
Kini Ayunda tahu toilet memang tempat yang berbahaya.
" Kya...lepas woy, sakit." Bentak Ayunda mulai kesal, tangan Ayunda memegangi tangan Jessica yang menguasai rambutnya, mengabaikan rasa perih di pipinya.
Jessica semakin menggila, satu tangan ia menj4mbak rambut, satu tangannya lagi mencekal tangan terluka Ayunda, ia remas luka yang berbalut perban itu sangat kencang hingga Ayunda menjerit kesakitan.
" Kyaaaa.....aaaaa...wss...sakiitt.."
Para petinggi Genk ingin bertindak, namun dicegah oleh Zayin dengan kode menggelengkan kepala, jeritan Ayunda ia dengar dengan raut wajah tenang yang membuat para sahabat semakin merutuki sang lawan Ayunda.
" Astaganoge, lepas. B3d3b4h!" Pekik Ayunda naik pitam.
" M4t1 Lo, m4t1..." Histeris Jessica, semakin menarik rambut Ayunda lebih keras, kali inu rambut yang dij4mb4knya semakin banyak, dia bahkan menggoyangkan kepala Ayunda saking marahnya, luka ditangan Ayunda semakin ditekan erat.
" Kyaaaa...." Kulit kepalanya bagai terkelupas, sakit di tangannya sudah tidak lagi bisa dikatakan, ia meronta berusaha menjauhi kedua tangan itu dari tubuhnya, namun Ayunda gagal.
" Muy, telpon Zayin, kenapa dia diam saja." Bentak Daniel gemas, karena mereka dapat melihat Zayin dan petinggi Genk tidak berbuat apapun.
" Bara, lo harus hukum itu petinggi Genk." Rutuk Daniel Makki panik.
" Apa ini hukuman Zayin kepada bunda yang menyembunyikan Mami!?" Terka Hanna sendu.
" Bun, stop berpikir jelek tentang Ayin, dia tidak sepicik itu." Daniel mengusap wajahnya dengan kesal karena tidak berdaya saat adiknya mendapat kek3ras4n di depan matanya.
Sedangkan dalam diamnya, kedua tangan Ibnu mengepal kuat. Matanya menatap sang lawan dengan tajam, dalam hati dia membuat perhitungan terhadap remaja itu.
Sakit, itu yang dia rasakan, melihat gadisnya dirundung sedemikian rupa. " Gadisnya..." Hati Ibnu menghangatkan kala dirinya menyerah menyangkal perasaannya pada sang gadis itu.
Bibir petinggi RaHasiYa mulai terangkat saat apa yang dilihatnya di layar itu," dia memang manja, tetapi dia seorang Birawa." Bisik Bara yang disetujui oleh yang lain.
*****
Tak habis akal, Ayunda menginj4k dengan kuat kaki Jessica yang langsung mengaduh yang mengakibatkan cekalan kedua tangannya merenggang.
Secepat yang Ayunda mampu, dia memegang tangan Jessica lalu memutari dan mem3l1intir ke punggungnya, kemudian didorongnya tubuh Jessica hingga membentur tembok, kini situasi berbalik, Ayunda yang menguasai keadaan.
" Aaws...adawws..." Rintih Jessica kesakitan.
" Loser? Gue seorang Birawa, n4jis kalah dari kot0r4n macam Lo." Bisiknya di telinga Jessica dengan suara berat mengancam.
" Lo sudah tahu konsekuensi kalau melawan gue, tapi masih nekat. Fixed otak Lo gak berfungsi."
Jessica terkejut, ia sama sekali tidak menyangka jika Ayunda yang vibenya terkenal ceria, manja dan menggemaskan bisa membela diri bahkan membalikkan keadaan.
" Lepaaassss,..." Bentak Jessica.
" Sebentar b0doh, gue lagi mikir cara bikin Lo jera." Ayunda balas membentak.
Setelah beberapa detik berpikir, Wajah Jessica semakin ditekan ke tembok, dengan kasar Ayunda membuka rok Jessica, kemudian membawa Jessica mendekati westafel, menyumbat lobang air westafel dengan kain rok, mengisinya dengan air dari keran hingga penuh, kemudian mencelupkan wajah Jessica ke dalam air tersebut cukup lama tanpa memperdulikan kepala Jessica yang berontak minta dibebaskan dari cengkr4man di belakang kepalanya yang terus menekan kepalanya semakin kedalam hingga membentur lantai westafel.
