
Meski Mumtaz mengatakan istirahat, tetapi kenyataanya petinggi RaHasiYa menguras otak menyelamatkan Zahra sekaligus membalas Gonzalez sampai ke akar-akarnya di ruang kerja mereka masing-masing.
Zayin melenggang santai memasuki ruang kerja Mumtaz yang mana Mumtaz tengah berbaring di sofa panjang dengan tangan menutupi matanya.
" Bangun." Zayin menendang kaki sofa.
" Ck, apaan sih, sadar ini jam berapa?" Mumtaz duduk bersandar ke sofa dengan mata yang masih terpejam.
" Ada abang ipar Lo noh." Mumtaz melirik Dominiaz yang sudah duduk di sofa tunggal seberang Zayin.
Mumtaz memperbaiki posisi duduknya," bang, darimana barengan ama ni anak?"
" Kencan di pelabuhan."
" Sukses?"
" Pastilah, ada guenya." Sombong Zayin.
" Ini siapa?" Mumtaz melihat seorang lelaki tegap yang duduk di seberangnya.
" Dia Arvan, anak angkatan darat." Jelas Zayin.
" Kalian ngapain ke sini?" Tanyanya pada William dan Bayu.
" Sebenarnya kita pengen pulang, tapi daripada diteror di hp sama Zayin mending kita ikut ke sini." Jawab William.
" Bang, kita nerima beres aja, kita butuh tidur, dua hari belum tidur ini." Ujar Bayu.
" Hmm, tidur di kamar tamu, tanya aja sama anak RaHasiYa letak kamar tidur tamu. Bilang tamunya abang."
Tanpa kata mereka berdua keluar dari ruang kerja Mumtaz.
" Muy, Lo nyalain tv cepetan." Ucap Alfaska tergesa-gesa memasuki ruang kerja Mumtaz
" Ya Lo nyalain lah Lo yang berdiri lebih dekat juga."
" Oh iya." Alfaska menepuk keningnya.
" Tadi malam pihak bea dan cukai berhasil menggagalkan pengiriman senjata ilegal dari luar negeri yang masuk lewat ..."
" Ini yang Lo lakukan dek?" Alfaska menatap Zayin.
" Bukan cuma gue bang, tuh bang Domin juga."
" Ngapain mafia ikut ngegagalin? Jadi mafia insyaf bang!?"
" Ck, mafia di negaranya, di sini warga yang baik." Decak Dominiaz sebal.
" Whatever, mana ada mafia baik."
" Ini lebih mudah bagi kita menghancurkan Gonzalez." Seru Ibnu yang baru datang.
" Sejatinya pengiriman senjata ini harapan utama Gonzalez mendapatkan dana dari hasil pembelian senjata dari pada pemberontak."
Ibnu membagikan kertas berisi laporan keuangan Gonzalez.
" Sumber keuangan terbesar Gonzales dari kegiatan kartel, itupun hilang sejak kepemimpinan di ambil alih Rodrigo, maka sumber keuangan dialihkan ke penjualan senjata yang bersumber dari Navarro." Lanjut Ibnu.
" Dan karena tindakan ceroboh dia yang ingin memfitnah Salvatore, semuanya gagal." Sambung Zayin.
" Betul."
" Pang.lima T.NI dan Ka.po.lri sendiri yang turun tangan menangani kasus ini." Tukas Ibnu.
" Dilain tempat, di Sem.arang tepatnya terjadi aksi cowboy antara dua Genk ditengah jalan. Aksi tembak-menembak disinyalir perebutan wilayah kekuasaan...."
Mereka masih menyimak berita pagi di televisi.
" Apa bang Damian sedang melaju kesana ya?" Reka Alfaska.
" Kemungkinan, itu anak buahnya bang Damian kalau melihat dari lambang persatuannya." Timpal Ibnu.
" Sejak kapan Lo merhatiin lambang Genk?"
" Sejk si Bara atau Mumuy sering gelut sama geng. Siapa tahu dari mereka ada yang balas dendam."
