Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
bab 150. Romli VS Atma Madina.


__ADS_3

Navarro masih setia dengan botol champagne ditangannya, dua hari di Indonesia dilalui dengan kekacauan tidak berkesudahan, setelah gagal mendapatkan keuntungan dari saham Atma Madina, kini dia harus mencari jalan lain untuk mengambil alih repvblik ini.


Dari belakang, Marco mendekatinya." tuan, ada kabar untuk anda?"


" Sebaiknya kabar baik."


" Saya menyesal, seluruh aset baik yang bergerak atau tidak bergerak Anda diseluruh negara federal di Amerika dibekukan."


Bahu Navarro seketika menegang," bagiamana bisa?"


" Entah darimana, tetapi mereka mendapatkan bukti atas penggelapan pajak, dan kejahatan lainnya. Mereka bahkan melibatkan CIA untuk kasus penjualan senjata."


prang....


Ini adalah botol yang kesekian yang menjadi korban kemarahan Navarro.


" Perintahkan mereka untuk menangkap seseorang untuk membalas RaHasiYa."


" Tuan, jangan lakukan itu, nasib anda akan seperti nyonya Gurman yang..."


" Saya tidak sebodoh Guadalupe." bentak Navarro.


" Baik, tuan. saya permisi." setelah memastikan Marco pergi, Navarro menelpon seseorang.


" Hallo, nyonya Atma Madina."


.......


" Santai, saya tidak menipu Anda, mari kita bertemu."


.......


Navarro mengirim alamat tempat mereka akan bertemu.


Kemudian dia menelpon seseorang, " berikan pesan kepada petinggi RaHasiYa..."


Bibir Navarro menyunggingkan senyum smirk selepas memutus sambungan telponnya.


" Let's play, RaHasiYa."


*******


Dewa, dan Dimas sedang berdikusi keputusan Mumtaz atas penawaran Amerika kepada mereka, terkait mereka memberi bukti autentik mengenai kasus Navarro.


Brak...


" Astagfirullah,..." Dewa, dan Dimas menepuk-nepuk dadanya karena kaget atas gebrakan meja oleh Dista begitupun dengan Mumtaz yang terlonjak di kursi kebesarannya.


Saking konsentrasinya, mereka tidak menyadari Dista masuk ke ruang kerja Mumtaz.


Dibelakangnya Sisilia langsung mengitari meja kesamping kekasihnya menaruh bekal sarapan yang dibuat oleh Elena.


" Mana dia?" Dista to the point.


Mumtaz mengambil lembut tangan kiri Sisilia, lalu memainkan jari jemarinya," siapa?"


" Orang yang bikin Atma Madina malu."


" Tanya ke Abang kamu."


" Ishh, langsung bilang aja sih siapa?"


" Itu urusannya Abang kamu, Ita."


" Abang dimana?"


" Di ruang kerja Alfa. Cassy, gak ikut?"


" Katanya mau cari Abang."


" Dan kamu membiarkan sahabat kamu itu sendiri sama Abang kamu?" Mumtaz mengkerutkan keningnya.


" Memang kenapa?"


Mumtaz berdecak malas," Cari dia, sebelum dia diper4w4nin sama Abang kamu."


Dista menepuk jidatnya, ia lupa betapa mesumnya Abang kesayangannya itu.


Dista bergegas lari," aku pergi." Teriaknya.


" Kakak, pasti belum sarapan, makan gih. Ini buatan mommy."


" Ini masih kepagian."


" Ini udah jam delapan."


Mumtaz melihat jam tangannya, " belum, masih setengah..."


" Tetap ada delapannya, tinggal makan susah banget. Kakak, dari jam berapa di sini?"


Sisilia berganti menatap kepada Dewa dan Dimas yang seketika gugup di kursinya karena Mumtaz langsung menatap menusuk kepada mereka.


" Sayang, iya, aku makan. Jangan marah."


Mumtaz mencivmi punggung tangan Sisilia sesekali menggigitnya kecil guna mengalihkan perhatian.


