
" Do..." Panggil Mumtaz pada Nando yang duduk bertengger di atas motor maticnya mengobrol dengan anak BIBA di pekarangan rumah.
Mumtaz dan yang lain sepulang dari makan malam dari rumah Eidelweis dengan drama tangisan dan gerutuan Zahra selama makan yang disuapi oleh Hito.
" Yoi, bang." Nando turun dari motornya menghampiri Mumtaz.
" Bisa bicara sebentar?"
" Sure." Nando mengikuti Mumtaz ke lapangan besar.
Mereka berdiri bersisian menghadap jalanan diabwah temaramnya pencahayaan, Nando melirik padanya yang sedang menyesap sebatang rokok.
" Sampai sejauh mana pencarian kamu tentang ibu dan bapak?"
Nando menoleh cepat karena kaget pada Mumtaz, siluet hasil pencahayaan lampu dari kejauhan ditengah kegelapan lapangan menghadirkan aura bahaya dalam kata yang diucapkan penuh ketenangan itu ditambah gestur tegas dan kedua tangan di dalam saku menambah aura mengintimidasi yang sangat dominan.
Seketika kegugupan menghampirinya, ia membasahi bibir bawahnya," bang, i..itu..."
" Saya tidak marah, Dafi memang berhak mengetahuinya, tetapi saya tekankan jangan beri dia mentahan hasil dari pencarian kamu. Tidak ada anak yang siap menerima kejadian beberapa tahun lalu, meski usia sudah bertambah banyak."
Kata saya yang digunakan Mumtaz memberi banyak dampak pada Nando, kini ia menyadari betapa serius permasalah Khadafi.
" Btw, mengenai politisi si tua itu, sebentar lagi nasibnya akan berakhir."
Seluruh tubuh Nando refleks menegang, " apa kamu yang mengeksekusi dia langsung atau orang lain?" tawar Mumtaz.
" Hah?"
" Aku bisa menghabisi langsung kalau kamu mau."
" Dia di tahan."
Mumtaz menyeringai miring." Ini." Mumtaz memberi amplop panjang coklat.
Nando membuka dan memperhatikan satu persatu foto di dalamnya, rahangnya mengeras, matanya menajam siap menusuk.
" Ini negeri +62, dimana duit berkuasa, dia tidak di tahan dalam sel, selama ini dia menginap di sebuah villa di puncak. Saat ini Gilang mengawasinya, dan siap mengeksekusinya."
Tangan Nando memegang foto-foto itu erat sampai foto itu kusut." Kapan aku bisa ke sana?"
" Sekarang juga bisa, suasana mendukung kalau kamu merekam dan menyebarkannya."
Nando terkejut, akan ide itu " Bang,..."
Mumtaz memotong ucapan Nando dengan memberinya map hitam besar." Ini hasil penyelidikan asli kematian bokap Lo, kalau Lo butuh tutorial penyiksaan, apa yang ada di sini Lo pakai."
Tangan Nando gemetar saat menerima map tersebut, ia menggenggamnya erat.
" Senay4n mempermainkan rakyat mengutarakan berbagai alibi mereka agar para politisi yang terdapat dalam foto di kantor Alfred tidak diberhentikan, bahkan terkesan melindungi. Mereka bersenang-senang diatas penderitaan rakyat, kenapa kita tidak langsung menghabisi karakter mereka hingga tuntas!?"
Nando mengangguk," gue ke sana sekarang, bang."
" Hmm."
Dengan semangat Nando berlari ke arah motornya, baru berapa langkah ia kembali berbalik menghadap punggung Mumtaz.
" Bang.." Mumtaz menoleh menghadapnya," thanks. Maaf, gue sempat berpikir Lo lupa dengan urusan gue." Ucap Nando tercekat.
Mumtaz membalasnya dengan tersenyum," its, okay! Gue gak mungkin lupa, nyokap Lo pingsan dipelukan gue." Jawabnya santai.
Nando menyeka kasar airmatanya yang keluar, kemudian ia kembali berlari menuju motornya.
Tatapan menerawang Mumtaz terpancar nanar. Ia mengambil ponsel dari sakunya." hallo Tante, anakmu sedang membalas kematian suami anda." ucapnya pada lawan di sebrang yang terdengar menangis." dalam diamnya, Mumtaz melempar, lalu menginjak memutar puntung itu dengan ponsel masih terpasang di telinganya.
*****
Ceklek...
