Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
bab 35. lebih dewasa, lebih tahu


__ADS_3

Empat tahun tahun kemudian,...


Ruang BEM Universitas


Ruang BEM universitas saat ini ramai orang, karena memang sedang sibuk persiapan Pema ( pentas seni mahasiswa ).


" heh, kamu. dimana Bara ku?" tanya Maura sombong kepada Cassandra.


Cassy memeriksa segala penjuru meja dan sekitarnya, lantas menggeleng


" gak ada . Maur." jawab santai Cassy.


Maura mendekati Cassandra. " Lo jangan ganggu kita. Lo gak punya malu masih aja nyamperin Bara setelah Lo dibuang dia." hina Maura dengan suara lantang memang dia berniat mempermalukan Cassandra.


" Ambi kaca ini. gue balikin omongan Lo ke Lo sendiri." Cassy melempar kaca kecil yang biasa dia bawa.


BRAK!


Dngan geram Maura menggebrak meja. " Lo gak lihat empat tahun ini dia selalu sama gue. elo cuma jadi penonton."


Beberapa orang yang berada di ruangan itu terperanjat kaget mendengar gebrakan itu.


Sebenarnya selama ini mereka jengah dengan sikap sombong Maura yang mendapat predikat ceweknya Bara.


" Dengar, Lo hanya mantan gebetan, jaga sikap lo. apa kurang bukti-bukti photo yang gue kirim ke Lo. apa mesti gue kasih video percintaan kita?"


Cassy tidak menghiraukan ocehan Maura, baginya ocehan Maura bagai kaset kusut. selama empat tahun ini Maura sering mengganggunya.


" heh budeg Lo. berani Lo sama gue."


Cassy mengangkat kepalanya dari laptop. menghela nafas berat, dan kembali melanjutkan tugasnya.


Dengan kasar Maura menutup laptop itu


" jangan ganggu Bara, dia milik gue. semua orang tahu itu. Lo bukan seorang jalang yang sedang haus belaian kan?" sindir Maura


Cassy merapikan barang-barangnya. dia pikir ini sudah cukup. selama empat tahun dia diam dengan segala tuduhan dan hinaan yang dilontarkan Maura padanya


Cassandra beranjak pergi, namun tangan-nya dicekal Maura.


Dengan raut marah karena merasa disepelekan Maura mengangkat tangan hendak menampar Cassandra, namun Cassy mencekal tangan yang sudah terangkat itu.


" kalo Lo mau mempermalukan diri silahkan . gue gak minat gabung. semua omong kosong Lo ke gue, itu lebih cocok buat Lo."


" Denger Maura, kalo Lo pikir empat tahun ini gue diam karena gue takut sama Lo, itu salah. gue diam karena gue gak mau ngerendahin diri gue dengan berurusan sama Lo." hina Cassandra


" soal Bara, empat tahun lo ngejar dia, dengan Lo ngelabrak gue gini itu menandakan Lo belum berhasil jadiin dia milik Lo. itu berarti Lo gagal." ejek Cassandra


" Gue seorang Hartadraja, gue gak perlu ngejar dia, dia yang ngejar gue. maybe lo banyak ngabisin waktu sama dia, tapi pada akhirnya dia selalu balik ke gue."


Memang selama empat tahun ini tak terhitung Bara datang ke rumahnya untuk memulai kembali berhubungan dengan Cassandra, namun selalu ditolak Cassandra.


" gue gak cinta sama dia. bilang ke Bara jangan ganggu gue. karena gue jijik kalo harus bekasan lo dan para pelacur lainnya yang sering mengekor dia." tandas Cassandra


" Cassandra!!!" Cassy menoleh terkejut melihat Bara yang berdiri di daun pintu dengan wajah memerah dengan raut kecewa dan sedih.


Tak mampu melihat kesedihan di wajah Bara, Cassy bergegas pergi dari ruangan.


Bara mengepal kedua tangannya, memejamkan mata meraup semua sakit hati dan sedih mendengar perkataan Cassandra.


Tamara yang berdiri di sampingnya mengelus lengan Bara lembut.


