Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
bab 79. Berakhir...


__ADS_3

" Om, apa ini benar?" Zahra menyodorkan tab milik Mumtaz pada Heru.


Tadi, selepas shalat tahajud Mumtaz meminta berbicara dengannya di ruang tamu yang ternyata sudah ada Tia, Alfaska, dan  juga Zayin.


Mumtaz mengatakan hari ini akan diadakan RUPS luar biasa terkait pergantian Hito sebagai CEO karena Hito telah mengeluarkan diri dari keanggotaan keluarga Hartadraja.


Zahra yang memiliki saham 15% wajib menghadiri rapat tersebut.


Heru memandangi raut tegang Zahra, dengan menyesal mengangguk membenarkan isi dari tab tersebut.


Zahra tersentak kaget, dadanya bergemuruh naik-turun, dia limbung, manik matanya beroyang tak pasti karena bingung.


" Antarkan aku ke tempat Hito!"


" Zahra,...".


" Antarkan aku ke tempatnya." Jerit Zahra tak sabar.


Heru menyanggupinya, dia bersama Mumtaz, Zayin, dan Eidelweis ke apartemen Hito.


Ting!!! Tong!!!!


Zahra langsung menerobos masuk begitu pintu dibuka oleh sang penghuni diikuti yang lainnya, dia menarik tangan Hito yang terkejut akan kedatangan banyak orang menjelang fajar ini 


" Jelaskan padaku kenapa kamu lakukan semua ini? Jika itu untuk ku batalkan. Aku tidak merasa tersanjung akan hal itu."   Ujar skeptis Zahra tajam.


Hito mengambil tabs yang di pegang Zahra, menghembuskan nafas kasar.


Hito memejamkan matanya sejenak, menenangkan diri, " untukku, aku melakukannya untukku,  tapi tak dipungkiri termasuk kamu. Aku tidak bisa kehilangan kamu, aku akan lakukan apapun resikonya jika itu untuk mendapatkan kamu." Tekadnya


" Nenekmu akan bertambah membenciku!"


" Nenek tidak menyukai siapapun selain dirinya sendiri."


" Kenapa kamu mempersulit aku." Lirihnya, menjatuhkan diri ke atas sofa panjang yang berada di ruang tamu.


Hito berjongkok di hadapan Zahra dengan menumpu satu kakinya dengan tumitnya.


" Maaf, aku gak bermaksud demikian. Aku  benar-benar gak bisa kehilangan kamu."


Zahra mengangkat kepalanya menatap langsung iris hitam Hito.


" Tapi aku sudah enggan bersamamu, aku kecewa padamu, dan aku mengecewakan keluargaku. Bagaimanapun, dari awal kita tidak baik-baik saja" lirih Zahra mencoba memberi pengertian.


Hito mengalihkan tatapannya pada kedua adik Zahra yang duduk di sofa, dan lengan sofa, memohon dukungan dari mereka.


" Selama om bisa membahagiakan kakak, aku menerimanya." Ucap Mumtaz.


" Yang gak baik dari Hartadraja hanya nenek, sejak aku tahu nenek juga tidak menyukai Adel aku sudah tidak menganggap penting beliau, jadi berbahagia lah kalian." Imbuh Zayin, yang sudah berselonjoran di atas permadani lembut Hito.


Eidelweis menatap haru Zayin yang selalu memikirkan, dan mendukung putri semata wayangnya.


Zahra memejamkan matanya sejenak, " aku sudah lelah, aku merasa hubungan ini berjalan di tempat, tidak bermasa depan baik, Kita berjalan sendiri-sendiri. Jadi sebaiknya kita berpi..."


" Beristirahatlah, mulai saat ini dan seterusnya biar aku yang mendekatimu. Tapi ku mohon jangan menolakku." Sela Hito tak ingin mendengar kelanjutan dari ucapan Zahra.


