Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
246


__ADS_3

Hito berlari tergesa-gesa diiringi kekhawatiran yang teramat sangat ke ruang inap Zahra begitu mendengar kabar dari Heru kalau Zahra pingsan seusai mengoperasi Mumtaz.


sebagi salah satu pemilik rumah sakit Hito merutuk dalam hati pada cara kerja rumah sakit.tunangannya baru selamat dari penculikan, diikutsertakan dalam operasi adelia yang memakan waktu berjam-jam l, dilanjut mengoperasi Mumtaz yang waktunya lebih panjang. bagiamana Zahra tidak ambruk.


Brakh....


Hito membuka pintu dengan kasar, matany langsung tertuju pada wajah pucat kekasihnya yang damai dalam pembaringannya.


" Sshhhh..." satu jari telunjuk Farhan didepan mulutnya saat bunyi pintu nyaring di ruangan sepi itu.


" Gimana keadaanya? bagaimana dia bisa pingsan? siapa yang...." Tanya Hito bertubi-tubi sembari melangkah ke dekat ranjangnya.


" Dia tidur, bukan pingsan. gue yang mint Adi gabung dalam operasi Mumtaz." potong Farhan sembari memperbaiki letak selimut Zahra di tubuhnya.


" Tidurnya nyenyak banget, gue gotong ke sini dia gak gerak sama sekali. Kalau gak gue periksa nadinya gue pikir dia meninggal."


" Panteslah dia tepat, dia baru mengoperasi Adel, Lo gak mikir..."


" Gue tahu, kalau gue mampu atau gak butuh-butuh banget kemampuan dia, gue juga gak bakal manggil dia. jauh sebelum Lo kenal dia, dan jadi tunangan dia, gue terlebih dahulu yang selalu mengkhawatirkan dia."


Hito memicing pada Farhan," jangan nething. sebagai dosen gue tahu bakat dan kemampuannya. gue selalu khawatir dia kelelahan karena kerja di cafe', ngajar les mahasiswa lain, belum lagi penelitian yang rumit yang akan berakibat buruk pada kesehatannya, jadi simpen ocehan Lo yang kayak nenek kompleks itu."


" Lo yakin Lo peduli sama dia cuma karena Lo dosennya? kok gue gak yakin ya."


" Bukan cuma Lo yang curiga tentang kepedulian gue, tapi seluruh mahasiswa gue. andai mereka tahu kemampuan yang dimiliki Zahra jarang dimiliki dokter lain. contohnya hari ini, hanya dua dokter di Indonesia yang mampu Zahra lakukan dalam operasi Mumtaz, yang satu di Surabaya itupun beliau sedang ada di Amerika, kalau kita maksain nunggu beliau hanya karena Zahra capek, calon adik ipar Lo udah tamat di atas meja operasi. MAU ITU TERJADI?" tekan Farhan sedikit meninggikan suara.


" Ya udah maaf, gak perlu ngegas kan Lo, gak sopan." sungut Hito.


" BODO, TO ..BODO. kalau gue gak Inget Lo bos gue udah gue sumpel mulut Lo."


Farhan dengan langkah gontai menuju kasur cadangan khusus penunggu pasien, " Gue gak punya tenaga kembali ke ruangan, gue numpang tidur di sini."


Terdengar dengkuran halus dari Farhan setelah lima  menit dia membaringkan diri di sana. Sedangkan Hito duduk di kursi samping ranjang memandang sayu Zahra.


Ia mengelus kepala wanita yang teramat dia sayangi, terkadang dia sering bertanya kenapa tuhan memberi rasa yang begitu besar padanya untuk Zahra, sangat besar, bahkan terlalu besar. Terkadang dia merasa tidak bisa mengendalikan diri akan perasaanya pada wanita mungil di depannya ini.


Hito mengecup kening Zahra dalam," tidur yang nyenyak, sayang. stop bikin aku sport jantung mulu." ucapnya lembut.


 Tangan lentik itu kini menjadi sasaran rasa sayangnya, ia genggam dan dielus lembut tangan itu, sesekali dikecupnya dalam dan syahdu. Tubuhnya sendiri sangat lelah, namun dia enggan tidur, takut terjadi sesuatu yang berakibat fatal.


