Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
218. Bubarnya Persahabatan.


__ADS_3

Farhan menghela nafas berat saat dia kembali menerima pasien dengan luka yang sangat berat dan tidak lazim, semuanya atas nama Mumtaz, namun anehnya kali ini Bara turut mengantar pasien tersebut.


Tidak Farhan pungkiri, setelah menerima pasien dengan lidah terbelah, dan alat vital buntung kemarin dia sudah menganggap biasa luka yang terbilang aneh, namun hal yang mengagetkan kali ini pasiennya adalah perempuan dalam keadaan lidah dan kedua telinga terbakar akibat sundutan ro-kOk, belum lagi organ intim yang rusak akibat paksaan.


Setelah dua jam pemeriksaan, Farhan keluar dari ruang ICU.


Kini Farhan menemui Bara di ruang kerjanya." Teman kamu yang bernama Romli mengalami trauma  syok, Ragad masih ada di sini untuk memastikan mereka semua hidup atau mati. Sekarang apa yang kau inginkan, Bar? Perempuan itu akan berakhir seperti yang lain yaitu cacat seumur hidupnya."


Bara terdiam, " lakukan saja apa yang Mumtaz mau, jangan memperbaiki apa yang rusak, cukup pastikan mereka hidup seadanya."


" Bara, bukan itu esensinya. Ini tidak manusiawi." Tekan Farhan frustasi.


" Prof, percayalah. Ini setimpal dengan penderitaan Ibnu."


" Ibnu? Apa hubungan mereka dengan Ibnu? Mereka semua korban Mumtaz, kamu harus menghentikannya." Farhan sangat frustasi.


" Saya ingin, tapi tidak bisa. Karena saya tidak melihat sama sekali salahnya dimana."


Farhan terkejut dengan pernyataan itu, " kecuali Maura. Ketua, Andre, Mulyadi adalah buronan yang paling dicari di negara ini, dan mereka semua menderita. Ada apa ini Bara?, Ini semua salah, kita bukan penegak hukum, serahkan semuanya pada negara, ini negara hukum, Bara." Bentak Farhan.


Bara tertawa kecil penuh ironi." Dan prof tidak lupakan dengan apa yang dilakukan Toni dia pertemuan itu bukan? padahal secara moril dia penegak hukum." Ucap Bara skeptis.


" Jangan naif prof, di negara kita hukum hanya di miliki oleh orang berduit dan berkuasa, Mumtaz dan Ibnu korban keduanya, kini mereka memiliki keduanya, maka mereka pun akan melakukan hal yang sama namun beda versi. Lakukan saja apa yang Mumtaz mau."


" Kalau saya tidak mau?" tantang Farhan.


Mimik wajah Bara seketika berubah tegas." Kau mengetahui terlalu banyak, tidak susah bagiku menjadikanmu keluar dari bidang ini, dan tidak bisa memasukinya lagi. Dan tentu keluarga mu dan keluarga Zivara Husein, tunangan mu juga akan merasakan akibatnya."


Farhan terhenyak, kakinya tergerak mundur karena linglung.


" Anda paham di mana posisi anda kan, prof. jadi diam dan lakukan saja apa yang diinginkan Mumtaz."


Tok....tok...


" Masuk." Titah Bara.


Ragad dapat merasakan aura suasana tegang antara profesor tampan yang menatap Bara dengan kaget itu dengan Bara yang terlihat santai namun tajam." Bos, gue harus pergi. Daniel butuh gue. Gue harap Lo jaga Romli."


" Pergilah."


****


Kini keempat petinggi RaHasiYa duduk di sebuah teras cafe dengan kesibukan masing-masing yang terletak tidak jauh  dari gereja katedral dan mesjid Istiqlal menunggu kedatangan Berto. 


Sementara Rio duduk dua meja berjarak dari mereka mengawasi situasi sekitar melalui laptopnya yang terhubung ke gedung RaHasiYa. Mereka sudah menyusup ke sistem keamanan cctv cafe dan cctv yang di sekitarannya.


Mereka semua mengenakan earpieces selain untuk berkomunikasi juga untuk mencari apa ada saluran yang menyadap mereka.


