
Dibawah jembatan dengan sungai berair deras bercuaca cukup dingin untuk ukuran Jakarta beberapa pria bertemu dalam dua kubu di posisi berlawanan.
" Ini..." Timothy memberikan flashdisk pada Yuda.
Mata Timothy melirik orang sekitaran Yuda, " kerja kalian bagus, saya yakin kalian sudah tahu akun yang menyimpan video Mumtaz.
" Saya bekerja sama dengan kalian bisa dibilang mengamankan diri, dari RaHasiYa." Tawa Timothy ironis.
" Tetapi lebih dari itu, saya ingin pak Andre lengser dari kedudukannya, bagaimanapun saya mencintai lembaga ini, oknum sepertinya harus segera hilang."
" Berarti Abang tahu, kalau kita tidak butuh bantuan Abang." Ucap Dewa telak.
Timothy mengangguk-angguk." Saya tahu, tapi saya harap kalian tidak buang waktu percuma. Di sana semua rekam jejak kecurangan Andre terjawab. Terserah kalian bagaimana menggunakannya."
" Jangan dengarkan dia, dia dalam fase PMS, sejak kemarin belum tidur." ucap Yuda.
Timothy terkekeh," santai, saya paham. Kalau begitu saya pergi. Rencananya hari ini atasan saya akan menyebarkan video itu dan lainnya ke media."
" Terima kasih." Mereka membubarkan diri
*****
"TIMOTHY..." Teriak Andre.
Pria bernametag Timothy berlari menghadap atasannya dengan nafas tersengal." Siap."
" Bagaimana untuk hari ini?"
" Siap, semuanya siap dilakukan, menunggu perintah."
" Kalau begitu lakukan, tiap dua jam sekali. Saya ingin RaHasiYa rusak, sehancur-hancurnya."
" Siap, laksanakan!" Timothy bergegas keluar.
Ketika sedikit jauh dari ruangan itu, dia menelpon seseorang di sana.
" Kamu dengar apa yang pak Andra katakan, kan? Apa yang harus saya lakukan?"
" Lakukan apa yang dia mau."
" Itu akan merugikan anda, jika sesuai rencana besok anda akan ditahan, untuk waktu dan tempat saya informasikan nanti setelah ada kepastian."
" Its okay, makin cepat, makin baik."
" Saya tutup."
Klik...
Timothy menyela nafas kasar, dia sungguh muak dengan apa yang terjadi. Cita-citanya menjadi polisi adalah untuk mengabdi pada negara, tidak untuk menjadi jongos begini.
Setelah berulangkali menghela nafas, dia mendorong pintu ruangan cyber crime.
" Lakukan apa yang sudah direncanakan, mulai m." Perintahnya pada anak buahnya.
Dengan tidak semangat mereka melakukannya, dalam hati mereka hanya berharap hukum ditegakkan secara adil, meski mendadak!!
Di ruangannya Andre memijit-mijit pelipisnya, ia baru tidur 30 menitan sebelum Frederico membangunkannya, untuk segera melakukan pembalasan terhadap RaHasiYa.
****
Plak...plak...
Ini tamparan yang kesekian kalinya yang diterima Devi dari Daud, dia menelpon Daud berharap kekasihnya itu memberinya tempat persembunyian selama skandal s3xnya viral, tetapi kekerasan yang dia dapatkan.
" Setelah kamu membuatku bangkrut, sekarang kamu mau buat saya malu! Reynan pasti sedang menertawai saya karena sikap p3l@curmu itu." Bentak Daud.
" Mas, saya lakukan untuk kamu, Andre punya jabatan tinggi, dengan kedudukannya dia bisa menghancurkan RaHasiYa."
" Dan lihat hasilnya? Apa mesti kamu tidur dengannya? Saya sekarang ragu jika Monika dan Jessica adalah anak saya, karena kamu dicelup sana-sini oleh siapa saja, sial, kenapa saya harus terjebak dengan wanita svnd@l macam kamu?"
" MAS,...Kita sudah tes DNA, dan mereka anak kamu." Teriak balik Devi, dia sangat frustasi.
Sejak skandalnya meluas berbagai pesan hinaan, pelecehan. dia terima. Dia sangat berharap Daud menghiburnya.
" B0doh, 1diot. Jangan hubungi saya, saya mungkin bangkrut, tetapi nama Wibisono pantang disandingkan dengan pelacur macam kamu."
Brak...
