Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
198. Mateo dijadikan Tumbal...


__ADS_3

" Bang, mereka beneran cuma tidur, bukannya pingsan atau mati?" Tanya Fajar meragu melihat seluruh penumpang tidak sadarkan diri sejak menjemputnya.


Ragad melirik spion ke bangku belakang, dan hanya bisa terkekeh." Kata Mumtaz sih begitu." Jawab Ragad.


Fajar yang duduk di samping Ragad yang mengemudi mobil bergerak gelisah" bang, apa Abang teman baik Aa Mumtaz?"


Ragad terkekeh, pikirannya menerawang ke beberapa tahun silam." Disebut teman baik, saya ragu, tapi kalau bukan juga, sudah banyak cerita yang kita lewati bareng."


" Maksudnya?"


" Dulu, kita pernah berada di posisi berseberangan..."


" Musuhan?" 


" Ya..bisa dibilang begitu, saya ketua geng motor yang dibayar seseorang untuk menculik wanita kesayangan mereka, tapi berujung kalah tanding yang akhirnya kita berteman."


" Dafi banyak cerita tentang tiga sahabatnya,  satu diantaranya kakak dia. Apa iya mereka sesolid itu? maksudku, Dafi pernah cerita dulu dia dibiayain sama Alfa atau Daniel, bahkan banyak ujian pun Aa Mumtaz yang bayarin...jadi..."


" Mereka sudah seperti keluarga, saking dekatnya mereka sudah tidak lagi perhitungan untung rugi. ini kita udah keluar Balaraja barat, terus gimana?"


" Kata Abi tunggu aja di Balaraja plaza, Abang belok kiri, terus masuk ruko..itu...tu..." Tunjuk Fajar ke jajaran ruko.


Ragad membelok masuk ke parkiran ruko, mereka memarkirkan mobilnya di sana sambil menunggu kedatangan Haidar.


" Kenapa kamu nanyain Mumtaz?" Tanya Ragad setelah mematikan mesin mobilnya.


" Hanya penasaran, mengapa mereka tidak pernah mendatangi kami. Abi selalu menangis dan memanggil bibi Aida di setiap shalat malamnya." ucap Fajar lesu.


" Pasti mereka benci kami."


" Mana ada, saya aja yang musuh besarnya dia maafkan apalagi kalian keluarganya."


" Terkadang dikecewakan oleh keluarga lebih menyakitkan hingga...."


" Jangan dulu berasumsi, datangi aja dulu mereka, kalau soal belum pernah datang, mereka bukan termasuk orang nganggur." potong Ragad.


" Mereka orang baik ya?".


" Baik banget. Tidak sulit menyayangi mereka. bahkan beberapa keluarga sahabat mereka sudah menganggap mereka keluarga.


" Keluarga tiga sahabatnya itu?"


" Bukan yang lain, gimana ya ngomongnya____" Ragad menggaruk alisnya karena serba bingung.


" Sahabat yang lain, kayaknya satu sekolah dulu."


Tok..tok ...


Fajar membuka pintu kala Haidar mengetuk kaca jendela pintu bagiannya, begitupun dengan Ragad.


" Assalamualaykum." Haidar memeluk dan menciumi wajah fajar.


" Wa'alaykumsalam, bi.." protes fajar merengek.


" Kamu, itu..ya kalau mau demo bilang dulu. Jantung Abi ampe mau copot lihat kamu di tv, mana jelek banget lagi." Omel Haidar.


" Ck, jangan berlebihan begitu lah, bi. Ini gimana urusannya?"


Tidak merespon pertanyaan anaknya, Haidar malah melihat Ragad yang berdiri berjarak dari mereka.


" Kamu siapa?"


Ragad maju dan menyalami Haidar." Saya Ragad, om. Temannya Mumtaz." Ragad mencium tangan Haidar.


" Ini ceritanya gimana?"


" Saya kurang paham, om. Biar yang lain yang cerita, tapi mereka lagi tidur. Kak Ala memberi mereka obat tidur." Fajar membuka pintu belakang.


" Bagaimana kabar para keponakan ku?"


" Baik, om. Paman Aryan menitip salam buat om."


" Aryan?.. Aryan Argadinata?" Ragad mengangguk.


" Beliau ayah dari Alfaska, sahabatnya Mumtaz sekaligus mertua dari Tia, keponakan om yang sekarang diculik."