" Ragad, posisi?" Seru Rio.


" Di seberang lagi makan batagor." Jawab orang di seberang saluran.


" Tampang ganteng, make motor sport, eh duduk di pinggir jalan makan batagor sambil celingak-celinguk berasa Intel ga gue tuh.!?" Rutuk ragad sebal. Mereka yang mendengar menertawainya.


 " Ini demi masa depan Lo juga, bro." Timpal Daniel.


Alfaska menelpon Tia menanyakan keadaannya mengungkapkan betapa rindunya dia pada sang istri yang berakibat sesekali kepalanya ditoyor malas oleh para sahabat karena kebucinannya.


" Iri lapor polisi, kawan." Balas Alfaska saat dirinya menyudahi telponnya.


" Telat bucinnya." Dengkus Daniel.


" Biarin, emang kalian cuma berani macarin, tapi gak nikahi, Hahahhaha."  Alfaska tertawa dibuat-buat bermaksud meledak, menyebalkan sekali.


" Lo masih bisa bucin karena dapet ipar baik, coba ipar Lo modelan si Bara auto nangis di pojok Lo." Dengkus Daniel.


Mumtaz dan Ibnu terkekeh meski disibukan dengan laptop masing-masing.


" Kalian sok, eksmud banget dah." Cibir Alfaska.


" Gue ngerjain tugas kelompok yang belum sempat dikirim." Ujar Ibnu.


" Gue lagi laporan om Fillipo posisi keberadaan Valentino." Ucap Mumtaz.


" Lo udah bisa nemuin dia?" Kaget Daniel.


" Gampang itu mah. Si b3go itu make telpon umum buat hubungi temannya minta perlindungan."


" Tetap aja diluar negeri."


" Niel, gue aja tahu Lo selingkuh dari Ita dengan klien perempuan Lo bernama Sania. Padahal  Lo udah pasang sistem privat ala RaHasiYa di chatingan kalian." Ucao Mumtaz langsung.


Kini tiga sahabatnya menatap Daniel sebagai tertuduh.


Guna menyembunyikan kegundahannya, Daniel merapikan kemejanya yang sudah rapih.  " Gue gak selingkuh, dia murni klien bisnis." 


" Daniel yang berpikiran kerja yang penting fokus dan terarah, gak usah pake lembur, rela menyediakan waktunya untuk bertemu janji dengannya diluar jam kerja dengan alasan bahas proyek." sindir Mumtaz.


" Karena emang proyeknya besar."


" Empat kali Lo lakuin, dua diantaranya Lo lupa jemput Ita. Bara mending sempat batalin. Dia bikin Ita nunggu di halte bus kampus sampe malam, untung Raja masih di kampus jadi gue suruh dia nganter Ita."


" Beneran itu, Niel?" Kini Alfaska menatap serius Daniel.


Mumtaz menutup laptopnya, lalu menatap Daniel tajam.


" Niel, Ita bukan Cassy yang bisa memanaj emosi dengan baik. Dia bisa terpuruk karena Lo, Lo tahu kan betapa cintanya dia sama Lo, gak adil baginya Lo mencari kenyamanan di perempuan lain, sementara Lo gak lepasin dia."


" Dia cemburuan."


" Tapi gak pake nelantarin dia juga, bang-sat." Marah Alfaska.


" Gue gak menelantarkan, gue lupa..."


" Saking menikmatinya kebersaman Lo sama si Sania itu." potong Ibnu.


" Dia cemburuan, ambekan, keras kepala, gue berkali-kali minta putus dari dia tapi dia selalu datang dengan airmatanya minta kembali, apa yang harus gue lakuin?"


" Lo laki, tegas lah. Lo terima dia, itu bukti Lo masih cinta sama dia." hardik Alfaska.


" Tapi Lo gak merasa cukup, akhirnya meladeni wanita lain yang lo pikir lebih nyaman." timpal Mumtaz.


" Diem, Muy. Gak gitu faktanya." Elak Daniel yang menolak dituduh selingkuh, ia menatap tajam Mumtaz.


" Apa kenyataan?" Tantang Mumtaz.


