Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
187. Terhenti Sebelum Berlanjut.


__ADS_3

Ketika mobil yang membawa Mumtaz dan rombongan memasuki area rumahnya, terdengar teriakan yang cukup membahana yang membuat Mumtaz menaikan alisnya. 


" Merdeka.."


" Merdeka..."


" Takbir...."


" Allahu Akbar..."


" Haleluya...."


" Urrraaaaaa..."


" Mereka kenapa, dah?"


" Mereka terjebak dalam spirit pidato Lo yang tadi." Jawab Rizal, saat mobil berhenti tepat di depan pekarangan rumahnya.


" Pidato apaan? gue cuma komentari keadaan, itu juga secara universal, bayangkan kalau gue bongkar secara detil."


" Mati kutu negara ini diamuk rakyat, pokoknya, ucapan lo menimbulkan kesadaran dan pergerakan di kaula muda dan kaum rebahan, dan kaum nongki di cafe."


" Sedahsyat itu?" Kaget Mumtaz.


Rizal menghela nafas malas." Akun yang nyebarin hoax tentang Lo, sangat giat menyebarkan fitnah diselipi komentar yang sangat provokatif, Lo sadar ga selama ini Lo dibully?


" Enggak, biasa saja."


" Salah nanya orang gue, dia yang level otaknya jelas tahu apa yang dipikirkan, ditambah spiritual di atas awan sana mana baper omongan makhluk." Rizal bicara pada diri sendiri yang mendapat kekehan Ragad yang menguliti mereka.


" Senang Lo udah tenar?" sewot Rizal pada Ragad.


" Senanglah, sekarang gue punya youtub3 dan gue udah banyak endorse. iri kan Lo? ledek Ragad.


Rizal melempar kasur kecil ke kepala ragad, dan menghadap lagi pada Mumtaz." Well, nyatanya mereka membully Lo, anak RaHasiYa bekerja keras agar tentang lo gak nyampe ke ponsel kak Ala, dan Tia."


" Kejulidan mereka berhenti, ketika Leo dan yang lain diwawancara, bahkan anak BIBA dulu juga ikut mengklarifikasi tentang Lo, pokoke sekarang para kaula muda bersatu demi Lo. Bahkan mereka sedang mencari identitas akun itu."


" Dapet?"


" Team Lo sok rahasiaan, tapi karena sikap mereka yang terlihat santai, mereka sudah mendapatkannya. 


Moment itu yang mengharukan adalah saat mereka satu persatu berdatangan ke Gata tv dan Branz tv memberi kesaksian perihal kebaikan Lo. Dari sana para netizen yang sok tahu itu pada mingkem."


" Mum, gue pikir Lo cuma baik sama teman Lo, tetapi orang lain pun Lo tolong." Ucap Rizal terenyuh, sebagai orang yang pernah ditolong oleh para sahabatnya itu, dia tahu rasa syukur yang dirasakan oleh mereka.


" Jangan berlebihan, tidak ada yang spesial dari itu." Balasnya sambil membuka pintu mobil.


" Gini ni, orang yang bikin kesal


orang lain mah pada ungkit kebaikan, lha dia, marah kalau dibahas." kelu Rizal tidak suka akan sifat rendah hati sohibnya itu.


" Dia bukan Lo, zal. cepat turun, gue masih banyak kerjaan." protes Ragad.


Mumtaz berjalan perlahan memasuki pekarangan rumahnya sambil matanya menyalami dan terkadang memeluk satu persatu para tetangga, para ibu, ayah, dan sahabat.


Banyak ucapan selamat, dan dukungan yang dia dapatkan yang ternyata mengikis rasa kesepian yang selam ini dia rasakan.


Tak elak rasa haru menyeruak di dalam sanubarinya, ia berucap syukur pada kedua orangtuanya yang membuahkan nilai-nilai humanis dalam dirinya.


Setelah dua jam bercengkrama, mereka membubarkan diri karena mereka harus bersiap untuk selamatan yang diputuskan secara mendadak.


" Pak RT, mohon bantuan semuanya. Soal biaya jangan dikhawatirkan. Asisten saya yang akan menyediakan ya." Ujar Fatio menatap Wisnu untuk segera melakukan apa yang sudah ditulis dalam daftar panjang itu.


" Tuan Fatio tidak perlu repot mengeluarkan biaya, masyarakat akan dengan sukarela patungan secara swasembada kalau itu untuk keluarga ini." Balas pak RT.