" A,..." Ibnu menekan tombol enter, layar komputer yang semula menampilkan guliran angka dan huruf secara acak dan rumit yang disinyalir berupa sandi atau kode berganti menjadi catatan kuliah.
Ibnu merubah duduknya menghadap Khadafi." Ada apa?"
" Gak gabung turun?"
" Ada drama apa lagi emang?"
" Gak ada, cuma lagi rame aja."
" Gak lah males, nerima jadi aja."
Khadafi berdecak mendengarnya," gimana sih anggota BEM gak bertanggungjawab."
" Ck, jadi BEM juga diseret Yuda yang butuh jaminan keamanan yaitu Mumtaz yang bisa bernego dengan Bara dan Akbar."
" Btw, kamu kapan balik ke pondok?" tanya balik Ibnu
" Aku ke sini mau omongin itu..." Ibnu menaikan alisnya bingung.
" Abi Khaidar udah bolehin aku ke sana pas ujian nanti, kayaknya Aa mumuy udah ngejelasin kenapa aku belum bisa balik." Ibnu mengangguk-angguk.
" Terus biaya ujiannya kok belum minta?"
" Aku udah telpon bagian administrasi, katanya udah dibayar melalui transfer atas nama Mumtaz."
Kontan decakan terbit dari mulut Ibnu," kebiasaan banget."
Khadafi menatap kakaknya intens." A, apa aku gak kuliah aja ya...biayanya besar banget. Aku langsung kerja aja ya, kebetulan kan aku ngurusin warisan mereka jadi aku konsen di sana dulu buat ngumpulin dana kuliah, gimana?"
Seketika wajah ibnu dipasang keberatan, ia lantas mengambil dompet yang tergeletak di samping komputer, mengeluarkan semua kartu dari berwarna hitam, silver, gold berupa kartu kredit dan debit, ia taruh di depan khadafi.
Khadafi menganga lebar melihat banyaknya kartu yang dimiliki Kakaknya, ia tahu beberapa kartu hanya dimiliki orang konglomerat.
" Kakak mu ini bukan orang miskin, memang aku belum sekaya Mumuy, Aniel, atau Afa. tapi kalau untuk membiayai pendidikan kamu, Aa masih mampu."
" A,..." Saking kagetnya suara Khadafi tertahan.
" Aniel dan Afa yang ngurus pendapatan RaHasiYa yang entah bagaimana caranya beranak cepat, pendapatan pribadi Aa diurus Mumuy, yang entah bagaimana juga cepat bercucu banyak.
" Ini belum semua, Aa punya beberapa saham di perusahaan yang sangat besar. Bersama Mumuy, kita tengah merintis perusahaan jasa IT khusus pengamanan usaha keuangan, klien kami sudah dimana-mana dimuka bumi ini, jadi kamu mau apa? Tinggal bilang.
" Jangankan di Indonesia, sekolah diluar dengan fasilitas mewah juga Aa jabanin, daripada kamu putus sekolah terus Aa dikeroyok para Abang mu, No way!
" Intinya, kamu gak boleh putus sekolah, orang dengan strata sosial rendah seperti kita lewat pendidikan lah yang mampu menjadikan kita bagian dari kalangan atas. Ubah takdir kamu lewat pendidikan, soal biaya udah Aa jelaskan tadi."
" Kalau gitu Afi mau ke Al-Azhar, Kairo untuk kuliah agama, terus ke Amerika guna sekolah bisnis, ngurus warisan mereka sempat bikin aku pusing karena gak punya basic ilmunya, untung tim keuangan Abi membantu aku."
" Terserah, kamu hanya harus fokus mengembangkan diri sebelum mengabdi pada masyarakat dan negara."
Ibnu menatap Khadafi yang diam, namun tidak kunjung pergi, " Apa hanya ini yang mengusik pikiran kamu?" Tanya Ibnu melihat adiknya terasa berbeda, entah karena apa.
Khadafi gugup, ia menjilat bibir bawahnya sebelum bicara, " Perihal bapak dan ibu, Aa bisa sharing sama aku, aku gak bisa lihat Aa pingsan lagi. Aku bukan anak kecil lagi."
Ibnu mengepal tangannya, " maaf, aku tidak bermaksud menyusahkan mu."
Khadafi mengerang kesal atas kesalahpahaman kakaknya. " bukan begitu,...mereka juga orang tuaku, penderitaan mu, penderitaan ku, bukan hanya Aa yang merasa kehilangan, tetapi juga aku." Ucap khadafi sedikit meninggikan nada bicaranya.
