
Drrrt..drrt....
My fiance memanggil...
Klik....
12 panggilan tidak terjawab, lagi, ponsel yang tergeletak dalam Dashboard mobil sedan warna hitam bergetar, lalu mati lagi.
" Ck, Lo lihat hp gue, gak?" Hito celingak-celinguk mencari ponselnya.
Dia sedang rapat dengan petinggi Gaunzaga di lounge Al-Tair.
" Lo kesini tadi gak bawa hp, bung." Samudra melempar kulit kacang ke muka Hito.
Drrrtt...drrt....
Ponsel milik Samudra menyala," lha, kok bini Lo nelpon gue? Gimana nih takut doi naksir gue." Selorohnya
" Angkat anj1r, siapa tahu penting." Omel Dominiaz.
" Cie..yang marah gak ditelpon mantan gebetan." Ledek Samudra, yang mendapat geplakan dari Heru yang duduk di sebelahnya.
" Angkat," Hito merebut ponsel dari tangan Samudra.
" Hallo "
" Alhamdulillah, kak. Darimana saja, ditelpon gak diangkat..."
" Ada apa?" Potong Hito malas mendengar ocehan Zahira.
" Ck, ga ada lembut-lem..."
" Hira..."
" Ara dikeroyok."
" Hah? Maksudnya apa?" Hito meloudspeak panggilannya.
" Tadi kita berdua mau visit terakhir ke tempat pasien yang dijaga polisi, tapi kita engeh kalau mereka bukan polisi..." Sesaat para petinggi gaunzaga mematung karena kaget, selama Zahira bercerita, mereka memasang earpieces RaHasiYa, kemudian menekan tombol parallel.
Terdengar jelas dari sambungan seberang Mumtaz sedang memberi instruksi, sementara Samudera dengan menggunakan ID Hito masuk ke sistem cctv rumah sakit.
Ceklek...
Blam...
" Astaga, sepertinya rumah sakit sudah mereka kuasai..." Ucap Zahira menutup Kemabli pintu yang dibuka sesaat tadi.
Suasan terasa tegang.
" Ra, VC, ya." Seru Dominiaz.
Setelah beralih ke VC, terlihat Zahira menempelkan ponsel ke luar disela pintu dengan kamera belakang merekam keadaan lorong yang menuju ruang kerja Zahra terdapat beberapa pria berseragam polisi, namun bermasker berseliweran tanpa ada orang lain.
" Bisa tidak kalian mengalihkan perhatian mereka?" tanya Zahira takut-takut.
" Sayang, memang kamu mau kemana?" Tanya Samudera.
" Aku harus bantu Ara, dia sendirian di sana..."
Tiba-tiba suara Jeno menyela omongan Zahira." Kak, aku menuju lantai kak Ala, tunjukan saja dimana tempatnya."
" Jeno, diam di tempat. Kamu belum sembuh benar, daripada kamu lebih baik aku, kamu kesini saja bantu aku." Tegas Zahira."
" Jeno, dengarkan perintah kak Hira." Tegur Mumtaz.
" Mum, kalian dimana? Tanya Hito.
" Di jalan, om. Habis dari m4bes TNI."
" Kenapa gak mampir ke kantor dirgantara, kalian naik helikopter, lebih cepat." timpal Samudera.
" Dimana tempatnya? Aku ke sana." Serobot Zayin, Heru mengetik alamat kantor pusat dirgantara, lalu mengirimnya pada Zayin.
" Oke, guys aku tutup sambungan ya." Aku mau join ke ara, Jeno sudah menunggu di dalam lift." tukas Zahira.
Klik...
Setelah Zahira menutup sambungan Mereka berempat beranjak, " Pake satu mobil saja ya." Ujar Hito, yang diangguki oleh semuanya.
" Ros, nitip mobil, bawa mereka ke rumah Edel." Dominiaz menaruh beberapa kunci di atas meja.
Erros yang sedang mengobrol dengan beberapa tamu, mengangguk, lalu beranjak ke meja mereka.
" Sekalian panggil anak buah Lo untuk jaga rumah ya." Pinta Heru.
" Siip." Erros tidak lagi bertanya lanjut, toh ia sudah beberapa kali terlibat urusan tidak menyenangkan mereka.
" To, hubungi bang Damian." Pinta Dominiaz yang mengendarai mobil Hito keluar dari area lounge.
" Hmm." Ia mengambil ponselnya, melihat banyak panggilan dari Zahra di ponselnya ia memarahi dirinya sendiri karena teledor lupa bawa ponsel.
