Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
bab 69. Surat Alfaska


__ADS_3

" Aaaakh,...eeehh..., aaahhhh. masukin lebih dalam omh...." Video ranjang Adinda bersama Victor berdurasi dua menit tersebar selama 30 menit di seluruh media sosial dengan angle jelas wajah Adinda, waktu yang cukup untuk di repost oleh pengguna medsos lainnya, dan menjadi viral.


" ALFA,...ALFASKA,...apa semua ini perbuatanmu?" Teriak mami berdiri di anak  tangga paling bawah sambil mengacungkan ponselnya.


Jimmy turun dengan ekspresi datar dan duduk di sofa single, mengabaikan pelototan maminya.


" Afa sudah mensomasi mami untuk membatalkan pernikahan ini, tapi gak mami hiraukan. Jadi begini hasilnya."


" Demi tuhan, mami gak akan membatalkannya. Mau taruh dimana muka mami di hadapan relasi mami kalau mami membatalkan pernikahan ini. Dibanding membatalkan, Kalau kamu gak suka kamu bisa mengajukan pembatalan setelahnya." Serunya frustasi karena sedari tadi ponselnya tak henti berdering dari relasi-relasinya minta tanggapan video tersebut.


Relasinya mengenal Adinda karena mami sering mengikutsertakan Adinda dan membanggakannya sebagai calon menantunya yang baik dan polos di acara arisan para sosialita.


Jimmy terhenyak no mendengar komentar mami yang tak berperasaan, dia menatap kecewa mami, tatapan yang sering diperlihatkan Jimmy kepadanya.


" Jadi nama baikmu lebih penting daripada Afa!"


Mami tersentak sadar akan kesalahannya.


" Kini ku tahu apa arti diriku bagimu, mi." Ucap lemah Jimmy, beranjak meniggalkan ruang tengah.


Papi yang melihat kejadian itu menghembuskan nafas berat, dia menghampiri mami.


Tiba-tiba papi melempar amplop coklat besar ke hadapan mami.


" Ini apa?" Tanya mami menengadahkan wajahnya untuk menatap papi yang berdiri tak jauh di depannya.


" Gugatan talak."


Jeleger!!! Bagai petir dia siang bolong, mami tak menyangka hidupnya ada di situasi ini.


" Ucapan mu kemarin menyadarkan ku kau tidak mencintaiku, tapi hanya memanfaatkan ku. Aku sudah selesai, menyerah." Papi mengakat kedian tangan nya tanda menyerah, kemudian memutar tubuhnya hendak pergi dari sana, namun dicegah mami.


" Pi,..." Mami memegang tangan papi yang langsung ditepisnya.


" Saya akan bawa Alfaska."


Mami menggeleng panik," tidak, kamu tidak bisa menjauhkan Afa dari aku."


" Jangan drama, Sandra. Toh selama ini kamu tidak mempedulikannya." Papi keluar ruangan.


Mami menatap isi amplop itu dengan sendu, dan tak lama bulir bening pun menetes dari matanya. 


" Kenapa jadi begini..."


*******


Tiga saudara melepas penat mereka dengan datang ke tempat kuliner jalanan.


" Mungkin ini pembalasan Allah karena kakak menyukai pembunuh ayah, dan menyakiti kalian." Renung Zahra sembari asyik dengan kentang goreng saus kejunnya.


" Apa sih, mana ada Allah ngurus hal sepele gitu?, Lagian Ayin pribadi melihat om Hito orang baik." Ucapnya disela lahapnya makan double beef burger.


" Muy, beneran kamu mau bikin Hartadraja bangkrut?" Tanya Zahra tak enak hati.


" Kenapa enggak, tapi tidak mudah." Jawab Mumtaz yang sibuk dengan mie gorengnya.


" Gimana nasib si Tia? Iya kali dia jadi janda muda." Gumam Zahra lesu


" Seharusnya waktu itu Aa gak ngijinin mereka tetap tinggal, ya!?" Sesalnya, bagaimanapun Daniel dan Jimmy ada karena perbuatannya.


Pletak!!! Zahra menjitak kepala Mumtaz.


" Jangan menyesali apa yang sudah dilakukan untuk keluarga." Omel Zahra.


" Tapi ini berhubungan sama emaknya." Tutur Zayin.