Ibnu menghela nafasnya berat," Aa gak bermaksud merahasiakan apapun darimu, tetapi Aa masih bingung, semuanya masih seperti puzzle yang berserakan acak." Ucapnya lemah.
Melihat kakaknya yang meredup sedih, Khadafi pun mensudahi obrolan itu. " Oh, oke kalau begitu."
Khadafi berbalik menuju pintu, diambang pintu yang terbuka, ia setengah berbalik pada Kakaknya," aku tahu apa yang Aa lakukan sebelum aku masuk, aku banyak menghabiskan waktu dengan Nando, dan komputer bukan hal yang sulit dipahami." Ucapnya sebelum menutup pintu di belakangnya.
Wajah Khadafi muram, ia sedih tidak ada yang mau terbuka padanya perihal kematian kedua orang tuanya, padahal ia ingat apa yang terjadi di hari dimana bapak dan ibunya terbakar, bahkan ia ingat sosok yang terakhir meninggalkan pekarangan rumah sambil membawa dirigen minyak sebelum Berto membawanya ke rumahnya.
Orang asing dengan bola mata berwarna coklat yang menatapnya tajam dengan pancaran kepuasan setelah menghanguskan kedua orang tuanya. Sinar mata yang sering hadir menjadi mimpi buruknya.
" Hah..." Khadafi menghembuskan nafas gusar.
" Fi, TURUN, KITA LANJUTIN YANG TADI." Panggil Andromeda dari bawah.
" IYA...."
" Mana Nando? Dia gak gabung kita?" Tanya Khadafi saat menyadari ketidakhadiran Nando bersama Andromeda.
" Dia langsung pergi setelah ngobrol bareng bang Mumtaz, ada urusan mendadak katanya."
Malam itu, setelah Nando mempelajari catatan penyelidikan secara seksama, Nando langsung bertindak.
Di sana Gilang yang sudah menungguinya di samping jendela yang sudah dia congkel.
" Mau langsung atau gimana?" tanya Gilang.
" langsung."
" Kalau begitu silakan, tuan muda." Sarkas Gilang membuka tirai jendela.
Nando, Gilang dan beberapa anak RaHasiYa memasuki rumah dan langsung ke tempat lelaki tua itu berada.
Di kamar tidurnya lelaki itu tengah tidur nyenyak dalam keadaan t3lanj4ng sambil memeluk dua wanita muda yang sama-sama bvg1l.
__ADS_1
Layaknya membuat film dokumenter Nando mengambil gambar kamera sedemikian rupa yang memperlihatkan seluruh keadaan mereka dari setiap angle yang bisa menimbulkan komentar provokatif.
Klik...
Ketika kamera itu dimatikan, Nando dibantu Gilang menarik pria gendut itu dari ranjang.
Pria itu terbangun kaget ketika tubuhnya membentur lantai, saat tubuh tambun itu tergeletak di lantai, dia masih gelagapan tidak menyadari situasi, Nando langsung men3nd4ng wajah dan perutnya.
Teriakannya membangunkan dua wanita yang langsung menjerit saat menyadari ada orang asing, anak RaHasiYa segera mengurus mereka hingga merek bungkam.
Menghiraukan mereka Nando terus memukuli pria itu dengan membabibuta tanpa ampun hingga pria itu terkapar di lantai dengan nafas tersendat-sendat.
" Apa kau akan membuat dia m4ti?" tanya Gilang.
" Terserah tuhan, yang pasti gue membuatnya lumpuh di sebelah tubuhnya." Ucap Nando masih memegang pergelangan tangan, lalu menggerakkannya hingga p4tah, yang kemudian sikunya di tekuk, dan dipat4hkan.
Krek...krek...
" Aaaaaaa....."
BUGh...
Sebuah pukulan di tengkorak yang menimbulkan cekungan di batok kepalanya mengakhiri aksi Nando.
" Bang, gue berubah pikiran. T3mb4k dia." tatapan Nando bengis.
" Hmm, Lo keluar."
Begitu Nando menutup pintu kamar, Terdengar suara tembakan dan teriakan.
Dor...dor....dor...
Suasana sesudahnya hening.
\*\*\*\*\*
" *Broto hardikusuma, politisi senior yang ditangkap bersama 50 politisi dalam kasus Surga Duniawi nyatanya tidak di tahan, ia kedepatan tidur bersama dua wanita muda di villa dengan fasilitas mewah*.
