Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
Bab 93. Kembalinya Target.


__ADS_3

Dibawah siraman hujan lebat dibarengi Guntur yang menggelegar,  di atas peti kemas yang paling sudut terdapat seseorang dengan posisi tengkurap sudah siap membidik, matanya memicing fokus di depan teleskop senjata jarak jauhnya mengarah pada satu pria tegap yang disinyalir sebagai kepala BNN mengikuti instruksi dari saluran seberang.


Begitu tangannya bergerak hendak menarik pelatuk, ada satu tangan dari arah belakang mencekik lehernya memegang sebilah belati yang ujungnya sedikit menancap ke lehernya.


" Kau tarik pelatuk itu, ku buat kau cacat seumur hidup." Desis datar Zayin penuh ancaman.


Penembak itu mengangkat tangannya, Zayin menduduki dirinya untuk mengunci pergerakan lawan.


" Siapa kau?" penembak mencoba melihat wajah sang penahan guna mengulur waktu mencari celah.


" Lo yang tak diundang di sini." Ujar Zayin tertutup penutup wajah.


Sang penembak melihat celah, karena kuncian Zayin yang belum sempurna. Penembak bergegas membalik badan lalu memukul dada Zayin hingga terjungkal, dia langsung berlari hendak melompat antar peti kemas, namun Zayin dengan tersenyum smirk langsung memutar tubuhnya lalu dalam posisi menyamping matanya terfokus sasaran lantas melempar belati yang berhasil menancap di area tulang kering lawan


" Aaaaaakkkhh." Jerit sang penembak terpincang-pincang sebelum ambruk seraya memegangi kakinya yang tertusuk pisau.


Aura mengintimidasi ditengah hujan dengan tatapan tajam berjalan dengan yakin nan tegas mendekati penembak lalu dengan tenang menendang rahangnya kuat hingga terjengkang.


Setelahnya ia berdiri menjulang di depan penembak yang masih meringis kesakitan," gue sarankan lo kooperatif dalam investigasi kelak jika tak ingin Alika, putrimu yang lucu itu menangisi kepergian ibunya. Keluargamu sudah kami tahan." Ucapnya tenang, namun penuh peringatan.


Penembak tersebut terkejut, " kau hanya menggertak." Lirihnya menahan sakit, dengan susah payah mencoba merubah posisi menjadi duduk, satu tangannya mencari sesuatu di sepatunya, bergerak tanpa menarik perhatian ia mengambil sebutir pil yang hendak diminumnya, pil yang selalu dia bawa dimanapun dia ditugaskan karena mampu menghentikan detak jantung selama sepuluh jam hingga dinyatakan tewas, setelahnya dia akan kabur, itulah rencananya.


Dari ujung matanya Zayin menangkap pergerakan tak kasat itu, ketika tangan itu bergerak cepat menuju mulutnya Zayin menendang tangan penembak hingga pil itu terlempar lalu menginjak area betisnya.


" AAAARRGGGHHH." jeritnya meraung melawan kerasnya suara hujan di yang beradu dengan peti kemas.


Zayin melempar tabs ke pangkuan penembak yang memutar keluarga kecil penembak sudah ditahan.


Wajah penembak pucat pias, menatap Zayin meminta kepastian.


Zayin mengedikan bahu," bukan tugas gue meyakinkan Lo, istri Lo bernama Erlina bukan!?" Ritorisnya tenang namun penuh mengancam.


Terdengar kedatangan beberapa orang berseragam yang sama dengan seragam yang Zayin kenakan, dan langsung berpencar menyisir TKP.


Seseorang yang dipilih sebagai ketua pasukan mendekati Zayin," good job, By"


" Siap, hmm." Dengan santai Zayin melenggang meninggalkan area. Sang penembak menatapnya tajam sampai Zayin menghilang.


" Hiisshh, kalau dia gak bermanfaat udah gue bejek jadiin rujak." Dumel sang Kapten yang mendapat kekehan geli dari anak buahnya yang lain.


" Sabar, Bang, hidup itu ujian salah satunya dia." Seru temannya yang sibuk mengamankan bukti.


" Bawa tahanan."


" Siap." Jawab dua orang yang menggiring sang penembak.



" Dan, kenapa kita gak ikut caper seperti yang lain, masuk tv gitu!" Celetuk Zayin pada atasannya.



Pasukan yang bertugas kini berada di ruang evaluasi kerja guna mengapresiasi kinerja pasukan dalam menggagalkan penyelundupan narkoba terbesar sepanjang sejarah.



