Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
223. Drama Adelia dan Zayin.


__ADS_3

Flash back on.


Sehari setelah pemecatan Mateo, Matunda terkejut saat mendapat pesan dari Hito, dirinya tidak pernah bersinggungan dengan petinggi Gaunzaga, dia bukan orang bodoh yang bosan hidup memilih berurusan dengan  salah satu organisasi terbesar bawah tanah selevel Gaunzaga yang memiliki tim di hampir setiap negara besar di dunia.


Namanya saja mampu membuat orang gemetar ketakutan, Riina Gaunzaga mafia target interpol yang selalu berhasil lepas dari jeratan  hukum.


Konon katanya Bahkan Gaunzaga pernah mengirim kepala ketua perlemen setempat ke depan pintu gedung parlemen hanya karena mendeklarasikan diri memerangi mafia.


Kini Matunda duduk dengan resah di cafe' d'lima menunggu kedatangan Hito yang ternyata dia datang bersama wanita cantik


berjilbab biru muda dengan gamis biru navy dan berasa sepatu kets warna hitam hitam.


Tentu dia tahu siapa wanita itu, ia salah satu wanita dari dua wanita yaitu Tia yang harus dia lindungi dengan nyawanya.


Saat mereka mendekati mejanya Matunda berdiri tegak menghormati.


" Duduklah, kita bertemu dalam suasana santai." Hito mentik kursi untuk Zahra.


Mata Matunda sulit berpaling dari wanita ayu yang sedang melihat menu, ia tahu dibalik wajah teduh, dan senyum cantiknya tersimpan ketegasan dan pendirian teguh.


" Kak, aku sekalian makan ya, nanti siang ada operasi besar takutnya gak keburu makan." Ucap Zahra.


" Makan saja." Ucap Hito, namun matanya mengawasi gerak gerik Matunda.


Hito menyadari kekaguman Matunda pada tunangannya, dan dia tidak menyukainya. Kemudian ia berdehem untuk memperingati Matunda yang langsung gelagapan.


Setelah memesan makanan Zahra memperkenalkan diri, dan tentu saja Matunda harus bersikap seperti tidak mengenalinya.


" Saya dengar selepas pemecatan Mateo, at least hanya kamu yang mengurus Navarro." Zahra menatap lekat Matunda seakan mempelajari dirinya.


" Iya " Matunda menyeruput kopinya yang mulai mendingin, ia gugup.


Dia tidak menyangka Zahra mengenal Mateo, namun seharusnya susah dia duga orang sekelas dirinya yang sangat berpengaruh bagi petinggi RaHasiYa pasti bisa mendapatkan informasi apapun yang dia mau.


Zahra menyodorkan botol kecil yang berisi cairan bening pada Matunda." Campurkan dua tetes ini ke setiap infusan-nya.


" Ini..."


" Obat halusinasi, logikanya akan mengikuti apa yang dia pikirkan seakan itu nyata. Tapi karena obat ini termasuk dalam kategori drug berdosis tinggi, maka ia akan merusak jaringan sel tubuh, incaran obat itu adalah merusak syaraf dengan cepat.


Matunda tertegun, " Anda dokter, apa tidak beresiko kehilangan pekerjaan."


" Ck, saya dokter bagi yang membutuhkan. Dedikasi saya dalam pengobatan tidak ada yang meragukannya, tapi orang macam dia saya juga tidak ragu untuk mematikannya." Tekan Zahra dengan sorot mata yakin sekaligus mengintimidasi.


Zahra mencondongkan wajahnya pada Matunda yang diam dalam kegugupannya.


" Kalau kau berani mengkhianati para adikku, aku bisa membvnvhmu dengan diagnosa terkonyol sekalipun semisal kau m4ti karena bersin!? jadi Samapi sini saya harap kamu memahami apa yang harus kamu lakukan."


Matunda mengangguk saja, pertama kalinya dia merasa takut salah mengambil sikap.


Flash back off.


Matunda masih memandangi Navarro dengan sorot geli karena mimik wajahnya masih menampilkan kepuasan ia berhasil menguasai negeri besar ini.


