Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
Bab 121. Akhirnya..Bertunangan..


__ADS_3

Tidak dipungkiri oleh Raul dia sangat menikmati raut frustasi Eric yang tidak menerima disaingi pesonanya oleh putranya sendiri dihadapan para undangan wanita.


Raul tidak bisa lagi mengalah sebagai sosok tidak berguna jika nyawa ibunya sebagai taruhannya.


Raul berjalan mendekati posisi Rodrigo yang mengamati di kegelapan.


" Bagaimana rasanya menjadi orang yang terlihat?" Rodrigo tertawa geli.


" Tidak sekeren yang aku kira."


" Lihat para jala,ng itu menatap kamu bagai kalkun dihari Thanksgiving."


Mata keduanya menunjuk segerombolan wanita muda berpakaian minim dengan tatapan menggoda pada mereka.


" Kamu, mau? aku yakin loba.ng mereka sudah longgar." Ucapan vulgar Raul mendapat gelengan kepala dari Rodrigo.


" Apa yang akan kamu lakukan terhadap Papa?"


Raul mengedikkan bahu masa bodo," ikuti saja alur mainnya dia." Mata tajamnya mengikuti gerakan Eric ditengah tenggakan wine ditangannya.


*****


BRAK!!!


Hito menutup pintu apartemennya dengan marah karena tidak dapat menemukan Zahra, seharian ini dia menelpon semua teman Zahra, mengubek Jakarta dengan harapan dapat berbicara dengan penempat hatinya.


" Ra, kamu dimana?" tubuh lelahnya dijatuhkan di sofa dengan satu tangan menutup matanya.


ingatannya akan perkataan Tia sungguh menusuk hatinya, kepalan tangannya memukul sofa karena kesal.


Drrt!!


" Hallo." sapanya lelah.


" Gue lihat Zahra di rumah Hira, kesini, Lo." ungkap Samudera diujung saluran.


Kedua mata Hito terbuka lebar, ia menegakkan tubuhnya," serius, Lo."


" iye cari mati aja gue disaat begini ngprank Lo."


" Gue otw, Lo awasin dia. Lo kehilangan jejak, mati riwayat Lo."


Tanpa buang waktu Hito bergegas pergi ke rumah Samudera.


****


Derrt!!


" Hallo." Dengan mata terpejam Mumtaz menjawab panggilan telpon.


" Gue drop kak ala di rumah kak Hira, naikkan gue inisiatif kasih tahu Lo. Jadi dukung gue jadi kakak ipar Lo ya." Seru Radit diseberang saluran.


" Hmm, thanks. Gue hubungi om Hito dulu."


" Ck, ancamannya. Gak jadi gue cancel jadi kakak ipar Lo."


" Hehehe, Gimana keadaannya?"


" So far baik, gue tutup ya gue mau gabung sama yang lain."


" Hmm, makasih." Mumtaz langsung memutus sambungan telpon tanpa menunggu jawaban dari Radit.


Mumtaz langsung turun begitu mobil terparkir aman di tempat parkir khusus ruang bawah tanah RaHasiYa.


"Jar, Lo bisa urus sisanya, kan?"


Jarud mengangkat sebelah alisnya sedikit heran, biasanya Mumtaz akan menyelesaikan pekerjaannya sampai tuntas.


" Mau kemana Lo?"


" Mau ke kak Ala, gue belum sempat lihat keadaannya."


Jarud yang sudah mendengar apa yang terjadi di rumah Aida hanya mengangguk.


" Sip, percayakan sama gue."


" Tentu, kalau Jeno sudah datang, suruh dia istirahat."


Jarud mengangguk, " Lo juga, ini malam tahun baru santai dikitlah." Ujarnya. Wajah Mumtaz terlihat begitu lelah.


Mumtaz tersenyum tipis langkahnya berbelok ke tempat parkir bagian motor yang berjejer seragam.


Duduk di atas motor ia melakukan panggilan pada Zayin.


" Hallo." Salam Zayin.


" Kakak ada di rumah Kak Hira, Aa mau kesana sekarang."


" Oke, gue nyusul, ngurus si Adel dulu lagi rese jam segini belum tidur."


Mumtaz terkekeh," nikahin aja udah."


"  Sekali lagi ngomong kayak gitu, Awas Lo ya." Jawabnya langsung menutup sambungan telpon.


" Dikatain marah, tapi kelakuan lebih posesif ketimbang kakeknya." Gumamnya sebelum mengenakan helm.


