
BYUR....BYUR....
Dua siraman dari botol air ke wajahnya membangunkan Zahra dari tidur tidak nyenyaknya, lenguhan kesakitan keluar dari tenggorokannya.
" Bangun! Kita pindah." Seru penculik.
" Tolong bisa beri saya selimut, badan saya meriang." Lirihnya penuh memohon sembari meremas perutnya.
Hal itu tertangkap oleh mata Nacho yang memegang obor. Ia meringis tidak tega di dalam hatinya
Dapat Zahra rasakan tubuhnya menggigil, nyeri-nyeri. Kepalanya berat, perutnya kram. Ia tahu tubuhnya dibatas pertahanan berjuang.
" Tidak, kau pasti sedang pura-pura. Kemarin kau baik-baik saja."
" Kemarin saya kehujanan, kalian tidak membiarkan saya berganti pakaian, ditambah saya tidur di tempat lembab, basah, dan dingin begini, dan tadi kau menyiram saya. Wajar kalau sekarang saya sakit." Omel Zahra dengan suara seraknya.
" Tidak ada selimut, ini makan." Nampan berisi kentang tumbuk dengan telur mata sapi dan segelas air.
Dengan menahan sakit diseluruh badan dan kepalanya, Zahra memaksa melahap makanan yang menjadi sarapannya.
" Berikan saya air panas." Suaranya memelan
" Tidak!"
" Berikan bodoh! saya sedang meringankan beban kalian. kecuali kalian mau menandu saya sepanjang jalan." Bentakan yang lebih mirip lirihan bernada tinggi sudah menyedot seluruh tenaga Zahra.
" Pindahkan ikatan tangannya ke depan, berikan apa yang dia minta." Ujar penculik kepada Nacho sebelum meninggalkan ruangan, Zahra tersenyum tipis mendengar hal itu.
Suasana sekitar masih gelap gulita, tetapi Zahra sudah dipaksa melangkah ke truk besar yang mesinnya sudah dinyalakan.
" Naik!!" Titah keras penculik, tubuh lemah Zahra kesusahan bergantungan pada dua tangan kasar Nacho yang memeganginya di atas bak.
Namun sebelum naik, Zahra dengan tangan yang bersembunyi melempar sisir.
" Terima kasih, ini jam berapa?" Lirihnya mengigil, duduk menekuk lututnya karena tubuhnya panas dingin dengan hebat.
" Pukul tiga, Nona." Nacho memyelimuti selimut bersih menutupi tubuh Zahra.
" Ck, seharusnya tahajjud ini, lumayan."
" Nona kembali tidur, saya sembunyikan roti dan sebotol air panas di sini." Dapat Zahra rasakan kehangatan di lengan kirinya berasal dari botol kaca bekas Syrup.
Ia meletakkan botol tersebut diatas perutnya, meminum aspirin yang tersedia beberapa butir lagi di dalam tasnya
" Terima kasih...aku..sungguh-sungguh berterima...kasih.."
" Kembali, nona."
******
Pukul 04.30 wib, Yuda dan Haikal sudah menunggu di dalam Fortuner yang terparkir di gedung RaHasiYa menunggu Nando.
Dari dalam, Yuda dan Haikal melihat Nando tengok kanan-kiri sebelum berlari menghampiri mereka.
" Sorry bang, gue minta kalian ke sini, gue gak bisa ninggalin lama-lama ruang kerja." Nando memberi kamera yang ditentengnya kepada Haikal, meski bicara pada para seniornya, namun penglihatan matanya sesekali tertuju pada ponselnya.
" Gak apa, ini juga sekalian mau ke Gata tv."
Nando memberi mereka sebuah flashdisk, yang diterima oleh Yuda.
" Bang Mumtaz meminta gue mastiin kalian tahu situasi terbaru, semuanya ada di sana.
" Aa..h, sekalian gue mau nitip sesuatu." Nando mengambil sebuah DVD dari dalam tasnya.
" DVD?"
" Yeah, terserah. Mereka masih punya pemutarnya atau enggak, tapi hanya itu yang gue pikirkan untuk mereka."
" Bilang ke pak Gama setelah menontonnya, harap DVD itu dihancurkan."
" Oo..h oke."
" Gue gak bisa lama, gue harus pergi." Nando dengan cepat keluar dari mobil, terus berlari menuju gedung.
