Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
bab 42. Permulaan Pergerakan


__ADS_3

Kompleks Surga Duniawi.


Santoso mendatangi kompleks ini dengan raut murka. Langkah lebarnya langsung menuju kamar Adinda.


Selepas Santoso pergi, dan suhu tubuhnya menghilang. bola-bola yang disimpan di dalam bagasi mobil Santoso, dengan bermodalkan suhu panas bola-bola tersebut berubah menjadi burung-burung kecil yang mana badannya adalah kamera pengintai yang dapat berubah posisi sesuai arahan pusat kendali berpusat di gedung RaHasiYa.


Bola-bola itu keluar melalui kaca jendela pengemudi yang tidak tertutup sempurna mereka terbang berpencar mencari posisi strategis dan aman yang ditentukan dengan frekuensi suara, dan sinyal dan sinar cahaya matahari.


****


Rumah Sakit Atma Madina


" Dr. Ziva,... Bisa kita bicara sebentar?" Panggil prof. farhan menghentikan langkah Ziva menuju kantin


Tangan Ziva yang berada dalam saku jas kebesarannya bergerak-gerak gelisah.


" Ada yang bisa saya bantu, prof?" Ziva mencoba berbicara formal guna menjaga jarak,...dan hatinya.


Tiga tahun menghindari prof. Farhan dengan menetap dan belajar di luar negeri, ternyata tidak efektif. Setiap kali melihat sosok satu ini rasa rindu dan sakit masih bersemayam dalam hatinya.


" Tidak, saya,... Apa kamu sudah dengar kabar dr. Zahra? Kapan kira-kira dia kembali?" Sebenarnya bukan ini yang ingin dia tanyakan, tapi melihat gelagat Ziva yang masih enggan menghadapinya membuat dia lupa yang ingin ditanyakannya.


" Saya kira anda yang lebih tahu tentang kegiatan dr. Zahra daripada saya." Sindir Ziva.


" Zahra sudah lama tidak menghubungi saya." Oh ayolah Farhan, alasan yang payah, tentu dia akan  tahu kalau kamu bohong. Bathin prof. Farhan.


Ziva mengangguk, meski dia ragu hal itu. Mengingat kesepakatan antara Zahra dan rumah sakit Atma Madina yang menyatakan bahwa segala penelitian Zahra selama di luar negeri berada di bawah pengawasan prof. Farhan


" Maaf prof, saya tidak tahu. Kalau tidak ada yang ditanyakan lagi, saya permisi." Ziva berbalik badan, dan kembali melangkah ke kantin.


Baru beberapa langkah " Ziva,..." Panggil Farhan


Ziva  berhenti melangkah, namun tetap membelakangi Farhan.


" Maaf, saya mau minta maaf kepada kamu."  Ucap lembut Farhan


Mata Ziva memejam mendengar perkataan itu." Apa kesalahan anda sehingga anda meminta maaf kepada saya?" Tanya Ziva membalikan badan ke arah Farhan


Menatap Farhan dalam, Ziva memberanikan diri melawan kelelahan rasa mencintai, sekaligus membenci profesor pembimbingnya ini.


" Saya menyakiti kamu, tanpa saya bermaksud." Tegas Farhan membalas tatapan Ziva.


" Anda terlalu percaya diri, bagi saya anda hanya dosen saja."


" Buktikan, buktikan kepada saya jika saya hanya dosen kamu. Menghindari dosen sesuatu yang tidak bermoral, Ziva." Provokasi Farhan.


Ziva meradang mendengarnya. Bertahun-tahun Ziva mencintai lelaki ini, bertahun-tahun Ziva menanti lelaki ini, tapi dengan teganya dia menikah dengan wanita lain setelah menolak cintanya.


" Andai keluarga saya punya saham lebih besar daripada Atma Madina di rumah sakit ini, saya pastikan anda menjadi bawahan saya." Geramnya.