" Bukan marah, aku tuh greget Kakak suka banget kerja sampai makan aja harus diancam dulu."


" Ada apa ini?" Alfaska dan Tia bertautan tangan memasuki ruang kerja Mumtaz.


Diikuti Dista yang menarik paksa Cassandra yang melangkah malas-malasan yang menarik Bara yang cemberut.


Di belakangnya Daniel dan Ibnu menahan tawa yang membuat Mumtaz, Dewa, dan Dimas mengernyit bingung, ketika jelas melihat Bara, mereka kini tahu mengapa.


Dewa dan Dimas pun salah tingkah, sedangkan Mumtaz menggelengkan kepala, menarik tangan Sisilia untuk mengalihkan perhatiannya dari apa yang ada di depannya.


" Apa?"


" Suapin."


" Hah?" Bukan hanya Sisilia, tetapi juga semuanya.


Mumtaz menutup kedua matanya merutuki si mesum Bara, ia yang kena malu.


" Suapin."


" Kok, tumbenan..."


" Suapin, Sisilia." Permintaan tegas itu mau tidak mau menggerakkan Sisilia yang bingung menurutinya.


" Sudah, Abang, mana pelakunya? kalian janji kalau perempuan aku bisa memukulnya." kesal Dista.


" Dia kabur." jawab Bara santai.


" APA? kok bisa? payah banget kalian ini..." petinggi RaHasiYa memasang wajah malas karena kecerewetan Dista.


" Siapa orangnya?"


" Nia, asistennya mami."


" Apa? wanita jelek itu? si4l4n..."


" Sayang, jaga mulutnya." tegur Daniel mendekatinya.


" Dan kalian please jangan romantisan di depan orang." gerutu Alfaska kepada Mumtaz yang masih setia menerima suapan dari Sisilia.


" Apa? Gue gak kayak sepupu 3dan Lo itu ya." Potong Mumtaz sebelum Alfaska lebih mempermalukannya di hadapan Dewa dan Dimas.


Mendengar kekesalan Mumtaz yang tidak biasa, Alfaska membalik badan, untuk sesaat dia memperhatikan penampilan Bara, kemudian Alfaska terbahak-bahak menunjuk Bara diikuti Daniel dan Ibnu.


Ia melempar tissue ke muka Bara," apaan sih gak jelas banget." Bara menepis tissue.


" Ck, hapus lips-tik di bi-bir Lo, kamu juga cass, rapihin dandanan kamu." Ucap frontal Alfaska, Cassandra langsung berlari ke toilet yang berada dalam ruang kerja Mumtaz saat dia melihat wajah kekasihnya.


Setelah selesai membersihkan wajah, Bara melihat Dewa dan Dimas yang tertunduk serba salah.


" Keluar, kalau kalian berani bocor ke yang lain,...awas keluarga kalian." ancamnya dengan mimik serius, menepis malunya.


Dewa dan Dimas langsung mengangguk, kemudian berlalu dari ruangan tersebut.


" Kalian lihat dari tadi?" Tanya Bara, yang diangguki oleh Daniel dan Ibnu.


" Ck, kalian ini."


" Lo aja yang b3go, masih pagi anak orang udah diterkam." cibir Daniel.


" Kan memang tiap pagi, lelaki mah on, Niel."


" Memang?" Celetuk Dista.


Kelima sahabat itu menepuk kening mereka yang melupakan keberadaan tiga bocil tersebut.


" Tanya Tia."


" Kok bawa-Bawa Iya." Protes Tia.


" Kamu pasti tahu kalau setiap pagi Afa..."


" Bara..." Tegur Mumtaz tidak nyaman akan pembahasan mereka.


" Jangan bilang Lo belum pernah?" Selidik Bara tidak percaya kepada Mumtaz.


" Tanya Dista, dia pernah enggak, atau mungkin dia sudah tidak lagi per4wa4n!? Ibnu yang menimpali dengan asal.


