Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
Bab 149. Putar Keadaan Untuk Navarro.


__ADS_3

Warning 21+


Pesta itu berjalan meriah, restoran Dennis diubah menjadi dance floor dengan musik yang menghentakan telinga


Para orang tua yang berkumpul di ruang privat hasil dari gabungan beberapa ruangan yang dilepaskan sekatnya hanya menggeleng melalui dinding kaca melihat keliaran anak RaHasiYa dan anak Gaunzaga yang membaur mengikuti musik.


Fatio dan Ernest duduk bersampingan di meja bulat yang penuh hidangan menggiurkan.


"Ernest, saya dapat salam dari RaHasiYa agar kamu menyingkirkan Amara dari kehidupan mu." Fatio enggan berbasa-basi.


" Kenapa?"


" Karena kemungkinan besar dia terlibat dengan kasus Gonzalez dan Navarro, mereka berdua musuh RaHasiYa. setahu saya RaHasiYa akan membabat habis siapa saja yang bersinggungan dengan musuhnya."


Umpatan tidak senonoh terlontar dari mulut Ernest tanpa rem, sampai beberapa tamu menoleh padanya.


Ernest hanya membalas mereka dengan kekehan tanpa merasa bersalah.


" Apa dia berharga untuk kamu."


" Mana ada wanita mur4h4n berharga, cuma sayang saja, goyangan dia dahsyat, men." kelakar Ernest.


" Pake vi4gra saja belagu." cibir Fatio.


" Sembarangan, masih kuat gue threesome juga."


" Gimana, dipertahankan atau berhadapan dengan RaHasiYa?"


" Lepaslah, wanita seperti dia masih bisa saya dapatkan di mana saja. Perusahaan, susah untuk dibangun lagi. gak mau saya senasib dengan Husein."


Ernest menghubungi anak buahnya," singkirkan Amara, sekarang juga. Pastikan dia tidak lagi muncul dihadapan saya." ucapannya santai, kemudian menutup sambungan telpon tersebut.


" Beres, dia sudah tidak sama saya lagi."


Fatio menggeleng kepala," gak berubah juga Lo."


" Masih nikmat, bro." balasnya enteng.


*****


Alfaska menempelkan keningnya dengan kening Tia kala mengakhiri civmannya yang lama dan panjang menyalurkan rasa rindu dan cinta kepada wanita kecintaannya ini.


Alfaska langsung membawa Tia ke hotel saat Daniel mengirim email buka kamar atas namanya meski pesta ulang tahun belum usai.


Ia tidak peduli, yang dia inginkan hanya menghabiskan waktu berdua dengan istri yang telah lama terpisah darinya.


Sesekali kecupan dilayangkan saat ia membuka p4k4iannya, dan membantu Tia untuk melepaskannya juga.


" A,..pelan-pelan nanti robek." keluh Tia menanggapi ketergesaan Alfaska untuk melepas pakaiannya.


Brek...


Tia menganga saat Alfaska merobek tunik-nya lalu melemparnya asal.


" Kita beli lagi, untuk sekarang Aa sudah gak tahan."


Alfaska menggendong Tia ala koala dengan b1b1r saling bergerak meminta lebih, menuju kamar tidur di presidential suite hotel the Ritz-Carlton.


Membaringkan Tia dengan lembut di atas kasur, tanpa buang waktu ia melepas sisa kain mereka hingga polos.


" A, ini sudah tidak lama kita gak berhubungan, bisa pelan-pelan?"


Alfaska mengangguk saja, dari pada tidak jadi.


ia pun mengawali pertemuan kulit itu dengan kecapan lembut di bi-bir ra-num sang istri terus menjalar ke bawah.


Tanpa disadari Tia, tubuh Alfaska sudah berada ditengah kedua kakinya yang melebar karena gerakan lembut dari sang suami.


Jeritan kaget dari Tia saat Alfaska memasukinya, juga mengagetkan Alfaska, ia berhenti sejenak, sebelum kembali bergerak secara perlahan pergumulan panas pun terjadi.


******


Sherly menghela nafas sebelum ia turun dari mobilnya, di teras rumahnya telah berdiri Sandra yang melipat kedua tangan di dada.


" Dari mana mbak baru pulang?" Sandra melihat jam tangannya yang sudah menunjuk pukul satu dinihari.