" APA?" Haidar begitu terkejut.


Mendapati putranya menelpon dadakan meminta bantuannya atas nama Mumtaz saja Haidar sudah sangat terkejut, ini ia kembali dikejutkan dengan siapa korban penculikannya.


" Terus, gimana bi?" Tanya Fajar seraya mengusap punggung ayahnya guna menenangkannya.


Ia sangat tahu pasti betapa ayahnya selalu menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian bibinya.


" Anak buah Abi lagi cari, mereka mengawasi di setiap pos. Kayaknya ada beberapa tentara juga ikut cari."


"Itu mungkin temannya Zayin." Sahut Ragad.


" Zayin keponakanku?"


" Iya. Dia prajurit aktif, om. Angkatan laut."


" Benarkah? Alhamdulillah para keponakanku tumbuh dan menjadi sukses semua." Sumringah tidak bisa Haidar sembunyikan, ia mengusap dadanya berasa lega.


" Teteh Aida memang wanita kuat, tidak diragukan lagi pengasuhannya pasti menjadikan para anaknya sukses."


" Juga garang, om." sambar Ragad.


" Hahahaha....Kalau begini, saya meninggal sekarang juga ikhlas."


" Abi apa-apaan dah, fajar belum sukses ini." Tegur Fajar tidak suka.


" Kamu tinggal meneruskan pesantren."


" Emoh, bukan itu yang Fajar mau. Ingat, fajar masih konsisten dengan cita-cita fajar."

__ADS_1


" Astagfirullah, cita-cita ngawur aja dipelihara."


" Aish, gak ngawur ya..ini cita-cita tersulit yang pernah ada dimuka bumi ini." Kekeuh Fajar.


"  Jadi fuckboy bertaqwa? Gunanya apa? Kerennya dimana? Itu gak masuk logika orang waras, Fajar. Apa Abi musti meruqyah kamu." Cerocos Haidar gregetan dengan putra satunya ini.


Sedangkan Ragad hanya memperhatikan interaksi keduanya dalam diam, dia merindukan kedua orangtuanya.


" Sambil menunggu laporan anak buah saya, lebih baik kita duduk sambil ngobrol. Saya ingin tahu lebih banyak tentang para ponakan saya."


Haidar menarik Ragad ke sebuah meja kecil segi empat yang dikelilingi lima kursi yang tidak jauh dari sana yang bisanya digunakan tukang parkir untuk ngopi.


Satu jam berselang, Haidar mendapat telpon dari seseorang," halo.."


" Dar, kit sudah menyelamatkan mereka, tapi mereka terluka. mobil yang mereka tumpangi terguling."


Haidar berdiri menegang," bagaimana keadaan mereka?"


" Sedang diperiksa tentara, kita udah panggil ambulance."


" Lo posisi dimana? gue kesana? btw, thanks, bro."


" Gue share loc, Lo ya. jangan sungkan kayak sama siapa saja. gue tutup."


" Kita harus cabut, mereka sudah ditemukan." Ucapnya pada Fajar dan ragad yang langsung mengangguk.


****** 


" Aaa...heks..."


Mumtaz menc3kik kuat leher Mateo tanpa ampun, wajah Mateo sudah pias namun tidak dia pedulikan, kemudian Mateo kembali diseret ke sofa lalu dibanting dengan tubuh setengah terbaring di atas sofa panjang.


Sedangkan yang lain duduk menonton di kursi dan sofa yang masih kosong.


Di samping sofa panjang terdapat meja kecil yang mana ada laptop yang masih menyala yang terhubung pada televisi besar berukuran 60 inc


" Uhuk..uhuk..." Mateo memegang lehernya yang sesak.


" A..ada apa?" Tanyanya bingung, kepalanya sakit dan pening karena antukan ujung anak tangga. Dia yakin kepala belakangnya bocor, dia merogoh bagian belakang dari kepalanya, benar saja, ada darah di telapak tangannya, yang kini darah itu tercetak di sandaran kursi. Tatapannya bertanya pada orang-orang yang ada, khususnya Dominiaz.


" Beritahu aku apa rencana Navarro?"


" Ren...cana..apa?"


BUGh ..


Satu pukvl4n keras di tulang pipinya membuat kepalanya pusing, ujung bibirnya mengelupas berdarah.