Daud meninggalkan kamar hotel itu dengan Devi terduduk lemah di lantai sambil menangis
" Hiks....hiks..mas, apapun aku lakukan untuk kamu. Aku bersumpah!!"Lirihnya memegang dada yang sesak atas penghinaan dari Daud.
*****
Dominiaz, dan Gama sedang berkumpul di ruang kerja Mumtaz mendengarkan rekaman Mateo dan Alfred, sementara Mumtaz sedang mandi di ruang pribadinya.
" Mum, apa Rodrigo sudah mengetahui hal ini?" Tanya Dominiaz saat Mumtaz Kembali bergabung dengan mereka.
" Sudah, kalau Abang bekerjasama dengan mereka melalui tuan Riina, ini akan bagus dimata dunia kemafiaan."
" Tanpa mereka, kakek masih bisa mengatasi Navarro." Dengkus Dominiaz.
" Tapi ini jalan mulus melebarkan sayap bisnis ke Amerika sana." Usul Gama.
" Aku sambungkan kalian dengan Rodrigo." Mumtaz menghubungkan ruang kerjanya dengan penthouse Raul.
" Selamat pagi." Sapa Rodrigo.
Di seberang sana terdapat juga Alejandro dan Raul.
" Saya tidak akan berbasa-basi, bagaimana kalau kita kolab melenyapkan Valentino." ucap Dominiaz
" Kalian pasti tahu, kalau kami bisa melakukannya sendiri."
" Maaf, tuan. Jangan tersinggung, faktanya Navarro sudah bekerja sama dengan pemerintah kalian dalam pertahanan. Dia menggunakan status mantan pasukan khususnya untuk melobi pejabat kalian." Ucap Mumtaz.
" Anda, bisa mencegahnya." Timpal Rodrigo, Mumtaz menggeleng.
" Kami tidak tertarik mencampuri urusan dalam negeri orang."
" Kalian membantu pemerintah kami." Sindir Rodrigo.
" Dengan syarat tidak mengusik kartel Sinolan Jaquino."
" Karena Eric?"
" Iya, tepat alasan itu sudah tidak ada, sepertinya pemerintah kalian tergiur akan janji Navarro yang akan berinvestasi jutaan peso."
" Ayolah, Rodrigo. Saya jamin kau dapat untung." Bujuk Dominiaz.
Dominiaz menghela nafasnya gusar." Tuan Gurman, anda pernah bekerjasama dengan kakek saya, apa pernah beliau mengkhianati anda?"
Alejandro menggeleng." Tidak pernah."
" Kalian pasti paham moto mafia, hmm? Kita tidak akan mengampuni seorang pengkianat."
" Akan kami rundingkan." tukas Rodrigo.
Mendengar ucapan Rodrigo, Dominiaz tersenyum lebar." Kalau begitu saya akan buat draft kesepakatannya,kami mengundang kalian ke Sisilia."
" Pastinya ada perempuan sexy, hmm?" Celetuk Raul.
" Tinggal tunjuk."
" Adios." Rodrigo menutup sambungan sebelum dua playboy tersebut semakin ngawur.
" Ck, tidak asik. Gini nih kalau kita bekerjasama dengan orang macam patung, kaku abis."
Ceklek...
Dominiaz, Gama dan Mumtaz segera memberesi semua kertas, laptop saat elena dan Sisilia memasuki ruangan.
" Well, well,...Look Lia, mereka merapihkan peralatan mereka begitu kita masuk, berarti mereka sedang membicarakan apa yang mereka sebut "men bisnis'. kalau bukan karena adanya Mumtaz mommy curiga kalian sedang membicarakan wanita gemoy dan bahenol, tapi karena ada calon mantu, mommy gak bisa nething terhadap kalian." Ucap elena panjang lebar.
Dominiaz merotasikan bola matanya malas, Gama hanya terkekeh geli sambil mencium pipi istrinya yang dilanjut giliran Sisilia begitu juga dengan Dominiaz.
" Pagi, mom. Tumben mommy kemari?"
" Daddy, kamu pergi tanpa sarapan, kamu tidak pulang sedari dinihari tadi, begitu juga Sisilia ditambah berita yang menimpa Sandra, jadi mommy simpulkan kalian di sini. Mommy bawa sarapan buat kalian."
" Thank, mom." Ucap Dominiaz.
Kini pandangan dan sikap Elena terfokus pada Mumtaz, yang duduk di sofa single di smaping sofa yang didudukinya. Dia raih tangannya dalam genggaman hangat seorang ibu yang sangat dirindukan oleh Mumtaz.