 " Itulah mengapa diatur usia pensiun dini, karena otak yang sudah karatan hanya akan menjadi beban orang sekitarnya. hebat kamu bilang tentang dirimu, sekarang kau bahkan tidak tahu tubuhmu hanya seonggok daging dan tulang tidak berguna" Monolog Matunda sambil menggeleng-geleng prihatin pada Navarro yang masih tertawa terbahak-bahak.


*****


Menjelang fajar, seusai shalat malam Mumtaz dan Zayin belum juga menutup matanya meski tubuh sudah meronta ingin diistirahatkan.


Mereka memilih duduk di teras memperhatikan para santri yang mulai memenuhi masjid.


Di depan mereka dua cangkir coklat panas menjadi saksi rencana dua saudara itu menghadapi Navarro.


" Jadi kamu akan ada di sana?" Mumtaz hanya ingin memastikan, Zayin mengangguk-angguk santai.


" ini akan beresiko dengan karir mu."


" itu sudah diatur, mereka hanya ingin dokumetasi kematian dia." Zayin menyeruput coklatnya pelan-pelan.


" Dipikir-pikir, kita ini udah gede, Kenapa minumnya masih coklat?" tanya Zayin sedikit merenung.


" Gak ada yang larang minum kopi sih, cuma habis itu kamu menghadap kak Ala, mau?" Tanya Mumtaz mengandung tantangan.


Zayin menggeleng cepat." No, thank. ceramahnya tentang lambung, dan organ tubuh yang lain sama omelannya pasti ampe seminggu, mending baca buku biologi langsung." Mumtaz terkekeh geli.


Zayin memandangi para santri yang sedang tadarusan sambil menunggu shubuh. " A, kamu masih ingat bagaimana rasanya hidup di sini?"


Mumtaz menggeleng, " aku berumur balita saat mama dan ayah diusir mamang. Seingat ku bibi Fatma, mantan istri mamang selalu meneriaki mama dan memarahi aku dan kak Ala dengan kata-kata kasar." Ucapnya menerawang ke masa lalu.


" Enak ya mereka menikmati hidup dengan santai make duit kita." Sinis Zayin tersenyum miring penyimpan kemarahan.


" Hmm, kalau ingat ke situ Aa pengen banget mukul dia."


" Di mana dia sekarang?"


" Terakhir dengar di serang."


" Kirim saja alamatnya biar Ayin bom sekalian pake rudal Navarro." Rungut Zayin.


Mumtaz terkekeh." Pemikiran itu jangan dipelihara, ambil positifnya. Kita tidak mungkin setangguh ini kalau kita hidup nyaman."


" Ini bukan tentang kita, tapi mama. Mama tidak harus bekerja banting tulang hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup kalau mereka tidak mengambil hak mama. Aku menyesal mama pergi sebelum kita sukses." Zayin menunduk menyembunyikan kesedihannya.


Mumtaz diam, ia pun mempunyai mimpi yang sama dengan adiknya. di sini ia merasa bersalah pada keluarganya, andai dia tidak terlalu ikut campur urusan Alfaska, mungkin mama masih hidup, bangga melihat anak-anaknya mandiri.


" Sedari dulu cita-cita ku ingin membawa mama ke panggung kehidupan yang tertinggi, itulah mengapa aku selalu menjadi yang terbaik dalam kesatuan ku. Aku ingin mereka menyebut mama hebat bisa melahirkan dan membesarkan aku hingga menjadi prajurit yang terbaik." Suaranya tercekat, hal yang jarang di dengar dari sosok Zayin. 


Mumtaz tidak menyela, dia menikmati kebersamaannya dengan Zayin yang curhat, hal yang sudah lama tidak mereka lakukan, karena kesibukan masing-masing.


" Kau tahu, Yin. Satu hal terbaik dalam kematian adalah dimensi tanpa jarak. Aku selalu berpikir mama dan ayah bersamaku, tanpa penghalang ruang, waktu dan masa. Karena mereka menyatu bersamaku di sini." Tunjuknya di dada. suaranya tercekat, rasa rindu akan sosok orang tua kembali menyerangnya.


" Tapi aku kangen mama, kangen ayah. aku selalu iri kalau lihat teman dipeluk orang tuanya saat kelulusan kami. A, gimana ini, aku kangen banget mama. hiks..." pundak Zayin bergetar seiring jatuhnya airmatanya ke atas punggung tangan Mumtaz yang meremas tangannya.