" Lo rasakan aksi perpaduan kejeniusan Teddy Birawa, dengan kebar-baran Hanna Birawa." Desis Ayunda tanpa dosa.
Dalam air, wajah Jessica sudah memucat, nafasnya mulai melemah. Ketika menyadari pergerakan kepala lawan minim, Ayunda mengangkat kepala tersebut, Jessica mangap mencoba mengambil oksigen, belum sempat keinginannya terwujud, kepalanya kembali dimasukan ke dalam air sampai kepala itub tidak lagi meronta, kemudian dia lepas pelintiran tangannya.
Seketika tubuh Jessica luruh ke lantai, membiarkan lawannya mengambil nafas, Ayunda berdiri bersandar di tepi wastafel satunya sambil bersedekap dada.
Wujud Jessica menyedihkan, dengan rambut semrawutan baju seragam dengan kancing yang sudah lepas entah kemana, dan bawahan yang hanya dilapisi hotpant.
Mengambil langkah santai Ayunda mendekatinya, lalu menginjakkan kakinya ke atas perut Jessica kemudian menekannya.
" Aawsss." Rintih tertahan dengan suara lemah keluar dari mulut sang lawan.
" Mulut bvsvkmu tidak pantas menyebut kata Birawa apalagi mengejeknya. Mulai sekarang nikmati masa kegelapan Lo."
Ayunda mengambil kunci pintu dari sakunya, " gue mampu mengambil kalau gue mau. Segini saja apa yang Lo bisa, lo yang gak mampu mengatasi gue." Tukasnya sebelum membuka pintu, kemudian melepasnya, dari luar dia kunci pintu toilet tersebut.
Begitu pintu terkunci, bibir Jessica menyunggingkan senyuman kepuasan meski dia dalam keadaan lemas.
" Bukan gue yang mengalami kegelapan, tetapi Lo, Birawa!" Gumamnya dengan aura jahat sebelum dia menutup kedua matanya untuk mengumpulkan tenaga. Dia harus mengirim rekaman pada Mela.
Ayunda berjalan meninggalkan area toilet dengan langkah pelan karena kakinya yang gemetaran.
Begitu netranya mendapati wujud Zayin, sambil berurai air mata ia sekuat tenaga berlari ke arah Zayin yang sudah merentangkan kedua tangannya siap menyambut kedatangan Ayunda.
Dalam pelukan Zayin, Ayunda menangis tersedu-sedu melepas emosi yang sudah tertahan beberapa saat dalam hatinya.
" A..abang... A..Ayu..."
" Shuutt...kamu berani, Abang bangga padamu." Bisik Zayin menenangkan.
Zayin menggendong tubuh Ayu yang lemas ala bridal ke UKS yang pintunya sudah dibuka Andromeda.
" Andros, Ayu sudah berani melawan." Cicit Ayunda sedikit bangga pada dirinya sendiri sambil bersandar pada dada bidang Zayin.
Andromeda menghadiahinya senyuman bangga padanya." Pastinya, princess-nya Genk BIBA bukan orang kaleng-kaleng."
" Heem." Ayunda setuju.
" Bereskan semua urusan digital tanpa jejak, terutama Jessica dan Mela." Bisik Zayin tepat di telinga Andromeda, matanya melirik ke gedung staf.
" Tentu." Jawabnya, Pintu itu ditutup begitu para sahabat Zayin sudah masuk semua.
*****
Daniel dan para sahabat yang melihat itu semuanya terkagum-kagum dan cukup terkejut pada kemampuan Ayunda, mereka tidak mengira jika Ayunda berani dan bisa melakukan perlawanan.
" Selama ini cara perlindungan kita untuk Ayu, salah besar. Kita tidak mewaspadai serangan saat dia sendiri dimana kita tidak bisa bersamanya." Ucap Bara merenung.
Dalam pelukan Daniel, Hanna menangis sedih bercampur takjub akan apa yang dia lihat.
" Aniel, apa kekejaman seperti itu yang dialami Ayu selama ini?" Renung Hanna.
" Tidak, Genk sekolah pasti melindunginya, hanya saja kita tidak memperhitungkan kemungkinan hal seperti ini." Ujar Daniel dengan tidak yakin.
Ibnu yang melihatnya paling depan tiba-tiba hatinya merasakan amarah yang sangat besar, hal itu memicu dirinya menguliti semua hal terkait tentang jessica.