" Ya Tuhan, jagalah dia, ku mohon jagalah dia. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kalau aku kehilangan dirinya." Hito duduk menunduk dengan kening menempel di punggung tangan Zahra.


Sudah banyak peristiwa yang terjadi yang hampir merenggut nyawa kekasihnya ini karena keluarganya, dia merasa apa yang dia lakukan belumlah seberapa dibanding pengorbanan Zahra menyelamatkan neneknya.


Lama di posisi itu lambat lauon mata Hito tertutup jua, akhirnya rasa ngantuk karena lelah yang lebih dominan.




Di ruangan ICU, terhalang dinding kaca Zayin berdiri memandangi tubuh mungil yang dikelilingi alat medis agar dia tetap bertahan.



Sesak memenuhi dadanya setiap kali bayangan Adelia menghalau peluru itu demi dirinya, bagaimana dalam keadaan sekarat, gadis itu masih memperdulikannya.



Mulutnya terkekeh nan pilu saat mengingat gadis itu masih menggombalinya meski dia sendiri mengerang sakit.



Tanpa bisa dicegah buliran bening turun dari ujung matanya, sumpah, demi apapun dia sudah berusaha keras menahan nangis, karena Adelia sangat tidak menyukai dia menangis.



Puk...



Satu sentuhan di pundaknya, mengembalikannya pada realita, Zayin mengusap air matanya menoleh pada Heru yang berdiri di sampingnya.



" Kamu tidur gih, istirahat dulu." Zayin menggeleng.



" Sudah berjam-jam kamu berdiri di sini, kasian badan kamu."



" Om gak marah sama aku? karena aku Adel terbaring di sana."



" Pengennya marah, tapi ngebayangin nanti kamu ngadu ke dia, terus dia lebih marah balik sama saya, duh, mendingan gak deh daripada ngedengerin kecerewetan dia yang kayak kereta expres itu."



Zayin terkekeh membayangkan mulut mungil itu komat kamit membaweli ayahnya.



" Gimana keadaan kak Eidel?"



" Sudah stabil, Ziva yang ngawasin kesehatannya."



" Apa kak Eidel gak marah sama aku?"



" Tidak, kamu itu masih kandidat calon mantu idamannya. Mana bisa dia marah sama kamu."



" Apa setelah ini kak Eidel masih sudi menjadikan aku calon mantunya? Aku yang menyebabkan Adel di sana?" ucap Zayin sendu dengan dagunya menunjuk Adelia.



Heru sangat memahami rasa bersalah yang menggelayuti hati Zayin, begitupun dengan dirinya yang terlambat menemukan putri centilnya ini.



" Aku terakhir membentak dia, dia malah mengorbankan nyawa untuk ku, ya tuhan, kalau tuhan ingin menjemputnya melalui malaikat Izrail, aku tidak bisa memaafkan diriku. Aku hanya membuat kalian kehilangan permata kalian. Maaf, maafkan aku! Hiks..." Zayin kembali menangis.



" Yang tuhan, sangat sakit...sungguh ini sangat menyakitkan." Bathinnya.



" Kamu kecapekan jadi pikiran kamu ngelantur. Itu tandanya kamu harus tidur, tidak ada bantahan, Zayin." Tegas Heru yang dituruti Zayin.



Dengan langkah lunglai, Zayin pergi ke ruang kerja Mumtaz, dia memaksa memejamkan matanya. Bayu dan William hanya bisa menatap prihatin sahabatnya, tanpa mampu melakukan apapun lagi.



Segal hiburan, bujukan. tidak ada yang mempan meringankan beban pikirannya, hanya keajaiban tuhan yang bisa mengeluarkan Zayin dari lubang kesengsaraannya.



\*\*\*\*\*



Dua Minggu sudah dua manusia itu terbaring di ruang ICU, sudah banyak orang menjenguk, bukannya hanya teman-teman kampus, tetapi para pejabat, pengusaha, baik dalam negeri maupun luar negeri yang kebetulan ada di Indonesia pun turut berkunjung. 



Rumah sakit kini dijaga ketat demi keamanan, berita kondisi Mumtaz akhirnya mencuat ke media, banyak awak media yang berburu berita mengenai dirinya, para temannya belum bisa percaya segitu pentingnya sosok Mumtaz hingga yang datang bukanlah orang-orang kalengan.