Ziva melangkah mendekati Farhan, dan menendang tulang kering Farhan. Setelahnya dia berbalik sambil bersungut-sungut.


Farhan meringis kesakitan sembari memegang kakinya, bukannya marah, Farhan malah tertawa


" Ziva, sekarang saatnya saya mendatangi dan menyerang kamu." Teriak Farhan


Ziva tidak menoleh, langkahnya dia percepat meninggalkan lobby itu.


Adegan itu diperhatikan oleh seorang wanita yang berdiri di pojok koridor bagian bedah dengan geram.


******


Kompleks Surga Duniawi


BRAK!!!


Adinda yang sedang duduk di depan meja riasnya terlonjak mendengar pintu dibuka secara paksa.


Ari Santoso mengunci pintu, dan memasang mode kedap suara. Dia  memasuki kamar Adinda dengan raut murka. melepas jas, dn menggantungnya di sandaran tempat tidur.


Santoso mendekati Adinda, dia melempar photo perselingkuhan Adinda ke atas meja rias


Adinda menghela nafas pelan " mas, mau aku jelasin atau mau langsung marah?"


" Kau berhasil memperdayaku, jalang cilik. Setelah apa yang aku lakukan untukmu."


Adinda terperangah mendengar panggilan kasar itu. Dia memang seorang wanita panggilan, namun tetap saja dia benci kala orang menyebut atribut itu.


" Ooh, jadi sekarang kita akan bermain kasar, oke. Aku jabanin, toh aku sudah bosan denganmu." Tantang Adinda


" Begitu percaya dirinya kau sekarang setelah kau pikir merebut hartaku."


Adinda menaikan alisnya dan tersenyum meremehkan." Untuk Bonus itu aku ucapkan terima kasih, om."


Santoso geram diremehkan orang di depannya ini " kau pikir kau pintar, tetapi tidak. Apa kau sudah baca semua berkas-berkasnya dengan teliti?"


Adinda mengernyit bingung, lantas dia berjalan ke lemari besi yang tersimpan di dalam lemari pakaiannya. Menekan tombol sandi, dan mengambil berkas bernama Santoso


Adinda membaca seksama berkas itu " kau menggertakku, tak ada yang tak beres dalam berkas ini. Apa yang sudah kau berikan, menjadi milikku." Adinda menyodorkan berkas itu.


" Kau harus lebih teliti lagi membacanya, sayang. Di sana jelas tertulis jika kau diketahui berbuat curang sebelum tiga bulan kesepakatan ini dibuat, seluruh pemberian batal demi hukum."


Adinda memeriksa kembali berkas itu, dan dia menemukan klausula itu berbentuk catatan tambahan yang ditulis kecil di bagian bawah isi pokok kesepakatan.


Mata Adinda membulat mendapati hal itu, dia meremas berkas itu erat. Sial, seharusnya aku memeriksa ulang berkas ini.


Santoso tersenyum licik, dia kembali memakai jasnya " terima kasih atas service gratisnya selama enam bulan ini." Lalu pergi dengan memberikan ciuman bibir jarak jauh, meninggalkan Adinda yang meradang marah


Tanpa mereka sadari segala perdebatan, dan drama itu semuanya terekam jelas melalui pulpen yang berada dalam saku jas Santoso. sedangkan bola-bola kecil itu berubah menjadi kamera yang akan menjadi cctv yan telah menyebar di dalam kamar tidur, dan kamar mandi Adinda.


****


Ruang Tunggu Kamar Inap Tia


Ruang tunggu yang sebenarnya cukup luas terasa sempit, karena banyaknya orang berkumpul ditambah kedatangan papi Aryan, Mayang, dan Amanda.


Pintu penghubung antara ruang tunggu dan ruang inap dibuka lebar, karena sebagian orang duduk di sana.


Dihadapan mereka terdapat layar gulung dan proyektor yang disambungkan dengan laptop menampilkan identitas Adinda Aloya dan Samuel Rafael.


