Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
234


__ADS_3

Langit di atas kubah sudah memancarkan sinar paginya yang cerah, cukup membuat awal hari Navarro yang rentan sinar matahari karena kondisinya terganggu.


" Matunda, apa kamu tidak merasa jam malam di sini begitu singkat? Tanya Navarro linglung, ia merasa setiap harinya hanya tidur selama tiga jam saja.


" Tuan, Indonesia negeri yang memiliki waktu yang konstan, siang dan malam terbagi masing-masing 12  jam. Meski ada perubahan kerena musim paling hanya berjarak 45 menitan saja, itu tiada artinya tuan." Matunda menjelaskan sambil memasukan obat cairan Navarro.


" Tapi kenapa aku merasa pusing karena kurang tidur?" Navarro merasakan kegelisahan.


"Tuan, bisa anda tenang?" Matunda kesal karena Navarro yang tidak bisa diam tenang.


" Matunda, sudah berapa hari kita di sini?"


" Sekitar kurang lebih dari lima hari, tuan."


" Selama itu? Dan mereka tidak menanggapi keberadaan kita?" Navarro mulai naik pitam.


" Tuan, anda memberi mereka kesibukan yang tidak bisa diabaikan. Penculikan empat perempuan muda dan profesor Zahra saya yakin mereka tidak akan menggubris keberadaan kita, para perempuan itu sangat berharga bagi mereka."


" Hahahhaha,...kasihan sekali mereka, bahkan gedung super canggih mereka bertekuk lutut di hadapanku, berita kehebatan mereka hanya isapan jempol." Ucapnya sinis dan meremehkan.


" Hmm, kasihan sekali." Timpal Matunda memperhatikan Navarro yang membaringkan kembali tubuhnya di lantai yang diatur sedingin rupa untuk kenyamanan tubuh.


" Tuan, saya akan keluar sejenak memeriksa keadaan?"


" Hmm, apa kamu sudah membuka kunci setiap lantai?"


" Belum, tuan."


" Pergilah, saya ingin tidur." Tanpa merasa rendah Navarro merebahkan dirinya terlentang dengan kepala beralas jas Matunda.


Orang yang dengan seribu delusinya berpikir dia sedang tertidur di atas ranjang nyamannya, karena pikirannya yang mengatakan demikian.


30 menit Matunda tidak kunjung kembali, membuat Navarro sedikit meradang karena pusing, maka dia pun berinisiatif bangun dari rebahannya, dan berjalan menuju lift dengan tujuan lantai lima, lantai yang beberapa hari ini diawasi ketat oleh beberapa robot, lantai ruang kerja Ibnu berada.


******


Alfaska baru keluar dari ruang pribadi di balik tembok berhias lukisan dengan wajah segar seusai mandi.


" Lo mau sampai kapan nyuruh kita menunggu?" Tanya Alfaska pada Daniel sambil membubuhi Pomade pada rambutnya


Meja kerja Ibnu telah dipenuhi peralatan Daniel yang tengah mengawasi lantai teratas, bibirnya sedikit menyeringai melihat mimik Navarro yang terserang bingung. 


" Menunggu instruksi dari Dimas."


" Ck, kalau perkiraan Dimas salah gimana?"


" Laporan dia dari kak Hira, dan kak Ala. Apa Lo masih menyangsikannya?" tekan Daniel, Alfaska menggeleng cepat.


Alfaska mengambil ponselnya yang bergetar, melihat pesan dari Mumtaz.


" Niel, ayah di bawah. Kita di suruh ke sana."


" Kata siapa?"


" Mumuy."


Mendengar nama itu, Daniel menghela napas gusar, selama mereka di sini tidak ada satu pun kata yang bersifat pribadi terlontar dari Mumtaz padanya, ia mengusak kasar rambut yang sudah terlihat memanjang karena tiga bulan sudah tidak dia cukur.


Daniel menyandarkan diri ke kursi." Kenapa gue jadi orang tol-ol gini ya, Fa?"