" Sudah, jangan menyalahkan diri, kita akan menyelamatkannya." hibur Dominiaz.
" Kalau keburu" Geraham Hito menggertak.
Syiunng ..
Dominiaz menginjak gas mobil ke maksimal, jalan tengah malam yang lengang memudahkan dia menelusuri jalan raya.
******
Mumtaz dan Ibnu ketika keluar dari ruang rapat langsung memasang earpieces dengan sistem parallel, Mumtaz menyalakan keadaan darurat dari ponselnya ke seluruh anak RaHasiYa. Sedangkan Ibnu langsung masuk ke sistem keamanan rumah sakit, menuju ke tempat Zahra berada.
Terlihat Zahra yang berlari dikejar penyusup.
" Aku bersama William di belakang, Bayu dan temanku yang ditugasi menjaga Ayu sudah menguasai rooftop rumah sakit, dua sniper sudah standby di gedung sebelah tinggal nunggu perintah." Ucap Zayin di seberang saluran.
" Oke, Gad. Gas ke basement melalui jalan VVIP." Ujar Ibnu ke Ragad yang menyupiri mereka.
" Drone, ready. Mereka berada dari pos satpam parkiran, intinya semua area rumah sakit sudah dikuasai mereka." Lapor Daniel.
" ****... Gad, Berhenti di jalan menuju rumah sakit, tutup semua jalan ke dan dari rumah sakit. Kalau kalian datang terlebih dahulu, lakukan apa yang harus dilakukan." Perintah Mumtaz.
" Bara mimpin langsung operasi ini." Ucap Alfaska.
" Bar, bagi mereka menjaga Hartadraja, Birawa,dan Atma Madina." Ucap Mumtaz.
" Yoi." Balas Bara singkat.
Tiba-tiba petinggi Gaunzaga bergabung dengan mereka.
" Yo, Lo dimana?" Tanya ibnu.
" Gue sedang masuk ke server mereka, untuk menghapus file mereka." Sahut Rio.
" Ada yang mau bilang, gimana awalnya mereka bisa masuk?" Tanya Zayin.
" Dua Minggu lalu, Dewa mengabarkan ada pihak asing masuk website rumah sakit, gue dan Bara memutuskan membiarkannya, yang ternyata untuk ini." Info Alfaska tidak enak hati.
__ADS_1
" Baiklah, gak ada yang perlu disalahkan." Mumtaz menengahi.
" Aku gak berniat menyalahkan, A. Cuma ingin tahu siapa mereka, sehebat apa mereka bisa menembus rumah sakit Atma Madina yang terkenal kecanggihannya." Klarifikasi Zayin.
" Siapa mereka?" Tanya Ibnu.
" Dari organisasi Navarro yang ada di Italia." Jawab Dewa.
" Sekarang fokus ke misi kak Ala." Ujar Mumtaz.
" Karena dilarang kak Hira, gue sekarang di lift mau ke tempat kak Ala." Seru Jeno.
" Memang seharusnya Lo tidur, No." Omel Rio.
" Bagaimana dengan Papi?" Tanya Mumtaz.
Jeno yang menjawab." Adam tadi ke kamar, dia mendapat titah jaga di dalam kamar dari Gaunzaga agar penyusup tidak mengetahui keberadaan papi."
Ibnu memperhatikan Mumtaz melepas earpieces-nya, kemudian melakukan sambungan telpon.
" Hallo, om Raul. ini Mumtaz."
" Iya, ada id callernya. ada apa?" tanya Raul dengan suar khas bangun tidurnya.
" Tidak ada, kecuali ingin memberimu hadiah, saya yakin om tidak akan menolaknya."
" Hah?"
" Hadiah."
" Dalam rangka apa? aku tidak sedang berulang tahun."
"Pertemanan, saya harap om tidak keberatan saya akui sebagai teman setelah apa yang terjadi."
" hehehe, kami bahkan sudah menganggap kau keluarga. baiklah saya terima hadiah darimu apapun itu."
" Ini sangat menyenangkan untukmu."
" clue?"
" Ivanka, Dolores."
jeda, sambungan hening dari arah, Mumtaz tahu nama yan diucapkannya merupakan nama tabu bagi Raul.
" Bagaimana..baiklah lupakan apa yang ingin saya tanyakan."
" Hanya karena Mateo mengganti nama belakangnya menjadi Navarro, bukan berarti jejak nama leluhurnya hilang. bersyukurlah statusnya sebagai asisten untuk keluarga Navarro, saya bisa menemukan kisah diantara kalian." ucap Mumtaz dingin.
" Dimana saya bisa mendapatkan Ivanka?"