" Sejak kapan kamu mulai suka pansos?" Sarkas komandannya mengerutkan keningnya heran, pasalnya anak buahnya yang satu ini hampir tidak memperdulikan apapun selain latihan dan tugas.



" Sejak ada orang oon yang ngomong kalau tentara itu kerjaannya tidur melulu." Judesnya kesal.



" Cih, baperan kamu, daripada ngebaperin itu orang mending beperin anak Mayor yang tiap hari ngasih kamu makan."



Mata Zayin langsung mendelik kesal pada komandannya." Ribet, Dan. yakin itu anak Mayor?"



Sang Komandan menaikan sebelah alisnya bertanya," menurut KK sih begitu."



" Tapi kok dia gak ngerti bahasa manusia, saya udah beberapa kali nolak dia dari bahasa halus sampai kasar, tu orang kok gak mudeng-mudeng. Dia jelmaan kali, Dan."



" Hahahaha." Derai tawa memenuhi ruangan.



" Lo sih, Yin. Pake acara nolak dia, dia tuh primadona sini loh." Ujar salah satu seniornya.



" Ck, ya udah buat Abang aja. Bagi saya perempuan itu makhluk paling ribet sedunia yang harus dijauhkan kecuali jodoh saya." Cengirnya menarik turunkan alisnya.



" Dapat jodoh darimana Lo, dideketin aja udah kabur." Timpal sang senior lainnya.



" Jodoh itu bukan untuk dicoba atau dicari, Allah udah nyiapin yang penting do,a dan ikhtiar menjadi pria bertanggung jawab."



Semua orang terdiam dengan perkataan bijak Zayin yang teramat jarang ini.



" Cih, kalian sampai terpesona gitu sama gue, gue tahu gue kereen, bang. tapi gak perlu takjub begitu, gue gak mau kalian sakit hati waktu gue tolak."



Berbagai dengkusan, sumpah sarapah, decakan mual terlontar dari satu regunya itu yang diabaikan Zayin.



" Udah, udah. Sepertinya otak Zayin mulai konselet, jadi kita bubar."



" Siap!" Jawab mereka serempak membubarkan diri.



\*\*\*\*\*\*


Begitu sampai di kosan Tamara langsung menghempaskan tubuhnya di atas kasur dengan raut wajah geram dan kesal membayangkan melayangnya segala fasilitas mewah yang akan dia dapatkan jika narkoba itu berhasil masuk Indonesia.



Treeet...treet.



" Hallo." Sapanya dengan malas.



" Hallo Tamara, kenapa kali ini gagal juga? Bukankah kau menjanjikan kesuksesan untuk pengiriman ini?" Tanya seseorang diseberang saluran dengan marah yang tertahan



Tamara langsung menegakan tubuhnya menjadi duduk, dia periksa id penelpon dan langsung waspada.



" Omh, Mara juga gak paham kenapa bisa gagal padahal semuanya sudah terencana dengan baik." Belanya.



" Tak ada alasan Tamara, gara-gara ini kami rugi trilyunan, kau membuatku marah, sangat marah." Sambungannya ditutup sepihak yang membaut tubuh Tamara gemetar ketakutan.



\*\*\*\*\*\*\*



 Berjam-jam sudah Tia duduk lemah di sofa ruang tamu yang temaram hanya bercahayakan pijar lampu meja.



" Kenapa jadi begini? Kenapa tidak ada yang memahamiku?" Lirihnya mengusap wajah gusar.



" Mama, apa salah kalau Iya ingin menjadi menantu yang baik?" Lirihnya ditengah tangisnya yang pecah. Sendirian!!



\*\*\*\*\*



Tak ada kata yang terlontar dari mulut Mumtaz semenjak dia masuk rumah dan langsung menuju ruang kontrol dan mengutak-atik komputernya tanpa menghiraukan keberadaan Daniel, Alfaska, dan Bara. 



" Muy, shalat dulu, yuk. Udah jam lima." Seru Alfaska.



Mumtaz terdiam, ia menatap ketiga sahabatnya." Gue tol\*l ya ngebentak kak Ala." Ucapnya dengan lesu.



" Shalat dulu baru kita bahas." Ajak Daniel menarik tangan Mumtaz, Bara sudah berdiri diambang pintu yang terbuka.



Keempatnya memasuki rumah sambil mengernyit bertanya dengan keributan di ruang tamu.