" Maaf, maafkan aku. Aku bersalah." lirih Mumtaz menyayat hati.


Zayin menggeleng," ini takdir, pilihannya menolong tante Sandra. Ya Tuhan, tapi ini masih menyakitkan, ini sangat menyakitkan, A." Zayin menangis dalam pelukan kakaknya, seperti di waktu kecil ketika dia dimarahi ayah atau mama.


Ah, waktu yang katanya mampu menyembuhkan luka dan kehilangan, termaya belum manjur pada keluarganya.


" Bisa jadi jasad itu terkubur dalam timbunan tanah, tapi mereka tetap hidup di hati, kamu paham?" bisik Mumtaz


Zayin mengangguk," tatap saja aku butuh pelukan mama, aku butuh jasad mama yang memeluk ku, menjewer ku, memarahiku. Intinya aku rindu mama. Hiks..."


Untuk beberapa lama mereka berpelukan, mengalirkan sebagian duka satu sama lain. kemudian mereka saling menjauh dengan tatapan ke depan, sedangkan Zayin tertunduk.


" Apa kamu membenci bang Afa? Apa kamu membenciku karena menghadirkan mereka ke dalam keluarga kita?" Mumtaz memandang Zayin dalam.


Zayin mengangkat wajahnya, tatapannya kosong menerawang." Sempat aku membenci mereka, itulah mengapa aku merusak diri Tante Sandra. Aku benci padanya yang menyia-nyiakan hidup dalam kebencian setelah mama mengorbankan dirinya untuk dia."


" Tapi aku sadar, ini bukan tentang Sandra, tapi ini tentang ketentuan Allah bahwa jatah hidup mama telah habis. Berkorban adalah jalan Husnul khatimahnya."


" Ammin..." Ucap mereka serempak.


Tanpa mereka sadari sepanjang mereka bicara di belakang mereka, dibalik pintu ada sosok Aryan mendengarkan semuanya. ia menyesali empat saudara yang menjadi yatim piatu karena kesalahan keluarganya.


Semula ia ingin memanggil keduanya untuk beristirahat, tapi ia urungkan menurutnya kedua saudara itu lebih membutuhkan kebersamaan mereka ketimbang istirahat.


" Zayn, Aida. Aku berjanji akan menyayangi mereka sebagaimana kalian menyayangi anakku, dan memastikan mereka hidup bahagia." Aryan kembali masuk ke dalam rumah.




Jam dinding menunjukkan pukul sebelas siang saat Zayin turun dari lantai dua dengan wajah bantalnya.



" Aaaa...." teriak Adelia berlari meloncat ke dalam dekapannya yang langsung ditangkap Zayin dan membawanya ke dalam gendongannya.



" Aa, Ical juga gendong." Rengek Crystal merentangkan kedua tangannya sambil menghentak-hentakan kakinya.



Zayin pun membawa Crystal bersama dalam satu gendongannya yang lain, mereka berjalan ke ruang makan yang telah tersaji banyak hidangan.



" Ical, sini sama mama, Aa Ayin-nya keberatan gendong kalian sekaligus." Nadya buru-buru menghampiri mereka.



" Gak apa-apa, Tan. Enteng segini mah." Tolak Zayin saat Nadya hendak mengambil Crystal.



" Iya, Tan. Aa Ayin kan tuat, calon cuami atu tuh halus tuat, iya tan. Cal." Ucap Adelia yang diangguki Crystal.



" Heh, baca aja belum bisa sok-sokan calon suami." Omel Zayin.



 "A, jangan malah malah, telima nacib aja kalau Aa jodohnya atu."



Zayin diam, malas meladeni kecerewetan si duo itik ini.



" Ini ada apa, kok masak banyak gini." Zayin menurunkan keduanya di kursi meja makan.



" Udah bangun, Yin." Sapa Julia yang sibuk menata piring.



" Hmm, barusan. Laper soalnya."



" Makan aja duluan. ini tuh masakan gabungan sama masakan mamang kamu yang ngajak makan bareng di sini." terang Eidelweis yang membawa sepiring ayam.



Zayin menyalami mereka yanga ada di ruang makan dan dapur." Tante Julia kok ada di sini, gimana kabarnya Cassy?"