****


Mumtaz duduk bersandar sambil memejamkan matanya di sofa ruang tamu rumah Zahira sambil menunggu zahra yang dipanggil oleh Zahira.


" Tidur aja kalau capek, udah malam masih keluyuran." Zahra menyuguhkan segelas teh hangat di depannya.


Mumtaz memperbaiki letak duduknya, menyesap tehnya.


" Pengennya begitu, tapi belum bisa kalau belum ketemu Kakak."


Zahra menghela nafas berat. " Kalian berdua pasti ikut susah ya." Sesalnya memberi beban baru pada kedua adiknya.


" Jangan nethink, wajar aja sih. Siapa juga yang gak kepikiran ngelihat kelakuan si Tia."


" Muy, menurut kamu Kakak..."


" Kakak yang terbaik, memang seharusnya sejak dulu kita tegas pada Tia." 


Mumtaz menatap tegas Zahra,


" Aa udah banyak mikir, bukan hanya dia yang kehilangan Mama, jadi alasan dia mencari kasih sayang mama itu tidak bisa diterima, kita selama initerlalu memanjakannya hingga mentalnya payah."


Mumtaz mengusap kasar wajahnya.


" Kelakuannya tidak bisa ditolerir lagi, Tia jadi begini karena kita terlalu percaya dia mampi memperbaikinya tetapi ternyata salah."


" Apa benar, Afa..."


" Iya, mereka sudah pisah, Afa udah konfirmasi, tetapi dia tidak mau ngembaliin Tia " Mumtaz mengembuskan nafas lelahnya.


" Lah, terus gimana?"


Mumtaz mengedikan bahu tidak tahu," lihat saja selanjutnya gimana. Toh mereka berpisah bukan karena tidak cinta lagi."


" Kak, pulang ya! Ini urusan gak bakal selesai kalau kakak gak pulang."


" Muy,..."


" Ini bukan hanya soal kalian berdua, tetapi ikatan kekeluargaan kita. Serumah aja kadang kita gak ketemu apalagi mencar gini."


" Betul, sengggaknya kalau Ayin pulang Ayin bisa lihat lobang hidung kakak." ucap Zayin diambang pintu, ia masuk rumah tanpa salam bahkan langsung menjatuhkan diri di samping Mumtaz setelah membuka jaket basahnya.


Zahra dan Mumtaz menatap sengit atas ucapan ngawur Zayin.


" Rel, minta handuk kecil buat mereka." seru Zahra begitu melihat Erel hendak melewati ruang tamu, tak urung Erel kembali masuk ke dalam.


" Kalian suka banget hujanan, sakit tahu rasa." Omel Zahra melempar pelan handuk yang diambilkan Erel yang sudah berlalu keluar rumah.


" Dih, dikata kita masih bocil, cuma kena gerimis. Siapa suruh Kakak gak pulang-pulang." Zayin mengusak rambut basahnya.


" Dia katak, Kak. gak bakaln sakit kalau kena gerimis doang." Ujar Mumtaz merujuk pada pasukan khusus dimana Zayin sudah mendaftarkan diri.


" Kak, pulang. Aku yatim piatu, iya kali harus juga gak ngerasain kasih sayang Kakak." Ucapan Zayin yang menyiratkan kesepain.


Mumtaz terdiam, Zahra memalingkan wajahnya menyembunyikan rasa sedih.


"  Enggak bisa, Besok kakak masuk kerja."


Zayin menatao sengit Mumtaz, yang dibalas tatapan 'apa' oleh Mumtaz.


Zayin menatap tajam Mumtaz" Aa tega nyuruh orang sekelas kak Ala masuk di tahun baru?" Sarkas Zayin kesal.


" Siapa yang nyuruh?"


" Kan situ yang punya rumah sakit."


" Bara yang paling gede sahamnya, pasti dia yang nyuruh."


" Kalau Aa bilang jangan, Bang Bara juga gak bakal ngizinin."


" Enggak ada yang nyuruh kak Ala kerja di tahun baru. Kak, jelasin. Ini anak bakal bawel banget nantinya."  Mohon Mumtaz pada Zahra.


" Bukan Aa Mumuy yang nyuruh, maksudnua tuh besok Kakak cuma cek  kunjungan beberapa pasien darurat doang kok."


" Tuh dengerin, lagian jam kerja Kakak tuh bebas gak terikat, kalau ada yang mau protes hadepin om Hito sama Bara. darah tinggi mulu sih bisanya."