Tiba-tiba Zahra teringat sesuatu,


" Apa ini yang kamu maksud sedang melakukan sesuatu untuk melawan nenek?"


Hito mengangguk," iya, nenek terus mengatur kehidupan keluargaku, aku muak dengan itu."


" Jadi bukan karena aku seluruhnya kan?" Tanya Zahra memastikan.


Hito menggelengkan kepala," Bukan, kamu hanya motivasi terbesar aku."


" Terus, rapat ini gimana?"


" Ya,...kita tinggal hadiri rapat itu, dan menyetujui hasilnya."


" Bagaimana dengan om, dan Tante?"


" Aku melakukan ini setelah mereka mengijinkannya, mereka hanya ingin kebahagiaan aku, dan itu kamu."


" Bagaimana dengan kamu? kamu bakal dipecat, kamu bakal miskin. Aku gak mau punya pacar miskin." Ketus Zahra.


 Hito menjitak pelan kening Zahra, " Aku baik-baik saja, aku punya bisnis aku sendiri kamu, aku masih bisa mentraktir kamu makan. Meski sudah bukan bagian dari Hartadraja corp aku masih mapan."


"  Ini semua salah aku, seharusnya kita enggak memulai hubungan ini, kita gak bisa egois, Hartadraja corp butuh kamu." Ucap Zahra keras kepala ia menunduk penuh penyesalan.


" Jangan mulai, kita udah sejauh ini. Kamu sekarang cukup diam di tempat, biar aku yang bergerak." ucap Hito pelan namun penuh tegas.


" Terserahlah, aku hanya memperingatkan mu, aku udah gak ingin dikecewakan lagi."


" Gak akan, dalam hubungan ini kamu hanya cukup dengerin aku, jangan yang lain."


" Termasuk aku?" Tanya Zayin sedikit protes.


" Emang kamu mau ngomong apa?" Tanya balik Hito was-was, pasalnya calon adik ipar satu ini agak mengkhawatirkan.


Hening sesaat


" Fighting... Lawan nenek keriput itu!" Seru Zayin mengangkat, dan mengepalkan kedua tangannya.


Helaan nafas lega jelas terdengar dari Hito, dia mengulum senyum mendengar itu.


*******


Rapat dimulai pukul sepuluh, tetapi pukul delapan Zahra sudah duduk serius di ruangan Mumtaz di gedung Hartadraja guna mempelajari materi rapat yang didapatnya dari Yuda, dan Heru.


Zayin memaksa diri untuk ikut sebagai pengawal Zahra, dia tidak percaya Sri tidak berulah.


" Kenapa kandidatnya hanya dua? Ayah dan anak lagi." Ujar Zahra heran.


" Julia dan Eidelweis perempuan, dan mereka tidak terlalu tertarik pada Hartadraja corp. Adgar masih terlalu liar untuk duduk di kursi yang membosankan itu, Cassandra apalagi dia sampai nulis hitam di atas putih tidak mau jadi CEO kalau dipaksa bakal kabur, Krystal masih bayi." Terang Heru.


" Adelia?" tanya Zahra.


Heru mencoba menyembunyikan luka tak kasatnya," dicoret dengan alasan diproduksi di luar nikah." Lirih Heru penuh sesal dan kesal.


Zahra, dan saudaranya tertegun.


" Apa-apaan itu, ini pasti ulah si nenek keriput itu!" Amarah Zayin.


Zahra mengusap tangan Zayin, "tenang."


" Berapa saham nenek Sri?"


" Terakhir tersisa 15%, beliau menjual beberapa sahamnya sebagai pertanggungjawaban terhadap Husain, Mumtaz kok yang beli."


" Berapa saham yang harus dimiliki sebagai calon kandidat?"


" 10% baik punya sendiri maupun gabungan dengan kolega."


" Baik lah, terima kasih."


Tok!!!tok!!!!


"Maaf mengganggu, kak. om Damar pingsan." Ucap Adgar dengan wajah paniknya.


