
Ceklek....
Pak Ahsan, kepala tim legal rumah sakit beserta timnya, dan tim legal RaHasiYa memasuki ruangan dengan beberapa bundel besar berkas.
" Katakan pada kami apa yang kalian punya?" Tanya Gama tanpa basa-basi.
Mereka membagi berkas itu ke dalam beberapa bagian yaitu; kampus, IDI, rumah sakit, dan pengadilan. yang berjejer rapih di atas meja depan mereka.
" Professor Zahra sudah menugaskan saya untuk melakukan investigasi dari perihal perkuliahan, pemagangan, ujian dan hal-hal lain terkait kegiatan kedokteran dari saudari Mutia Wibowo.
" Sebagian sudah kami laporkan kepada profesor dan akan segera ditindak lanjuti jika Mutia telah mendapat SP ketiga dari pihak rumah sakit.
Dan kemarin lusa SP ketiga itu telah keluar dan dikirim langsung ke kediamannya oleh pihak rumah sakit.
Sejatinya jika tidak ada halangan, hari ini profesor Zahra akan melayangkan protes dan keberatan pada pihak kampus terkait nilai dan kemampuan yang dimiliki oleh Mutia, hingga dia bisa menjadi bagian rumah sakit ini, beliau meminta pihak kampus menganulir seluruh penilaian Mutia terhitung sejak semester empat sampai akhir.
Semuanya menganga tidak percaya atas ucapan pak Ahsan.
" Apa bisa kita melakukan itu? Saya hanya mengkhawatirkan pihak kampus menuduh Zahra dengan dasar intervensi atau pencemaran nama baik?" Argumentasi Aznan.
" Saya kira itu bisa dipahami, karena kedokteran antara teori dan praktik harus seimbang. Selama Mutia magang di sini, penilaiannya dibawah standard. jadi prof. Zahra mencurigai adanya kecurangan dalam pemberian nilai itu."
" Seburuk itu kemampuannya?" Heran Eidelweis.
" Kalian bisa melihatnya dari laporan kami." Asisten Ahsan membagikan berkas terkait hal itu.
" Lanjutkan." Pinta Teddy sambil membaca laporan Mutia.
" jika pihak universitas tidak beriktikad baik, beliau rencananya akan melaporkan secara pidana terkait adanya korupsi, pemalsuan, dan penipuan.
Beliau pun berinisiatif menghapus seluruh point yang terkumpul baik yang sudah dijadikan nilai maupun belum yang dihasilkan dari selama Mutia menjadi dokter intership di rumah sakit ini berdasarkan berbagai hal yang wajib dimiliki dan dipatuhi seorang dokter.
Terkait sumpah dokter..."
" Baik, kami paham. Pasti beliau akan melaporkan itu pada IDI dan meminta IDI membatalkannya dari sumpah itu karena ketidakpatuhannya Mutia sebagai tenaga medis..." Potong Farhan yang disetujui pak Ahsan.
" Bagaimana dengan insiden di cafe?" Tanya Daniel.
" Itu tidak ada buktinya, baik rekaman cctv, maupun saksi. Para pegawai cafe setuju menyatakan bahwa mereka tidak tahu sama sekali, karena pada saat kejadian mereka tidak melihat dan mendengar dan mengetahui keributan itu."
" Terkesan mengada-ada gak sih?" Seru Alfaska.
" Tidak juga mengingat tempat duduk Mutia dan kasir atau biasanya pegawai berjaga agak jauh dan terhalang sudut tembok."
" Para pengunjung? Pihak sana pasti sudah memperkirakan adanya pengunjung yang kemungkinan besar staf rumah sakit."
" Saya sudah mendapat konformasi dari mereka, bahwa mereka pun tidak bersedia bersaksi. Jika mereka terdeteksi, mereka tidak akan bicara apa-apa."
" Apa mereka tidak takut dilaporkan ke polisi?"
" Saya kira mereka lebih takut pada profesor Zahra, RaHasiYa, Gaunzaga, dan yang terkait dengan beliau." Ucapanya menyiratkan sarkasme tinggi.
Mereka semua terkekeh geli mendengarnya, tidak merasa bersalah, dan mereka melihat tidak ada yang salah.
" Apalagi ditambah kejadian tadi, tambah jiper gak sih mereka." Telak Yuda.
" Sekarang apa yang harus kita lakukan guna mengahadapi Irina?" Mata mereka menatap televisi yang sedang menayangkan secara live aksi Irina dari salah satu stasiun tv.