" Bang, sorry ganggu. Tapi keluarga Hartadraja sudah berkumpul dilantai sembilan." Ujar Nando menyela obrolan mereka.
" Ini jam berapa? Bukankah pertemuannya jam tujuh?" Tanya Mumtaz bingung.
Ibnu dan Alfaska mengedikan bahu tak tahu, sedangkan Arvan hanya terdiam menyaksikan sambil sesekali mengamati layar hologram yang menampilkan hutan A.
*****
Jam dinding masih menunjukan pukul 03.45, namun Damian dengan pakaian kemeja putih celana panjang bahan warna Milo dan Julia memasuki ruang makan yang sudah tersedia beberapa hidangan dalam porsi besar.
" Kak, pak Ruben udah nunggu di ruang tamu." Ujar Eidelweis ditengah kesibukannya menghidangkan makanan.
" Ya udah aku ketemu pak Ruben dulu ya." Tuturnya pada Julia
" Sarapan dulu mas." Cegah Julia.
" Cuma sebentar, sekalian Sarapan bareng beliau."
" Maaf menunggu lama." Damian mengambil duduk di sofa tunggal.
" Baru nyampe kok."
" Bagaimana perkembangan terakhir?"
" Memang benar beberapa orang tertangkap polisi, tapi kebanyakan dari mereka berhasil lolos dan membawa para penculik yang berhasil mereka tangkap." Ucap Ruben, pengacara keluarga Hartadraja
" Bagaimana kabarnya Ricky?"
" Dia salah satu yang berhasil lolos dari kejaran polisi."
" Alhamdulillah, coba minta foto para tawanan satu persatu. Kita cari identitas mereka.*
"Baik saya hubungi Anka buah di sana. Beruntung banyak orang yang merekam kejadian, jadi lewat rekaman itu kita bisa menyelamatkan yang lain."
" Baguslah kalau begitu, mari kita sarapan dulu baru kita berangkat."
Keluarga Hartadraja kini berkumpul guna sarapan dini, mengingat Damian yang hendak pergi ke Sem.arang untuk memberesi perkara keributan dijalan raya semalam.
" Kak, ke Sem.arang mau naik paesawat komersil? Pesawat keluarga sedang dipakai kak Hito." Tanya Eidelweis.
" Enggak, nyonya Irawan mengizinkan pesawatnya untuk Kakak gunakan." Jawab Damian
Semua menatap bingung Damian, sejak kapan mereka menjadi dekat setelah drama perebutan cinta dimasa lalu karena Damian yang terkenal badboy dimasa mudanya.
" Aaah, kalian kan mantan ya." Celetuk Eidelweis tanpa sengaja.
Julia menatap Damian menelisik.
Damian memegang lembut tangan Julia yang duduk disebelahnya," jangan salah paham, bukan hanya nyonya Irawan, tetapi top 20 juga sudah memberi izin pesawat mereka untuk kita gunakan."
" Sepertinya kabar penculikan mama sudah tersebar." Gumam Dewi.
" Cepat atau lambat berita ini akan terdengar." Aznan mengusap lembut tangan istrinya.
Rasa bersalah masih bercokol dihatinya karena meninggalkan mereka berdua.
" Kapan kamu berangkat?" Tanya Fatio.
" Setalah sarapan kita langsung berangkat."
" Apa nyonya Riska ikut?" Sindir Julia.
" Jangan mulai, sayang. Kecurigaan kamu enggak beralasan. Dulu aku udah milih kamu daripada dia, dan tetap kamu selamanya." Tutur Damian tanpa sungkan menggombal di depan para keluarga Hartadraja.
" Di depan begitu, tapi siapa yang tahu dibelakang, itu buktinya nyonya Irawan meminjamkan pesawatnya langsung."
Langit masih gelap entah mengapa bathin Damian sudah lelah.
" Riska dan yang lain menghubungi asisten kakek, meski aku berhubungan dengannya itu sebatas pertemanan dan rekan kerja. Kita masing-masing sudah menemukan cinta sejati kita.
