Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
bab 37 Sinyal Berperang


__ADS_3

Di sebuah bilik toilet di fakultas psikologi terduduk diatas toilet duduk Tia menangis tersedu-sedu sambil memeluk kedua kakinya yang tertekuk diatas toilet


Memejamkan mata dan menutup kedua telinganya dia menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha mengenyahkan masa kecilnya yang traumatik. segera dia mengambil ponsel dari dalam tasnya dan menelepon seseorang.


" hallo..." Isak tangis masih menyertai ketika sambungan telpon tersambung.


" hallo Ya,dek, ada apa? kenapa nangis?" suara khawatir Zayin menjawab telponnya.


" A,... dia,... dia,... berhasil nemuin Iya."


" siapa? tenang...ceritain dengan tenang Ya... siapa yang berhasil nemuin kamu?" ucap lembut Zayin.


" A...tolong Iya...pu...pu...Lang dulu, A... Iya takut."


" Tia, please jangan bikin Aa khawatir ngomong yang jelas. ada apa?"


" dia,...Din... Dinda,...tadi aku ketemu dia di kampus. dia mengingatku, A..."


Sambungan di seberang seketika hening


" A,... hallo,... A,..." tak ada jawaban, sekilas Tia memeriksa ponselnya apakah sambungan telponnya sudah terputus?, tapi ternyata masih tersambung.


" A,..." Tia semakin panik mendapati tak ada sahutan dari seberang.


" Aa akan segera ajukan cuti. sekarang karena Aa jauh, kamu harus ceritakan hal ini ke Aa Mumuy, Ya."


" gak bisa...Tia takut kalo Aa Mumuy benci Tia."


" gak akan. gakk ada pilihan lagi. Aa mohon kamu cerita ke Aa Mumuy, takut orang gila itu ganggu kamu." tegas Zayin


" iya. baik lah...cepat pulang."


" iya, Aa usahain. hati-hati, dan jaga diri. Aa tutup telponnya ya" Zayin menutup sambungan telponnya.


Sementara Tia terpekur memandangi ponsel tersebut seakan ponsel itu mampu menolongnya keluar dari masalahnya.


****


Ruangan BEM Universitas


" Bara, kamu ngapain di sini?" Tamara menghampiri Bara yang sedang berdiri di depan ruangan BEM


Sejenak Bara memandang Tamara dari atas sampai bawah.


Tamara tersenyum sambil mengibaskan rambutnya ke belakang salah tingkah karena di tatap intens oleh Bara.


" Gue nunggu Cassy. Lo sendiri ngapain di sini?"


" Ooh, aku habis dari ruang klub photografi. kan aku salah satu anggotanya." ucap lembut Tamara sembari memegang dan sedikit mengusap lengan Bara.


Bara bersikap cuek seolah tidak menyadari perbuatan Tamara.


" Cassy siapa yang kamu maksud? "


" Cassy, cewek gue."


" Blukannya cewek Lo itu Maura?"


Bara mendengus " kagak lah. si Maura nya aja yang sok baperan sama gue. gue mah biasa aja."


" jadi Cassy yang Lo maksud,..."


" kak,... ayo ..." Cassandra datang dari dalam ruangan BEM


" udah?"


Cassy mengangguk " iya, udah. maaf lama ya."


" Enggak. yuk pulang." Bara mengambil sebagian barang bawaan Cassy yang terlihat berat.


Ketika mereka hendak beranjak pergi, Tamara memegang keras tangan Bara


Seketika tatapan Tamara menajam ke Cassy, satu tangannya mengepal, rahangnya mengeras, meski raut wajah dipaksakan normal dan tersenyum " jadi Cassy ini yang kamu maksud?"


Semua perubahan emosi dalam diri Tamara diperhatikan oleh Bara. dia melepas pegangan tangan Tamara.


" Cassy, sorry aku ada perlu sama Bara, boleh Bara pulang bareng sama aku?" ajak Tamara percaya diri.