" Setelah kalian pelajari hasil pencarian seadanya kami yang sekarang berada ditangan kalian, maka saya harap kalian, para komplotan Tia bergiliran menjaga Tia dari dua orang tersebut."Tatapan Jimmy ditujukan kepada para pemuda, teman-temannya itu.


Di ranjang, Tia yang melihat photo dua profil itu gemetar ketakutan, dia memilin-milin tangan gelisah yang ada di atas pangkuannya.


Radit yang dipilih menjadi konsultan psikisnya yang disetujui terpaksa oleh Jimmy mendekat ke Tia, dan duduk di sampingnya.


Sebelumnya mereka telah melakukan pembicaraan awal dari hati ke hati


" Ya, mereka hanya pecundang yang berkedok pemberani, dan pecundang itu lemah. Kamu orang yang lebih baik, dan lebih kuat tidak ada alasan kamu takut dengan mereka."


Mumtaz yang duduk di samping nya menggenggam tangan itu sambil menatapnya lembut. Tia menoleh membalas tatapan Mumtaz.


" Kita akan lindungi kamu dari mereka."


Jimmy melanjutkan pembahasan " Fokus utama kita sekarang adalah upaya atasi trauma Tia." tegas Jimmy.


" Kalian harus saling tukar jadwal aktifitas kalian, guna bergiliran jaga Tia selama di luar rumah, Jangan biarkan dia sendiri."


Jimmy menghela nafas berat " Setelah berdiskusi dengan Tia, dia memilih menggunakan jasa Radit sebagai konsultan psikisnya." Tutur jengah Jimmy yang mendapat senyuman dari Radit.


" Yang, tolong pikirkan lagi. Ini tentang kamu, kita tahu sendiri Radit milih bidang ini aja dengan niatan gak baik Loh, Yang." Bujuk Jimmy.


" Tolong bapak Jimmy, diminta untuk profesional. Ini bukan tentang Ke-iri-an bapak, tapi penyembuhan hati Tia yang mana dia sudah nyaman memilih saya yang peka terhadap wanita." Ucap percaya diri Radit. Berhasil membuat yang lain terkekeh.


" Udah Jim, jangan bucin. Ingat cemburu hanya milik orang yang tidak percaya diri " celetuk Daniel.


" Dih ngedangdut, selama ini si Dista Deket sama si Ibnu aja hidung Lo kembang kempis." Dumel Jimmy, para temannya mencemooh Daniel yang menekuk wajahnya.


" Jim, itu perempuan kayaknya orang yang lagi gatel sama suami aku deh." Celetuk Edel.

__ADS_1


" Hah, yang benar, kak?!" Kaget Jimmy.


" Iya. Dia dengan tidak malunya Datang ke kantor dengan modus mau ajak kerja sama, cuih. dia pikir Hartadraja kekurangan proyek apa!" Kak Edel mulai emosi.


" Bukan ke saya tepatnya, tapi ke Hito." Jelas om Heru.


" Bagaimana wanita itu bisa kenal Hartadraja? tanya Akbar.


" Dia pendamping Brotosedjo sewaktu meeting di cafe' D'lima. kalau tidak percaya cek aja cctv cafe'." ucap om Heru.


" Kalo ke Hito, kenapa dia DM-nya ke kamu?"


" Karena dia salah kira. Dia pikir aku itu Hito."


" double HAH!!!!" serempak mereka terkejut.


" Setelah tragedi penabrakan itu, Hito tidak pernah lagi muncul di media untuk urusan apapun. Lebih tepatnya saya yang menggantikan dia di depan media. Jadi, dia kira Hito itu saya." Terang om Heru panjang.


" Fix sih ini dia itu oon, Otak sama body gak singkron." Culas Jimmy.


" Saya dapat kabar kalau Rudi Aloya beberapa hari lalu menghubungi Hazam Husein guna kerja sama jasa travel dia dengan hotel Husain." info Daddy Gama.