" Kakak gak ngerasa lagi melawan emaknya, dia sendiri bilang kalau dia adik kakak."


" Lah itu mami..."


" Dengar, semua wanita kodratnya memang melahirkan, tapi gak Setiap orang melahirkan itu bisa dinamai ibu. Apa wanita yang tidak bisa melahirkan tetapi punya ketulusan merawat dan menyayangi anak itu tidak bisa dinamai ibu?, Hakikat ibu itu menyayangi, merawat, dan mendidik,  lahir dan bathin anak hingga anak tersebut menjadi bermanfaat dan baik. Emang tu anak setelah lahir langsung jadi dokter enggak kan!? Butuh bimbingan dari ibu!" Sewot Zahra dengan bernapsu.


Dua adik tersebut diam tak menyangkal, mengingat sulitnya mama mengurus mereka berempat baik ada ayah maupun tidak ada.


" Jadi, Muy. Kalian gak ngelakuin apa pun gitu untuk mencegah pernikahan itu?" 


" Lagi proses, ketimbang  kakak mikirin percintaan Tia, mending mikirin diri sendiri. Itu kamu dikhianati sohib sendiri loh." Ujar Zayin mencomot kentang goreng.


Zahra berdecak," teman berkhianat, tinggal buang."


" Aa mau memperingatkan kakak, urusan Husain gak ada ampun. Kakak jangan menghalangi setiap tindakan Aa terhadap Husain, untuk Hartadraja disesuaikan dengan situasi dan kondisinya." Mumtaz menatap lurus dan tajam Zahra.


" Biarkan Aa bertindak sebagai kepala keluarga, melindungi kalian sudah aku jadikan hak. NO DEBAT!" Menatap bergantian antara Zahra dan Zayin, yang menganggukan kepala ta'dzim.


" Pulang yuk, besok bakal jadi hari yang panjang." Ajak Zayin di gigitan terakhir burgernya.


" Sok, bilang aja makanan Lo udah habis." Zahra menjitak gemas kepala adiknya, Zayin hanya nyengir random.


*****


 BRAK!!!! gebrakan keras dari brotosedjo ke atas meja kerja Rudi 


" Sudah berapa kali saya bilang batalkan pernikahan itu, atau kita hancur."


Rudi hanya merespon santai yang membuat Brotosedjo geram.


" Tidak akan, pantang bagi Aloya untuk menyerah apalagi kepada bocah ingusan itu." Dengus Rudi.


" Ruangan berantakan mu ini menjadi bukti kau tak bisa menangani mereka." Seru Alexander.


" Kita tidak sedang berhadapan dengan  Mumtaz saja, tetapi RaHasiYa!" Brotosedjo sedikit ragu akan keputusannya bekerjasama dengan Aloya.


" Terserah, tetapi tetap saja mereka hanya bocah."


" Orang yang kau sebut bocah itu yang sekarang membuatmu terlibat hukum, dan merekam adegan ranjang anakmu."


" Kalau soal hukum, jangan khawatirkan itu, saya sudah kendalikan para petinggi polisi, buktinya sekarang surga duniawi masih beroperasi meskipun penyelidikan berjalan." Sombong Rudi dengan merentangkan tangan bangga.

__ADS_1


Faktanya memang dia bertindak cepat dengan menghubungi para petinggi polisi untuk tetap membiarkan Surga Duniawi beroperasi di tengah laporan Wilson.


" Kita tidak bisa berhenti sekarang Surga Duniawi sudah di kenal dunia sebagai tempat penyedia wanita prostitusi berkualitas dengan kategori perawan, dan anak di bawah umur. Kau pasti tahu berapa besar keuntungan bisnis itu, ditambah saya sudah bersepakat dengan  gembong narkoba terbesar di Amerika latin, dan barangnya baru sampai kalian tahu berapa nilaikontrak itu? 20 juta US dollar." Para rekan terkejut, dan Rudi menyeringai pongah.


" Tidak lama lagi kita akan ada dalam TOP 5. Bahkan RaHasiYa tak akan bisa menyentuh kita." Rudi berucap sambil mengkhayal.


" Pernikahan Adinda dilaksankan besok, jika RaHasiYa ingin mencegahnya seharusnya mereka sudah melakukannya sekarang, tapi lihatlah tidak ada apapun yang terjadi." Lanjutnya tak menyadari kehancurannya di depan mata.


