
Mateo memasuki kamar tidur yang mana Alfred berbaring menyedihkan, suhu tubuhnya panas karena kelelahan akibat kepindahannya. Tanpa kesulitan karena sudah menyogok perawat dan dokter jaganya mereka bisa keluar dari rumah sakit.
Kini Alfred tinggal di sebuah rumah mewah bergaya klasik hasil dari kesukesannya sebagai produsen barang haram dan ilegal di negeri ini sejak beberapa tahun lalu.
" Tuan, ada kiriman utnuk anda lewat video." Mateo
" Nyalakan."
Aah..hemmps...ssshh..." ******* di laya itu mengalihkan atensi Alfred yang sedang mengikuti berita di televisi.
Tidak berselang lama matanya membelalak saat menyadari wanita yang sedang ditind1h itu adalah cucu kesayangannya.
" Siapa yang memberikan ini padamu?" Marahnya.
" Tuan Mumtaz, tuan."
" Mumtaz, Kenap dia selalu mengusik kita? Kita sudah tidak lagi berhubungan dengan Hartadraja, Guadalupe menghilang."
" Dia dimintai bantuan oleh tuan Raul Gonzalez."
" Mengapa?"
" Beberapa tahun lalu Valentino memperkosa seorang wanita bernama Dolores Matilda, tunangan dari tuan Gonzalez muda." Mateo menatap Alfred penuh kemarahan saat mengatakan itu.
Tatapan yang luput dari pengamatan Alfred yang terkukung rasa amarahnya sendiri.
" Gaunzaga sungguh-sungguh memanfaat keadaan ini, brengsek Karen luka ini saya tidak berdaya." Geram Alfred.
" No..lepas...o...mmh...tidak..." Alfred kembali menoleh pada tabs, dia menggeram marah saat menyadari cucunya dipaksa melayani bajingan itu.
Prang...
Tabs yang dipegang kuat itu jatuh setelah memecah kaca lemari.
" Atur pertemuanku dengan Mumtaz."
" Baik, ada kabar buruk untuk anda."
" Apa yang lebih buruk dari ini?" Bentaknya.
" Gedung kita terbakar dan roboh."
Alfred tertegun sebelum dia mengumpat. " SIAPA YANG MELAKUKANNYA?"
" Tuan Gaunzaga." Jawab Mateo perlahan secara dramatis ingin menikmati raut kemarahan dan kekalahan tuannya.
" Mateo, persiapkan segalanya saya harus mulai bergerak lagi."
Mateo menghela nafas berat di menyimpan kekesalannya pada pria tua ini.
" Tuan, anda masih demam..."
" Bukan kau yang mengaturku Mateo, jangan lewati batasanmu, kamu hanya asistenku." Bentak Alfred.
Mateo tertegun kaget mendapat bentakan itu, tidak dipungkiri meskipun dia sangat membenci pria tua ini, namun apa yang dikatakannya sedikit menyakitinya.
" Kau jelas melihatnya keluargaku dipermainkan oleh mereka, mereka sungguh menghinaku." Desisnya menahan amarah.
" Tugasmu hanya memastikan setiap kebutuhan tubuhku terpenuhi."
" Baik, maafkan saya."
Mumtaz mengamati semuanya lewat iPadnya, dia menatap tidak suka pada respon Mateo. lantas dia pun menelpon Raul.
" Hallo."
" Hallo, om Raul, sebaiknya kau segera mengurus Mateo. dia menunjukan sikap membangkang dalam kerjasama kita, dia enggan bekerjasama sebelum saya melakukan kekerasan padanya "
" Itu tidak mungkin, dia sangat membenci pria tua itu."
" Waktu yang mereka jalani bersama sangat lama, tidak menutup kemungkinan Alfred bisa menyentuh relung hati Mateo."
" Om, apa yang ku berikan padamu, bisa ku ambil kembali. kau bisa tanyakan Rodrigo seberapa bisa saya menghancurkan mu. Sangat mampu!" tekan Mumtaz.
" Baiklah akan saya bujuk Mateo."
" Andai dia tidak bisa diajak kerjasama, singkirkan dia. saya tidak butuh hama pengganggu."
Klik.