" Hasilnya?" Tanya Bara.


" Belum ada kabar." 


" Jika menurut kalian ini tidak baik bagi top 5, mungkin kita harus mengadakan rapat antar perusahaan. Bagaimanapun mereka mengincar top 5 dan top 10 pastinya." Usul Dominiaz.


" Sangat ambisius, mengingat Aloya corp bahkan tidak masuk 40 besar di Indonesia." Ujar Bara.


" saya akan mengkoordinir para pengusaha untuk bertemu membahas ini." ujar Aryan


" Lo berasa jadi pengusaha gak sih


" Baik. Untuk mendapatkan hasil terbaik, nanti malam rencananya kami akan melakukan inspeksi lapangan ke surga duniawi. Siapa diantara kalian yang berkenan berpartisipasi dalam inspeksi ini? Tawar Jimmy.


Dalam waktu bersamaan para mahasiswa laki-laki tersebut mengacungkan tangan serempak.


Jimmy mengangguk-anggukan kepala sambil bertepuk tangan. " Terima kasih atas antusiasme kalian." Sindir Jimmy.


" Baik lah diskusi sampai di sini, Terima kasih atas perhatiannya. Yang ikut ke surga duniawi kumpul di gedung RaHasiYa, ya." Ujar Mumtaz, mereka membubarkan diri.


Mumtaz, dan para sohib masih berembuk membicarakan hal-hal tambahan yang harus dilakukan.


" Jimmy,...Alfa,..." Panggil kaku Dominiaz


Jimmy menoleh ke Dominiaz " panggil saya jimmy, kak. Ada apa?"


" Kalau butuh bantuan, meski sedikit bisa hubungi saya."


" Butuh, butuh banget."


Dominiaz tertawa atas sambutan jimmy


" Baiklah, apa yang bisa saya bantu."


" Saya minta beberapa orang terbaik kakak untuk jaga Tia, dan mama di sini. Melihat antusiasnya teman saya ke sana, saya yakin mereka enggan jaga di sini." Keluh Jimmy.


" Baik. Anggap perkara itu sudah beres." Tegas Dominiaz


" Terima kasih atas bantuannya, kak."


" Gak seberapa, Hubungi saya setiap kali kalian butuh bantuan. Jangan sungkan."


"AAAAAA,..." semua orang terlonjak kaget mendengar teriakan menggelegar Mommy Elena


Mommy Elena menunjuk Mumtaz " Kamu,... Kamu orang yang ditaksir Sisilia semenjak dia SMP." Semua orang membelalakan mata menatap Mumtaz yang terlihat biasa saja.


" Gara-gara kamu, Sisilia galau melulu. jangan gantungin anak saya, kalau kamu suka tembak saja dia." Mulut mommy Elena benar-benar bocor.


" MOMMY," Sisilia menjerit kaget


" Benar kan Sil, dia orangnya. Mukanya sama dengan yang di wallpaper hp kamu. Masih kalah ganteng sih dibanding Bara, tapi dia keren banget ya. Mommy suka, Sil." Ceplos mommy.


Wajah Sisilia memerah menahan malu, sedang yang lain menatap Sisilia prihatin, meski mereka menahan tawa


" Tau ah, Lia kan gak punya kartu keluarga. Mommy jangan ngomong sama Sisilia sebelum mereka lupain omongan mommy." Dia berlari keluar ruangan karena sudah tak bisa menahan malu. Mumtaz tersenyum melihat tingkah Sisilia.


Ketika mommy Elena sadar, beliau menutup mulutnya, dan matanya membola. Dia sungguh tak sadar sudah membuka rahasia anaknya.


" Daddy,..." rengek mommy


" Mumtaz, saya harap kamu siapkan diri punya ibu mertua cerewet dan ceplas-ceplos." Kode Daddy menatap tegas Mumtaz.