" Udah Bar, yuk kita pergi. malu dilihatin yang lain." Tamara membawa Bara pergi. Tamara melirik sinis Maura yang berdiri termangu.


****


Kantin.


" serius Lo ngomong gitu?" tanya Tia tak percaya.


Mereka baru mendengarkan curahan penyesalan Cassandra yang telah berbicara kasar tentang Bara di ruang BEM tadi.


" Gue tahu Lo sakit hati sama kakak gue, tapi sebagai adik, gue sakit hati kakak gue dibilang menjijikan." ucap Dista mencoba objektif


" Maaf, sumpah gue gak maksud gitu. gue juga gak jijik, tapi pas gue berhadapan sama si Maura itu gue langsung aja teringat sama photo-photo yang udah dia kirim ke gue, jadi gue muak!"


" photo apa?" tanya Sisilia.


Cassandra membuka file gambar bernama 'maubar' di ponselnya dan memperlihatkan ke para sahabatnya.


Para sahabatnya membolakan mata kaget melihat isi dari file itu. di sana banyak gambar Bara dan Maura dan juga dengan beberapa wanita lain dengan berbagai pose senonoh ada Bara yang memegang bagian dada , mencium, meraba, bahkan tidur seranjang, diberbagai tempat ada club, pantai, villa, bahkan rumah pribadi Maura.


" Lo kok gak bilang dapet beginian?" tanya Dista marah.


" gue pengen cerita, tapi gue gak mau kalian ribut sama kak Bara."


" ya emang harus ribut lah. dia masih aja deketin lo, padahal dia juga mengembara ke cewek-cewek lain." sewot Tia.


" sumpah gak nyangka gue Kakak gue bego begini."


" yuk ke markas Atma Madina gemes gue lihat kelakuan kakak Lo Ta." Tia dan yang lain beranjak pergi dari kantin


*****


Fakultas Sains dan Teknologi.


" hai cewek cantik main yuk, akang siap anter sampe pelaminan juga" gombal Jimmy ke setiap mahasiswi yang lewat.


Gedung yang berdampingan dengan kantin universitas yang juga dikelilingi gedung fakultas ekonomi, teknik, dan hukum. koridor gedung sains dan teknologi menjadi tempat favorit Jimmy menggoda kaum hawa yang lewat hendak ke kantin.


" ya, Jim jangan sok playboy Lo. hidup Lo stuck di Tia juga." remeh Daniel


" hooh. dulu aja pas dia nembak, Lo tolak, sekarang mau deketin dia, gagu Lo." ejek Ibnu


Mumtaz tertawa kecil menanggapi hal itu


"ck. siapa suruh di masih buluk pas nembak gue. lagian anak SD sok-sokan nembak cowok. pake bedak aja belum bisa." sarkas Jimmy


" terus kenapa Lo sekarang demen si buluk itu?" tanya Daniel


" ya..mana gue tahu kalo gedenya dia bakal cantik dan baik hati. Muy, tolongin gue modusin gue sama adik lo." bujuk Jimmy


Mumtaz diam, hanya menggeleng


" cih gak setia kawan Lo."


" huh. kenapa sih dia masih buluk pas nembak gue. jadinya kan gue...AAAHH Tia kenapa sih Lo buluk!!!" Jimmy meracau dengan memberantaki rambutnya.


" ooohhh jadi itu kenapa selama ini Lo nolak gue, karena gue buluk!!" teriak Tia naik pitam mendengar ucapan Jimmy.


Memang dia tidak mendengar cerita secara keseluruhan, tapi mendengar kalimat terakhir yang keluar dari mulut Jimmy Tia dapat menyimpulkannya


Jimmy dan para sohib terperanjat kaget mendengar amarah Tia


" kalo lo anggap gue buluk, kenapa Lo masih ngasih harapan sama gue?


" kenapa Lo gak nolak gue langsung?"


" Dari kecil gue jaga hati gue buat Lo, tapi apa tanggapan Lo tentang gue? B.U.L.U.K!!!" Tia berlari meninggalkan tempat itu.