" Kayak maling gak sih dia.." celetuk Haikal.
" Bukan urusan kita." Yuda menyalakan mesin mobil, lalu keluar dari area gedung.
Di lobby Nando terkejut bertemu Dewa dan Dimas.
" Baru datang, Lo?" Tanya Dewa.
Menyembunyikan rasa gugup, " iya, bang. Mari gue ke ruangan dulu."
" Udah shalat belum?"
" Ini mau." Nando nyengir lebar.
" Kebiasaan, suka menyepelekan shalat."
" Bukan menyepelekan, cuma sedikit terlambat. Gue pergi, bang."
Nando segera berlari, tak ingin lama-lama mengobrol bersama mereka.
" Aneh gak nih dia, sok sibuk banget." Tutur Dimas menatap kepergian Nando.
" Emang di sini yang gak sibuk siapa?"
" Iya juga sih."
\*\*\*\*\*
Yuda dan Haikal duduk di sofa ruang kerja Gama, di depannya Gama duduk di sofa single
" Maaf, merepotkan Anda, tetapi saya tidak tahu ke siapa lagi meminta bantuan."
" Tidak apa, saya senang kalian menelpon saya, meski kaget ada telpon masuk pukul satu dini hari.
" Sebelumnya ada titipan dari Mumtaz." Yuda melirik ragu pada asisten Gama yang berdiri tak jauh di belakang Gama.
Gama menangkap keraguan tersebut, " tidak mengapa, mereka dapat dipercaya. Mereka anak Gaunzaga juga."
" Baiklah, ini. Pak." Yuda menyerahkan sebuah DVD yang diterima dengan baik oleh Gama.
" Ka, siapkan pemutar DVD." Titahnya kepada sang asisten.
Lima belas menit sudah Gama menonton apa yang ada di dalam DVD tersebut dengan earphone, dalam lima menit itu ekspresi Gama berubah menakutkan, kedua tangannya mengepal keras.
Setelahnya ia menyimpan isi DVD ke dalam komputernya, lalu mematahkan DVD tersebut sesuai arahan.
Seketika Yuda dan Haikal, merasa gusar.
" Eka, panggil pak Harun untuk kemari."
Pak Harun beserta dua bawahannya berdiri di di depan Gama yang sudah duduk Kembali di sofa.
" Pak Harun, apa yang saya minta sudah anda sediakan?"
" Sudah, pak. Ini." Harun menyerahkan dua id card pers.
" Kenalkan mereka Yuda dan Haikal, mereka anak RaHasiYa."
Mereka saling mengangguk.
" Bapak, lihatlah apa yang ada di komputer saya."
" Baik," Harun berjalan ke meja kebesaran Gama.
" dan kalian akan berpartner di mabes nanti, saya pinta kalian melindungi junior kalian."
Dua bawahan tersebut mengangguk." Baik, pak."
" Karyawan Gata tv yang berusia 40 kebawah pada umumnya anak Gaunzaga. Kalau kalian ingin profesi serius, Gata tv terbuka untuk kalian."
" Terima kasih, pak. Saya akan konfirmasi hal tersebut kepada Mumtaz." Ujar Yuda.
" Aa...h, kalian asistennya Mumtaz."
" Hanya saya, Haikal asistennya tuan muda Birawa."
" Jadi kalian sudah punya posisi yang lebih baik heh, daripada menjadi karyawan Gata tv."
" Pekerjaannya terlalu berat, apalagi calon menantu bapak sangat tidak menyukai rapat dengan klien, jadi saya yang harus menggantikannya. Itu yang terberat." Keluh Yuda.
" Begitupun dengan Daniel." timpal Haikal.
Gama terbahak-bahak," hahaha....saya sudah bisa bayangkan, bagaimana dia dengan seenak diri meminta kalian menggantikannya. Dia memang tidak suka ketemu orang banyak ya."
Yuda dan Haikal mengangguk dengan cepat.
" Saya dan mama-nya Sisilia butuh tenaga ekstra untuk mendekatkan diri padanya apalagi pasca kesalahpahaman Tante, meski Mumtaz bilang tak mengapa, tapi tidak dapat dipungkiri dia menahan diri dari kami. Syukurlah sekarang itu sudah terselesaikan."
" Karena kalian akan berangkat dari sini, kalian bisa istirahat dahulu di ruangan Zahra."