Tangannya masih sibuk dengan laptopnya, begitupun dengan tim cyber Genk. Ditengah belajarnya, laptop mereka bukan menampilkan tema mata pelajaran, namun peretasan terhadap gadget yang aktif yang terdeteksi oleh kamera yang dipasang Zayin saat peristiwa toilet tadi.
Hanna Menyadari ada hal yang berbeda dengan putra yang biasanya lebih kalem dari yang lain ini. Perlahan ia menyentuh bahu Ibnu yang tidak mendapat respon dari sang empu.
" Nu." Sekali panggilan Hanna dicueki oleh Ibnu.
" Nu." Suara Hanna agak meninggi yang tidak didengar oleh Ibnu.
Mumtaz melipir menjauh dari ruang tamu untuk menelpon Eidelweis meminta bantuannya.
Kini Hanna menepuknya." Ibnuu..." Tubuh Ibnu tersentak, ia memalingkan diri pada Hanna yang memanggilnya dengan suara keras.
" Ada apa, Bun?" Suara dingin Ibnu menyentak Hanna pada kenyataanya.
" Apa kamu baik-baik saja?"
" Bagaimana aku bisa baik-baik saja kalau Ayu tidak baik-baik, semua karena keteledoran aku, Bun. Jadi aku harus membayarnya. Bunda jangan ganggu aku dulu ya." Mimik Ibnu menyorotkan minta pengertian dari Hanna.
Hanna mengangguk pelan, meski dalam hati dia cemas. Daniel merangkulnya menjauhkan Hanna dari sahabatnya.
" Bunda tenang, dia baik-baik saja, sekarang biarkan kami menuntaskan pembalasan untuk adik bungsu kami. Bunda bikin sarapan saja ya." Pinta Daniel.
" Assalamualaikum, ada Tante Hanna?" salam Eidelweis dari arah pintu.
__ADS_1
" Kenapa Del?"
" Bantu aku masak buat mereka, Adel lagi manja karena marah sama Ayin yang ingkar janji ke pasar malam."
Meski bicara pada Hanna, ujung matanya sesekali melirik Mumtaz yang memberi senyum tipis padanya.
"Oh baiklah." Hanna berjalan ke arah dapur, melihat bahan apa yang dibutuhkan.
Kini di ruang tamu hanya adaanak RaHasiYa.
" Apa Zayin memproduksi kamera sendiri? Ini bukan kamera milik TNI." Tanya Daniel.
" Sebenarnya beberapa waktu lalu dia meminta beberapa kamera bola RaHasiYa, mungkin dia memodifikasinya." Ucap Alfaska.
" Mumuy, maafkan Bunda yang sudah berburuk sangka pada Zayin." Ucap Hanna di ambang pintu antar ruangan.
Mumtaz tersenyum kecil sebagai reaksi atas ucapan Hanna, yang membuat Hanna gusar tidak tenang begitupun dengan Daniel.
" Muy,..." Suara resah Daniel mengalihkan pandangan Mumtaz dari iPadnya.
" Soal bunda..."
Mumtaz mengangkat wajahnya." Its okey, jangankan bunda, kita saja belum mengenal Ayin. Selama ini banyak hal yang luput dari perhatian kita."
" Kita terlalu percaya diri bisa mengendalikan keadaan setiap orang hingga lalai bahwa terkadang Allah memberi skenario lain lewat orang luar yang tidak bisa kita kendalikan."
" Kita terlalu memanjakan Ayu yang memang manja karena berpikir Ayu terlalu naif untuk dunia yang jahat ini. Sifat protektif dan posesif akut kita yang menutup penglihatan kita terhadap potensi yang Ayu miliki, Zayin melihat dan mengetahui itu." Tatapan tidak fokus Mumtaz menandakan dia sedang merenungi sesuatu.
" Mungkin bukan ide yang buruk membiarkan Ayu sesekali adu fisik seperti kita membiarkan para bocil itu." Tutur Bara.
" Gue gak setuju, kalau dia terluka gimana?" Timpal cepat Ibnu.
" Tinggal diobati, jangan alay." Ucap Alfaska.
" Hal-hal kayak gini tu, praktek agar terbiasa. Berjuta jurus dia pelajari kalau gak dipraktekin ya nol." Lanjut Alfaska.
" Tapi kan..."
" Siapa yang setuju Ayu berantem?" Daniel memotong protesan Ibnu.
Empat dari lima mengangkat telunjuknya, kalah suara Ibnu hanya bisa menghembuskan nafasnya kesal.