" Di tempat dimana dia belajar, itu kalau kau bisa berangkat sekarang."
" Tentu, saya berangkat."
" Selamat bersenang-senang."
" tentu, terima kasih."
klik...
Senyum licik Mumtaz terpatri di bibir yang bisa tidak biasa terangkat untuk sebuah senyuman yang random.
" Apa kamu punya bisnis dengan om Raul?" tanya Ibnu menyelidik, dia tidak suka pancaran tanpa ekspresi dari netra sahabatnya itu.
" Biasa aja, hanya bisnis. bayar dimuka saja." jawab Mumtaz sesantai mungkin.
******
Suasana tegang lebih mirip film bergenre action perang antar geng dengan kehadiran ratusan gengster yang berbalut pakaian kebesaran mereka masing-masing.
Jalan raya dari dan ke area rumah sakit telah ditutup, pengendara diharuskan memutar balik kendaraan, RaHasiYa, atas perintah Bara telah menutup seluruh akses informasi digital untuk pihak luar.
Hal ini memicu kemarahan Ergi, dan jajarannya.
" Bagaimana mungkin kita hanya bisa menunggu seperti orang bodoh ketika tiga organisasi bawah tanah terbesar beraksi tanpa kita bertindak?" Geram Ergi, ia dan petinggi polisi sedang mengamati jalannya penyelamatan Zahra ala RaHasiYa di ruang meeting.
Yang tiba-tiba layar besar di depan mereka mati, karena aksesnya diputus oleh RaHasiYa.
" Berto, urus pemindahan Timothy ke pusat." Seru petinggi polisi lain.
" Itu harus konfirmasi dulu pada pr3siden." Himbau Ergi.
" Selaku pimpinan, kau yang urus birokrasi, kita yang urus sisanya." Ujar petinggi yang lain.
" Serahkan misi ini pada mereka, kita hanya harus menuntaskan kasus Andre sesuai prosedur dan hukum yang berlaku, agar kepercayaan masyarakat kita dapatkan kembali." Seru yang lain.
" Berarti hukuman mati untuknya." Tukas Ergi.
" Jika itu yang pantas dan seharusnya, kita sudah berkomitmen untuk mengubah instansi ini ke jalan yang seharusnya. Pers3tan dengan manuver piliti$1."
" Yeah..pers3tan." gumam yang lain.
" Jangan ada dusta diantara kita." Sindir Ergi melirik pada satu sosok yang dia duga mata-mata.
" Kalau ada yang berkhianat, kita pake cara kita tanpa ampun." Tegas yang lain.
Petinggi yang tersentil, hanya mengangguk tanpa bicara.
Para geng itu sibuk dengan dawai masing-masing mempelajari keadaan dalam rumah sakit yang didapat dari Dewa yang mengirim seluruh gambar posisi lawan yang di dapat hasil tangkapan drone.
Alfaska memberikan earpieces pada Damian yang belum memilikinya.
" Bagaimana, butuh bantuan?" Tanya Dominiaz.
" Kalau dari seluruh Jakarta sudah pada kumpul, beberapa sudah melumpuhkan yang di area parkir dan lantai dasar, sekarang mereka sedang menuju basement, dan lantai selanjutnya. Dari Depok, bekasi dan Tangerang sedang otw."
" Kelamaan menunggu mereka, berapa jumlah mereka?" Tanya Hito
" Yang baru terlihat hampir seratus, rencananya kita bakal habisi mereka tuntas sampai ke markas mereka." Jawab Alfaska.
" Karena ini Navarro, markas mereka buat lahan Lo aja bang " ujar Bara.
" Thanks." Kata Dominiaz.
" Di dalam ada Ricky." Kata Damian
" Gak bisa dihubungi, tapi Dewa menangkap ada sinyal asing yang menghubungkan dia dengan orang itu, Dimas sedang berusaha masuk ke dia." Infomasi dari Daniel.
mereka menoleh saat beberapa anak RaHasiYa menyeret beberapa lawan yang masih hidup.
" Pah..." Kata Adgar ke Damian.
" Beres." Dapat kode dari Damian, beberapa anak buah Damian memasukan mereka dalam Van, dan meluncur meninggalkan area.
" Kalian bantu RaHasiYa urus bagian area jalan" titah Damian. pada anak buahnya.
" Siap."
Mereka kembali fokus dengan dawai mereka yang kini menampilkan Zahira dengan dua senjata andalannya saat ini berupa pel lantai, dan sapu. Diikuti Jeno dengan pegangan kemoceng yang sudah dipapas bagian bulunya dan diruncingkan ujungnya, serta dua anak RaHasiYa lainnya dengan pisau di tangan mereka.