Bara langsung menatap Daniel tajam, bola mata Daniel merotasi malas.

__ADS_1


" Boro-boro diper4w4nin dise-ntuh aja hampir kagak, robot lebih menggoda dari pada aku kayaknya." Keluh Dista sengit.


Semuanya tergelak," atau mungkin kak Aniel memang sebenarnya tidak menyukaiku, bertunangan denganku karena terpaksa."


Tawa itu terhenti, Daniel yang sangat tidak menyukai ucapan tunangannya itu, mengeraskan rahangnya, tubuhnya menegang.


" Jadi kamu ingin tahu seberapa cintanya aku sama kamu?" Geramnya, tangan kirinya memeluk pinggang Dista, sementara tangan kanannya memegang tengkuk Dista kemudian melu-mat bi-bir Dista dengan beringas.


Semuanya ternganga, tidak percaya perkataan Dista bisa sangat mempengaruhi sisi emosional Daniel.


Mumtaz yang tidak menyukai hal itu, menutup mata Sisilia dengan kemejanya, kemudian berjalan ke arah Daniel, lalu menarik kerah belakang Daniel menjauh dari Dista tidak memperdulikan rintihan sakit darinya karena gigitan di bibir yang dipaksa terlepas.


Dista yang takut tunangannya diapa-apakan," kak Mumuy...." Ucapannya berhenti saat Mumtaz menoleh padanya dengan tatapan tajam.


" Sayang, aku gak bakal kenapa-kenapa, paling cuma biru doang dikit."


" Kak Bara..." Rengek Dista semakin panik setelah mendengar perkataan Daniel.


" Terima saja, siapa suruh mancing kayak gitu."


" Ayok kita ke rumah mama Aida." Seru Alfaska yang tidak peduli akan nasib sahabatnya.


*******


Di ruang tamu Zayin menghadang mereka dengan tubuhnya yang tegap.


Tidak jauh di belakang mereka, Sherly, Sandra, Aryan, Hanna, dan Teddy berjalan memasuki pekarangan rumah. langkah mereka terhenti saat mendengar ucapan Zayin yang terlontar sinis.


" Wow, wow. Apa ada sesuatu yang aku lewatkan?" Sarkas Zayin.


Tia yang takut akan aura Zayin, melepas genggaman tangan Alfaska yang langsung dicegah oleh sang suami.


Ibnu menarik Dista, sedangkan Bara menarik Cassandra untuk duduk di sofa membiarkan Alfaska menghadapi Zayin secara langsung.


" Aku dengan Tia sudah ruju'."


" Buat apa? Karena nyokap Lo butuh boneka hidup lagi untuk dia permainkan?"


Suasana langsung tegang, para anak RaHasiYa yang sedang membersihkan rumah menghentikan kegiatannya.


" Kali ini aku akan menjaga Tia dari apapun yang merusak dirinya termasuk mami."


" Sampai kapan? Sampai Lo bosan, dan menceraikan dia lagi!" Muak Zayin.


" Itu tidak akan terjadi lagi."


" Apa jaminannya?"


Mereka terdiam, " sepertinya kamu menyalahgunakan kasih sayang keluargaku, sehingga meremehkan kami."


" Aku menyayanginya, aku cinta dia." sanggah Alfaska.


" Kenapa kami harus peduli pada hal itu, kemana cinta kamu sewaktu kamu menjadikannya janda diusia muda." telak Zayin marah.


" Kenapa kami harus berkorban atas perasaan Lo? Bukan kewajiban kami untuk selalu memastikan Lo baik-baik saja, sementara nyokap songong Lo saja tidak peduli."


" ZAYIN,..." tegur keras Mumtaz dari arah tangga.


"APA?"


" Apa ucapan aku salah, setiap dia terluka kita yang harus mengobatinya, setiap nyokapnya berulah, keluarga kita yang menjadi korban. Cukup mama, tidak dengan Tia-ku." sergah Zayin yang membungkam mulut Mumtaz.


