
" Enghh..engkhh..uhuk..uhukk.." Estelle mengerjap-ngerjapkan matanya berulang-kali, entah ini yang keberapa kali dia bangun dari tidurnya dalam suasana gelap, pengap, dan lembab badannya begitu lengket.
" HALLO...APA ADA ORANG? Uhuk...." Teriaknya lantang.
Estelle merasa dia sudah membuka matanya yang paling besar, namun kenapa masih gelap gulita, tidak ada cahaya satupun yang masuk.
" Uhuk...uhuk..." rongga tenggorokan dan hidungnya langsung sakit dan sesak karena bau menyengat Tak sedap, bau anyir, bau busuk, bau ****** binatang. Semuanya sangat menyeramkan
" Ha...hallo ada orang di sana?" Sepi, Lirihnya tak kuasa menahan segala keadaan, dia mulai diserang panik.
" Hallo.."
Greek...!!! Suara benda terinjak, Estelle langsung terjengkit ketakutan.
" Ha.,.llo..."
Crekk!!! Suara benda di gigit.
" KELUAR!!!" pekiknya, mencoba memberanikan diri. Tangannya terulur mencari pegangan,, ternyata tidak ada.
Ia pun merangkak, tangannya meraba-raba lantai terus merangkak, tubuhnya begitu lemas karena tak diisi asupan apapun entah berapa lama dia sudah di sini.
"AAAA..." jeritnya kaget, ia memundurkan tubuhnya beberapa langkah, karena terkejut menyentuh benda sesuatu yang lembek dan berbulu, ia mencium tangannya yang menyentuh benda tadi.
" Ueekkk.." bau menyengat. Ia sudah ketakutan dan panik.
" AAAAA...TOLONG...." Lolongnya keras dan kuat sebelum dia jatuh tidak sadarkan diri, lagi. Semua itu terus berulang setiap kali dia sadar.
" Sampai kapan dia diginiin?" Tanya Haikal tak tega melihat korban di depannya dengan menggunakan kamera khusus dalam ruang gelap.
Kini Bara dan para sahabat berkumpul di ruang kontrol, tidak jauh dari lokasi eksekusi.
" Sampai suhu tubuh dia merah semua." Bara menatap korbannya dengan santai.
" Bisa goila dia, dan itu percuma." Seru Radit.
Bara menimbang," Jen, bangunkan dia." Jeno langsung masuk ruangan menggunakan kamera infrared, hingga dia tahu dimana letak korbannya.
BYUR!!! BYUR!!! BYUR!!!!
Jeno menyiramkan seember air.
" Ekh..uhuk...uhuk..," Estelle terbangun lagi dari tidurnya, dia merutuki dirinya yang masih terbangun, dia berharap dia tidur selamanya.
Belum juga dia membiasakan diri, tiba-tiba ruangan terang menderang, pupil matanya langsung sakit, kepalanya pening, karena keterkejutan inderanya.
Cahaya yang masuk begitu terang dan kuat, kepalanya sungguh sakit, tubuhnya nyeri dan sekarang mulai kedinginan.
Plasshhh!!! Lagi, ruangan gelap gulita, dia sedikit bersyukur, namun tak urung ketakutan langsung menghinggapinya.
terang, gelap terus berulang kali. kepalanya sungguh pusing dan sakit tak tertahankan.
BRAK!!! pintu dibuka kasar, sosok pria yang terlihat masih gagah meski tak lagi muda diikuti beberapa pemuda tegap.
Dia tahu siapa orang itu, Damian Prakasa. Ayah dari Cassandra Hartadraja. Tubuhnya seketika gemetar.
Tatapannya nyalang siap menghabisi, begitu menyeramkan.
" Siapa kau berani meneror putriku?" suara dingin menggetarkan jiwanya.
Estelle menggeleng," Bu..bukan A..aku.."
Blak!!!