" Habis dari ulang tahun Afa, mereka merayakannya dengan sukacita terlepas apa yang terjadi dengan Atma Madina hari ini." sarkas Sherly.


Sherly melewati Sandra untuk masuk kedalam rumah disambut kepala pelayan.


Sandra terdiam untuk sesaat," mereka?"


" Top 20 dan rekan pengusaha lainnya yang dibantu Afa dengan perusahaan RaHasiYa-nya."


" Apa Afa..." 


" Tidak, dia tidak menanyakanmu atau mencarimu. Dia nyaman dan bahagia ditengah orang-orang yang menyayangi dan peduli padanya. sepertinya dia sudah terbiasa akan ketidakberadaan dirimu, Sandra." Sherly berkata demikian sambil menatap lurus manik Sandra.


Malam ini banyak informasi yang dia dapatkan dari Hanna maupun para sahabat perihal kehidupan tiga pewaris Atma Madina selama dia koma.


Kecewa sekaligus marah yang Sherly rasakan untuk Sandra saat ini.


" Kenapa mas Aryan tidak mengatakan apapun padaku saat dia pamit tadi?"


" Mungkin karena dia tidak ingin kamu mengacaukan hari bahagia putramu, seperti yang kamu lakukan hari ini." telak Sherly.


Sandra terdiam, " Afa dan Tia sudah kembali bersama." lanjut Sherly.


Mata Sandra berbinar, " benarkah?"


" Hmm, tetapi Tia dilarang untuk berhubungan dekat denganmu lagi."


Sandra terkaget akan hal itu," apa Zahra yang melarangnya?" tanya Sandra sinis.


" Bukan, tetapi Hanna."


" Apa hak dia melarang ku mendekati menantuku."


" Dia lakukan itu sebagai ibunya."


" Aku yang melahirkan Alfaska, bukan dia." hardik Sandra marah.


" Kamu memang yang melahirkannya, tetapi jelas dia yang memberi kasih sayang pada Afa dan Bara selain almarhumah Aida."


" Afa pasti marah..."


" justru ini keinginan Afa." potong Sherly.


Sandra menutup mulutnya kembali saat ingin bicara, namun tidak jadi.


" Malam ini aku melihat dia bahagia, tertawa lepas sambil memeluk istrinya yang selalu dia dekap."


" Aku tidak tahu apa yang terjadi selama delapan tahun masa koma ku, jika dulu telah tejadi ikatan dekat diantara kalian, maka itu sudah terkikis hilang tanpa bekas."


Kerena itu yang Sherly lihat malam ini, faktanya ketiadaan Sandra tidak membuat Alfaska gundah atau sedih. Hanya kegembiraan dan rasa syukur yang Alfaska perlihatkan.


" Semua orang menyayangi dan menghormatinya, dia tidak merasa kehilangan dirimu, baginya sosok orang tua kandung cukup Aryan saja."


Sandra terhenyak, nafasnya tercekat bagai ada oksigen yang ditarik dari tenggorokannya. Sakit, itu yang dia rasakan.


" Pulanglah, ini sudah malam.


******


Sepulang dari pesta, Mumtaz, Ibnu, dan Daniel langsung ke gedung RaHasiYa. Membiarkan Bara melampiaskan semua emosi marahnya kepada Nia dengan layangan tangan ringannya tanpa jeda.


Nia sudah terkulai tidak berdaya di pegangi oleh Jeno dan Leon dengan tubuh babak belur, di hadapannya Bara masih berdiri dengan nafas teratur dan tatapan membunuh.


Tidak memperdulikan jeritan memohon ampunan dari keluarganya yang melihat itu semua dari balik kaca ruang sebelah kiri.


Sedangkan Tamara terbaring payah di ruangan sebelah kanan.


Hal itu menyadarkan Nia dia salah perhitungan mempermainkan perusahaan Atma Madina.


" Bar, sudah?" Mumtaz dan Ibnu menghampirinya.


" Belumlah, dia harus m4ti."


" No, kita bisa memanfaatkan dia." Ujar Mumtaz.


" Siram dia supaya kembali sadar." Ragad mematuhi perintah mumtaz


Byur.....


Siraman air dari ember besar membuatnya gelagapan dan tersadar penuh.


Mata Nia menatap nyalang mereka," tuan Navarro akan membalas kalian." Bibirnya melayang senyum devil, meski tipis.


