Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
bab 32. bersama aku itu jawabannya


__ADS_3

kelas 12 berkumpul di aula untuk mendengar hasil UN.


kepala sekolah beserta dewan guru sudah berdiri sigap di hadapan mereka


" assalamualaikum Wr.Wb. hari ini akan diumumkan siapa yang lulus dan tidak lulus pada ujian nasional kemarin. berdasarkan surat keputusan kepsek/BB/un/no 35/2021 dengan ini menyatakan kelas 12 angkatan ke18 dinyatakan LULUS SEMUA."


"yess."


"Alhamdulillah."


" terima kasih ya Allah."


seketika aula riuh dengan pekikan kegembiraan siswa-siswi kelas 12.


" gue senang lulus, tapi kenapa gue sedih banget ya!" ujar Gadis teman sekelas Mumtaz.


" kenapa? gak mau pisah gue ya Lo" modus Rio


" gas Yo, sampe detik terakhir putih abu-abu." ledek Haikal.


" Lo ganggu gue anjir." kesal Rio


" daripada ganggu gue, gue liat gebetan Lo Lina lagi di deketin Juno tuh." lanjut Rio


" serius Lo. anjir lah gak seru si juno itu." Haikal pergi mencari gebetan 3 tahunnya


" Mumtaz," panggil Bella sewaktu melihat Mumtaz dan para sohibnya meninggalkan aula.


" ada apa?"


" untuk promnight nanti mau gak kamu pergi bareng aku. please untuk kenangan terakhir di SMA kita." mohon Bella.


para sohib Mumtaz diam-diam cemas Mumtaz menerima ajakan Bella. mereka menarik Mumtaz berusaha mengajak pergi dari situasi ini.


Bella yang menyadari itu memegang tangan Mumtaz erat.


tidak suka tindakan keduanya Mumtaz melepas diri dari mereka


" sorry gue pergi bareng yang lain."


" gak bisa bareng gue? demi masa lalu kita." bujuk Bella


" dengar Bella, bicara masa lalu, berapa kali Lo dibilangin jangan usik gue. apa yang Lo lakuin benar-benar udah ganggu gue. Lo udah dengerkan apa kata kakak gue, sebaiknya Lo lakukan!!!" Mumtaz meninggalkan Bella terus keluar aula.


para sohib Mumtaz meleletkan lidah mengejek


WLLEKKK!!!


setelah bosen riuh di aula kini mereka lanjut ke lapangan utama saling Corat-coret seragam, saling tertawa, mengejek, menangis dan berpelukan layaknya Teletubbies. ditonton para adik kelas.


mereka yang punya pacar, gebetan adik kelas menangis sedih tak bisa bertemu, gak ada gombalan , rayuan receh disekolah lagi


" huaaaa hahaha. A Mumuy lulus adek sedih." Tia mendramatisir.


" kenapa Lo yang kejer. si Lia yang pacarnya aja santai." cemooh Giselle teman sekelasnya


" hooh Lo kan masih ketemu di rumah." heran Dista.


" Aa..." teriak Tia memanggil Aa Mumuy menarik Sisilia dan Cassy menghampiri mereka yang lewat koridor kelasnya


" mau kemana?" tanya Tia.


" mau ke kantin beb. mau ikut?" Daniel yang menjawab.


" boleh bang?"


" boleh lah buat neng mah. kuy." Daniel menarik lengan Tia. Dista yang melihatnya merengut.


" si Tia ege. ada si Dista genit sama kak Daniel." ucap Cassy.


" dia kan absen waktu malaikat ngebagi kepekaan waktu diciptain." ledek Sisilia.


Mumtaz yang berjalan di belakang mereka berdua tertawa pelan.


Sisilia menoleh ke belakang " kak Mumtaz ke promnight sama siapa? tanya Sisilia.


" kenapa? Lo khawatir kak Mumuy pergi sama si Bella ya..cie yang udah baper." Cassy mengompori.