Julia sudah menunduk malu-malu.
" Ck, mam. Mama itu galak gak pantas malu-malu begitu." Ujar Adgar.
Julia melempar serbet makan ke Adgar yang jatuh tepat di atas kepala anaknya.
" Uuuh, masih malam tapi udah disuguhi keromantisan, sweet enggak sih." Eidelweis menyenggol tangan Heru.
" Enggak, alay malah."jawab Heru. Eidelweis memukul lengan Heru.
" Tadi malam om Hito menelpon jam tujuh nanti kita dipinta kumpul di RaHasiYa." Seru Akbar.
" Perempuan juga?" Mohon Eidelweis.
Akbar menggeleng," hanya para pria.
" Kenapa sih kalian suka tidak mengikut sertakan perempuan?" Cibir Julia.
" Karena perempuan itu banyak drama." Jawab Adgar asal yang mendapat delikan dari Julia.
" Kek, pa, ma. Aku berangkat dulu." Damian menyeka mulutnya dengan serbet makan.
" Kabari perkembangan terbaru."
__ADS_1
" Iya." Sebelum pergi Damian terlebih dahulu mencium kening Julia.
" Jaga yang lain di sini, cuma kamu yang punya bela diri. Eidelweis cuma punya mulut buat memprovokasi doang." Sindir Damian tentang adik iparnya itu.
Omongan Damian mendapat sambutan kekehan dari klan Hartadraja dan pelototan dari Eidelweis.
******
" Ayok, cepat bergerak!!!" Salah satu penculik mendorong punggung Zahra.
" Sabar dong, ngantri ngapa. Bule gak bisa ngantri, norak Lo." Sembur Zahra tepat dimuka penculik.
Turun dari pesawat sayup-sayup terdengar suara adzan.
" Saya mau shalat dulu."
" Enggak bisa, enggak ada waktu."
" Wah wah...kalian ternyata ras.sis tidak mengizinkan saya sebagai musl.im menjalankan ibadahnya. Ini Indone.sia tunggu hukuman kalian yang ras.sis."
Menghela nafas malas sang penculik pun mengizinkan Zahra dan Sri menjalankan ibadah, di dalam Zahra sengaja meninggalkan bolpoin berlogo rumah sakit di mushala. Berharap ada orang yang mengambilnya.
Bolpoin itu merupakan bolpoin khusus untuk para profesor di rumah sakit yang terbilang mahal, maka siapapun yang menemukannya biasanya akan menghubungi pihak rumah sakit.
Di bolpoin tersebut tertera nama rumah sakit dan nama pemiliknya.
" Cepat, jangan membuang waktu." Tegur penculik.
" Iya, cerewet."
Sesudahnya mereka menuju mobil SUV hitam yang sudah menunggu.
Sebelum masuk ke mobil Zahra dapat melihat nama bandaranya, Palang.karaya. Disinilah mereka.
" Apa kita akan masuk hutan lagi?"
" Darimana kamu tahu?" Tanya Sri.
" Hanya dugaan, kita di Kalima.ntan, nek."
" Sini lutut nenek di obati dulu." Zahra mengangkat lembut kedua kaki Sri atas pahanya. Mengolesi lutut Sri yang terluka karena diseret para penculik dengan salep yang selalu dibawa Zahra.
Sri memandangi intens Zahra yang menunduk di atas lututnya.
" Kamu gak benci saya?"
" Hmm?"
" Saya orang yang sudah menghina kamu, kamu enggak benci saya?"
Zahra menutup salep, " saya enggak punya waktu buat benci nenek, tapi kecewa pasti ada. Bagaimanapun saya ingin nenek merestui kami."
Zahra menurunkan kaki Sri.
" Kenapa kamu masih bertahan dengan Hito setelah begitu banyak hinaan dan cibiran?"
" Saya hanya bertanggung jawab atas rasa saya pada Hito yang sudah memberi luka pada keluarga saya, tetapi saya menyukainya. " Wajah Zahra muram.