*****


Agenda rapat terus berlanjut setelah Damar siuman, dia diperkenankan menghadiri rapat setelah Zahra memastikan Damar tidak akan melakukan apapun.


Seluruh klan Hartadraja menghadiri rapat termasuk si balita kristal dan Adelia, karena mereka memiliki saham di Hartadraja corp.


Dalam keluarga Hartadraja begitu bayi lahir, maka dia berhak atas saham Hartadraja corp sebayak lima persen,menakjub bukan.


Setelah perdebatan panjang antar pemegang saham, Akbar lebih unggul dibanding Damar, beberapa orang belum memberikan suaranya.


Zahra mengangkat tangan," suara saya, saya berikan kepada Adgar." Semua pasang mata menatapnya bingung, termasuk Adgar sendiri.


" Heh, lihat, inilah akibatnya jika saham dipegang oleh orang awam bisnis, yang menjadi kandidat siapa yang dipilih siapa, situ waras?" Hina frontal nenek.


Ucapan kasar nenek lebih membuat peserta rapat terkejut.


Dengan tenang Zahra berucap," heh, itulah akibatnya jika yang punya saham sudah memiliki otak karatan, hingga pikirannya tidak lagi cerdik." Balas Zahra menatap langsung netra nenek.


" Kita lihat saja pertumbuhan perusahaan yang dipimpin oleh Adgar memiliki stabilitas yang kokoh dibanding Akbar dalam rentang waktu yang sama, ditambah dengan kecerdikannya melebarkan sayap pada bidang teknologi yang selama ini belum dilakukan oleh siapapun, meski belum ada hasil menjanjikan, tetapi berprospek baik." Seru Zahra.


" Akbar memang lebih unggul, tetapi dia terlalu dini untuk menjadi seorang CEO, hingga jika dituai sekarang Akbar hanya akan stuck di sini tidak tumbuh lebih lagi, hal ini karena Akbar terlalu serius memegang amanah posisinya."


" Itu lebih bagus dia bisa langsung mempraktekkan apa yang sudah dia pelajari." Keukeuh nenek


" Kalian pasti tahu buah yang dipetik belum saatnya akan terasa asam, walau akhirnya kita akan menyimpan buah tersebut dahulu, tapi karena terlanjur dicabut dari pohonnya hasilnya tidak akan semanis seperti matang dipohon." Zahra menatap satu persatu peserta rapat.

__ADS_1


" Jadi mari kita tumbalkan Adgar dengan segala keliarannya guna mengecoh lawan. Dibawah kepemimpinan Adgar saya yakin Hartadraja corp akan melakukan inovasi-inovasi menakjubkan, sehingga lawan tertinggal jauh. Itu jika kalian ingin mengembalikan Hartadraja pada posisi aman di top 5." Sarkas Zahra.


" Kok gue ngerasa dihina ketimbang disanjung ya." Gumam Adgar, Cassandra terkikik geli.


Mereka terdiam masih mempelajari opini Zahra.


" Baiklah saatnya kita melakukan voting." Seru Heru.


Hasil dari rapat itu tanpa diduga diputuskan Adgarlah yang menjadi CEO Hartadraja corp.


Bahu Adgar seketika lesu, dia menatap Akbar memohon untuk menggantikannya, Akbar mengedikan bahu cuek.


Nenek Sri naik pitam dirinya dikalahkan oleh anak newbie di dunia bisnis.


Di ruang rapat saat ini hanya tinggal keluarga, dan kolega terdekat, jadi mereka bersikap santai kecuali nenek.


Matanya menatap tajam penuh permusuhan dan kebencian pada Zahra.


" Kau, berhentilah merecoki Hartadraja, jika Hartadraja mengalami kerugian kau yang harus bertanggung jawab." Tantag nenek.