Refleks Mumtaz membalas genggaman tangan itu erat, seperti terhipnotis oleh kerinduan di alam bawah dasarnya ia mengencupinya berulangkali secara ta'dzim, tanpa sadar bulir bening merayapi kedua pipinya dengan deras.
Elena mengusap kepala Mumtaz dengan lembut, dengan raut sendu.
__ADS_1
" Mumtaz, mommy sudah dengar dari Sisilia tentang kamu dan sahabat kamu." Elena enggan meyebut nama Alfaska, takut menyinggung perasaan calon mantunya.
"Mommy bisa merasakan kekecewaan kamu, tapi jangan berlarut. Jangan sampai penyesalan menghampirimu.
Ini bukan tentang Alfa, karena kekalutannya hingga salah ucap, atau kamu yang kecewa padanya, tetapi tentang kalian.
Alfa terlalu bergantung padamu, saat ini dia lah yang paling merasa kecewa terhadap dirinya sendiri dibanding kamu, dia baru kehilangan ibu yang meski tidak memiliki hubungan baik, tapi kematiannya dapat melahirkan rongga kosong dalam jiwanya, benci pada diri sendiri dan kesepian cukup menjadi modal untuk menghabisi akal sehat, yang berujung bunuh diri. Kau pasti tahu berapa kali dia pernah mencoba melakukan itu, Apa kamu sudah siap kehilangan dia?"
Kata-kata terakhir Elena menghentakan sanubari Mumtaz pada hal yang sangat mengerikan yang tidak dia sadari.
Ia tegakkan kepalanya, menatap dalam Elena Ia raup rambutnya dalam satu jambakan keras, air matanya semakin deras tanpa bisa dibendung.
Suara isakan dari ruangan hening itu bagai musik kesedihan, tidak tega melihat kekasihnya bersedih lagi, Sisilia memeluk Mumtaz yang langsung dibalas olehnya dengan pelukan erat.
Ia menangis kencang meluapkan emosi yang sudah banyak dia tahan seiring semakin eratnya pelukan itu, hingga Sisilia meringis kesakitan.
Elena beranjak mendekati Mumtaz, mengelus sayang rambut hitam legam itu.
" Dalam hubungan kalian, sudah ada RaHasiYa yang sudah punya nama dan kredibilitas yang tidak bisa kalian abaikan.
Sebagai keturunan mafia, insting mommy mengatakan ini yang diinginkan mereka, para musuh kalian. Kalian terpecah-belah, mereka yang menang. Kita tidak bisa membiarkan itu terjadi, kamu sudah sejauh ini, Mum."
Selama beberapa menit, tidak ada yang bicara, Mumtaz menyerapi elusan lembut di kepalanya dan pelukan hangat dari sang kekasih. Andai ini mimpi, ia sungguh enggan ingin bangun. Ini terlalu nyaman baginya, ini yang selama ini dia inginkan semenjak ibunya pergi.
Merasakan pelukan sang kekasih melemah, Sisilia menangkup wajah Mumtaz, dan menyeka air matanya lembut.
" Sejak malam Tia menangis, dia bingung harus bagaimana meski Ayin Sudah memberinya lampu hijau untuk menemani kak Afa, tapi dia belum bisa. Sorot kecewa kakak yang menghalanginya menemani suaminya." Ucap Sisilia lembut.
Mumtaz yang menengadah, untuk pertamakalinya melihat wajah lelah kekasihnya, ia tersenyum kecil.
" Apa yang kamu ingin aku lakukan?"
" Aku?" Mumtaz mengangguk manja.
" Kamu kan keturunan mafia, kalau diposisi ini apa yang kamu lakukan?" Tersirat canda ledekan dari ucapannya.
Sisilia berdecak sebal," ingat film god father, perlakuan temanmu seperti saudara, dekati musuhmu, seperti teman."
" Menurutmu, kak Afa teman tau musuh. Aku gak paham, karena aku bukan keturunan mafia."
Menyadari kekasihnya sedang mengerjainya, Sisilia mendorong Mumtaz yang tangannya langsung Mumtaz tarik, lalu memeluk pinggangnya. Ia terkekeh pelan, gemas melihat kekesalan kekasih cantiknya ini.
" Tahu ah, meski aku keturunan mafia, tapi aku kan orang baik. Meski kamu bukan keturunan mafia, tapi kamu kan yang mukul perempuan tanpa ampun.
Semuanya ternganga kaget mendapati Sisilia tahu apa yang dilakukan Mumtaz, terkhusus Dominiaz dan Mumtaz.