Cassandra menatap Tamara dan Bara bergantian " ya,...itu tergantung kak Bara mau pulang sama siapa." jawab lugas Cassy.


Bara mengernyitkan keningnya menatap Tamara dengan raut 'seriusly?' " sorry, gue udah janji pulang bareng Cassy."


Bara menggenggam sela jemari Cassy dengan jemarinya dan beranjak pergi meninggalkan Tamara yang menatap intens mereka.


****


Kediaman Aryan Atma Madina


Kedua orang tua Jimmy sedang bersantai di ruang tv menonton berita ketika Jimmy memasuki rumahnya.


" Ga, kok udah pulang. biasanya pulang di atas jam sebelas." sindir mami Sandra


Alfa duduk di sofa single seberang mereka


" Afa baru balik dari rumah sakit, mi."


" hah. siapa yang sakit. kamu gak apa-apa kan? panik mami.


" Afa gak apa-apa. Mumtaz yang di rumah sakit."


" kenapa lagi dia, rajin banget nginep di rumah sakit." sarkas mami.


Jimmy mendelik tajam mendengar komentar mami-nya


" dia habis nolong orang. kalo Mumtaz gak nolong tu orang Afa yakin tu orang udah meninggal sekarang." jawab tajam Jimmy.


" karena yang ini Fa." papi Aryan menunjuk televisi yang sedang memberitakan kejadian tadi siang.


" kata karyawan papi di perusahaan berita ini lagi viral. banyak orang yang sedang cari tahu tentang empat orang ini." ujar papi


" Pi..."


" Kalo masalah identitas kalian, papi udah hubungi rektor buat rahasiakan identitas kalian. apa kamu mau sekalian juga ke media tv nya?"


Jimmy memperhatikan seksama gambar di tv.


" Jangan pi biarin aja. tampang Afa di tv keren banget." Jimmy nyengir kuda yang mendapat lemparan bantal sofa dari papinya.


" Afa ke kamar dulu, bersih-bersih."


" Ya udah sana. terus langsung turun ya kita makan. jangan nunggu di panggil."


" iya."


ketika Jimmy di bawah tangga dia berteriak


" oh iya mi, habis makan nanti ada yang mau Afa bicarain, PENTING!."


*****


Prank!!! Brak!!!!


Suara pecahan dan barang jatuh terdengar keras dari kamar Tamara.


Kamar yang semula rapih menjadi berantakan tak karuan akibat ulah Tamara yang mengamuk menyalurkan emosi amarahnya mendapati kenyataan Bara pujaan hatinya dekat kembali dengan Cassandra.


" Kenapa bisa begini? kenapa Bara dekat lagi dengan dia? ini semua karena kebodohan Maura!!"


" Aaaaarrggghh...."


Tamara menjerit kencang meluapkan frustasinya.


Empat tahun dia berhasil menjauhkan Bara dari Cassandra Hartadraja, tapi satu kecerobohan Maura merusak segala rencananya.


" Seharusnya gue yang menggandeng tangannya. seharusnya gue yang berjalan di sampingnya." jerit nyaring Tamara membahana seisi kamar.

__ADS_1


" Baiklah. jangan salahkan aku sayang jika aku memilih menghancurkan mu. kalau kau tak bisa menjadi milikku, maka tak ada satu orang pun yang bisa memilikimu."


Tamara mengutak-atik ponselnya, sesudahnya dia tersenyum jahat.


******


Rumah Aryan Atma Madina


Di ruang keluarga seusai makan malam, Jimmy menatap serius kedua orang tuanya.


" Ada apa, kok muka kamu tegang giitu?"


Jimmy melirik papinya dan menarik-mengeluarkan nafasnya.


" Mi, Afa minta ijin untuk menikah." ucap Jimmy gugup.


" HAH, sama siapa? halu. pacar aja kamu gak punya." ledek mami


" Afa udah punya pacar. udah lama Afa cinta dia, namun baru beberapa hari ini kita pacaran, dan itu serius."