" Dia____m3ncvlik kekasih dan adikku." Ucap Mumtaz mengeratkan rahangnya.


Mata Mateo membola besar," memang dia mengatakan ingin memberi kejutan pada petinggi RaHasiYa, tapi saya tidak tahu kalau itu adalah menculik kekasihmu."


" Hehehe, kau asisten kesayangannya tidak mungkin dia tidak berbagi padamu. Katakan, atau kau mati..." Para asisten Rodrigo maupun Alejandro refleks bergerak maju  hendak menolong Mateo, namun dilarang oleh mereka dengan menggelengkan kepala. 


Kemarahan mereka wajar adanya, lantaran mereka merupakan sahabat sedari kecil.


BUGh...


Lagi satu h4j4ran di satu pipinya yang lainnya. " Berpikir sebelum kau berbicara, ingat Dolores dan orang tua mu ditangan ku."


Mateo terhenyak oleh realita itu, dadanya naik kembang kempis, kebimbangan menyelimuti hatinya, dia berada di dua pilihan.


Memilih membongkar demi keselamatan keluarganya, sementara nyawanya melayang di tangan Alfred atau bungkam demi keselamatan hidupnya dengan mengorbankan keluarganya


Mumtaz berjalan pelan mengelilingi sofa, ia mendapati laptop itu menampilkan kamar tidur Navarro. Kemudian dia menarik satu kursi dan duduk dia atasnya di depan laptop, ia mengetik sesuatu di laptop itu, kemudian layar televisi menghadirkan wajah Navarro.


" Mumtaz, kau kah itu?" Ejek Navarro menertawainya sambil matanya memicing seolah sedang menelisik seseorang.


" Kau..tidak mencari kekasihmu? Apakah aku harus menunjukan potongan tangannya agar kau menganggap ku serius." Tampang Alfred kini menyiratkan memerah marah, karena diremehkan.


" Bukankah Mateo kesayanganmu, karena itu kau memberi nama belakangmu padanya?"


" Ya aku menyayanginya, apa dia memberimu informasi?"


Mumtaz menggeleng," tidak, dia sangat loyal padamu, Bahkan setelah aku mengancam keselamatan keluarganya dia masih bungkam."


" Tapi aku bisa membvnvhnya jika kau tidak mengatakan dimana mereka." Pancing Mumtaz.


Ditengah obrolan sengit itu, Ibnu dan dan Samudera keluar dari ruang kerja, mereka berdiri di samping vas bunga diam menyaksikan pertunjukan tersebut.


Dari ekor matanya Zayin yang berdiri di balik tv menangkap keberadaan Ibnu, ia mengumpat dalam hatinya.


" Hahahaha, aku memang sangat menyayanginya, tapi kepedulianku padanya tidak sebesar itu, hingga harus menukarnya dengan kekasihmu. Kau bvnvh saja pengkhianat itu, bahkan aku akan membantumu dengan melenyapkan seluruh keluarganya. Bagaimana, kita bisa bekerjasama?


Ucapan Alfred sungguh mengejutkan Mateo, kedua matanya membulat besar karena terkejut. Suasana di tempat pun menegang seketika


" Tu..tuan..." Lirih Mateo tercekat merasa tersakiti.


" Ooh, come on Mateo. Kamu pikir saya tidak tahu kamu mengkhianati saya dengan Gurman? Kamu yang yang bertanggung jawab atas kegagalan setiap komoditas kita ke negeri ini."


" No,.. tidak...demi Tuhan saya tidak pernah membocorkan transaksi anda pada mereka. Saya akui saya bekerjasama dengan tuan Gurman, tapi tidak dengan bisnis anda. percaya padaku."


" Percaya padamu? Tidak akan pernah."


" Tuaannn.."


" Dominiaz mendapatkan daftar para rekan dan klien bisnisku darimu, saya tahu semuanya, Mateo." Bentak Alfred marah.


" Kau pengkhianat, kau mengkhianatiku setelah aku mengeluarkanmu dari kemsikinan." hardik Alfred penuh kemurkaan.


"Putramu memp3rkos4 lalu menganiaya adikku, itu tidak seberapa dibanding trauma adikku." Balas Mateo.


" Wow, kau telah menunjukan taringmu, Mateo. Kini lihatlah apa yang akan ku lakukan pada adik kecilmu."