" Kalian, kenapa?" Tanya Bara pada para sahabatnya yang memutuskan tetap tinggal, Mereka menoleh ke arah suara.



" Kita lagi sewot, semalam Indonesia diselundupkan jutaan ton narkoba dari mexico. Amajing gak tuh." Kesal Raja yang masih menonton berita di televisi.



" Tu orang kenapa gak rusak bangsanya sendiri sih pake noel Indonesia segala, salah kita apa sehingga mereka begitu tega?" Cerocos Juan Mendramatis.



"  Karena mereka pedagang, apa yang bisa Lo lakuin buat cegah narkoba gak laku dijual di Indonesia?" Pertanyaan Daniel membuat mereka terdiam.



" Kan ada BNN!?" Sahut Juan ragu-ragu.



" Ck, Lo pikir BNN bisa ngurus semua peredarannya? Indonesia luas, warganya buanyak banget. Nyokap Lo ngurus Lo sama saudara Lo aja keteteran gimana sama BNN yang warganya 272 jutaan." Ceramah Alfaska.



" Kak Ala pulang, gak?" Tanya Mumtaz yang sudah berdiri di tangga bawah, mereka serempak menggeleng, Mumtaz membuang nafas berat.



"Jal, pesen makan ke nyokap Lo, sarapan mewah kita. Khusus buat kak Ala menu komplit." Ujarnya ke Rizal yang langsung diangguki.



" Muka bang Mumtaz datar banget, kayak jalan aspal." Bergidik Juan.



\*\*\*\*\*



" Allahu Akbar." Zahra memegang dadanya karena kaget mendapati tiga pemuda yang tidur acak di ruang tamu, tanpa suara menuju dapur yang langsung menggelengkan kepala melihat dapur yang berantakan.



Lima bungkusan mie serta bungkus bumbunya berceceran dimana-mana, belum lagi talenan, alat masak, dan kotak pizza yang semula di dalam lemari es terbuka di atas meja pantry dengan menyisakan satu slice saja.



" Sabar Ala, Sabar. Orang sabar disayang pacar." Gumamnya sambil memberesi dapur.



Mengingat jadwal hari ini, Zahra segera memasak sarapan untuk mereka.



Sebelum berangkat Zahra membuat catatan di note yang ditempel di lemari es.



***Bersihkan semua ruang apartemen, sarapan sudah tersedia. Pastikan apartemen  aman sebelum pergi***!!!!!



Tanpa semangat Zahra membuka pintu ruang prakteknya, gerakannya terhenti kala mendapati Hito duduk di sofa.


Hito beranjak menghampirinya, menariknya lembut lalu menutup pintu. Membawanya ke sofa.

__ADS_1


Hito menatap intens Zahra, " Aku dapat info dari Adgar tentang kejadian semalam, kenapa gak datang padaku?"


Sebelum menjawab, Zahra menatap Hito dalam. ia ingin menjadikan Hito sebagai sandarannya, namun kebencian nenek yang mencegahnya. Ia mengusap wajah Hito dari kening, mata, hidung, turun ke bibir, dagu, dan menangkup rahangnya dengan kedua tangannya yang mungil. Lalu memeluknya erat seakan ingin mengeluarkan segala kelelahan bathinnya.


Hito mematung terlalu terkejut, pasalnya ini pelukan pertama mereka. Dengan ragu Hito mengusap kepala Zahra,


" Begitu berat bebannya ya, mau diomongin gak?" Ucapnya lembut, Zahra menggeleng.


" Aku harap aku berhak atas pundakmu." bisiknya, Hito mengangguk.


" Tentu, selain keluarga cuma kamu yang berhak." balasnya.


Setelah berapa lama Zahra mengurai pelukannya, sedikit menunduk karena malu.


" Kak, usiaku hampir 27 tahun, usia yang cukup matang untuk menikah,..." Zahra berhenti bicara kepalanya tambah menunduk tak mampu menatap Hito.


Dengan menarik nafas dalam Zahra mengangkat kepalanya tegak,"... tapi itu sulit dilakukan kalau aku masih bersama kamu, lebih baik kita pis...." Hito menutup mulut Zahra dengan tangannya.


Hito menatapnya tajam," aku gak ingin dengar kelanjutannya, aku gak akan sudi pisah sama kamu. Apapun masalahmu kita bicarakan."


" Tapi nenek,..."


" Aku gak perlu restu nenek untuk menikahimu, mama dan papa sudah sangat menyukaimu, aku yang gak paham kenapa kamu kekeuh ingin restu nenek!"


