Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
211. Sedikit Sentuhan Ala Ibnu.


__ADS_3

Mumtaz menunduk dengan kedua tangan menjuntai berpangku di atas kedua pahanya di ruang tunggu ruangan operasi, di rela membuang waktunya untuk operasi ketu4 karena ingin memastikan sesuatu.


Cklek....


Betapa terkejutnya Farhan melihat Mumtaz di depan ruang operasi.


" Pak..." Panggil Farhan dengan sebutan kebesaran guna menjaga wibawa Mumtaz selaku pemegang saham rumah sakit ini di depan para rekannya.


Mumtaz langsung beranjak mendekati Farhan." Apakah dia masih hidup?"


Para rekannya hormat membungkuk setelah diberi kode agar mereka meninggalkan mereka berdua.


" Keadaan pak Ketu4..."


" Saya tidak peduli keadaanya. Yang ingin saya tahu apa dia masih hidup?" sela Mumtaz datar.


Farhan tertegun sejenak saat suara tanpa empati itu menyambar telinganya.


" Beliau masih bernafas namun..."


" Pastikan malam ini dia hadir ke club flawles."


" Mum, bahkan hanya untuk bernafas dia masih membutuhkan alat medis."


" Bawa semua alatnya, saya tidak mau tahu bahkan ketika dia diambang maut sekalipun pastikan dia hadir di sana." Mumtaz pergi setelah mengatakan itu diikuti Rio 


Jeno yang merasa dirinya ditatap Farhan, menegakkan tubuhnya yang semula menyandar ke tiang.


" Saya sarankan prof mengikuti ucapannya, keadaan ketu4 bisa dijadikan prof sebagai pertimbangan apa yang terjadi pada diri anda kalau anda mengabaikan keinginannya." Imbuh Jeno, Setelahnya dia berlalu menyusul Rio.


" Yo, Lo istirahatlah, nanti malam kalian akan sibuk." Ucap Mumtaz pada Rio yang masih setia menemaninya di ruang kerjanya.


" Lo sendiri?"


" Gue gak bisa istirahat kalau ada Lo, pergi."


Rio menutup pintu ruang kerja Mumtaz tanpa protes.


Di depan ruangan dia bertemu dengan Jeno yang sudah duduk di kursi depan meja sekretaris.


" Nagapin Lo keluar?"


" Dia pengen sendiri, mau istirahat katanya."


" Be-go. Itu tandanya Lo harus lebih waspada." omel Jeno.


" Kenapa?" Tanya Rio bingung. 


" Lihat aja nanti. Duduk sini Lo." Jeno menunjuk kursi di sebelahnya yang kosong.


*****


 Ibnu mengangkat wajahnya menatap langit-langit ruangannya merenungi akan seseuatu matanya sudah mulai memanas. Wajahnya diliputi awan mendung yang gelap.


" Menurut Lo bagaimana keadaan gue saat ingatan bapak gue di bawah todongan senjata sementara istrinya digagahi mereka di depan matanya,..." Ibnu mulai bicara dengan suara serak tertahan.


"Ibu gue dibawah kung-kungan seseorang yang tertawa sambil bergerak di atasnya sementara yang lain menonton, ibu gue digilir oleh mereka bahkan sebelum kami dibawa masuk oleh kawanan mereka bagian atas nyokap terpampang tanpa helaian kain, gue ingat orang itu, dan sekarang mereka di depan mata gue, Lo pikir gue bisa hanya menunggu?" Bentak Ibnu keras, urat lehernya menonjol. Guratan frustasi dan tersiksa membayang disorot mata itu 


Mata merana-nya menatap Dewa sayu, ia sangat rapuh, diamnya Mumtaz padanya hari ini menambah nelangsanya.


" Gue cuma minta bantuan Lo, sekali ini...saja." rintihnya memohon. Dewa dan Dimas terpaku pada wajah yang tidak baik-baik saja itu.


Tarikan nafas dari suara di ponselnya memancing Dewa melirik ponselnya yang di genggamnya yang ternyata masih menyala, " ya ampun gue melupakan bang Mumtaz yang menelponnya tadi." Bathinnya.