Para sohib yang mendengar amarah Tia hanya cengo karena masih kaget. Jimmy yang pertama sadar lantas bergegas menyusul Tia, sedangkan yang lain saling tatap bingung.


" terus ini urusan Cassy gimana Ta?" bisik Sisilia. Dista mengedikan bahu ya


" urusan Cassy apa?" tanya Mumtaz yang mendengar bisikan Sisilia


" ehh, kedengaran ya kak. eng...enggak apa-apa, bisa nanti-nanti aja kok."


Mumtaz menarik baju lengan Sisilia agar mendekat padanya


" apa? ngomong aja. urusan Jimmy, mereka bisa urus sendiri." ucap lembut Mumtaz sambil merapikan rambut Sisilia yang berantakan.


" ehh... ini..." Sisilia menyerahkan ponsel Cassandra dengan salah tingkah


" Sejak kapan Cassy dapet photo itu?" Mumtaz mengalihkan tatapannya dari ponsel ke Cassandra.


" dari empat tahun lalu." jawab pelan Cassy.

__ADS_1


" soal apaan sih?' tanya penasaran Daniel. Mumtaz memberikan ponsel Cassy kepada Daniel.


" anjir... karena ini kamu bilang Bara itu menjijikan?" tanya Daniel setelah melihat isi ponsel Cassandra


Cassy meringis tak enak hati " udah denger ya?"


" kamu berantemnya di ruang BEM ya sama aja di lapangan, Cas." ujar Ibnu.


Cassandra menunduk sedih. " sumpah. aku gak maksud gitu kak."


" kalian pasti juga udah denger kalo si maung itu ngatain Cassy jalang," bela Dista


" maung?" mereka bertiga mengernyitkan kening


" Maura. terlalu bagus tu nama buat dia." Dista marah.


mereka mengangguk. " iya sih. Bara tahu gak kamu dapat kiriman photo ini?" tanya Ibnu.


" aku udah gak ngomong lagi sama kak Bara udah lama." ucap Cassandra


" iya lah, kamu ngehindarin dia mulu." sindir Daniel.


Cassy lagi-lagi menunduk sungkan untuk menjawabnya.


" kak Daniel, apa kak Daniel jua nolak aku karena aku buluk?" tanya Dista menatap Daniel, Daniel menggeleng


" ooh gitu. jadi kak Daniel nolak aku karena emang kak Daniel gak suka aku ya" lirih sendu Dista.


Daniel hendak mengatakan sesuatu, tapi dia urungkan.


Suasana menjadi canggung, " ya udah Cassy, hpnya kakak simpen dulu ya." ucap Ibnu. yang diangguki Cassandra.


" ini udah sore, kalian masih ada kuliah atau gimana kok masih dikampus." tanya Mumtaz


" ehh...kita tadinya mau pulang, tapi dicegat Cassy pengen curhat katanya." ucap Tia.


" Niel, anter Ita pulang." ujar Mumtaz


" ehh gak usah aku nunggu jemputan." tolak Dista


" ayo aku anter." Daniel menarik dan menggenggam tangan Dista meninggalkan kampus.


" Cassy,..."


" aku nunggu Adgar." sela Cassy


" aku anter. tadi Adgar Sam temennya pergi di suruh Yuda ada tugas BEM." ujar Ibnu beranjak pergi bersama Cassy


" ehhh...aku..." Sisilia hendak bicara


" Mumtaz." panggil Riana gadis berhijab mahasiswi fakultas ekonomi menghampiri mereka.


" ada apa?" Mumtaz berdiri menyampaikan tasnya dipundak.


" Dari tadi aku telpon gak diangkat." ucap Riana sembari melirik Sisilia yang berdiri disamping Mumtaz.


Mumtaz diam tak merespon.


"Pulang bareng aku mau? aku sekalian ada urusan di daerah kamu." ucap Riana


" maaf. gak bisa. aku pulang bareng Sisilia." tolak Mumtaz


Riana menatap tajam Sisilia.


" ini tugas BEM, Mum." bujuk Riana.