" Baik, dan kau berhentilah bersikap arogan, jika Hartadraja mengalami keuntungan besar kau serahkan saham mu padaku, dan berhenti merecoki keluarga mu."Tantang balik Zahra.


keluarga Hartadraja sungguh tak habis pikir dengan keberanian Zahra.


" Kau pikir kau siapa lancang mengaturku?"


" Kau pikir kau siapa selalu menghinaku?"


" Aku seorang Hartadraja."


" Dan aku seorang Romli." Peringat Zahra.


Paman Haidar mengijinkan para keponakannya untuk menggunakan nama keluarga dalam kehidupan mereka.


" Heh, lihat orang kayak baru, bersikap norak hanya karena saham 15%, dan itu salahmu Hito."


" Dan lihatlah orang kaya gagal, sepanjang hidup menjadi seorang Hartadraja tetapi ternyata hanya memiliki saham 15%, dan itu menyia-nyiakan hidupmu sama sekali."


Nenek melotot tak percaya gadis muda di depannya ini berani melawan setiap katanya.


" Well,...well.... bagaimana rasanya memiliki saham 15%, dan dapat duduk bersama Hartadraja?" Sarkas nenek.


Zahra tersenyum smirk," justru saya yang ingin menanyakan hal itu padamu bagaimana rasanya memiliki saham yang sama, dan duduk satu meja dengan orang-orang yang kau sebut rendahan, murahan, Tak tahu malu, pelacur, dan matre?" Skeptisnya, Sorot mata Zahra penuh tantangan, dan siap menghabisi.


" KAU,..." Sri sampai berdiri sambil menunjuk Zahra saking kesalnya.


Zahra berdiri " Jangan pernah menggangguku lagi dengan cara murahan seperti ini." Zahra melempar banyak selebaran foto yang dia keluarkan dari amplop coklat.


Hito, dan yang lain mengambil lembaran-lembaran foto yang berserakan acak di atas meja dan lantai.


Ia terkaget begitupun dengan yang lain, dan matanya terus melihat dan mengamati foto-foto tersebut. Ia menatap Zahra penuh sesal.


Ekspresi Zahra begitu datar, dia melangkah mendekati nenek," dari pada kau habiskan waktumu menguntit dua sejoli itu, lebih baik kau perhatikan suamimu jika kau tak ingin kehilangannya dalam waktu dekat karena serangan jantung. Saya beritahukan padamu, saya tidak peduli cucumu menikahi Husain atau tidak." Peringat Zahra.


Hito memejam mata menahan emosi, dia meremas foto-foto yang berada dalam genggamannya, begitu menyakitkan mendengar perkataan Zahra yang sarat akan penolakan atas dirinya.


Zahra melangkah pergi meninggalkan ruangan dengan memaksa Fatio dan Damar ikut bersamanya.


Nenek tersentak, mengalihkan tatapannya pada Fatio yang berjalan dipapah Zahra.


" Hartadraja stabil karena aku berhenti menghancurkan kalian atas titah kak Ala, seharusnya kau berterima kasih padanya." Seru Mumtaz menatap langsung nenek, beranjak pergi.


Saat membuka pintu," pastikan ini terakhir kali hinaanmu pada kami, karena mulai saat ini setiap hinaan yang kau lontarkan akan ku balas langsung." keringatnya.


" Jika kau menghancurkan Hartadraja corp, kau sendiri akan rugi, kau memiliki saham yang terbilang banyak di sini." Ucap nenek mengejek.


" Hehe, aku hanya rugi finansial yang masih terhitung sedikit, kau masih memegang kartu kredit hitamku bukan? Tapi kau kehilangan segalanya!" Mumtaz mengingatkan.


" Jangan ingkari janjimu pada kakakku, Hartadraja corp maju, kau lepas sahammu atau ku hancurkan Hartadraja dalam sekejap. Ingat. Birawa, dan Atma Madina di belakangku!" Mumtaz meninggalkan ruangan.


