
Kita bisa merahasiakannya." Seru panglim4 yang diangguki KSAL.
Zayin terkejut, ia memandang kedua atasannya dengan bingung bercampur heran.
" Maksud jendral?"
" Mengingat pelenyapannya kebiakan bagi negara dan bangsa anggap saja kamu sedang melakukan tugas khusus dari negara.
" Tapi jendral, menimbang dia punya koneksi dengan orang-orang berpengaruh di dunia..."
" Kau hanya perlu buat laporan detil tentang eksekusi itu, urusan saya yang memastikan bahwa dia hanya sosok pecundang." Tegas panglima.
" Kami tidak bisa kehilangan prajurit macam kau, kau terlalu berharga untuk kami lepas hanya karena kema-tian penjahat itu." Ucap KSAL
Zayin menunduk, dia mengangguk, berbagai perasaan berkecamuk dalam hatinya, rasa haru, bingung, terima kasih. Tidak dia pungkiri mengakhiri karir yang sangat dia cintai bukanlah hal mudah.
" Terima kasih." Akhirnya kata itu terucap dari mulutnya meski dengan suara tertahan.
Panglima dan KASAL tersenyum geli menyadari sikap bingung prajuritnya yang terbiasa terlihat percaya diri.
" Pastikan kita punya dokumentasi perjalanan hidupnya." Seru panglim4.
" Siap." Jawabnya semangat.
*****
Pukul 21.45 wib. Ibnu memandangi Zayin dan Berto yang makan lahap di teras cafe d'lima dengan tiga meja yang dirapatkam guna menampung beberapa menu yang bebas mereka pesan dari traktiran Ibnu.
" Ini serius pengaman negara gak dikasih makan, padahal tiap tahun honor di naikin, pajak dinaikin?" Sarkas Ibnu.
" Dikasih, tapi gak selevel cafe." Ucap Berto menyudahi makannya, karena sudah habis semuanya.
" A, ada apa minta kita kemari?" Zayin mengelap bibinya dengan tissue.
Ibnu menghela nafas gusar." Kasus ini sudah merusak segalanya, Yin. Terlebih Mumuy." Ucapnya dengan suara berat pada dua kata terakhir.
" Mumuy, diambang ketidak warasan, dan gue gak bisa nolong. Gue belum tahu siapa yang bvnvh bapak dan ibu." Ucap Ibnu mengusap wajahnya kasar, ia frustasi.
" Yin, tolongin gue bisa nemuin pembvnvh itu. Lo tahu kan kenapa mereka tidak langsung kita habisi? Karena gue yang akan menghabisi pembvnvh bapak, tapi sampai sekarang gue belum tahu siapa orangnya."
" Gue gak bisa bikin Mumuy lebih menderita lagi, gue ingin semuanya berakhir. Hiks." Akhirnya tangis itu pecah, air mata penuh penderitaan itu luruh.
Mata yang menggelap karena kesedihan bercampur duka perpaduan yang sempurna untuk mengakhiri hidupnya andai tidak ada yang mendukungnya.
Tanpa kata Zayin memeluk Ibnu, dirasakan olehnya tubuh Ibnu yang gemetar karena menahan luapan isak tangis.
Zayin menepuk-nepuk punggungnya," Aa gak perlu mengkhawatirkan Aa Mumuy Ayin menjamin Aa bakal baik-baik saja. Apapun yang terjadi Ayin akan melindungi kalian." Ucapnya pelan di telinga Ibnu.
Dalam diamnya Berto memandangi kekuatan ikatan dalam hubungan tanpa ikatan darah namun lebih kuat dari saudara kandung itu dengan haru, ia menarik nafas, lalu menengadahkan wajah ke langit-langit menahan turunnya cairan bening dari matanya.
Ibnu menjauhkan dirinya, menyeka air matanya, lalu menatap lekat Zayin yang baru kini ia sadari adik selengeannya sudah berubah menjadi pemuda tangguh dibalik wajahnya imutnya.
" Aa percaya kamu."