" AAAAKH..." rahangnya sampai pipinya sakit dan perih, tamparan dengan punggung tangan Daria tau bawah sampai atas wajahnya secara diagonal yang begitu kuat menghantamnya.
" Sebutkan!" Suara datar Damian menambah ketakutan Estelle.
" Ta.. Tamara yang menyuruh saya meneror wanita bernama Cassandra." Lirihnya.
" AAAA..." Dengan berbalut bersarung tangan kulit hitam, Damian menjambak rambut kusut dan kusam Estelle tanpa segan.
" Kau pikir, kau bisa memainkan kami, kau bohong!" Melepas jambakannya sembari mendorong kepala Estelle, Estelle menggeleng sambil meringis kesakitan.
" Aku bersumpah, itu yang sebenarnya." Cicitnya lemah.
" Kenapa dia mengganggu Cassandra? Bara menatap Estelle tajam.
" Dia ingin Cassandra gila, dia kesal upaya membunuh Cassandra selalu gagal." Ungkapnya.
Damian dan Bara mengepalkan kedua tangannya.
" Apa imbalannya?"
" Narkoba, dia menjamin memasok narkoba untukku, tetapi dia ingkar."
" Tentu saja dia ingkar, dia miskin." sambar Bara.
Estelle menggelengkan kepalanya pelan," dia simpanan Eric, dia salah satu bandar kakap. Aku punya buktinya, datang saja ke rumah berlantai dua di perumahan Gardenia house."
Gardenia house, perumahan berlevel menengah yang terletak di perbatasan Jakarta - Bekasi.
Setelah mendapat keterangan untuk sementara dirasa cukup, mereka melangkah meninggalkan ruangan.
" Tidak...jangan tinggalkan aku di sini. Bawa aku pergi dari sini." Teriak Estelle memohon dengan sisa tenaganya.
" Tidak, sebelum apa yang kau ucapkan terbukti." Tukas Bara sebelum menutup pintu. Lagi, gelap menyelimutinya.
Estelle hanya bisa meringkuk menggigil menyesali kebodohannya.
" Jen, lanjut hubungi RaHasiYa." Titah Bara yang diangguki oleh Jeno yang langsung pergi dari lokasi.
Bara mengambil ponsel dari saku celananya.
" Hallo, Bar. Lo atau Adgar lanjut modusin Tamara." Pinta Bara pada orang di seberang saluran agar Tamara lengah.
Bara menutup sambungannya sambil terkekeh karena omelan Akbar. Cukup menghibur.
*****
Brak!!!!
Eric melempar berkas yang dipegangnya.
" Kenapa pria tua itu membatalkan suntikan dananya?" Geramnya.
Plak!!!
Tamara meringis, sudut bibirnya sobek. " Kau tidak berguna!" Murkanya
" Kau bilang pria tua itu setuju."
" Itu yang dikatakan padaku, Hon." Ucap Tamara mendayu, berharap amukan Eric mereda.
" Jangan bilang honey, padaku. Aku tahu kau tidur dengan pria lain dibelakang ku."
Tamara menegang, bola matanya membulat, ia khawatir Eric tahu kalau dia memberitahu Alfred tentang kondisinya terkini Gonzalez corp. Eric mendekatinya dengan aura membunuh, dia mematung kaku.
" Kau sudah berani bermain denganku, habislah kau jika tidak bisa membujuk pria tua itu. Sekarang pergi datangi pria itu dengan kedua selangkanganmu!" Usir Eric marah.
Tidka ingin menambah amarah Eric Tamara langsung berlalu meninggalkan ruangan Eric.
" Mateo..." Panggil Eric pada asisten pribadi setianya, ia duduk di kursi kebesarannya sambil memijit pelipisnya.
Ia kesal semau tidak berjalan sesuai yang dia inginkan.
" Iya Tuan," Mateo berdiri di seberang meja kerja Eric.