" Ya... Ayin kira Aa tega." Jawabnya santai tanpa rasa bersalah.


" Caper lo." Mumtaz menoyor pelan kepala Zayin.


" Biarin sih, caper ke Kakak sendiri."


" Caper tuh ke gebetan, Yin." Kompor Zahra.


Zayin mengerang sebal, " Jangan mulai. Punya Tia sama Kakak aja pusing tujuh keliling apalagi cewek lain. No way!"


"Tapi setelahnya Kakak pulangkan?" Mumtaz harap cemas.

__ADS_1


Zahra mengangguk," iya, kakak pulang."


Mumtaz dan Zayin tidak bisa menyembunyikan binar mata.


" Janji? Kalau kakak ingkar, Ayin sumpahin jadi gurita terus dimasak takoyaki sama Ayin." 


" Kalau Aa bikin gurita asam manis." 


Keduanya mengajukan jari kelingking pada Zahra.


Zahra terbahak-bahak mendengar ancaman kedua adiknya.


" Apasih, udah gede juga masih aja ngegemesin." Zahra menautkan kedua jari kelingkingnya bersamaan pada masing-masing kelingking mereka.


Kalau cuma satu kelingking yang diajukan Zahra keduanya bakal berebut jadi yang pertama Zahra tautkan kelingkingnya, dan akan menjadi perdebatan panjang siapa yang berhak mendapat tautan pertama.


Tok tok!!


Samudera berdiri diambang pintu.


" Ngapain kakak kesini? Ini tuh bukan rumah mantan pacar kakak." Sarkas Zahra sinis.


Samudera berdecak malas," ini rumah tunangan saya kan." 


" Dih, halu menjurus fitnah. Mantan tunangan!" Tekan Zahra.


" Belum putus juga. Hira mana?."


Belum sempat Zahra membalas ucapan Samudera Zayin menyelanya. 


" Kak Hira dipanggil mantan tunangan yang menolak diputusin kakak." Teriak Zayin.


Samudera melotot mendengar ucapan Zayin yang lemes itu.


Zahira masuk ke ruang tamu, matanya menatap sinis pada Samudera. Edel yang tahu Samudera ke rumahnya berdiri bersandar pada daun pintu dibelakang Samudera


" Apa?"


" Disuruh ke rumah sama mama-papa."


" Bilang aja saya udah tidur."


" Mana ada, mama udah lihat di sini ada tamu." matanya melirik pada Mumtaz dan Zayin.


" Bilang aja lagi diapelin sama gebetan baru." Ujar Zahra sinis.


" Itu orang udah babak belur aku tonjokin."


Zahra dan Zahira membeliak mata sebagai respon atas ucapan Samudera yang terkesan arogan.


Zahra sudah berdiri menyingsingkan lengan baju panjangnya.


" Berani ngelarang orang punya gebetan sendirinya pacaran mulu sama mantan." Geram Zahra.


" Saya gak pacaran, fitnah itu."


" Ceweknya yang rambutnya sebahu, bibir tipis, kulit putih,  dan pakaiannya seksi gitu bukan sih. Cantik sih, tapi sayang murahan." Seru Zayin frontal.


" Kok kamu tahu?" Zahira mengernyit heran. 


" Aku pernah lihat bang Samud makan bareng sama tu cewek di Gonza restaurant. Mesra lagi, nempeli gitu tubuh mereka."


Samudera panik dibawah tatapan tajam Zahira.


" Ck, dia yang nempelin aku, Ra."


" Tapi bang Samud gak nolak, Kak." Adu Zayin sok polos. Menikmati kekalutan orang dewasa dihadapannya ini.


" Heh, bocil diam ya."


" Dih, takut itu. Berarti beneran itu." Cibir Zayin.


" Enggak ada begitu, dia terus mepetin aku, aku juga langsung tinggalin dia. Benar kan!?" Matanya menatap Zayin tegas.


" Iya, sih." Jawabnya santai tanpa rasa bersalah telah menimbulkan suasana tegang di ruangan tamu.


Lagi, Zahra dan Zahira melongo dengan tingkah absurd Zayin.


" Kak Hira, jangan kayak kak Ala masih peduli sok-sokan gak suka, itu kakak marah tandanya kakak masih cinta bang Samud." Zayin sok menasihatinya.


" Katanya mantan, tapi masih peduli. Kalau udah gak suka mah cuek aja lagi." Celetuk Mumtaz yang membuat Zahira keki sendiri.