*******


saat ini sudah pukul 22.00 wib, namun keluarga Husain masih berkumpul di ruang keluarga.


Hazam Husain menatap isterinya kecewa, dengan melakukan hal besar tanpa konfirmasi terlebih dahulu padanya


Tadi beliau menerima telpon dari Aznan yang mengutarakan kekecewaannya kepada perbuatan isterinya, dan memberitahukan padanya bahwa Hito sedang menjalin kasih dengan Zahra, sahabat Zivara yang juga kakak dari Mumtaz.


Peringatan tersembunyi yang langsung dia tangkap sebagai ancaman akan kelangsungan Husain group.


" Apa yang dijanjikan nyonya Sri padamu sampai kau rela melakukan hal bodoh ini?" Hazam menatap dingin isterinya.


Mama Farah menunduk takut.


" Jawab, jangan usik kesabaran saya, belum beres masalah yang ditimbulkan oleh adikmu, sekarang kau yang berulah tanpa persetujuan dariku."


" Nyonya bilang dia akan membantu perusahaan kita jika aku membantu perjodohan yang dia kehendaki ini."


Hazam memejamkan matanya dengan menghembuskan nafas berat.


" Dan kau percaya?, Nyonya Sri sudah berbulan-bulan mendesak Hito untuk memperpanjang kerjasama kita, tapi tak ada hasilnya, apa kau pikir dia bisa membantu kita ketika lawan kita adalah RaHasiYa!?." Ujar Hazam lelah.


Dia merasa percuma bersusah payah memperbaiki kesalahan adiknya. Dia merasa berjuang sendiri, dia sungguh telah lelah dan hampir mengibarkan bendera putih bersaing di dunia bisnis ini.


" Apa kau tahu Zahra kakak dari Mumtaz?"


" Tidak, aku baru tahu belum lama ini dari Edel."


" Ziva, apa Zahra punya salah padamu sehingga kau tega melakukan ini kepadanya?" Tanya Hazam menyiratkan kekecewaannya.


Zivara hanya mampu tertunduk, maksud hati ingin menolong keluarganya dengan mengorbankan persahabatannya, tapi malah mempermudah kehancurannya.


" Papa sudah tak sanggup lagi berjuang, lubang permasalahannya terlalu besar dan makin membesar. Maaf mulai sekarang kalian harus mempersiapkan diri hidup hemat." Seru Hazam dengan gestur tubuh kalah meninggalkan ruang keluarganya.


" Pa, apa tidak ada yang bisa kita lakukan?" Jasmine bertanya dengan ekspresi muram.


Hazam menoleh " karena Masalah Riana kita melawan Mumtaz dan Sisilia mengakibatkan Birawa, Atma Madina, dan Pradapta meninggalkan kita karena kedekatan emosional dengannya. Satu-satunya yang masih bertahan hanya Hartadraja, tentu Mumtaz pun tidak akan lunak kepada Hartadraja." Ucap Hazam lesu.


" Beberapa hari ini para investor di Hartadraja corp mendesak papa untuk melepas saham di Hartadraja karena kinerja kita yang memburuk, dan kita memang butuh dana untuk menutupi dana yang diambil oleh pamanmu, jadi kita tak ada pilihan lain selain melepas saham kita di Hartadraja. Rencananya besok pagi Husain akan melepas saham di Hartadraja mumpung ada penawar dengan harga yang lumayan" Hazam berbalik lagi keluar dari ruangan.


Buliran bening tak terelakan keluar dari mata Zivara, Zivara menggigit bibir bagian dalam bawahnya. Penyesalan kini mulai merayapinya.


*******


" Belum bisa hubungi Zahra juga?" Dominiaz dan Samudera terpaksa membawa Hito ke apartemennya dengan alibi banyak kerjaan.


Hito menggeleng lesu.


" Beruntung Lo si Mumtaz itu masih menahan tenaga, kalau enggak koit di tempat Lo." ledek Samudera.


Hari gerakannya Hito tahu Mumtaz seorang ahli bela diri dari berbagai beladiri yang dengan mudah dapat mematahkan bahkan lebih mampu menjadikan dirinya daging cincang kalau dia ingin. Syukurnya dia hanya luka luar saja, tidak ada luka dalam.


