Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
Bab 104. Keegoisan


__ADS_3

 Kabar pingsannya Zahra sampai juga ke telinga klan Hartadraja, Atma Madina, Pradapta, bahkan birawa. Dalam waktu singkat mereka berkumpul di ruang rawat Zahra.


Mereka berdiri memutari brankar Zahra dimana dia terbaring tak sadarkan diri.


Ceklek!!!


Mumtaz dan Ibnu dengan air muka panik menghampiri brankar.


" Prof. Bagaimana keadaan Kakak saya?" Tanya Mumtaz ditengah nafas yang masih terengah-engah.


Belum sempat Farhan menjawab pintu terbuka kembali.


Ceklek!!!


Zayin masuk dengan mengenakan seragam dinas lapangan angkatan laut sembari menggendong Adelia.


" Kali ini apa yang dilakukan Hartadraja yang buat kakak saya pingsan ?" Sarkasnya to the point.


Klan Hartadraja meringis atas pertanyaan Zayin yang menyimpan kesentimenan.


" Dari mana Lo rapih amat? Daniel mencoba menurunkan tensi ruangan.


" Bukan dari, tetapi mau. Abaikan kegantengan gue karena seragam ini."


Beberapa orang masih berani melemparinya dengan cangkang kuaci yang langsung dipelototinya.


" Jangan rusuh, ini kena Adel."  Omelnya melindungi kepala Adelia dari serangan mereka dengan tangannya.


" Prof..." Suara berat Mumtaz dapat membuat orang diam.


" Hasil pemeriksaan detak jantung yang cepat, suhu tubuh yang naik, dan juga denyut nadi, dan lainnya sebagainya disimpulkan Beliau hanya kelelahan." Mereka serempak menghela nafas lega.


" Beliau hanya butuh istirahat."


" Kenapa Kak Ala belum juga bangun?" Tanya Zayin menghampiri brankar Zahra setelah mendudukan Adelia ke atas sofa bersisian dengan krystal.


" Di UGD tadi sudah bangun, tetapi kami memberinya obat tidur."


" Kenapa kak Ala sampai kelelahan?"


" Sebenarnya sejak nyonya Sri masuk rumah sakit sampai saat ini ditambah pekerjaan dan penelitian yang sedang berlangsung beliau hampir tidak meninggalkan rumah sakit."


" Apa profesor yakin hanya kelelahan? Saya sangsi, mengingat sejak dulu rumah sakit ini memang memberinya beban kerja tinggi tidak beda jauh dengan kerja rodi, tetapi belum pernah pingsan." Tutur Zayin penuh selidik.


Farhan mengangguk," kelelahan, makan tidak teratur, asupan yang tidak sesuai kebutuhan, tekanan bathin, dan beban kerja yang tinggi membuat imun tubuhnya langsung turun, sehingga beliau pingsan."


" Apa obatnya?"


" istirahat, pola makan dijaga, dan asupannya juga. kami akan memberinya vitamin.


" Hanya itu?"


" Jauhi beliau dari hal yang membuat stres."


" Dari Hito Hartadraja dong!" Lagi, zayin bertutur sinis tentang Hartadraja.


" Dari apapun." Farhan mencoba meredam amarah para adik Zahra yang akan berakibat fatal bagi semuanya.


" Adgar, panggilkan bang Dominiaz dan bang Samudera, kita sambung pembicaraan ini di ruang tunggu." Titah Alfaska. 



Saking khawatirnya kepada Zahra, Eidelweis terpaksa meminta tolong kepada Zivara agar menunggu Dewi.



Julia dan Nadya yang biasa bergilir menjaga Nenek tidak mau mengambil resiko membiarkan nenek berdua dengan Sivia, maka dari itu untuk sementara melimpahkannya kepada Zahira, semua berdasarkan informasi dari Adgar.



Pingsannya Zahra cukup membuat nenek kena mental di tubuh tua-nya, tak nyana rasa bersalah menghinggapi hatinya. Terbayang kembali dalam memori otaknya berapa banyak hinaan yang sudah dia lontarkan, dan berapa banyak kebaikan yang sudah Zahra berikan baik pada dirinya maupun keluarganya.



" Kau yakin dia kelelahan karena mengurusi kami?" tanyanya kepada sang asisten, sang asisten mengangguk.



Refleks kedua tangan-nya menengadah pada sang khalik untuk meminta kesembuhannya, selama berdoa tanpa suara tetesan air mata semakin deras mengenai pipinya yang tak lagi kenyal.