" Kalau Mumuy tahu dia jadi pusat berita, dia pasti marahin Lo, Fa." Ucap Jeno, mereka masih setia menunggu tidak jauh dari ruang ICU, Bahkan lorong ini seperti sudah menjadi tempat nongkrong mereka.



" Kenapa gue yang disalahin?" Alfaska tidak menerima dirinya disalahkan.



" Ya Lo gak bisa bungkam media, padahal dengan kekayaan yang Lo punya kalau Lo mau media bisa diem." Rijal memprovokasi.



" Lagian dia aneh, Kok jadi orang gak mau populer, sementara yang lain nyari popularitas dengan cara menjijikan." sewot Alfaska yang sekali sebal dengan sikap *low profile* Mumtaz.



" Dimana Inu?" Tanya Haikal.



" Pasti lagi bersihin badan Mumtaz, dia gak mengizinkan kita apalagi staff rumah sakit menyentuh badan Mumuy." jawab Daniel.



" Apa Radit bersamanya?"



" Selalu, kalau enggak Inu pasti masih nangis meraung-raung." Jawab Daniel.



Tiba-tiba beberapa dokter berlarian masuk ke ruang ICU, membuat para pemuda itu berdiri tegang.



" Ada apa?" Tanya panik Alfaska.



Tidak ada satupun yang menjawab, mereka melihat Eidelweis keluar dari ruangan tersebut sambil menangis dalam pelukan Heru.



" Kak, ada apa?" Tanya Daniel, mereka mendekati sepasang suami istri itu.



" Tangan Adel tadi bergerak, Niel. Do'akan ini pertanda baik untuknya." Jawab Heru.



" Amminnn." Ucap mereka serempak.



Berselang beberapa waktu dokter keluar dari ICU, mereka beranjak mendekat, berharap cemas.



" Alhamdulillah, nona Adelia sudah melewati masa kritisnya. Kita akan mengawasi perkembangan selanjutnya dalam tiga hari ke depan."



" Alhamdulillah...pa..Adel kita kuat, Pa." Tangis Eidelweis haru.



Sementara di ruang lain ICU, Ibnu sembari menitikkan airmata dan Radit yang memperhatikannya dengan telaten membersihkan Mumtaz yang masih diam tidak bergerak ditengah banyaknya alat medis sebagai penunjang hidupnya.



" Nu, gue denger airmata itu mengundang zat besi dengan skala besar. Lo gak ada takut itu akan berpengaruh pad kesehatan Mumuy? sedari tadi tetasan airmata Lo menyentuh dia."

__ADS_1



Ibnu menatap jemu pada Radit yang nyengir kuda padanya." santai, gue pikir Lo bakal percaya omongan gue. ponakan gue diomongin gitu percaya aja tuh."



" Berapa umur ponakan Lo?" Ibnu bertanya sembari melanjutkan ritual memijit kali Mumtaz, dia hanya tidak ingin Mumtaz mengalami kelemahan otot saat dada nanti, semoga sahabatnya itu cepat sadar.



" Enam tahun."



Puk....



Ibnu melemapr lap bekas pakai memberishakn Mumtaz pada Radit yang terkekeh-kekeh.



Dalam hati Radit, dia bahagia dua hati ini Ibnu sudah mau menanggapi ucapannya dan menanggapi jokes garingnya.



Bukan perkara mudah baginya mengembalikan Ibnu setelah manusia satu ini dihantam persoalan yang mengguncang psikisnya yang berakhir sahabat paling berharganya berbaring tidak berdaya.



\*\*\*\*\*\*


Selama satu minggu ini Zayin telah disibukan lagi dengan latihan harian mereka disela menulis laporan terkait Navarro bersama para rekannya.



Kalau tidak mengingat impiannya menjadi pasukan elit Angkatan Laut dia akan mengambil cuti dan menunggu di rumah sakit, namun latihan ini adalah bekal baginya untuk menuju impiannya.



Kini bersama Bayu, dan William. Zayin sedang berada di markas besar TNI menghadap panglima, KASAL, KASAD, dan staf ahli lainnya guna melaporkan hasil kerjanya terkait Navarro dan hal-hal lain.



