. seharusnya Lo sudah stop di sana. Aloya dan Rafael sudah tamat, tapi Lo masih lanjut dengan alibi perdagangan m4nusia khususnya perempuan, entah kebetulan atau tidak gue nemu partner bisnis mereka di Eropa adalah Valentino Navarro. anak dari Alfred Navarro!!
Keengganan Lo mengikutsertakan gue di kasus ini menambah kecurigaan gue. fine, gue terima Lo nolak gue, tapi jangan salahkan gue jika gue bekerja sendiri.
Gue tanpa bekingan akan menghadapi seorang mafia langsung!!" pancing Ibnu.
Mumtaz langsung menarik kerah kemeja hijau daun Ibnu," Lo kupas semua file itu, baru Lo gabung dengan kita."
" Tentu, gue asumsikan ini tentang gue, huh. Selama Lo main rahasiaan sama gue, gue main sendiri." tantang Ibnu.
Mumtaz melepas cengkeramannya, dia mendorong Ibnu sampai punggungnya tertubruk sandaran sofa.
" Jangan menantang gue, kecuali Lo ingin melihat gue mati di depan Lo. Lo tahu kan kalau gue akan selalu menjadi perisai Lo dimanapun itu." tegas Mumtaz yang cukup membuat ragu tekad Ibnu.
Dengan menutup kasar laptopnya, ia berjalan keluar dari ruangan.
" Gue susul dia." Berto beranjak lari.
******
Di tempat lain, Andre yang ditahan, menelpon menggunakan ponsel penjaga yang dia paksa pinjam.
" Hallo."
" Kau...semua informasi mu tentang Mumtaz bohong, dan video yang kau berikan itu bukan yang terbaru, kau menjebakku." Bentaknya pada lawan bicaranya diseberang.
" Saya tidak bohong, tapi kau sendiri yang tidak teliti. Ini balasannya karena kau tidak becus untuk kerjaan sesimpel ini."
" Cucuku kehilangan kuku jarinya, dan kau gagal menjadikan Mumtaz sebagai tersangka. Mulai saat ini kau jangan lagi menghubungi kami." Ucap dingin sang lawan bicara.
" Matikan telponnya." Pinta Alfred pada Mateo yang memegang ponsel tersebut.
" Singkirkan dia, jangan sampai dia buka mulut. Orang pengecut sepertinya pasti akan membuka mulut demi menukar dengan keselamatan dirinya."
" Baik."
" Keluarkan anak buah kita dari rumah sakit tersebut sebelum mereka bisa bicara."
" Mereka mendapat penjagaan yang ketat."
" Habisi mereka yang menghalangi kita."
Mateo menghembuskan nafasnya gusar." baik, tuan."
" Kapan saya bisa pergi dari sini?" Tanya Alfred dengan kesal.
" Tuan, anda masih harus di sini sampai ada yang bersedia melakukan cangkok kulit untuk tubuh anda."
" Apa di sini tidak ada yang bisa melakukannya? bayar mereka dengan harga tinggi."
" Bukan begitu tuan, tetapi RaHasiYa dan koneksi Zahra yang membuat mereak enggan melakukannya."
Alfred menggeram, dia sungguh frustasi karena merasa tidak bisa mengendalikan situasi dengan terjebak di rumah sakit dengan seluruh tubuh terbalut perban khusus.
Sementara Andre mengerang kesal, ia merasa diperalat. Dia harus melakukan sesuatu sebelum semuanya semakin keruh.
Tanpa Andre sadari tindakannya menelpon orang tersebut disadap oleh seseorang.
" Ya Tuhanku, haruskah mereka sepolos ini?" Gumam Dewa meremehkan, dia mengirim rekaman pembicaraan telpon Andre tersebut ke ponsel tugas Ergi. Dilanjut menelpon Rio.
" Bang Rio, buka server polr1." pinta dewa melalui earpieces-nya yang setia terpasang di telinganya sejak Eric tertangkap.
" Apa sudah ada titah dari Alfaska?
" Ini untuk mempermudah mereka melakukan penyelidikan telpon tadi."
" Oke."
" Kalau begitu Lo juga bisa sebar si Devi yang masih aktif itu." sela Daniel di sambungan lain.
sambungan terjeda untuk sesaat," hanya dia jembatan untuk menyambungkan Andre dengan Surga Duniawi." terang Daniel.
" Lo tahu?" tanya Rio hati-hati.
" Huh, Lo terlalu meremehkan Ibnu..."
" Bukan demikian, tapi Mumuy menyuruh gue untuk menjauhkan Ibnu dari ini."
" Kalau begitu bisa Lo jelaskan pada gue?" sinis Daniel.
" Gue takut salah ngomong, mending tanya langsung sama Yuda, sejak Yuda jadi asisten, mereka berdua sudah ngomongin ini. gue kebagian ngurus media saja." terang Rio.
" Thanks infonya, besok para asisten ngumpul di RaHasiYa." tukas Alfaska menutup pembicaraan parallel mereka.
Rio melepas kasar earpieces-nya, menatap sendu pintu ICU dimana Jeno berada.
Sejak tahu Jeno telah sadar, Rio tidak pernah pergi dari depan pintu bangsal ICU. dia duduk menunggu di sana meski telah mendapat teguran dari pihak rumah sakit, teguran itu berhenti sejak Gama memberi titah untuk membiarkannya.
__ADS_1
" Sial Lo Andre, Lo dan teman in crime Lo harus membayar semuanya. Gue gak bisa kehilangan satu-satunya keluarga gue." racaunya, Ida mengusap air mata yang keluar.
Sungguh saat ini aura playboy dan sikap slengeannya yang melekat dengannya tidak nampak sama sekali darinya, yang tersisa hanya raut membalas dendam pada musuhnya yang menjadikan sepupunya terbaring di sana...