__ADS_1
" Sam, kelakuan bini Lo." Dumel Dominiaz geregetan.
" Padahal udah disuruh diam di tempat, tapi dia malah marah balik sama aku." Celetuk Bara.
" Ya begitulah geng para dokter itu, keras kepala." Sahut Samudera yang diamini oleh Hito.
" Halo..halo.." seru Zahira.
" Ya.." jawab mereka refleks.
" Kalian, bisa kasih tahu kita dimana posisi Ara, cepat, jangan pake L." Tekan Zahira.
" Wa, kirim ke Jeno." Titah Bara.
" Siap." jawab Dewa.
" Guys kita sudah standby di rooftop, siap meluncur." Kata Zayin.
" Maksud Lo meluncur apa ya?" Tanya Alfaska.
Tiba-tiba terdengar jeritan, mereka semua terhenyak. Melihat keadaan di dalam kacau, Bara langsung memberi komando.
" Kalian masuk serang mereka, dengan dua orang di masing-masing kelompok."
" Gaunzaga akan menjadi lapis kalian." Seru Hito.
Mereka membubarkan diri, siap memasuki arena dengan senjata lengkap di tubuh masing-masing bersiap melumpuhkan lawan di post yang sudah ditentukan.
*****
Setelah mendapat lokasi kiriman Dewa, Zahira dengan dua alat dan pasukan mengendap ke arah Zahra saat mau belok ke koridor dimana Zahra terkepung mereka berpapasan dengan dua penyusup yang berkeliling, tanpa basa-basi anak RaHasiYa melempar pisau yang mengenai paha mereka.
Jeritan mereka mengalihkan perhatian kawannya dari Zahra, menyadari musuh lengah,
Segera Zahra mendorong kencang brankar ke arah sisi kiri penyusup, penyusup yang tidak mengira akan tidakan itu tidak sempat menghindar hingga mereka tertabrak brankar, banyak dari mereka jatuh dan terjungkal.
Sedangkan Zahra sendiri meluncurkan diri di lantai guna menyerang bagian bawah lawan yang sebelah kanan yang kaget.
Zahira bergegas membantu Zahra dengan memukul mereka secara membabi-buta menggunakan senjatanya, dua wanita bisa mengimbangi bertarung dengan lawan, sedangkan dua anak RaHasiYa lain berduel dengan mereka yang telah kembali berdiri setelah jatuh diterjang brankar.
" Jumlah yang di sini 20, ****...bantuan mereka berdatangan." Ucap Jeno yang melawan mereka di atas kursi rodanya, saat ekor matanya melihat gerombolan orang berseragam keluar dari pintu darurat dan lift.
Saat dirinya hendak berdiri, Zahra berkata,
" Jeno, kamu berdiri, kau berhadapan dengan ku " larang Zahra sambil 4du jotos dengan penyusup.
Tak ayal Jeno mengurungkan niatnya, melanggar sabda Zahra berarti berurusan dengan petinggi RaHasiYa dan Gaunzaga, malas banget gak sih.
Terpantau oleh mata Jeno satu orang dari penyusup yang memegang ponsel yang menyala melindungi Zahra dan Zahira dengan modus menarik dan memutari dua wanita tersebut saat hendak mendapat serangan dari belakang mereka dari lawan seakan-akan mem3lintir dua wanita itu.
" Keputusan yang beresiko," gumam Jeno. Tindakan pria tersebut terlihat cctv, " itu Ricky." Seru Damian yang melihat kekacauan itu melalui tabsnya.
" Kak Hira dan yang lain tiarap, aku akan menembaki mereka." Ujar Zayin dari rooftop.
Zahira yang mengenakan earpieces langsung menarik Zahra untuk tiarap, begitupun dengan yang lain, Jeno memberi kode pria berponsel untuk tiarap yang segera diikuti olehnya.
Tiba-tiba dari luar jendela terdengar ledakan yang menghancurkan jendela kaca besar di sebelah kiri, tampak Zayin dan William bergelantungan dengan masing-masing seutas tali.
Mereka berdua menerobos masuk dan tiarap yang disusul banyaknya hujan pelvru yang menjatuhkan lawan yang masih berdiri tanpa meleset tepat di tempat vital mereka, peristiwa terjadi dengan cepat setara dengan kecepatan cahaya.
" Aaaa..." Pekikan panik dari Zahira melihat banyak darah yang mengalir, menyadarkan mereka akan situasi terkini.