" Awas aja Lo bikin Ayu sampai ke rumah sakit." Dumel Ibnu pada Alfaska.
" Nu, apa yang Lo cari sudah Lo dapatkan?"
" Sudah, sudah gue kirim ke email kalian. Apa yang kita dapatkan memudahkan kita menghancurleburkan mereka." Ujar Ibnu diakhiri tawa smirknya.
****
Dalam UKS, lima pemuda tampan itu merawat Ayunda dari ujung kepala hingga ujung kaki mereka periksa dan obati setiap lukanya bagaikan ratu.
" Bagaimana pertama kali bisa membalas penindasan orang?" Tanya Raja mencoba mengalihkan Ayunda dari lukanya.
" Takut, tapi menyenangkan, hiks...sakiitt." lirihnya.
" Ja, pelan-pelan Napa, itu kepalanya bukan lutut." Omel Adgar.
" Ini gue sepelan mungkin, lebih pelan daripada usapan gue ke keponakan gue malah." Sewot Raja sambil membubuhi toner rambut ke kulit kepala Ayunda.
" Kepala Ayu botak ya bang?"
" Botak sih enggak, cuma memang banyak rambut yang lepas kayaknya."
" Ishh, kalau ada kesempatan berantem lagi, Ayu bakal Jambak dan tarik rambutnya banyak-banyak."
" Emang berani?" Tanya Juan.
" Kalau yang itu kamu jangan ikutan, berantem antar cewek aja, yang gampang-gampang." Seru Zayin.
Khadafi yang duduk di kursi meja jaga menggelengkan kepala tidak habis pikir, empat pemuda tangguh itu bisa jadi pelayan gadis manja di depannya.
Mendapati ponselnya bergetar Zayin berpindah ke pojok ruangan.
" Hallo."
"........"
" Siap, komandan."
Setelah menutup sambungan Zayin melangkah mendekati brankar Ayunda.
" Abang mau pergi ya!" Ayunda cemberut.
" Enggak sekarang, mungkin kamu pulangnya nanti bareng yang lain."
" Abaaaangggg..." Rengek Ayunda manja.
" Ayu pengen pulang "
" Kenapa?"
" Lihat penampakan Ayu, gak banget." Keluh Ayunda.
Zayin merapihkan rambut Ayunda," panggil teman kamu minta bantuan mereka memperbaiki diri."
" Gak perlu, Ayu bisa sendiri." Ayunda dengan menggunakan cermin kecil merapihkan penampilannya.
" Kamu gak mau melihat Jessica dipermalukan?" bujuk Zayin.
" Dia juga paling bolos."
" Gak akan bisa, tanya bang Adgar."
Pandangan Ayunda beralih pada Adgar yang sedang memperbaiki balutan perban Ayunda.
" Sebagai hukuman yang kemarin dia dilarang abstain mengikuti *** selama satu semester, atau dikeluarkan dari sekolah." Jelas Adgar.
" Ini kamu mau di sini aja sampai istirahat atau ke kelas?" Tanya Raja.
" Ke kelas, aku lagi kuis."
" Kita anter."
Ayunda berjalan di koridor yang sepi dengan pengawalan dari lima pemuda yang good looking, para siswi yang menyadari langsung mengambil gambar.
" Ayu masuk." Ucap Ayunda sebelum meghilang dibalik pintu.
" Daf, Lo tunggu dia di sini?" Pinta Zayin
" Hah? Nangkring gitu gue di sini?"
" Iya, udah jangan banyak protes. Kita di kantin kalau Lo butuh bantuan."
" Gar, gue percayakan kasus tadi ke Lo, jangan sampai jessica mendapat bantuan dari keluarganya." Kata Zayin.
" Beres, mereka tidak punya waktu buat ngurus hal kecil seperti ini." Ucap Adgar.
" Jessica itu tidak akan berhenti, walau Daud Wibisono bangkrut, nyokapnya, Devi. Punya bekingan orang kuat di negeri ini."
__ADS_1
" Serius?" Tanya Raja.
" Heh, Lo gak inget dia tercyduk dengan kepala labfor sewaktu kasus Gonzalez bergulir."
"Oh iya gue lupa, posenya anjrit bisa lah jadi bintang video p0rn*." Seru Raja antusias dengan mimik mesum.
" Dia kenal mereka lewat Brotosedjo yang dekat dengan Gonzalez, dan Lo terka sendiri jalan selanjutnya."