Mumtaz menutup panggilan itu dengan tajam menyimpan amarah. Ibnu mengamati setiap perubahan wajah Mumtaz selama berurusan dengan iPadnya, dia menghela nafas kasar, ia sangat tidak menyukai keadaan ini.
" Muy, sudah jauh usaha kami selama ini menjaga emosimu agar Lo tetap terkontrol, dan please..apapun yang membuat Lo marah biar Bara yang menyelesaikannya." ucap Ibnu pelan, agar ucapannya tidak terdengar yang lain yang sedang sibuk beradu argumen dengan Ergi.
Mumtaz dan Ibnu saling temu tatap," gue tak akan bisa siap kehilangan Lo."
Mumtaz berdecak malas akan kekhawatiran para sobat padanya, ia paham mereka sekarang yang selalu mengikutinya, karena memastikan dirinya baik-baik saja. " Ck, kalian gak akan pernah kehilangan gue, gue selalu ada untuk kalian."
" Janji?"
Di samping lengan sofa Ibnu menawarkan kelingkingnya.
" Janji." Mumtaz menautkan kelingking mereka.
Bara yang duduk di seberang mereka mengernyit bertanya pada Ibnu akan ulahnya, lewat gerakan bibirnya Ibnu mengatakan." nanti akan gue;kasih tahu."
****
England, pukul 09.15 waktu setempat
Diantar oleh supir pribadi yang sudah menungguinya di terminal kedatangan, tanpa membuang waktu Raul memutuskan langsung ke apartemen Ivanka.
Tok...tok...
" Tunggu sebentar." Seorang gadis membuka pintu sambil mengerutkan kening bertanya padanya.
Raul terpana memandang kecantikan gadis dengan netra biru berambut coklat tua panjang bergelombang, tubuhnya yang sintal, kulit mulus, rahang tegas dan pancaran kepolosan nan lembut di matanya menggugah kelelakian Raul.
" Ya, anda siapa?" Suara lembut itu mengembalikan Raul pada kenyataan.
" Hallo Ivanka? saya Raul Gonzalez..."
" Gonzalez? Anda, apanya Sivia?" Potong Ivanka bersemangat.
" Saya Kakaknya."
" Aaa..h, senang bertemu dengan anda." Ivanka mengulurkan tangan untuk bersalaman.
Entah datang darimana desakan dalam hatinya untuk menyambut tangan mungil itu, yang pasti Raul pun bersemangat menyambut uluran tangan itu.
Kulit mulus itu menyalurkan gelenyar aneh di tubuhnya yang lelah.
" Mari masuk.." sambutan yang dirasa antusias mengundang dengkusan geli bagi Raul.
Tiba di ruang tamu, Raul menatap dua orang pria yang duduk santai di sofa.
" Siapa mereka?" Tanyanya.
" Mereka, orang menyelamatkan aku saat aku hampir tertabrak. Aku mengundang mereka untuk sarapan, apa kamu tidak nyaman untuk hal itu?" Tanya Ivanka menyesal.
" Tidak mengapa, saya hanya kaget saja. Baik sekali mereka menolong mu." Sarkastiknya.
" Nona, sebaiknya kami pergi, terima kasih atas jamuan ini." Mereka berdiri.
" Terima kasih, sekali lagi. Kalau tidak ada kalian saat itu saya pasti..."
" Nona, jangan sungkan. Itu gunanya kita bersosialisasi. Kami pergi." Satu orang dari mereka yang berjalan terakhir menyelipkan satu kertas ke tangan Raul saat mereka melewatinya.
Ivanka mengantar mereka ke pintu, dangan ramah melambaikan tangan mengiringi kepergian mereka.
Mendengar suara langkah kaki, Raul memasukan kertas itu ke dalam saku celananya.
" Silakan duduk, om. Saya ambilkan minuman dulu." Ivanka melangkah ke dapur.
" Om?" Raul mengeryit geli.
" Om kan Kakaknya Sivia, usia saya dengan Sivia saja cukup berjarak. Bagaimana dengan om."
Raul manggut-manggut, ia terkesan dengan pemilihan kata dari Ivanka yang berusaha untuk tidak membuat sang lawan bicara tersinggung. Cukup berkelas.