" apa sih. gue disuruh tanya sama si Tia. biar dia ngelabrak si Bella lagi." alibi Sisilia malu.


" cih pake alasan Tia. gak jaman malu-malu meong." decak Cassy


" eh ngaca ya Bu.. nah itu kak Bara" sembari menunjuk ke belakang. bohong Sisilia, Cassy yang tetap berjalan menghadap depan sontak berlari tak tahu di bohongi Sisilia


" haha.haha... huuu sok ngeledek. sendirinya ciut." tawa Sisilia berhenti ketika menyadari tatapan intens kak Mumtaz.


menyadari sendirian aja ditinggal para sohibnya Sisilia bergegas berlari, namun dicegah Mumtaz yang berdiri tepat di depan Sisilia.


tersenyum geli melihat raut malu Sisilia


" cantik... kamu kalo tertawa manis."


terpana akan ucapan kak Mumtaz Sisilia mematung. Mumtaz mengusak sayang rambut sisilia. dilanjut menarik tangan Sisilia ke kantin.


kantin


formasi lengkap tiga bersaudara dengan para sohibnya saling tertawa dan meledek seperti biasa


" kak kok bajunya belum ada coretan." tanya Dista ke kak Daniel yang duduk di depannya


" kamu mau coretin?"


" boleh?"


" ni." Daniel menyerahkan pelek


" aku coret di punggung ya." Dista semangat beranjak menyebrangi meja kantin


" depan aja." tolak Daniel


Daniel berdiri menatap Dista yang gugup di depannya.


" di sini nyoretnya." Daniel menarik tangan Dista ke dadanya


" jangan lihat." manja Dista


" kenapa?" tanya pelan Daniel.


" ih nurut aja sih."


" kan nanti juga aku lihat."


" ya lihatnya nanti aja."


sedikit menekuk lutut dengan serius Dista mencoret sesuatu agak lama.


" kamu lagi gak curhat kan. lama amat." protes Daniel.


" ya enggak lah. cuma lagi bikin karangan." jengah Dista


Daniel terkekeh mengusap lembut rambut Dista


*****


Rumah Sakit Atma Madina


Ruang Inap Heru.


Edel memperhatikan Heru yang sedang berberes perlengkapan pribadinya. semula Edel ingin membantu, namun ditolak Heru.


Edel duduk di pinggir ranjang Heru. Heru mendekatinya menggendong tubuh Edel dan mendudukan di tengah ranjang Heru

__ADS_1


" harus keluar sekarang? ini mukanya masih lebam Lo." Edel mengusap wajah Heru pelan


" udah sembuh. ini bekasnya doang." Heru mengambil tangan Edel dan mengecupnya


" kamu masih lama di sini?" Heru mengambil duduk di kursi samping ranjang menghadap Edel


" sebenarnya udah boleh pulang, tapi papa larang karena badan aku masih lemes. gimana gak lemes kalo tiap hari aku muntah mulu."


curhat Edel.


" maaf ya. baby jangan bikin bunda sakit ya." Heru mengusap perut Edel


" kata dokter itu normal untuk trisemester pertama. jadi panggilannya bunda?"


" ooh. iya bunda-ayah suka gak?" harap Heru.


" terserah aja sih. asal jangan dipanggil Tante aja." Sungut Edel.


Heru terkekeh


BRAK!!!


" ya ampun Del, ngapain kamu di sini? semua orang panik nyariin kamu." sewot kak Hito memasuki kamar.


pandangannya mengarah ke Heru.


" ngapain Lo di sini.?" emosi Hito


" Kakak yang apain kak Heru sampe masuk rumah sakit." galak Edel


" dia gak mau tanggung jawab dan ninggalin kamu demi cewek lain, menurut kamu apa yang pantas dia dapatin selain hajaran!?" ketus Hito.


" ya... itu kan yang semula Edel pikir, tapi ternyata bukan gitu." cicit Edel menunduk.


menghela nafas gusar " kalo ada yang mau dijelaskan kembali ke kamar. semua orang udah nungguin." Hito memindahkan Edel ke kursi rodanya


" termasuk nenek?"