" Bagaimana dengan pasokan kokain kita?"
" Aman, Tuan. Mereka siap mengedarkannya H-4 tahun baru."
" Bagus, gunakan semua tenaga yang kita punya. Kita sedang butuh dana besar.
" Siap, Tuan."
Eric dengan kode tangannya menyuruh Mateo keluar dari ruangannya
Sementara di ruangan lain Raul tertawa senang, melihat ayahnya kesusahan melalui laptopnya.
"Ini balasannya, kau berani menyentuh wilayahku, Eric." Gumam Raul memancarkan kekesalannya.
Dua hari lalu Mumtaz memberitahukannya kalau Eric mengetahui keberadaan Belinda darinya, tentu saja dia menyangkalnya. Tidka mungkin dia memberitahukan keberadaan Mamanya sementara yang ia ingin kan ibunya tidak terdeteksi oleh seorang bajingan bernama Eric Gonzalez.
" Raul, berhentilah membuat ayahmu marah." Seru Rodrigo, dengan tenang duduk bersilang kaki di sofa tunggal ruang kerja Raul.
" Kenapa? Kau marah padaku karena membodohi ayahmu?" Cemooh Eric dengan air muka menyebalkan bagi pandangan Rodrigo.
Rodrigo berdecak," ck kau tahu aku tidak peduli padanya, aku hanya mengkhawatirkanmu." Kesalnya karena tuduhan konyol dari pria yang sudah dianggap saudaranya tersebut.
" Aku tidak menuduhmu, tapi darah lebih kental daripada air susu janda." Jawab Raul konyol.
" Kalau aku bisa memeras DNA dia agar keluar dari tubuhku, akan ku peras, Raul." Dumel Rodrigo, dia sungguh kesal jika diingatkan akan ikatannya dengan Eric.
Ceklek!!!
Mateo memasuki ruangan Raul dengan senyum sumringah, myidorkan kertas kecil pada Raul.
Raul menerima kertas tersebut dengan kernyitan dalam.
" Ini lokasi persediaan narkoba yang terbesar yang sekarang dimiliki ayahmu, kalau kamu ingin membuatnya frustasi, hancurkan gedung itu." Terang Mateo tenang
" Gardenia House?" Sejak kapan Papa melirik yang level menengah?"
" Ayahmu membagi tempat persediaan pasokannya dalam beberapa kategori agar menjangkau semuanya. Level terbesar di mansion yang sudah diruntuhkan oleh entah siapa?"
" Level menengah berpusat berpusat di sana. Sedangkan untuk level bawah, aku sudah menghubungi polisi agar melakukan penggrebekan pada H-2 tahun baru." Tukas Mateo, dari pandangan Raul, ia terlihat lelah.
Raul, meredupkan pupil matanya," kau terlihat capek, istirahatlah. Serahkan sisanya padaku."
Mateo menggeleng," aku bisa istirahat setelah semaunya selesai. Keluar dari sosok bayangnnya.
" Matt, dneavrkan Raul, beberapa hari lagi kamu butuh tenaga ekstra menghadapi kemarahan Papa." Ujar Rodrigo perihatin.
Mateo terkekeh," kemarahannya, kesenanganku."
" Dan kamu harus sadar 100% melihat itu. Sekarang pulanglah. Nikmati Tamara, aku lihat dia menyukaimu."
Mateo mendengkus, " dia menyukai semua pria. Asisten Brotosedjo, sahabatnya Nathan. Dikejar-kejar olehnya."
Raul tergelak," benarkah? Bagiamana nasibnya?"
" Dia hanya bertemu dengan Tamara jika ada tuan Bram. Bayangkan aja Tamara mengedipkan mata padanya ketika dia bergoyang dia tas tuan Bram." Ucap Mateo dengan mimik jijik.
Raul mencekik," iyuh, damage pelacur sejati benar-benar disandangkan olehnya."