" *Mimik sedih yang selama ini ditampilkan hanya* **gimmick** *semata, ia tinggal di tahanan jika mendapat panggilan dari pihak kepolisian guna penyelidikan yang terkesan jalan di tempat*..." Gata tv menayangkan gambar yang dikirim Nando pada mereka dengan akun anonim.
Satu jam setelah kabar Broto tersiar, kepolisian melakukan penggerebekan, namun ia tidak ditemukan. Setelah tiga hari sang politisi tidak dapat ditemukan, ia dimasukan dalam daftar DPO oleh kepolisi4n.
Atas fakta itu menambah kemarahan rakyat, pr3siden didesak untuk memecat k4polri, dan senay4n didesak untuk dibubarkan. Negara memasuki fase krisis moral, akibatnya keributan mulai terjadi ke jalanan, berbagai asumsi mulai banyak berseliweran dimasyarakat dari adanya konspirasi, keterlibatan mafia, \*\*\*\*\*\*\*, kesepakatan manuver politisi dan lainnya.
Masyarakat semakin hari semakin anarkis, kepercayaan terhadap pemerintah terus menurun drastis, hal ini dimanfaatkan oleh pihak tidak bertanggung jawab menciptakan kerusuhan dan anti p3merint4h. Mahasiswa di desak untuk melakukan aksi secepat mungkin.
Maka hari ini sesudah menjalankan shalt subuh, setelah sebulan berembuk antar BEM seluruh Indonesia menghasilkan tugas bagi masing-masing peserta. para pemuda baik dari kalangan kampus maupun sekolah tingkat SMA dan sederajat turun ke jalan dengan penampilan berbeda.
" SIAP, SEMUANYAAAA...." Seru pemimpin unjuk rasa yang dipimpin ketua BEM UI di depan pengeras suaranya.
" SIAP..." sahut peserta aksi yang dengan atasnya terdapat ban berbagai warna sesuai tugasnya.
Massa yang berjumlah jutaan mulai bergerak dari arah berbagai kampus perwakilan yang ditunjuk, penampilan mereka yang terbilang unik menjadi perhatian warga untuk mengabadikannya.
*Flashback*...
" *Satu, harus berpenampilan terdidik. Negeri tercinta kita sudah terkontaminasi kapitalis yang mana image lebih ditonjolkan daripada hati agar lebih menjual*." Imbuh Zahra kala itu.
Di sinilah mereka, dengan pakaian serba hitam bermakna dukacita atas lembeknya penerapan dan penegakan hukum, dimana kemeja dimasukan kedalam celana, dibalut almamater dicuci bersih dan wangi.
Bagi pria, rambut disisir rapih klinis menggunakan pomade dengan belah pinggir kanan, dihiasi kacamata agar lebih meyakinkan.
Wanita, rambut disanggul rapi ala pramugari, dengan pakaian warna *pink* bermakna mental para pej4bat yang meleyot bak waria yang tidak berkarakter kuat.
" *Dua, berpencar. Demonstrasi dilakukan jangan berpusat pada Jakarta, tetapi semua propinsi harus melakukan aksi besar-besaran di waktu yang bersamaan*."
" *Itu tidak akan efektif, kita butuh masa yang banyak." Protes si ceking*.
*Zahra memutar bola matanya jengah." Jumlah penduduk Indonesia itu, 270 jutaan kita gak bakalan kekurangan SDM, saking banyaknya penduduk negeri ini, banyak sarjana pengangguran." Sarkasnya*.
" *Ini perlu, jadikan ajang ini agar suara di luar Jakarta didengar, selama ini saya lihat demo diluar Jakarta gak punya dampak apapun, cuma adegan selingan menuhin berita doang*.
" *Di Jakarta cukuplah dipenuhi peserta dari kota-kota penghubung saja, seperti Tangerang, depok, dll*.
" *Biar apa?" Celetukan yang menyimpan skeptis tinggi*.
" *Biar pasukan keamanan demo terpecah, polis1 pasti membagi pasukannya ke wilayah lainnya, kalau titik pusat di Jakarta, mereka juga numplek di Jakarta. Strategi ini belum pernah dipake. Ingat, penguasa Sekarang adalah mereka yang dulu pembangkang pem3rintah terguling. Jadi kalau kalian pake strategi kumpul di satu tempat, mereka mudah mematahkan aksi kalian. Lagian demo di tempat masing-masing menghemat ongkos dan meminimalisir korban* " Mereka mengangguk-angguk sok paham.