Hito menggeleng " enggak. nenek lagi gak enak badan. kayaknya waktu ngeroyok si cacing itu nenek ngeluarin semua tenaganya, jadi kecapekan."


Heru mengernyit bingung " nanti aku jelasin." ujar Edel tanpa suara.


Ruang Inap Eidelweis


karena merasa ketakutan berlebihan tanpa sadar Edel menggenggam erat tangan Heru sejak di depan pintu ruangannya


kak Damar yang menyadari genggaman tangan itu paham siapa lelaki yang merusak adiknya, tanpa aba-aba langsung memukul Heru diiringi teriakan Edel, mbak Nadya, mbak Julia, dan mama.


kak Hito dan kak Damian memaksa sekuat tenaga memisahkan kak Damar dari Heru


Heru mencoba berdiri, setelah menyeimbangkan tubuhnya Heru akhirnya mampu berdiri, tapi tak lama tubuhnya terjengkang kembali akibat pukulan keras papa


" papa..." jerit tangis Edel


butuh dua puluh menit melakukan pertolongan pertama untuk Heru.


Edel terus menangis, meminta maaf kepada Heru, meski Heru terus bilang tidak apa-apa.


" jelaskan kenapa merusak Edel?" tanya tajam papa


Heru terduduk simpuh dilantai membungkuk setengah badan tanda penyesalan


" maaf telah mengecewakan om, Tante dan keluarga besar Hartadraja. saya memang tidak tahu diri. maaf!!" lirih Heru.


" bisa kamu Carikan kami pemuda yang mau menikahi Edel?" Heru menengadah panik, Edel menggeleng


" maaf kalau dirasa saya lancang, tapi ijinkan saya bertanggung jawab, saya ingin menikahinya. bayi ini adalah anak kami." mohon Heru.


" tapi bukankah kamu tidak mau bertanggung jawab dan sudah punya perempuan lain?" tuding papa


dengan segera Heru mengggelengkan kepala cepat. " jika berkenan saya ingin menjelaskan semuanya."


" tentunya kamu tidak membocorkan rahasia perusahaan kan?" selidik kak Damar


" tentu tidak." tegas Heru.


" apakah kamu serius akan menikahi edel?"


" jika kalian merestui kami, saya akan langsung mengurus semuanya."


" tapi Edel yang gak mau." ucap Edel mengagetkan keluarganya dan juga Heru


" kenapa? kalian saling suka kan?" tanya kak Damar.


" pernikahan tidak hanya butuh cinta, tapi kepercayaan dan keterbukaan, kak Heru gak punya keduanya untuk aku. jadi aku gak mau nikah."


" Edel ini bukan waktunya kamu bersikap egois, anak kamu butuh ayah." papa memijat-mijat keningnya


" tapi pa..."


" kamu mau anak kamu di sebut anak haram?" telak kak Damar.


Edel tertegun, dia melupakan hal itu. dia meragu,


" baiklah Edel akan menikah, tapi gak mau satu rumah setelahnya."


mereka semua ternganga termasuk Heru mendengar ucapan Edel


" ini apa lagi. kalo begitu apa bedanya dengan tidak menikah HAH!! jengkel Kaka Hito dengan keras kepala Edel


" gak selamanya. sampai kak Heru percaya dan terbuka sama aku aja, jadi sebelum itu kita gak tinggal bareng." tatapan Edel mengarah ke kak Heru tajam


" terserah kamu. hidup kok di perumit. yang penting cepetan nikah." jengah mama


" Edel juga mau keluar rumah sakit hari ini." rengek Edel


" enggak. badan kamu masih lemas." tolak papa


" pa. di sini sepi Edel bosen. kata dokter juga itu hal biasa." bujuk Edel menggoyangkan tangan papanya.