" Muy, serius Lo masih punya waktu ngurusin hubungan gue sama Ita, sementara untuk Sisil Lo susah cari waktu." Sindir Daniel tajam.


" Seenggaknya gue gak pernah lupa jemput Sisilia kalau udah janji, apalagi hanya untuk ketemu wanita baru." Balas Mumtaz tak kalah tajam.


" Tapi tenang saja, sebentar lagi masa Lo terganggu karena Ita akan berlalu."


" Apa maksud Lo?"


Mumtaz merogoh ke dalam ransel, mengeluarkan kartu undangan ulang tahun dari Dista yang dia lempar ke depan Daniel." apa Lo Nerima kartu undangan itu? enggak kan?"


Daniel tertegun, kemudian dia mengambil kartu itu lalu membukanya." gue cuma dapet tiga buat ibu dan Alfaska. saat gue tanya mana baut Lo, dengan senyum getir Ita menjawab dia tidak akan mengundang Lo, karena Lo udah punya pacar baru."


" Gue gak pacaran sama Sania."


" Daniel bukan itu intinya.."


" Itu intinya, sampai kapan lo ikut campur urusan pribadi orang, Lo gak bisa ngurusin semuanya."


" Niel, lo ngelantur kemana-mana, kayak cewek tau gak. Ini nunjukin kalau apa yang dituduhkan Mumuy benar adanya." Ucap Alfaska.


" Gue gak selingkuh." Bantah Daniel.


" Tapi hati lo goyah." Celetuk Ibnu.


" Diem, Lo urus perkara Lo sendiri yang selalu nyusahin kita." Bentak Daniel frustasi.


Ibnu dan yang lain terkejut dengan ucapan Daniel. Daniel yang biasa kalem, berwibawa, tutur kata baik khas didikan konglomerat kini mampu mengucapkan hal kasar pada sahabatnya.


" DANIEL." Bentak Alfaska.


" MENUNDUK..." Teriak Leo.


Dor...dor...


" Kapan urusan merepotkan ini berakhir, buang waktu gak sih." Ucap Daniel refleks karena masih tersulut emosi 


Mumtaz langsung memegangi kepala Ibnu untuk tiarap. Dibawah meja Mumtaz menatap nyalang Daniel dengan seribu kebencian.


Sementara Daniel mengutuk mulutnya yang berkata menyakitkan itu. Ia hanya merasa tersudutkan dan terkejut.


Adam melindungi Mumtaz, dengan memasang tubuhnya berlutut dengan satu kaki, dan kaki lain menyangga tubuh menghadap jalanan dimana kedua tangannya mensiagakan pistol. karena hanya itu tugasnya dari Dominiaz.


Adam mendengar Mumtaz berkata," Kita gak pernah minta kalian ikut campur. Pergi dari sini."


Alfaska memukul kepala Daniel," ini peringatan dari gue, Lo putusin Ita, atau si minyak goreng itu mati di tangan gue." Bisik Alfaska marah.




 Di dalam cafe di meja yang berjarak  dua meja dari dinding kaca, Leo dan Adam mengobrol sambil mengawasi keadaan mengabaikan lirikan dari pengunjung wanita karena kegagahan dan ketampanan khas maskulin yang terbiasa kerja luar.



 " Sekarang gue ngerti kenapa mereka milih duduk di luar ketimbang di dalam." Gerutu Leo melirik para bosnya sembari untuk kelima kalinya mengambil tissue yang sudah tertera nomor telpon dari wanita.



Adam terkekeh, " tampang kayak Lo dan Jeno sekarang tuh jarang."



" Kayak gue?"



" Hmm, kulit coklat bersih, rambut sedikit gondrong, mata tajam, rahang tegas sedikit bercambang, pakaian terkesan ngasal, tapi stylish. laki sekarang kebanyakan modelan metroseksual, serba klimis, licin, dan soft. itu udah biasa." Terang Adam panjang lebar.



" Lo gak merhatiin gue segitunya kan." Tanya Leo sedikit risih.



Sesaat Adam terbengong, mencerna ucapan Leo, saat menyadari Leo salah tafsir atas penjelasannya, Adam melempar sepotong kentang ke wajah Leo yang nyengir padanya.