Maka, setelah berembuk dengan sengit disepakati mereka berdemo di provinsi masing-masing, dengan pemimpin aksi adalah ketua BEM dari universitas negeri, dan wakil dari BEM universitas swasta, menunjukan para pemuda bersatu.
Kini di waktu yang bersamaan sesuai tempatnya mereka bergerak menuju gedung d3wan. Diluar Jakarta, menuju gedung dew4n provinsi.
" *Ketiga, bagi tugas. Tidak semua mahasiswa di lapangan berorasi. Ada seksi keamanan, media, konsumsi, keselamatan dll yang dibutuhkan. Tapi pastikan posisi terdepan berhadapan dengan penjaga adalah wanita, wanita yang menguasai bela diri*."
" *HAH!" sahut mereka serempak*
" *Mana bisa? Itu tempat bahaya." Protes lainnya*.
__ADS_1
" Justru itu, aksi ofensif p0lis1 akan berkurang jika yang mereka hadapi adalah perempuan, mereka jangan ikut berorasi atau teriak-teriak cukup adu pandang dengan petugas, kalau bisa ajak ngobrol, sekalian kasih no WA. Alamat Ig Kalau mereka kasar, mereka akan dihujat habis-habisan." Zahra terkekeh geli
" *Tapi kita makhluk lemah." Sahut satu gadis*.
*Zahra berdecak." Kalau begitu jangan ribut menuntut persamaan derajat dengan modus emansipasi wanita. Di rumah sakit banyak saya temui korban KDRT itu laki-laki*."
" *Maksudnya, mereka dibekali pentungan, lha kita*.."
" *Semprotan merica, bagi saya pribadi demonstrasi tanpa persediaan pengamanan diri itu bodoh, hanya mengantarkan nyawa saja. Kita buat senjata yang paling 'sipil' yaitu cairan merica yang dimasukan ke dalam botol yang ada alat semprotnya*.
" *Amit-amit keadaan kacau dan terdesak kalian hanya perlu mengambil perisai wajah mereka, lalu semprotkan cairan itu ke mata mereka, itu tidak berbahaya tapi cukup efektif melemahkan kesigapan lawan. Jadi kalian harus bekerja sama dengan kawan di sebelah kanan atau kiri kalian untuk melawan agresivitas mereka*."
" *Terus tugas apalagi yang penting?" Tanya yang lain*.
" *Keamanan, posisi mereka di pinggir mengelilingi para demonstran, tugas mereka mengamati dan mengawasi keadaan dan situasi, mereka menjadi pagar betis demonstran. Jadi kalau penyusup memprovokasi, mereka yang bertindak, pastikan bagian ini mereka yang punya bela diri, minimal waktu SMA tukang tawuran*!"
" *Selanjutnya media, mahasiswa sospol, dan hukum ditugasi menjadi bintang tamu di acara tv saat demo berlangsung selaku narasumber, di sini kalian jelaskan maksud dan tujuan aksi*."
" *Mahasiswa IT, ini jaman digital. kalian manfaatkan untuk menyebarluaskan aksi ini, gunakan drone untuk mengawasi seluruh keadaan di lapangan, dan menyebarkannya ke sosial media, hingga para pihak tidak bertanggung jawab tidak punya kesempatan untuk memfitnah kalian*."
" *Berdasarkan pengalaman demo di masa lalu, pastikan sosial media tidak diblokir p3merint4h. kalian akan keren banget sich kalau berhasil menjegalnya." provokatif Zahra*.
Terbukti, malam sebelum aksi, pemerint4h memalui m3nkoinf0 memblokir whatup, Twitt3r, inst4gram, tel3gram, bahkan YovTub3.
Namun, beberapa menit sebelum aksi *hacker* berhasil membobol server mereka, bahkan menguncinya hingga pihak keamanan cyber n3gar4 tidak bisa mengoperasikan sistem mereka, mereka tidak berkutik. sosial media kembali berfungsi, kecuali milik instansi dan orang-orangnya.
" *Kalian bisa meretas stasiun televisi yang tidak menayangkan aksi kalian. pokoknya pastikan aksi kalian tersiar langsung di seluruh stasiun televisi agar menjadi perbincangan publik*."
" *Keempat, pastikan pejab4t ada di tempat. Jangan kayak orang bego, kalian berdemonstrasi di depan gedung yang tidak berpenghuni*."
*Di sinilah pentingnya Intel diantara kalian, pastikan pejab4t itu ada dimana, diujung gang sekalipun datangi, dan lakukan peretasan pada kemera cctv mereka, agar masyarakat melihat respon mereka secara langsung atas aksi kalian*."