" Kita harus segera mengkonfirmasi pihak universitas, dan IDI agar tercipta sinkronisasi pembuktian ketika kita melakukan konfirmasi."
" Berarti kita harus membangunkan kak Ala sekarang." Celetuk Daniel.
" Heru tolong hubungi Hito untuk membangunkan kak Ala, pak Ahsan dan tim akan segera meluncur kesana dan langsung melakukan tindakan. Kami di sini akan menghubungi keduanya." Pinta Gama.
Pak Ahsan menginterupsi, " Maaf menyela, banyak pesan yang masuk ke rumah sakit meminta klarifikasi berita bapak Mumtaz yang sudah menimbulkan kehebohan di masyarakat."
" Untuk urusan itu kita bisa lakukan besok, bapak bisa minta keterangan kepada Rio, Ibnu, dan tim legal RaHasiYa." Jawab Mumtaz.
" Apa tidak sebaiknya segera, ini mulai mempengaruhi nama baik rumah sakit, dan sahamnya."
Kini mata peserta yang hadir tertuju pada Bara.
" Saham turun beberapa persen, tapi masih oke, kita masih stabil. Sudah ada beberapa penawaran pembelian saham." Jawab Bara.
" Jual punya aku, aku yang bertanggung jawab atas kerugian ini." Mendengar Mumtaz menyalahkan diri atas kesemrawutan yang terjadi membuat Bara menatap sengit ke arah Mumtaz.
" Lo kalau benci Atma Madina ngomong, Muy. Jangan sok baik, ternyata cuma mau melepas dan menjauhkan diri dari kami." Ucap Bara kesal.
" Kelihatan ya? Padahal gak bermaksud. Gue cuma..."
Melihat tatapan Bara yang semakin garang Mumtaz mengangkat kedua tangannya menyerah.
" Oke, fine. Enggak. baper Lo." Ketusnya.
" Bagaimana dengan RaHasiYa?" Lanjut Mumtaz.
" Tidak terlalu berpengaruh, mengingat RaHasiYa merupakan badan hukum tertutup, dan para klien memahami mekanisme kinerja kita." Ucap Alfaska.
" Bagaimana kesiapan untuk besok?" Tanya lanjut Mumtaz pada kepala tim legal RaHasiYa.
Sebelum dijawab justru Daniel yang bertanya dengan kesal." Justru pertanyaan gue mengapa harus besok, bukan sekarang saja Lo bertindak?"
" Timing-nya saja tepatnya besok." Jawab santai Mumtaz.
" Ayo, Darius. Jelaskan." Pinta Bara pada kepala tim. legal RaHasiYa.
" Baik material maupun formal dari segi legal semuanya sudah siap tinggal menunggu perintah."
" Kalau begitu kita lakukan sekarang, tempatkan anak-anak dimanapun Zahra berada, dan untuk pak direktur, dan prof Farhan sediakan waktunya untuk memberi keterangan, setelah anda berkonsultasi dengan tim legal." Tukas Gama.
Mereka memilih membiarkan diri ke tempat masing-masing.
Kini hanya petinggi RaHasiYa dan Bara yang masih tinggal, mereka menatap intens pada Mumtaz.
" Apa?" Tanya Mumtaz sambil memijit pelipisnya.
" Kamu darimana?" Daniel mewakili yang lain.
" The Baraz, untuk tahu lebih lanjut, gue yakin Ibnu bisa buka rekaman cctvnya."
" Gak bisa." Ucap Ibnu.
" Sekarang bisa. Gue lihat Lia dulu, Nu, mulai sekarang Lo fokus buka file yang gue kirim yang belum pernah kalian tuntaskan membukanya, itu tugas utama Lo mulai hari ini, soalan yang lain, biar yang lain urus." Ucap Mumtaz sebelum meninggalkan ruangan.
Perkataan yang menimbulkan rasa penasaran diantara mereka.
" Kenapa cuma Lo? Penasaran Alfaska.
" Au, sekarang dia mulai banyak rahasia." jawab Ibnu.
" Tapi gue gak suka auranya." Timpal Daniel.
__ADS_1
" Dia, seperti ada di dunia lain gak sih."
" Buang waktu Lo pada, bagaimana persiapan pemakaman Mami?" Bara mengalihkan pembicaraan.
Raut sedih langsung menyertai Alfaska, Alfaska akui adanya skandal ini mengalihkan emosinya dari rasa kehilangan ibunya.