" Dengan alasan maminya yang kurang ajar, dia dengan mudah melepas Tia tanpa memperbaiki jiwa Tia yang sudah maminya rusak. Suami macam apa dia." Bulir bening menampak di pelupuk mata Zayin, suaranya bergetar.


Alfaska terduduk bersimpuh di hadapan Zayin dengan menundukan kepala dalam, ia sangat menyesali keegoisannya yang berpikir kalau hanya dia yang terluka akibat ulah ibunya.


Sherly, Sandra, dan Aryan yang berdiri di teras mematung di teras rumah.


" Maaf, demi Tuhan. Aku berjanji itu dia akan terjadi lagi. Maaf! Maafkan aku yang tidak memikirkan perasaan kalian, maaf!"" Lirih Alfaska pilu.


" ALFASKA, BERDIRI!" Suara menggelegar Sandra begitu membahana.


Sandra maju lalu menarik-narik Alfaska untuk berdiri, Alfaska yang terkejut, menipis keras pegangan ibunya.


Semuanya pun terkejut dengan kehadiran Sandra


" Mami, apa yang kau lakukan di sini?"


" Mami tadinya ingin meminta maaf, tetapi melihatmu dihina begini, mami tidak sudi."


" Syukurlah, kami terbebas dari tipu dayamu lagi, nyonya." skeptis Zayin.


Sandra semakin meradang," KAU..."


" Mami, hentikan. Mami hanya membuat semuanya semakin sulit." Tegur Alfaska keras.


" Alfa, dia menghinamu."


" Dia tidak menghinaku, ini hanya pertengkaran antar saudara."


" Tidak ada saudara yang membiarkan kakaknya bersimpuh."


" Tetapi kamu keterlaluan membiarkan kakakmu bersimpuh di depanmu."


" Kenapa tidak, jika memang dia bersalah."


" Mami ini bukan apa-apa dibanding apa yang sudah mereka rasakan kerena aku, kita." Alfaska mencoba bersabar kepada Sandra.


" Alfaska, demi tuhan. Kamu tidak harus melakukan ini kepada mereka, kita tidak punya hutang budi kepada mereka."


" Mami, aku hanya sangat menyesali semua penderitaan mereka karena aku, aku seorang kakak yang tidak bisa menjaga adiknya, aku seorang suami yang gagal menjadi imam karena sudah menyerah pada cobaan pertama kami dalam berumah tangga, dan cobaan itu berupa kamu, mami." Tekan Alfaska tegas.


Sandra terbeliak, tidak menyangka putranya Berani menuduhnya.


" Kamu berani menuduh mami hanya untuk kembali pada istri tidak berguna mu itu?"


Sandra masih kesal karena Tia tidak lagi menuruti dirinya.


" Mami."


" Sandra."


Bara, Alfaska, Aryan, dan Sherly langsung bereaksi akan penghinaan Sandra atas Tia.


" Mami, jangan pernah menghina istriku."


" Kau membantah mami hanya untuk dia? Mereka?" Sandra tidak percaya ini.


" Kalau itu harus, mengapa tidak."


" KAU..." Sandra mengangkat tangan-nya hendak menampar Alfaska yang langsung dicekal oleh Zayin saat tangan itu hampir menyentuh pipi Alfaska.


Alfaska dan yang lain terkaget akan cepat dan beraninya reaksi dari Zayin.


" Jangan berani mengangkat tangan untuk lebih melukai saudaraku." Desis Zayin menegaskan posisi Alfaska bagi mereka.


" Dia bukan inventaris yang bisa kau perlakuan semena-mena. demi Tuhan, dia anakmu, berilah sedikit hati tulus untuk mencintainya." kesal Zayin.


Perkataan itu menghangatkan hati Alfaska dan yang lain.


Tergores egonya, Sandra melepas kasar pegangan Zayin, menatap Zayin geram yang dibalas tajam oleh Zayin.