Mumtaz membalas tatapan itu " siap pak"


" Yeayyy, akhirnya saya mau punya mantu." Girang mommy.


" Kak, kamu kalah sama bocil." Ledek mommy ke Dominiaz yang ditanggapi Dominiaz santai.


Mumtaz menatap pintu keluar dia ingin mencari Sisilia.


******


Kompleks Surga Duniawi


Pukul 23.00 Wib


Segerombolan pemuda dengan berbagai penyamaran memasuki kawasan yang menyajikan sejuta kenikmatan haram yang memabukan dan candu.


Mereka menyebar sesuai breafing, dan instruksi yang di sampaikan melalui earphone yang dipasang di masing-masing personil.


***


Kediaman Aznan Hartadraja


Di sini para lelaki Hartadraja berkumpul atas undangan papa Aznan.


" Hazam Husain menelpon papa kalau Rudi Aloya mengancam akan menghancurkan setiap hotelnya jika tidak mau bekerja sama dengan perusahaannya." ucap papa Aznan


" Heru pikir kita harus bekerja sama dengan yang lain, tadi sewaktu Heru menjenguk Tia mereka mengadakan rapat dadakan perihal anak Rudi Aloya yang meneror secara psikis Tia." Ujar Heru.


" Itu bukan berita baik sama sekali." Ujar kak Damar


" Damian mendapat telpon dari Akbar untuk membatalkan kerja sama dengan Brotosedjo atas arahan informasi dari Jimmy." ucap kak Damian


" benar-benar berita buruk." ujar kak Damar.


" Sebenarnya ada apa? apa ini berkaitan dengan skandal Gonzalez? setahu papa Gonzalez dan Aloya telah menjalin kerja sama dalam waktu yang lama."


" Akbar bilang Jimmy, dan para sohibnya akan menjelaskan nanti."


" Tadi pak Aryan juga menelpon papa akan diadakan pertemuan dengan para pengusaha top 5, dan top 10."


" Heru, kamu minta bentuk tim gabungan penyelidikan atas perusahaan Aloya corp, dan hubungannya dengan Gonzalez." titah papa Aznan


derrt,...derrt,....


Hito mengangkat ponselnya yang bergetar. melihat siapa yang menelpon Hito beranjak pindah ruangan.


"Assalamualaikum." salam Hito


" Wa, alaikumsalam. maaf mengganggu. tapi bisa tidak kamu jemput aku? aku sekarang di bandara Soetta." ucap seseorang di seberang saluran


" Benarkah? bukannya kamu bilang akan pulang dua Minggu lagi!?"


" Seharusnya demikian, tapi Zayin telpon aku supaya jaga Tia. sepertinya Tia sedang ada masalah serius sampai Zayin mendesak aku untuk pulang."


" Baiklah, kamu tunggu, aku langsung berangkat." Hito menutup sambungan

__ADS_1


" Pa, Hito pergi dulu, mau jemput Zahra di bandara." pamit Hito menyalami cium tangan papa.


" To, kamu tahu kan pendapat nenek tentang Zahra?" pap mengingatkan


" Hito tidak berniat untuk melepas Zahra, apapun keadaannya." tegas Hito.


" Kalau kamu yakin, pertahankan. andai dia lelah dan memilih mundur, kamu perjuangkan. jangan seperti yang lalu." peringat papa.


" Tentu. Hito telah menunggu selama ini, tentu Hito tidak akan mensia-siakan Zahra." Hito meninggalkan ruangan.


Kak Damar menghabiskan nafas " Yang bisa kita lakukan hanya mendukungnya." ucap kak Damar, diangguki oleh yang lain.


***


Beberapa jam sebelum turun lapangan


Gedung RaHasiYa.


Para sohib berkumpul di tempat penyediaan alat spionase produk RaHasiYa. alat yang hanya digunakan oleh militer negara-negara maju yang bekerja sama dengan RaHasiYa.