" Tahu, kalau gue gak Inget jiwa Lo pernah sakit kayak gue, udah gue tinggal Lo. Sepupu gue yang lo sakiti." Sewot Alfaska sembari mengenakan jas navy-nya.


" Sepupu Lo lagi  kepala batu banget. Ribuan pesan dan telpon gue gak pernah dia angkat."


" Ngapain Lo menghubungi dia? Kalian udah putus. Jangankan tunangan, pacaran aja udah expired."


" Bahasa lo, Fa. Tapi gue gak habis pikir Mumuy sampai segitu marahnya."


" Karena Ita anak yatim, Bara sibuk sama bisnis dan kebe-goannya sama kayak Lo, jadi kalau Ita ada Maslah dia larinya ke Mumuy untung Sisilia gak marah. Ayok bangun, jangan bikin kakak ipar gue ilfeel lagi." Ledek Alfaska.


Daniel beranjak, ia  menarik kemeja hitam dari sandaran kursi  untuk menutupi kaos biru-nya.


" Menurut Lo kapan Mumuy bakal maafin gue?" Tanya daniel.


" Kalau Ita udah menemukan lelaki yang bisa membahagiakannya."


" Itu gue."


 " Percaya diri sekali anda. kami sedang mencari lelaki lain yang tulus sama Ita."


" Jangan harap gue diem aja."


Saat Daniel berjalan ke pintu di tempat yang lain Navarro berjalan kebawah menggunakan lift ke lantai lima.


******


" Tok...tok...


" Masuk." Jawab Mumtaz tanpa melepaskan mata dari komputernya hingga tidak menyadari beberapa pasang mata memperhatikannya.


Para ayah, petinggi Gaunzaga, dan terakhir Bara dan Akbar meringis melihat kantung matanya yang hitam, rambut dirapihkan asal, muka lelah, dan kaos hitam yang sedikit kusut.


Mumtaz tengah sibuk diantara gadget dari dua komputer, dua laptop, tablet, serta ponsel yang semuanya menyala, dan kertas yang berserakan di atas meja kerjanya yang lebar dan panjang dengan wajah kuyu.


Mereka hampir tidak pernah menginjakkan kakinya di gedung ini selain untuk urusan bisnis, makanya mereka merasa asing di Romli corp. ketimbang RaHasiYa.


" Masih, sibuk, Muy?" Tanya Gama melangkah berjalan ke sofa.

__ADS_1


Barulah Mumtaz mengangkat kepalanya dari komputer." biasa saja." Mumtaz berdiri dan menghampiri mereka, lalu mencium punggung tangan para ayah dan petinggi Gaunzaga masing-masing.


Inilah yang membuat Dominiaz salut padanya, tidak peduli bagaimana kedudukan dia, die tetap menghormati yang lebih tua.


" Kamu gak pulang?" Tanya Aznan menelisik dari atas sampai bawah tubuh Mumtaz.


Mumtaz menggeleng," perubahan diluar terlalu cepat untuk ditinggal, paman."


" Tidur?" Tanya Dominiaz.


Mumtaz menunjuk lemari buku besar." Di belakang ada kamar tidurnya komplit dengan fasilitas lainnya.


Teddy menyerahkan tiga susunan rantang." Ini dari bunda, kalian harus makan."


" Kalau makan mah gak pernah telat, selalu saja ada ojol yang bawa."


" Afa, dan Aniel mana?" Tanya Bara.


" Di ruang kerja Inu, di lantai teratas." Mumtaz mengambil ponselnya dari saku celana untuk mengirim pesan pada Alfaska.


" Kalian mau minum atau makan?" Mumtaz berjalan kembali ke meja kerjanya menekan interkom.


" Kopi saja, semuanya samain." Seru Dirga- ayah Samudera.


" Berasa di kantin sekolah ye." Sindir Teddy. Yang disambut kekehan para ayah.