Alfred menelpon seseorang, sementara tampilan layar tv berganti dengan gedung rumah sakit jiwa dimana Dolores dirawat. Mateo menggeleng cepat, dengan tubuhnya yang tertetesi darah dari kepalanya, Mateo bersusah payah beranjak, kemudian berlutut di depan tv.

__ADS_1


" Tuan, ampuni aku. Aku yang bersalah, maka hukum saja aku, jangan sakiti adikkuuu..." Mateo tergugu dengan kedua tangan terlipat di depan dada memohon ampunan.


" Hahahaha....aku tidak butuh dirimu..."


Tidak berapa lama, apa yang dicari Alfred tidak dia temukan,  kontan terlihat wajah Alfred gusar. Matanya sesekali melirik pada Mumtaz dan Dominiaz yang tersenyum smirk padanya.


" Mana Dolores-nya Navarro?" Ejek Dominiaz.


Sementara Mateo berganti memandang antara dominiaz dan Alfred dengan raut bingung bercampur cemas.


" KAU..."


" Stop, kami Gaunzaga tidak bekerja setengah-setengah,..."


" Kau...tidak lama lagi akan ku kirim jasad adikmu, GAUNZAGA." Murka Alfred.


Dominiaz mengedikan bahunya masa bodo." Dan ketika itu juga seluruh keluargamu terpanggang. Aku hanya kehilangan satu, tapi kau...seluruh ahli warismu lenyap. Kau tahu betapa tidak warasnya pamanku dalam membalas dendam jika itu menyangkut keluarganya." Ucap Dominiaz santai.


Alfred kini berbalik mematung," dan kau telah kehilangan orang yang yang menyayangimu, tuan. Aku memang membencimu, tapi tidak bisa ku pungkiri aku juga menyayangimu. Aku ingatkan padamu tuan, hanya aku yang bisa mengganti perban ditubuhmu itu."  Tukas Mateo dingin. 


" Hahahaha...itu persoalan sepele...."


Prang...


Sebuah vas bunga menghantam layar tv, mereka terkaget dan berbalik ke belakang, di sana air muka Ibnu tidak terbaca, ia berkeringat matanya menyalang, Mumtaz dan Zayin menatapnya nanar.


Selagi mereka berdrama, melihat wajah dan tawa Navarro, bagai ditarik magnet, Ibnu terhipnotis atas sosok yang di layar. Tatapannya terpaku tajam ke dia, lambat laun dari bawah alam sadarnya tubuhnya memberi respon, makin lama tubuh itu semakin menegang, hingga sekujur tubuh itu gemetar hebat.


Kilasan tawa, bentakan, cacian, dan akhirnya suara pukulan,


Bugh...


Menghentakan tubuhnya kembali ke kenyataan, ia langsung menatap lekat figur Navarro yang sedang terbahak.


Sekelebat cahaya Ibnu meraih vas bunga yang di atas meja kecil disampingnya, kemudian dia lemparkan ke layar itu dengan sangat keras.


PRANG....


KAU PEMBVNVH... KAU..."


Ibnu melangkah, disaat melewati tas stick golf, ia meraihnya satu lalu menerjang televisi dan memukul layar sangat kencang, hingga layar gelap dan retak Ibnu masih terus mengamuk hingga tv terebut rusak parah 


Dilanjut menghampiri Mateo, dan menghujani Mateo dengan pukulan dan tendangan, mateo yang sudah payah hanya bisa menerima serangan tersebut, ia tidak berdaya. Para sahabatnya maju bergerak, mereka tidak bisa melihat Mateo dianiaya sedemikan rupa tanpa perlawanan, namun langkah mereka terhenti oleh Dominiaz, Hito dan Samudera.


" Back off, this ia their problems." Ultimatum Dominiaz tegas.


Mereka menatap Rodrigo dan Alejandro," Mumtaz menguasai keluarganya, kecuali kalian ingin mereka musnah, lawan saja mereka. Gurman tidak akan menjamin keselamatan kalian." Ucap Alejandro.


Perkataan Alejandro itulah yang membuat mereka urung, mereka kembali mundur ke belakang para tuannya.


Diambang antara kesadaran dan tidak, Mateo melihat ibnu melalui matanya yang lebam dengan raut tidak mengerti.