" Tidak perlu meragukan ketangguhan ku, berhentilah berpikir kalau urusan kami tanggung jawab kalian, ada satu lelaki lagi di keluarga ini yang siap menjadi tembok pelindung kalian."
Berto berbalik badan untuk menyembunyikan setitik air matanya yang menumpuk di pelupuk matanya, ia tidak menyangka anak kecil yang dia kenal sebagai sosok yang cuek akan sekitarnya bersedia menjadi tameng dengan resiko tinggi berupa kematian.
Ibnu mengangguk syahdu, ia mengigit bibir bawahnya kuat-kuat menahan air mata yang hendak kembali tumpah. ia sungguh bersyukur bisa berbagi, sungguh kembalinya ingatan masa lalunya yang mengerikan itu mampu mengguncang jiwa raganya.
" Kenapa Aa menyinggung kelelahan Aa? Tanya Zayin hati-hati.
" Tadi waktu Aa pulang melihat Mumuy nangis di depan kamar Lo."
" Pasti gara-gara bang Aniel." Ceplos Zayin cepat. Ibnu tertegun kaget.
" Tahu dari mana?"
" Tadi ketemu mereka di depan kamar aku."
Ibnu menunduk dalam." Mau ngapain?"
Zayin mengedikan bahu terkesan tidak peduli.
" A, jangan mikirin yang lain, fokusin aja baca file itu. Katanya ingin segera menuntaskan kasus ini."
Ibnu mengangguk," iya..ya." renungnya.
Menjelang tengah malam ibnu bertamu ke rumah Birawa yang disambut langsung oleh Teddy dan Hanna yang mengenakan piyamanya.
" Inu sudah lama kita gak ketemu." Hanna merentangkan tangan ingin memeluk.
Ibnu tersenyum menyambut pelukan Hanna.
" Apa semua baik-baik saja?" Tanya Teddy duduk di sofa panjang.
" Baik, om." Ibnu yang kedua memanggilnya Om, Teddy sangat tidak menyukainya. Ia menghembuskan nafas berat.
" Apa yang dilakukan Daniel segitu fatalnya sampai kalian menjaga jarak ke ayah dan bunda?"
Ibnu menunduk merasa bersalah." Maaf, tapi untuk sekarang kami hanya mampu memanggil Om."
" Baiklah, ayah terima itu. Ada yang urgent?"
" Sebenarnya tidak, saya ingin bertemu Daniel."
" Dia ada di kamarnya. Aku bunda panggil kan?"
" Tidak perlu Tan, kalau boleh saya ingin ke kamarnya langsung."
Hanna ternyum getir," Boleh-boleh saja, sekalian nginap aja juga boleh."
Ibnu tersenyum kecil," terima kasih, lain Kali saja. Saya langsung Eksan saja yan Tan, om?"
" Silakan." Seru keduanya. Mereka memperhatikan punggung Ibnu yang terkesan penuh beban.
Mereka berharap kedua sahabat itu kembali berbaikan.
Cklek...
Daniel meletakkan laptop di atas meja sofa saat melihat Ibnu yang masuk ke kamarnya.
Daniel cukup terkejut, demi apapun dia tidak menyangka Ibnu akan menemuinya ditengah malam pula.
" Ada apa Nu? Semuanya baik-baik saja kan?" Tanya Daniel khawatir.
Ibnu berdiri di tengah ruangan, mengamati sekitarnya. Kamar yang didesain semewah maksimal dengan furnitur kelas dunia.
" Apa gue terlihat baik-baik saja?" Ibnu memasukan ke dua tangannya kedalam kantong celana panjangnya.
Daniel dapat melihat dibalik raut lelah fisik, jiwa sahabatnya pun turut menderita.
" Lantas ..."
" Bisa gak lo gak ganggu Mumuy, dia sudah banyak menanggung beban soal gue, Lo, Bara, dan Alfaska.biarkan dia tenang." Potong Mumtaz cepat.
Daniel tertegun, " Nu, Lo pasti sadar kalau gue gak maksud sejahat itu."
Daniel menghampirinya, berdiri mendekati Ibnu." Nu, maafin gue, gue salah, gue brengs3k..." Daniel memelas kasih pada sahabatnya.