" Baik, disuruh om Damian. di sini lebih aman buat tante, katanya. Jadi om Damian bisa konsentrasi ngurus Cassy."



" Ini aku gak apa-apa makan duluan? Laper banget ini." Zayin duduk di kursi.



" Makan aja, kamu kan jatuhnya sarapan." Seru Dewi yang baru keluar dari dapur membawa semangkok sambal.



Eidelweis memberinya piring, Zayin mengambil nasi dan lauk pauk sangat banyak menurut ukuran mereka.


__ADS_1


" Aa Ayin jangan banyak-banyak nanti gemuk, Adel ndak cuka cuami gemuk ndak kelen." Omel Adelia.



" Kamu ngomong begitu, aku semakin bernafsu makan banyak, Tik." Ledek Zayin yang membuat Adelia cemberut.



" Yin, semalam kamu sama Mumtaz tidur di ruang tv atas ya?" tanya nenek Dewi duduk di seberang Zayin.



" Iya, Bu."



" Maaf ya kamar kalian kami jajah." ucap Eidelweis tak enak hati.



" Santai aja, kak. kayak sama siapa aja, daripada duo itik rewel ini sakit, makin riweh urusan." ucapnya menunjuk Adelia dan Crystal.



" Tuan Fatio sama nyonya Sri kemana, Bu?"



" Mereka, sama om Damar, dan papi Aryan di rumah mamang kamu, mau mengajukan jadi donatur pondok katanya. khususnya beasiswa bagi yang tidak mampu." jawab Dewi tenang menatap Zayin lekat.



" Alhamdulillah."



" Yin,.." panggil Dewi.



" Iya, Bu?"



" Makasih selain lindungi Cassy, kamu juga berteman dengan Adgar."



Ucapan Dewi membuat Zayin menjeda makannya, ia melihat Dewi yang menitikan air mata.



" Ibu, kenapa?"



Dewi menggeleng." hanya terharu, mereka tidak mudah mendapatkan teman yang baik, banyak dari mereka hanya ingin mengambil manfaat dari Hartadraja."



" Iya, juga ya. ditambah perangai Adgar yang nyebelin abis, saya juga dulu kalau bukan Adgar sering traktir makan ogah temanan sama dia."



Julia dan para wanita Hartadraja yang kini berkumpul di ruang makan terkikik.



" Kalau dengan Cassy?" tanya Julia, beliau tidak sakit hati atas ucapan Zayin, karena mereka tahu itu hanya bercanda.



" Karena pipinya yang tembem, asyik aja jadi mainan, dan selalu bawa makanan. apalagi emang."



" Hahaha..." mereka tergelak.



" Gak salah sih, tapi nyelekitin banget alasannya." komentar Julia disela tawanya.



" Assalamualaikum."



" Wa'alaikumsalam." jawab mereka serempak.



Masuklah bocah berusia enam tahun, lelaki kecil yang berparas ke Arab-araban berambut ikal berhidung mancung. Ia menyalami para orang tua, termasuk Zayin.



" Lho ada Aa Ayin?" Ucap Fajri, adik dari fajar dan Farah, sepupu Zayin.



" Hmm, mau ngapain ke sini? Gak sekolah?"



" Aku sakit. Mau ngajak Adel sama Ical main."




" Ya gak apa dong, mereka asik kok diajak main."



" Main apaan?"



" Nikah-nikahan. Del, ayok ini bunganya. Hari ini kita jadi nikahnya." Fajri mengangkat mahkota bunga.



" HAH? NIKAH?" Semuanya terbengong-bengong.



" Jadi kamu selingkuh dari aku, Del. Hebatnya ya masih itik udah pinter mendua. Tadi aja bilangnya aku calon suami kamu, tapi kamu udah mau nikah sama dia." Kata Zayin yang berpura-pura tersakiti.



Adelia beringsutan turun dari kursi." Boong, jangan pelcaya dia. Mana mau Adel nitah cama fajli." Adelia mengedipkan satu matanya pada Fajri memberi kode untuk mengiyakan.



Namun sayang, Fajri seperti lelaki lainnya yang tidak peka, dia tidak menangkap kode itu." Lho gimana sih kamu, kemarin kamu suruh aku bikin mahkota bunga baru kamu mau nikah sama aku, itu kenapa lagi mata kamu main dikedip-kedipin, dasar genit." Sewot Fajri terlanjur kesal.