Dewa beranjak meninggalkan ruangan dengan ponsel terpasang di telinga." Bang, Lo dengar semaunya kan? Lo tenang, gue akan melindungi bang Inu seperti Lo melindunginya." Ucap Dewa cepat.


Dia sangat tahu Mumtaz akan terguncang setelah mendengar perkataan Ibnu tadi, dia merutuki dirinya yang melupakan sambungan telpon dari Mumtaz.


Tidak ada jawaban dari seberang membuat Dewa gelisah, hingga terdengar suara barang yang berjatuhan dan teriakan kencang dari Mumtaz. Ia hanya mampu menghembuskan nafas gusar.


******


Di lain tempat, dada Mumtaz terasa sesak mendengar curahan hati sahabatnya, dirinya tersentak bagai dipukul bogem besar, mengapa Ibnu tidak mengatakan apapun padanya.


Ini salahnya yang terlalu fokus pada tujuannya hingga dia kurang memperhatikan sahabatnya yang memang beberapa hari ini lebih diam dari biasanya 


Mumtaz menatap ponselnya yang ia taruh di atas meja, air matanya mengalir tanpa bisa dicegah.


Kilasan perkataan Ibnu tadi memenuhi kepalanya, Mumtaz berdiri, dia menyapu semua kertas di atas mejanya dengan kedua tangannya, lalu dia berteriak kencang.


" Aaaaaaarrkkh...AAAAAArrkhhh... AAAAAArrkhhh..."


Jeno dan Rio yang menungguinya di depan ruang kerjanya terlonjak berdiri mendengar secara samar jeritan itu, jeno mendekati pintu, mengerakkan handle pintu untuk membukanya namun tidak terbuka, pintu itu dikunci dari dalam.


" MUY, MUMTAZ..BUKA..." Teriak Jeno menggedor-gedor pintu.


" MUMTAZ, PLEASE BUKA..." Tangan Jeno merah akibat terus menggedor pintu itu.


" MUY... Mumtaz..." Teriakan Jeno mulai panik, karena di dalam tidak ada suara apapun.


Sementara Rio terpaku kaku, dia kaget keadaan yang tidak dia duga. Wajah panik Jeno yang biasa tenang terkendali menambah rasa takutnya.


Cklek...


Jeno melihat Mumtaz yang kuyu, matanya merah, wajahnya lesu, rambut berantakan, dia sungguh tidak dalam keadaan baik-baik saja." Muy,..." Panggil Jeno pelan.


" Suruh Leo dan Ragad mengikuti Ibnu, bantu apapun yang Ibnu lakukan tanpa protes." Suara datar nan tenang Mumtaz tidak Jeno sukai.


" Bagaimana dengan Lo?"


" Gue ada Lo, dan Rio, Ibnu lebih membutuhkan mereka, bilang pada mereka untuk menjaga Ibnu." Lirihnya seiring air mata itu kembali mengucur.


" Muy, ..."


" Please, jangan bantah gue. Lo tahu kan sesayang apa gue sama dia, dia sumber kewarasan gue." Mata sendu itu sangat menyiksa Jeno.


" Baik, gue hubungi mereka." Timpal Jeno.


Mumtaz berbalik badan, saat ia hendak kembali menutup pintu, Rio mendesak masuk ruang kerjanya.


" Bikin kita berguna buat Lo." Mumtaz membiarkan Rio yang menutup pintu.


Saat Rio berbalik, dia terkejut akan ruang kerja yang porak poranda. Matanya melirik Mumtaz yang tengah duduk setengah berbaring di sofa dengan satu tangan menutup matanya.


Kemudian ia mendekati meja, mengambil ponselnya yang tergeletak agak jauh dari meja. Dia menelpon Nathan.


" Hallo, bang. Gue cuma minta Lo siapin panggung striptis untuk orang-orang yang akan gue kirim namanya."

__ADS_1


" Tentu, untuk kapan?"


" Malam ini. Datangkan semua pria predator ke sana, gue yang tanggung biayanya."


" Gampang itu mah, gratis."


"  Hehehe,, thanks." Nathan dapat merasakan tawa itu sangat datar dan hanya basa basi.


Saat menyudahi telpon itu, Mumtaz menatap Rio, lakukan live streaming untuk striptis bagi kalangan pria predator wanita di seluruh belahan dunia, masukan nomor untuk BO mereka, minta konfirmasinya pada bang Nathan."