" Kak Zahra punya ruangan di sini?" Tanya Yuda.
" Sejak Hito membagi sahamnya dengan Zahra, dia menyediakan sebuah ruangan yang tidak pernah dikunjunginya."
" Kalau istilah kalian, sebucin itu Hito pada Zahra."
" Tapi kami tidak bisa bisa menggunakannya, terasa tidak sopan saja."
Gama mengangguk paham," kalau begitu bawa mereka ke tempat istirahat kalian."
Begitu ruangan tersisa dirinya dan Harun," menurutmu bagaimana dengan isi DVD tersebut?"
" Kita harus bentuk tim untuk memperdalamnya, meski semuanya sudah rapih dan komplit." ujar Harun
__ADS_1
" Panggil para produser yang lain terkait hal ini, dalam waktu 30 menit kita rapat."
" Siap, pak."
*****
Menjelang fajar di mana semua stasiun televisi menyiarkan berita menayangkan penangkapan para politisi itu, tak ayal dari semalam sosmed masyarakat berperang lempar sindiran, hujatan, amarah, cacian, meme. Terkait skandal tersebut.
" Sumpah, ini berita seragam, gue kangen Spongebob jadinya." Gerutu Raja dengan muka bantal duduk lesehan menonton televisi.
" Tahu gak di momen luar biasa kaya gini gue tuh paling demen meme, sama tok-tok emak-emak yang mendadak pinter politik marah-marah." Ucap Radit.
" Kalau udah over keselnya, ujung-ujungnya mencaci mahasiswa yang diem bae karena gak unjuk rasa, padahal ini negara milik kita semua." Timpal Rizal.
" Mending bagi tugas antara mahasiswa dan emak-emak, kalau urusan kaya gini oke mahasiswa yang turun, entar urusan kenaikan harga sembako, BBM minta mereka yang turun daripada kita yang kena omel." Tutur Ubay.
" Nah, pas tuh. Setuju gue!" Timpal Radit.
Tok...tok...
Sambil membawa sebaskom nasi goreng Eidelweis memasuki ruangan tamu, Raja sontak beranjak mengambil alih baskom tersebut.
" Kalian udah jam tujuh belum pada mandi, jorok banget sih. Mandi sana, masa tiap hari mandi aja harus disuruh." Omel Eidelweis yang kesal kepada para penjaga muda ganteng, tapi malas mandi ini.
" Tanggung, kak." Ucap Haikal menunjuk televisi yang menampilkan humas pol-ri bersiap memberikan konferensi pers.
" Kalian ambil kerupuk sama telornya di rumah." Eidelweis menatap para pemuda secara acak sembari bertolak pinggang
Rizal dan Haikal yang mengajukan diri ke rumah Eidelweis.
" Kakak seharusnya gak perlu repot-repot tiap hari bikinin kita makan." Seru Yuda.
" Kakak?"
" Iya, Zayin yang nyuruh kita manggil kakak, dia marah kakak biarin Adel begadang apa malam tahun baru tu." Ucap Raja.
" Ish, dasar baperan. Tapi dia sosweet enggak sih, merhatiin Adel segitunya." Rengek manja Eidelweis.
" Enggak." Celetuk Juan yang mendapat geplakan keras ditangannya dari Eidelweis.
Mata Eidelweis turut menonton berita," mereka keterlaluan sih, itu 50 guys, an*jirlah gedung Sena-yan sepi ini mah." Sarkas Eidelweis mendapat kekehan dari para pemuda.
" Kakak ngikuti kasus ini gak?"
" Sebenarnya males, orang naif aja yang masih percaya pada para politisi, tapi sosmed Tante heboh ngomongin ini."
" Menurut kakak hukuman apa yang setimpal buat mereka?"
" Difakirkan, aku yakin kalau mereka sudah fakir gak bakal ada orang yang aku ngedeketin mereka lagi. Udah ah Tante pulang dulu, kalau aku kembali kalian masih belum mandi, Tante guyur kalian di sini juga." Para pemuda hanya bisa meringis akan ancaman Eidelweis
*****
Kehebohan akan skandal di kota atau tempat yang sudah dialiri listrik berbanding terbalik dengan kesunyian hutan. Di sini para petinggi Gaunzaga dan bawahannya, anak RaHasiYa, dan kopassus, serta Derry dan anak buahnya bahkan tidak tahu sama sekali akan berita itu.