" Iya, pak?" Tanya sekretaris pribadinya, Andre.


" Dre, tolong buatkan kopi dan hidangkan beberapa cemilan bebas gula ya."


" Siap, pak." Andre menutup pintu dengan gugup takut membuat kecerobohan.


Mumtaz kembali berjalan ke sofa " Om, bagaimana keadaan kak Ala?"


" Dia di rumah sakit dijaga Ziva dan hira, dijaga Naka Gaunzaga dan RaHasiYa tidak efektif mereka terlalu takut padanya untuk menolak perintahnya. Dia nanyain kamu mulu, kalau sempat pulanglah dulu, dia menangis terus."


Mumtaz mengangguk." Kapan-kapan. Sampaikan salam sayang aku padanya." Hitk mengangguk mengiyakan.


" Muy, sampai kapan kalian diam melihat dia menguasai gedung?" Tanya Aznan merujuk pada Navarro.


" Sebenarnya saya hanya menunggu perintah dari Daniel, paman. Urusan lantai teratas itu ciptaan Daniel untuk membuat basecamp pengkapan tahanan perang agar lawan membongkar rahasia mereka tanpa kekerasan."


" Ted, itu beneran Daniel dan Ita putus?" Tanya Gama.


" Iya, gue heran Kenapa punya anak oon kayak dia." Teddy merungut.


" Hahahhhaha." Gelak semuanya.


" Ted, gimana kalau si Sania itu beneran jadi mantu Lo?" Tanya Aznan.


Cklek....


" Waah kalian dalam formasi komplit sebagai top  5." Ujar Alfaska memasuki ruangan diikuti Daniel.


" Gam, gimana rasanya punya calon mantu tajir?" Tanya Dirga.


" Alhamdulillah saja sih." Jawab Gama santai sambil melirik Mumtaz yang tersenyum.


" Om, aku gak kalah tajir, masih bisalah dapet restu buat nikahin Ita." Seru Daniel mengharap dukungan dari pria yang sudah dianggap ayah oleh Dista.


" Maaf ya Niel, kalian sudah putus dan Ita gak mau balikan sama kamu. Ita bilang dia mau cari yang lain."


" Gak bisa om, gak boleh. Cuma aku yang bakal jadi suami Ita."


" Siapa yang ngerestuin Lo, pengkhianat?" Tanya Bara sinis.


" Gue bakal ambil kembali restu kalian. Gak Sudi gue adik gue nikah sama play boy macam teri kayak Lo." lanjut Bara marah.


" Ck, kayak Lo gak pernah salah saja, sekarang dimana Cassy? Dan apa yang buat dia kabur?" Sarkas Daniel balik menyerang.


Dia muak selalu dipojokan, padahal dia sudah ribuan kali meminta maaf khususnya pada Dista yang sudah dia kecewakan.


" Apa Lo bilang?" Bara meninggikan suara.


" Maura, nih gue spill nama simpanan Lo. Bilang sayang Cassy, tapi masih meladeni  mantan. Bosan hidup Lo?" Ucapan Daniel berhasil membungkam mulut Bara.


" Stop, kalian. Jangan diteruskan." Lerai Teddy saat dilihatnya Bara hendak bicara.


Keduanya mengambil duduk terpisah jauh, Daniel menikmati makan dari Hanna.


" Muy, saya gak paham konsep kalian, yang saling tukar kedudukan tertinggi antara Romli corp dan Mahmud corp?" Tanya Gama.


" Cuma buat pengecohan, dan memperat ikatan aja sih, Om."


" Hanya kalian berdua? Gak ngajak Aniel atau Afa? Tanya Teddy getir, karena tidak nyaman putranya merasa diasingkan.


" Ngajak mereka juga, tapi waktu itu mereka lagi fokus mengembangkan RaHasiYa, sedangkan kami berdua santai saja sambil berjalan dikeduanya."


" Mereka punya saham juga kok di sini meski nilainya kecil." Terang Bara menghibur Teddy.