Sivia mengamati semua gerak-gerik nenek, hanya satu kesimpulan yang ia dapatkan nenek peduli pada Zahra. Helaan nafas berat ia hembuskan kala menyadari itu.



" Dr. Zahira, bisa saya berbicara berdua dengan Sivia?" Pinta nenek dengan suara seraknya.



Sivia melirik Zahira yang ternyata sedang memandanginya seakan menilai.



" Maaf, Nek, saya tidak bisa meninggalkan anda berdua dengan nona Sivia."



" Kenapa?"



" Demi keamanan Anda." Jawabnya cepat.



Nenek tersenyum maklum, " Sivia bukan orang berbahaya bagi saya."



" Itu tidak mengubah fakta bahwa dia seorang Gaunzaga, pihak dibalik penyerangan terhadap tuan Hito dan nyonya Dewi."



Nenek tertegun, otak tuanya melupakan fakta itu. Sivia di tempat duduknya bergerak tak nyaman.



" Baiklah, kalau begitu anda bisa ke ruang tunggu, ada asisten saya yang akan menemani saya, karena apa yang ingin saya bicarakan merupakan hal *privat*."



Zahira mengangguk, ia beranjak ke ruang tunggu dengan sengaja pintu antar ruang tidak ditutup rapat. Dia tidak mau mengambil resiko berurusan dengan Zahra atas keselamatan nenek.



" Via, menurutmu berapa presentase kamu bisa kembali lagi kepada Hito?" Nenek membuka pembicaraan.



Sivia melangkah mendekati ranjang, meski tetap berjarak, dia tahu Zahira masih memantau mereka.



" Nol persen."



" Hmm,  Jadi kamu sudah menyerah tentang Hito?"



" Bukan menyerah, tapi tahu diri. Sebenarnya aku sudah tidak punya muka pada Hito, tetapi Papa yang memaksaku kembali padanya."



" Jadi kau tidak mencintai Hito lagi?"



" Kami sudah tidak saling mencintai, Nek. Lima tahun lalu saat kehancuranku, aku bisa lihat Hito tidak peduli lagi padaku."



" Ketika itu kalian sudah bertunangan, kenapa kau mengkhianatinya?"



Sivia mengembuskan nafas kasar, ia juga enggan membahas hal ini, " Hito terlalu sibuk, aku butuh seseorang yang menjadikan aku prioritasnya, tetapi Hito tidak memberi itu padaku."



" Dia sangat mencintai kamu!"



" Aku tidak butuh Cinta tanpa action. Apa nenek tahu enam bulan setelah kami bertunangan kami hanya bertemu dua kali selebihnya melalui telpon bahkan waktu itu dia menyerahkan semua urusan persiapan pernikahan padaku. Ketika ada orang yang memperhatikan ku, aku tidak bisa menghindarinya. Nenek, aku mencintai lelaki itu, dia yang aku butuhkan."

__ADS_1



Nenek menghela nafas berat," kalau begitu selama ini untuk apa kau mendekatinya?"



" Selain karena paksaan Papa, aku bisa merasakan kasih sayang keluarga dari mu, Nek."



Nenek berdecak mendengar omong kosong Sivia.



" Hinaan dan cibiran dari keluargaku terutama dari Eidelweis kau bilang kasih sayang? Wow sindiran yang sangat memuji sekali!" Skeptis nenek.



Sivia tersenyum miris menanggapi kesinisan nenek, dengan lembut ia menyelimuti nenek.



" Setidaknya di keluargamu aku dianggap ada." Ungkapan yang penuh luka.



Saat Sivia  hendak menarik tangannya dari selimut, nenek mencekal tangan sivia



" Sivia, aku membebaskan mu."



Sivia tanpa bisa menahan air mata menggelengkan kepala," tidak bisakah nenek menjadikan aku cucu mu?"



Kedua tangannya membingkai wajah sivia, nenek menggeleng," cucu ku sudah banyak."



" Tambah satu tidak akan merubah apapun, please..." 



" Tidak, karena kau cucu Guadalupe, orang yang membuat keluargaku celaka."



10 menit sudah Hito mondar-mandir gelisah didalam kamar inapnya, dia benci terhadap dirinya sendiri atas perilaku dan perkataannya pada orang yang dicintainya. 


Saat tangannya hendak memukul kepala dan menjambak rambutnya kembali seperti dua menit yang lalu dan menit-menit sebelumnya, Dominiaz memperingatinya.