" Berbicara mengenai dia, kamu pasti tahu kalau dada dia fake, aku pikir ayahmu bermain kasar padanya?"
Raul mengerti bingung. " Aku dpat melihat tetesan cairan keluar Daris sekitar Dadanya kalau itu di biarkan bisa infeksi dan membusuk, ayahmu sendiri yang kena imbasnya."
" Aku tidak peduli dia sakit, btw dia bukan ayahku, dia ayah Rodrigo."
__ADS_1
Rodrigo meliriknya sinis," dan saku juga tidak peduli."
" Dan ku pikir dia sudah jatuh miskin kalau dia hanya membiarkannya saja." Timpal Raul tidak peduli.
" Dan aku lebih baik menyewa \*\*\*\*\*\* jalanan daripada tidur dengannya." Sahut Mateo.
" Kalau begitu carilah, bait urusanmu diberesi oleh asisten Rodrigo." Seru Raul menggebu.
" Kenapa harus dia?" Protes Rodrigo cepat.
Raul mengedikan bahu masa bodo," memang dia sibuk apa di Indonesia? Sedangkan asistenku sudah marah-marah kalau aku beri tugas baru padanya."
" Ck, terserah sajalah. Kamu tidur, Mateo." Seru Rodrigo, Mateo hanya mengangguk-angguk.
\*\*\*\*\*
" Bagaimana?" Jeno duduk di seberang meja Ibnu yang sedang mengutak-atik laptopnya di cafe' D'lima, ruang VIP.
" Apa yang Lo katakan di telpon bisa benar adanya.
" Lo udah nyuruh orang ke sana?" Jeno mengangguk, tangannya mengkode memanggil waiters.
" Bawa sekalian drone."
" Gue cuma bawa kamera terbang, sebab kita butuh bagian dalamnya."
" Drone juga, Mumtaz memutuskan untuk meledakkannya."
Jeno terdiam, lalu bertanya dengan sangat hati-hati, " apa dia punya Masalah pribadi dengan Gonzalez?"
Ibnu untuk sesaat bergeming, lalu mengedikan bahunya, Jeno tidak bertanya lagi, dia tahu ada yang disembunyikan.
" Satu es jeruk, dan spageti bolognese." Jeno memesan begitu waiters siap dengan pensil dan buku kecilnya.
" Saya dua capuccino, satu coklat blanded." Timpal Ibnu yang sedang membaca pesan di ponselnya.
" Baik, tunggu sebentar pesanannya kami antar." Ucap waiters sebelum pergi dari meja
" Buat siapa?"
" Mumtaz, Dominiaz, dan Raul mau kesini."
Tidak berselang lama mereka pun datang.
Ceklek!!!
Tiga orang yang disebutkan itu masuk ke ruangan diikuti oleh Erwin.
" Apa?" Tanya Dominiaz sambil menarik kursi.
" Gue cuma mau ngasih tahu, kalau bentar lagi Hito akan kesini." Matanya melirik Raul.
" Cupu Lo, tenang aja sih. Paling cuma baku hantam dua menit, biru sana - sini." Cerocos Dominiaz santai yang disambut kekehan geli dari Raul.
" Yeah, ucapan Lo menghibur gue, semua kerusakan gue tagih ke rekening Lo." Tutur Erwin meninggalkan ruangan.
" Permisi." satu pelayan masuk membawa pesanan mereka.
ketika coklat blanded siap dihidangkan" taruh di depan orang itu." Ibnu menunjuk Mumtaz yang sedang mengobrol dengan Dominiaz.
Mumtaz melirik, dan dia berdecak kesal," Nu, coklat? yang benar saja. Lo juga kopi."
" Gue udah gede." jawaban yang unfaedah.
pletak!!
" Gue udah bangkitan, seenggaknya capuccino, Nu."
Ibnu menghembuskan nafas berlebihan, " Muy, gue dapat amanat dari Kak Ala mastiin Lo dan Ayin gak minum kopi."