Begitu membuka pintu mobil hawa dingin menyeruak ke diri mereka, mereka mengetatkan jaket dan ikatan scraftnya, wajah Mumtaz dan Zayin langsung muram.
Mata Mumtaz menatap jauh pada hutan yang ada di depannya.
Kedatangan anak RaHasiYa yang ditunggu-tunggu disambut hangat oleh para partnernya di pos mereka.
" Berasa jadi pejabat gue ngeliat kalian berjejerr gini." Seloroh Bara menyalami para sahabatnya ala lelaki.
" Berarti kita kudu cipika-cipiki Duong." Ucap Jeno gemulai.
" Lo sentuh gue, junior Lo dipotong dua senti." Ancam Bara jijik.
" Auw..Atut.." Jeno menggeplak pelan bahu Bara yang langsung di kibas-kibaskan.
" Kelamaan di hutan otaknya ketuker sama monyet." Celetuk Daniel.
" Sialan Lo! Gak ada humor."
" Bodo amat Jen, bodo!! Humor Lo menjijikan!"
Pasca bersalaman dan menyapa, Daniel berjalan ke depan jalan masuk hutan, lalu melepas dua drone besar pengintai berdaya tangkap luas ke tengah hutan.
" Apa gak jadi masalah?" Tanya Jeno memberi secangkir coklat panas pada Daniel.
" Seharusnya enggak, mereka keluaran terbaru RaHasiYa berkemampuan navigasi sendiri kayak mobil jaman now, jadi gak bakal nabraklah!"
" Untuk baterai?"
" Mereka menggunakan energi panas, dan energi listrik untuk menjalankan mesinnya, makanya dia lagi naik daun di Eropa dan Amerika."
" Di sini susah cahaya matahari."
" Ayah ngasih alat semacam panel Surya. Kalau gue terangkan lebih lanjut rambut Lo bisa jabrik, tapi paham kagak." Jeno menendang betis Daniel gregetan.
" Aish, lupa kan! Gue kesini disuruh manggil buat makan."
" Lo duluan, gue nanggung."
" Di kamar mandi aja dikelarinnya."
" Najis Lo, ambigu banget omongan Lo."
Jeno terbahak-bahak mencandai Daniel yang selalu marah jika menjurus hal yang mesum.
Mumtaz membentangkan kertas besar berupa blue print di atas selimut.
" Gak ada makanan ni!?" Ucap Alfaska dari belakang Mumtaz sambil mengelus perutnya memutar.
" Sedang otw." Timpal Jarud.
Para petinggi sontak berkumpul di ruang depan mengamati gambar *blue print* tersebut.
" Habis makan baru kita bahas." Ucap Dominiaz yang diangguki oleh yang lain.
" Tunggu drone gue balik dulu, bang."
" Kalian ada di sini." Tegur Hito yang membawa dua cangkir cokelat panas ke teras pos. Memberikan kepada mereka satu persatu.
" Bagaimana kabar nyonya besar?" Tanya Mumtaz.
" Secara keseluruhan fisik baik, hanya syok saja."
" Siapa yang nungguin?"
" Leo, dan dua nak buahnya."
" Ada apa?" Hito melihat raut sendu di wajah mereka.
" Kak Ala paling gak bisa di hawa dingin begini, perutnya langsung kram, tubuhnya pada nyeri." Ujar Zayin.
Hito tertegun, " kita harus cepat bergerak, cuaca sangat amat tidak bersahabat." Ucapnya datar.
" Ini semua keadaan hutan disekitaran Kalimantan tengah dan timur."
Mumtaz menunjuk gambar kecil tenda." Ini...seperti yang kalian lihat, adalah tempat pemberhentian orang, kita tidak tahu dimana kak Ala, jadi kita datangi setiap tempat tersebut."
" Jangan sampai mereka menjajakan kaki di sana, karena di sana ada proyek ibu kota baru." Seru Arvan.
" Medan di sini tidak mudah kemungkinan mereka masih di Kalteng." Seru Dominiaz.
" Kalau begitu kita bagi tim Setiap tim dipimpin satu orang tentara, dan pemimpin Gaunzaga, serta Zayin, William, Bayu." Seru Arvan.
" Siapa yang akan menjaga perbatasan antar wilayah tersebut? khususnya di wilayah berhutan" Tanya Jeno.