" To, sekali lagi Lo angkat tangan Lo buat mukul itu kepala, gue  borgol kedua tangan lo di ranjang dan gue buang kuncinya." peringat Dominiaz yang kesal terus mengingatkan Hito.


Ia menurunkan tangannya, ia tertunduk sendu melihat kotak cincin yang dilempar Zahra. Lagi, ia mengusap matanya menggali bulir bening yang keluar dari sarangnya.


Setiap mengingat kejadian tadi air matanya pasti keluar sampai matanya perih karena sering diusap guna menepis air yang terus keluar seperti air zam-zam.


" To, Lo kalau memang khawatir, sambangi ruangannya." Jengkel Erwin yang sudah bosan melihat sahabatnya bolak-balik seperti setrikaan.


" Iya. dia masuk, perban cuma di kepala, keluar nanti, perban di seluruh tubuhnya, hahahaha." Ledeknya Dominiaz memanasi.


Hito mendelik sinis padanya, yang direspon Dominiaz dengan decakan sebal.


" Itu mata Lo kenapa sama gue, belum apa-apa tatapan Lo kayak gue terecyduk jadi pebinor aja." Tutur Dominiaz yang sejak ucapan Heru tatapan Hito seakan ingin menguliti tubuhnya.


" Ini peringatan buat lo, jadi, jangan pernah berpikir nikung gue."


" Dih siapa yang nikung. Gue anti tikang-tikung ya, wong Zahra-nya aja single."


" Heh, itu lambe." Hito melempar bantal yang tergeletak di kaki brankarnya.


" Gue tahu otak Lo lagi cedera, makanya gue sabar. Tapi gue pengen ingetin Lo, Zahra sudah melempar cincin lamaran Lo, so, its means kalian udah putus. Dia single, jadi gue bebas dong deketin dia, ada cewek berkualitas premium istriable  of course gue tidak bisa melewatinya."


Tangan Hito yang mengepal kotak cincin itu semakin memperkuat kepalannya.


" Bisa tidak Lo sedikit menghibur gue?" 


" Bisa, gue pending pdkt-in dia." Erwin dan Samudera tergelak seketika, Hito menggeram bagai singa yang siap menerkam Dominiaz saat ini juga.


Sengiran Dominiaz melebar, ia senang Hito banyak ekspresi setelah sekian purnama minim ekspresi karena persoalan asmaranya dengan sang nenek.


Ceklek!!!


" Bagiamana dengan om?" Hito menanyakan dirinya sendiri.


" Enggak, HE`H." Dengkus Adgar menutup pintu.


" He`h." Hito membalas dengan dengkusan juga.


Dominiaz berdiri, " Sorry, man. Gue harus pergi, Mumtaz sepertinya merestui gue." Provokasinya dengan tersenyum smirk... Samudera dan Erwin hanya bisa menggelengkan kepala, mereka bisa merasakan aura persaingan kembali diantara keduanya seperti sewaktu masa SMA dulu.


****


Mutia mengendarai mobilnya dengan mengebut tanpa mempedulikan pengguna jalan lain yang terganggu karena ulahnya.


Begitu sampai di gedung Wibowo ia memparkir kendaraannya dengan sembarang, dengan raut wajah marah dia mengambil langkah besar ke ruang kerja ayahnya, begitu melihat satpam ia melempar kunci mobil padanya agar mobilnya diparkirkan oleh satpam tersebut seperti biasanya.


Brak!!!


" Dad, bisakah kau meminta paman Gama agar memecat dokter Zahra?" Pintanya dengan lancang masuk ruang kerja ayahnya tanpa permisi.


Arya terlonjak dari berkas yang sedang dia baca begitu anak bungsunya dengan tidak sopan menerobos ruang kerjanya.


" Mutia, Daddy pikir Daddy sudah mengajarimu sopan santun." Tegur ayahnya, Mutia hanya memutar bola matanya malas.


" Dad, saat ini bukan itu yang penting."


" Lantas apa?"


" Aku ingin kau memecat seseorang dokter di ruang sakit itu."


" Itu bukan rumah sakitku, jadi Daddy tidak punya kewenangan."


Seketika bola mata Mutia berputar, " Daddy bisa minta tolong paman Gama."


Arya menatap putrinya seksama, dia merasa ada yang salah dengan didikannya.


" Kamu melakukan kesalahan apa kali ini?"


Mutia membuang muka, dari pandangan ayahnya.


" Mutia,...." Panggilnya halus namun tegas.


" Muti tidak punya salah apa-apa, dia yang salah berani bentak muti. Dia pikir dia siapa?"