" Jadi dia sudah meninggal?" Tanya panglima.



" Otw."



" Kok, otw. Jawab yang pasti, Zayin. Kita tidak boleh lengah lagi." keluh KASAL yang selalu merasa geram dan gregetan dengan jawaban ngasal anak buahnya ini.



" Itu urusan RaHasiYa, tetapi jika anda membaca laporan saya ,dan rekaman saat-saat terakhir dia di gedung RaHasiYa, apa anda pikir dia masih bisa kabur dan bebas? saya yakin tidak bisa."



" Iya, juga sih. Tapi bisa saja dia menghubungi rekannya?"



" Bagaimana mau menelpon, bergerak saja dia tidak sanggup."



" Apa kamu sudah memastikan itu?"



" Dengan kepala saya sendiri saya melihat tubuhnya sudah jadi santapan para hewan tanah."



" Gaunzaga, RaHasiYa, Atma Madina. Bergabung mengurusi dia. Saya yakin tidak ada celah baginya untuk bebas." Penuh amarah membara saat Zayin mengucapkan itu.



" Baiklah, saya terima laporan kamu, dengan ini kasus Navarro di tutup dan akan tetap menjadi kasus rahasia TNI dan negara." Panglima mengetik palu.



" Untuk sementara kalian bertiga saya istirahatkan dari tugas sampai markas membutuhkan kalian, terlebih kamu Zayin, kamu kelihatan kurang istirahat."



" Calon istri saya sedang di ICU, tentu saja saya kurang istirahat. Saya cemas akan kesembuhannya." Ucapan Zayin soal calon istri membuat dua rekan sekaligus sahabatnya menaikkan alisnya heran.



" Kami turut bersimpati, kalian boleh bubar."



Baru saja menutup pintu, denting ponselnya berbunyi." Hallo."



"  *Ke rumah sakit, Adel nanyain Lo*."



Zayin terkejut bergeming di tempat," serius? Lo ngeprank gue, gue boocrin ke bang Akbar kalau Lo naksir Ical." Ancamnya pada lawan bicaranya, yaitu Adgar.



" *Ck, cepatan, ini anaknya nangis mulu pengen lihat Lo. Kangen katanya*."



" Siap, bilang sama calon istri. Gue otw." Zayin mengakhiri sambungannya tanpa menunggu adgar menjawab.




" Adel sudah sadar, gue ke rumah sakit dulu. Rencana makan bareng, kita pending."



" Bisa kapan aja itu mah. Kita langsung ke sana ni." ujar William.



" Iya."



" Lo dibonceng gue, Lo dilarang mengendarai motor, kan." William berlari di belakang Zayin.



" Cepetan larinya, siput Lo."



" Yang terakhir nyampe parkiran traktir steak sepuasnya ya." Ucap Bayu berlari lebih cepat mendahului yang lain



" Ah elah...curang woy." Teriak William kesal ditinggal para sahabatnya.



Panglima dan KASAL melihat anak buahnya sambil geleng kepala atas sikap kekanakan anak buahnya." Kalau tidak melihat langsung kemampuan mereka pasti orang-orang tidak akan percaya kalau mereka bakal kandidat pasukan elit sekelas Kopaska dan Yontaifibi." Ucap panglima.



" Dena patah hati kalau mendengar Zayin sudah punya calon istri." Ucap KASAL. Dena, putri dari panglima sudah lama menaruh hati pada Zayin yang tidak pernah mendapat balasan darinya.



" Anak lima tahun lagi saingannya, bakal sibuk saya menenangkan Dena." Petinggi TNI itu berjalan dengan obrolan ringan meninggalkan markas.



\*\*\*\*\*\*\*\*



Di rumah sakit Adelia menangis meraung karena tidak melihat Zayin di saat dia sadar, Heru dan keluarga Hartadraja lainnya kewalahan menyikapinya.



Heru menekan tombol darurat melihat Adelia memegangi dadanya yang langsung digenggam oleh Heru mengingat masih ada alat medis di sana.



Adelia sudah dipindahkan ke ruang rawat inap karena perkembangan kondisinya yang signifikan membaik, namun karena empat hari dari semenjak sadar dia belum melihat Zayin meski telah dihubungi, Adelia menangis tiap harinya.