__ADS_1


" Kenapa Gaunzaga menugasi Lo mengawasi mereka?" Tanya Leo yang kini mode serius.



" Pak Domin mendapat kabar jika Valentino berhasil kabur dari mansion dan meminta bantuan para mafia lainnya untuk membantu ayahnya yang berada di Indonesia."



" Apa mereka tahu, jika Mateo sudah bukan lagi asisten Alfred?"



" Sepertinya tidak, karena Valentino masih menghubungi dia untuk memasukan anak buahnya ke Indonesia."



" Heuh, makin serius sepertinya urusan Navarro."



" Hmm, sepertinya."



Leo mengawasi bagian luar cafe karena dari ujung seberang kanan ada pergerakan tidak biasa dari orang asing yang nampak memperhatikan Berto yang sedang berlari kecil menyebrang jalan.



Sambil mengobrol ujung mata Leo silih berganti memerhatikan antara Berto dan beberapa lelaki yang mengawasinya, dan saat tangan lelaki itu mengarah ke pinggangnya, tertangkap sarung pis-tol, yang mana tangan lelaki itu mengambil isinya dan mengarahkannya ke Berto.



" Ooh shitt,..." Leo berlari cepat menuju pintu.



" MENUNDUK.." teriaknya, saat membuka pintu cafe, dan langsung melancarkan tembakan ke udara, sambil berlari ke arah Berto sambil terus menembakan pelu-ru.



Mereka yang berada dalam cafe sontak bersembunyi dibawah meja, Adam berlari ke arah Mumtaz yang refleks mengapit kepala Ibnu untuk menurunkan tubuhnya dari kursi.



Berto langsung tiarap, dan mencari tempat berlindung.



Dua pria asing yang dimaksud terkejut karena teriakan tersebut langsung berlari, dan masuk ke sebuah mobil Van yang berhenti di depan cafe kemudian langsung mengegas meninggalkan area cafe.



Ragad, alih-alih menghadang orang itu, dia memilih menuju motor sportnya segera menyusul mobil itu.



" To, masuk." Titah Leo yang membelakangi Berto karena masih menodongkan pis-tolnya berjaga-jaga.



Berto berlari menuju cafe dibawah perlindungan Berto.



Saat dalam cafe, Berto langsung memperlihatkan tanda pengenalnya  ke manajer cafep meminta rekaman cctv.



Rio, di mejanya dengan tenang berkomunikasi dengan Dewa dan Ragad yang sudah mengumpulkan bala bantuan masih mencari mobil Van tersebut.



Mumtaz menghampiri meja Rio, " bagaimana?" Tanyanya.



" Mereka bakal mengepung pelaku di perempatan depan, Dewa akan  melampumerahkan lampu lalu lintas saat mobil itu melewati perempatan lintas jalan."



" Bagus, kirim mereka ke alamat ini." Mumtaz memberi kartu nama gedung perusahaan pribadinya.



" Bukan ke gudang seperti biasa?" Tanya Rio heran.



" Bukan, ini bukan lagi urusan Atma Madina, Birawa, atau RaHasiYa lagi, ini urusan gue dan Ibnu."



Sebelum menemui Berto, Mumtaz berbalik menatap Rio dan Leo." Setelah ini kalian bebas tugas. Tugas seluruh anak RaHasiYa  selesai sampai sini. Terima kasih atas bantuannya selama ini." Ucap Mumtaz terdengar seperti salam perpisahan di telinga mereka berdua.



Rio dan Leo terdiam, mereka menatap para petinggi RaHasiYa yang diam dengan aura tegang.




" Yo, jangan..."



" Gue gak ngerti teknologi buatan mereka, tapi gue paham dunia komputer, jadi gue lebih cocok sama Lo ketimbang mereka." Sela Leo tegas.



" Baiklah, dan terima kasih."



Mumtaz mendekati Ibnu yang sedang membereskan barang-barang mereka di atas meja." Nu, waktunya pergi."



" Hmm."



Saat Mumtaz hendak masuk cafe, dan membual pintu cafe sedikit, Alfaska mencekal lengan Mumtaz ." Nu, Lo gak bisa menyingkirkan gue juga." Ucapnya sedih.