" Ini paksaan dari kami, kalian sudah baik menerima kami di sini." Sahut Sri.


" Baiklah, kalau begitu kita bersiap membersihkan lapangan dahulu."


" Padahal kalian tidak perlu melakukan ini." Ucap Mumtaz santun.


" Harus diadakan, kita bikin lawan kamu kebakaran jenggot melihat sukacita kita." Provikatif Hanna.


Sedang dalam suasana haru, tiba-tiba suara cempreng dari Adelia menginterupsi mereka.


"Aa..." Teriaknya dari gendongan Heru yang meronta minta diturunkan walau mereka masih di depan teras.


" Adel,...hup." dengan sigap Mumtaz menangkap Adelia yang melemparkan dirinya pada pelukan Mumtaz.


" Dari mana?, Kok baru kelihatan."


" Balu bangun bobo, nunggu Aa pulang kelamaan, Mama gak bangunin Adel." Rungutnya cemberut.


" Bagaimana kabar Adel?"


" Baik, Aa Ayin juga baik. Celama Aa jalan-jalan Adel jaga Aa Ayin yang tiap halinya cediiihhh mulu." Adu Adelia sesendu mungkin.


" Masa sih? Aa Ayin sedih gak ada Aa?"  bagi Mumtaz meladeni keceriwisan adelai merupakan hiburan tersendiri.


" Iya, Ampe nangis, tapi Adel kan pawangnya Aa Ayin, cuma Adel yang bica hibul Aa Ayin, jadi Aa mumuy lestuin Adel nikah cama Aa Ayin ya, pasti Aa Ayin cenang." Seru Adelia percaya diri.


" Dih, modus banget nih bocah." Cibir Tia, menoyor pelan kening Adelia.


" Tia.." tegur Mumtaz.


" Adduuh, cakit..." Ringis Adelia memegang keningnya sedramatis mungkin.


" Woy, fitnah. Mana ada sakit, pelan juga." Tia mulai sewot.


" Hiks...hiks...Aa mumuy..cakit..." Mimik sok sedih Adelia sungguh memfitnahkan.


" Terroooss..aja drama aku gak restui kamu sama Aa Ayin baru nyaho." Omel Tia.


" Iya udah ih, gak jadi cakitnya, ancemannya gak Acik, huh." Ketus Adelia bersedekap tangan dengan memalingkan wajahnya yang terangkat.


" Kalian ini, tidak bisa apa sehari gak ribut." Omel Eidelweis mengangkat Adelia dari pangkuan Mumtaz. Mumtaz baru menyadari jika Zahra dan Zayin tidak ada di tempat.


" Enggak..." Jawab mereka berbarengan.


" Ish, kalian itu. Bubar, biar Mumtaz-nya istirahat dulu." Seru Hanna.


" Ngomong-ngomong kemana kak Ala dan Zayin?" Tanyanya sedikit heran atas ketiadaan dua saudaranya itu.


" Zahra ada di rumah sakit, sejak papi sadar, dia tidak pernah meninggalkan rumah sakit, gak mau kejadian Sandra terulang kembali. Sedangkan Zayin, entah kemana." Sahut Teddy.


" Ya udah aku mau bersih-bersih dulu, mau ke kak Ala." Mumtaz beranjak ke arah tangga.


" Apa kamu enggak capek buat nanti malam?" Tanya Aznan.


" Enggak, om. Saya gak enak saja belum sawon ke kak Ala sama papi sekalian."


" Bareng kita aja." Bara juga ikut beranjak.



Tok..tok...



" Dek, Aa masuk ya!?"



Ceklek....



" Yin,..."Mumtaz menghampiri Zayin yang ternyata sedanh fokus dengan komputernya, dimana kedua telinganya tertutup earphone.



Mumtaz menggoyang pundak Zayin," Dek.."



Zayin menoleh pada yang mengganggunya, dia terbelalak mendapati kakaknya.



" Welcome home, *big bro*." Seru Zayin sumringah memeluk Kakaknya erat menepuk-nepuk punggungnya.



" Jangan bikin bikin deg-degan lagi, kalau mau bikin pancingan jangan seheboh ini." serunya



" Kenapa gak ke bawah?" tanya Mumtaz.