" Terus mau gimana kelanjutannya?" Dominiaz mulai gemas dengan keterdiaman sahabatnya sendiri.


" kita masih belum dapat rekaman kejadian itu?" tanya Hito sedikit berharap ada kabar baik.


Dominiaz menggeleng, Hito berdecak sebal.


" Heh, yang kita hadapi RaHasiYa, bukan hacker abal-abal." Sewot Dominiaz.


" Gue pikir ini karena sikap pasif Lo, Lo salah ngambil langkah." ucap Samudera beranalisa.


" gue diam karena menghormati hubungan lama Hartadraja dengan Husain, toh gue yakin tanpa gue turun tangan Husain akan KO, dan sekarang otw kan." Hito membela diri.


" Tapi sekarang Lo lihat kisah cinta Lo juga kena imbasnya."


Hito menghela nafas kasar," gue akan bertindak jika memang tidak ada alasan untuk tetap diam."


********


Pikul 00.00.wib.


Jimmy mengusap gusar wajahnya, dia sungguh frustasi menghadapi sikap maminya yang tak berperasaan padanya, dia kecewa, jelas. Andai wanita itu bukan orang yang melahirkannya, tentu sudah dia abaikan wanita itu. Meski tidak dikehendakinya tatapi tidak bisa dibantah dalam tubuhnya mengalir darah wanita itu.


Sebenarnya Jimmy enggan mengambil langkah ini, tapi dia harus melakukannya, walau itu akan membuat maminya terluka.


Jimmy merapihkan empat buah amplop putih dan meletakannya di atas meja belajarnya, dengan pakaian serba hitam, kupluk hitam. Jimmy menyampirkan ransel gunung besar di pundaknya, Jimmy berjalan ke arah balkon kamarnya bersiap turun menggunakan tali panjang untuk kabur dari rumahnya.


Menatap sejenak ke siluet bayangan dirinya yang duduk di sofa dan menatap seputaran ruangan kamar yang dihuninya sejak kecil, menghela nafas berat Jimmy mulai melakukan aksi kaburnya.


******


Selepas shalat subuh mami beranjak ke kamar Jimmy hendak membangunkannya guna mempersiapkan diri di hari pernikahannya.


" Fa, Alfa," mami mengetuk pintu kamar Jimmy yang tidak ada sahutan dari dalam.


"Alfa, bangun.ayo siap-siap." Makin keras ketukan mami, karena sudah lima belas menit yang lalu mami berdiri di depan kamar Alfa.


" ALFA, jangan mulai bertingkah. Buka pintunya." Gedoran keras mami lakukan tak juga mendapat sahutan, dengan kesal mami membuka kamar yang ternyata tidak terkunci.


Menekan saklar utama dan berteriak histeris karena terkejut dengan 'wujud' Jimmy yang mulai memudar karena cahaya lampu. Melirik kasur yang nampak rapih yang tidak digunakan, mami mulai khawatir.


" Alfa,.." mulai curiga, mami menuju kamar mandi dan membukanya yang juga kosong. Lalu ke tengah ruangan matanya mengamati sekeliling ruangan berharap mencari jawaban keberadaan anaknya, hingga tatapannya jatuh ke atas meja. 


Bergegas mendekati meja dan mengambil setumpuk amplop yang sudah diberi nama penerima, menggelengkan kepala bingung mami langsung memutar tubuhnya turun ke lantai bawah.


" PAPI, PAPI..." Teriak mami  membahana dengan tergesa-gesa menuruni anak tangga, para pelayan langsung menghadap mami yang terlihat panik


" Panggil tuan besar, dan tuan Bara. Bilang Alfa pergi." Ucapnya gugup menuju ruang keluarga, tubuh mami bergetar khawatir, rautnya mulai memperlihatkan kecemasan.

__ADS_1


Papi yang melihat keadaan mami yang tak lazim langsung mendekat dan memeluknya kala mendapati raut kecemasan dan kepanikan akut yang mulai melanda dirinya.


Tak lama Bara, bude Sherly, dan Dista langsung mendekati mami yang masih gemetar sembari mencengkram erat amplop-amplop dalam pelukan papi.


Bara secara perlahan mengambil amplop-amplop tersebut, dia membuka amplop yang penerimanya mami.


Ternyata isi amplop itu adalah surat, tanpa membuang waktu Bara membaca isi suratnya.