" Siapa? Mami kenal?" Jimmy menganggukan kepala.


" Namanya Maryatul Qibtiah, panggilannya Tia."


" Tia,... sepertinya nama itu pernah mami dengar. Tia..." mami tertegun, dia menatap Jimmy datar.


" Jangan bilang Tia yang kamu maksud itu Tia adiknya Mumtaz." tebak mami.


" Iya, itu.Tia yang Afa maksud."


Seketika mami berdiri yang langsung ditarik papi agar duduk kembali.


" Tenang. jangan gegabah."


Mami menarik kasar tangannya yang dipegang papi.


" Mami tahu kamu lebih banyak menghabiskan waktu kamu di rumah itu, apa ini alasannya? suara mami menajam sinis.


Jimmy menggeleng. " bukan. aku menghabiskan waktuku di rumah itu, karena di sana aku mendapatkan kehidupan sebagai keluarga. sedangkan di sini aku tidak merasakan adanya kehidupan." sindir Jimmy yang tidak suka tanggapan maminya atas berita yang disampaikannya.


" Mami mau aku menjadi anak yang kesepian dengan harta berlimpah yang akan memudahkan ku pada gaya hidup yang rusak?"


" Kecuali mami berjanji bahwa mami akan ada di rumah setiap aku pulang kuliah, memasak setiap makanan yang aku makan, mendengar ocehan omongan kosong ku, menegurku setiap aku melakukan kesalahan, merawatku saat aku sakit, dan banyak lagi yang hal yang melibatkan mami dan aku. kalo mami berjanji memastikan itu terjadi, aku dengan senang hati akan pulang ke rumah ini seusai kuliah setiap hari." Jimmy menatap langsung manik mata mami


Mami dan papi terhenyak diam mendengar curahan emosi anak tunggalnya.


Mami menetralkan raut wajahnya " Terus kenapa kamu pacaran sama Tia, apa karena kamu hutang Budi sama Mumtaz, sehingga rela berkorban nyawa dengan memacari adiknya?" tuduhan mami merubah raut Jimmy menjadi geram.


" Apa maksud ucapan mami?"


" Kamu tahu maksud mami. kalo memang benar begitu, bilang sama mereka berapa uang yang mereka inginkan sebagai balas Budi karena menyelamatkan kamu."


" MAMI." bentak Jimmy.


" ALFASKA!" tegur papi


" Ya Tuhanku,...Mami, andai mami tahu apa yang sudah mereka lakukan dan berikan padaku, seluruh harta Atma Madina tidak bisa dibandingkan dengan apa yang sudah Mumtaz lakukan untukku."


" Aku tekankan sekali lagi. gunakan telinga dan pikiran mami dengan maksimal. Mumtaz tidak hanya menyelamatkan nyawaku, tetapi dia dan keluarganya memberikan aku, Bara , dan Daniel kehidupan, sehingga kami bisa tumbuh menjadi manusia yang waras di tengah keluarga yang tidak normal." desis tajam Jimmy tak terbantahkan.


" Bahkan Mumtaz awalnya marah mengetahui aku suka adiknya yang dulu sempat aku tolak, tetapi aku terus meyakinkannya kalau aku bisa membahagiakan dan melindungi adiknya, baru dia menyetujuinya, mam."


" Soal uang, mami tahu mereka mendapatkan kompensasi yang besar dari tragedi kematian ayah Zein, tapi mami lihat sendiri bagaimana mama Aida lebih memilih untuk banting tulang ketimbang berleha-leha hidup dengan kompensasi itu, itu menunjukan mereka bukan keluarga matre." terang Jimmy.


" Terus kenapa kamu suka dia, kenapa gak kamu tolak saja dia terus?"


" Karena dia yang mengerti aku. dia yang menerima aku apa adanya."


" Tentu saja dia menerima mu. siapa yang tidak menerima seorang Alfaska Atma Madina. dengar, kalo kau ingin menikah, mami bisa Carikan seseorang yang pantas untuk menjadi isterimu."