" Alfa, kamu tinggalkan keluarga ini,  Mami bisa mencarikan wanita yang lebih dari dia untuk kamu jadikan istri." Tunjuk Sandra kepada Tia.


" Siapa? J4l4ng mana lagi yang akan anda sodorkan kepada putramu yang miskin ini. Jangan lupakan kalian sudah bangkrut, dan itu karena anda, nyonya." Ucap Zayin lemes namun tegas.


Sandra terhenyak, dia melupakan fakta itu. Dititik ini Sandra mulai merasakan sesak di dadanya.


" Diam, tidak bisa menjawab. Sekarang anda sadar, Atma Madina bukan lagi nama yang bisa anda sombongkan." kekeh Zayin mencibir.


Merasa kalah dari Zayin, Sandra menyerang Mumtaz.


" Mumtaz, lihat adikmu. Apa ini cara Aida mendidik mereka? Tidak sopan kepada orang tua." Ucapan yang menyiratkan cemoohan di dalamnya.


"MAMI.."


Alfaska, Bara, serta Daniel protes pada Sandra. Mereka tidak ingin Mumtaz turut tersakiti. Mereka sangat paham bagaimana berharganya arti orang tua bagi Romli bersaudara itu.


Tia sudah menangis sesenggukan dalam pelukan Dista dan Sisilia.


" Tante, saya kira kini saatnya saya biarkan saudara saya meluapkan emosinya atas perbuatan Tante, jika Tante tidak berkenan, itu resiko yang harus Tante alami."


Mumtaz melanjutkan ucapannya, saat melihat Sandra ingin bicara.


" Saya kira Tante tahu, selama ini kami diam, bukan takut kepadamu, tetapi itu karena Afa."


" Hingga kemarin, rasa sungkan itu menghilang. Saya menyadari, bagi Tante siapapun tidak ada yang berarti kecuali diri tante dengan segala obsesinya. Jadi maafkan saya jika saya tidak peduli apa yang Tante rasakan atas ucapan yang terkesan kasar dari saudara saya."


Mutmaz menatap langsung iris mata Sandra. " Sebagai kepala keluarga, tugas saya melindungi seluruh anggota keluarga, dan itu termasuk Alfaska, dan Bara. Selain Ibnu, Daniel dan seluruh orang yang menyayangi keluargaku." Tukasnya tegas.


Sandra tersentak akan fakta kuatnya ikatan hubungan antara mereka, dia merasa asing di depan putra kandungnya sendiri.


Tanpa membuang waktu lagi, Sandra pergi dari rumah itu diikuti oleh Aryan meninggalkan mereka yang menghembuskan nafas yang mereka tahan sedari tadi.


" Berdiri, bang. Lo fitnah gue mulu, lebay Lo." Zayin menendang pelan kaki Alfaska.


" Bantuin." rengek Alfaska.


" Ogah, udah tahu cepat encok sok-sokan duduk di lantai."


Zayin menepis tangan Alfaska yang terulur.


" Ayin, kamu merestui kami, kan?" langkah Zayin di undakan tangga terhenti.


Ia menoleh ke Alfaska." Lo udah jebol dia?" Dengan cepat Alfaska mengangguk bangga, sedangkan Tia menunduk malu.

__ADS_1


" Ck, awas Lo jadiin dia janda lagi, jangan sebut gue Ahmad Muzayyin Hasan kalau tidak bisa motong junior Lo tersisa sesenti saja." Perkataan yang diucapkan dengan mimik serius dari sang tentara angkatan laut berhasil menciutkan nyali. 


Alfaska dan pria yang lain sontak menutup Junior mereka, meringis ngilu.


Setelah mengatakan ancaman itu Zayin melanjutkan langkahnya menuju kamar tanpa merasa bersalah.


Mumtaz menepuk-nepuk bahu Alfaska kasihan," masih berminat bersama Tia?" Selorohnya.


" Daripada pisah dari Tia mending punya ipar modelan Ayin, gemes-gemes nakutin." Ucapnya sambil menelan salivanya tidak yakin.