 Ucap Mumtaz sambil sibuk dengan ponselnya. Tubuh Rio kaku, dia ingin menolak, tapi dia tahu Mumtaz bisa melakukan lebih dari itu jika dia sendiri yang melakukannya 


****


 Di seberang sana Nathan yang mendapat list nama-nama penari tertegun menegang, nama Gabriela termasuk satu diantara mereka.


Nathan mengusap wajahnya gusar.


Cklek...


Gabriela masuk ke ruangannya dibawah tatapan sayu Nathan yang langsung berdiri begitu melihat Gabriela.


" Ada ap..."Gabriela tercengang, ia terkejut akan sikap Nathan yang selama ini sulit dimengerti.


Terkadang Nathan lembut, tapi tidak jaranh dia juga kasar padanya 


" Maaf, maafkan aku. Tapi kau harus melakukannya." Lirih Nathan Terdengar menyesal.


" Kenapa?" Nathan melepas pelukannya, menatap intens Gabriela.


Ia mengambil ponselnya. Dan mengetik sesuatu. 


" Kamu dan beberapa yang nama tertulis di list itu akan melakukan pertunjukan striptis. Bersiaplah." ucap Nathan dengan suara beratnya.


Tubuh Gabriela menegang, ia menggeleng cepat. Wajahnya memucat. Dia yang seumur hidupnya sekolah di sekolah asrama perempuan dan mendalami ilmu agama dengan baik menolak hal itu.


" Tidakkah tubuhku yang melayani nafsu orang tidak memuaskan dendam mu?" Teriak Gaby.


" Kenapa kau tidak bv-nvh aku? Kenapa aku yang kau siksa atas dosa-dosa ayahku? Aku bersumpah, aku lebih rela kau habisi nyawaku daripada harus mempertontonkan tubuhku." Sentak Gabriela, wajahnya sudah dipenuhi airmatanya.


" Masalahnya kamu tidak punya kesempatan untuk mengambil keputusan. Saudara lelakimu telah tiada, ayah dan ibu mu tidak akan bisa menolong mu lagi. Aku tidak ingin menghabisi mu selain tuhan yang yang mencabut nyawamu.


" Jika kamu memang sangat tidak ingin, aku akan memberi nama seseorang yang bisa mengubah nasibmu." Nathan mengirim nama Mumtaz ke ponsel Gabriela.


" Kamu telpon nama yang ku kirim padamu, kalau dia menolak, aku sarankan kamu untuk menuruti segala perintahnya. Atau kematian yang kamu harapkan tidak akan pernah terjadi dalam waktu dekat, tapi hidupmu mendekati kematian itu sendiri." Peringatan dari Nathan membuat seluruh tubuh Gabriela merinding.


*****


Ibnu menatap mab3s dari seberang jalan di dalam mobil Fortuner.


" Wa, gimana semua ready?" tanya Ibnu melalui earphone ke lawan bicaranya.


" Siap, Lo mulailah bergerak." Ucap Dewa di seberang.


Ibnu keluar dari mobil, dengan berpakaian serba hitam ia menyebrang ke mab3s.


Di ujung pagar mab3s telah dijaga Ragad dan Leo yang juga mengenakan pakaian serba hitam. mereka menghampiri Ibnu yang hendak masuk mab3s seorang diri.


" Le, Gad....kalian..."


" Mumtaz bilang dia sudah minta Berto untuk kerja sama. Timothy akan mematikan cctv dimana Lo berada." ujar Leo.


" Apa dia marah?" Ibnu cemas dirinya semakin dijauhi oleh satu-satunya orang yang menjadikan dia bukan anak yatim-piatu.


" Tidak, dia marah pada dirinya sendiri kalau terjadi apa-apa sama Lo, makanya kita di sini." sahut Ragad.


" kita Move, Timothy bilang semua ready." Leo melihat ponselnya.


Entah bagaimana, mereka bisa semulus jalan memasuki mab3s, penjaga seakan tidak melihat mereka ketika mereka memasuki pagar.


Leo yang berkomunikasi dengan Timothy, kemana mereka melangkah, Ragad yang mengawasi area sekitar sehingga Ibnu aman.