" Apa? Kenapa? Kalian kaget aku tahu dari mana? Memang cuma kalian yang bisa melakukan intrik spy? Aku juga bisa." Sewot Sisilia.
" Kakek dan paman fillipo yang ngajarin untuk selalu mewaspadai keadaan."
Dominiaz tertawa puas karena senang, meski tersimpan rasa geli di dalamnya, ia bertepuk tangan keras.
" Memang kamu keturunan Riyna Gaunzaga." Yang lain terkekeh saja.
" paling Nando, mata-matanya." Celtik Mumtaz.
Kini mata Sisilia yang melebar," kok tahu? Ups." Ia menutup mulutnya.
Sontak tawa mengelegar seisi ruangan.
" Sayang, meski aku tidak segagah Bara, tidak seangkuh Alfaska, tidak semodis Daniel. Tetapi aku masih petinggi RaHasiYa, setiap hal yang terjadi dengan anak RaHasiYa tidak lepas dari pengetahuan kami."
" Tahu ah, lepasss." Sisilia berupaya rengkuhan pelukan Mumtaz di pinggangnya, namun di halau olehnya.
" Tidak akan pernah melepaskan kamu."
" Tadinya aku mau membanggakan diri, tapi belum apa-apa kamu sudah pendem aku ke tanah lapis ketujuh." Sisilia hendak menjauh yang langsung dicegah Mumtaz.
Mumtaz terkekeh." Maaf, kamu masih bisa kok nyombongin diri di depan para sahabat kamu, para perempuan lain kecuali Tante Julia, karena beliau punya om Damian, atau di depan Adelia dan Crystal."
" Ck, terus aja ngeledek."
" Mana ada aku ngeledek, tugas itu bang Domin kerjaannya. Sini duduk."
Mumtaz mendudukan Sisilia di lengan Sofanya, menarik tangan Elena dari kepalanya, lalu menciumnya, ia menengadah ke belakang menghadap Elena.
" Terima kasih sudah mengingatkan, Tan. Dukungan Tante, aku butuhkan."
" Senang mendengarnya." Elena mencim puncak kepala Mumtaz, sebelum mendekati sofa suaminya.
Sepeninggal mereka, Sisilia beranjak ke sofa samping, membuka rantang" Yuk, makan dulu."
" Nanti, aku ke Kak Afa dulu.
Sisilia beranjak menahan pundak Mumtaz yang hendak berdiri.
" Makan, kamu dari kemarin belum makan. Lihat, mata panda ini, tubuh kamu juga sudah kelelahan. Kalau enggan tidur, minimal makan." Tekan Sisilia.
" Tapi,.."
" Mommy sudah bicara dengan Tia dan yang lain terkait Kak Afa, mereka selalu bersamanya. Makan!"
Ceklek....
Yuda, Rio, Dewa, Dimas. menatap mereka berdua dengan canggung.
" Sorry, tapi ini urgent." Ucap Yuda.
" Masuk."
" Sisilia?" Mata Mereka melirik pada Sisilia.
" Gak apa-apa."
" Oh." Mereka pun memasuki ruangan, dan mereka cukup kaget melihat Sisilia menyuapi Mumtaz.
Menyadari tatapan para abangnya, Sisilai pun menawari mereka." Kalian mau disuapi juga?"
Mata Mumtaz langsung menajam, mereka refleks menggeleng demi nyawa mereka.
" Ada apa?" Tanya Mumtaz setelah mereka duduk di sofa.
" Di luar, tengah heboh mengenai Lo yang mencekik Sandra, berita tabrakan ini dipolitisir sebagai pembalasan Lo pada Tante Sandra. Masyarakat sedang marah sama Lo." Terang Yuda.
Mereka mengernyit bingung akan respon santai Mumtaz.
" Ada dimana berita itu?"
" Kecuali Gata tv, dan Branz tv, semua saluran tv ramai memberitakannya, belum lagi sosial media." Timpal Dewa.
" Dan Lo tidak melakukan apapun? Apa ini karena bukan Alfaska Atau Daniel, atau Bara yang diberitakan?" Sindir Mumtaz sinis.
Mereka terkejut akan ketersinggungan yang terpendam itu.
" Bang, Lo tahu gue bertahan di sini karena Lo, bukan karena mereka. Tadi kita bertemu dengan bang Timothy, gue akan bertindak kalau Lo sudah perintahkan. Apapun itu gue lakukan." Ucap tegas Dewa yang diangguki oleh Dimas.