*****


Sementara di mansion utama Hartadraja panik dengan hilangnya nyonya Sri.


Sejak bangun tidur, Fatio tidak menemukan istrinya di kamar, atau dimanapun di are mansion, hingga beliau menelpon satu persatu anak-cucunya mencari keberadaan istri tercintanya itu.


Kini mereka sudah berkumpul di ruang keluarga.


" Coba telpon Edel, siapa tahu nenek kesana?" Usul Damar.


Akbar langsung menelpon bibinya itu, tidak lama dia menggeleng kepala lesu." Tidak ada di sana."


" Rumah sakit, udah?" Kali ini Julia yang bersuara.


" Udah, gak ada juga." Jawab Damian.


" Sri, kamu dimana?" Lirih Fatio sedih yang dikuatkan oleh Adgar dengan menggenggam tangan Fatio erat.


******


Sandra melempar semua benda yang dilewatinya, sejak masuk rumah, mengunci dirinya di dalam kamar tidurnya.


Aryan menungguinya duduk tenang di sofa ruang tengah depan kamar tidur Mereka.


Sandra lupa menyalakan sistem kedap suara di kamar, sehingga suara teriakan dan barang pecah terdengar sampai luar.


Sandra menangis, dalam tangisannya ia berperang bathin antara penyesalan dan egonya.


Derrt...derrt...


" Hallo..."


.....


" Kau, bede3b4h menipuku. kau dan Nia menusukku dari belakang. beraninya kalian mempermainkan ku." amuk Sandra pada Navarro yang menelponnya.


" Kirim alamatnya."


klik...


Sandra bergegas ke kamar mandi setelah memutus sambungan telpon Navarro, ia tidak akan memberi ampun kepada orang yang mempermainkannya.


*****


" Mumtaz,..." panggil Adelia panik memasuki rumah Aida tanpa salam.


Anak RaHasiYa yang sibuk membantu bikin makanan menghentikan kegiatan mereka.


Juan menghampiri Eidelweis," kak, ada apa?"


" Dimana Mumtaz? nenek hilang."


Adelia langsung mengitari seluruh area rumah mencari sosok Mumtaz.


" Ada apa?" Hanna, Sherly, dan Teddy bergabung di ruang tamu.


" Kak Edel..." panggil Mumtaz dari arah belakang rumah beserta para sahabatnya.


Tadi dia diberitahukan oleh Rio kalau dirinya dicari Eidelweis.


" Tolong cari nenek, dia sedari subuh sudah tidak ada di rumah."


" Telpon?" tanya Mumtaz, matanya melirik kepada Ibnu yang lekas berlari ke kamarnya di lantai dua.


" Ditinggalin di rumah, udah dicari ke setiap tempat yang kemungkinan nenek kunjungi, tetapi tidak ada. nenek pergi sendirian saja." ucapnya bingung.


Mumtaz memapah Eidelweis ke kursi yang berada di ruang tamu.


Mumtaz menerima segelas air yang disodorkan oleh Tia." tenang, kita bersama mencarinya. ini, minumlah dulu."


Secepat kilat air dalam gelas itu tandas, Eidelweis mengembuskan nafasnya lega.


Ibnu tergesa-gesa menuruni anak tangga, wajahnya menegang cemas.


Ia membisikan sesuatu kepada Mumtaz, " beritahukan kepada seluruh anak RaHasiYa, kita kesana."


Petinggi RaHasiYa dan asisten di lapangan bubar untuk bersiap.


" Haikal, hubungi Dominiaz untuk melindungi seluruh Hartadraja."


" Ayin, jaga kak Edel dan yang lain di sini." ujar Mumtaz.


" Raja, panggil seluruh pemuda sini agar berjaga di seluruh sudut lingkungan."


Eidelweis memegang tangan Mumtaz yang hendak menaiki tangga," ada apa? apa nenek baik-baik saja?"