Derry mengangkat tangan." Sebenarnya sewaktu Bara menelpon saya untuk menemani Jeno, saya sudah menginstruksikan anak buah se-kalimantan untuk bersiaga. Mereka sudah siap, tinggal menunggu perintah."
" Sekarang Lo telpon mereka untuk bergerak." Pinta Bara.
" Gak ada sinyal, Bar."
Daniel melempar satu benda mirip burung.
" Aktifkan bluetooth hp Lo, dekatkan ke benda itu, nanti ada sinyal." Ucap Daniel.
Bawahan yang lain mengeluarkan ponsel mereka dari saku masing-masing
" Ini untuk kepentingan pencarian kak Ala ya, bukan untuk nelpon gebetan. Dikira WiFi apa." omel Daniel.
" Iya, paham!" Jawaban lesu secara serempak yang lain, mengembalikan ponsel mereka ke saku masing-masing.
" Terima kasih atas inisiatifnya. Kirim no mereka, Gue akan kirim pesan kepada mereka, kemana aja mereka harus bergerak." Seru Ibnu.
Daniel meletakkan laptop yang ada di pangkuannya kearah semuanya.
" Ini hasil drone, ini adalah jalan yang sudah jadi menuju tempat masing-masing, jadi kita perlu membuang waktu untuk membuka jalan baru, dan juga tertera hambatan yang harus dihindari, Rio akan mengirim denahnya kepada kalian sesuai tujuan masing-masing. Jangan lupakan kompas."
" Dan ini.." Daniel mengeluarkan beberapa panel Surya mini kepada mereka semua, menerangkan cara kerjanya, menekankan tiap delapan jam sekali harus diterbangkan agar tekena sinar matahari sebagai energi.
"Jangkauan?"
" Dua sampai tiga kilo meter."
"Jadi komunikasi bukan lagi halangan?" Tanya Jeno
__ADS_1
" Seharunya sudah teratasi."
" Sekarang bagi tim, setelahnya persiapkan perlengkapan, peralatan tempur, dan perbekalan makan. Kita gak akan keluar dari hutan sebelum menemukan kak Ala." Ucap Bara.
Mereka pun berembuk, dan menyiapkan semua strategi mereka.
\*\*\*\*\*
Mateo membawa kursi roda yang di duduki Guadalupe ke teman samping rumah sakit.
" Mateo, hari ini saya ingin pulang ke Jakarta."
" Nyonya, sebelum anda pulang ada dua kabar untuk anda, yang menggembirakan dan sedih."
" Yang menggembirakan dahulu."
" Tuan Alejandro ada di Jakarta." Mateo melihat tubuh Guadalupe menegang, tangannya memegang pegangan kursi dengan kuat.
" Apa dia tahu apa yang saya lakukan?"
" Kemungkinan besar tahu."
" Yang menyedihkan."
" Tuan Eric menjadi buronan polisi Indonesia dan interpol mulai pagi ini."
Mata Guadalupe membulat besar," apa? Kenapa?"
" Untuk sementara karena nar\*Oba dan penjualan senj-ata ilegal."
" Apa mereka punya buktinya?"
" Polisi menggeledah Mandian tuan Eric, dan menemukan gudang penyimpanan senjata."
" Apa itu karena penculikan ini?" Tersirat ketakutan dari suara Guadalupe.
" Seharusnya nyonya mendengarkan *advice* dari kami untuk tidak menyentuh nyonya Sri Hartadraja."
Guadalupe terdiam sesaat.
" Jika sudah begini yang bisa kita lakukan hanya maju."
" Nyonya, saya yakin tuan Gurman tidak akan menyukai ide nyonya."
" Apa selama ini kamu ke pernah melihat beldia menolak permintaan saya?"
" Tidak, Nyonya."
" Maka untuk kali ini saya juga yakin dia akan memenuhi keinginan saya, saya tahu pasti cara menaklukkannya."
" Sekarang persiapkan kepulangan saya ke Jakarta."
Namun Mateo sengaja mengulur waktu mengajak berbicara Guadalupe terkait perkembangan terakhir kelurganya.
Tanpa sepengetahuan Guadalupe sejak dia keluar dari ruang inapnya, Damian dan anak buahnya melumpuhkan para pengawalnya yang berjumlah sepuluh orang yang dipimpin oleh Armando.