Hanya sekali Adel menanyakan orang tuanya, saat mereka harus pulang dan mengambil pakaian, setelahnya Zayin lah yang selalu ditanyakan Adelia, bahkan keberadaan Crystal tidak bisa mengalihkan pikiran bocah lima tahun itu dari pria idamannya.



" Pasti Aa Ayin selingkuh kalena Adel kelamaan bobo." Rengek Adelia.



" Gak mungkin, Ayin itu setia orangnya." Jawab Adgar.



" Tapi mana? sampe sekalang Aa Ayin belum juga jenguk Adel."



" Dia sibuk, Del. Nangkep para penjahat."



" Gar, coba jemput Zayin." Pinta nenek Sri yang tidak tega melihat cucu buyutnya terus memegangi dadanya karena sesak terlalu banyak menangis.



" Udah, tadi Bayu sempat kirim pesan jawaban kalau mereka sedang rapat dengan panglima." Adgar sendiri sudah panik melihat wajah Adelia yang semakin pucat.



Ceklek...



" Permisi, kami hendak memeriksa pasien." Dokter dan dua perawat masuk.



Heru menarik Adgar agar keluar ruangan." Kamu sekali lagi coba hubungi Zayin, om gak tega melihat Adel terus menerus nangis manggil dia."



" Baiklah, om. Adgar usahakan Zayin datang secepat mungkin.



" Makasih, Gar."



 " Apasih om, dia sepupu aku juga itu, gak ada acara makasih-makasih ya." Adgar menjauh sembari mengeluarkan ponselnya.

__ADS_1



Heru duduk di bangku tunggu mengistirahatkan dirinya di depan kamar, Hito menghampirinya, duduk di sampingnya.



" Ru, jangan selalu tegang setiap Adel sesak napas."



" Gue tahu, gue cuma takut dia kembali kritis."



Hito memperhatikan wajah lelah adik iparnya," apa yang Lo sembunyikan?"



" Dari Adelia sadar dan keluar dari kritisnya cuma Zayin yang dia sebut, gue merasa gue gagal jadi ayah yang baik baginya."



" Ck, gak gitu juga. Si Adel kan dari dulu emang bucin sama Zayin."



" Tapi kan gak perlu segitunya dia manggil-manggil Zayin." Sewot Heru.



" Ini ceritanya Lo lagi cemburu?" Hito menuding dengan mimik meledeknya.



" Ck, gak lah. Masa cemburu, dia anak gue."



" Dan setahu gue bokap selalu cemburu kalau anak perempuannya menyukai pria lain. Lo inget papa marah besar sampe nyamperin bang Damian bahkan nonjok mukanya waktu kak Julia bilang dia jatuh cinta sama bang Damian."



Heru diam merenung, kini dia bisa merasakan mengapa seorang ayah lebih protektif pada anak perempuannya ketimbang anak lelakinya.



Rasa tidak rela ketika anak yang selalu memujanya menatap pria lain dengan penuh puja, ketika dirinya tidak lagi menjadi pria satu-satunya yang membuat anaknya bahagia.



Sebenarnya setiap Adelia dibahagiakan oleh Zayin, Heru merasa hatinya teriris sakit, egonya tersentil.



Mereka berdiri ketika dokter selesai memeriksa dan pamit pergi.



Heru hendak masuk ke dalam saat Hito berkata padanya." Ru, Zayin anak yang baik. Itu hanya kekaguman semata, gak perlu Lo ambil pusing."



" Tapi dia selalu menolak Adel."



" Bukan menolak, Zayin ingin Adel menjadi anak dengan psikis normal sesuai usianya. Zayin lebih mempedulikan Adel dibanding siapapun, kita tahu itu."



" Tapi gue gak bisa biarin Adel terus menerus punya pikiran dia menyukai Zayin."



" Suatu hari nanti akan datang lelaki yang merubah perasaan dia, dia tidak lagi melihat Zayin."



" Gue gak yakin, Zayin yang jarang di  rumah saja dia selalu ingat dan merekam rasa rindunya ada lelaki banyak laga itu."