" Perhatikan semua." Daniel membuka suara. mereka serempak fokus perhatian ke layar raksasa di ruang konferensi


" Dua jam yang lalu kami sudah mengirim drone dan robot pengintai, serta meretas database untuk mengetahui Medan target." ucap Daniel


Di layar menampilkan seluruh tata bangunan seluas belasan hektar Surga Duniawi.


" Ini pintu utama hotel, sebelah barat, kalian akan terhubung pada lobby. Sebelah  timur merupakan pintu pintas bagi pelanggan super VVIP dan VVIP menuju surga Duniawi, sedangkan untuk pelanggan VIP melalui pintu sebelah Utara agak jauh dari pintu utama." Info Daniel


" Di setiap pintu dijaga dua orang. Di lokasi kalian akan dibagi empat bagian, Selatan, Jeno dengan Juan. Barat Haikal dengan Rizal. Timur Rio dengan Ubay, dan Utara Adgar dengan Alex.


" gue?" protes Raja


" Lo di sini sama Yuda, amati dari layar." tegas Ibnu.


" Bang,..." rengek Raja


" Raja anaknya pak Rugawa, percaya sama gue. Lo lebih berguna di sini ketimbang lapangan." tukas Mumtaz.


kalau sudah Mumtaz yang bicara, Raja sang Playboy mingkem.


" Kalian masuk dengan penyamaran yang akan di make over oleh MUA profesional, dan alat penjagaan baik untuk defensif, maupun ofensif.


" Mereka memiliki beberapa kategori pelayanan. Keistimewaan VVIP dan VIP, kalian bisa berkelana kemana saja menggunakan jalang mana saja asal dompet kalian mampu. Khusus VVIP akan langsung ditawari wanita Mega bintang yang mereka punya. VIP akan mendapatkan Mega bintang setelah VVIP."


" Dih, dapat bekasan." Celetuk Juan


" Si ege, emang di sana ada yang masih perawan!? Gue pernah kesana sekali, gue pastiin mereka udah pada bolong lebar." Sarkas Rio


" Ada, tapi khusus pemegang kartu anggota super VVIP. Harga minimal 450 juta. Tergantung penampilan dan pelayanan." Ujar Ibnu.


Mereka ternganga diam. " Serius?" Tanya Haikal


" Mereka tidak hanya mengeksploitasi, tetapi juga melakukan perdagangan manusia khususnya remaja dan anak perempuan." tambah Ibnu.


" Busyet, kenapa gue kayak lagi di film Hollywood." seloroh Raja


" Kesimpulannya jika kita berhasil menghancurkan Surga Duniawi, dan bisnis Rudi Aloya. Kemungkinan besar kita memutus rantai perdagangan manusia berskala besar." Tukas Jimmy.


" Kalian memegang kartu VIP, ingat jangan make. Misi kalian di sana adalah meletakan kamera, dan alat peledak." Peringat Daniel meletak beberapa kartu keanggotaan surga duniawi berwarna perak.


" Ck. Mubazir amat. VIP loh ini!" Seloroh Rio. Diangguki yang lain.


" Ya,... Kecuali kalian mau beresiko tertular penyakit kelamin." Tambah Daniel.


" Bara, Jimmy, dan Mumtaz akan memegang kartu super VVIP." Daniel menyodorkan kartu berwarna emas.


" Yo, temen Lo sebagai pengganti mereka bertiga udah ready belum? tanya Daniel merujuk kepada Bara, Jimmy, dan mumtaz. Rio mengangguk sambil mengangkat jempol


" Lo tunggu instruksi dari Bara, Jimmy, atau Mumtaz. Baru Lo bawa ke kamar." Tukas Ibnu


" Bang Mumtaz, Lo yakin bakal turun!? gue bisa gantiin Lo." tawar Raja.


" Yakin."


" ini tempat prostitusi ,loh."