" Yuda dan anak BEM yang urus." Jawab Daniel.
" Fa, sebagai sepupu. Gue berharap Lo lebih mengontrol emosi Lo, jaga perasaan Mumtaz dan saudaranya, terlebih Tia. Sudah terlalu banyak kesedihan yang Lo kasih buat dia, gue gak tega ia yang serba salah milih di samping Lo atau saudaranya.
Kita seumuran, lo laki, tapi sejauh ini Tia yang menopang lo. Lantas kepada siapa Tia menyandarkan dirinya karena kelelahan mentalnya sementara saudaranya yang lain sedang tertimpa masalah.
Dia memang tidak mengatakan apapun akan sikap dan perbuatan Lo, tapi bukan berarti dia tidak merasakan kekecewaan.
Seperti yang Lo lihat, alih-alih minta bantuan kita Mumuy memilih menyelesaikan masalahnya sendiri, begitupun dengan kak Ala. Tidak ada satupun dari kita yang dilibatkan dalam untuk menyelesaikan perkara mereka, minimal kita lindungi Tia." Ucap Bara panjang lebar. Yang dibicarakan hanya menyandar lemah ke sandaran sofa.
" Nu, apa Mumuy ada ngomong sesuatu perkara di ruang operasi itu?" Tanya Daniel.
Ibnu menggeleng lemah," dia hanya tidak ingin membahasnya." Hanya Kata-kata itu yang bisa Ibnu sampaikan untuk menjelaskan kekecewaan Mumtaz tanpa memperkeruh suasana.
" Ya Tuhanku, dia pasti kecewa banget sama gue. Kenapa dia tidak bisa seperti Zayin yang ceplos batok, diamnya dia membuat gue lebih merasa bersalah." Racau Alfaska menyugar rambutnya gusar.
" Apa besok dia akan hadir?" Tanya pelan Alfaska.
" Kemungkinan enggak." Jawab Ibnu tidak nyaman.
Seketika mendung menghiasi wajah Alfaska, Daniel menepuk-nepuk pundak Alfaska menyalurkan ketenangan.
****
Hito berjalan ke kamar tidurnya," om, mau kemana?" Tanya zayin, mengangkat kepalanya dari laptop dihadapannya.
ia duduk di bawah bersama Bayu, dan William yang sedang mengamati pergerakan tim gabungan AD dan AL yang mendapat laporan terkait aktifitas bersenjata oleh sekelompok orang.
" Ke kamar, disuruh membangunkan Ara supaya urusan Mutia cepat beres."
" Saya ikut."
Hito menghela nafas sedikit jengah, sejak Zayin datang, dia tidak membiarkan Hito berduaan dengan Zahra.
" Kamu gak percaya saya?"
" Bukan, saya gak percaya setan gak menggoda om."
Mendengarnya Hito mendengkus, sednagakn Samudera terkekeh menertawakan.
Zayin berjalan di belakang Hito, Hito memasuki kamarnya, tanpa sungkan berjongkok di depan zahra lalu mengelus lembut wajah tenang Zahra seperti sudah biasa.
" Sayang, bangun. Makan dulu yuk." Lembut Hito dengan tangan yang masih mengusap wajah Zahra.
Lenguhan terjaga dari sang kekasih tidak menghentikan kegiatan tangannya yang kini bertengger di kepala Zahra.
" I..ni kayak..kamar kak Hito?" Gumam Zahra bagia orang linglung yang masih didengar oleh Zayin yang berdiri diambang pintu dengan bersedekap dada, matanya mulai memicing menaruh curiga akan interaksi keduanya.
" kamu ketiduran di depan ruang operasi, jadi aku bawa kemari. Aku sebenarnya enggan membangunkan kamu, tapi kamu harus segera bersiap.
Sayang, tim hukum rumah sakit sedang menuju kesini guna membicarakan tentang Mutia. Sepertinya Nyonya Wibowo sedang marah di rumah sakit."
" Huh, akhirnya urusan dia tiba saatnya juga."
Hito menghela nafas," beliau marahnya di depan awak media yang berkumpul di rumah sakit sejak kecelakaan itu."
" APA?"
Kintan wajah Zahra naik pitam." Beraninya mereka, mereka sendiri yang berbuat curang pada rumah sakit."
" Jangan marah, sekarang kamu mandi." Hito mengecup kening Zahra, dan membantunya berdiri untuk ke kamar mandi.
