
Bara masih mendekam dalam kamarnya sejak kepulangan dari the Flawless, penampilannya Jauh dari kata baik, rambut acak-acakan, baju berantakan, wajah muram. mencoba mengingat dan memilah kesalahan yang dituduhkan Mumtaz padanya berkaitan dengan Maura.
Bara menghela nafasnya berat, enggan mengakui tapi harus menerima kenyataan bahwa berkali-kali dia mengingkari janji dengan Cassandra untuk bersama Maura.
Cassandra, satu nama yang menyesakan dada saat ini. Berjuta rasa bersalah dirasakannya, membayangkan Cassandra menangis karena nya.
Bara merogoh saku jas guna mengambil ponselnya, terlihat puluhan telpon dan pesan dari Dista yang dia abai. Saat ini Cassandra-nya lebih berarti.
Selang tidak berapa lama wajah Bara gusar, dan panik saat nomor yang dituju tidak aktif. Padahal mereka masih bertukar pesan sebelum Bara menghadiri acara lelang tersebut.
Bara terus mengulang panggilan untuk Cassandra meski balasan yang diterima laporan dari operator.
Muka Bara berubah tajam seiring satu pikirin di kepalanya, bahwa Mumtaz menyabotase komunikasi dirinya dengan Cassandra.
Amarah menyelimutinya, ia beranjak keluar kamar, dengan langkah cepat menuruni tangga, dan mendapati para sahabatnya masih setia menungguinya di ruang tamu tertidur pulas berserak disembarang tempat.
Suara langkah kaki membangunkan mereka yang langsung menatap Bara bingung. " Kenapa Bar?" Tanya Rizal melirik jam dinding yang menunjuk pukul tiga dini hari.
" Kalian di sini?" Bara mendekati mereka.
" Tentu, Lo pikir kita dimana lagi selagi Lo gak baik-baik." Jawab Jeno.
Melihat Jeno ada diantara mereka, air muka Bara berubah keruh." Kenapa Lo gak bersama Mumtaz?" Ucap Bara sengit.
" Lha, gue disuruh Mumuy di sini. Dia bilang kita harus ngikut Lo." Jawab Jeno tidak mau pusing akan sikap Bara yang menurutnya menyebalkan.
" Kalian tu bego atau tol*l, itu berarti kalian dipecat." Teriak Bara kesal.
" Tinggal Lo rekrut kita." Seru Haikal terlalu santai.
Bara melanjutkan niatannya," Kalian ini..." gregetnya.
" Woy, mau kemana?" Teriak Ubay.
" Buat perhitungan ke Mumuy." Balas teriak Bara berbarengan menutup pintu utama rumahnya.
Kontan para sahabat berlomba mengenakan sepatu dan baju mereka menyusul Bara.
" Jadi, Lo mutusin buat gak ngasih tahu gue dengan alasan gak mau bikin repot gue?" Mumtaz mengucapkan perkataan itu dengan sinis sedikit tersinggung.
" Hmm. niatnya begitu, tapi Dewa buka pemahaman gue, kalau itu salah. Dia bilang bisa saja gue mengacaukan rencana Lo karena bagaimanapun situasinya, Lo akan lebih mengutamakan gue."
Mumtaz menghisap r\*koknya," dia lebih ngerti gue ketimbang Lo, gak tahu apa gue musti bahagia atau kecewa." Ucap Mumtaz merenung.
" Gak bosen Lo punya perasaan *bullshit* kayak gitu?" sinis Mumtaz.
Setelah dari the Flawless, mereka berdua memutuskan berbicara empat mata di balkon kamar Mumtaz masih dengan pakaian yang dikenakan ke club itu minus dasi dan jas yang teronggok di sofa.
Ibnu terdiam, dia semakin membenci dirinya dengan segala pemikirannya tentang sahabatnya.
" Apa yang harus gue lakukan sebagai penebusan kekecewaan Lo?"
Mumtaz menengok pada Ibnu yang menatapnya intens, untuk waktu beberapa menit keduanya hanya saling tatap.
" Apa gue keluarga Lo?" Tanya Mumtaz pelan, Ibnu mengangguk cepat.
" Apa Lo lebih nyaman kalau bicara sama kak Ala?" Ibnu terpejam mendengar sarkasme itu, itu menunjukan Mumtaz menjaga jarak, atau tanpa dia sadari, dia yang melakukannya.
Sakit hatinya, apalagi perasaan Mumtaz, kini dia memahaminya.
" *No*, Lo yang terbaik buat gue." Balas Ibnu.
" Ceritakan segalanya?"
" Hmm, gue janji."
" Kalau Lo menyimpan satu saja rahasia tentang masa lalu Lo, gue akan bertindak sendiri, dan tidak akan menyisakan apapun untuk lo." Tegas Mumtaz.
" Lo bisa pegang kata-kata gue." tegas Ibnu yakin.
Drrt...drrrttt...