" Anjr1t, Surga Duniawi sudah rata, tapi para bintangnya masih berseliweran." Ujar Juan.
" Setelah ini, gue gak yakin bisa dampingi Ayu, petinggi RaHasiYa juga kemungkinan besar bakal sibuk, jadi gue percayakan Ayu pada kalian. Lecet dikit kalian jadi urusan gue!" Peringat Zayin.
" Apa Lo mengetahui sesuatu yang gak kita ketahui?" Adgar menatap penuh selidik.
" Gue cuma bisa kasih clue, Navarro. Selanjutnya kalian cari sendiri."
" Gar, Lo sebagai CEO, bisa mengintimidasi para pengusaha yang menjadikan dia simpanan agar si Devi keluar dari singgasana nyamannya."
" Boleh tahu kenapa?"
" Supaya kita bisa lihat who is the real traitor of Indonesia."
" Gawat banget ni kayaknya."
" Sampai sini saja infonya. Kalian siagakan anak RaHasiYa lapis bawah sebagai pasukan cadangan. Gar, sebagai mantan Genk, Lo masih punya pengaruh bagi mereka untuk selalu siaga, khususnya peningkatan kejahatan di jalanan, yang gue perkirakan panglima sebentar lagi akan menurunkan pasukannya dengan penyamaran. Btw, ini semua off the record."
Mereka mengangguk, artinya berita ini hanya sampai pada team inti saja.
" Zayin." Zayin menoleh pada suara yang memanggilnya dari arah pintu kantin, dimana Mela sedang melangkah mendekatinya.
" Bisa kita bicara?" Mela mencoba menyembunyikan kegugupan dan ketakutannya.
" Sejak kapan Lo sama gue punya hal yang bisa dibicarakan?" Ucapnya dengan gestur songong.
" Hmmptt." Para sahabat menahan tawanya.
" Kalau kamu tidak mau bicara, maka bersiaplah nama Ayunda Birawa akan jatuh sejatuhnya." Ancam Mela yang menggoyang-goyangkan ponselnya.
Aura mengancam menguar dari diri Zayin dan yang lain, tatapan yang semula meremehkan menjadi tajam siap menghunus.
Mata jelinya meneliti bagian atas untuk mencari cctv yang ternyata ada di berbagai sudut.
" Gue gak paham kenapa Lo segitu membenci Ayu yang notabene usianya jauh dibawah Lo?"
" Lo pasti pernah dengar, waktu SMA gue pernah dekat dengan Ibnu, tapi si Ayu itu sering berulah hingga kencan kami sering Ibnu batalkan."
Zayin dan para sahabat terkekeh merendahkan," Lo tahu point yang gue tangkep dari cerita Lo?"
" Zayin, berhenti menyepelekan gue."
Mengabaikan protesan Mela, Zayin berjalan mendekatinya." Pointnya adalah Lo gak punya daya tarik, Lo yang SMA bisa dikalahkan anak SD? Yang benar saja Mela, apalagi sekarang, look at you. Masa keemasan Lo untuk menarik perhatian cowok sudah lewat, ke jurang aja Lo terjun. Poor banget hidup Lo." Hina Zayin tidak tanggung-tanggung.
" Gue di sini bukan untuk dihina, tapi gue pengen Lo minta Ibnu untuk dinner bareng gue, atau..." Lagi, Mela mengayunkan ponselnya.
" Gue tahu apa yang dilakukan Ayu di toilet tadi, gue yakin bahkan RaHasiYa pun tidak bisa menyelamatkannya!" Ucapnya didramatisir, matanya menyapu para mantan adik kelasnya.
Raja berdecak sebal." Lo itu udah jelek, kusam, ceking, gak punya otak lagi. Lakukan, lakukan apa yang mau Lo lakukan, saran gue segera! Sebelum si Zayin bertindak, sekali dia bertindak, yang sekarang Lo lagi viral itu bukan apa-apa!" Peringatnya.
" Diam Lo, gue gak punya urusan sama Lo." Bentak Mela pada Raja dengan mata melotot.
" Gu mah Alhamdulillah, turun derajat gue punya urusan sama orang yang level jongkok kayak lo." Culas Raja.
" Beraninya sama gue, noh sama Adgar. Dia pawangnya Ayu."
Tubuh Mela seketika menegang dia lupa akan keberadaan Adgar di sini.
" Gue sih masih fine, ini bagus buat promo sekolah dalam penindakan disiplin pegawai yang tidak tahu diri." Tutur Adgar santai.