Kakaknya berlari kecil ke kamar mandi tanpa bertanya dimana letaknya yang menunjukan ia sudah pernah melakukan hal itu.
" Aku mandi dulu." Ucap Zahra sebelum masuk ke kamar mandi.
" Hmm, aku siapkan pakaian kamu." Hito membuka lemari pakain.
" Apa kalian telah melakukan sesuatu yan yg melewati batas?" Tuding Zayin datar.
Perkataannya diucapkan dengan pelan, namun nyata aura mengintimidasinya.
Zahra dan Hito gelagapan, namun mencoba biasa saja.
" Ka..kakak masih perawan..."
" Standard kita lebih dari sekedar perawan, jangan digerep sebelum ijab Qabul." Tegas Zayin frontal.
" Zayin, kita tidak melakukan apapun." elak Hito.
" Om pikir saya anak kecil yang mudah dikelabui, untuk apa Kakak masuk ke kamar yang bukan mahramnya? Itu tidak pantas."
" Zayin, dia tunangan saya."
" Tidak lantas menjadikannya berhak masuk wilayah pribadi sekelas kamar tidur, karena pengikatan yang konyol itu, dan sugesti bahwa pasti akan menikah yang mengakibatkan banyak pasangan yang terbobol duluan.
" Zayin, kakak tidak serendah itu?" Ada rasa tersinggung dihati Zahra akan perkataan adiknya.
" Oh ya, kalau begitu apa yang Kakak lakukan di kamar seorang lelaki lajang yang bukan mahram mu?"
" Kakak tidak mau menjawab, itu persoalan pribadi. Kakak mandi."
Saat tangan Hito hendak meraih setelan zahra, zahra tiba-tiba pintu lemari dibuka lebar dengan kasar, tangan asing itu merebut pakaian itu.
Zayin mengenal setelan kakaknya itu, matanya seketika menyalang marah menatap tajam Hito.
Tanpa tedeng Aling ia menonjok Hito begitu keras hingga Hito terdorong menabrak nakas yang menjatuhkan lampu tidur
Prang...
Hito sangat terkejut, ia terduduk di bawah samping ranjang hanya bisa menatap Zayin.
Samudera, Zahira, Bayu, dan William. segera berlari saat mendengar suara benda terjatuh, mereka kaget dengan apa yang mereka lihat.
" Aku tidak peduli bagaimana hubunganmu dengan wanita selama itu bukan Kakak ku, tapi melihat apa yang aku lihat jelas kalian sudah melewati batas. Dan aku tidak menyukainya."
" Aku ingin kau segera menikahi Kakak ku." sentak Zayin.
" ZAYIN..." mata Zahra melebar.
" Apa-apaan kamu?"
" Kalian yang apa-apaan. Jawab pertanyaan ku, apa kalian pernah tidur bareng?"
Tidak hanya Hito dan Zahra yang terhenyak, melainkan mereka semua yang mendengarnya pertanyaan Zayin.
__ADS_1
Melihat sorot mata Zayin yang marah, Zahra gugup" Da..darimana asumsi mu itu berdasar?"
" Sejak kau tahu ini kamar dia," tunjuknya pada Hito." Dan kau berlari ke kamar mandi tanpa bertanya letaknya, ditambah di menyiapkan pakaian untukmu yang dia ambil dari lemarinya, dan terakhir dari kegugupan kalian, kak!" Tekannya.
" Sekarang jawab pertanyaan ku?" Sentaknya keras.
Sekilas Hito dan Zahra saling bertukar pandang, mereka teringat malam itu, malam ditengah hujan lebat, dimana Zahra sangat putus asa hingga nekat melepas kain atasannya yang memperlihatkan tubuh polos atasnya pada pria bukan mahramnya yang berakhir mereka tidur bersama saling memeluk meski terhalang selimut, hal yang terbodoh yang pernah Zahra lakukan.
Mereka tidak mungkin mengatakan pada Zayin tentang malam itu, tapi mereka pun tidak tahu harus mengatakan apa agar mereka bisa keluar dari situasi ini.
" Zayin, kami akan menikah." Ucap Hito hati-hati.
" Bukan berarti kalian sudah halal bagi satu sama lain, dan bisa melakukan hal yang melewati batas. Kalian menjalani hubungan dengan tidak sehat."
" Kau..." Zayin mantap lurus manik Hito dengan melayangkan sebuah tantangan." aku tidak mau tahu, tapi kau harus segera menikahinya. Urus berkas pernikahan mulai sekarang, kalau bisa aku sendiri yang akan mengirim berkas itu ke KUA."