" Saya tahu mereka sangat berat menerima kak Hito, tetapi demi kebahagian saya mereka mengendapkan rasa tidak suka itu."
" Kamu seharusnya membenci saya."
Zahra mengangguk," seharusnya, tetapi mama bilang nenek bukannya tidak suka padaku, hanya nenek melindungi keluarganya, entah dari apa. Padahal saya sungguh mencintai kak Hito."
Sri tersentak," mama kamu bilang begitu? Setelah hinaan yang saya lontarkan?"
" Hmm, kan saya jadi sedih. Nenek jangan bahas mama, aku masih merasa kehilangan. Huuu... Huuu." Zahra menyeka air matanya ditengah tangisan yang mendadak.
Sri menarik Zahra ke dalam pelukannya," ck, katanya profesor dan jagoan gelut, ternyata cengeng juga "
" Nenek enggak tahu sih gimana jadi anak yatim piatu."
" Saya juga yatim piatu."
" Tapi nenek udah senior saya masih baru."
" Ya sudah nangis aja, tapi itu mata kamu pasti lebih sakit."
Zahra mengurai pelukan Sri yang terasa nyaman baginya.
" Nek, kenapa nenek tidak menyetujui saya dengan kak Hito?" Nenek malah menjodohkan kak Hito dengan Zivara yang dilihat dari manapun saya jauh lebih unggul dari dia."
" Karena saya tahu Hito tidak akan menyetujuinya, lagian siapa bilang saya tidak menyetujui kalian?"
" Hah, nenek amnesia, nenek mencak-mencak di rumah saya, ngehina mama dan saya, di rumah saya ada cctv, saya bakal putar rekamannya buat nenek." Sewot Zahra.
" Wah ngehina, nenek tahu kan siapa adik saya?"
" Hmm, adik kamu kejam, membuat Husain bangkrut."
" Siapa suruh nenek pake mereka.
" Apa kamu bisa bujuk mereka agar buat Husain kembali ke semula?"
" Ogah."
" Kejam kamu, Zivara sahabat kamu."
" Nenek lebih kejam, dan Zivara oon, makan teman."
" Tetapi kenapa adik kamu enggak buat Hartadraja bangkrut?
" Ck, bukannya sekarang Hartadraja terlempar dari posisi pertama menjadi di posisi akhir di Top 5, hahahaha."
" Senang sekali anda." sarkas Sri.
" Oh tentu, nyonya. Bahkan Hartadraja kalah dari Dirgantara. Hahahaha." Tawa puas Zahra mendapat delikan sebal dari Sri.
" Ooh, jadi kamu timnya Dirgantara?"
" Saya tim mana saja yang membuat anda insecure karena kalah gengsi." Seloroh Zahra.
" Ck, kenapa Hito bisa suka sekali pada orang kayak gini." Decak Sri.
" Karena saya dan Hito tahu mana yang terbaik buat kami." Zahra mengerling sebelah mata.
" Awws aduduh sakit, nek." Rengek Zahra memegangi matanya
" Kualat ini namanya ngeledek orang tua." Meski mengomel tak ayal Sri meniup-tiup mata Zahra.
" Turun..." Suruh penculik karena mereka telah tiba ditujuan.
Zahra dan Sri menatap hapra luas pohon tinggi di hadapan mereka, ujung matanya melirik ke kanan yang mana mobil tersebut masuk ke sebuah gua buatan.
" Benar dugaan kamu Ra, kita masuk hutan lagi." Tutur Sri, zahra mengangguk
" Cepat naik!!" Penculik membuyarkan obrolan mereka dengan gebrakan kasar pada bak truk.
Dipegangi oleh penculik yang sudah di atas mereka menaiki bak truk, lalu di atas kepala mereka di tutupi kayu penyangga yang akan di isi bongkahan kayu di atasnya.
******
Jeno dan yang lain yang mendarat di bandara Tjilik Riwut menjelang pagi, sambil menunggu perintah selanjutnya mereka memutuskan untuk beribadah sekaligus beristirahat di mushala.