" Zayin..." Panggil Mela menahan kesal.
" Lo gak dengar omongan Raja, level gue anjlok berurusan sama Lo." Tekan Zayin.
" Gue udah peringatkan kalian, kalau kalian pikir gue hanya menggertak, lihat ini."
Mela membuka ponselnya, langsung menuju file penyimpanan video, ia terus mencari, tapi tidak kunjung ada. Wajahnya mulai frustasi.
Lima pemuda itu tersenyum smirk tipis melihat raut wajah Mela.
Mela bahkan kini duduk di meja samping mereka. 20 menit sudah dia mencari, namun berkas itu tidak ada.
" Mel, daripada pusing nyari apa yang gak ada, mending Lo lihat hp Lo, nyokap Lo lagi jadi berita jadi simpanan salah satu politisi yang kemarin ketangkep bersama 50 politisi lainnya." Ujar Juan.
" Bahkan nyokap Lo sekarang sedang nunggu Lo di rumah, karena dia tahu Lo penyebabnya dia sampai viral." Tukas Raja.
" Gue izinkan Lo untuk pulang saat ini, baikan gue. Gue kudu siap-siap ada wawancara minta klarifikasi tentang ini." Adgar memperlihatkan ponselnya yang mendapat pesan dari asisten Julia.
Mela mematung kaku di tempatnya, tubuhnya seketika gemetaran, bayangan ibunya yang cantik diluar, namun buas dari dalamnya mulai membuatnya panik.
" Mel, Lo paham kan kenapa harus jauhi Ayu dan Ibnu atau siapapun yang berkaitan dengan gue. Lo bukan tandingan gue, ibarat Lo tikus, gue macan, dengan mudahnya gue bisa bikin Lo binasa. " Ucap Zayin menegaskan dengan mata yang menajam.
Mela kini tidak berkutik lagi, segala usaha menjadi seseorang selalu gagal. Dia hanya ingin ibunya bangga padanya, tapi kenapa sulit.
" Yin,...demi masa lalu, tolong bantu gue."
" Mel, stop banyak omong, dia gak urus perihal apapun tentang lo, pergi!" Kesal Raja.
Mela mendelik marah pada Raja," gue gak..."
" Pergi!" Potong Zayin.
" Ini soal pekerjaan gue, hidup gue, Yin. Lo tega hancurin gue. Dramatis Mela.
" Heh, bagi dia hanya Ayu yang harus dia pedulikan, bahkan Lo jadi tuna susila sekalipun dia gak bakal peduliin lo." Seru Juan.
Kring... kring...
Bel istirahat menandakan sebentar lagi kantin penuh, para pemuda masih santai duduk dengan menu masing-masing.
Para siswi yang masih sawan akan kegantengan alumnus sekolahnya melirik dengan gestur menggoda.
Hanya Raja yang menanggapi kegenitan para gadis alay itu.
" Kyaaa..." Suara jeritan dari beberapa siswi yang berlari ketakutan dari arah toilet menarik perhatian, dalam waktu singkat toilet dikerumuni oleh banyak orang.
Jessica dengan penampilan senonohnya mengangkat tangan minta tolong, yang diabaikan oleh siswi yang keluar masuk toilet, mereka hanya mengambil gambar Jessica yang terlihat menyedihkan. Pada akhirnya anggota OSIS lelaki mengangkutnya menutupi tubuhnya dengan selimut UKS.
Setelah diobati oleh dokter jaga, Bu Dwi, selaku guru BK, dan pak Raden, selaku wali kelas menanyainya.
" Jessica, kami tahu siapa yang melakukan ini padamu?"
" Ayunda, Bu."
" Jessica, kamu jangan memfitnah."
" Saya tidak fitnah, saya punya buktinya di ponsel saya."
" Kalau kalian adu fisik, berarti kamu melanggar sanksi agar menjaga jarak dari dia."
" Tidak, dia menyerang saya sewaktu saya usai buang hajat." Jawab Jessica yakin, dia berharap Mela sudah mengedit foto yang dia kirim dengan susah payah ditengah kelemahannya.
__ADS_1
Interogasi itu terus berlanjut sampai Zayin memasuki ruangan tersebut. Mereka. Bu Dwi dan pak Raden menghela nafas dengan berat, mereka memikirkan hal yang sama. Hari ini akan menjadi hari yang melelahkan...
Yuk, diramein like, komen,vote dan hadiahnya...see you...