" *Stop*. Gue cuma berharap Lo gak ganggu Mumuy, kalau ada yang pengen Lo omongin ke gue, ngomong langsung." Tanpa menunggu jawaban dari Daniel, ia langsung berbalik lalu keluar dari kamar.
" Aaarrgghhh..." Pekik Daniel kesal.
Ibnu memutuskan pergi ke gedung RaHasiYa meneruskan tugasnya di man dia ruangannya sudah ada Bisma yang menungguinya.
" Apa Mumuy yang masih kode ruangan gue?" Bisma mengangguk.
" Jeno nyuruh gue harus nempelin lo mulu."
__ADS_1
" Ck, terserah. Asala gak ganggu gue."
" Gue pastikan Lo gak menyadari keberadaan gue."
\*\*\*\*\*\*\*
Pukul dua dinihari Zayin baru tiba di Tangerang, saat membuka pintu dilihatnya Heru sedang duduk sendiri di ruang tamu.
" Assalamualaikum."
Heru memilih ke belakang, ke arah pintu. " Wa'alaikumsalam."
" Belum tidur, om?" Zayin duduk di sofa samping Heru, meletakan ranselnya di lantai disamping sofa.
" Habis bikin susu Adel, terus mastiin kamu datang. Dia dari siang nungguin kamu." Jawab Heru sambil memperhatikan ruang lelah Zayin meski terlihat biasa saja.
" Ck, anak itu gak sabaran banget. Dikira kerjaan aku ngurusin dia doang apa." Dumel Zayin tidak sungguh-sungguh.
Heru tersenyum menimpalinya, terkadang dia merasa bersalah sekaligus segan terhadap pemuda satu ini.
Keberadaan nya yang jarang bersama, ditambah aura tegas bercampur masa bodo terhadap sekitarnya, membuat sosoknya selalu diwaspadai dibanding Mumtaz yang yang lebih ramah dan humble saat berinteraksi dengannya.
Ditengah orang banyak orang banyak dua saudara itu lebih memilih diam dan mengamati, tetapi Mumtaz masih bisa hangat, beda dengannya yang seakan menjaga jarak emosi dengan orang diluar keluarga.
" Pasti kamu sering merasa terganggu karena direpoti olehnya, maaf ya." Ucap Heru sungguh-sungguh.
Zayin menatap melekat seseorang berwajah lembut, namun dan sabar, namun dibaliknya Zayin tahu tersimpan ketegasan, keteguhan dan keberanian yang tiada tara.
" Aku mau nanya sama om, ini pertanyaan yang sudah lama pengen benget aku tanyain."
" Apa?"
" Om, gak suka aku?"
Heru terdiam mencerna pertanyaan itu, " Hah?" Heru speechless, mengapa Zayin bisa berpikir demikian padahal dia amat sangat berterima kasih padanya.
" Saya menyukai kamu, sangat malah.kalau kamu menginginkan Adelia, dengan senang hati saya merestuinya." Jawab Heru panjang lebar.
" Kok saya mikirnya om agak gimana gitu sama aku, kalau sama Aa mumuy atau kak Ala om seperti keluarga, gak segan-segan aja saja, tapi kalau sama aku om kayak...gimana ya ngomongnya..kayak sedikit nganggep orang asing gitu. Kayak tetangga tapi gak akrab."
Heru menghela nafas berat sambil memijat pelipisnya menutupi serba salahnya.
" Memang om sama kamu tuh rada kagok, Yin."
" Kagok kenapa?"
" Om ngerasa kami sering merepotkan kamu."
Zayin mengernyitkan dahi tidak paham." Kapan?" Karena memang Zayin tidak pernah merasa direpotkan.
\* Oleh segudang rengekan Adel, dan tuntutan kak Edel sama kamu selama hamil ini."
" Kenapa om Heru yang gak enakan, para pelakunya aja gak tahu diri gitu ngerepotin aku." Sungut Zayin.
Heru terkekeh." Karena mereka gak terbebani, om yang merasakan itu. Mereka itu tanggung jawab om."