" Gue gak tega terus menerus melihat dia kecewa ketika Zayin menolaknya. Akan lebih menyenangkan kalau perasaan dia hanya sekedar kagum seperti yang Lo bilang, tapi gue bisa melihat dan merasakan kalau itu tidak lebih dari sekedar kagum." Heru masuk ke dalam ruangan, di sana Adelia masih menangis.



Hito terdiam, dia tidak menyangka anak berusia lima tahun itu sudah memiliki perasaan serius begitu dalam pada pria yang terbilang dewasa.



Di saat semua orang membujuk Adelia yang sudah agak tenang, pintu dibuka seseorang yang berseragam biru dongker lengkap dengan topinya.



" Assalamualaikum."  Mereka menoleh kaget pada pria tampan nan gagah yang melangkah masuk dan menyalami semuanya.



" AAAA....UHUK..uhuk..."



" Adel, tenang. Gak usah grasak-grusuk gitu." Tegur Eidelweis mengusap-usap punggungnya.



" Alhamdulillah, kamu datang juga, Yin. Adel nanyain kamu melulu itu." Ungkap nenek Sri.



Zayin tersenyum kecil sebagai responnya, beres menyalami semuanya Zayin berdiri di samping Adelia yang merentangkan tangan minta dipeluk.



Zayin dengan senang hati mewujudkan keinginan itik kesayangannya itu.



" Adel kangen Aa, emang Aa gak kangen Adel, kok gak pelnah jenguk Adel."



Zayin diam tidak menjawab, hanya anggukan saja yang dia berikan dibalik leher Adelia. Dia tidak sanggup berucap, perasaannya sekarang sedang penuh dengan seribu rasa.



Heru dan Eidelweis yang berdiri tidak jauh dari sana bisa melihat mata Zayin yang membasah, bulir bening sudah membasahi pipinya, tidak lama Zayin tersedu-sedu meluapkan perasaannya, memeluk erat tanpa menyakiti Adelia.



Di waktu normal Zayin pasti akan berdecak mendengar ungkapan alay itik tersebut, namun saat ini, Zayin pun merasakan apa yang dirasakan Adelia.



Tadi ketika dia membuka pintu dan melihat Adelia yang menatapnya hatinya membuncah senang, lega, dan bersyukur dalam waktu bersamaan.



Mata bulat yang selalu menatap memuja padanya sudah terlalu lama tertutup sampai dia merasa dirinya frustrasi.



Setelah menyeka airmatanya Zayin mengurai pelukannya, ia memandang Adelia dalam."  Aa juga kangen banget Adel. Nanti gak boleh bobo lama-lama lagi atau Aa gak mau ketemuan Adel lagi." Ucap Zayin pura-pura marah.



" Iya, gak lagi. Maafin Adel."



" Tentu, cantik. Aa pasti maafin Adel. Aa takut banget kemarin pas Adel bobo, jangan pernah lagi kayak gitu." Zayin mencivm kening Adel lama dan khidmat.



" Kyaaaaa... Adel dicivm Aaaa...gak kuat euy...Mama nikahi Adel,..Ma." pekik Adelia terlalu bersemangat, Zayin terkekeh-kekeh tak kalah senang.



" Cih, norak. udah biasa juga." ledek Adgar.



" Dih, ili bilang jones." balas ledek Adelia dengan tampang menantang.



" Aa, kalah sama Ical. dia aja udah punya pacal."



" Apa? bohong."



" Dih, gak percaya tanya aja langsung."



" Beneran, cal?"



Crystal yang dipangku damar dengan polosnya mengangguk." Siapa namanya?" tanya Nadya geli.



" Halis."



" Alis?"



" Ck, Halis, Aa. Halris." Crystal memaksakan diri menyebut huruf R.



" Kok, adek gak cerita sama abang udah punya pacar?" akbar yang posesif dengan adik kecilnya itu memangku Crystal.



" lupa."



" Ganteng, Cal?" tanya Eidelweis.



" Ganteng banget, Tan."



obrolan meng nai Crystal yang sudah punya pacar terus bergulir tanpa menyadari wajah keruh Adgar yang duduk di kursi pojok.



" Haris, Gar." bisik Zayin meledek.



" Diem."

__ADS_1


__ADS_2