" Fa, biar Lo adik ipar gue, tapi emang derajat kita beda. Kalian yang terlahir di kalangan konglomerat tidak akan mengerti susahnya kita dalam menjalani hidup hingga saat kita mendapatkan satu orang yang satu server, kita akan menjadikan dia keluarga karena kita menerima satu sama lain dalam suka dan duka.



" Jadi seberapa banyak pun kita mengukir cerita selama kita bersama, pada akhirnya saat kalian berada di situasi yang tidak kalian suka akan terlontar satu atau dua kata yang menyakitkan karena keegoisan khas ala kaum Borjuis yang nyatanya gak bisa terus-terusan gue tampung. 



" Gue lebih lama dengan Ibnu, kita melihat tragedi itu, kita merasakan kesakitan karena tragedi itu. Dan teman Lo yang egonya gue sentuh langsung menghardik nasib kita. Cukup Bara, cukup nyokap Lo. Cukup semuanya sampai sini. kalian tidak berhutang apapun sama kita. TIDAK!!" Ucap Mumtaz dengan emosional.



" Muy, *so.. sorry*." Daniel terbata-bata. kini dia merasakan sesak yang dirasakan Bara.



" Muy, gue gak..maksud..gue akan menjauhi Sania, gue akan lebih baik pada Ita. tapi *please* jangan begini. Lo tahu gue butuh Lo." Daniel menitikkan airmata. ini sangat tiba-tiba, ini menyakitkan.



" Gue agak peduli, gue bahkan tempat sampah kalian. bisa dikata gue bosen dengan kata-kata memuaskan itu."



" Lo tahu Niel, gue pikir apa yang sedang Lo rengekin itu yang Ita rasakan ketika Lo mutusin dia."



" Muy, *please*, jangan bawa-bawa Ita. ini tentang salah gue ke Lo. maafin gue."



Mumtaz menghiraukan Daniel,  dia masuk ke dalam cafe. dia sudah tidak bisa lagi bertahan dengan senggolan emosional dengan para sahabatnya, dia sudah lelah. Teramat lelah.



" To, Berto."



" Gue di sini." Berto menghampiri mereka.



" Kita pindah lokasi. Lo bawa apa kemari?"



" Mobil, tapi di parkiran gereja."



" Gue tunggu di depan Istiqlal ya."



" Oke."



Diikuti Adam dan Leo Mumtaz dan Ibnu meninggalkan cafe.



" Itu Alfa dan Daniel gak ikut?" Tanya Berto menoleh ke belakang.


__ADS_1


" Enggak. Mulai sekarang semua urusan ini cuma urusan gue dan ibnu." jawab Mumtaz malas sambil sibuk dengan ponselnya.



Rio setelah memasukan semua barangnya  dalam ransel beranjak hendak menyusul Mumtaz, namun langkahnya terhenti saat satu pesan masuk ke ponselnya.



" **Lo stay di sana, bantu mereka. Jangan tinggalkan mereka. Bagaimanapun Navarro sudah menargetkan mereka**."



Pesan dari Mumtaz, Rio menengok ke ke dua sahabat yang saling menatap tajam, tepatnya Alfaska yang menatap nyalang Daniel yang masih berdiri kaku dalam keterkejutannya.



Ia kembali ke kursinya, meletakan ranselnya ke atas meja, memandangi drama selanjutnya dua sahabat itu 



BUGh...



BUGh...BUGh...



Alfaska langsung memukul Daniel  dengan membabi-buta tanpa mendapat perlawanan dari Daniel yang tampak pasrah. Rio hanya menonton dengan helaan nafas beratnya.



" Puas Lo...PUAS..."



" ANJ1NK EMANG LO."



" Dewa cari siapa itu si Sania minyak goreng. Dalam waktu 24 jam Lo gak bisa temuin dia, ma-t1 Lo di tangan gue.



Berita pertengkaran hebat antara petinggi RaHasiYa itu sampailah juga di telinga Navarro lewat Matunda yang meyakinkannya kalau dia sudah meretas sistem komunikasi antara anggota RaHasiYa yang terkenal hampir mustahil ditembus.