" Lo juga dong."
" Dih, iri. Kak Ala gak bilang gue gak boleh."
Untuk sejenak mereka menikmati adu debat dua sahabat tentang hal sepele.
" Gak nyangka gue menjatuhkan tanggung jawab hidup gue di orang yang belum boleh minum kopi." bisik Raul hati-hati agar tidak didengar oleh keduanya.
" Hmm. terkadang gue lupa mereka orang hebat." timpal Dominiaz.
Tiba-tiba Ibnu bertanya, " Apa om tahu perihal Gardenia House?"
Raul terdiam sesaat, dia menghela nafas berat." Itu satu dari sekian banyak tempat penyimpanan pasokan narkoba Papa, rencananya H-4 tahun baru mereka akan mengedar dan mendistribusikannya ke pemasok level bawah. Dan aku tidak terlibat." Eric menekankan pada kalimat terakhir.
" Kami akan menghancurkannya." Seru Mumtaz santai.
" Bisakah kalian berikan tugas ini pada Gaunzaga?" Mereka menatap Dominiaz heran.
" Well, aku, sebagai perwakilan Gaunzaga hanya ingin memberi pesan padanya."
" Tentu, setelah kami selesai operasi lapangan." Jawab Ibnu memperlihatkan laptopnya yang menayangkan hasil tangkapan beberapa kamera bola yang berubah menjadi burung, menempel di tembok berupa kecoa, dan hewan lainnya.
Memperlihatkan bagian dalam rumah berlantai dua tersebut yang ternyata rumah tersebut digunakan selain memilah jenis narkoba tetapi juga memproduksi sabu, dan kokain."
Raul terperangah, ini kali pertama dia melihat sedikit kehebatan alat pengintai RaHasiYa.
" Apa kalian menjual alat ini?" Tanya Dominiaz tertarik.
" Pada dasarnya ini diperuntukan bagi militer, tetapi pada perkembangannya sipil pun diperkenankan untuk kegunaan tertentu dan harus dengan kesepakatan ketat." Ujar Ibnu.
Bahkan kamera itu kini mendeteksi adanya ruang bawah tanah dan sedang memutari ruangan itu yang ternyata berisi bahan mentah narkoba.
" Hancurkan rata dengan tanah." Seru Raul datar menatap Dominiaz.
\*\*\*\*
Adgar memandangi Tamara dengan raut wajah bosan, sudah dua jam mereka berkeliling Mall keluar masuk toko, tetapi tidak ada yang dibeli oleh Tamara.
" Tam, Lo ini satpam Mall atau pengunjung sih keluar masuk toko tapi gak beli." Omel Adgar.
Tamara memberi senyum manisnya," ini kode buat kamu beliin aku." Ucap Tamara Percaya diri.
" Dih, mimpi. Gue tadi bilangnya mau anter lo balik ya, bukan belanja."
" Kamu kenapa nawarin anter aku?"
" Lah, Lo kenapa ngedeketin gue? Bukannya Lo mau dijodohkan sama bang Akbar ya!?"
" Akbar itu membosankan, diam kalau gak ditanya. Kayak jalan sama robot."
"Ck, Lo mau pulang atau gue tinggal." Adgar sungguh muak jalan dengan perempuan ini.
Tamara pura-pura ngambek agar dibujuk, tetapi Adgar mencuekinya dan beranjak berlalu, namun baru beberapa langkah tangannya dicekal Tamara.
" Kamu gak ada niat bujuk aku gitu?"
Adgar menggeleng, " enggak. Ngapain?"
__ADS_1
Tamara mengejutkan kakinya kesal," beliin aku sesuatu." Rengeknya.
" Ogah, siape Lo. Lo pikir cari duit gak capek." Adgar melanjutkan langkahnya untuk pulang.
Karena kesal, Tamara berjalan dengan menghentakkan kaki. Adgar mencibirnya.