Dear, wanita yang melahirkan ku.


Afa sungguh menyesal kita berada dalam situasi seperti ini, tak tahu mesti bagaimana lagi untuk memperbaiki sikapmu namun sebagai anak ada berkewajiban menegur mu jika mami salah.


Maaf jika apa yang Afa beritahukan menyakitimu, namun hanya ini jalan yang Afa pikirkan untuk mengembalikan mu.


Afa tidak bisa menikahi anak dari Rudi Aloya, karena beberapa alasan:


Adinda pelacur kelas kakap, julukannya Mega bintang di Surga Duniawi, tempat prostitusi ilegal terbesar di Asia.


Adinda, seorang hiperseksual yang bisa melakukan hubungan intim dengan sembarang pria untuk memuaskan ***** birahinya.


Adinda menyakiti Tia secara bathin dengan terus meneror Tia dengan foto tidak senonoh di masa kecil atas tipu dayanya.


Adinda sudah bertunangan dengan Samuel Rafael sepupunya sendiri.


Adinda anak Adri Rudi Aloya, keponakan dari Victor Rafael. Para penculik Afa, Daniel, dan Bara.


Sampai sini mami dan Sherly terbelalak terkejut, Bara terus mencoba memasang ekspresi tenang walau hatinya mulai gusar.


" Bara lanjut ya." Ucap bara yang ingin segera pergi dari situasi tidak menyenangkan ini.


Seminggu di sandera oleh mereka adalah keadaan yang terburuk bagi kami, bersyukur bara tidak mengalaminya.


Setiap pagi mereka akan menciumi pipi kami dengan mesum, setiap sore mereka akan menyentuh bagian dada kami, tiap malam mereka akan mempertontonkan bagian vitalnya kepada kami dan melakukan gerakan mesum di hadapan kami.


Tubuh Sandra dan Sherly gemetar, dan rintihan tangis tertahan mulai terdengar tertahan karena mereka membekap mulutnya.


Bara mulai merasakan sesak di dadanya, tapi terus membacanya.


Di hari ketujuh Rudi nekat mendekati Daniel dan melecehkannya, ku pikir mereka memilih Daniel karena wajah tampan dan tubuh tegap Daniel, tapi Afa tentu tak bisa membiarkannya. Afa melawan dengan menendang ******** Rudi.


Melihat Rudi yang lengah Afa memaksa Daniel untuk kabur, di saat Daniel kabur itu Rudi menjadikan Afa mangsanya. Dengan marah dia memerintah Victor untuk memegangi kedua tangan afa dan memenjarakannya di atas kepala Afa, lalu menurunkan celana afa dan mulai...


" Stop,...berhenti, baca Bara." Lirih mami kesakitan di tengah tangisnya.


" Tidak bisa, mami harus dengar agar mami tidak melanjutkan pernikahan ini." Ucap Bara tidak berperasaan.


Menurunkan celana Afa dan mulai meraba, tapi datanglah pertolongan dari Allah berupa Mumtaz dan Ibnu. Mumtaz langsung menerjang Rudi sampai babak belur, sedangkan Ibnu menangani Victor sama seperti Rudi bahkan Ibnu memotong satu jari Victor sebagai cirinya.


Afa pikir setelah bebas keadaan membaik, tapu ternyata tidak. Trauma pelecehan itu menghantui kami. Daniel beruntung bunda merawatnya sedangkan Afa, bahkan butuh dua Minggu setelah bebas mami baru menjenguk Afa. Saat-saat Afa paling membutuhkan mami, tapi mami tidak ada hanya mama yang merawat Afa bergantian dengan bunda.


Di masa traumatik itu ada dan Daniel hanya bisa berteriak dan menangis histeris di kamar. Selama tiga bulan kami buang air besar dan kecil di dalam kamar keluarga Mumtaz dan bunda dibantu para tetangga dengan sabar dan tabah membersihkan kotoran kami tanpa jijik.


Kak Zahra yang merasa memiliki kejeniusan terpaksa mempelajari psikologi khususnya penanganan menghadapi trauma kekerasan pelecehan.


Dimana mami saat itu? Tidak ada.


Apa mami mengingat Afa? Tidak tahu.


Apa Afa butuh mami? Sangat.


Setiap hari berharap mami datang, setiap ganti hari Afa kecewa.