" gue baca ayat kursi, juz 30 atau Al-baqarah sebagai pengalihan." jawab santai Mumtaz, wajah Raja menekuk lebih dalam.


" Di sekeliling kalian ada beberapa alat pelumpuh di tempat, kamera, dan perekam, serta peledak. Masing-masing kalian harus memegang masing-masing satu alat itu." Ucap Mumtaz


" Jam sepuluh kita berangkat, jam sebelas kita beraksi. kalian sekarang persiapkan diri, dan pilih alat yang akan kalian gunakan." Mereka membubarkan diri ke bagian alat-alat


Di bagian penyamaran, telah dipersiapakan segala macam rambut dengan berbagai gaya, dan warna. juga ada kumis, janggut, softlens, tahi lalat palsu, sampai gigi palsu.


Di bagian alat kamera, dan perekam telah disiapkan dengan berbagai bentuk dari berupa pulpen, pin dasi, kaca mata, dan dasi kupu-kupu.


Di bagian alat peledak tersedia berbagai bentuk dari bentuk bundar, lonjong, kotak, segitiga.


Di bagian alt pelumpuh hanya alat setrum yang berguna bikin syok korban yang melakukan penyerangan


" Setelah kalian pilih, kita shalat isya berjama,ah dulu." ujar Mumtaz


****


Rumah sakit Atma Madina


" Ma, apa mereka bakal gak apa-apa masuk ke sana? cemas Tia


" Percaya saja sama mereka, toh ini bukan yang pertama." jawab mama Aida.


" Mbak, maaf ya merepotkan, mbak ikut menemani saya di sini." ucap mama Aida ke mama Sherly.


" Gak apa-apa, ini tidak seberapa dibanding apa yang sudah kalian lakukan kepada Bara, dan Dista selagi saya koma." balas mama Sherly.


***


Gedung RaHasiYa


Ruang monitoring. Ruangan ini biasa digunakan kala melakukan peretasan dan operasi lapangan dengan Medan berskala luas


Jika Medan telah siap biasanya yang melakukan pengamatan dan instruksi adalah Yuda, dan Ibnu. Tetapi kali ini wilayah target masih mentah, cctv yang pihak lawan pasang tidak banyak dan hasilnya buram. Jelas mereka hanya sekelompok orang amatir.


Dalam ruangan ini setiap sudut dinding dipasang layar LED raksasa yang memenuhi dinding tersebut sesuai kebutuhannya. Semuanya berjumlah empat layar.


Yuda, dan Raja mengamati pergerakan mereka lewat layar memalui tangkapan cctv yang mereka sebar.


***


Surga Duniawi.


Mumtaz dan para sahabatnya duduk dalam mobil Van besar berwarna hitam yang terparkir diparkiran paling pojok.


Mereka sibuk dengan alat masing-masing. " Niel, robot Lo siap luncur." Lapor Haikal yang siaga di pintu masuk.


Daniel mengeluarkan robot pengintai berbentuk mobil dan mengontrol pergerakannya


" Jim, Lo yakin mau masuk? Lo udah siap ketemu dengan orang itu?" Tanya Ibnu untuk kesekian kali.


" Sip. Lo hanya pantau gue. Lagian gue masuk juga bareng Mumtaz dan Bara." Mereka tahu tersirat sedikit keraguan dalam ucapan Jimmy.


" Oke. Kalau ada pergerakan yang mencurigakan gue matiin lampunya." Ujar Ibnu.


" Niel, gue pergi." Jimmy memeluk Daniel erat yang dibalas tak kalah erat oleh Daniel. 


" Gue bersama Lo. Sekarang kita mampu ngabisin itu orang." Jimmy mengangguk.


Bara, Jimmy, dan Mumtaz yang telah siap dengan penyamaran mereka ala lelaki cabul berperut gendut.


" Yuk, kita turun." Mumtaz menepuk pundak Jimmy...

__ADS_1


__ADS_2