Setelah t3mbakan dari arah gedung luar berhenti, Zayin dan William berdiri, lalu langsung memborbardir mereka dengan t3mbaak4n beberapa saat kemudian hujan pelvru mereka dibalas dari pelvru yang terbang dari arah lain.
Bara, Hito dan pasukan berpencar, saat mereka mendapat perlawanan tembakan dari arah koridor lain.
Beberapa anak RaHasiYa dan Gaunzaga tertembak, tiba-tiba dari tangga darurat di belakang lawan, pasukan Dominiaz keluar men3mbaki mereka.
Suara desingan pelvru bagaikan petasan hajatan pernikahan saling sahut, bala bantuan lawan terus berdatangan secara bergelombang, " ini lebih banyak dari perkiraan." Ucap Bara di tempat persembunyian.
Tiba-tiba lampu sepanjang koridor lantai tersebut mati, hingga koridor gelap gulita.
" Yeah, good." Bara bersemangat. Anak RaHasiYa memakai kacamata malam mereka.
Kepanikan melanda lawan, mereka menembak secara acak, saat serbuan pelurv berhenti, anak RaHasiYa secara serempak keluar dari tempat persembunyian.
Mereka melumpuhkan lawan dengan cepat dengan sekali tebas pis4u dileher dan alat vital lainnya yang langsung membuat mereka tidak bisa sadar lagi, anak Gaunzaga yang bersama mereka turut membantu menggunakan insting mereka karena mereka tidak mengenakan kacamata malam.
Zayin dan William ditengah kegelapan dan pertempuran menyusuri koridor mencari keberadaan Zahra dan Zahira, terkadang mereka m3nusvk, memlintir lawan, lalu mem4tahkan organ tubuh lawan.
Zahra ditemukan sedang tiarap bersama Hira yang dilindungi tubuh Jeno yang terduduk dengan sebilah pisau yang berlumur darah dengan kursi roda yang tidak berbentuk sebagai perisai mereka.
" Bang, ini gue, Zayin yang ganteng." Zayin berbisik.
" Yin, dimana Lo?" Jeno bersikap defensif, kalian tidak mau gegabah percaya begitu saja.
Zayin menyalakan pemantik api gas, Jeno menurunkan pisaunya.
Dari ujung mata Zayin mendapati gerakan halus yang hendak men3mbak Jeno atas bantuan cahaya api.
Jleb... jleb....
Gubrak....gubrak...
Lemparan cepat nan halus tak kentara dua pisau dari Zayin dan William men4ncap di t3ngkor4k mereka.
" Aaaaa..." Zahira dan Zahra berteriak kaget karena robohnya dua tubuh besar dihadapan mereka disertai aliran darah yang mengenai mereka.
Akibat teriakan itu lampu darurat menyala, lawan yang berdiri dan masih bertahan langsung tanpa basa-basi dihabisi.
William membantu Jeno ke kursi terdekat yang sudah rusak sandarannya.
Sedangkan Zayin menepuk-nepuk pundak dua wanita yang masih tengkurep karena takut.
" Kak, bangun. Semuanya sudah selesai."
" Gak mau, kamu pastiin dulu mereka ko1t semua." Ujar Zahra dibalik tangannya.
" Udah diperiksa semua, sayang. Mereka pada innalilahi semua." Kata Hito yang berjongkok di samping Zayin.
Dor...dor...
" Tuh kan bohong." Kekeuh Zahira yang mendapat delikan tajam dari Zayin dan Hito, padahal mereka hanya disuguhi punggungnya saja.
" SEMUA CLEAR." Sahut Dominiaz menyimpan pistol ke sarungnya yang memimpin memeriksa keadaan lawan yang terkapar di lantai.
Untuk bantuan penyusup yang datang dikemudian waktu langsung dihadang dan ditangani oleh mereka yang sudah berjaga di setiap akses masuk di lantai dua itu.
" Tuh, dengar om Domin ngomong apa." Zayin menjauhkan dua wanita itu dari satu sama lain.
" Ayiiinnn..." Dalam waktu bersamaan mereka beranjak menyerbu ke pelukan Zayin yang kaget hingga Zayin jatuh terduduk.
" Semua sudah tenang." Seru Hito melihat drama dua wanita itu
Bara menuju Ricky yang pura-pura mati tergeletak tidak jauh dari Jeno, dia mengambil ponsel yang masih menampakan Valentino yang sudah memucat....
terima kasih..masih mengikuti cerita ini...
__ADS_1
jangan lewatkan untuk like, komentar, hadiah, vote, dan share...
love you all....