" Dih, dikira imut kali. Muka *fake* semua gitu." Gumamnya dengan raut jijik.
\*\*\*\*
Begitu membuka pintu Raul terkaget mendapati ayahnya berdiri di depan meja kerjanya dengan laci terbuka.
Dilihatnya foto Belinda ditangan Eric, Raul mencoba menetralkan air mukanya.
" Pa." Raul berjalan ke arah kasur.
" Eh, kamu.udah pulang?"
" Hmm." Raul duduk di pinggiran kasur, matanya menatap foto yang dipegang Eric.
Eric menyadari itu, ia mengangkat foto itu," Papa kangen Mama kamu."
Tanpa merespon pernyataan Eric, Raul berkata tanpa menyembunyikan ketidaksukaannya. " Apa tanpa sepengetahuan ku, Papa sering masuk ke kamarku?"
Meski sesaat Raul dapat menangkap kegusaran Eric, " Papa ada perlu sama kamu, tapi tadi papa lihat foto Mama kamu, jadi semuanya terlupakan." Bukan itu yang ingin didengar Raul, tepi dia ikuti permainan ayahnya.
Raul diam, tidak ingin menyela omongan ayahnya.
" Papa mengajak Mama mu ke Indonesia untuk memulai hidup baru, tetapi Papa kehilangan dirinya, hehe ironi sekali bukan?" tawanya menyimpan luka.
" Dan hidupku dan Sivia berantakan."
" Raul, Papa berjanji akan mengembalikan Mama."
Hening..
" Membangkitkan dari kuburannya?" Raul tersenyum sinis.
" Dia mati karena keegoisanmu." Raul menahan emosinya.
" Aku mencintainya." Bentak Eric membenci perkataan Raul.
" Pa, kenapa kau mengurusi Mama yang sudah tenang, yang ahrus kau urusi kasus restoran, Pa. Besok pengumuman hasil investigasi mereka."
Eric menatap Raul intens, dia tertawa pelan," semua sudah beres."
" Apa Papa bersiap bangkrut?"
Eric menggeleng, dia terkekeh, " ini Indonesia, mereka sungguh cakap memutarbalikkan fakta kalau kita bisa membiayai produksinya."
" Papa yakin? Dalam 10 tahun terakhir Indonesia sudah mengalami perubahan yang signifikan."
" Tidak dengan mental para pejabatnya."
" Jangan terlalu yakin." Raul berjalan kearahnya, memasukan kedua tangannya dalam saku
" Kalau begitu harus ada yang berkorban, apa kau mau berkorban Raul?"
Rahangnya mengeras," apa maksudmu?"
Eric mengedikan bahunya, " harus ada kambing hitamnya."
Kedua tangan Raul yang didalam saku mengepal, ia pun terkekeh ironi." Dan aku, yang menyandang marga mu yang kau jadikan tumbal."
Eric mengangguk, ia sudah memikirkan ini, ini demi kelancaran eksekusi Belinda. Dia tidak ingin ada orang yang menghalangi kebersamaannya dengan Belinda.
Egois, itu nama tengahnya.
" Aku pikir di sini aku yang paling to.lol, ternyata ada yang lebih. " Pa, tidak peduli kau atau aku yang ditangkap, kita sama-sama akan hancur, kita akan dikuliti oleh warga Indonesia, karena nama belakang kita sama. Jangan lupakan, ini kasus narkoba, salah satu kasus yang sulit dimaafkan!" Raul tidak habis mengerti jalan pikiran ayahnya.
Eric menimbang ucapan Raul, dia mengakui kebenarannya. Sial dia melupakan fakta keposesifan warganya terhadap negaranya.
Raul tersenyum devil tipis, sangat tipis. Ayahnya mulai goyah.
" Kau punya manajer operasional yang baik, kenapa tidak kau manfaatkan dia."