Ditengah istirahat, Ragad membangunkannya," apa?"
" Ini punya kak Zahra." Ragad menunjuk bolpoin yang dia pegang.
Jeno mengambil dan membaca nama yang tertera dibolpoin, lalu dia memfotonya dan mengirimkannya pada petinggi RaHasiYa dan Zayin.
Jeno mendapat balasan dari Ibnu agar mereka lekas ke hutan A.
" kasih tahu yang lain Kita bergerak ke hutan A."
" Siap."
" Gilang, hubungi Anak geng cabang sini untuk kumpul dekat hutan A sekalian bawa trail." Titah Jeno pada Galang.
" Siap."
Mereka pun kembali siaga dengan segala perlengkapan mereka menuju mobil SUV hitam Kiriman Bara.
****
Pukul 05.30 wib semua orang telah berkumpul.
" Kita tahu ini masih terlalu pagi, tapi sepertinya hari ini akan banyak kesibukan yang harus kita lakukan." Seru Fatio.
" Tuan benar, hari ini kita kan memastikan Tamara berada ditengah Hartadraja. Dia sudah tidak punya tempat tinggal, sekarang dia menginap di rumah sewaan atas nama Ernest Nugraha. Tepatnya tuan Ernest menyewakan rumah itu untuk Amara yang berstatus sebagai wanita simpanannya." Terang Ibnu.
" kenapa harus ditengah Hartadraja?" Pertanyaan yang menyimpan penolakan dari Damar.
" Supaya kita bisa bisa mengawasi gerak-geriknya, dan mudah menangkapnya jika semuanya sudah terang." Timpal Daniel.
"Bagaimana Kalau dia mencelakai Cassandra atau yang lain?" Tanya Akbar.
" Kalian akan dijaga ketat oleh pengawal dari Gaunzaga." Hito yang menjawab.
" Tepatnya di rumah siapa dia kan tinggal?" Tanya Aznan
__ADS_1
" Jangan di rumah saya, saya tidak bisa menjamin bisa tahan emosi." Tutur Damar.
" Di rumah saya saja, biar saya gampang nampol dia kalau dia berulah." Seru Adgar.
" Gue keberatan, di sana ada Cassy."
" Para sahabatnya bisa nginep, nyokap tinggal dikongkolingkong. Ayolah cuma keluarga gue yang bar-bar, jadi cuma di sana dia bisa dibinasakan."
" Izin dulu sama bokap nyokap Lo." Seru Daniel.
" Udah di ACC, percaya sama gue."
" Sekarang siapa yang bicara pada tuan Ernest agar mengeluarkan Tamara.
" Saya saja." Tawar Damar.
" Baiklah, Masalah Tamara sepertinya beres, sekarang Masalah kak Ala dan nyonya Sri." Ucap Alfaska.
tring!!!
Mumtaz membuka pesan gambar dari Jeno. tubuhnya seketika menegang, rasa rindu bercampur cemas menghantuinya.
" Ada apa?" Ibnu merebut ponsel Mumtaz.
" Setidaknya mereka baik-baik saja." imbuhnya
Selanjutnya ponsel Mumtaz berpindah dari satu tangan ke tangan lain yang ada dalam ruangan.
Dengan mimik tenang Mumtaz menuju layar kaca yang menampilkan area Hutan A..
" Saat ini kak Ala dan yang lain memasuki hutan A, Jeno dibelakang mereka." Jelas Mumtaz.
" Mereka sangat paham, jika di hutan kita sulit melacak mereka karena susahnya sinyal, itu yang menjadi salah satu hambatan kita."
" Kedua, Hutan bukan hal akrab bagi kita mesti anak RaHasiYa berlatih gerilya, namun tidak sebaik TNI." Lanjut Mumtaz.
Zayin mengangkat tangan hendak menginterupsi.
" Soal itu gua bawa ini orang." Tunjuknya pada Arvan.