Tok..tok...


Suster Reni membuka pintu," maaf tapi pasien sudah menunggu." Serunya.


" Iya, suruh mereka masuk." Zahra beranjak ke meja kerjanya."


" Nanti pulangnya bareng aku."


" Aku ke gedung Hartadraja. Ada rapat dengan Adgar."


Hito mengangguk." Aku jemput, kita makan siang bareng. Gak ada penolakan " tegas Hito begitu Zahra membuka mulutnya.


Hembusan nafas berat dikeluarkan Zahra begitu Hito keluar dari ruangan.


" Dok, apa bisa dimulai?" Tanya Reni dengan menyembulkan kepalanya di pintu.


" Ya, mulai." 


*****


" A...," Tia berdiri dari duduknya kala melihat Alfaska, sudah satu jam ia menunggu Alfaska di koridor gedung Sains dan Teknologi.


Alfaska berhenti tepat di depan Tia." Kenapa semalam tidak pulang?"


" Nemenin Aa Mumuy, dia gak baik-baik saja."


" Aku juga gak baik, kenapa gak nemenin aku?"


" Kenapa kamu menjadi tidak baik? Bukankah ini yang kau inginkan dia membenci kak Ala."


Tia berdiri resah sambil memilin-milin tangannya," Bu...bukan begitu maksudnya. Hanya saja kak Ala selalu protes semua tindakan aku."


" Karena perbuatan kamu memang tidak baik, seharusnya kamu bersyukur masih ada yang mengingatkan."


Tia berdiri tegak, tidak menyukai ucapan suaminya," kenapa Kakak bela kak Ala? Aku istr..."


" Stop, lebih baik kamu pergi kalau hanya untuk berantem, dan aku gak akan pulang sebelum kamu kembali pada dirimu sendiri." Tukasnya kemudian melanjutkan langkahnya meninggalkan Tia yang masih berdiri mematung syok.




Ditengah hiruk pikuk kegaduhan penghuni kampus di jam istirahat yang memenuhi kantin Mumtaz seakan sendiri. Dia hanya mengikuti alur gerak para sahabatnya tanpa perasaan.



" Kak, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Sisilia hati-hati.



Mumtaz melirik Sisilia sekilas, lalu tersenyum sambil mengangguk," iya, semua okey." Gumamnya tak pasti hanya ingin meyakinkan diri sendiri.



" Kalau mau cerita, inget, ada aku."



" Iya, Lia. Tentu." Ucapnya sembari tersenyum.



" Mumtaz." Riana datang bersama Divanya sambik membawa nampan.



" Boleh aku duduk di sini?" Tanyanya lembut, matanya melirik Sisilia tidak suka.



" Silakan." Jawabnya dengan anggukan kepala.



" Apa kamu sudah makan?"



" Sudah."



" Habis ini kita ke BEM-nya bareng ya." 



" Ngapain?"



" Yuda belum kasih tahu kamu kalau kita ada rapat?"



Mumtaz membuka wa group BEM, lalu menelpon Yuda tak lama ia menutup sambungan telponnya.



" Gimana? Apa kita harus ke BEM?" Tanya Sisilia pelan.



" Enggak, cuma pengurus inti saja, ada undangan Pema gabungan antar univ."



Riana melihat kedekatan Sisilia dengan Mumtaz, dan dia tidak suka.




Sisilia menunduk malu, sedangkan Mumtaz santai tak merespon pertanyaan Riana hanya tangannya yang menggenggam tangan Sisilia yang menguatkannya.



" Angkat kepala kamu, Kita pulang sekarang?" Sisilia mengangguk.



" Lia nongkrong yuk ada cafe baru loh? Dista tiba-tiba berdiri di samping kursi Sisilia, matanya melirik sengit Riana yang bersikap santai sibuk dengan makanannya.



Sisilia melirik Mumtaz, Mumtaz mengangguk. Dista menengadahkan kedua tangannya pada Mumtaz.



" Apa?"



" Fulus."



" Lah? Ke Daniel sana." 



" Masih ada kuliah."



" Ck." Mumtaz mengeluarkan dua lembar seratus ribu" 



" Kurang. Buat empat orang."



" Mana ada, Tia sama Cassy nya aja gak ada."



" Ini mau nyusul mereka."



" Ck. Ni." Tiga lembar seratus ribu dikeluarkan, tetapi Riana mencegahnya, namun ditepis oleh Mumtaz.