" Sebagai CEO, pertama yang akan ku lakukan adalah mengeluarkanmu dari jajaran petinggi Hartadraja corp, nek. Maafkan aku, tapi aku tak butuh orang yang akan mempersulit kinerja perusahaan." Seru Adgar santai, nenek melotot padanya.


" Kau berani melakukan itu?"


" Kenapa tidak, ini demi kesejahteraan bersama, kecuali nebuy bertindak rasional dan bijaksana untuk perusahaan." Adgar menegakkan duduknya


" Ingat Mumtaz sekarang memiliki lebih dari 20% saham perusahaan ditambah kak Zahra 15%, Birawa 10%, Atma Madina 15%,dan ia seorang petinggi RaHasiYa jika mereka menarik saham dari kita, seperti ucapannya, hancur lebur sudah nasib Hartadraja."


" Mulai saat ini aku tidak akan mentolerir segala bentuk tindakan yang merugikan perusahaan, ini peringatan bagi semuanya." tekan Adgar pada seluruh keluarganya


Tepuk tangan membahana dari semua keluarga kecuali nenek.


" Saya siap mendukung bapak Adgar demi kesejahteraan bersama, pilih no 1, Adgar Hartadraja." Seru Cassandra ngasal, Adgar mendengus sebal pada kakaknya.


" Dukung Adgar," teriak Eidelweis.


" Idup Aa Adal." Begitupun Krystal dan Adelia berteriak.


Adgar tersenyum gemas menatap krystal, dan mendapat dengusan dari Cassandra.


" Aku tidak akan membiarkan anakku bekerja sia-sia, jadi jangan pernah berulah lagi, nek." Ucap Julia sarat teguran.


Ketika yang lain heboh, Hito masih memandangi foto dirinya dengan Zivara diberbagai moment.


" Bagaimana bisa nenek melakukan hal serendah ini, saat ini tak ada orang yang paling ku benci selain kau, nek. Maafkan aku, tapi nyatanya demikian." Hito menatap nenek tajam.


Sri tersentak mendengar suara yang sarat kepedihan sekaligus kekecewaan terhadap neneknya.


*****


" Baiklah, persiapan untuk ke Eropa sudah final tinggal dimatengin aja, jaga kesehatan, kita bangkit bersama. Rapat selesai." Seru Ibrahim pada seluruh tim proyek perumahan di Eropa.


Sepulang dari Hartadraja, Mumtaz langsung menuju Alatas Architecture, dimana dia menjabat sebagai salah satu anggot tim, juga pemilik 50% saham Alatas Architecture.


" Habis ini Lo langsung ke kampus?" Tanya Fatih yang duduk di sebelahnya.


" Iya, gue numpang mandi ya."


" Mandi aja, itu udah jadi ruangan Lo kok, bang Ibra kekeuh gak mau pake ruangan utama, at least perusahaan ini kembali berjalan karena Lo."


" Apa sih, norak banget. Gue ogah pake ruangan bapak Lo, itu punyanya bang Ibra selaku anak tertua Alatas."


" Gue udah bilangin, tapi Abang gak mau."


" Ya udah gue batalin semua, gue cabut dana gue, gue tarik kesepakatan proyek ini, ingat ide rumah itu punya gue."


Fatih panik, " Mum, Lo ga bisa gitu, Lo tarik dana, dan tarik proyek Alatas koit."


" Ya udah Lo bujuk dia, gue gak mau tahu Lo pindahin barang-barang gue kembali ke ruangan semula."


" Ini ada ribut-ribut apa?" Ibrahim masuk kembali ke ruangan rapat.


" Abang, dia ngancam bakal tarik dana dan tarik proyek kalau Abang maksa dia pake ruangan utama perusahaan." Jelas Fatih.


" Mum,..."


" Gak mau, no debat! Gue tahu aturannya gimana, tapi gue tahu harus gimana. Bang, gue cuma nyimpen dana dan berbagi karya, tapi gue gak minat mensabotase kehormatan Alatas! karena awal gue di sini murni pengen bantu Fatih, jangan ubah keikhlasan gue dengan bisnis." Ujar Mumtaz panjang kali lebar.