Eric menggeleng, " dia masih papa butuhkan untuk produksi minuman."
" Tapi dia target yang paling empuk, dia memiliki jabatan yang strategis sebagai tersangka penggunaan narkoba dalam makanan restoran."
Raul terus membujuknya, dia sudah melihat ayahnya mulai stuck. Eric mengangguk.
" Akan Papa pikirkan, toh ini tidak akan sampai ke sana, kau lihat saja nanti kita akan bebas." Eric berjalan ke pintu.
"Papa lihat otakmu mulai berjalan." Perkataan itu mengandung ejekan.
Raul mengedikkan bahu cepat, masa bodo, "hasil dari konsumsi kokain selama bertahun-tahun." Ironisnya.
" Selamat malam, Boy." Ucapnya sebelum menutup pintu.
" Malam."
\*\*\*\*\*\*\*
Di Mabes polri bagian ruang konferensi pers, saat ini sudah ramai berkumpul para pencari berita dari seluruh stasiun media baik dalam maupun luar negeri.
Nama Gonzalez merupakan nama besar dalam bidang kulinernya, ia memiliki cabang di beberapa negara, maka oleh karena itu berita pencampuran ganja ini menarik perhatian massa luas.
Kepala Humas polri dan diikuti beberapa personilnya memasuki ruangan, dengan membawa amplop besar berkop polri. Ini siaran langsung!!
Eric menonton pengumuman hasil investigasi yang dijadwalkan akan dibacakan pukul 08.15 wib di ruang kerjanya sambil memangku Tamara yang sedang bergoyang di atasnya. morning ***, sebagai penyambutan kemenangannya.
Setelah membacakan pembukaan, pertimbangan, dan lainnya. Saat ini dibacakan inti dari objek permasalahan.
"...bahwa terbukti dengan meyakinkan Gonza restaurant menjadikan ganja sebagai salah satu campuran bumbu dalam masakannya. Hal ini berdasarkan...."
Riuh heboh dari wartawan meramaikan isi ruangan tersebut.
Wajah Eric memerah karena naik pitam, bukan ini yang harusnya terjadi. Kedua tangannya terkepal.
Ia mendorong tubuh Tamara yang sedang menghisap senjatanya hingga terjengkang, lalu menendangnya keras, dan memukulinya, intinya Tamara dijadikan samsak oleh Eric melampiaskan amarahnya.
Beruntung Mateo masuk ruangan dan menjauhkan Eric dari tubuh Tamara yang sudah tak berdaya.
Mateo memanggil sekretarisnya agar membawa Tamara ke rumah sakit.
Di lain ruangan, Raul tertawa terbahak-bahak menikmati tontonan amukan kekalahan ayahnya melalui laptopnya, dia tidak peduli hasil investigasi itu.
Dia hanya ingin melihat seorang Eric Gonzalez hancur, dia paham ayahnya begitu marah. Ayahnya tidak suka kekalahan.
" Tuan, tenanglah. Marah tidak menjadikan urusan lebih baik." Bujuk Mateo tenang.
Dia memberikan air putih pada Eric, Eric menandaskan minuman itu. Kini tensi emosinya sudah mulai turun.
" Cari, kenapa mereka mengkianati kita. Jika mereka tidak bisa diajak kerja sama, ungkap gratifikasi yang mereka terima selama ini. Kalau kita hancur, mereka pun harus." Suara datarnya penuh ancaman.
" Baik, Tuan." Mateo berlalu dari ruangan.
" Siapa yang berani bermain dibelakangnya?" gumam Eric, memori otaknya mulai berputar siapa saja yang mengetahui proses kasus ini, dan diuntungkan dari kekalahannya.
Tring!! satu notifikasi pesan masuk ke ponsel Eric dari nomor tidak dikenal.
" **INI HANYA SEKEDAR SENTILAN UNTUK MU**!! " dengan emotikon love!!
__ADS_1