Saat Ivanka kembali dengan membawa dua cokelat panas dan sepiring sandwich, Raul yang berdiri di depan dinding kaca memandangi pemandangan kota berbalik mengambil alih nampan tersebut.
" Kamu bukannya libur?" Raul menjatuhkan tubuhnya di sofa panjang.
" Iya. Saya kira om belum sarapan, jadi saya buatkan sandwich saja." Ivanka duduk di sofa tunggal samping Raul.
" Terima kasih. Kenapa tidak pulang kampung?"
Ivanka menatap Raul dengan sorot malas.
" Apa om tidak melihat berita? Kediaman keluarga saya terbakar."
" Aa..h itu.." Raul merasa tidak enak hati, perasaan yang membuatnya tidak nyaman.
" Lagipula saya harus bekerja."
" Bekerja?" Tanya Raul sedikit heran.
" Hmm, saya tidak menyukai bisinis keluarga saya, jadi saya memutuskan untuk mandiri secara finansial.
" Bukankah terlambat kalau kau sudah menikmatinya sejak lahir?" Nada sinis dari Raul lolos dari pendengaran Ivanka.
" Saya baru tahu mereka mafia saat saya memasuki semester 2, itupun dari artikel. Saya masuk klub penyiaran di kampus."
" Bagaimana perasaanmu?"
" Saya marah, jelas. Saya kira mereka pebisnis jujur, ternyata..." Ivanka tidak melanjutkan omongannya.
" Saya merasa bersalah pada mereka yang menjadi korban dari bisnis kotor keluarga kami, tapi apa boleh buat saya tidak bisa melakukan apa-apa." Ucapnya lemah dengan sorot mata kosong.
" Apa boleh saya numpang bersih-bersih?" Raul mengalihkan topik yang membuat suasana tidak nyaman.
" Silakan ini kamar tamunya. Om saya tinggal sebentar ya, saya mau minta tukar shift sama teman saya."
" Iya, maaf kalau kedatangan saya merepotkan kamu."
" Tidak, saya senang mengenal keluarga Sivia. Dia sudah seperti kakak saya."
Raul mengangkat alisnya," saya selalu senang kalau Sivia mengunjugi kami, setidaknya saya punya teman di mansion."
" Kamu tidak keberatan Sivia berurusan dengan kakek kamu?" Tanya Raul sambil kedua tangan memberi tanda petik pada kata berurusan.
" Awalnya iya, tapi sekarang saya tidak ambil pusing, saya terlalu kecewa pada nenek yang ternyata mengetahui bisnis sesungguhnya kakek." Ucapnya sambil melangkah ke pintu setelah mengambil tas selempangnya.
Raul tidak menyia-nyiakan kepergian Ivanka, selepas membersihkan diri, dan sarapan, ia berkeliling memeriksa setiap sudut di setiap ruangan apartment yang terbilang mewah untuk ukuran mahasiswa.
__ADS_1
" Kau jelas menikmati hasil dari bisnis kotor keluargamu, menyesal, *bullshit*." Sinis Raul mengamati interior yang layak disebut semi penthouse itu.
Layaknya di rumah sendiri, dia memasuki kamar tidur Ivanka, setelah memeriksa semuanya iamenaruh laptop di atas meja belajar yang terletak tidak jauh dari ranjangnya, memposisikan laptop tersebut sedemikan rupa agar ranjangnya terlihat jelas.
Lantas dia menelpon nomor yang tertera di dalam kertas kecil tadi.
" Hallo."
" *Saya ditugaskan untuk bekerjasama dengan anda, tuan Gonzalez*." Pelafalan kata di sebrang khas orang Amerika.
" Kalau begitu kau bisa menyambungkan langsung kamera laptopku pada Valentino, saya akan membuat siaran *live* untuknya."
" *Akan kami lakukan*."
Saking berkonsentrasinya Raul dengan laptopnya dia tidak mendengar Ivanka kembali, hingga pintu kamar tersebut dibuka dari luar.
Ivanka terkejut, ia mematung terpesona pada Raul yang masih bertelanjang dada dengan celana berbahan kain hitamnya
Raul menoleh ke belakang, ia menunjukan raut sungkan.