Ibrahim, dan Fatih meresapi perkataan Mumtaz yang terkesan sepele, namun berarti bagi Alatas bersaudara.


Menghembuskan nafas tak nyaman Ibrahim menyetujui keinginan Mumtaz.


" Oke, tapi jangan ngancam kayak gitu lagi, cewek banget lagaknya." Dumel Ibrahim.


" Ya, Abang ngeyel banget, balikin barang-barang gue ke ruangan gue, sekalian kasih fasilitas kamar mandi komplit di ruangan itu."


" Ck, ribet Lo."


" Cih, wajarlah gue juga kan jajaran penting di Alatas ini." Mumtaz berjumawa beranjak pergi meninggalkan mereka.


******


Malam Pema terakhir berjubel pengunjung baik dari warga kampus UAM maupun kampus lain, live musik tak berhenti terus berganti.


Anak BEM sampai kewalahan memastikan keamanan dan kenyamanan pengunjung, hal ini dimanfaatkan Riana untuk selalu dekat dengan Mumtaz.


Namun perhatian Mumtaz hanya terpaku pada Sisilia.


Elena melihat itu semua, dia sungguh lebih merasa bersalah pada Mumtaz dan putrinya.


Para ibu yang dipimpin oleh Hanna seharian ini mengikuti para anak dan sahabatnya di kampus masih betah dengan pakaian menyamar mereka.


" Itu kenapa dah si Husain ngikuti si Mumtaz mulu. Gak malu banget udah bikin kasus juga." Omel Sherly.


" Hasil investigasi aku, Riana sejak Maba emang demen sama si Mumtaz, tapi gak pernah di notice sama Mumtaznya." Jelas Hanna.

__ADS_1


" Ini beneran si Daniel mau ngelamar Ita di acara Segede ini?"  Sherly memastikan.


" Katanya, tapi kita lihat aja. Tuh mereka lagi siap-siap." Tunjuk Hanna ke belakang panggung dimana sebentar lagi the aneh akan tampil.




" Oke, the aneh siap perform lima menit lagi." Seru panitia acara.



Ketika nama mereka disebut, the aneh maju ke panggung.



Halllowww,...." Sapa Alfaska semangat yang disambut riuh heboh para penonton.



" Masih inget sama kita enggak?"



" Maasssiiiiiihhhh....." Jawab penonton



" Yang belum tahu kita coba cek YouTube kalian lima atau enam tahun lalu dengan nama kunci the aneh, cafe' D'lima."



" Tahuu....."  Masih bergemuruh riuh jawab penonton.



" Thanx buat yang tahu dan inget. Kita band the aneh sekumpulan anak ganteng nan imut, namun masih tersembunyikan karena keganasan damage Bara." Seru ngasal Alfaska.



" Hahahha...."



" Alfa, aku padamu." Teriak salah satu penonton cewek.



" Hehehe, aku padamu juga,... Tia."



" Aaaa ..wwwww so sweet..." Tambah hebohlah para penonton itu.



" Oke, karena kita hanya band pembuka jadi gak boleh banyak typo sama gimmick kata panitianya." Fitnah Alfaska.



" Huuuuuu...."



"panitia iri, bilang ke nenek jembrong." Omel penonton lain.



" Kita mulai ya, tu..wa..ga..." Band the aneh mulai dengan lagu yang nge-beat.



Malam ini mereka benar-benar menonjolkan pesona Daniel sebagai yang punya hajat lamaran dengan kemeja biru navy, jas hitam, dan jeans navy.



Selesai perform lampu panggung tiba-tiba padam, para penonton berteriak panik, namun hanya untuk sesaat.



ketika lampu kembali menyala Daniel dengan tenangnya berucap.