" Kita pasti akan menemukan beliau." wajah tenang Mumtaz sedikit memberi ketenangan dalam hati Eidelweis


Mumtaz melirik Zayin, Zayin merangkul pundak Eidelweis menenangkan.


" Edel." panggil Heru sambil menggendong Adelia.


Zayin mengambil alih Adelia yang tangannya terulur saat melihatnya.


Heru memeluk Eidelweis," jangan berlarian kayak tadi, aku ketakutan."


" Maaf, tapi aku panik."


" Om, bisa untuk sementara awasi anak RaHasiYa di sini?"


Mumtaz dan para sahabatnya menuruni tangga dengan seragam lapangan serba hitam.


" Tentu."


" Ayah, bersama Rio dan bunda pergilah ke rumah sakit, Kak Ala menunggu kalian."


Teddy yang paham maksud tersembunyi dari ucapan Mumtaz mengangguk.


" Pergilah, jangan risau kan yang ada di sini. Ayah pasti menjaga mereka."


Mumtaz mengangguk, mereka mencium tangan para orang tua sebelum pergi.


" Maaf, merepotkan kalian."


" Jangan sungkan, kita keluarga." Teddy menepuk-nepuk punggung mereka saat melepas kepergian mereka.


******


Yuda dan Haikal yang mendapat titah untuk pergi ke penthouse Raul oleh Mumtaz menekan bel pintunya.


Hal ini dilakukan karena penelusuran yang dilakuan Ibnu menemukan fakta terakhir perjalanan Sri menuju penthouse ini.


pintu itu dibuka oleh pengawal Alejandro, mereka menggunakan bahas Inggris untuk berkomunikasi.


" Hallo." salam Yuda.


" anda siapa?"


" Saya Yuda, asisten tuan Mumtaz ingin bertemu dengan tuan Gurman."


"Sudah melakukan janji temu?"


" Belum, tetapi ini mendesak. Katakan kami dari RaHasiYa." Yuda menunjuk pin RaHasiYa dari kantong jasnya.


Mendengar kata RaHasiYa, pengawal tersebut mengangguk," mohon ditunggu sebentar."


Pintu tersebut ditutup kembali, sebelum daun pintu tertutup rapat, beberapa robot pengintai berukuran kecil memasuki penthouse, tidak lama pintu itu kembali dibuka.


" Maaf, membuat anda menunggu, tuan Gurman sudah menunggu kalian."


"Tidak mengapa. terima kasih."


Mereka diantar menuju ruang tengah yang mana Alejandro, Rodrigo, dan Raul sudah menunggu mereka.


Mereka berjabat tangan, Gurman mempersilakan mereka untuk duduk.


" Tuan Yuda, ada yang bisa kami bantu?" Alejandro membuka obrolan.


" Saya disini untuk bertanya, apa nyonya besar Hartadraja ada datang kemari?"


" Kami memang telah membuat janji untuk bertemu, tetapi sampai saat ini nyonya besar Hartadraja belum jua tiba." jawab Alejandro santai.


Yuda dan Haikal menegang." apa anda yakin?"


" Tentu, kami di sini menunggu beliau. beliau tidak ada konfirmasi membatalkan pertemuan ini, kami kira beliau hanya sedikit terlambat."


" Maaf, saya permisi untuk melanjutkan informasi anda kepada tuan Mumtaz."


Raul dan Rodrigo mengernyitkan kening kal mendengar Yuda memanggil Mumtaz tuan, mereka tahu dua orang itu bersahabat. sikap profesional yang patut dipuji bagi kaula muda tersebut.


Yuda bergeser ke sudut ruangan," hallo, nyonya besar tidak ada di sini."


" Lantas kemana nyonya Sri pergi." gumam Yuda berjalan kembali bergabung dengan. klan Gurman....


Ayok ramaikan komen dan likenya...ditunggu hadiah dan vote-nya....

__ADS_1


jika berkenan share cerita ini ke teman-teman.


terima kasih masih mengikuti cerita ini....


__ADS_2