" Kalau begitu lakukan, apapun itu. Balas mereka sesuai keinginan Lo."
" Siap." Dewa dan Dimas keluar menyisakan Yuda.
" Lo gak menahan diri?"
" Untuk apa? Terlalu lama dia menikmati kursi kebesarannya.
" Yo, kirim satu lagi video Andre dengan perempuan lain ke istri dan anaknya, dan kirim rekaman aliran dana pencucian uang dia ke mertuanya, sang jendr@l itu."
" Siap." Rio langsung sibuk dibalik meja kerja Mumtaz, dengan dua komputer yang sudah menyala menampilkan ruang kerja Andre.
" Kenapa orang bodoh macam dia menduduki jabatan tinggi lembaga negara." Gumamnya retoris.
Ceklek...
Ibnu, Daniel, Bara, Akbar, dan Alfaska memasuki ruangan diikuti Radit yang terlihat kuyu.
Mata mereka melirik Rio yang tengah sibuk, Ibnu menatapnya dengan sendu. Rio yang merasakan itu tidak enak hati.
Dia paham kesedihan Ibnu, biasanya posisinya saat ini dihuni oleh Ibnu. Ingin dia mengembalikan posisi ini, tapi dia tidak punya daya untuk melakukan itu.
" Muy, Lo sudah tahu apa yang terjadi?" Tanya Bara.
" Yuda baru ngomong." Jawabnya santai matanya menatap manik sedih Alfaska.
" Zayin di sekolah ngamuk, dan mencekik Jessica hingga pingsan karena menertawai video Lo. Sampai sekarang dia ditangan Zayin, dijaga genk BIBA." Informasi Akbar.
" Tante Julia diam saja?" Kaget Yuda.
" Beliau Bahkan memasang headset saat Mela melaporkannya."
__ADS_1
" Anak sekolah juga tidak akan ada yang berani bocor, mereka tidak mau berurusan dengan Andros dan kawan-kawannya yang bagi mereka adalah pelindung." Lanjut Akbar.
" Bagaimana keadaan Lo?" Tanya Daniel.
" Biasa saja, Lia ngasih gue makan."
" Para kakak juga mau disuapi?" Tawar Sisilia mencoba mencairkan suasana tegang.
" Boleh, tapi jangan pake sambel." Ucap Bara bersikap santai seperti tidak ada masalah, karena dia memang tidak ingin bermasalah dengan Mumtaz.
" Ih gak mau kalau kak Bara mah, nanti diganyang Cassy. Aku telpon dia dulu."
" Suapi kak Ibnu aja, dia jomblo sadboy." Ucap Mumtaz yang mengagetkan Ibnu.
" Sip."
saking terharu, Ibnu menubruk Mumtaz hingga terjatuh ke sandaran sofa.
" Maaf, maafin gue.gue gak bakal maksa Lo buat baikan sama mereka. Maafin gue yang gak bisa memahami perasaan lo. Lo benci mereka, tapi jangan gue, hiks...hiks. gue dan Dafi yatim piatu, kami cuma punya Lo." Isaknya bak anak kecil.
Sisilia menganga saking terkejutnya.
" Nu, bangun. Daripada lo memalukan diri sendiri mending Lo bantuin Rio, keahlian dia belum semahir Lo." Candanya, menepuk-nepuk punggung Ibnu kesal.
" Gitu ya,...baikan sama yang lama, yang baru dibuang." Ucap Rio dengan gemulai.
Sisilia semakin syok," seriously, ini para kakaknya yang terkenal cool, dan jadi rebutan para wanita?" Bathinnya.
" Kak Inu, jangan lama-lama. Lia aja belum pernah pelukan selama dan seintim itu, bangun gak." Sisilia menimpuk sendok ke kepala Ibnu yang meringis.
" Sakit, Sil."
" Siapa suruh meluk kak Mumuy."
" Ya Allah, aku lho yang meluk bukan cewek lain." Gerutu Ibnu menjauh dari sahabatnya.
" Gak bakal terjadi, sebelum dia peluk, dia bakal nyicipin sentuhan ala mafia dari aku."
" Senang deh diposesifin sama kamu." Mumtaz menarik Sisilia ke pelukannya.
" Muy, Lo bisa sesantai ini?" Diluaran sana Lo sedang dicaci maki netizen lho." Ucap Akbar.
" Gak apa-apa, buat narik dosa gue yang numpuk, selama kalian percayai gue, gue gak peduli sama yang lain.