" lagi dapet instruksi baru. Ada beberapa pengintai di seberang jalan, sementara ini aku sama Aa  gak boleh ketahuan kalau kita keluarga. Mereka  sudah mencium kalau TNI mengetahui keberadaan mereka." 



" Apa ada mata-mata?" Mumtaz melihat peta yang tertampil di monitor komputer.



" Belum tahu, bisa jadi lewat Mulyadi mengingat dia wakil ketua dan bisa mengambil informasi melalui fraksinya yang ada di komisi 1."



Zayin menyerahkan satu amplop berlogo TN1, " tengah malam ini Aa diundang mereka, sebenarnya bersama polr1, tapi yeah..hubungan kalian sedang disorot, jadi hanya TNI yang mengeluarkan ini.


__ADS_1


Aku ditugaskan menjaga Aa, guna mengelabui mereka yang curiga kita punya ikatan darah."



" Siapa mereka?"



" Yang saat ini kau lawan, siapapun itu."



" Tapi kita tahu kamu tidak ada sangkut-pautnya dengan ku."



" Politik, bisa menjadikan tiada, ada. Begitupun sebaliknya."



" Bagaimana dengan Ayu?"



" Mereka kirim team khusus untuknya, tapi aku masih dibebaskan untuk ambil tindakan."



" Sebenarnya persoalan Ayu, kalian bisa santai, mengingat Devi berada dibawah kuasa bang Nathan." Informasi Mumtaz.



" Si Jessica dan Mela masih berupaya mengganggu dia."



" Ya sudah, Aa pergi dulu, berarti kamu ikut ke rumah sakit?



" Iya."



Sesampainya di ruang inap Aryan, meraka dikejutkan dengan Zahra yang sedang membungkuk sempurna menghadap Aryan yang terlihat sangat marah.


Hal itu terlihat dari genggaman tangannya yang berurat di remote.


" Kak.." mereka bergegas masuk ruangan.


Dapat dilihat televisi tengah menyinggung penangkapan Mumtaz.


Alfaska berlari menghampiri ranjang Aryan dengan panik, matanya melirik bergantian pada Zahra dan dua saudaranya yang mematung memperhatikan mereka.


" Papi, ada apa? Kenapa Kak Ala menangis begitu?"


Aryan menatap Alfaska dan yang lain sangat kecewa," kenapa kalian menyembunyikan perihal kematian Mami?" Ucapnya dengan suara tercekat.


" Maaf,...maafkan aku....sungguh aku sudah berusaha yang terbaik yang bisa ku lakukan... hiks." Sesengguk Zahra terdengar menyesakan di hati para adiknya.


" Pi, itu bukan salah Kak Ala..." Parau Alfaska.


Mendengar penuturan Alfaska refleks dua saudara itu menarik Zahra ke punggung mereka menjauhi brankar Aryan, mereka tidak ingin kakaknya dipersalahkan lagi. 


Zayin memeluk Zahra sambil menutup kedua telinganya, dia tidak ingin kakaknya down karena tutur kata yang menuduh.


Mumtaz menghadap Aryan, ia menundukan kepala sebagai permintaan maaf.


" Sebagai petinggi RaHasiYa yang bertanggung jawab atas pemindahan Mami, serahkan semua kesalahan itu padaku, saya siap menerima segala konsekuensinya." Tegas Mumtaz.


Alfaska menggeleng cepat," ti..tidak Pi. Bukan salah kak Ala atau Mumuy, ini salahku yang melarang mereka memberitahu mu tentang mami. 


Aku terlalu mengkhawatirkan kondisimu yang baru selesai operasi, Pi. Aku ..kalau ada yang mau disalahkan, itu aku, Pi...aku." Alfaska memukul-mukul dadanya kencang.


Tak ingin keadaan semakin ricuh, Bara mengelus wajah Papi yang masih menyisakan jejak airmatanya." Pi, lihat aku. Mami tidak benar-benar meninggal, detak jantungnya masih bekerja, di sini, di dalam tubuh Papi." Tunjuk Bara pada dada Aryan.


Aryan terbelalak kaget," a...apa maksudmu?" Kagetnya.


" Tabrakan kemarin membuat jantung anda bermasalah, syukurnya jantung nyonya Sandra cocok dengan anda hingga anda bisa segera melakukan transplantasi jantung." Ucap Farhan memasuki ruangan bersama Hito.


Sementara Farhan menuju brankar Aryan, Hito menarik Zahra kedalam perlindungannya.