" Persetan dengan perempuan lain. aku hanya mau dia. aku butuh dia dalam hidup aku. mereka keluarga baik-baik mi, gak ada dalam diri mereka yang bisa mempermalukan Atma Madina."


" Afa, mami gak nyebut mereka tidak baik, tapi mereka tidak memiliki hal penting bagi Atma Madina. hal yang sama pentingnya, dengan kebaikan hati, yaitu nama besar." ujar mami


Jimmy terhentak diam. sungguh dia tidak mengira jika maminya punya pemikiran sepicik itu.


" Mami, aku akan hentikan perdebatan tidak berguna ini. aku baru tahu kalau mamiku sama piciknya dengan orang tua diluaran sana yang ku anggap menjijikan."


Mami terhentak kaget mendengar ucapan menusuk Jimmy yang menyakitkan


"Mami, aku ingatkan, aku seorang laki-laki yang bisa menikah kapan pun baik dengan restumu atau tidak. mulai sekarang sebaiknya kau perhatikan aku, aku akan tunjukan padamu siapa aku sesungguhnya."


Setelah mengatakan itu Jimmy bergegas beranjak pergi ke kamarnya.


****


Rumah Sakit Atma Madina


Ruang inap Mumtaz.


Tiga pemuda santai dengan masing-masing mainannya, jika kalian berpikir mainan mereka adalah games online, maka buang pemikiran itu. yang mereka sebut mainan adalah pemrograman teknologi lanjutan penelitian mereka.


" Aaahh senangnya bisa santai di sini lagi." ujar ngawur Daniel.


Mumtaz melirik tajam " terus kenapa Lo yang gak tidur di ranjang pesakitan gini?"


" Dih baper. dari sejak sadar kerjaan Lo marah mulu."


cklek!!


Jimmy memasuki ruangan dengan muka ditekuk dan kusut.


" kenapa muka Lo, lagi berantem sama mami Lo?" tanya Daniel, Ibnu dan Mumtaz menatap Jimmy bertanya.


Jimmy menatap Daniel horor. " gimana Lo bisa tahu gue baru berantem sama nyokap gue?"


Daniel mengedikan bahu cuek.


" Lo Dateng ke sini padahal udah jam sebelas malem, di tambah muka Lo lecek kayak gak di cuci sebulan. cuma mami Lo yang bisa bikin muka Lo begini."


Jimmy menatap Mumtaz, dia menghela nafas berat. Jimmy terdiam, dia tidak tahu bagaimana membagi beban ini dengan para sohibnya, jika ini berkaitan dengan Tia.


" Lo, mau cerita Jim?" tanya Ibnu.


Jimmy menggeleng, tapi dilanjut mengangguk. meski demikian dia tetap diam.


" Mami Lo gak merestui hubungan Lo sama adik gue?" tanya hati-hati Mumtaz


Jimmy menatap nanar Mumtaz, dan dia mengangguk.


Ibnu, dan Daniel turut diam.


" Yang bikin gue kesal, mami gue gak merestui karena hal receh, yaitu Tia bukan berasal dari keluarga konglomerat. berasa hidup di zaman hindia-belanda gue." sarkas Jimmy.


" Terus, lo mau mundur?" tanya Daniel.


" Jangan harap. gue udah milih Tia, apapun keadaannya gue bakal pertahanin Tia. kalo Tia mau, kita bisa nikah meski tanpa restu mami." jawab Jimmy.


" Mana bisa Lo. Lo kan anak kesayangan mami Lo."


" Ya emang cuma gue anaknya ege. kalo mami gak sayang gue, dia sayang siapa lagi." jengah Jimmy.


" eh iya, ya." monolog Daniel yang digeplak Ibnu


" Siapin mental Lo Niel, maybe Ita dari keluarga konglomerat, tapi kan dia brutal sedangkan bunda Lo lemah lembut gitu. nasib hidup Lo kan sama dengan gue, yaitu orang tua yang gak kenal anaknya."