" Siapa?" Tanya Ibnu merujuk panggilan masuk di ponsel Mumtaz.
" Berto."
__ADS_1
" Halo, to?"
" *Muy, gila si Inu. Coba tanyain ma dia, dia apain pak Toni*?"
" Ni orangnya ada di sini." Mumtaz me-*loudspeaker* volumenya."
" *Woy, Nu. Pak Toni Lo apain*?" Teriak Berto di seberang.
Mumtaz menunjuk kedipan cepat di ujung kiri bilah ponselnya pada Ibnu yang menandakan ada yang menyadap perbincangan mereka.
Memberinya kode agar Ibnu terus bicara sementara dia masuk kamar untuk mengambil laptop.
Mumtaz menendang pelan betis Daniel yang baringan di sofa dekat balkon." Bangun Lo, gak pegel pura-pura ngorok sekian jam."
Daniel memperbaiki posisi tubuhnya setengah duduk," namanya juga curi dengar."
" Keluar." Ucap Mumtaz sambil menenteng laptopnya.
Daniel duduk dipinggir pagar pojok, dia diam hanya memperhatikan situasi, Ibnu masih mengulir waktu dengan terus memutar omongan hingga Berto geram sendiri, sementara Mumtaz sibuk dengan laptopnya melacak pelaku penyadap ponselnya.
Hanya butuh lima menit untuk mengetahuinya, mulutnya berucap pak Arif tanpa suara saat Ibnu menanyakan siapa penyadapnya.
"...diapain emang, kan Lo bareng gue."
" Dia kedapatan telanjang, dan gosok-gosokin 'burung'-nya ke tembok."
" Lha hubungannya sama gue apa?"
" To, Lo sama dia." Mumtaz memotong bicara Berto.
" *Muy, masalahnya gak sesederhana itu. Pak Toni tertangkap tangan hampir saja memasukan botol obat ke dubvrnya setelah gagal nyolo*." Ungkap Berto.
" Nu, kasih paham Berto tentang hak-hak warganegara."
" *Gue pol1s1, gue paham soal itu*."
" Gue yakin instansi Lo tahu apa yang harus dilakukan, seperti apa yang oknum kalian lakukan 10 tahun lalu." Sindir Mumtaz pada pendengar perbincangan mereka.
Arif dikantornya memijit pelipisnya kuat-kuat, " hentikan penyadapannya. Saya yakin Mumtaz mengetahui perbuatan kita ini." Titahnya pada Timothy, sedangkan Berto yang duduk disamping Timothy masih terus berbincang-bincang.
" Nu, gue tutup. Ngomong sama Lo sama kayak ngomong sama perempuan lagi pms, labil." Berto menutup panggilannya.
" Saya sudah peringati bapak." ujar Timothy.
" Kita selam ini kewalahan menyikapi ulah mereka, setiap kita mengubah kode atau sistem, dengan mudah mereka menjebolnya." lanjut Timothy.
" Dengan kata lain, bermasalah dengannya, berbahaya dengan kita, masih untung dia tidakl membocorkan sistem kita ke pihak luar."
" Selemah itu kemanan kita." gumam Arif.
" Bukan lemah, mengingat dibawah naungan pak Ergi *cyber* kita mengalami peningkatan tajam, kita berhasil menciduk beberapa orang yang bermaksud meretas sistem kita dalam hitungan menit, tapi mereka saja yang terlalu kuat."
" B1N saja tidak mampu mengaku mereka."
" Emang Lo apain pak Toni?" Tanya Daniel.
__ADS_1
" Gue suntik 'burung' dia supaya gak hidup."
" Itu katanya teriak-teriak?" Daniel tidak puas dengan jawab Ibnu yang terkesan malas menerangkan.
" Gue juga kasih obat perangsang yang dosis tinggi padanya."
" Gila, kena saraf baru nyaho lo."
" Apa peduli gue, dia juga turut serta menjam4h ibu." Ucap Ibnu tercekat meski dendam lebih menguasainya.
Dia hendak meraih r*kok yang tergeletak di meja kecik yang langsung direbut Daniel, dan membuangnya ke teras bawah.
" Niel.."
" Perjalanan kita hampir sampai, gak lucu lo sakit saat tiba waktunya." Daniel melempar permen kopi pada Ibnu.
Brak...
Mereka menjenguk ke dalam saat pimtu dibuka kasar.
Alfaska yang tengah tertidur di ranjang Mumtaz terbangun dan menatap Bara jengah
" Apa sih Bar, masih malam juga." Ucap Alfaska malas.
Tidak menghiraukan sepupunya Bara terus melangkah ke arah balkon, dan benar adanya mereka berkumpul di sana sepeti yang dia kira.
Mumtaz menghisap r*koknya dalam-dalam seraya menoleh ke Bara.
Dengan kurang ajarnya Bara melepas rokok dari bibir Mumtaz, dan menginjaknya.