" Siapa namanya?"


Mutia langsung sumringah," dokter Aulia Zahratul Kamilah, pastikan Daddy memecatnya saat itu juga."


Mendengar nama itu Arya mematung, dia ragu bisa memecat dokter itu.



Cassandra menatap perihatin Tia, dia tahu sahabatnya itu mencemaskan kakaknya.



" Ya, Lo ke sana saja, gue tidak apa-apa."



Tia yang sibuk dengan pikirannya terjaget begitu mendengar perkataan Cassandra.



" Hah? Apa?" Gelagapnya.



" Terlepas sikap Lo yang belakangan ini menyebalkan gue tahu Lo mencemaskan kak Ala. Pergilah, gue tidak apa-apa sendiri, toh ada pengawal di depan."ujar Casandra paham.



Tia menggelengkan kepala lemah," gue tidak punya muka untuk berhadapan dengan kakak, gue tahu sikap gue buruk, tetapi kalian tidak memahami kenapa gue berubah."



" Ya, gue tidak mau adu bacot sama Lo tentang sikap Lo, itu terserah lo. Udah banyak mulut yang udah menasihati Lo, tetapi tidak Lo gubris. Jadi gue tidak berminat melakukannya, yang ingin gue ingatkan hanya satu itu bukan didikan mama Aida." Cassandra menatap tegas, tetapi penuh kekecewaan pada Tia yang terhenyak.



Tubuh Tia menegang, tangannya yang sedari tadi dipilin-pilin kini menyatu dalam satu genggaman erat.


__ADS_1


" Cass..." Lirihnya,



" Ya, manusia, jasadnya boleh terkubur, tetapi nilai-nilainya tak patut dilupakan itulah makna mencintai keluarga. Lo anak psikologi, Lo yang paham harus bagaimana. Hentikan kekeras kepalaan lo sebelum Lo kehilangan kak Afa."



Tia tertawa miris, tetapi tersirat jelasan kekhawatiran akan hal itu," hahaha, masalah ini tidak seberat itu kok sampai gue harus kehilangan Aa Afa." Mesti mengelak, air mata yang turun tak bisa membohongi isi hatinya.



Cassandra tak menimpalinya, karena air matanya yang tak bisa berhenti, Tia beranjak meninggalkan ruangan," gue ke toilet dulu, udah kebelet."



Cassandra menghela nafas berat," di sini ada toilet, Ya." Lirihnya sedih.



Setelah mendengar diagnosa Zahra kini merek memenuhi ruang tunggu.


Bara membuka obrolan mereka." Muy, sebelum pingsan Kak Ala mengizinkan agar RaHasiYa tetap terlibat dalam kasus ini, dengan syarat om Hito tidak terlibat dan mengetahui apapun jalannya kasus ini, dan kalian tahu mengapa."


" Kak ala yang sudah banyak pikiran lo tambah membebaninya dengan masalah ini?" Mumtaz heran mengapa mereka begitu egois.


Menyadari ucapan dingin Mumtaz, Bara sadar Mumtaz salah paham.


" Bu...bukan begitu maksud gue?"


" Pantas saja kak Ala pingsan, tidak cukupkah Abang membebaninya untuk urusan rumah sakit saja?" sarkas Zayin begitu tidak menyukai keegoisan kaum konglomerat.


" Zayin, saya yakin Bara tidak bermaksud menambah beban Zahra." Imbuh Aznan.


" Kenapa Lo gak ngomong langsung sama gue? Malah ngomong sama Kak Ala!"


" Lo lagi marah, gue pikir Lo bakal tarik diri dari kasus ini."


" Tetap saja tidak patut melibatkan kak Ala dalam kasus ini. Kalau sudah begini siap yang susah, HAH!" Bentak Mumtaz jengkel, masa bodo dengan kesopanan.


" Bisakah kalian berhenti egois dengan menghalalkan segala cara untuk mewujudkan keinginan kalian?"


" Mumtaz,... sorry gue panik, gue blank." bela Bara


" Itu bukan alasan untuk melibatkan kak Ala dalam kasus ini?"


" Muy,..." Alfaska langsung terdiam begitu melihat tatapan asing di mata sahabatnya, Alfaska menghela nafas berat. Setelah apa yang terjadi pada hidupnya, dia tak ingin mengorbankan persahabatan dan persaudaraan mereka hanya untuk kasus ini.