" Untuk kamu gadis yang selama ini kucintai, ku persembahkan lagu ini untukmu." ucapnya sambil menatap Dista yang terbelalak terkejut.



Keluarlah Ed Sheeran dengan lagu perfect-nya, sepanjang nyanyian, cahaya lampu sorot menyertai saat Daniel melompat menuruni panggung melangkah menuju Dista, sampai berdiri tepat di hadapan Dista yang masih terperangah. Para penonton tak lupa mengabadikannya dengan ponsel mereka.



Lampu sorot utama panggung terus mengarah pada Daniel dan Dista.



" Ita, aku pernah menjadi orang bodoh karena menjauhimu, tapi kau tetap juga masih mencintaiku. Kita pasangan yang sering cek-cok, tapi kau masih berjalan bersamaku. Kau pernah melihat kekuranganku, tapi kau masih bersabar denganku. Aku tak butuh wanita lain, aku hanya mau kamu yang menemaniku walau di surganya Allah." Daniel menghirup oksigen yang terasa menipis.



Daniel bersimpuh dengan menekuk satu kaki," Dista Princessa Atma Madina, mari kita meraih8 surga Allah bersama dalam ibadah pernikahan denganku, maukah kau menjadi istriku, ibu dari anak-anakku, nenek dari cucu-cucuku?"



Suasana hening, para penonton tegang, Dista menutup mulutnya tak kuasa menahan tangis haru, dan bahagia. dengan tersenyum Dista menganggukan kepala.



" Iya, aku mau!" ucapnya lirih bergetar karena tangisnya, Daniel tersenyum lebar ia merengkuh tubuh Dista dan memutarnya dengan iringan kehebohan suka cita para penonton.



Setelahnya Daniel menyematkan cincin bertahtakan berlian merah muda ke jari manis Dista.



" Terima kasih sayang, aku mencintai kamu sekali!!!" Daniel mencium kedua tangan Dista yang berada dalam genggamannya dengan syahdu. tatapan mereka saling mengadu tak menghiraukan teriakan tertahan para penonton.



Setelahnya penampilan memukau dari Ed Sheeran menambah euforia kebahagian nan menakjubkan, malam itu Dista selalu dalam pelukan Daniel.



Di tempat tak jauh dari mereka Mumtaz menggapai jari-jemari Sisilia dengan menyematkan jarinya disela-sela jari Sisilia, dia tersenyum penuh rindu pada kekasihnya yang dibalas senyum resah dari bibir Sisilia.



Di tengah kehebohan penonton, dua sejoli itu berdiri bersisian tanpa kata.



Perlahan Sisilia menarik tangannya dari genggaman Mumtaz, Mumtaz mengernyit bingung, Sisilia menunduk.



Dalam isaknya Sisilia menatap Mumtaz dengan pilu, " maafkan aku, mari kita putus." lirihnya.



" Apa?" tanya Mumtaz berteriak.



" MARI KITA PUTUS!!!" ucapan itu terlontar tepat suasana hening atas instruksi Ed Sheeran yang hendak melantunkan nyanyian lagu slow.



Suara Sisilia begitu nyaring, hingga semua orang yang disekitaran mereka menoleh dengan terkejut tak ada yang bergerak diantara mereka, seketika raut mereka berubah sendu termasuk, Zahra, para sahabat, para ayah, Dominiaz, Hito, dan para ibu. kecuali Riana, dia tersenyum senang...



Mata mereka berdua saling mengadu Mumtaz menatap Sisilia dengan tatapan pahit, sedangkan Sisilia penuh derita, Mumtaz membawa Sisilia ke dalam pelukannya, mendekap penuh erat tubuh Sisilia yang bergetar menahan tangis, dan tangisan itu menjadi histeris karena perkataan mumtaz membuat semua pasang mata terheran sekaligus bingung.


__ADS_1


" Aku mencintaimu, selalu!!!" bisik Mumtaz tepat di telinga Sisilia...


__ADS_2