" Dih bunda gue sejak tragedi penculikan itu udah berubah ya. beliau emang buka usaha, cuma beliau kerja kalo anak-anak nya sibuk di luar. Lo gak nyadar kalo Lo nginep, bunda gue yang siaga di rumah."


" Gimana dia mau nyadar, orang sampe kamar Lo dia langsung nyungsep di kasur mahal Lo." sarkas Ibnu.


Jimmy mendelik sebal ke arah mereka.


" Muy, gue harap restu Lo gak dicabut. gue butuh banget dukungan keluarga Lo." mohon Jimmy.


" Sebenarnya ini yang gue takuti. nyokap Lo baik, tapi tetap nyokap Lo masih mementingkan status sosial." ujar Mumtaz

__ADS_1


" Dukungan keluarga pasti menyertai kalian, sampai Tia sendiri yang menyerah. gue gak bisa mengesampingkan kebahagiaan Tia di atas persahabatan."


" Sekarang mending Lo omongin masalah ini ke Tia supaya dia tahu meski bagaimana bersikap!"


" kalo Tia ninggalin gue?"


" Lo gak yakin sama perasaan Tia ke elo?"


" Bukan gitu, tapi ini tu pasti bikin dia sedih banget. gak tega gue ngomongnya."


" Ya resiko. dari pada Lo main rahasiaan, itu lebih bikin dia tersinggung. biar kalian berjuang bersama Jim." tukas Mumtaz


" Sorry gue sela, Jim buka youtube Lo. berita Bara lagi panas." ujar Ibnu


Mereka langsung membuka YouTube, dan di sana tersiar skandal asmara Bara dengan beberapa wanita seperti yang ada di ponsel Cassandra.


" Ini ulah Maura?" tanya Jimmy.


" Bukan. gambar dan video ini yang gue dapat dari nomor Tamara."


" Anjir si sok lugu itu mulai bertingkah."


" serem ya kalo cewek cemburu." sarkas Daniel


" kok gak Lo hapus, Nu?"tanya Daniel


" Tim Atma Madina lagi usahain."


" mereka kok lelet. keburu banyak yang lihat."


" Emang udah banyak, kalo dilihat waktu launcingnya udah lima belas menitan."


" Ya elah Nu langsung aja sama Lo. daripada si Bara keburu di goreng sama media."


" Kayaknya ini sebaran dari hacker," ujar Mumtaz.


" Atas dasar apa Lo nyimpulin itu?" tanya Jimmy


" Sumber pendataannya dikunci sandi, photo dan video ini di dapet mereka bukan dari YouTube, tapi emang dikirim langsung ke gadget mereka."


" Ya Lo langsung cari pelakunya, Muy." titah Jimmy.


" gue masih pusing Jim, Ibnu aja napa!"


" Muy, kalo kerja total jangan setengah gini."


" Gue belum move sama sekali. gue cuma Ampe yang barusan gue omongin. Lo cari, Daniel yang backup Lo. gue backup Daniel." ujar Mumtaz


derrt...derrt....


" Hallo," Salam Jimmy.


" Lo udah tahu berita gue di dunia maya?"" Bara diseberang


" Udah ini Ibnu sama yang lain lagi berusaha nemuin siapa pelakunya."


" Lo dimana? gue kesana."


" ck. gue di super VVIP." Jimmy menutup saluran telponnya


******


Sementara Jimmy dan para sohib disibukan dengan skandal asmara Bara, Tamara tertawa puas akan keberhasilannya menyebar skandal tersebut.


" gak percuma gue bayar mahal hacker itu. Bara come to my hug, baby." Tamara sudah berkhayal jika Bara akan datang padanya, karena ditinggal Cassandra Hartadraja


****


Kediaman Damian Prakasa


" Kak, sini duduk bareng." ajak papa Damian


" Ada apa ma, pa?" tanya Cassandra, sedangkan Adgar hanya diam


Papa menyerahkan beberapa lembar photo di atas meja. Cassy dan Adgar melihat dan mengamatinya.