" Doa seorang kapten ko.pasus. sebagai angkatan darat TNI tentu gerilya bukan hal yang baru.
" Silakan tuan, kasih paham kita soal kontak di hutan."
" Sekilas saya melihat skema dari layar di ruang kerja Mumtaz, saya ragu mereka paham akan gerilya meski kita harus tetap waspada." Pembukaan dari Arvan.
" Tetapi apapun kondisinya hal yang terpenting adalah jaga stamina, persenjataan yang kuat, komunikasi yang mumpuni, tadi yang Mumtaz bilang menggunakan alat canggih di sana tidak mudah, tak jarang minimnya komunikasi membuat pergerakan tidak terorganisir, jadi saya sarankan percayalah pada insting partner kalian."
" Kamu bisa mengajari kami secara singkat hal yang pokok." Pinta Daniel.
" No..,no...kalian belajar kak Ala udah end." potong Zayin.
" Benar kata Zayin, lagipula saya percaya anak RaHasiYa bisa menjalaninya, kalian dilatih pak Darman, kan!!"
Trig!!!
suara interkom.
" Pang.lima T.NI dan Ka.po.lri memasuki gedung. Ujar resepsionis.
" Arahkan ke lantai sembilan." Seru Alfaska.
Dring!!!
Semuanya berdiri begitu pa.nglima T.NI dan Ka.pol.ri memasuki ruangan.
" Maaf mengganggu rapat kalian." Seru ka.po.lri
" Ada prajurit junior memaksa saya mengizinkannya membawa kap.ten saya kemari." Sindir panglima sambil melirik Zayin.
" Siap, itu saya. Ini urgen, pak." Zayin bersikap tegak dan hormat.
" Berikan alasan secara detil bukan kode ala perempuan yang sedang hamil."
" Seorang profesor kebanggan Indonesia yaitu Aulia Zahratul Kamilah diculik pihak asing."
" Tahu darimana mereka asing?"
" Mereka bule, pak." Jawaban tidak berbobot Zayin mampu membuat panglima geleng kepala.
" Kenapa bawa Arvan?"
" Mereka mainnya di hutan, pang.lima."
" Jadi dia bawa Arvan mendadak gitu, pak?" Tanya Alfaska yang meniadakan bahas formal pada pang.lima.
" Saya ditelpon dia pukul 1.dia merengek izin bawa Arvan." Jelas pang.lima.
" Kalian tidak bisa menggunakan aparat negara untuk kepentingan pribadi yang tidak ada kepentingan negara.
Mumtaz yang tersinggung akan ucapan pang.lima tertawa kecil.
" Hehehe, tidak penting, saya ingat prof Zahra yang menciptakan pengobatan bagi para Kombatan sehingga mereka cepat pulih, dan langsung bertempur. Bahkan dia menolak tawaran luar ngeri atas penemuannya, dia khususkan penemuannya itu untuk Indonesia." Suara dingin Mumtaz membuat ruangan hening.
" Tidak penting, prof Zahra yang mati-matian mengobati Kombatan yang sekarat terhunus timah panas dia area jantung sampai akhir ketika yang lain angkat tangan, karena dia pikir satu nyawa prajurit lebih berharga ketimbang 100 nyawa sipil yang menghabiskan waktu nongkrong di cafe, sampai akhirnya Kombatan itu bertempur kembali." Sambungnya.
" Berapa banyak lagi jasa beliau yang harus saya utarakan pada anda, dan anda bilang beliau tidak penting? Persetan dengan ne.gara, dimana saatnya tiba kau dan kau.." tunjuknya pada Pang.lima dan Ka.po.lri tanpa segan.
" kalian Akan menyesal meremehkan keselamatan profesor Zahra." Tukas Mumtaz menajam.
Pang.lima menatap salut pada pemuda yang menurutnya terkesan pendiam, sebab dua kali pertemuan hanya tiga petinggi lain yang banyak mengambil alih pembicaraan sedangkan orang yang dikenal jenius dalam dunia peretasan cenderung mengamati membuat dirinya penasaran.