" Zayin mengangguk-angguk." Pasti Allah lahir batin ya, om. Dikelilingi duo cerewet dan banyak tingkah itu." Ucap Zayin paham. Kerena dirinya sendiri terkadang meras kewalahan meladeni duo perempuan cantik itu.
" Makanya om minta maaf..."
" Ck, aku gak ngerasa direpotin om. Om tahu sendiri aku gimana, kaku aku gak mau yang aku gak bakal ngelakoninya."
" Ayah, apa Aa Ayin udah pulang?" Tanya Adelia sambil mengucek matanya. ,Di belakangnya eidelwei dengan muak bantalnya berjalan ke arah Heru.
" Ini aku udah datang." Zayin mengambil ranselnya, lalu mengeluarkan boneka pesanan Adelia, dan memperlihatkannya pada
Seketika wajah kuyu itu berubah bersemangat. Ia berlari langsung menuju Zayin.
" Makacih Aa Ayin." Teriak Adelia seraya memeluk boneka kelincinya.
Zayin mendudukan Adelia ke atas pangkuannya.
" Kok kebangun, gak sabaran banget " ucapnya lembut.
" Kebangun bukan karena boneka, tapi karena dedek bayi dalam perut mama. Adel gak suka." Ucap Adelia cemberut.
Zayin yang semual menampilkan wajah lembut berubah dingin tanpa senyum sama sekali, mantap Adelia tidak suka.
Adelia yang menyadari raut Zayin menegang menunduk dalam, meski dia tahu mengapa, tapi dia tahu lelaki tampan itu amarah padanya.
" Maaf." Lirihnya.
Eidelwes yang bersandar nyaman di dada suaminya sedikit menegakan tubuhnya agar bisa memerhatikan dia insan beda usia saling melengkapi itu.
" Maaf kenapa? Adel tahu kesalahan Adel di mana?"
Adelia menggeleng pelan," Adel cuma tahu gak mau Aa marah."
Zayin mendudukan adleia ke atas sofa, ia berjongkok di depannya.
" Kenapa Adel gak suka dedek bayi?"
" Karena mama gak sayang Adel lagi."
" Kenap bsia mikir kayak gitu."
" Habis mama gak lagi bikinin adle sarapan atau makan lagi. Katanya dedek bayinya gak suka cium bumbu dapur."
" Selain soal makan, apa perhatian mama ke Adel berubah?" Adelia menggeleng.
" Berarti adik bayi sayang kakaknya. masa disayang gak mau." bujuk Zayin.
__ADS_1
" Emang?"
" Iya, buktinya adik bayi rela berbagi mama sama kakak, kalau orang lain di pagi hari mual, tapi mama enggak. Adik bayi pengen mama nemenin kakaknya sekolah."
" Terus sekarang Adel gak suka orang yang bakal sayang banget sama Kakaknya."
" Kata Ical, kalau ada dedek bayi, mama ayah bakal berkurang kasih sayangnya buat aku."
" Gak begitu, mama dan ayah pasti tetap sama sayangnya bahkan lebih.hatinroang itu kayak karet yang bisa melar sesuai isinya. Walau ada adek bayi, hati mama sama ayah melebar karena cintanya makin besar buat kalian."
" Beneran?"
" Iya, benar."
" Gak bohong?"
" Bohong itu gak baik, Adel. dosa."
" Jadi mama ayah masih sayang Ade" tanyanya pada kedua orangtuanya.
" Pastinya." Jawab keduanya.
" Paham?" Tekan Zayin.
" Paham. Adel sayang Aa Ayin."
" Aa Ayin juga sayang Adel. Sekarang Adel tidur lagi."
Heru mengambil alih Adelia ke dalam gendongannya, membawanya ke kamar.
" Yin, maaf ya kamarnya dipake kita." Sesal Edelweis.
Sejak kedatangan mereka ke Tangerang, rumah Aida praktis dikuasai Hartadraja yang hampir semuanya berkulit dalam satu rumah.
" Sans, kak."
" Yah, kita aja yang tidur di ruang tamu. Ayin tidur di kamarnya."