Semua orang memandangi Adelia yang berpose polos Tia mengerti, Zayin sudah memberinya tatapan menghunus sini yang membuat Adelia gelagapan seperti tercyduk selingkuh.



" Selamat ya mbak Adel atas pernikahannya." sindir Zayin tersenyum miring mengejek sambil mengelap makannya yang sudah selesai.



" Aaaakh... Aa Ayin, maaf, ini cuma belcanda. cint Adel cuma buat Aa ceolang, pelcaya deh." bujuk Adelia menggoyang-goyangkan tangan Zayin.



" Gak percaya tuh. aku sih Alhamdulillah kamu nikah, berarti aku jomblo sekarang. aah...saatnya mencari pacar, masa kalah sama itik." Zayin memanasi Adelia.



Merasa terpojok, akhirnya pertahanan Adelia runtuh, ia mulai meringis hendak menangis, lalu terisak, kemudian menangis beneran.



" Ayaaaahhh...mamaaaa....Aa Ayin Ndak pelcaya Adel. Cumpah mati, A. Cinta Adel cuma buat Aa. Main nitah-nitahan cuma latihan cupaya Adel bisa waktu nitah benelan cama Aa. Pelcaya Adel A....aaakhh.hik...hiks..." pekiknya keras.



" Adel, kenapa nangis?" Heru datang dengan khawatir Daria arah pintu



 " Kecyduk selingkuh tapi gak mau ngaku." Zayin masih mode jahilnya.



Heru mengernyit menatap Adelia yang menggeleng.



" Mulai detik ini jangan lagi bilang kalau aku calon suami kamu. Titik!!" Tekan Zayin yang membuat tangisan Adelia semakin kejer.



Heru menenangkan membawa Adelia duduk dipangkuannya di kursi yang agak menjauh dari Zayin.



" Ini ada apaan ribut amat?" Tanya Alfaska yang menggandeng Tia.



" Lho kalian ada di sini?" Tanya Zayin saat melihat Adgar, Akbar, dan Alfaska yang masuk secara rombongan bersama Zahra, Hito, Sisilia, Mumtaz, dan para orang tua. Mereka memenuhi meja makan yang lumayan panjang itu.



" Kok Fajri ada di sini? Mumtaz membawa Fajri ke atas pangkuannya.



" Aku nyusul Adel, kita mau main nikah-nikahan." Ucapan Fajri sontak disambut gelak tawa.



" Terus Adel-nya kenapa nangis? Kan mau nikah." Ledek Adgar.



Mata Adelia melirik ke Zayin yang cuek saja, " aaaaakh.... Aa, maafin Adel. Adel ndak celingtuh..." Rengek Adelia.



" Hahahhaha...."


__ADS_1


" Nanti pas nikah beneran Adel udah pro ya? Tanya Alfaska yang diangguki Adelia.



" Sekalian latihan malam pertamanya gak?" Adgar masih melanjutkan keusilannya sambil menyuapi Crystal memakan puding.



" Boleh" jawab Adelia polos 



" HEH." Zayin langsung melotot.



Adelia terjengkit kaget atas bentakan Zayin, kemudian dia menggeleng.



" Cumpah Adel gak ngerti apa yang diomongin Aa Adal." dua jari berbentuk V dibuat Adelia.



" Sumpah.. sumpah...emang kamu tahu apa itu sumpah?"



" Cumpah itu...ya...cumpah... gak boong, benelan, celius, seperti cinta aku cama Aa." ungkap Adelia meyakinkan sambil tersenyum malu-malu.



Yang lain terbahak-bahak, sementara Zayin meradang mendengar gombalan itu.



" Astaga naga, demi toge yang sudah lurus. kak Adel, gimana sih ngajarin anak-anakanya?" wajah Zayin memerah menatap Eidelweis.



Eidelweis gelagapan gugup." demi bukan Tante gak ngajarin kayak gitu."



" Terus siapa? om Heru, gak mungkin. Banga Akbar? mustahil. Adgar, ucapnya aja normal, jadi skip. cuma kakak yang bisa ngajarin hal genit gini."