" Maaf, saya lancang. Saya hanya ingin memeriksa kerjaan saja, cuma di kamar ini yang ada meja kerjanya. Saya tidak bisa bekerja tidak di atas meja, saya harap kamu tidak keberatan ." Alibi Raul santai seolah tidak melakukan kesalahan.
Suara bariton Raul menggelitik hati Ivanka .
" Ti..ekhem..tidak mengapa." Ivanka berdehem suaranya terdengar mencekat.
" Saya keluar dulu, kamu jangan sentuh laptop saya, belum di *save* soalnya."
Ivanka mengangguk, ia menghembuskan nafasnya lega saat Raul menutup pintu.
Tok...tok ...
Ceklek...
" Saya bawakan kamu minum, diminum gih." Raul mendorong tubuh Ivanka untuk lebih masuk mengarahkan gelas berisi air mineral ke depan mulut Ivanka yang tidak bisa menolaknya.
Ivanka menegak air itu hingga tandas, Raul tersenyum miring melihatnya.
Raul berjalan ke meja belajar, menaruh gelas di atas meja, Ivanka memilih duduk di tepi ranjang karena gugup.
Pura-pura sibuk dengan laptop yang berisi laporan keuangan, dari ekor matanya Raul bisa melihat Ivanka yang mulai gelisah. Ia \*\*\*\*\*\*\*-\*\*\*\*\* kaos selututnya sambil meraba-raba tubuhnya yang terasa panas.
Ivanka sesekali menyugar dan membelai rambutnya, tubuhnya menginginkan sesuatu yang nikmat, sementara otaknya berusaha bekerja untuk menahan keinginan itu. Ia kebingungan dengan dirinya yang berperang antar hasrat dan logikanyam
Ia berjalan ke kamar mandi, alih-alih ke sana ia malah membelokan dirinya berdiri di depan Raul yang menatapnya dengan mimik bingung.
" Ada apa?"
Suara berat raul terdengar s3xy oleh panca inderanya, bayangan Raul menyentuh tubuhnya mendorong dirinya membungkuk lalu m3lum4t agresif bibir Raul.
Sebelum berjalan ke arah ranjang sesuai keinginan Ivanka ia menekan tombol enter yang menggantikan tampilan monitor menjadi diri mereka.
Raul memutar tubuh, kini dirinya yang berposisi menghadap laptop, di sana telah tampak wajah Valentino yang melihat mereka dengan bingung.
Dia dipaksa Filippo untuk terus melihat monitor, memegang wajah Valentino yang hendak berbalik saat menyadari jika wanita yang sedang digerayangi dan dilepas pakaiannya dengan bernafsu itu adalah putrinya.
Raul melempar kaos tersebut ke sembarang arah. Ivanka dengan bern4fsu meraba badan Raul sambil mengeluarkan suara erangan nan s3x1nya.
"Aaaa..h hmmp..o..mh...*please*..." Mohonnya pada Raul untuk berhenti memainkan tali CD-nua dipinggulnya, ia mendorog tangan Raul menurunkan benda itu.
" Apa kau yakin, Iv?"
" *Sure...no...ye.... please*" Ivanka bingung, antar iya mewujudkan desakan hasratnya atau menolak sesuai dengan keinginan otaknya.
Raul senang melihat kegusaran Ivanka, ia sangat tahu obat yang dicampur dalam minuman itu ditakar tidka terlalu banyak, sengaja di alkuakn itu, dia ingin menyisakan sedikit kesadaran diri dalam tubuh Ivanka ditengah halusinasinya s3ksualnya.
" Aku orang baik, akan mengikuti keinginanmu." sindir Raul dengan senyum culasnya.
"OOO..h." dalam hitung detik kini mereka sudah polos.
Raul membaringkan Ivanka di atas ranjang dengan tubuh menggeliat tidak jelas.
" Iva..aku tak ingin menyakitimu, ayah dan kakekmu pasti tidak menyukai ini."
" Oo..mh, mereka tidak perlu tahu...*please*.." tangan Ivanka menggapai-gapai tubuh Raul bagai orang kelaparan.
" Aah..h.." m Raul menikmati sentuhan Ivanka di bawahnya.
" Iva, jangan menggodaku."
" Ini enhak..omh... Slurph." Raul menekan kepala Ivanka untuk menelan habis *miliknya* maju mundur.