Sedangkan di gedung RaHasiYa, dewa dan Dimas menjaga keseluruhan gedung mab3s dikhawatirkan ada mata-mata mengintai.


Berto sudah menunggu mereka di pintu bangunan bagian tahanan.


" To,..." sapa Ibnu.


" Waktu Lo 15 menit untuk melakukan apapun pada mereka kecuali menghabisinya." ujar Berto.


Ibnu mengangguk," thanks..." mereka menutupi wajah dengan tudung kepal bermasker berwarna hitam.


Memasuki ruangan dengan santai, terlihat Toni yang ditempatkan di sel paling depan, kemudian Parmadi di sel selanjutnya.


" Lo, ke siapa dulu?" bisik Leo.


" Toni." Suara Ibnu berubah dingin, suara yang hampir tidak pernah keluar dari mulut orang yang dikenal kalem itu.


Berto meragu sesaat, bagaimana Ibnu sahabat Mumtaz, bersama dalam waktu lama akan melahirkan perilaku yang sama dalam beberapa hal, mungkin di saat marahnya.


" To, buka." minta Ibnu saat melihat Berto hanya memandanginya saja.


Berto membuka sel dimana Toni sedang terlelap tidur, Ibnu berdiri di samping Toni. Kilatan saat dia menggagahi ibunya terbayang, matanya berubah menajam penuh amarah. ia mengambil kain persegi empat dari kantongnya.


Dengan sekali tindakan Ibnu memasukan kepala Toni yang terbangun karena kaget, lalu menarik tali kantong itu seerat mungkin, dibantu Ragad yang memegangi kantong berisi kepala Toni yang meronta karena pengap tanpa oksigen dalam kantong tersebut.


Tanpa belas kasih Ibnu mematahkan kedua tangan dan kaki Toni, terakhir dia membuka celana Toni hingga selutut.


Berto terperangah, tidak bagi Leo dan Ragad yang terbaik kerja dengan para petinggi RaHasiYa. mereka terbiasa kaan kelakuan atasannya yang tidak bisa di duga.


Ibnu mengeluarkan sebuah suntikan yang berisi cairan penuh, lalu menyuntiknya di area alat intim Toni, Sura jeritan tertahan dari Toni yang langsung dibungkam Ragad menyertai proses penyuntikan itu.


Setelahnya, " buka tutup keplanya." pinta Ibnu, Ragad langsung membuka kantong kepalanya.


Di sana Toni hampir tidak sadarkan diri karena kekurangan oksigen, tidak memberi waktu Toni menghirup udara, Ibnu memasukan beberapa butir obat perangsang ke dalam mulut Toni dan membekap mulutnya memaksa dia menelan obat itu.


" Kita selesai." ujar Ibnu tanpa ekspresi. hanya matanya menatap Toni penuh kebencian.


Ragad memposisikan kembali tubuh Toni seperti semula, saat Ibnu hendak keluar sel tangannya dicekal Berto.


" Beritahu kami, bagaimanapun kami bertanggungjawab atas dirinya."


" aku hanya menyuntikan obat impotensi pada nya, dan memberikan obat perangsang pada mulutnya." ucapan Ibnu mengagetkan semuanya.


Toni untuk beberapa jam kedepan akan mengalami siksaan bathin melalui s3xual yang teramat sangat.


" Nu, itu tidak berprikemanusiaan..."

__ADS_1


" Dimana kemanusiaan dia saat dia memp3rkos4 ibuku." sela Ibnu penuh amarah, matanya mengobarkan sorot pembalasan.


Berto dan yang lain terhenyak kaget, mereka diam tidak protes kembali." aku menyesal." ucap Berto bersedih. di mengingat ibu Ibnu termasuk wanita yang baik dan lembut, menyayanginya seperti pada anaknya sendiri.


" Kalau kalian tidak sanggup menampung beban pembalasan ku, keluarkan dia seperti kalian mengeluarkan Andre." pungkas Ibnu.


Kini kakinya berjalan ke sel Parmadi, setelah Berto membukanya, tanpa sungkan Ibnu menendang perut dan menghajarnya, sementara Ragad menutup mulut Parmadi.