" *Itu tidak mudah.." ucap satu mahasiswa IT*.
" *Tapi bukan hal mustahil kan*?"
" *Kita bisa." Celetuk Alfaska*.
Maka akhirnya tanpa sepengetahuan pihak terkait seluruh cctv pemerintahan dijebol hacker. Perang antar hacker terjadi sebelum akhirnya terjadi kesepemahaman kalau ini bertujuan merubah nasib negara.
Diketahui H-1 pr3siden dipindahkan dari Jakarta menuju Bogor, maka para demonstran memindahkan aksi mereka berpusat ke 1stana4 di sana.
Agar demonstrasi di Bogor lebih disorot, maka aksi inti diadakan di Bogor.
Pemindahan dadakan tersebut mendapat larangan dari pol1s1 setempat sebelum mereka ditelpon Ergi untuk membiarkannya.
Kesekretariatan pr3siden terkejut mereka mengetahui keberadaan RI1, BIN diperintahkan untuk mengawasi pergerakan demontrasi.
di Jakarta target mereka adalah m4bes polr1 dan gedung S3nay4n
" *Kelima, buat aksi se anti-mainstream mungkin*."
" *Guy, kita kan..mau buat Persema antar kampus gimana kalau Persema itu ajang demo kita*."
" *The aneh tampil ya!" celetuk yang lain*.
" Tentu." Timpal Alfaska yang haus popularitas, namun langsung mendapat toyoran di kepalanya dari Daniel dan Mumtaz.
" *Masukan Bara dan Akbar atau siapa saja yang ganteng yang damagenya savage banget*. *guna menarik perhatian*."
" *Kak.." protes Bara dan Akbar berbarengan*.
" *Kita pengusaha*..."
" *Tetap aja di KTP kalian statusnya mahasiswa." Zahra memotong ucapan Bara*.
Akbar yang hendak protes pun diurungkan melihat Hito menggeleng.
Maka menggunakan truk trinton, Persema dia dakan di atasnya dengan bak terbuka, dilengkapi peralatan musik yang komplit layaknya band.
" *Keenam, lakukan aksi secara damai. pastikan asupan perut mereka terpenuhi, maka bagian konsumsi, makanan dan minuman harus selalu tersedia*.
" *ini butuh dana besar banget*."
" *Ajukan proposal pada para pengusaha. ingat diantara mereka pasti ada yang satu server dengan kalian. lagian Atma Madina, Birawa, Rugawa, Santoso, Hartadraja bersama kalian. iya kali Keluarganya gak ngasih." sarkas Zahra yang mendapat acungan jempol dari para audiensnya*.
Maka, Adgar, Raja, Alex, Brian, Akbar dan Bara berdiri di atas truk yang dijadikan podium. Satu drone ditugasi khusus menyorot mereka yang langsung tersiar di akun YouTub3 yang dibuat khusus menayangkan siaran live aksi tersebut.
" *Ketujuh, aksi jangan berhenti sebelum perwakilan mereka menemui kalian, dan memenuhi satu atau dua aspirasi kalian. Hal ini ditekankan agar usaha kalian tidak percuma.Terkesan egois, tapi ini suatu keharusan, terlalu banyak penjahat di pihak mereka*."
flashback off.
Ruas jalan yang dilalui mereka dari Jakarta menuju Bogor disterilkan, aksi massa terbesar pasca reformasi mendapat dukungan masyarakat.
Hari kedua demo tidak kunjung mendapat respon p3merint4h, maka merekapun melanjutkannya. mereka jadikan jalan sebagai rumah diaman tidur, shalat makan dilakukan di sana. untuk buang hajat dan membersihkan diri para warga sukarela rumah mereka dijadikan tempat singgah, bahkan mereka sering dibekali cemilan saat kembali ke tempat. rutinitas itu dilakukan secara bergilir.
Tambah hari, makin banyak massa bergabung, pada hari ketiga p3merint4h daerah meliburkan kerja dan sekolah karena jalan tertutup massa.
Tidak adanya respon dari pemerint4h kemarahan semakin meluas, segala umpatan cacian, dan hinaan rami ditujukan untuk penguasa.
__ADS_1
Pada hari keempat dinihari terjadi perlawanan fisik diantar dua kubu uang berakhir massa mengepung 1stana, sen4yan, mab3s dengan merobohkan pagar. TNI pun diturunkan, suasana semakin mencekam...