" Tidak..tidak ...b4jing4n lepaskan putriku...." Teriak Valentino sangt keras hingga urat di lehernya menonjol.
Mereka tidak mendengar teriakan itu, karena volume suara telah dimatikan.
" Huh, wow. Putri kecilmu sudah besar, Valentino. Aku harus menyicipinya." Ucap Filippo m3svm dengan tatapan liar pada adegan di depannya.
" Diam kau...kau sentuh..."
" Kau yang diam..lihat, putrimu sendiri yang mengarahkan benda itu ke miliknya." Filippo kembali mengarahkan wajah Valentino ke monitor tepat penyatuan itu terjadi.
" Aa..kh..sa..kit...stop..." Rintih Ivanka menjauhkan Raul dari tubuhnya yang terasa tertvsvk pisau.
Namun Raul tidak menghiraukannya, pinggulnya berhenti bergerak saat merasakan ada penghalang di sana, tapi melihat penderitaan Ivanka, ia semakin menekan dirinya ke dalam dengan satu hentakan kasar.
" Aaa..kh..stop....tidak.." Air mata Ivanka luruh ia mendorong-dorong tubuh Raul dengan mata terbelalak sakit sekaligus kaget.
__ADS_1
" Sepertinya pengaruh obat itu habis, hmm." Ia terus menggerakkan pinggulnya tanpa ampun.
Nyeri itu semakin menjadi, Ivanka menjerit kesakitan tak tertahan hingga tangisannya memenuhi kamar itu.
"Oom... Berhenti...sa..kit..tidak...."
" *No*..kau harus membayar perbuatan papahmu yang m3mp3rk0s4 wanitaku." ucap Raul mendendam sambil terus menghentakkan pinggulnya lebih dalam.
" O..itulah tujuanmu kemari?"
" Tentu, apalagi. Aku tidak mengenalmu, b1tch."
" Aaa...kh.." Ivanka menggigit bibir bawahnya sambil meringis dalam, ia sangat kesakitan.
Tidak tega melihat kesakitan Ivanka, sambil terus bergerak Raul meraih celananya yang tergeletak tidak jauh darinya, mengambil plastik kecil yang berisi pil, lalu mengambil beberapa kemudian langsung dimasukan ke mulut Ivanka.
Ivanka yang terkwjut ingin memuntahkan pil tersebut, namun digagalkan Raul dengan menutup mulutnya.
Mau tidak mau pil tersebut ditelannya, besarnya dosis pil tersebut membuat Ivanka pusing, meracuni tidak jelas, namun yang pasti tubuhnya tiba-tiba bergelonjotan menarik Raul ke arahnya dan mlvm4t habis bib1r Raul. Ivanka lebih buas.
Sambil terus goyang Raul melirik monitor yang mana Valentino sudah berteriak kesetanan memukul-mukul layar sampai kegiatan itu berakhir yang memperlihatkan terkulainya tubuh polos Ivanka di atas ranjang tak sadarkan diri setelah digauli habis-habisan tanpa ampun meski sepanjang itu Ivanka berteriak dan meronta kesakitan ditengah pengaruh obat perangsang.
Tidak mau repot menyelimuti Ivanka, Raul berjalan ke meja, menyalakan mute suara. Dia menarik kursi lalu duduk di depannya dengan peluh masih menghiasi tubuhnya
" Gonzalez, kau akan membayar perbuatanmu. Aku janji akan menghabisi Sivia." Murka Valentino.
Raul meresponnya dengan kekehan merendahkan sambil menyalakan cerutunya, ia melepas asap cerutu tepat ke wajah Valentino.
" Dia sudah dijadikan j4l4ng oleh ayahmu, beruntung masih ada lelaki yang mau mencintainya dengan tulus setelah dirusak oleh Eric si tua bangka itu."
" Sedangkan putrimu, mulai saat ini dan seterusnya hanya akan menjadi j4lankku."
" Gonzalez, bagaimana rasanya?" Tanya Filippo.
" Beuh ..dia masih perawan, bro. ups, sudah tidak lagi. dia masih amatir kalau sudah pro saya kirim dia padamu, nikmati dia sesuka mu."
Pandangannya menghunus tajam pada Valentino yang menatapnya murka." dia adalah tumbal dari keserakahan mu." tekannya.