Bara kembali marah mendengar ancaman Nia, dia menamparnya keras-keras, bukannya memohon ampun, Nia malah tertawa.


" Tampar aku, itu tidak akan merubah kebangkrutan Atma Madina. Tuan Navarro akan terus mengusik kalian sampai kalian berhenti mengganggu rencananya."

__ADS_1


" Sepertinya kau ingin seperti Tamara, hmm!?" raut ketakutan terpancar dari iris mata Nia akan ucapan Mumtaz.


Dia melirik ruangan sebelah kanannya, sungguh kasihan penampakan Tamara dengan wajah hasil operasi plastiknya yang rusak akibat cakaran anjing, lengan, dan kaki tergips yang mana balutan perbannya tertembus darah segar.


Untuk mencegah niatan Mumtaz, Bara segera memerintahkan anak buahnya.


" Lakukan sesuatu pada ibunya." Titah Bara.


Nia membelalak sempurna, sial, dia lupa kalau keluarganya ditahan mereka.


" Jangan berani menyentuh ibuku, atau kalian semua binasa." ucapan Nia hanya direspon kekehan cemooh dari RaHasiYa.


Jarud menarik wanita paruh baya nan ayu itu dari tengah keluarganya, sambil menatap sengit Nia, tanpa kasih dia memvkvlinya sampai Bara mengatakan berhenti.


Ibunya dikembalikan ke tengah keluarganya dalam keadaan yang memprihatinkan.


" Kalian biadab, kalian bajingan." Teriak Nia, Bara hanya mengedikan bahu masa bodo.


" Sungguh tuan Navarro akan menenggelamkan kalian ke dasar tanah yang paling bawah jika tahu apa yang kalian lakukan padaku."


" Dia terlalu sibuk mengurus kehancurannya sendiri." Kata Mumtaz santai.


" Kau hanya membual." sergah Nia.


" Terserah, kau bisa lihat sendiri nanti."


" Lakukan sesuatu dengan mulutnya sehingga dia tidak bisa bicara untuk selamanya." Titah Mumtaz.


Para sahabatnya terbeliak kaget.


" Muy,..."


" Kita tidak bisa membiarkan dia atau kita semakin diremehkan." Mumtaz menyela perkataan Daniel.


" Bagaimana dengan keluarganya?"


" kita lepas dengan syarat tidak diperbolehkan menerima Nia kembali atau mereka ikut hancur." Bara yang menjawab sebelum Mumtaz yang bicara.


Sungguh Bara mulai takut Mumtaz berubah seperti dirinya, dan dia tahu Mumtaz akan lebih sadis daripada dirinya, terlalu banyak luka yang Mumtaz pendam. Dia tidak akan membiarkan itu terjadi.


" Apa sekarang kita bisa tidur?" Tanya Ibnu.


" Hmm." jawab Bara.


" Afa lagi ***-***, sementara kita eneg-enegan." Cerocos Daniel.


" Nikahin anak orang, jangan cuma digantung ditunangan doang." Cibir Ibnu yang mendapat delikan tajam dari Daniel.


*****


Menjelang fajar, berbalut selimut Tia duduk di atas sofa panjang sambil menatap keluar kaca.


Dari belakangnya ada tangan yang membawanya kedalam pelukan hangat diantara dinginnya AC kamar tidur.


Alfaska menyelipkan wajahnya diceruk leher lembut Tia, bibirnya mulai bermain-main.


" Sedang memikirkan apa?" Suara beratnya menggelitik titik sensitif Tia.


Tia mengusak rambut Alfaska yang berantakan." Enggak ada."


Tia berdecak sebal, pasalnya bagian atas Alfaska polos tanpa kain.


" Pake baju gih."


" Enggak mau."


" Nanti sakit, masuk angin."


" Ribet, nanti juga dilepas lagi."


" Ck, enggak ada lagi ya!" sewot Tia akan arah pembicaraan Alfaska.


" Satu kali lagi aja!?"


Enggan menanggapi permintaan suaminya, Tia mengalihkan pembicaraan." A, aku bahagia, Aa Mumuy dan Kak Ala merestui kita balikan."


Penjelajahan Alfaska berhenti, itu mencurigakan bagi Tia." Mereka enggak marah, kan!?"