" Sama yang lain aja. lagian ini udah sore. besok kan bisa dilanjut."


" pergi sama kamu?" Riana memastikan


" Ria, kita tuh udah dibagi kelompok tugas kan, sebaiknya kamu pergi sama kelompok kamu. aku permisi dulu. mau pulang."


Mumtaz memegang tangan Sisilia menuju parkiran.


*****


" tuh jemputan kamu udah ada." Mumtaz berjalan ke arah mobil sedan hitam Mercedez-benz.


Dia membukakan pintu penumpang bagian belakang, menempelkan tangan di bagian atas daun pintu agar kepala Sisilia tidak terbentur.


setelah duduk rapih, Sisilia membuka jendela mobilnya " kakak langsung pulang. tadi kayaknya Tia marah banget sama kak Jimmy."


Mumtaz terkekeh, dia sedikit membungkuk


" Pak, hati-hati di jalan. jangan mengebut." ujar Mumtaz kepada sopir pribadi Sisilia.


" iya Den."


Sisilia melambai tangan yang dibalas lambaian oleh Mumtaz. seperginya mobil Sisilia meninggalkan parkiran, Mumtaz beranjak pergi menuju parkiran motor.


semua adegan itu mendapat perhatian intens dari Riana dan para sohibnya.


*****


Rumah mama Aida


" Tia, tunggu. kamu salah paham." Jimmy terus berusaha mensejajarkan langkah dengan Tia.


Tia tidak menggubris omongan Jimmy. sejak meninggalkan kampus Tia tidak berhenti menangis, omongan Jimmy begitu menyakitinya.


" Tia, berhenti. kita bisa ngomong baik-baik." Jimmy memegang tangan Tia tepat di depan pintu rumah.


" Dengar, kakak minta maaf, kalo omongan kakak nyakitin kamu, tapi kamu gak denger semuanya."


" untung aku gak denger semua, kalo denger, aku bakal tambah sakit hati kamu hina." Isak Tia.


" Di sana ada mumtaz, kamu pikir kakak kamu bakal diem aja kalo aku hina kamu?"


Tia terdiam menunduk


" Dengar, aku gak tahu kalo selama ini kamu kasih kode aku, yang aku tahu selama ini kamu suka Daniel?"


" hah? kamu ngomong apa sih. darimana kamu nyimpulin aku suka kak Daniel?" Tia kaget dengan kesimpulan Jimmy.


" ya... kamu sering nyebut Daniel 'beb', itu sebutan sayang dari orang yang cinta kan?" Jimmy meragu.


" ish.. aku sebut itu juga ke kak Ibnu buat nyindir kamu yang gak pernah notice aku." Tia menghentakan tangan yang digenggam Jimmy.


Tia masuk ke dalam rumah dengan marah, Jimmy mengikuti Tia.


" mama, maaf. numpang Mau berantem dulu ya." ucap Jimmy yang melewati mama Aida yang duduk di ruang tv bersama kak Edel.


Kini mereka di dalam kamar Tia, saling pandang yang satu memberi tatapan marah, sedangkan yang satunya memberi tatapan lembut.


" ngapain kamu di sini?"


" aku gak bakal lepasin kamu kali ini."


" baiklah kita tuntaskan urusan kita, kalo itu ada!" sindir Tia.


" baik. aku dulu yang ngomong, kalo kamu duluan yang ngomong gak bakal berhenti." Tia mendelik mendapat ejekan itu.


" aku suka kamu, aku cinta kamu." tegas Jimmy


Tia mematung kaget...


" udah lama aku suka kamu, aku nunggu kamu buat buka hati untuk aku, tapi semakin lama kamu dekat dengan Daniel, dan memanggil dia dengan sebutan sayang, jadi aku mengurungkan niatan untuk nembak kamu." lanjut Jimmy.


tiba-tiba Tia memukul kepala Jimmy.


" awwws sakit Ya!!" Jimmy memegang kepalanya


" abis katanya jenius, tapi urusan gini bego." rutuk Tia.


" apa maksudnya?" Jimmy bingung.