Farhan memperlihatkan rekam medis Aryan. " Ini kondisi jantung anda sebelum operasi, sangat membahayakan jika tidak segera ditindak. Alhamdulillah, semuanya teratasi. Metode prof. Zahra yang membuat anda stabil dalam waktu singkat pasca operasi.


" Sejak anda di rumah sakit beliaulah yang memonitor anda langsung, 24/7. Jadi, alih-alih anda marah padanya karena kepergian nyonya, sebaiknya anda sayangi jantung baru anda yang merupakan hadiah terbaik dari istri anda. Nyonya Sandra ada dan menyatu dengan anda dalam setiap detaknya."


Aryan meraba bagian dadanya secara perlahan, menghayati ucapan Farhan.


" Hiks ..hiks... sayang....kenapa??? bukankah kita sudah berjanji akan menua bersama....menebus kesalahan kita pada Afa bersama..." Lirihnya sendu sambil meremas kain bagian dadanya.


" Sayang....apa kau begitu mencintai ku, aku rasakan detak mu yang begitu kencang saat aku terkenang kebersamaan kita." Sendunya yang menyayat kalbu bagi yang mendengarkan.


" Bukan salahmu, kamu sudah melakukan yang terbaik " bisiknya menghibur.


Zahra berlari mendekati Aryan, lalu bersimpuh sempurna.


" Maaf,..atas kelalaianku, aku pantas dihukum, tapi ku mohon jangan salahkan Mumtaz atau siapapun.


Aku akan menyerahkan diriku ke polisi karena malpraktek, ku mohon bebaskan para adikku dari peristiwa ini."


" KAK..." Protes mereka serempak.


" Diam kalian, biarkan aku berperan sebagai kakak. Kalian tuntaskan apa yang sedang kalian rencanakan." Tegas Zahra mendelik pada mereka.


Dengan mata yang lelah, Aryan memperhatikan mereka, jelas telah terjadi cerita yang tidak menyenangkan diantara mereka. Fokusnya kini pada Alfaska yang menatap Mumtaz dan saudaranya dengan tatapan sendu penuh penyesalan, entah apa yang telah terjadi, tapi dia tidak ingin putranya semakin menderita.


Dengan suara lemahnya Aryan menginterupsi ketegangan diantara mereka " Ka..Lian sudahlah..maafkan papi yang sudah menuduh kalian, papi hanya syok semata. Hal ini tidak pernah terlintas akan terjadi, papi hanya butuh waktu untuk menerimanya."


" Untuk Zahra, maafkan papi atas suara kerasnya tadi, dan terima kasih untuk semuanya."


Dalam tundukannya zahra menggeleng cepat mengigit bibir bagian dalamnya.


" Maaf! telah gagal. Hiks." Isaknya.


" Tidak, bukan salah kamu. Ini atas kehendak Tuhan. Kita hanya mampu berusaha." 



Saat ini mereka berkumpul di ruang kerja Mumtaz duduk di sofa, keculai Hito yang sedang makan di meja kerja Mumtaz setelah diusir oleh Farhan agar keluar dari ruang rawat Aryan dengan alasan pasien harus beristirahat.



" Apa yang kakak tahu tentang apa Yaang kami lakukan?" tanya Daniel.



" Tidak lebih kurang dari yang kalian tahu." jawab Zahra tenang.



" Siapa yang kasih tahu?" Alfaska yang menanyakan itu mendapat geplakan di kepalanya dari para sahabatnya.



" Gak ada pertanyaan bermutu lagi apa?" dengkus Ibnu.



" Kayak kamu mau bilang saja tentang apa yang kamu lakukan." cibir Zahra.



so tak pasang mata mereka menatap Hito," Apa? dih kalian pikir saya secepu itu."



" Kalau bab bucin sudah bicara, kenapa enggak." sindir Zayin.



\*\*\*\*



Mulyadi sudah dibebaskan tugaskan sebagai anggota d3wan, dan kini ia sedang berupaya melarikan diri ke luar negeri bersama keluarganya, namun belum bisa dia lakukan. Sampai saat ini kedua putrinya belum diketahui rimbanya.



Ingin dia melapor, tapi enggan, segala tindak tanduknya direspon negatif oleh masyarakat. Bahkan dia dan keluarga besarnya terkurung di rumah masing-masing karena derasnya kritikan terhadapnya dan keluarga.