Samudera tertawa kecil melihat Zahira salah tingkah, tidak bisa membiarkan lihat kekasih hatinya menjadi korban candaan lagi, Samudera menarik tangan Zahira.


" Erel, Zahra Mama nungguin kalian. Kalian berdua juga bisa gabung kesana." Ucap Samudera pada Mumtaz dan Zayin sebelum berlalu.


Selang beberapa menit


Tok!! Tok!!


Mereka menoleh pada ambang pintu.


Hito berdiri di daun pintu dengan nafas terengah-engah.


Para adik kaget, pasalnya ini kali pertama mereka lihat Zahra dipeluk bukan oleh mereka berdua.


" Jangan pernah pergi lagi, aku begitu kalut mencari kamu." Lirihnya.


Zayin yang pertama sadar langsung melepas pelukan Hito dengan mata memicing kesal.


" Nikahin dulu baru peluk." Zayin membawa Zahra ke dalam pelukannya sangat posesif.


" Nikah sekarang juga boleh, bujuk kakak kamu agar mau om nikahin." Hito memandang Zayin dengan geli,


Matanya melirik Mumtaz yang terkesan tenang namun dapat dilihat siratan marah diwajahnya.


Ia menghela nafas gusar mendapati keposesifan dua orang keras kepala dihadapannya ini.


" Beneran?" Tanya Zayin ragu.


Hito mengangguk mantap," berkali-kali saya lamar Ara, tapi selalu ditolaknya."


" Lamar sungguhan?"


" Iya,lah, masa main-main."


" Kak,..terima aja. Supaya mulut cabe Tia bungkam." bujuk Zayin.


Zahra memukul dada Zayin sengit, dia melepaskan diri dari pelukan zayin.


" Jangan gegabah, well, kakak ingetin kalian tentang gosip hangat kak Hito sekarang sedang dekat dengan Yunita."


" Dia, siapa? Tukang sapu komplek sini?" Zayin mencibir.


Erel hanya terkikik geli, dan langsung bungkam begitu mendapat tatapan sinis dari Zahra.


" Ck, itu gosip, lagian dia cuma pansos."


" Beneran om gak ngiler ke dia?" Todong Zayin.


" Mana ada." 


Dia artis gadungan, cewek psk yang berkedok artis " Erel menimpali.


Hito bergeming,


" Tahu dari mana?" Zahra menatap menyelidik Erel.


Erel mengedikkan bahu.


" Kamu pernah make dia?"


" Ini kenapa bahas si artis palsu itu dah, gak penting banget. Om mending ngobrol lagi aja sama Kakak beresin semua masalah kalian."


" HEH..." Zahra hendak protes.


" Tentu, terima kasih."


Hito menarik lembut tangan Zahra.


Begitu Zahra berdiri Mumtaz dan Zayin silih berganti memeluk dan mencium kening Zahra.


" Jangan marah melulu, jangan suka melawan cerita kehidupan. Nikmati saja yang ada." Ujar Mumtaz sebelum melepas pelukannya.


" Kak, om Hito bikin Kak Ala nangis lagi, panggil kak Edel buat hajar dia." Zayin mendapat pukul dipunggungnya dari Zahra.


Zahra tidak berdaya hanya bisa mengikuti langkah Hito yang membawanya keluar dari rumah.


Hito membawa Zahra ke taman belakang rumah Samudera.


mereka duduk saling berhadapan di bangku taman dihalangi meja bundar.


Hito menatap intens Zahra yang menatap balik dengan datar.


" Ara, aku mau minta maaf atas segala ucapanku."


" Hito, sudahlah...itu sudah lewat, dan aku sudah memaafkan mu. jadi kita sudahi pembicaraan tentang itu."


Panggilan hanya 'Hito', sedikit mengusik perasaan Hito, ia tahu Zahra belum memaafkannya meski bibirnya berucap maaf.


" Ara, aku tahu aku salah membentakmu, menjadikan mu  seakan kamu orang asing bagi hidupku, tapi kamu pasti tahu kamu paling berharga dalam hidupku setelah mama."


Hito nekat memutari meja lalu berjongkok di depan zahra, meraup kedua tangan Zahra ke dalam satu genggaman.


Zahra dapat melihat raut lelah, cemas, dan sedih di wajah lelaki yang dicintainya.


" Aku pasti menyusahkan kamu banget ya!."


Hito menggeleng cepat," aku hanya bersedih untukmu." 


" Maaf sudah menambah beban kamu, seharusnya kamu jangan memperdulikan aku."