" Gak usah Mumtaz. Kamu yang mau nongkrong, kenapa Mumtaz yang ngeluarin duitnya?" Tanya sengit Riana.



Dista menatap Riana." Siapa Lo ngelarang kak Mumtaz, dia aja oke-oke aja."



" Orang dia gak mau." 



" Kita tanya aja orangnya langsung."



" Kak Mumtaz keberatan duitnya aku pinta?" Tanya Dista polos, Mumtaz menggelengkan kepala.



" Ni, ambil. Have fun." Tukas Mumtaz tenang. Dista tersenyum pongah



" Dasar cewek gatelan." Omel Riana. 



Dista menatap nyalang Riana," Lo lagi ngomongin diri sendiri? Berulangkali ditolak, tapi masih aja ngedeketin."



" Lo..." Mata Riana melotot tajam.



" Apa?" Tantang Dista dengan mengangkat kepalanya congkak.



" Ita, udah. Jangan diladeni. Biar Kakak yang urus." Radit mencoba menengahi.



" Beneran?"



 Radit mengangguk gemas." Iya."



" Cepat susul si embul sama Tia. Bang Bara udah marah-marah gagal uwuan Ama Cassy."



" Oke, dadah."



Selepas Dista dan Sisilia pergi Riana tanpa tahu diri protes manja pada Mumtaz." Kamu jangan terlalu memanjakan Dista, kan jadinya gau tahu diri dia." Tajuknya manja.



Mumtaz dan para sahabat mengerutkan dahi.



" Lo yang gak tahu diri, PERGI!" Bentak Mumtaz diakhir kata yang membuat penghuni kantin memeperhatikan mereka.

__ADS_1



Tak lama, Alfaska dan Daniel datang ke meja itu, mereka mengernyit karena ada Riana.



" Lo pdkt sama dia, Muy? Stres lo" Sarkas Alfaska duduk di samping Mumtaz.



Riana mendelik, dibalas delikan kembali oleh Alfaska.



" Daniel, jaga cewek Lo. Jangan minta duit mulu sama Mumtaz. Katanya anak konglomerat, 


Tapi sikap gembel."



" Lah kenapa Lo yang sewot, Lia aja yang ceweknya pasti biasa aja, Lo siapanya Mumtaz berhak marah-marah." Telak Daniel duduk santai di seberang Mumtaz, tempat Radit yang sekarang sedang beli seblak.



" Apa Lo gak malu duduk di sini? Ini cowok semua loh."  Sengit Alfaska.



" Kenap lo yang keberatan, ini meja Mumtaz."



" Dih bego, ini tuh inventaris kampus."



" Ngapain Lo di sini?" Tanya Bara yang baru datang dari arah belakang Riana.



Sebenarnya dari tadi Divanya sudah menarik-narik baju Riana agar pergi dari sana, tapi Riana yang keras kepala mengabaikannya.



" Tadi dia ngehina Ita, Bar." Ungkap Mumtaz santai, Riana membolakan mata tak menyangka Mumtaz akan mengadukannya.



" Apa kata dia?" Bara dengan tega menyuruh Divanya berdiri dari kursinya bergantian dengannya.



" Biasa julid."



"Mata Bara memicing padanya," apa gue mesti bikin keluarga dia gembel dulu baru dia insyaf!?"



" Terserah sih."



" Pergi Lo. Dalam hitungan tiga Lo gak pergi, gue beneran bikin keluarga Lo gembel." kata-kata yang mampu membuat Riana beranjak pergi.



\*\*\*\*



Mereka berempat kini sudah berkumpul di ruangan Ibnu, sewaktu di kantin dia mengirim pesan pada Mumtaz agar ke RaHasiYa.



" Yang lapor pengiriman narkoba itu dari ID Dewa, bekerjasama dengan Dimas." Mereka mengernyitkan dahi bingung.



" Dia menyadap ponsel Tamara?"



" Kenapa?" Tanya Daniel, Ibnu mengedikan bahunya tak tahu.



" Sekarang beberapa oknum di kepolisian sedang mencari identitas pembocor info tersebut.



" Sudah Lo tangani?" Ibnu mengangguk.



" Bukannya Kapolri sekarang agak bisa dipercaya?" Alfaska penasaran.



" Baru agak! Lihat aja setahun kedepan." jawab Ibnu.



" Tapi ini keterlaluan juga sih, jutaan ton, Men."



" Apa yang ingin Lo lakuin?" Tanya Ibnu.