" Aku enggak tahu." Suara Alfaska tenggelam dileher, namun masih jelas terdengar oleh Tia.


Tia sedikit mengurai pelukannya


" A, apa maksudnya?"


" Kita harus segera menghadap mereka."


" Iya, tapi tidak sekarang. Aku masih kangen."


" Ya Tuhanku semalam Aa udah bikin aku gempor ya."


" Dek, kita itu pisah selagi kita terhitung pengantin baru, ya...wajar kalau Aa melepas rindu yang teramat sangat."


" Tapi gak berkali-kali tanpa jeda juga."


" Kamu gak suka?" 


" Bukan begitu, tapi punya akunya sakit, dan sekarang lemas banget."


"Kita pelan-pelan aja."


" Semalam juga bilangannya begitu, tapi mana, yang ada cepat kayak kereta Shinkansen."


" Hahahaha, perumpamaannya Dek, lagi ya...please.." tangannya sudah berkelana setelah menyibak selimut.


" A..h." Tia sudah terpengaruh karena sentuhan suaminya.


" Enak kan. Jangan menahannya, aku aja udah ketagihan."


Alfaska sedikit memalingkan wajah Tia kepadanya yang langsung dia sambar bi-birnya yang sedikit terbuka itu.


" Hmmpt,...ahh..." Lu-matan itu panjang dan bercecap.


Alfaska memakan penuh b1bir itu bagai appetizer, lenguhan tidak lagi bisa ditahan kala tangan Alfaska bergerilya di daerah sensitif atas dan bawahnya.


" Sekali lagi, hmm." Tia hanya mengangguk, dia tidak menampik ini sangat nikmat.


Kerena sudah tidak tahan, Alfaska melakukannya di atas sofa lebar itu, dia langsung memasukinya begitu tahu Tia sudah basah.


Lenguhan, dan ******* saling berlomba dari keduanya ditengah hujaman tusukan Alfaska, percintaan mereka malam ini lebih intens dan berg4irah.


" A...Aa..h..." Lenguhan panjang kala cairan merembes dari intinya.


Pun dengan Alfaska," sa..yha...Ng..." Alfaska menyemburkan benihnya dalam-dalam seiring tusukan yang ia tenggelamkan sepenuhnya semakin dalam di inti istrinya.


" Terima kasih, love you..so much..." Ucapnya sebelum ambruk di atas Tia.


Tia mengusap-usap punggung suaminya lembut.


" Love you till Jannah." Balasnya pelan kerena dirinya sudah tidak bertenaga.


******


" Bagiamana keadaan dia?" tanya Mumtaz saat Jeno dan Nando duduk di kursi depan meja kerjanya.


" Beres, kita libatkan dokter untuk melakukan itu, jadi rapih." Mumtaz mengangguk puas.


" Yakin tidak bisa bicara sama sekali?"


" Yakin, sudah di coba."


Mumtaz mengangguk puas.


" Nando, raport."


" Para politisi mencoba menggunakan insiden Atma Madina untuk mengalihkan animo masyarakat, namun berhasil dibalikkan keadaanya dengan terus melempar bukti kepada media, dan gencarnya bapak Janu dna bapak Agung agar kasus ini bebas intervensi."


" Saat ini desakan dari mahasiswa dan ormas agar dibentuk pengawasan atas kasus ini mendapat dukungan nyata dari masyarakat berupa petisi ketidakpercayaan kepada legislatif dengan memberi contoh kasus terdahulu dimana penguasa mengintervensi kasus yang melibatkan penguasa dan koleganya, beserta keluarganya."


Mumtaz menatap lurus ke dalam netra Nando, yang membuat sang empunya grogi. " Bagaimana dengan Dewa?"


" Sejauh ini dibawah pimpinannya dan Dimas anak RaHasiYa menjalankan tugasnya dengan baik, sesuai instruksi Abang."


" Benarkah?" satu kata yang membuat Nando berkeringat dingin.


" Kenapa Abang terkesan meragukan aku?"


" Bukan meragukan, tapi saya bisa lihat kamu mulai menaruh simpati padanya."


" Tapi aku tidak pernah mengkhianati Abang, hanya tidak ingin dia tersesat lebih jauh mengingat dia tulang punggung keluarga seperti halnya aku." suara tegas dari perkataanya membuat Mumtaz tersenyum.


" Terima kasih untuk itu."