" Hahahaha, akhirnya persahabatan manis mereka bubar juga. Perempuan, memang senjata paling ampuh menghancurkan pertahanan lelaki." Ucap Navarro sumringah.



" Matunda, apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Navarro  pada Matunda yang tengah menyuntikan cairan pada infusan-nya.



" Saya sedang memasukan obat nyeri pada anda, karena sebentar lagi  tuan Riina  dan Fillipo ingin memperlihatkan sesuatu pada anda."



" Fillipo, Riina Gaunzaga?" 



" Iya, siapa lagi memangnya?"



Tring...



Pesan masuk dari Fillipo ke ponsel Matunda



" Memangnya apa urusanmu dengannya, maksudku dia mau apalagi?"



" Entahlah, saya menghubungkan anda dengannya sekarang."



Di layar televisi besar kini tampak wajah khas Sisilia dari pria tampan di usianya di penghujung 20-an bersama pria baya yang masih terlihat tampan namun tidak menghilangkan kebengisannya.



" Navarro, kau masih hidup rupanya." Ledek Riina.



" Apa mau mu, kau sudah memiliki apa yang ku punya."



" Tidak ada, saya hanya ingin kau melihat kematian putra bo-d0h mu ini."



Mereka berdua menggeser ke samping, terpampang lah Valentino berdiri di tiang dengan tali yang mengikat diseluruh tubuhnya sudah dikelilingi kayu bakar.



" GAUNZAGAA... Jangan coba-coba berani menyentuh putraku." Pekik Navarro kuat hingga urat lehernya menonjol.



" Kenapa tidak."



Fillipo sengaja menyalakan cerutu, lalu koreknya dia buang ke kayu yang sudah dilumuri minyak.



Seketika api merambat cepat membakar seluruh kayu, Valentino yang ditengah kayu berteriak kepanasan karena api yang mulai meninggi.



Kamera drone yang terbang di atasnya makin mendramatisir keadaan saat api itu menyentuh kaki, terus merangkak naik menyelimuti setapak demi setapak tubuh Valentino.



Saat api itu melahap seluruh tubuhnya, dan menghanguskannya, sebuah ponsel terbang membentur televisi itu yang mana Riina dan Fillipo sedang tertawa terbahak-bahak.



" Aaarrkh..aaaaaa......" Pekik Navarro mengabaikan suhu tinggi seluruh tubuhnya, wajahnya merah padam.



" Matikan..matikan..tv-nya Matunda." Bentak Navarro.



Dengan santai Matunda mematikan tv tanpa memalingkan wajahnya dari Navarro, ia sangat menikmati raut kekalahan dari tuannya itu.



" Matunda, apakah kau sudah bisa menembus pertahanan gedung RaHasiYa?"



" Tinggal satu gerbang lagi, kita berhasil ke sana."



" Oh, iya, tuan Navarro. Pak Toni mengirimkan ini untuk anda dari dalam tahanannya."



Matunda menyerahkan sebuah amplop besar yang masih tersegel pada tuannya.



" Kau cari tahu mengapa Gaunzaga membakar putraku."



Matunda kembali ke meja kerjanya." Beliau mengirim email pada anda, tuan. Tuan Gaunzaga bilang tuan Valentino melarikan diri, dan mencoba mencelakai kerabatnya."



" Valentino... bede-bah itu kenapa sulit sekali diam di tempat. Malah melakukan hal yang mengantar nyawanya." marah Navarro sambil membuka amplop tersebut.



Tidak lama dia membaca tulisan dari kertas tersebut, bibirnya menyunggingkan senyum.



" Hahahaha, ini hari keberuntungan ku. HaHAHAHAHHAHA." Tawa Navarro menggema.



" Tuan, apa anda mendapat kabar gembira setelah kematian putra anda?"



" Tentu. anak itu telah ditemukan, Matunda.



" Tidak lama lagi negeri ini ku kuasai... Hahahhaha."..…



Yuk partisipasinya untuk cerita ini....vote,like, komen, hadiah, tipsnya juga ya



baca cerita aku yang lain ya...see you again!!!

__ADS_1


__ADS_2