Zayin berdiri, lalu berjalan keluar." aku gak mau tahu, kalau aku ketemu Adel lagi, aku mau dia anak usia lima tahun yang normal. titik!" tekannya.



" Aa Mumuy, aku mau ada omongan sama Aa." kemudian Zayin melanjutkan jalannya.



" Aakh..gimana ini, otoke, Aa Ayin makin malah, ini cuma calah Fajli, aku Ndak cuka Fajli." teriak Adelia kalang kabut. sungguh drama sekali itik satu ini.



" Aku? kenapa?" tanya Fajri bingung.



Dibawah tatapan malas yang lain, Adelia bergerak slow motion berlari ke luar ruangan. sat diambang pintu, ia menoleh ke belakang menatap Fajri yang sedari tadi anteng makan puding karena tidak memahami keadaan cuek-cuek saja.



" Fajli Ndak kejal atu?" sontak semuanya menahan tawa.



" Aku? enggak. capek." jawab Fajri tanpa beban.



" Ya udah, minta maaf aja."



" Buat apa?"



" Kalena kamu udah lucak hubungan atu cama Aa Ayin." bentak Adelia.



" Udah minta maaf aja, daripada kamu gak bisa main lagi." bisik Mumtaz.



" Minta maaf." kata Fajri setengah hati.



" Ndak ikhlas, tapi atu telima penyesalan tamu." Adelia kembali ke pangkuan ayahnya.



" Aa, Kenapa aku menyesal?" bisik Fajri pada Mumtaz.



" Enggak tahu."



Derrt....



Mumtaz membuka pesan yang dikirim Matunda." **Navarro siap bergerak**, **lusa**."



Wajah tegang Mumtaz tertangkap oleh Akbar." Maaf, aku harus menemui Zayin."



\*\*\*\*\*



Mateo berdiri di samping brankar Navarro membalas tatapan sang mantan atasannya yang menatapnya tajam.



Saat pertama kali melihatnya setelah pemecatannya, ia sungguh terkejut dengan kondisi Alfred yang mengkhawatirkan, bibit tubuhnya turn drastis dari terakhir Mateo melihatnya.



" Mateo, kau berhutang banyak padaku, seharusnya saya membvnvhmu setelah kau mengkhianatiku, tapi tidak. karena saya ingin kamu merasa bersalah."



" Maaf, tuan. saya akui saya salah. tapi kesalahan tuan Valentino pada Dolores lebih besar daripada kesalahan saya pada anda." jawab Mateo berani.



Alfred tersenyum miring, meremehkan." sudah berani menjawab kau."



" Maaf."



" Saya memberi kesempatan padamu untuk membayar hutangmu."



" Kau yang harus meluncurkan rudal,rudal itu."



Mateo terbelalak kaget, ia tidak percaya Mantan atasannya berani ngambil sikap yang kontroversial.



Tidak m ada jawab dari Mateo, membuat Alfred naik pitam." Kenapa? tidak bisa?"



" Maaf. saya tidak mampu."



" Kau memang pengecut."



" Tapi saya akan memberi ini pada anda." Mateo menaruh sebuah ponsel di samping ranjang Alfred.



" Ini adalah pemicunya. semuanya sudah terhubung. anda hanya harus menekan angka saja untuk meledakkan senjata anda."



Mateo dapat melihat tangan kurus Alfred yang gemetar karena lemah mengambil ponsel tersebut, memegangi ponsel tersebut hati-hati layaknya barang berharga.



Mateo menatap Matunda yang berdiri di kegelapan pojok ruangan, ia melihat Matunda tanpa merasa bersalah.



Mateo menatap menilai pada Matunda, mencoba memahami isi kepala mantan partner yang terkenal pendiam dan dingin.



" Kau boleh pergi."



" Baik, Terima kasih tuan." Mateo membungkuk hormat sebelum keluar dari ruangan.



Di depan pagar Rodrigo menungguinya bersama Dominiaz yang duduk di atas badan mobil Mercedez Benz-nya.



" Apa yang dia pinta darimu?" tanya Rodrigo to the points.



" Sebaiknya kita ke apartemen saya, tuan."

__ADS_1



Saatnya dia mengatakan semuanya pada keluarga Gurman apa yang sudah Eric lakukan atas nama organisasi mereka Sinolan Jaquino.


__ADS_2