" ya udah terserah kamu. awas kalo di rumah kamu pingsan." papa ogah berdebat dengan Edel


*****


Gedung Hartadraja


Ruang CEO Hito Hartadraja


tok...tok...


" masuk."


masuklah Heru berjalan langsung ke meja kebesaran Hito menyerahkan surat pengunduran dirinya.


Hito membaca tulisan di luar amplop dan mengernyit kening


" setelah apa yang gue lakuin ke Edel, kalo gue tetap kerja di Hartadraja, sepertinya gue jadi orang brengsek sedunia." ucap malu Heru.


Hito berpindah duduk ke sofa dan menyuruh Heru mengikutinya.


" Edel tahu dengan keputusan Lo?"


Heru menggeleng.


jengah dengan sikap tertutup Heru, Hito mengompori


" fix sih ini pernikahan bakal dibatalin."


Heru bingung dengan perkataan Hito.


" ingat, percaya dan terbuka. Lo gak bilang dia mau resign. menurut Lo Edel berhak tahu gak?"

__ADS_1


Heru termenung, seketika panik dan takut, dia langsung menelpon Edel


" cih. bucin Lo sama adik gue yang bar-bar itu." Hito kembali duduk di kursi kebesarannya melanjutkan pekerjaannya


" ngapain Lo masih di sini?" tanya Hito heran yang menyudahi sambungan telponnya.


" Edel suruh gue tunggu di sini."


tak lama pintu dibuka keras


brak...


Edel masuk ruangan bersama Bara disusul papa, kak Damar, dan kak Damian. dengan nafas terengah-engah


Heru dan Hito kaget yang datang banyak orang


" apa maksud kamu mau resign? kamu mau ninggalin aku?" labrak Edel


" bukan begitu Del, aku..."


" tempat tinggal juga kayaknya mau pindah." potong Hito yang membaca isi amplop Heru


" fix sih ini mau lari dari kak Edel." Bara tambah memprovokasi


mata Edel membulat, tapi Heru menggeleng untuk menyanggah di bawah tatapan marah papa, kak Damar, dan kak Damian.


" aku jelasin. kamu tahu aku hidup dengan baik karena uluran tangan keluarga Hartadraja, dan sekarang aku mengecewakan mereka, hanya berhenti dan pindah yang bisa aku lakukan utnuk melepas beban berat mereka atas dosaku."


" kamu jangan pikir mengada-ada kalo memang kamu merasa malu dan menjadi beban, seharusnya kamu bantu kami meringankan beban kerja perusahaan, menjadi suami dan ayah yang baik dan setia untuk Edel." pukas kak Damar.


" apa kakak yang usir kak Heru?" tuduh Edel.


" dih enggak ya. ini tuh murni drama dia." sanggah kak Hito.


" gini aja. Heru, dengan kamu masih bekerja baik di sini, menunjukan kamu bertanggung jawab. kamu bukan beban kami."


" dengan kamu tinggal di apartemen Hito juga bukan berarti kamu tidak mandiri. itung aja itu fasilitas perusahaan." lanjut papa.


" nikmatin aja sih Ru. mertua mana yang bisa ngasih pekerjaan, tempat tinggal sekaligus anak gadisnya. nikmat mana lagi yang Lo dustakan Ru?!!" sungut Hito.


Heru menunduk


" jangan pikir kamu tidak berguna, kami yang dengan sukarela memberikannya padamu." ucap kakak Damian seakan tahu kegusaran Heru


" kalo kamu merasa terbebani dengan pemberian papa, ya sudah kita jangan menikah." tukas Edel beranjak pergi dari. ruangan


Heru menengadah ketakutan dengan secepat kilat mencegah kepergian Edel.


" enggak bisa. kamu harus nikah sama aku. aku cinta kamu."


Edel menangis " bukan Masalah cinta, tapi kalo kamu begini terus, kamu akan terus merasa sesak selama hidup bersama aku, dan pada akhirnya kita akan pisah. aku gak mau itu."