__ADS_1


Entah mengapa tiba-tiba Nando merasa melow dengan empat kata itu, dia menggeleng cepat.


" Demi nyawaku, aku lebih baik mati daripada mengkhianati mu. pegang kata-kataku."


" Tidak perlu segitunya."


" Tapi itu tekadku."


Mumtaz menghela nafas dengan berat," Apalagi yang ingin kamu katakan?"


" Amerika dan Rusia berencana akanmembekukan kekayaan Navarro, seluruh bisnisnya di Eropa dan Amerika terancam ditutup, hanya menunggu waktu untuk dia kolaps!"


" Kapan waktu itu?"


" Kalau Abang izinkan kita untuk memberi bukti langsung kejahatannya."


" Hmm, kita tahan dulu, melihat sikap mereka kepada kita."


" Amerika menawarkan $ 20 juta untuk bukti itu."


" Segitu kecil dibanding kekayaan Navarro yang bisa mereka sita untuk kas negara. Kira tahan sampai ada penawaran yang menarik."


" Bagaimana dengan Indonesia?"


" Bapak Janu dan Bapak Agung sedang mendesak legislatif untuk menekan kepolisian melakukan investigasi keterlibatan Navarro dalam bisnis Gonzalez."


" Hasilnya?"


" Mandek di level kepemimpinan mereka."


" Lempar ke publik kemungkinan keterlibatan wakil ketua dalam kasus Gonzalez."


" Itu beresiko terjadi gesekan sosial semakin besar dan meluas dalam masyarakat, elektabilitas legislatif sedang berada di jurang."


" Bukan tugas kita untuk mengkhawatirkan itu." ucap Mumtaz datar.


Nando menghela nafas gusar," baiklah." ucapnya berat.


Kemarahan rakyat atas skandal 50 politisi saja belum reda, ini ditambah lagi kasus baru. entah apa yang terjadi di Republik ini.


" Kamu istirahatlah." Nando pun meninggalkan ruangan Mumtaz dengan bahu terkulai lemah.


" Jeno, maaf gue harus merepotkan Lo lagi."


Jeno berdecak tidak suka," apa yang Lo mau?"


" Bawa Nia dan Tamara ke tempat menginap Navarro, berikan surat ini kepadanya." Mumtaz mendorong amplop putih ke hadapan Jeno.


" Harus diperbaiki dulu gak penampilannya?"


" Seadanya saja, setelah itu Lo istirahat."


Jeno mengganggu." Gue cabut."


" Navarro, kamu mengantar nyawamu sendiri padaku." tatapan tajam disertai senyum smirk menghiasi wajah Mumtaz yang biasa tenang.


******


Baru Tia melipat mukena seusai mengaji al-Qur'an, ponselnya bergetar tanda telpon masuk.


Tia berdecak kesal, lantaran dia mengira Dista yang menelponnya guna mengingatkan dia pergi ke gedung RaHasiYa.


Melihat Sherly yang menelponnya, Tia tersenyum bahagia. hari ini rencananya mereka akan menghabiskan waktu di rumah mama Aida untuk memasak yang akan dibawa ke rumah sakit sebagai sogokan kepada Zahra.


" Hallo, Ma..."


" Sayang, ini mami."


untuk sesaat tubuh Tia menegang, ia menarik lalu menghembuskan nafasnya pelan.


" Iya, mi, ada apa?"


Tia sudah berusaha suaranya terkesan lembut, namun Sandra dapat menangkap keengganan dari Tia.


" Sayang, siapa yang menelpon?" Alfaska baru keluar dari kamar mandi dengan mengusak rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil.


" Jangan beritahu ke Afa kalau mami menelpon."


Dejavu, dulu Sandra selalu melarang Tia untuk memberitahu Alfaska setiap kali mereka berkomunikasi.


Tia menatap Alfaska bimbang sekaligus takut, seketika ia gugup.


" In...mami menelpon, a..aku kira mama Sherly."


Sandra menutup matanya kesal, Tia tidak menuruti perintahnya.


Dia terpaksa menggunakan nomor Sherly untuk menelpon Tia, pemblokiran nomornya diponsel Tia belum juga dibuka.


" Mau ngapain?" suara tidak suka Alfaska menusuk hati Sandra.


" Enggak tahu, ini Iya baru mengucap salam. boleh Iya lanjutkan."