" Zayin, Kami tidak melakukan apapun."
" Kau yakin? Pakaian mu ada di lemarinya, siapa saja yang melihatnya akan berpikiran sama dengan yang aku pikirkan. Kenapa kakak melakukan itu?"
Apa kakak berniat membawa kami pada kubangan dosa yang dilakukan lebih banya? Kami wali mu, kami yang bertanggung jawab atas kehormatan mu selama kau belum menjadi istri orang.
Katakanlah aku kolot, jaman telah berubah, tapi satu hal yang harus kau tekankan di dirimu, hukum Tuhan tidak berubah! Aku kecewa padamu, kak." suara Zayin melemah di kalimat terkahir.
Kalimat terakhir Zayin mengoyak hati Zahra, rasa nyeri yang teramat sangat menyertainya. Matanya menatap sendu adiknya yang melangkah lebar ke arah pintu.
" keluar kau, om. Apa kau ingin melihat tubuh kakakku atas dasar kau tunangannya?" Sindirnya lemes
Mata tajamnya menangkap gelagat ganjil atas kekagetan tipis dari keduanya.
Zayin tertegun, matanya memicing menikahi keduanya yang tubuhnya sudah menegang. Atau kau sudah melihatnya?" tuduhnya langsung..
Tidak ada jawaban dari keduanya, mereka malah terlihat gusar. Diamnya mereka menuntun pada satu pemikiran yang yang berujung kekecewaan lain bagi sang adik.
Seluruh tubuhnya menegang, ia memejamkan matanya menekan emosinya dengan mengepalkan kedua tangannya hingga uratnya menonjol nyata.
Ketika ia membuka matanya, terpatri jelas sorot amarah yang membara menyertainya, mengambil langkah lebar melewati kamar luas itu, ia kembali menonjok Hito bertubi tubi dan menggila.
Zahra dan Zahira berteriak histeris ketakutan, mereka sering melihatnya marah, tapi tidak semurka ini, tangisan Zahra tidak menghentikan apa yang sedang Zayin lakukan.
" Sam, Bayu, Willi. Tolong kak Hito, jangan diam saja, pisahkan mereka." Panik Zahra.
Mereka pun segera mendekatinya, berusaha menjauhkan Zayin dari tubuh Hito, namun sia-sia. Tubuh itu sama sekali tidak bergerak. Posisi Hito yang terlentang di ruang sempit karena terkungkung tubuh zayin, tidak memberi ruang baginya untuk membela diri apalagi melawan.
" Yin, udah. Bisa mati om Hito-nya." Ucap William menarik memiting leher Zayin.
Dalam satu gerakan Zayin memelintir dan mendorong William hingga ia menubruk lemari
" Diam kau, dia bukan Kakak mu, makanya kau tidak merasakan sakitnya." Bentak Zayin, mereka dapat merasakan kemarahan bercampur kesedihan dalam teriakan itu
Bayu dan Samudera sontak terdiam di tempat.
Mereka pun mundur, mata merah Zayin menghalangi mereka untuk bertindak lanjut.
Setelah puas, dan keadaan Hito sudah babak belur, ia mendekati Zahra." Kau sangat mengecewakanku." Suara serak itu menyesakan Zahra, ia merasa bersalah.
" Zayin, jangan berpikir negatif tentang kakakmu, dia wanita terhormat." Parau Hito.
" Tidak ada wanita terhormat yang memperlihatkan tubuhnya pada bukan suaminya. Apapun alasannya." bentak Zayin lantang.
" Zayin, saya bersumpah kakakmu masih suci."
" In bukan hanya soal keperawanan, tapi keseluruhan apa yang dimilikinya yang dilarang disentuh sebelum saatnya."
Kau..sebaiknya keluar dari kamar ini sebelum aku menyeretmu." ancamnya.
Para lelaki segera membantu Hito keluar dari sana, tinggal Zahra yang mematung dengan tatapan kosong. ini sangat menyakitkan, perkataan Zayin menggambarkan dirinya yang begitu kotor.
Sebelum Zayin menutup pintu kamar, tatapan mereka saling beradu dengan binar yang berbeda, bias kemarahan sekaligus kekecewaan dari Zayin melahirkan bulir kristal yang meluruh dari pelupuk mata Zahra.
" Maaf, maafkan kakak." kalimat terakhir yang terucap sebelum pintu itu menghalangi keduanya.