" Mana bisa, aku tahu aku sudah menyakitimu dengan perkataanku, tetapi hubungan yang sudah kita jalin tidak sedangkal itu mudah dihapuskan."

__ADS_1


" Atau hanya aku yang begitu kuat?" Tersirat ketakutan dalam ucapan Hito.


Zahra mencoba menyelami netra hitam Hito, Zahra menggelengkan kepalanya sambil menunduk.


Hito tersenyum sumringah, ingin ia merengkuh kekasih hatinya, namun terhalang ketidakhalalan diantara mereka.


Hito mencium punggung tangan Zahra lama," aku mencintaimu." Ucapnya pelan hanya cukup terdengar oleh telinga Zahra.


" Ara, Aku gak mau kamu dihina oleh orang lain seperti Tia menghinamu,  Izinkan aku menikahimu, melindungimu, memberi namaku dibelakang namamu. Jadikan aku hak bagimu, dan aku berhak atas dirimu."


" Kak, kejadian kemarin menunjukan kita tidak saling cocok. Aku gak bisa menerima sikapmu yang kemungkinan akan kembali terjadi."


" Kalau itu terjadi, kamu boleh hukum aku apapun itu, selain perpisahan."


" Kak, apa aku boleh egois dalam hubungan ini?"


" Egoislah, cintai aku dalam keegoisan mu."


Zahra terdiam menyelami keadaan diantara mereka.


" Jadi, kita nikah ya!?"


" Kita nikah, hmm."


Mereka saling adu pandang, Hito menguatkan, Zahra menepis keraguan yang akhirnya


" Iya, kita nikah." jawaban yang s lama ini Hito idamkan akhirnya terucap, namun respon Hito bukan bahagia tetapi malah bengong.


Hito yang melongo karena syok tidak percaya, karena sejak tadi yang dia persiapkan hanya mental penolakan bukan penerimaan seperti ini.


Diamnya Hito membuat Zahra gemas sendiri, dia meraup wajah Hito dalam kedalam kedua tangannya. Meniup pelan mata Hito hingga ia tergelagap.


" Beneran?"


Zahra mengangguk.


" Kamu enggak lagi ngeprank aku, kan?"


Zahra merengut," apa aku ubah aja jawabannya."


Hito menggeleng cepat, " jangan! Gak bisa. Udah ketok palu." Ia mengetok-ketok bangku panjang taman dengan tangannya.


Segera ia keluarkan kotak cincin yang selama ini selalu ia bawa.


Zahra terbelalak kaget, " kamu membawanya?"


" Selalu, untuk menghukum diriku sendiri yang udah bikin kamu sakit hati."


Ia membawa Zahra berdiri menghadapnya,


" Aulia Zahratul Kamilah, ku pinang kau dengan segenap jiwa ragaku, menjadikan kau teman sejati sehidup ku, maukah kau menjadi istriku?"


Permintaan yang tergugup sepanjang hidupnya.


" Iya, aku mau diperistri olehmu."


" Aaaa...akhirnya. aku nikah, Ma!" Teriaknya mengangkat tinggi kedua tangannya. Berselebrasi layaknya pemain sepak bola telah menggolkan gawang lawan.


Samudera dan keluarganya menghampiri mereka karena takut terjadi sesuatu yang mengerikan mendengar pekikan Hito yang membahana


" Ada apa?" 


" Semua baik-baik aja kan?" tanya mer ia bersahutan


Zahra menunduk malu, ia kesal dengan Hito yang masih bertingkah layaknya anak kecil


Zahra memukul keras punggung Hito.


" Aws, sakit. Yang." Zahra memberi kode dengan lirikan matanya pada keluarga Samudera yang melongo diambang pintu taman melihat tingkah absurdnya.


" Om, Tante.". Hito menggeleng mendekat pada Zahra.


" Kenape Lo, kerasukan setan tahun baru." Ejek Samudera.


" Ejek aja teroos, entar juga Lo ngiri sama gue." Hito mengangkat tangan Zahra yang terdapat cincin tunangan.


" Ape?" 


" Gue berhasil." Ucapnya sambil nyengir.


" Jual tanah?" Samudera nambah kacau.


" Ck, ngiket dia." Bentak Hito kesal.


" HAH?" Semua orang terkejut


" Kok, bisa?"


" Kok mau?"


" Kesambet palingan, Zahra-nya." Komentar Zahira yang terakhir membuat Zahra melotot pada sahabatnya itu.