" Boleh, kalau mami Sandra minta macam-macam jangan disanggupi."


Ucapan alfaska itu berhasil melukai hati Sandra, ia menutup sambungan telpon karena tidak tahan mendengar suara sinis dari putranya.


" Sandra, kamu kenapa?" Sherly menatap heran Sandra yang menangis.


Sandra menggeleng, ia menghapus bulir bening di pelupuk matanya.


" Mbak, apa saya sudah tidak bisa dimaafkan? Afa begitu marahnya padaku sampai dia tidak mau aku berhubungan lagi dengan Tia."


Sherly tidak tahu mesti menjawab apa, " kalau saja dia hanya marah, dia pasti sudah memaafkan mu, seperti yang lalu, tapi kamu sudah mengecewakannya, bukan hanya kepada dirinya, tetapi juga kepada Bara."


" Malam tadi aku bisa melihat bagaimana mereka saling menyayangi dan menguatkan tanpa kehadiran kita ditengah Mereka."


" Kita banyak kehilangan moment tentang mereka, aku karena koma ku, kalau kamu, karena apa?" sinis Sherly.


Sandra terdiam,


Setelah semalaman sherly merenung, kini dia memutuskan untuk tidak lagi mendukung obsesi Sandra untuk menjadi fashion designer ternama.


*****


" Tuan, hari sudah pagi,apa sarapan bisa saya hidangkan?


Navarro berjalan sempoyongan mendekati Marco dengan botol wine berisi sedikit ditangan kirinya.


" Bagaimana mungkin saham Atma Madina tidak ada yang berminat." kesal Navarro.


Bayang-bayang keuntungan besar terbang menjauh, karena tidak ada pembelian atas saham Atma Madina yang dia lepas.


" Kenapa? mereka tidak berdaya menghadapi RaHasiYa." hardik Navarro merujuk kepada para ahli digital perusahaannya dengan wajah memerah karena mabvk.


Marco memandang puas Navarro yang melangkah lunglai tidak berarah di tengah ruang tengah.


" Maaf, tuan. saya sudah memerintah mereka sesuai instruksi tuan."


" TAPI TIDAK ADA HASILNYA." teriak Navarro.


" Sayangnya tidak ada." monolog Marco.


" Berikan aku laporan terbaru."


Marco membuka map yang sedari tadi dia pegang.


" Entah mendapat bukti dari mana, tetapi menurut informan kita itu FBI mendapatkan bukti valid tentang penjualan senjata ke anak dibawah umur, untuk itu FBI mengajukan pembekuan dana anda, tuan."


Prang...


Botol wine itu pecah berbenturan dengan lemari kaca besar yang juga pecah. nafas Navarro terengah-engah karena kuatnya tenaga yang ia gunakan untuk melempar botol itu ke lemari.


Tok...tok...


" Tuan, maaf mengganggu. anda harus melihat apa yang ada di depan pintu." pengawal itu menunduk takut.


Diikuti oleh Marco, Navarro melangkah ke ruang tamu, langkahnya terhenti saat dia melihat Nia dan Tamara yang terlentang tidak sadarkan diri dengan penampilan mengenaskan.


" Hubungi Amara, suruh diambil putrinya." titahnya kepada Marco.


" Mereka diantar dengan sepucuk surat ini."


pengawal itu memberikan satu amplop warna putih.


Matanya memicing marah, rahangnya mengeras setelah dia membaca pesan dari surat tersebut


" TIDAK LAMA LAGI GILIRAN MU ATAU KELUARGA MU SENASIB DENGAN DUA WANITA MUR4H4N ITU, PUTRI REMAJA MU SANGAT MENGG4IRAHKAN!!!"


Air mukanya berubah khawatir saat melihat beberapa foto seluruh keluarga besarnya satu persatu di berbagai tempat di mana mereka tinggal terutama foto Penelope, putri bungsunya yang sedang menempuh pendidikan di Oxford.


" CEPAT HUBUNGI DETEKTIF, CARI BOCAH CILIK ITU, APA MEREKA JUGA BELUM MENEMUKAN ANGELICA? DASAR TIDAK BERGUNA" amuk Navarro diluar kendali...

__ADS_1


Ayo yang masih silent readers aktif kan like n komennya, dengan senang hati menerima hadiah dna vote-nya..


__ADS_2