Tok...tok..



Beberapa polisi berseragam berdiri di depan pintu rumahnya. Mulyadi mencoba tersenyum menerima mereka dengan gestur yang dipaksa tenang.



" Tuan Mulyadi, anda dan istri anda kami tangkap karena terbukti, terlibat prostitusi ilegal, memasok senjata dan melakukan penjualan manusia keluarga negeri." Petugas memberi surat penangkapan terhadapnya.



Wajah Mulyadi menegang seketika, dengan tangan gemetar dia membuka surat itu.


__ADS_1


" Saya terima surat ini, kalian tunggulah di ruang tamu, saya akan memanggil istri saya."



Mengambil langkah besar dan tergesa-gesa Mulyadi menuju kamarnya.



Istrinya, Sintia yang baru keluar dari kamar mandi terkaget melihat Mulyadi sedang memasukan pakaian ke tas besar.



" Sayang, lekaslah berkemas. Di bawah sudah ada polisi, kita harus segera kabur."



Istrinya bergegas mengenakan pakaian dengan terburu-buru. " Kok bisa? Kamu baru dinonaktifkan belum lama."



" Sudahlah, jangan bahas itu dulu, ini politik, tidak ada kawan dan lawan sejati."



" Si4l, kita tidak bisa hancur sendirian, mas." Sintia memasukan semua peralatan skincare-nya kedalam tas besar lalu meresleting tutup tas itu.



" Tentu kita tidak akan hancur sendirian, aku pastikan partai akan mendapat akibatnya karena mengkhianati ku." Mulyadi memasukan serta berkas-berkas pentingnya.



" Ayo, kita lewat belakang menuju basement-nya."



Tangan mereka saling bergenggaman saat bergerak pelan dan hati-hati menuju lift yang langsung berakhir di bagian basement.



Menggunakan mobil hitam berjenis Van keluaran Eropa mereka meninggalkan rumah melalui jalan rahasia yang langsung menuju jalan raya.



Kemunculan mobil dari jalan rahasia itu sudah ditunggu oleh beberapa motor dan mobil Van hitam berlogo R. Pengintai yang sudah mengawasi mereka selama satu bulan ini.



" Tikus bergerak, kami mengikuti di belakang mereka." Lapor Haikal.



Konvoi kendaraan itu tertangkap oleh Berto dari dalam mobilnya yang terparkir di depan rumah mewah saat mobil Eropa itu menjauh dari rumah mewah tersebut.



" Kita gak tangkap dia?" ujar tekannya.



" Gue gak mau berurusan dengan mereka, terserah mereka sajalah." tunjuknya pada titik fokus huruf **R**.



" Ogah, saya tidak melihat apapun ya. say bisa dikeluarkan dari k3polis1an jika ibu say tahu saya berurusan dengan mereka."



Berto terkekh geli mendengarnya." Sumpah, pantesan negeri ini belum bisa maju, pemangku kekuasaannya pada oon semua." Sinisnya kesal.



" Sabar, giliran kita belum lama lagi." Sahut sang partner.



" Kalau saatnya Lo tiba, apa yang akan Lo lakukan?"



" Bantuin pimpinan kita, kasihan kantung matanya udah besar banget." Selorohnya.



Berselang 20 menit, para polisi tersebut keluar dari rumah itu dengan mimik biasa saja.



Mulyadi dan Sintia tertawa terbahak-bahak merasa berhasil mengelabui petugas .


Saking menikmati euforia kabur mereka, hingga mereka tidak memperhatikan arah laju mobil. Mereka hanya mengikuti antrian kendaraan lain yang bersebelahan dengan mereka. yang tanpa mereka sadari mereka telah digiring pada tempat sepi yang tidak mereka ketahui.


" Mas, ini dimana?" Tanya Sintia mengamati keadaan sekitar yang asing dan sepi.


Tenanglah, kita akan segera kembali ke jalan raya mencari motel terdekat." Ujar Mulyadi.


Ckiit.....Mulyadi menginjak rem kendaraan secara mendadak ketika kendaraannya disalip, dan mobil yang di depannya berhenti mendadak.


" Hei, tidak bisa nyetir jangan mengendarai mobil, enyah kau!" Hardiknya di bingkai jendela pintu mobilnya pada sang pengemudi di depan.