Tim pengacara rumah sakit terkejut melihat wajah Hito yang penuh bekas lebam dan luka, hampir seluruh wajahnya bengkak dan membiru.
Dengan mengenakan kacamata hitam Zahra datang dari arah kamar.
" Saya sudah mempelajari semuanya sebaiknya kita langsung berangkat."
Serunya.
Kini yang berdiri mendampingi Zahra saat keluar dari apartemen adalah Zayin, di dibelakangnya gabungan anak RaHasiYa dan Gaunzaga, kemudian Bayu dan William dengan penyamaran mereka, Hito dan Samudera berdiri paling belakang sesuai keinginan Zayin.
Kesibukan mengurus perkara Mutia menghabiskan banyak waktu hingga sore, itu pun dibantu lobi oleh Gama dan Bara. Kalau tidak mungkin sehari saja tidak akan cukup.
Menjelang petang Zahra nekat turun dari mobil di depan lobby rumah sakit, pihak keamanan, anak RaHasiYa dan Gaunzaga yang sudah dihubungi sebelumnya langsung membentuk pagar manusia menghalau wartawan yang langsung mengerumuninya begitu Zahra menapakkan kakinya di lantai.
Dilihatnya direktur dan Farhan menghela nafas resah.
" Nah, itu profesor Zahra yang terhormat." Pekik Irina menyindir Zahra. Ia sangat membenci wanita itu.
" Kau, kau harus bertanggung jawab atas keadaan putriku yang mengalami kekerasan." Tuding Irina.
Mengabaikan sosok Irina, Zahra langsung menghadapi wartawan.
" Sebelum kalian bertanya kami akan memberikan segala hal mengenai sepak terjang Mutia Wibowo, putri dari pilin rumah sakit Medika, Arya Wibowo dengan Irina wibowo yang sejak tadi ceramah tiada henti." sindirnya sambil melirik Irina.
" Saya sudah mendengar apa yang terjadi dengan Nina muti, dan saya menyesali hal itu terjadi.
Tetapi yang harus kalian garibawahi, kejadian itu di cafe, pada saat dini hari yang seharusnya jika sesuai jadwal, itu adalah jadwal dia berjaga. artinya nona mutia melakukan pelanggaran.
Menurut kalian bijakkah seorang yang hendak menjadi dokter memilih bersantai sementara rekan yang lain berjibaku dengan korban kecelakaan. Saya yakini seluruh tenaga medis yang ada mendapat panggilan untuk dimintai bantuannya."
" Perihal tanggung jawab, kejadian itu di luar rumah sakit, kenapa kami yang harus disalahkan? ketika pada saat bersamaan dialah yang diduga patut disalahkan atas meninggalnya Sandra Atma Madina."
Sontak suara ribut mendominasi sekitar, segera para wartawan itu sibuk bertanya dan menulis.
Mengabaikan segala pertanyaan yang diajukan Zahra, memilih meneruskan ucapannya.
Karena ketidakbertanggungjawabnnya, beliau terlambat ditangani yang berakibat terjadi luka dalam yang fatal yang berujung meninggal."
" Bukan kah itu seharusnya yang patut disalahkan adalah bapak Mumtaz selaku dalang kecelakaan itu? tanya salah satu wartawan.
Zahra bergeming kaget mendengar kabar itu, ia melirik bertanya ke arah Zayin yang menatapnya tegas.
Pak Ahsan mengambil alih mic." saya kira anda telah melakukan penuduhan kepada pak Mumtaz, sebaiknya anda mempunyai bukti atas ucapan anda atau anda telah melakukan melayangkan sebuah fitnah terhadap beliau. jangan menggiring opini." peringat Ahsan.
" Untuk klarifikasi pak Mumtaz akan diadakan besok, saat ini kalian yang telah banyak menyiarkan live terkait nona Mutia harus meluruskan beritanya. baca berkas yang kami berikan!"
" Mari, prof. selanjutnya biar tim humas rumah sakit yang mengurusnya." tukas Ahsan.
" Sbelum pergi, saya ingin kau.." zahra menghadap Irina, lalu menempelkan kertas berisi keputusan universitas dan IDI ke kening Irina, melupakan sopan santun.
__ADS_1
" Alih-alih membuang waktu berteriak-teriak tidak berguna di depan rumah sakit dan mengganggu aktifitas kami, apa tidak sebaiknya anda bersama putri anda, itupun kalau anda sungguh-sungguh mengkhawatirkannya, bukan sibuk mencari panggung."...