" Lo jangan kebanyakan ngerokok, jantungan tahu rasa Lo."
" Lo gak kesini buat ngurusin gue, kan!?" Sindir Mumtaz.
" Kenapa Lo sabotase ponsel Cassy?"
" Apaan, dah. Lo pikir gue pengangguran ampe mau repot ngurusin kalian."
" Cassy gak bisa dihubungi."
" Mana gue tahu."
" Sudahlah Bar, lupakan Cassy." Seru Ibnu enteng.
BUGh...
Bara menghajar Ibnu hingga Ibnu terjatuh dari kursinya
Perkataan Ibnu membuat mood Bara makin anjlok, para sahabat yang baru tiba di kamar, langsung berlari ke arah balkon saat menyadari Mumtaz dan Daniel tidak berkenan memisahkan.
" B4cot, kenapa Lo gak melupakan Ayu?"balas Bara.
" Kasus kita beda, gue melakukan kebodohan sekali, dan yang terpenting gue gak pernah bohong apalagi menelantarkan Ayu hanya demi mantan, tol*l banget sih Lo." Ibnu menyeka darah yang ada di ujung bibirnya.
"" Percuma Bar, Lo marah-marah. Cassy-nua juga udah pergi.," Ucap Mumtaz.
" Apa maksud Lo?, Hati-hati kalau Lo ngomong." Tanya Bara marah.
" Dikasih tahunya bebal. Terus aja pake otot ketimbang otak." Mumtaz mulai kesal juga atas sikap arogan Bara.
" Gue bilang Cassy sudah pergi, jauh. Jauh banget. Kemana-nya gue gak tahu, dia dibawah pengawasan Gaunzaga." Jelas Mumtaz.
Bara termenung, ia segera menelpon Dista.
" Abang kemana aja sih ditelpon susah amat. Masih ngurusin si p3l4cvr cilik itu?" Dista langsung mengomel.
" Ta, Cassy mana?" Bara mengabaikan sindiran dan kekesalan Dista.
" Udah pergi, Ita dari tadi telpon dan kirim pesan ke Abang gak digubris."
" Kemana?"
" Gak tahu, Tante Julia dan Cassy gak ngomong apa-apa. Padahal Ita udah capek nanya mulu."
Bara terjatuh duduk, mengabaikan saluran telpon yang masih menyambung.
Daniel mengambil ponsel di tangan Bara.
" Sayang, telponnya aku tutup ya, Abang kamu lagi senewen. Kamu baik-baik di sana." Tukas Daniel sebelum memutuskan sambungan.
Mereka semua iba akan tatapan kosong Bara," aaarrgghhh..."pekik Abra mengagetkan semuanya.
" Kenapa semuanya jadi kacau begini," Bara menatap Mumtaz tajam.
" Ini semua gara-gara Lo." Hardik Bara.
" Hmm, terserah. Terus saja nyalahin orang, kan Lo pecund4ng." Ucap Mumtaz sinis.
" Bara jaga lambe Lo." Alfaska berdiri di ambang pintu balkon.
" Kenapa Lo selalu bela dia?" Tanya Bara ke Alfaska.
" Sudahlah kalian semua pergi. Benar, semuanya salah gue, gue terlalu peduli pada perasaan Cassy, gue marah setiap Cassy nangis karena Lo sakiti, iya, salah gue. Bukan salah Lo atau si Pe-rek Maura." Mumtaz menantang Bara dengan menghina Maura.
Mulai detik ini, tidak peduli apa yang terjadi, Maura target kebencian Mumtaz, bukan karena Bara, dia tidak akan mengurusi orang brengsek, tapi karena kebodohan dia yang membuat Maura berada di tengah Bara dan Cassandra.
Semuanya terkejut akan ucapan Mumtaz, merek tidak menyukai sinar mata Mumtaz yang siap melenyapkan saat menyebut nama Maura, hal itu juga disadari Bara.
" Muy, bukan begitu...."
Mumtaz berdiri di depan Bara
" Pergi, sejak saat ini siapapun yang bela Maura, gue jadikan bagian dari Brotosedjo. yang berarti musuh gue. Pergi."
" Dan berhenti bersikap nge-bossy di depan gue, Lo bukan siapa-siapa gue, jangan pernah datang ke rumah gue lagi." Tekan Mumtaz yang membuat jantung Bara sesaat berhenti berdetak.
Ucapan itu sangat menyakitkan, lebih menusuk dari yang Bara kira. Mata nanarnya mengiringi kepergian Mumtaz yang masuk ke kamar mandi di kamarnya
" Terusin saja kebutaan Lo, Lo akan kehilangan segalanya karena cewek itu..." ucap Daniel.
Yuk tinggalkan jejak, kasih vote, like, Haidar dan komen...
Dan jangan lupa baca juga Cintanya Bhumi. atau Kamu Yang Aku Mau...masih bingung judul yang bagus di cerita sebelah yang mana..
__ADS_1