Lembaran-lembaran itu memperlihatkan kedekatan Bara dan Cassandra.


" papa memata-matai Cassy? tanya Cassandra


Papa menggeleng. "ada yang ngirim ke kantor papa."


" kamu balikan sama Bara?" tanya mama.


Cassandra mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan peneroran photo-photo itu.


Papa, mama, dan Adgar bergantian melihat photo itu.


" photo itu dikirim dari empat tahun lalu. pelakunya Maura dan teman kampus kak Bara, Tamara." mereka bertiga terperanjat terkejut.


" Bisa jadi skandal Bara sekarang juga pelaku yang sama? tanya mama


Cassy mengedikan bahu. " entar Cassy tanya ke kak Ibnu."


" Jadi, pa, ma, kalo kalian pengen nyuruh Cassy jauhin Bara sekarang, Cassy belum bisa. kak Bara butuh Cassy. ini bukan tentang Cassy bucin atau apa, tapi kita harus ingat Kak Bara dan para temannya udah banyak nolongin kita." ucap Cassandra


" tapi kamu harus berhati-hati. Adgar, kamu lindungi kakak kamu." titah papa yang diangguki oleh Adgar


****


Ruang Inap Dominiaz Pradapta


" Pah, bagaimana keadaan Domin?" tanya momy Elena, ibu dari Dominiaz.


" My, sabar. Domin selamat saja kita harus bersyukur. Yan penting progresnya positif."


ujar papi Gama.


ceklek!!!


Sisilia memasuki ruang rawat kakaknya yang terbaring dengan berbagai alat medis


Tragedi itu telah berlalu hampir dua Minggu, tapi masih menjadi perbincangan media televisi di Indonesia bahkan dunia mengingat sang korban salah satu pewaris Gaunzaga.


Sulitnya menemukan identitas empat pemuda yang melakukan aksi heroik terhadap pewaris Pradapta. membuat papi Gama frustasi


Pradapta adalah pemilik salah satu stasiun televisi besar di Indonesia Gata tv. Gata tv terus memberitakan tragedi itu ditengah-tengahbhangatnya skandal Bara Atma Madina berharap ada yang memberitahukan identitas empat pemuda tersebut, namun sampai kini hasilnya nihil.


Sisilia mendekati ayahnya yang sedang menonton berita


" Dady gak tahu harus gimana lagi untuk menemukan identitas empat pemuda itu. segala cara sudah Dady lakukan." ucapnya pelan.


Sisilia mengalihkan pandangannya kepada tv yang berada di depannya.


Seketika raut wajahnya mematung, tanpa sadar dia berkata


" Itu kan kak Mumtaz, kak Daniel, kak Jimmy, dan kak Ibnu." ucapnya pelan.


Dady-nya menatap kaget Sisilia " kamu kenal mereka, dek?"


" Sisilia tersentak kaget " hah,...eh...i...i...ya Dad. mereka kakak tingkat Lia."


Refleks, ayahnya memegang kedua pundak Sisilia. " kamu ulangi siapa saja mereka."


dady-nya mempause layar tv. dan menunjuk satu persatu dari mereka


" Itu kak Daniel, orang yang di taksir Dista. itu kak ibnu. itu kak Jimmy, pacarnya Tia. itu kak Mumtaz, kakaknya Tia." Sisilia menyebutkan nama-nama Mereke sesuai yang ditunjuk dady-nya.


" kenapa kamu gak bilang kalo kamu kenal mereka." ucap Dady gemas


" Maaf. Lia aja baru lihat berita ini. dikampus sih rame, tapi kan Lia gak boleh nonton tv sama Dady, sosmed juga cuma WA. hp doang keluaran baru fungsinya jadul." cicit Sisilia pada kalimat terakhir


Dady-nya melirik polos padanya, membuat Sisilia mengerucutkan bibir bawahnya.


" Bisa kamu pertemukan Dady sama mereka?...

__ADS_1


__ADS_2