" Cuma 5% buat masing-masing. Mereka ingin keuntungan banyak, tapi gak mau ribet." Timpal Mumtaz.


" Masih nerima investor? Tanya Aznan.


Mumtaz tersenyum." Belum, paman. Kayak gini aja nyamannya."


" Kalau butuh hubungi kita." Ujar Samudera yang diangguki Mumtaz.

__ADS_1


" Masih sibuk banget?" Tanya Bara.


" Hanya mengecek ulang untuk memastikan semua berjalan lancar. Bagaimana nasib mereka yang membantu Navarro?" Mumtaz mengalihkan pembicaraan.


" Bara dan akbar yang menyelesaikan, ini perkara lama. mereka sudah terlibat dari 10 tahun yang lalu dengan iming-iming keuntungan melalui Toni, dan ketua. Jadi sudah banyak perusahaan yang regenerasi kepemimpinan. Kalau yang masih memegang kekuasaan generasi awal kita yang hadapi, tapi kalau yang udah generasi kedua dan ketiga yang muda saja yang lawan." Ucap Teddy.


" Kelanjutannya gimana?"


" Kebanyakan dari mereka pure hanya bisnis, tapi kita gak ngalah gitu aja,   Mereka yang membantu Navarro kemarin sudah ditangkap dengan dasar salah satunya pencucian uang dan pemberontakan." Tutur Aznan.


" Kalau gedung itu disita negara, dan dilelang, kita niat mengambil alih." Seru Akbar.


Mumtaz menaikkan alisnya," apa yang sudah ada belum cukup, Bar?" 


" Apa ada orang yang merasa cukup?" Tanya balik Akbar.


Mumtaz terkekeh sambil mengangguk," yeah, dunia. Makan diteguk makin haus, hmm?" Sarkas Mumtaz.


" Kamu sendiri tidak berminat melebarkan ekspansi?" Tanya Dirga.


" Tidak om, kalau urusan ini selesai aku sama Ibnu hanya ingin menikmati yang ada saja. Kami berdua tidak pandai bisnis, ini saja semuanya soal manajemen aku make orang yang diatur Afa."


" Dimana Zayin?" tanya Hito.


" Tadi sih bilangnya mau ngomelin Adel yang gak nuruti omongannya."


" Gam, bangga Lo punya mantu milyuner? jangan jaim Lo." Ledek Teddy.


" B saja. Selain Sisilia yang yang slalu mengeluh kalau Mumtaz hampir gak punya waktu untuknya." Ucap Gama melirik Mumtaz yang tersenyum padanya.


" Saya jelas sibuk karena pekerjaan om, bukan modus ngurusin perempuan lain dengan dalih sibuk. Apalagi sampai mengingkari janji hanya untuk wanita lain yang tidak jelas, no way." Sindir Mumtaz pada Daniel dan Bara yang terdiam.


" Waw nanjeb banget, kakak ipar." seloroh Alfaska.


" Makanya, Fa. Kamu, kalau bosan dengan Tia bilang Bmbiar gue bantu kegilaan Lo menjauh dari Tia jangan jadi pengecut mengutamakan wanita lain di atas Tia dengan kebohongan."


" Muy, sepertinya kita harus meluruskan sesuatu."  Kata Daniel menjilat bibir bawahnya karena gugup.


" Apa?" 


" Gue gak jalan sama Sania?"


" Cuma merasa nyaman? Itu yang Lo bilang, dan gue don't care, that is your business. Perkara lo sama siapa setelah Ita terserah, tapi Lo coba deketin Ita lagi, itu urusan gue.


" Ini juga berlaku bagi Lo, Bar. Cassy dan Ita bukan cadangan. Mereka ada ketika kita jatuh, dan hanya karena perasaan sesaat dan sesat kalian tega mengesampingkan mereka, laki macam apa Lo berdua." Ucap Mumtaz menyimpan amarah.