Rriing..tring ...
Raul cukup kaget melihat nomor Mumtaz yang tertera di panggilan masuk di ponselnya.
" Hallo..."
\*\*\*\*
Suhu ruang kerja Ergi meningkat tajam, Berto dan Timothy yang berdiri di belakang Ergi jelas melihat kekuasaan yang dimiliki oleh lima pemuda di depan mereka.
Petinggi RaHasiYa plus Bara, posisi mereka memang mematikan alasan mereka untuk takut.
" Apa kalian juga yang mengirim ini?" Ergi menunjukan map merah.
" Pak Ergi, saya pikir anda berbeda dengan yang lain, ternyata sama saja. kami paham kemana alur omong kosong ini, kau sedang mencari kambing hitam untuk dipersalahkan akibat carut marut ini." Sinis Alfaska.
" Saran saya, alih-alih menyudutkan kami, sebaiknya kalian mulai proses hukumnya."
" Anda tidak perlu mengajari kami."
" Anda jangan memaksa kami kehabisan kesabaran, ingat, kalau RaHasiYa ingin, kami bisa mengumpulkan masa untuk bersatu melawan anda. Rakyat terlalu jengah dan marah melihat kelakuan kalian, segala bukti telah tampak jelas. Kau hanya melakukan tugas yang seharusnya mengapa begitu sulit." Tegas Alfaska menajam.
Ergi melirik pada Mumtaz yang diam menyimak terlihat tidak berniat untuk adu mulut dengannya, sesekali dia sibuk dengan ponselnya,
" Kalian ..."
" Pak ergi, anda sebaiknya melihat ini." Ibnu memberikan ponselnya berisi instruksi berkumpul bagi anggota BEM di group wa BEM antar universitas.
" Kumpulan antar BEM pastinya tidak untuk bergibah masalah artis atau hal random, kami sudah mulai bergerak. Ini desakan dari masyarakat yang masuk ke website kami." Ucap Ibnu tenang, cukup mengambil atensi Ergi dari Mumtaz.
Satu notifikasi muncul di pesannya. Mumtaz membuka pesan tersebut, sedetik berikutnya senyum devil terbesit dari bibirnya.
" Napa Lo?" Bisik Daniel yang duduk di sampingnya.
" Enggak, Lia minta dijemput di kampus." Mumtaz menyimpan ponselnya.
Mumtaz tidak berbohong pada Daniel, memang pesan itu dari Sisilia, tapi dia tidak mengatakan satu pesan di bawahnya yang menuliskan *mission completed*, pesan dari rekannya yang ada di Inggris.
" Saya kira urusan kita di sini sudah beres, kami akan bekerjasama, jika kalian telah melakukan tugas kalian. Permisi." Mumtaz dan yang lain meninggalkan ruang kerja Ergi.
" Tim, kamu cari ini informasi tentang Ibnu." Tiitah Ergi.
" Pak, semua tentang petinggi RaHasiYa sudah kita cari, dan hanya itu yang kita dapatkan.
" Saya tahu, tetapi tentang ibnu Abdillah terlalu singkat untuk mengisi riwayat hidupnya."
" Periksa panti asuhan dimana dia diasuh."
Berto tertegun kaget. " Panti asuhan?" Gumamnya yang didengar Berto.
" Iya, dia anak adopsi dari tetanggamu itu, masa itu saja kamu tidak tahu." Ucap Ergi curiga.
" Siap, saya perantau sejak masuk kelas 1 SMP, jadi saya tidak tahu tentang kisahnya."
Ergi mengangguk paham." Diantara mereka berlima dia orang paling dekat dengan Mumtaz, bukan?"
" Iya, tapi saya ragu demikian. Mengingat petinggi RaHasiYa saling melindungi dengan cara mereka sendiri. intinya mereka dekat satu sama lain." ungkap Timothy.
" Sudah..sudah..kalian keluar. saya harus mengadakan pertemuan membahas gerakan mahasiswa...."
\*\*\*\*\*
__ADS_1
Di tempat lain, di rumah tidak begitu luas sudah banyak mahasiswa-mahasiswi memenuhi rumah tersebut dengan almamater kebanggan mereka....