" Kalau kau menyesali perbuatanmu pada ayahku, bersihkan nama baiknya atau seumur hidup mu kau hidup dalam penyiksaan atas keroyokan para tahanan saat kau di penjara nanti." ucap Ibnu di depan wajah Parmadi.


" Mumtaz, ini bukan seperti kesepakatan kita. saya sudah mengungkapkan segalanya." ucap Parmadi yang berpikir Mumtaz adalah anak yang selama ini komplotan itu cari.


Ibnu tertegun, namun dia turut berperan." Bagaimana dengan nama baik ayahku sebagai koruptor, apakah aku sudah meluruskannya?" suara berat nan dingin itu membekukan tubuh Parmadi.


" Mum, itu..."


" Kau tidak ingin melakukannya, baiklah maka seluruh keluargamu akan merasakan deritaku yang tumbuh dalam tuduhan sebagai anak koruptor disertai pelecehan yang tiada henti. seperti yang terjadi pada ibuku saat mereka bersama-sama memp3rkos4 ibuku."


Sentakan terkejut dari Parmadi, mengakhiri tubian pukulan dari Ibnu yang tepat mengenai rahangnya yang menghasilkan muncratan darah segar darinya yang keluar dari dari hidung dan mulut Parmadi.


Saat Ibnu beranjak keluar dari sel, suara tertahan Parmadi menghentikan langkahnya.


" Ba..baiklah. akan...saya... ungkap juga..perihal itu..di pengadilan..." rintih Parmadi menahan sakit.


" Bagus, kau berkhianat, bahkan cucu mu pun akan kena imbasnya." Ucap Ibnu meninggalkan sel Parmadi yangs udah babak belur.


Dari sel Toni terdengar jeritan kesakitan minta dipuaskan bir4hi1nya, namun di sisi lain alat vitalnya tidak merespon keinginan kebutuhan bathinnya itu. Toni meraung frustasi, tubuhnya kepanasan ingin sentuhan. di memegang kesal benda pusakanya yang masih tertidur meski dia telah mengocoknya dengan keras.


Apa yang terjadi pada mereka berdua diketahui oleh Arif atas laporan Timothy.


" Kau yakin hanya itu yang mereka lakukan?"


" Itu laporan yang saya dapatkan dari Berto."


" Mengapa kita tidak bisa lepas dari mereka?" gumam Arif.


" Pertanyaan yang tepat adalah mengapa instansi ini dipegang para pecvnd4ng bertopeng penegak hukum?" ucapan Timothy menohok sanubari Arif.


"Ambisi, kekayaan, dan kekuasaan adalah modal dari segal tindakan pengkhianatan itu terjadi, dia bersyukur saat itu kecintaannya terhadap tanah air membebaskan dirinya dari lingkaran hitam itu, namun diamnya dia saat itu menjadikan peristiwa saat ini terjadi. benar kata Timothy, dia hanya seorang pecvnd4ng." Bathin Arif merenung.


Ibnu kini telah duduk di kursi penumpang bagian belakang atas paksaan Ragad. Dirinya mengeryit heran mengapa ragad dan juga Leo mengikutinya.


" Kemana kita kini?" tanya Ibnu.


" The Flawless, di sana akan ada pertunjukan spektakuler." sahut Ragad.


********


Dikumpulkan dalam satu ruangan para wanita itu menatap takut pada Mumtaz yang menatap mereka remeh dan merendahkan.


" Mumtaz, Kenap aku bersama mereka?" rengek Maura memohon dibebaskan


" Kau pikir rengekan mu berhasil padaku seperti kau memanipulasi Bara?"


" A..apa maksud mu?" Maura gugup.


Mumtaz melempar beberapa foto pada wajah Maura yang meringis sakit. di sana foto dirinya yang memeluk Bara saat dia berpura-pura dan meminta Bara ke apartemennya untuk mengobatinya, dan foto lain kebersaman dia dan Bara yang ia kirim ke ponsel Cassandra.


" Maura, apa yang aku dapatkan hari ini atas kebaikan ku yang ku pikir kau berbeda dari ibu mu yang p3l4cvr, tetapi gen brengsek Bram Brotosedjo dan murahan Naura melekat pada dirimu, hingga kau berpikir mengambil bara dari Cassandra."