Hampir setahun Afa dan Daniel dirundung ketakutan, Mumtaz, Ibnu, dan yang lain saling membahu merawat kami, bahkan Tia kecil ikutan memghibur kami dan mereka selalu berada di sisi kami bahkan kami diajarkan bela diri guna meningkatkan kepercayaan diri kami.


Melihat kesedihan Afa karena ketiadaan mami, Daniel memutuskan untuk menjadi anak mama nomor tiga dan empat, menjadi kakak bagi Zayin dan Tia.


Sosok ibu yang sudah lama hilang kini kembali ada, mama memang tidak melahirkan Afa, tetapi kasih sayangnya dan selalu ada untuk kami yang menjadikannya ibu. Bagi Afa keberadaannya lebih berarti daripada wanita yang melahirkan Afa. MAAF!!!


Tia kecil yang lucu tanpa jijik seringkali membersihkan b kas pipis Afa dan Daniel dengan segala keluhannya yang lucu, kecerewetannya yang membuat kami terhibur. Tak jarang  mengusap dada sembari berucap sabar kepada diri sendiri yang membuat kami tertawa geli dan menjahilinya. Sampai suatu hari debaran halus menyergap dada Afa yang ada artikan awal ada suka Tia.


Semakin hari Afa mencintainya, dan membutuhkannya karena bayangan tragedi itu terkadang menghantui, dan Tia akan memeluk Afa sampai terlelap.


Mami, Afa tidak bisa menikahi wanita itu meski hanya pura-pura. Afa sudah melakukan ijab-qabul dengan wanita yang Afa cintai dan tak ingin melakukannya lagi.


Mami, Afa tak bisa melihat mayat mami, tapi mungkin mami sanggup melihat kematian Afa. Kehilangan Tia adalah kematian Afa, pernikahan dengan wanita itu adalah kematian Afa.


" ALFASKA..." Mami menangis histeris, rasa bersalah mengisi seluruh hatinya detak jantungnya mengalun cepat bagai rollercoaster belum harap dengan tangisnya bisa menebus semau kesalahannya.


Dia tak bisa membayangkan penderitaan yang ditanggung anaknya, dan dia sebagai ibu lebih perhatian pada butik dan melebarkan sayap butiknya daripada anak semata wayangnya.


Sherly masih menumpahkan air matanya dalam d kapan Dista menatap Bara dengan penyesalan, bara membalas tatapan Sherly dengan tersenyum.


" Tinggal sedikit lagi, Bara teruskan ya tinggal dikit lagi."


Walau demikian Afa masih sayang mami, memilih berdamai dengan keadaanya yang tidak ada inginkan karena mama dapat mengganti peran yang seharusnya mami yang lakukan.


Papi, tak banyak yang bisa katakan kepada papi, karena papi selalu ada untuk Afa. Maaf di usai dewasa ini Afa masih bikin papi repot, AFA SAYANG PAPI. Semoga Allah selalu melindungi kalian.


Dari yang menyayangi kalian


Alfaska Argadinata


Mami meremas kain penutup dadanya berharap rasa sakit dan bersalahnya berkurang, putranya enggan menggunakan nama keluarganya yang menyiratkan kebencian Alfa padanya.


" Maaf, baru harus pergi." bara dengan membawa amplop tersebut meninggalkan ruang keluarga tersebut, dia harus segera memberitahukan yang lain.


******


Sementara sejak pukul 03.05 wib tiga sahabat berdiri di depan layar mengamati kamar Jimmy dan ruang keluarga dengan helaan nafas kesal.


" Sorry, gue telat menyadarinya." Ucap Daniel lemah.


" Kenapa Lo gak pernah bilang kalau kalian sudah berhasil menciptakan manusia hologram atau bayangan nyata apapun itu namanya." ucap Ibnu kesal.


" Karena ini memang belum sempurna."


" Tapi udah bisa dipake kan, seenggaknya kalau kita tahu kita bisa mengantisipasi."

__ADS_1


" Udah, semua sudah terjadi, gue ke ruangan gue dulu. mau shalat malam dulu." Mumtaz dengan santai meninggalkan lantai tujuh.


Di ruangannya sesudah shalat Mumtaz langsung sibuk dengan laptopnya, dia tak bisa membuang waktu dengan percuma. Setiap detiknya berarti....


__ADS_2