Mereka dibawa ke suatu gudang, dengan bantuan foto mereka dari seseorang, Alex dan Adgar membaut bahan dasar topeng, sekarang mereka sibuk dengan laptop mereka, sementara satu anak RaHasiYa memegang alat pemindai memindai wajah mereka dari seluruh arah.
Kemudian laptop mengeditkanya sehingga bergambar persis sama dengan aslinya.
Laptop itu terhubung langsung pada alat pembuat topeng seluruh wajah dari bahan silikon yang elastis yang jika sudah jadi mereka sebut face off.
\*\*\*\*
Sri melenguh terbangun dari tidurnya, tangan kanannya masih mengepal kuat benda bulat pemberian zahra. Fatio melangkah besar ke brankarnya.
Malam tadi menggunakan dua pesawat pribadi rekan di top 20, Fatio, Damar, Damian dan anak buahnya, beserta Adgar dan anak RaHasiYa menuju rumah sakit yang diberitahukan oleh Hito.
Mereka dijemput oleh Leo di bandara.
" Sayang, apa yang kamu rasakan?" Bisik Fatio di depan telinga Sri.
" Papa,..." Erangnya.
Fatio menekan panggilan, datanglah seorang dokter beserta dua asistennya."
Dokter memeriksa keadaan Sri," dik, bagaimana keadaan istri saya?"
" Secara keseluruhan baik, untuk lebih detilnya mari ke ruangan saya."
Fatio menatap damar dan Sri."
" Kakek, ke ruang dokter. Biar nenek, damar yang jaga."
" Dok,..."
" Tuan, nyonya mengalami trauma ringan, keseleo di kaki, dan lecet-lecet di tubuh, itu tidak berbahaya. Kami konsentrasi pada trauma Nyonya."
" Apa kami bisa membawanya ke Jakarta, kami akan healing di rumah sakit Atma Madina."
" Bisa, saya akan menuliskan rekomendasi dari sini untuk rujukan ke sana."
" Terima kasih, dokter atas perawatannya."
Mereka saling berjabat tangan," itu tugas kami."
******
Di istana sedang diadakan rapat dadakan antar lembaga terkait kekacauan internet dan penangkapan berjamaah para politisi dalam satu kasus.
Presi-den memijat pelipisnya pusing mendengar penjelasan dari peserta rapat." hasil dari laporan yang saya dapatkan ini sudah berlangsung satu periode, bagaimana baru sekarang terungkap" kepercayaan rakyat yang tersisa sedikit akan hilang karena kasus ini."
Subuh tadi presi-den memanggil kap*lri untuk datang ke istana guna menjelaskan apa yang terjadi.
Ergi berbicara," kami menyelidiki lebih lanjut ledakan beberapa saat lalu di empat lokasi di jakarta, dan untuk sementara ini hasilnya."
" Berarti akan ada yang lain?"
" Masih tahap investigasi."
" Anda menangkap mereka tanpa memberitahu saya."
" Saya lakukan untuk menghindari birokrasi yang membuang waktu, dan kaburnya tersangka ke luar negeri." Alibi Ergi
" Pak menteri bagaimana dengan jaringan sosial media kita?"
" Saya sudah konfirmasi ke pihak perusahaan, mereka mengatakan memang sistem mereka sempat terganggu, namun sudah diperbaiki, jadi sistem di Indonesia aman." Ucap sang menteri.
" Lantas kenapa kita masih nonaktif? melihat banyaknya pesan dan video masuk, sepertinya hanya kita yang tidak bisa menggunakan medsos.
" Itu yang sedang B*N, Pol-ri, dan kementrian cari tahu."
" Demi Tuhan...rakyat sedang marah, dan kita tidak bisa mengklarifikasinya. Ini konyol."
" Tanya kepada providernya? Iya kali ada siluman internet, apa providernya harus dirukyah?" Sindir pres-iden.
*****
Seorang pemuda tersenyum kecil mendengar bercandaan sang pre-siden yang terdengar kesal di komputernya.
" Tidak ada jalan untuk kalian selain menggunakan telpon kantor yang sangat mudah disadap."
Dia melirik ke laptop yang ada di depannya melihat daftar panggilan antar po-litisi yang dia sadap...
" Do whatever you wanna do, my eyes are into you all!!"....
yuk dilanjut aktifin komen dan like n votenya, hadiahnya juga ya....
__ADS_1