" Kau yang akan enyah, Mulyadi." Seru pria bertopeng yang tiba-tiba muncul dari belakangnya sebelum memukul tengkuknya yang membuat Mulyadi tidak sadarkan diri.


" Hei, kau apakan suamiku." Teriak sintia ditengah rasa takutnya.


" Diam, nyonya." Seru bertopeng lainnya, ia membuka pintu, kemudian membius Sintia.


" Mission completed." Ucap Haikal pada Bima di seberang saluran.


*****


Saat mendengar Mulyadi akan ditangkap pada hari ini, Andre sudah menyiapkan beberapa kejutan untuk mantan partner in crime-nya itu.


" Mulyadi, di sini kamu akan mendapatkan pembalasan awal mu karena telah mengkhianati ku." gumamnya.


Ceklek...


Berto melirik para rekan polisi yang menjaga tahanan Andre.


Tanpa bicara para rekan itu mencari kesibukan, menjauh dari sel tersebut.


" Berita bagus apa yang akan kau sampaikan."


" Saya tidak yakin ini berita bagus bagi anda, pak. Mulyadi berhasil melarikan diri, dia kabur saat mereka akan menangkapnya."


" APA? dasar kalian tidak becus kerja, masa gagal menangkap satu tikus saja." bentaknya.


" Jaga ucapan anda, pak. Saya pergi." Berto tetap berjalan keluar ruangan meski Andre berteriak memanggil namanya.


" Rasain, emang enak dicuekin..." Gumam Berto yang mendapat kikikan dari rekan lainnya.


*****


Selamatan diadakan di lapangan terbuka, dihadiri oleh orang yang kebanyakan pemuda dengan acara barbequean.


Berbagai hidangan laut, ayam, daging beserta pelengkapnya.


Semuanya rumah seperti menghadiri festival," Mumtaz.." panggil Bella dengan senyum sumringahnya.


" Hai, Bella. terima kasih sudah sempatkan waktu." basa-basi Mumtaz.


" Dia mati-matian bela Lo lho. Mum." ungkap indah dengan senyum kode pada Bella.


" Terima kasih, padahal gak perlu segitunya. yang lain juga makasih ya atas bantuannya." ucap Mumtaz pad ayang lain yang kebetulan berpapasan dengannya.


" Lia, sayang. sini." Mumtaz menarik Sisilia yang sedang membawa senapan daging.


" Aku sedang bantu-bantu, kak."


" biar dia yang bawa." mutmaz merebut nampan itu, lalu memberikannya pada lelaki yang lewat.


" tolong bawa ini, bro." pintanya.


" Siip.."


" Bel, gabung sama yang lain. Gue mau sapa yang lain dulu."


Saking fokusnya pada kedua tangan yang saling menggenggam, Bella linglung.


" Hah? ii..iya, silakan."


Mata Bella menatap nanar kepergian sejoli itu." Bel, lupakan Mumtaz. dia udah gak bakal notice Lo lagi. jangan sampe nasib Lo akyak si Riana itu." sahut Indah.


" Maunya gue begitu, tapi sampai sekarang belum mampu gue lupakan dia."


" Terserah, Lo." Indah bergabung dengan yang lain.


suasana semakin ramai, apalagi Yuda mengundang BEM kampus lain untuk rapat setelah selamatan ini, yang ternyata membawa serta pasukan mereka masing-masing.


Jadilah malam ini, malam keakraban bagi kalian muda, hanya Adelia si itik yang misuh-misuh memeluk erat leher Zayin sebagai pengakuan kepemilikan atas pria ganteng tersebut.


" Tante, pada pelgi deh. ini calon suami Adel tau." galaknya dengan mata dipocingkan."


" Kan nikahnya masih lama, boleh lah pacaran kakak dulu." seloroh gadis yang sewaktu di BIBA teman sekelas Zayin.


" Dih, Amna boleh. mantan itu akyak pocong, celalu belgentayangan." ketus Adelia.


kintan tawa terbahak-bahak terdengar dari kelompok kelas Zayin.

__ADS_1


" Yin, gue yakin ini karma Lo yang sering nolak cewek dengan alasan cewek itu ribet. sekarang Lo dijaga sama itik yang ribet banget kayaknya." ledek gadis yang lain.


" Ck, kalian juga sih ngeladenin mulu, dia makin jadi lho." kata Zayin para temannya yang sedari tadi menggoda Adelia.


__ADS_2