Suasana ruangan meningkat tegang, para ayah dan senior hanya diam menyaksikan perselisihan pendapat ini dengan was-was.


" Beri gue kesempatan, dimana Cassy? Gue tunjukin gimana perasaan gue sama dia." ucapan Bara.


" Kenapa nanya gue, paman Aznan, kakeknya. Akbar, sepupunya. Tanya mereka."


" Mereka gak  mau jawab, set4n." Bentak Bara. Dia sungguh frustasi mencari keberadaan Cassandra.


Membayangkan dirinya akan mengalami empat tahun yang lalu seperti kemarin dijauhi Cassandra dia merasa putus asa. Ya Tuhan, Bara akan menukar apa yang dia miliki demi kekasihnya datang walau untuk memarahinya, itu lebih baik ketimbang tidak ada kabar begini.


" Apalagi gue yang gak tahu dimana dia."


Bara berdiri melewati sofa dan menarik kerah kaos Mumtaz." Lo pikir gue tolol Lo gak tahu Cassy dimana? Jangan mempermainkan gue." Desis Bara, wajahnya sudah memerah.


Semua orang berdiri kaget akan tindakan Bara yang baru mereka sadari dia terlihat menyedihkan dengan wajah lelah seperti orang yang kurang beristirahat.


" Lo pikir sepintar apa diri Lo hingga bisa mengelabui Cassy tanpa diketahui gue? Seharusnya Lo sadar mencari masalah sama mereka berurusan dengan gue. Bosan gue ngomong itu." Mumtaz menepis tangan Bara dari kerahnya dengan tatapan menerima tantangan Bara, dia kembali duduk disofa dan lanjutkan makannya.


Aznan dan Akbar diam seribu bahasa, mereka berdua baru ini melihat langsung keluarganya begitu dilindungi Mumtaz.


" Perempuan memang racun dunia, iya enggak, Sam." Sindir Dirga pada Samudera akan tingkah bo-doh putranya beberapa waktu lalu.


" Lelakinya saja yang be-go cepat oleng padahal udah dapet yang baik." Ucap Samudera.


Tring...tring....


Alarm dari ponsel Mumtaz mengalihkan perhatiannya, mata Mumtaz membola melihat apa yang terjadi di ponselnya.


" Niel, dimana posisi Navarro?" Tanya Mumtaz sambil berlari kecil mengambil jaketnya.


" Dia lantai teratas." Jawab Daniel bingung dengan ekspresi Mumtaz yang menegang.


" Sepertinya anak buah Lo lalai, nyatanya dia sedang berada di depan kantor Inu."


" APA?" ucap mereka serempak.


Mumtaz tersenyum hambar pada Daniel," seharusnya gue gak mempercayai lo, shitt, Niel. Lo telah melakukan kesalahan fatal." Hardik Mumtaz berlari keluar dari ruang kerjanya.


Daniel tertegun di tempatnya dia berdiri, dia sangat terkejut dengan raut kekecewaan dari sorot mata Mumtaz.


Melihat sahabatnya mematung diam, Alfaska menarik kerja kemeja Daniel." Ish, ayok." 


" Fa, apalagi kesalahan gue?" Lirih Daniel syok membiarkan Alfaska menarik dirinya, ia melihat ke sekeliling ruangan yang sudah kosong.


" Lo yang bilang urusan lantai atas tanggung jawab Lo hingga kita membiarkan Lo yang mengawasi dia." 


Daniel membuka ponselnya masuk ke lantai teratas yang dimana Navarro tidak berada di tempat." Apa yang terjadi, Fa?"


" Mana gue tempe, otak Lo harus di upgrade, deh kayaknya. Lo yang ngatur, Lo yang bingung. Kalau rencana Lo merusak rencana Mumuy habis Lo di tangan gue." Gerutu Alfaska kesal.


" Kenapa dah belakangan ini Lo be-go, kebanyak minum minyak jelantah sih Lo." Sarkas Alfaska.

__ADS_1


__ADS_2