" Tidak bermaksud merendahkan prof Zahra, tetapi kalian menggunakan salah satu personil terbaik T.N.I. Jelas harus ada perkara negara di dalamnya."
" Kapt, apa anda bersedia membantu prajurit Zayin?" Tanya pang.lima berupa penegasan.
Arvan menatap Zayin yang balas menatapnya dengan santai.
" Siap, saya bersedia."
" Dengan resiko dikeluarkan dari pasukan?"
Suasana tambah tegang," siap, interupsi. Saya batalkan meminta bantuan kap.ten Arvan. Anggap anda tidak pernah melihat beliau saat ini." Seru Zayin panik.
" Terus yang saya lihat di depan saya siapa? Jadi-jadiannya." Seloroh pang.lima.
" Jawab kap.ten." Pang.lima Kembali tegas.
" Dengan atau tanpa baret, jiwa saya untuk Indonesia, tapi bagi saya membantu orang yang sudah menyelamatkan nyawa istri saya kehormatan untuk saya." Ucap Arvan menunduk pilu.
Semuanya terhenyak, " Lo ngomong apasih bang, buang jauh-jauh rasa hutang budi Lo, kita bukan preman." Sergah Zayin.
" Lagian istri Lo cantik, anak Lo juga ganteng itu yang bikin gue nolong dia." Meski diucapkan serius, namun semua orang tahu itu hanya bualan.
" Zayin." Tegur pang.lima.
Kepalang naik pitam Zayin mengabaikan hormat komando" Apa? Bawa sekalian dia pergi, pak."
Semuanya melongo atas sikap lancang Zayin pada pemimpin T.N.I.
" Lantas bagaimana dengan kamu, cita-cita kamu masih panjang."
" Beliau kakak saya, cuma banci yang mengabaikan keselamatan keluarga hanya untuk ambisi." Ucap tegas Zayin tak terbantahkan
" Meski mengabdi pada negara taruhannya?"
" Tanpa baret dan pakaian loreng, saya masih bisa membela negara, semisal menyingkirkan para kacung se.nayan atau is.tana." suara datar yang penuh tekad dan mengintimidasi.
Pang.lima hanya bisa menghela nafas kasar, anak buahnya yang satu ini sejak Akmil memang terkesan arogan meski memiliki solidaritas dan daya juang yang tinggi dan tentu kecerdasan di atas rata-rata.
" Baiklah, kalau itu yang menjadi keputusan kalian dengan berat hati..."
" Stop, kalian semua pergi, ini urusan RaHasiYa." Sela Mumtaz terkesan kurang ajar.
Mumtaz menatap satu persatu antar Zayin, Arvan, pang.lima, dan ka.polri dan kembali pada Zayin dan Arvan.
" Tidak ada satupun diantara kalian yang akan terlibat dari misi ini, kak Ala akan kembali aku yang jamin, meski harus membakar habis hutan itu."
Pang.lima memijit-mijit pelipisnya gusar, dia tidak menyangka sedikit drama yang dimainkan berakibat serius.
" Arvan, kamu bersiaplah, pasukan kamu sudah menunggu, misi ini termasuk black mission yang dipimpin langsung oleh komandan."
Semuanya terperangah,
" Kapten, sisa waktu kamu 20 menit untuk segalanya hingga siap di pesawat."
" Siap." Saat Arvan hendak meninggalkan ruangan Alfaska menginterupsinya.
" Pakai helikopter menuju markas dan langsung ke lanud Halim di lantai teratas Nando akan menunjukkannya pada kamu."
" Siap." Nando sudah berdiri di depan pintu khusus para petinggi RaHasiYa.
" Pake lift ini bang, langsung ke helipad."
" Mereka tinggal menunggu instruksi dari kalian." Seru pang.lima pada petinggi RaHasiYa.
**maaf lama update meriang tak berujung niatnya mau kemarin up tapi apa daya...tubuh ku ngdrop...
makasihmasih baca novel amatir ini**...
__ADS_1