" kalo aku jadi beban kalian, aku akan pindah ke Amerika. " Edel mencoba melepas diri dari pegangan Heru


Heru memeluk erat Edel, " maaf. maafin aku. aku akan coba bersikap biasa. aku gak sanggup pisah sama kamu. maaf."


Heru mencium sayang seluruh wajah Edel. mereka hanyut dalam drama ciptaan mereka sendiri, sehingga melupakan kehadiran para lelaki Hartadraja yang menatap Heru geram. Bara menepuk jidatnya.


pletak!!!


Hito menjitak keras kepala Heru


" ikut gue!!." menarik kerah belakang kemeja Heru meninggalkan ruangannya.


*****


sore hari di rumah mama Aida


entah mengapa para sohib Mumtaz, Bara, Zayin, dan Tia beserta teman sekelas mereka memenuhi rumah Mumtaz.


" assalamualaikum." salam kak Edel yang datang bersama keluarga Hartadraja plus Heru yang terheran banyak remaja di teras rumah


" wa, alaikumsalamsalam." jawab serempak para remaja itu.


" kok rame ada apa ya? tanya Tante Dewi.


mereka berdiri bergantian bersalam cium tangan


" ini kita dengar di sini bakal ada barbequean. jadi kita join." ucap Jeno polos.


keluarga Hartadraja mengernyit miris. mereka melihat kantong bawaan mereka, dan menghela nafas


" kayaknya harus beli lagi deh ma." rutuk Edel yang diangguki mamanya.


" wah ada kak Edel. masuk kak." zayin datang dari dalam rumah. bersalam cium tangan keluarga Hartadraja.


" mau kemana Yin?" tanya Akbar melihat penampilan rapih Zayin


" ini kak mau jemput kak Ala. disuruh mama pulang. udah dapet ijin kak Bara sama kak Jimmy." Zayin memakai sepatunya.


" kakak aja yang jemput sekalian beli tambahan barbequean." kata om Hito.


" eh.. gak ngerepotin ini om." sergah Zayin tak enak hati.


" repotin aja Yin. kan calonnya. masuk yuk." ucap mama Dewi santai.


" eh iya tan. zayin mengambil bawaan di tangan Tante Dewi. "woy bawaain bawaannya. diem Bae. makan awas Lo." titah Zayin ke para remaja. bergegas mereka membantu membawa bawaan.


****


Rumah sakit Atma Madina


memasuki pelataran rumah sakit Hito sudah melihat Zahra yang berdiri di depan lobby menunggu jemputan.


tin...tin...


zahra menoleh ke arah suara. mendekat


" masuk." om Hito membuka pintu penumpang


" kok bukan Zayin?" heran Zahra. duduk di samping Hito memasang sabuk pengaman


" kenapa? gak suka dijemput aku?"


" gak gitu. kok tahu aku mau dijemput."


" tadi ketemu di rumah kamu. kita mampir dulu ke supermarket ya. kayaknya bahan barbequeannya kurang."


Zahra mendesah kasar " pasti tu anak-anak pada ngumpul lagi."


" kamu juga bukannya peringatin kak Edel. kalo bakal bengkak traktirannya." omel dadakan Zahra


" kok marah ke aku. aku aja kaget tadi. ini lebih banyak dari yang kamu itu."


" serius?" " iya. kayaknya kita bakal ngeborong."


" untung yang traktirnya konglomerat. jadi bebas." sindir Zahra.


Hito terkekeh. " udah makan?"


Zahra menggeleng " di rumah aja."


" gak. abis belanja kita makan. takutnya di rumah gak sempet. udah rame di sananya."


" kamu juga belum makan?" tanya Zahra


Hito menggeleng " ditelpon Edel suruh buru-buru ke rumah kamu, jadi gak sempet makan."


Zahra mengeluarkan kotak makan dari dalam tasnya. menyuapi Hito cemilan buah yang selalu disiapkan oleh mamanya


Hito selalu senang bersama Zahra, selalu ada kejutan dari tingkah laku Zahra seperti menyuapinya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2