" Kini ku bereskan kesalahan ku, akan ku jadikan kau seperti Ibu mu. kita lihat apa Bara mu menyelamatkan mu atau tidak." Ucpa Mumtaz dingin.


Maura menetap Mumtaz memelas," Mumtaz, aku sudah meminta ampun padamu. kau ku dengar orang baik, ampuni aku untuk sekali ini saja." mohon Amura yang tidak digubris Mumtaz.


Mumtaz menyeringai, " menjijikan, wanita seperti mu lebih menjijikan daripada si Devi, Erika, dan Gabriela yang jelas-jelas menjual tubuhnya.


" Malam ini kau akan menjadikan Rendy, orang yang kaya raya dari hasil penjualan keperawanan mu." desis Mumtaz dingin.


Mumtaz berbalik badan hendak keluar dari ruang yang menurutnya menjijikan.


Namun tangannya dipegang oleh Maura dengan sisa keberaniannya yang langsung ditepis dengan sebuah tamparan keras di pipi Maura.


" Sekali lagi kau berani menyentuh ku, ku bvnvh kau." Ucpa Mumtaz tajam.


Naura hanya bisa diam, sebagai ibu di tidak terima anaknya disakiti dan dihina, tetapi dia sudah merasakan kekejaman Mumtaz dan yang lain dia tidak ingin merasakan kembali masuk ke dalam siksaan yangs selama ini dia sarjana bersama Miranda.


Tok..tok...


Rio muncul diambang pintu," perias dan koreografer sudah datang."


" Suruh masuk. persiapkan mereka sej4-lang mungkin." imbuh Mumtaz.


The Flawless, club yang biasa berinterior elegan dan berkelas kini lantai dasarnya diubah menjadi club vulgar khas tempat berkumpulnya para pemangsa wanita level konglomerat.


Dua panggung megah yang berukuran besar dan kecil akan menjadi saksi pertunjukan dewasa dan pelelangan wanita untuk dijadikan budak pemuas nafsu selama satu bulan penuh.


Meski harga awal yang dipatok tinggi ,namun melihat siap saja yang akan disodorkan, para hidung belang berlevel sultan dan konglomerat masih memberi antusiame tinggi akan keikutsertaan mereka.


Di kantornya, Nathan sudah menerima kemana uang itu akan diberikan, dan Ama siapa saja yang emnajdi tuan dari para wanita itu.


Hatinya masih berperang pada nama Gabriela Rafael, gadis cantik yang selama ini tanpa sepengetahuan sang wanita selalu menjadi partner ranjangnya, malam ini akan merubah hubungan mereka.


Nathan memijit pelipisnya, kepalanya sedikit pening.


Tok...tok...


Lelaki bule kecil masuk ke dalam ruangan, dia asisten Nathan atas permintaan Zahra yang memintanya mencari pekerjaan untuk pemuda yang menyelamatkannya dari kebejatan para penculiknya.


" Ada apa?"


" Para tamu sudah berdatangan tuan. tuan Luke menanyakan anda."


" Baiklah, kau awasi keadaan pastikan tidak ada kekacauan."


" Tentu."


Satu persatu kaum lelaki yang siap menggesek black card-nya berdatangan dengan berpakaian tuksedo mewah mereka.


Nathan mengenal Trak record mer ka dalam menaklukkan para wanita.


Bara, petinggi RaHasiYa, para sahabat, Akbar, Adgar, petinggi Gaunzaga, dan Damian menjadi satu diantara mereka.


Andre, Mulyadi, ke-tu4 yang duduk di kursi roda dengan penampilan yang menyedihkan karena alat medis menyertainya. tidak banyak hiraukan oleh kalangan kaum jetset tersebut. Saat ini mereka hanya seungguk sampah masyarakat yang tidak berguna.


Bara mengernyit bingung saat melihat Damian menduduki mejanya bersama petinggi Gaunzaga. Dia punya firasat akan ada hal tidak menyenangkan akan terjadi....


Yuk partisipasinya untuk cerita ini....vote,like, komen, hadiah, tipsnya juga ya.

__ADS_1


Cerita Nathan-gabriela akan dibuat sendiri dengan genre 21+ drama romantis...


__ADS_2