" Lain kali apapun itu jika berurusan dengan gue langsung bicara pada gue, jangan tarik kak Ala untuk sesuatu yang kak Ala tidak pahami."


 Bara mengangguk, " sorry..."


" Gue tidak pernah berpikir menghentikan kasus Cassandra, atau kasus lainnya yang melibatkan Gonzalez." Ungkap Mumtaz tenang.


Semua orang tertegak, Mumtaz menatap mereka satu persatu,


" Meskipun kalian menganggap kami asing dan hanya kenalan kalian, tapi bagi kami Cassandra sudah kami anggap keluarga seperti halnya Tia, tapi dengan syarat..." Mereka seketika tegang.


Kali ini tatapan Mumtaz terfokus pada Adgar, " Keluarkan kak Ala dari jajaran direksi Hartadraja corp."


Adgar menggeleng," sorry bukan ingin mengabaikan permintaan Lo Bang, tetapi gue butuh Kak Zahra untuk mengimbangi visi misi gue."


Mumtaz memejamkan mata, menghembuskan nafasnya perlahan, menahan emosi pada keegoisan klan Hartadraja, dia terkekeh mencemooh," Dari segitu banyaknya wanita Hartadraja, dan Lo nunjuk Kak Ala? memajukan perusahaan Hartadraja adalah tugas mereka, bukan Kak Ala!! Sindirnya tenang tetapi menyimpan amarah.


" Gue sudah baca ulang surat MOU kompensasi tabrakan itu, dan gue bisa menuntut kalian baik secara perdata maupun pidana." Kini matanya menatap tajam klan Hartadraja yang sedang bingung.


Ia mengambil amplop hitam dari tas ranselnya,lalu meletakkannya ke atas meja.


" Di sana tertulis jika saham yang dimaksud adalah saham dari perusahaan media televisi kalian, bukan saham Hartadraja corp, dan itu pun kita bersifat pasif, jika kalian berkeberatan kami di posisi pasif, maka saya selaku kepala keluarga akan mengembalikan kompensasi tersebut."


" Mumtaz, jangan buat Hito merasa bersalah dengan menolak kompensasi ini." Ujar Damar hati-hati.


" Sampai akhir kalian egois, yang kalian pikirkan hanya diri kalian, saya menolak keluarga saya dijadikan objek keegoisan kalian." Mumtaz beranjak menuju ruang inap Zahra.


" Mumtaz..." Akbar berdiri,


" Jangan khawatir, RaHasiYa tetap terlibat dalam kasus ini." Ucapan yang penuh sindiran nan tajam.


Adgar duduk bersimpuh," Bang, gue sebagai CEO akan membebaskan kak Ala dari Hartadraja corp atau manapun bukan sebab Cassandra atau lainnya, karena gue peduli kak Ala. Gue tidak mau kehilangan kalian!"  Lirihnya ditengah Isak tangisnya.


Mumtaz tak merespon tindakan Adgar, ia melanjutkan langkahnya ke brankar dimana Zahra tertidur.


Zayin menghela nafas lelah, " bangun Lo." Menendang-nendang pelan Adgar.


Adgar mendelik," apa sih Lo, sana pergi."


" Si pea, ditolong malah be.go, jangan lupa ye gue adiknya kak Ala. Apa gue musti bujuk Aa Mumuy buat beneran narik diri dari kasus ini!?" Gertaknya.


" Ish iya, iya. Baperan Lo kayak bumil mau lahiran." Gerutunya berdiri.


" Kuy, makan di cafe. Lo yang bayar." Zayin merangkul Adgar yang menepisnya keras. zayin jengkel sok jual mahal Adgar.


" Okey, gue balik ke Aa Mumuy." Zayin berpura-pura putar badan yang langsung ditarik Adgar dan membawa tangan Zayin merangkul pundaknya meski terpaksa. Melangkah bersama meninggalkan ruang inap Zahra.


" Saya pikir tidak ada Maslah dalam menyelesaikan kasus ini." Ucap Alfaska.


" Yakin?" Damar masih sangsi.


" Yakin. dalam keluarga mereka, meski karakternya absurd Zayin punya posisi sama kuat dengan Mumtaz dalam mengambil keputusan." Tukas Daniel berdiri.


" Bagaiman dengan kamu, Ibnu?" Tanya Damian yang mengamati Ibnu sejak ia terlibat dengan RaHasiYa. sosok satu ini begitu pendiam dibanding yang lain, tetapi Damian yakin posisinya sama kuat dengan yang lain.


" Saya?" Tanya Ibnu bingung menunjuk dirinya sendiri.