" Udah, ayo ke teman depan 15 menit lagi berganti tahun." Ajak Titania, mamahnya Samudera.


" Ayo, Yang. Aaaah senangnya tahun baru udah rukun." Matanya melirik Samudera berniat mengejek sahabatnya yang belum juga baikan dengan Zahira.


Ditengah berbaur dengan keluarga Samudera, Hito tidak malu selalu mengintili Zahra yang membuat Zahra jengah.


" To, sini Lo. norak amat. itu si Zahra bisa manggang sendiri." sungut Samudera kesal melihat tingkah sahabatnya layaknya anak ABG baru jatuh cinta.


" Ck, jangan ganggu, masing-masing aja sih."


" Sudah berantemnya, kita kumpul." Titania membagikan masing-masing orang satu air mancur.


Hito berdiri dibelakang Zahra," Yang lihat ke hp aku, aku lagi bikin instastory. angkat tangan kamu yang ada cincinnya."


" Pamer Lo "


" Diem, Playboy jomblo kasian deh Lo." ledek Hito pada Samudera.


" Oke hitung mundur, 3..2..1.."


" Happy new year, calon istri." bisik Hito senyum sangat mencerminkan kegembiraan.


****


3...2...1... DUARRR...DUAR...


Gemuruh kembang api raksasa berhamburan cahaya membuat formasi happy new year  menghiasi langit malam ditengah pemukiman     hasil karya para pemuda membaut takjub para penghuni pemukiman.


" Selamat tahun baru."


" Selamat tahun baru."


" Semoga segala rencana ditahun depan dapat terwujud."


Saling ucap selamat silih berganti diantara mereka yang menyaksikan gebyar kembang api.


" Pada labay, dah. Padahal besok gak ada yang berubah selain meneruskan kerjaan hari ini." Cibir Zayin pada orang-orang yang sedang bereuforia.


Zayin dan para sahabatnya masih duduk santai didepan panggangan.


" Apaan tuh?" Raja memasukan daging ke panggangan.


" Tidurlah, ngapain lagi." Sahut Juan yang mendapat tos tangan dari Zayin.


" Biar sih. Santai dikit." Ucap Adgar ditengah kunyahan dagingnya.


" Aaaa....mama, papa, nenek, Kakek."


Semua berlari khawatir kearah Eidelweis yang menjerit yang berlari terbirit-birit.


" Ada apa, Del." Heru mengapit tangan Eidelweis.


Eidelweis mengangkat ponsel ditangannya, " Kak Hito tunangan lihat instastory-nya."


" Hah?"


" Sama siapa?"


" Kalau bukan sama Zahra nenek gak aku terima." Semua orang berebutan meraih ponsel Eidelweis.


Yang pada akhirnya Fatio yang memegangnya.


Di sana terpampang Hito yang berdiri dibelakang zahra sedang mengecup bagian kepala Zahra dengan senyum sumringah diakhiri tangan masing-masing yang terdapat cincin dijari manis mereka dengan caption; Mengikat kamu sebelum yang lain, sekarang kita saling memilik♥️♥️!!


" Aaakh, sweet banget gak sih kakak aku." Pekik Eidelweis


" Dew, telpon toko perhiasan langganan, besok kita booking mereka buat nyari cincin pertunangan resminya." Titah nenek gembira.


" Ma, besok tanggal merah." Dewi mengingatkan Sri.


" Terus kenapa? Kita Hartadraja, tidak ada tanggal merah bagi mereka untuk kita."


" Biar Papa yang telpon mereka." Fatio langsung menghubungi manajer toko.


" Kata mereka siap, Papa udah bikin janji temu jam 9 sebelum mall buka."


" Aaaa...makasih, aku sayang kamu." Sri tanpa malu dan sungkan mencium bibir Fatio sekilas di depan masyarakat.


" Jiwa jomblo gue terkapar tak berdaya." Gumam Rizal.


" Iya kali kita kalah sama yang jauh senior." Timpal Ubay.


" Jodoh, dimana dikau...." Pekik Haikal.


Disisi lain, Mumtaz menepuk-nepuk bahu Radit," sabar, Allah maha tahu siapa yang pantas buat Kak Ala, jadi jangan berkecil hati."


" Ck, Lo ngehibur gue atau ngehina gue." Dumel Radit.


" Lo ngerasanya?"


" Ngehina."

__ADS_1


" Pesan tersampaikan." Mumtaz segera berlalu dari sisi Radit, namun Radit sempat menendang bokong Mumtaz.


__ADS_2