" aku pernah nembak kamu, meskipun kamu tolak, tapi aku masih suka kamu bahkan sampe sekarang."

__ADS_1


" aku tahu aku gak cantik, tapi ya... gimana... hati aku maunya sama kamu." cicit Tia.


" aku sebel kalo kamu godain cewek lain, tapi kamu gak pernah godain aku."


" jadi kesimpulannya selama ini kita saling suka?" Jimmy memastikan.


" aku gak tahu perihal hati kamu, tapi selama ini aku cinta sama kamu." ucap Tia.


" aku juga. dulu aku nolak kamu, karena emang aku belum mikirin cewek. kita kan masih kecil Ya." Jimmy membela diri sendiri.


" dengar, sejak aku mulai suka terhadap perempuan, kamu perempuan pertama yang aku suka, dan aku berniat untuk jaga hati aku sampe menikahi kamu."


" hah?" Tia speechless mendengar ucapan Jimmy.


" sewaktu aku pikir kamu suka Daniel sekalipun, aku tetap pengennya kamu. aku berniat nunggu kamu." Jimmy menatap Tia intens.


" sekarang aku proklamirkan bahwa kamu kekasih aku, dan aku kekasih kamu. kita pacaran sekarang!" tukas Jimmy sambil memegang pundak Tia.


" beneran?" Tia salah tingkah


" iya. beneran. jangan panggil yang lain beb. cuma buat aku aja."


" iya....horree. mama Tia pacaran sama Kak Jimmy." Tia memeluk Jimmy sekilas, dan langsung berhambur keluar kamar


Jimmy terbelalak kaget mendapat pelukan Tia, lantas selanjutnya dia terkekeh melihat tingkah kekasihnya. diapun turut keluar dari kamar Tia.


Ruang tv


mama dan kak Edel kaget mendengar teriakan Tia.


" kamu kenapa teriak-teriak?" omel mama memukul lengan Tia.


" Tia pacaran dong sama kak Jimmy, hihi..hihi." Tia tertawa menutup mulutnya


Di belakang Jimmy turun dari tangga menghampiri mereka dengan tersenyum.


" beneran? kamu kesambet Jim?" ledek Kak Edel yang mendapat delikan tajam Tia.


" hehe..hehe. kasian kak. katanya dari dulu suka sama aku." Jimmy menjatuhkan diri di sofa single seberang mama.


" heh!" tegur mama.


" maaf ma. iya. kita jadian. kita pacaran sekarang." Jimmy merubah duduknya menjadi tegak dan formal


"sekalian aku mau minta ijin buat nikahin Tia." ucap mantap Jimmy.


"HAH!!" mereka bertiga. terbelelak kaget.


" kakak, kan baru juga jadian, masa udah ngelamar." sungut Tia.


" tapi sukanya kan udah lama. lagian kita juga udah pada gede. ngapain lama-lama pacaran entar kebablasan."


" iya. Jimmy betul, tapi apa gak terlalu buru-buru. orang tua kamu aja belum tahu tentang hubungan kalian." ujar mama.


" Jim, sabar. itu hanya godaan sesaat." kak Edel mengingatkan


" ini bukan godaan, dari SMA kelas dua belas Jimmy udah ada niatan buat nikahin Tia."


ucapan Jimmy berhasil membuat tiga perempuan itu terbengong


" gini aja. kamu pelan-pelan aja dulu. pertama kasih tahu orang tua kamu perihal hubungan kalian, kalo kamu masih mau nikahin Tia, mama terima-terima aja. toh mama udah tahu bagaimana kamu." ucap mama


" baik. Terima kasih ma atas restunya. Tia siapkan dirimu menjadi nyonya muda Atma Madina." Jimmy mengedipkan sayubmatanya genit. Tia gelisah dalam duduknya.


***


Kediaman Birawa.


Dalam kamar tidur nan luas seorang Daniel berdiri di depan cermin sepanjang tubuh dengan memakai baju seragam SMA-nya yang ada coretan kala lulus empat tahun lalu.


Di bagian dadanya terdapat tulisan ' Ita cinta kak Daniel dari dulu sampe ke masa depan. Love you, Dista.'