" Ck, jangan drama. Mana ada kayak gitu.orang macam apa aku yang biarin kalian tidur di sini?"
" Udah balik ke kamar, aku mau tidur." Zayin menumpuk bantal sofa untuk ia tidur.
Setelah memastikan keluarga yang penuh drama itu, Zayin pergi ke gudang, di sana dia mendapati para tawanan yang sudah tidak berbentuk lagi rupanya dengan Mumtaz berdiri di depan mereka dengan tangan mengepal penuh darah ditemani Rio.
" Ada apa?" Tanyanya pada Rio yang tengah fokus pada sebuah gambar peta Indonesia di laptopnya.
" Mereka gak mau ngaku di mana saja posisi senjata Navarro."
Zayin menghampiri ketiganya, mengambil handuk kecil yang terselip di kursi entah milik siapa untuk membalut tangannya yang akan bekerja sebentar lagi.
" Kalian tahu, siapa saya kan?" Mereka mengangguk gugup.
" Tugas kalian mengamankan negara, tapi disaat negara terancam, kalian justru yang membuatnya demikian."
" Kami diancam keluarga kami akan disakiti oleh dia."
" Dan menurut kalian keluarga kalian aman jika kalian berseberangan dengan RaHasiYa? 1diot namanya mencari perkara dengan RaHasiYa."
" Beritahu kami atau kalian mampus." Zayin melayangkan satu pvkulan kuat tepat mengenai rahang pria kurus kecil diantara para rekannya
Pria itu berteriak mengaduh, dia merasa kepalanya hampir copot dari lehernya.
Zayin kembali berposisi hendak menghaj4r, saat pria berkulit coklat menghentikannya.
" Baiklah\_baiklah, kami akan mengatakannya. Tolong kalian jamin keselamatan keluarga kami." Pintanya.
" Ogah, kalian yang berulah kenapa kami yang repot." Jawab Zayin melepas handuk kecil yang terdapat bercak darah.
" Yo, katakan pada Matunda RaHasiYa mengudang Navarro." ucap Mumtaz
" Okay." Berita itu tidak hanya diberikan pada Matunda, tetpai juga pada petinggi RaHasiYa lainnya tanpa sepengetahuan Mumtaz.
\*\*\*\*\*
Di Seberang sana Navarro tertawa terbahak-bahak luas atas kinerja Matunda yang berhasil menerobos pertahanan gedung RaHasiYa.
" *Good job*, Matunda. saatnya kita beraksi diwaktu mereka kembali ke Jakarta dari pencarian para wanitanya."
Matunda merotasikan bola matanya malas, obat cair berupa obat halusinasi buatan Zahra sejenis n4rkoba yang dicampur dalam obat yang dimasukan ke dalam infusan-nya sepertinya beraksi sempurna.
Dalam pikirannya Navarro seperti berhasil mengendalikan keadaan, karena itu adlah impiannya.
Obat itu akan mengambil alih pikiran sesuai dengan keinginan hatinya. karena obat itu imun tubuh semakin menurun.
tanpa disadari Navarro tubuhnya yang berbalut perban khusus yang menyelimuti seluruh tubuhnya sudah ringkih kurus.
" Beritahu saya ketika mereka menginjakan kaki di Jakarta."
" Baik, tuan."
" Dalam waktu bersamaan aktifkan semua rudal."
" Maaf, untuk itu Mateo yang bisa melakukannya. anda harus merekrutnya kembali."
" APA?"
" Selama ini anda hanya mempercayakan perihal senjata anda pada tuan Mateo, saya bisa saja mencari kodenya tapi memakan waktu, tuan. dana akan memperlambat tujuan anda."
wajah Navarro memerah, ia sekuat tenaga menahannya, dan itulah yang membuat kekebalan tubuhnya melemah." Ck,..."
Navarro mengambil nafas, menahannya, laku perlahan menghembuskannya. cara yang didapatkan dari Matunda, dan sejauh ini berhasil.
Tanpa dia sadari setiap tekanan dalam penarikan nafas memperkecil rongga jantung dalam memompa metabolisme tubuh...
__ADS_1