" Aaa.., so sweet." teriak Cassandra dari ambang pintu bersama Dista dan Tia.
" Kak Bara sekali-kali romantis gitu napa? Jangan galak mulu." Bara mendengkus geli ucapan kekasihnya.
" Jangan banyak omel, suapi para lelaki kalian sekalian kak Yuda, kak Radit, kak Rio dan kak Ibnu yang jombolawan Sejati." Omel Sisilia.
" Cih, emak-emak marah." Cibir Dista.
Tia menatap Mumtaz meminta izin yang diangguki oleh kakaknya. Tia bukannya menghampiri Alfaska, dia malah menyingkirkan Ibnu untuk memeluk Mumtaz.
" Makasih, terima kasih." Isaknya dalam ceruk leher kakaknya.
" Bahagia selalu, hmm." Tia mengangguk. Alfaska tertegun melihat itu, dia menunduk merasa bersalah belum bisa memberikan kebahagiaan pada istrinya ini.
" Maaf, bukan maksud mengganggu tali kasih keluarga, tapi Jessica sedang digantung terbalik di atas rooftop oleh Zayin." Casandra menyodorkan VC dari Adgar.
" Bang, ini gimana? Gue gak berani mencegah, si Bayu sama si William diam aja." Malah sibuk dengan tabs mereka masing-masing." Tutur Adgar diseberang panggilan.
" Ya Lo tonton aja, kalau gak berani " ucap Bara masa bodo.
" Si Mela mau lapor polisi."
" Ya Lo ambil hpnya, dodol." Gemas Akbar.
Adgar memperlihatkan ponsel berwarna pink di tangannya.
" Masalahnya, si Ayu, Caitlyn, Dilla dan yang lain lagi ngeroyok dia."
" Tante Julia mana?"
" Ck, jangan tanya soal Mama. Beliau sedang menikmati lagu klasik di ruang kerjanya." Decak Adgar.
" Ini sekolah kenapa lama-lama berasa arena gulat ya." Adgar memijit pelipisnya kesal.
Mendengar hanya tertawa puas menikmati kekesalan Adgar.
" Muy, rumah sakit dikepung para wartawan." Yuda memperlihatkan pesan dari anak RaHasiYa lainnya.
" Tugas Lo lah yang hadapi mereka, Lo asisten gue bukan? Makan gaji buta lho."
Karena jengkel, Yuda melempar bantal sofa yang tepat mengenai Sisilia.
" Aws, sakit." Dramatisir Sisilia memegang perutnya.
Mumtaz menatap tajam Yuda yang langsung beranjak ke pintu.
" Ayo Lo kak, tanggung jawab." Seloroh Dista.
" Koit sudah, koit." Timpal Rio terkekeh.
" Kalau gue udah siapin wasit udah." Celetuk Ibnu yang duduk di samping Rio.
" Diem Lo pada." Sembur Yuda sembari membuka pintu.
" Bos, gue briefing dulu sama yang lain menghadapi wartawan."
Faktanya Bayu, dan William sedang sibuk menunggui Ayunda dan kawan-kawan yang menguasai ruang kerja staf sekolah bagai per@mpok.
" Berani Lo mau lapor polisi, sekalian aja gue laporin kelakuan Lo." Ucap Ayunda menoyor-toyor kepala Mela dengan telunjuknya.
Kondisi Mela sangat memprihatinkan dengan wajah lebam karena tamparan dan pukulan dari Ayunda, dan pakaian basah karena siraman minuman dari para temannya.
Di rooftop Zayin menggantung terbalik Jessica, kedua kakinya terikat dipagar bagian luar rooftop ditengah tontonan para siswa-siswi yang menyukainya.
Setelah Jessica tersadar dari pingsannya, Zayin langsung menarik kerahnya ke atas rooftop diikuti Nando dan Andromeda.
" Kirim gambarnya pada ibunya." Titahnya pada Nando.
" Be..baskan aku...maaf...kapok..." Potong kata dari Jessica yang terdengar menyebalkan di telinga Zayin.
" Bang, lihat ini." Nando menyodorkan ponselnya pada Zayin.
" Mereka menyebut bang Mumtaz sebagai kepala begal sadis."
" Siapa mereka itu?"
" Bang Dewa menutup akun itu."
" Berarti mereka sengaja membiarkan ini tersiarkan." renung Zayin.
" Lo sudah ada perintah dari A mumuy?" Nando menggeleng.
" Kalau begitu Lo fokus ke ni orang J3l3k dulu."...
__ADS_1