Dada Ibnu naik turun," Muy, meski harus mati, kita musnahkan dia. Tidak ada ampun baginya. Itu perintahku!" Tekan Ibnu mutlak menjauh dari tubuh Mateo.


Mumtaz mengangguk patuh." Perintah dilaksanakan."


" Dan kau... sebaiknya bekerjasama,  kau tidak punya pilihan lain, bukan?" Sindir Ibnu sambil menyeringai devil.


" Di..ma..na..kelu..Arga..ku..?" Mateo rasa dia mengucapkannya sekuat tenaga, namun yang terlontar hanya suaranya yang pelan.


" Tempat dimana Alfred tidak akan menemukannya." Jawab Alejandro datar khas kepala mafia yang sedang membuat perhitungan.


Dengan kesulitan gerakannya terbatas, Mateo menatap Alejandro dengan matanya yang membengkak dan sobek." Tu..an..." Paraunya.


" Jangan berterima kasih padaku, tapi pada Mumtaz. Dia yang menempatkan seluruh keluarga di perkebunan miliknya dibawah kekuasaan Sinolan Jaquino." Ujar Alejandro.


Kini tatapannya tertuju pada Mumtaz yang masih mengutak-atik laptopnya, setelah menekan enter, ia mengangkat kepalanya dari sana membalas perhatian Mateo." Saya sudah berjanji kepada Raul Gonzalez akan menjaga Dolores dan keluarganya, dan saya konsisten, meski say tidak menyukaimu. Tetapi saya akan lebih menghargaimu jika kau bekerjasama denganku."


" Saya bukan manusia yang tidak tahu balas Budi, katakan apa yang kalian butuhkan." ucap Mateo


" Kemana mereka akan membawa kekasihku pergi?"


" Dia punya tempat peristirahatan di daerah Banten, yaitu Lebak, Pandeglang, ujung kulon dan beberapa tempat lain yang semuanya  berpusat di serang..."


" Berpusat,___apa dia sedang merencanakan sesuatu?" Tanya Rodrigo lamat.


" Ledakan gedung di Jakarta, menunjukan Alfred telah menguasai Indonesia..."


" Khehehe..." Kekehan kecil dari Mumtaz mengalihkan atensi semua padanya.


Mumtaz merubah duduknya menghadap mereka. " Menguasai... Dia bahkan tidak memiliki dana untuk melancarkan aksinya. Demo kemarin mengakibatkan membekukan seluruh aset para tersangka yang mayoritas dari mereka adalah rekanan Gonzalez dan Navarro."


" Mereka masih  sempat mengirim..."


" Tidak ke rekening dia,.. biar saya ungkapkan sedikit kehebatan hacker negeri ini, 95% dana yang terkirim  masuk ke rekening Bara Atma Madina. Itu ganjaran buat dia karena sudah menyerang rumah sakitnya. Dia hanya menerima receh saja agar kami tidak dicurigai."


Semuanya terkaget, terkhusus Mateo. Dia tahu persisbberapa banyak saldo dalam rekening Alfred, karena dialah yang mengawasinya. Tidak ada kejanggalan dari  transaksi di rekening itu.


" Jangan begitu terkejut, kalian tanyakan saja pada om Rodrigo, betapa mudahnya menyusup perbankan."


" Semua rencananya ada di komputer saya..."


" Mereka sudah menghapusnya tadi, beruntung kita masih bisa mencomotnya." ucap Samudera.


Zayin keluar dari tempat gelapnya." Guys, bukan bermaksud menganggu, tetapi Sisilia dan yang lain berhasil dibebaskan..."


" Syukurlah ..." Seru semuanya bernafas lega 


" Tapi sayangnya mereka cedera parah..."


Mumtaz dan Dominiaz tanpa menunggu Zayin menyelesaikan ucapannya beranjak keluar ruangan tanpa pamit diikuti yang lain.


Zayin menghela nafas berat, " maaf, para om, paman. Kami permisi dulu." Zayin mencium tangan Rodrigo dan alejandro yang melongo menatapnya.


" Dia tentara?" Tanya Alejandro yang bisa merasakan ket gasan dalam genggaman tangan Zayin.

__ADS_1


" Aktif, dan sama bahaya dengan Mumtaz kalau marah, mungkin lebih." Sahut Rodrigo....


__ADS_2