Daniel mengelus-elus tulisan itu " kakak juga cinta Ita." lirihnya.


Cklek!!!


Bunda Hana dan ayah Teddy berdiri di daun pintu memperhatikan anak sulungnya.


mereka khawatir dengan Daniel yang semenjak pulang dari kampus belum juga keluar kamar.


" Sampai kapan abang nyimpen perasaan Abang?" Tanya pelan bunda


Daniel diam, dia beranjak ke atas kasurnya yang juga dihampiri bunda dan ayah.


" Apa yang membuat Abang nahan perasaan Abang. Dista kayaknya beneran suka Abang juga." Lanjut bunda yang duduk di atas kasur Daniel


" Bun, bentar lagi. yang Abang pengen bunda sama ayah ngerestuin kita."


" Itu mah udah lama kita kasih bang. Ini masalahnya Abang yang masih gak ungkapin perasaan Abang. Gak kasihan sama Dista-nya?"


" Bang, kamu lelaki harus mengambil sikap. Di luaran sana banyak lelaki yang siap menerima Dista, jika sewaktu-waktu Dista lelah menunggu Abang. Jangan ditunda lagi, terlambat menyesal kamu." Ucap ayah.


" Kayaknya Abang bakal menyesal tuh. Kemarin lusa aku lihat kak Dista jalan bareng sama cowok di mall Grand Green." Ujar Ayunda menyusul bunda dan ayahnya tiduran di atas kasur Daniel.


" Sama siapa?" Tanya Daniel.


" Gak kenal, tapi kayaknya anak kampus Atma Madina."


" Bang, itu udah warning. Ayo gerak. Menyesal itu gak enak tahu. Menggerogoti jiwa-raga." Ayah memprovokasi.


" Kalian dukung Abang ya!" 


" Iya. Sekarang ngelamar nikah aja ayah sama bunda siap." Lagi-lagi ayah memprovokasi.


*****


Markas The aneh


Markas ini masih seperti dulu menjadi tempat kumpul anak BIBA, meski sudah lulus mereka di waktu luangnya sering berkumpul bareng.


" Anjir sih ini si Maura lebih sadis daripada si Tanura." Ucap Ibnu mengamati sesuatu dari laptopnya.


Brak!!!


Bara  diikuti Rizal, Yuda, dan Ubay memasuki rumah dengan wajah kusut.


" Kenapa kalian kayak janda ditinggal pergi suami?" Ledek Jimmy.


" Sepupu Lo ni bikin kacau di BEM. Si Cassy sampe ketakutan hampir berantem dia sama si Adgar di ruang BEM." Yuda mengadu


" Kenapa lo Bar kayak cewek aja." Jengah Jimmy.


" Diem Lo. Lo gak tahu permasalahannya." Bentak Bara


Jimmy mendengus " Lo marah sama Cassy karena dia nyebut Lo menjijikan kan?" Telak Jimmy.


" Lo tahu?" Bara kaget.


" Makanya jangan marah-marah mulu kayak cewek Lagi pms Lo."


" Jangan banyak bacot darimana Lo tahu?" Tanya Bara


" Dari Cassy langsung, dan kita juga tahu apa alasan dia nyebut Lo menjijikan." Ujar Daniel


" Sini jangan banyak ngamuk Lo." Ibnu menggeser menghadapkan laptopnya ke depan Bara dan para sohibnya


Mereka terperangah melihat isi dari laptop Ibnu.


" Bara, Lo cosplay jadi bintang porno?" Racau Rizal.


" Setelah gue selidiki, sumber photo ini dari dua nomor berbeda, yang satu dari Maura, dan satunya lagi dari Tamara." Ucap Ibnu.


Bara membulatkan matanya " Tamara?, Tapi dia kan temen gue. Buat apa dia ngelakuin itu?"


Ibnu mengedikan bahunya. " Itu yang gue dapet."


" Lo tahu pepatah yang mengatakan musuh terbesar kita adalah orang terdekat kita." ucap Jimmy.

__ADS_1


Bara terperangah....


__ADS_2