" Iya, kamu."


" Saya sih, yes aja kalau yang lain yes."


" Tidak keberatan sama sekali?"


" Apa saya harus menikahi Cassy untuk membuktikan saya ikhlas?"


" IBNU..."


" ABANG INU."


Bentak Ayunda dan Bara berbarengan. berhasil membuat yang lain terlonjak kaget.


" Gak ada ya,om Damian. Abang Inu cuma milik aku. Ayunda Birawa!" Ucap tegas nan imut dari Ayunda mengandung keposesifan akut.


Ibnu tertunduk malu, sedangkan yang lain hanya melongo terlebih ayah Teddy.


*****


Terbakarnya mansion Gonzalez membuat klan Gonzalez mengungsi ke panthouse Raul, yang membuat Sivia males untuk pulang, Sivia memasuki panthouse dengan roman sedih, langkahnya lesu, dia terlonjak kaget ketika mendengar suara benda pecah.


Matanya membeliak melihat Tamara yang sedang dijambak dan dipukuli oleh Guadalupe sedemikian beringas.


Wajah dan tangan Tamara penuh dengan bekas cakaran dan lebam, rambutnya sudah  berhamburan keatas bagai disasak model singa, pakaian mini nya telah robek yang memperlihatkan pakaian dalamnya.


Tiga pria Gonzalez yang menontonnya hanya duduk santai tanpa berniat menolong malah terkesan menikmati tontonannya meski Tamara sudah sekian kalinya melolong meminta pertolongan.


Menggunakan bahasa Inggris Guadalupe mengamuk pada Tamara yang dia pikir telah menipunya.


" Kau bilang Cassandra tidak dijaga, maka dengan mudah kita menculiknya, tapi apa? Gara-gara idemu itu kami kehilangan pamor."


" Ne...nek, maafkan aku!! Aku..sungguh tidak tahu jika dia dikawal."


" Berhenti memanggilku nenek, kau bukan cucuku, na.jis saya punya cucu ja.lang sepertimu." Guadalupe menen.dang perut Tamara hingga tersungkur untuk kesekian kalinya.


Tamara memegangi perutnya yang sudah kesakitan parah, dia yakin segala organ dalam perutnya sudah hancur karena sakit yang teramat sangat.


" Seharusnya kau cukup diam dan menikmati menjadi ja.lang jaha.nam untuk putraku, kau cukup lebarkan selang.kanganmu, *****!!" Gudalupe Meluda.hi wajah Tamara kemudian berlalu meninggalkan Tamara yang meringis sekarat.


Dia tak habis pikir bagaimana bisa tiga pria tersebut tidak bergeming melihat penyiksaan ini tanpa niatan ingin menghentikannya.


Dia pikir Rudi Aloya, dan Bram Brotosedjo yang paling jahat, dan licik, tetapi ternyata salah. Mereka bukan apa-apa dibanding Gonzalez.


" Kenapa kalian tidak menghentikan Nenek?" Sivia meringis ngilu melihat penampilan Tamara, wajah cantik hasil operasi plastiknya rusak tak berbentuk.


" Untuk apa? Ini bagus untuk pelajaran baginya yang mencoba pansos pada kita." Jawab Raul.


" Lagi pula ini menyenangkan, sudah lama aku tidak melihat amukan nenek setelah meracuni pelayan pribadinya yang berselingkuh dengan Kakek." tutur Rodrigo.


Sivia menggelengkan kepala," Pa, dia pela.curmu, apa kau masih bisa bernafsu padanya dengan rupa tidak berbentuk begitu?"


Eric tersenyum smirk," kenapa tidak? Papa hanya butuh lobang diantara selang.kangannya bukan wajahnya."


" Seriusly? Ini menjijikan, lihat cairan yang keluar dari payu.da.ranya?"


Eric beranjak mendekati Tamara yang sedang meringkuk," perlu bukti?"


Eric menjambak rambut Tamara," ini peringatan bagimu untuk tidak berlaku bodoh." Ucapnya sebelum menyeret Tamara sepanjang jalan melintasi ruangan menuju kamar tidurnya.


Sivia diam ketakutan, tubuhnya gemetar, dan itu terlihat oleh Raul dan juga Rodrigo yang menatapnya penuh penilaian...


***Yuk jangan jadi readers pasif, klik like dan komen, ditambah vote itu lebih baik. apresiasi karya penulis dengan itu aja kok.

__ADS_1


Terima kasih masih baca novel ini***.


__ADS_2