" Gak ada, gue udah bayar pajak besar ngapain musti sibuk ngurusin ini. Enakan mereka dong makan gaji buta." Sewot Alfaska.



" Gue juga dapat info kalau Gonzalez otw Jakarta, sebelum kesini dia menghubungi beberapa Dewan." Wajah Ibnu menatap Alfaska, namun matanya melirik Mumtaz.



" Serius Lo?"



" Hmm."



" Nu, Lo yang nutupi keberadaan kak Ala?" Tanya Mumtaz to teh point.



" Iya, Kak Ala yang minta."



" Sialan Lo, pantesan gue gak bisa nemuin, gimana keadaannya?"



" Dia aman."



" Kenap gue bisa bentak dia ya?"



" Padahal kak Ala baru dapat hinaan dari nyonya Sri. Itulah mengapa dia marah sewaktu Tante Sandra mengambil alih wilayahnya." Telak ibnu



" Tante?" Tanya Daniel.



" Sorry, gue gak bisa manggil beliau Mami.



" Its okey, gue kalau memungkinkan juga bakal manggil beliau Bibi, supaya sama panggilannya sama mbak-mbak di rumah." timpal Alfaska.



\*\*\*\*\*



di ruangannya Mumtaz menatap layar lebar yang menampilkan sosok Gonzalez yang baru keluar dari area bandara Halim Perdanakusuma dibawah pengawasan beberapa anggota TNI AU yang menyamar menjadi penumpang sipil biasa.



ia tersenyum smirk dn gan tatapan menantang," *welcome back*, Gonzalez. jemput maut mu mulai sekarang." desisnya mengancam mengepalkan tangannya menahan omosi.



\*\*\*\*



dibelahan benua Amerika satu kotak paket telah diterima oleh kartel terbesar di Mexico yang terkenal kejam Sinolan Jaquino, Alejandro Gurman.



Ia sangat terkejut dengan isi paket tersebut, berisi tentang silsilah Eric Gonzalez-Gurman besrta bukti-buktinya



" Darimana pengiriman paket ini?"



" Dari Indonesia, atas nama RaHasiYa." seru asistennya.



" RaHasiYa, sudah berani menyentuh keluarga Gurman."



" Hubungi mereka."



Tak lama, muncullah wajah Mumtaz dari seberang.



" Saya salut kalian berani memasuki Sinolan Jaquino." sapa Alejandro.



" Tak perlu berbasa-basi, saya bahkan tahu jika Guadalupe, istri tercinta anda sekarang ada di Indonesia."



Alejandro terperangah," HAH, apa anda sedang mencoba menipu saya? istri saya sedang berlibur ke Las Vegas."



" Itu benar, tapi hanya tiga hari, sejak kemarin dia ada di Indonesia menjemput kekasih sejatinya." sindir Mumtaz yang langsung menayangkan posisi Guadalupe yang berada di sebuah hotel bertemu dengan nenek Sri.



Wajah Alejandro memerah, menahan amarah," di paket tersebut juga saya selipkan flash disk yang memuat bukti konkret jika dia hanya memanfaatkan diri anda untuk mencapai tujuannya, yaitu membunuh cucu kandung anda, Raul Ramos Gonzalez."



" Cucuku ada di sini."



" Apa maksud anda, Rodrigo?" sebaiknya anda lakukan tes DNA, meski dalam flash disk tersebut sudah saya buat rekam jekak medis yang mencantumkan DNA Rodrigo. dia keturunan dari pria lain kekasih gelap Guadalupe. ingat sebelum anda menikahinya dia seorang pel\*cur. Sampai jumpa." Mumtaz memutus sambungan videonya.



" Carlos, buka flash disk ini." ucap Alejandro tegas.



di laptop tertayang semua hal tentang Guadalupe dan Eric.



tring!!! masuk satu notifikasi pesan.



" ***Hentikan pengiriman narkoba dan senjata ke Indonesia, jika kau abaikan ku hancurkan seluruh gedung Sinolan Jaquino***!!! RaHasiYa!!!



" Carlos, kau cari info apa kita mengirim narkoba pada Indonesia?" titah Alejandro tegas.



berselang 15 menit, Carlos memasuki ruang kerja Alejandro," benar tuan, sinolan Jaquino telah melakukan beberapa kali pengiriman yang berakhir gagal, termasuk yang terakhir memuat jutaan ton narkoba atas titah tuan Eric."

__ADS_1



" Sialan, ternyata pengkhianat ku, seseorang yang kukira anakku ternyata bukan anakku,..."


__ADS_2