Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
217. Karma Brotosedjo


__ADS_3

Pagi buta Arif mengumpulkan Timothy dan Berto untuk membahas alat bukti yang mereka dapatkan terkait kasus Toni dan ketu4.


" Pak Parmadi mengungkap keterlibatan ketu4, Mulyadi, Andre dan  pak Toni pada kasus kebakaran rumah yang menewaskan seorang suami istri bernama Mahmud dan Handayani sepuluh tahun yang lalu.


" Sedangkan dari pak Toni menerangkan keterlibatan dirinya, Andre, ketu4 dan Mulyadi dengan kejahatan yang melibatkan Gonzalez, Brotosedjo dengan surga duniawi." Ucap Berto.


Penyerahan diri Parmadi sangat mengejutkan Arif, pasalnya sosok ini hampir tidak disebut untuk tindak kriminal sepuluh tahun lalu, yang memang sengaja dirahasiakan oleh ketu4 dan Toni dan juga dirinya.


Di dihadapannya telah ada bertumpuk-tumpuk berkas soal kebakaran rumah yang merenggut nyawa sepasang suami istri yang terjadi sepuluh tahun lalu beserta kejahatan Andre, Mulyadi, Toni, dan ketu4. beserta kejahatan yang melibatkan Surga Duniawi.


Dalam dokumen kebakaran ini dinyatakan kalau mereka bunuh diri dengan membakar rumah karena  


 merasa malu akibat tindak pidana korupsi yang dilakukan korban.


" Parmadi telah mengakui kalau dirinya telah membuat pernyataan palsu, dia juga yang mengatakan korban tidak bersalah.


" Atas intimidasi dan mendapat gratifikasi dari ketu4 dirinya yang saat itu selaku kepala bea-cvk4i membuat laporan palsu bawahannya." lanjut Berto.


" Bagaimana keadaan Parmadi saat ini?"


" Secara umum sehat mental, beliau minta disegarkan persidangan kasusnya,dan akan bersikap kooperatif." Ucap Timothy.


" Soal laporan hilangnya ketu4 oleh keluarganya, sudah kalian tidak lanjuti?"


" Belum ada titik terang. Dari GPS mobil, dan cctv, dapat dipastikan beliau satu-satunya tersangka pembvnvhan istri pak Janu."


" Persoalannya, setelah masuk bandara, tidak ada lagi keterangan keberadaan ketu4, andai dia diculik, pasti ada jejak rekamannya cctv, mengingat cctv di bandara tersebar dimana-mana." ucap Timothy.


" Tapi dirinya hanya terpantau saat masuk pintu bandara, setelahnya keberadaannya tidak ditemukan."


" Bagaimana keterangan sopirnya?"


" Beliau Melihat ketu4 menembak Brian selepas dari pertemuan itu , mengantar ke gedung apartemen pak Janu, selanjutnya mampir ke rumah sebentar, lalu ke bandara.


" Saya yakin pak Agung, dan  pak Janu tidak akan berdiam  diri, ditambah rakyat mendesak kita untuk segera menangkap pak ketu4, mengingat yang ditembak adalah anak dari ketua dewan dan salah satu peserta demo kemarin, dan yang terbu-nuh adalah istri dari wakil ketua." Tukas Berto.


" Kita mendapat desakan dari presi-den untuk segera mengusut tuntas kasus ini, mau tidak mau kita harus membuka kembali kasus sepuluh tahun lalu." Kata Arif gusar.


 " Ada hal yang mengganjal terkait pak Mahmud, seluruh identitas beliau amsuk dalam kategori warga VVIP, hingga kita harus mendapat izin presiden untuk membuka informasi perihal beliau."


Arif memberikan satu berkas yang berisi riwayat hidup Mahmud." Saya sudah mendapatkannya."


Timothy dan Berto membaca dan mempelajarinya lalu mensingkronikan dengan keterangan Parmadi, dan Toni.


" Heran, di sini diterangkan jika korban  Mahmud tidak memiliki anak, tetapi keterangan pak Parmadi dan pak Toni menyatakan, jika mereka sedang ditugaskan mencari anak dari beliau yang bernama Ibnu Faris Mahmud." Timothy memberi berkas yang dia dapatkan dari ruang kerja Toni pada Arif.


" Dan di kartu keluarga yang diambil dari ruang kerja pak Toni dinyatakan jika korban Mahmud dan Ibu Handayani memiliki dua putra, yaitu Ibnu Faris Mahmud, dan Khadafi Fardhan Mahmud."


Suasana menegang, mereka saling pandang, mereka bingung, pasalnya dua keterangan itu asli adanya.


" Berto, apa yang kamu tahu tentang mereka?" Tanya Arif.


" Saat itu saya baru pindah, jadi kami belum kenal dekat dengan warga." Alibi Berto meyakinkan, dia enggan memberitahu apa yang dia tahu.


Arif mengamati raut Berto yang terlihat biasa saja," bagaimana dengan identitas Mumtaz, sahabatnya?"


" Identitas petinggi RaHasiYa termasuk pada super VVIP, itu setara dengan kerahasiaan identitas kepala negara. Hal ini dapat dimaklumi mengingat mereka adalah rekan penting negara.


" Pak Ergi pernah mendapat izin dari presid3n untuk membuka data kependudukannya, tetapi langsung diketahui pihak RaHasiYa, dan kami mendapat ultimatum dari mereka, demi kestabilan nasional, kami mengurungkan upaya tersebut." Terang Timothy.


Mereka stuck, belum ada jawaban. Mengingat masih buronnya Mulyadi, Andre, dan ketu4.


" Baiklah, kita abaikan tentang Mumtaz, kita harus fokus menemukan ketua, Andre, dan Mulyadi. Bahkan polisi sampai sekarang belum menemukan buronan Gonzalez, dan Brotosedjo. Memprihatinkan." Ucap Arif.


" Pak, pak presiden meminta bertemu dengan anda." Seru Timothy, Arif mengangguk.


" Saya akan menghubungi beliau, kerja kalian bagus, kalian istirahat lah dulu. Terima kasih atas kerja kerasnya." Rapat dibubarkan dengan sejuta misteri lainnya.


Arif kembali membuka dokumen kasus sepuluh tahun lalu, dan mempelajari keterangan para saksi.


Panglim4 meneleponnya ke ponsel pribadinya langsung." Kita harus segera bertemu, negara dalam keadaan bahaya."


" Baik, dimana?"


" Markas AL."


"Kirim akan waktu temunya."


klik...


Telpon dari panglim4 menambah tekanan Instansinya.


Di luar markas, di atas motornya yang dipinggirkan di sisi jalan, Berto menelpon Mumtaz minta bertemu.


*******


" Nu, Kasih gue alasan kenapa Maura?" Bara menatap ibnu minta pengertian, sedangkan Ibnu membalasnya dengan tatapan apatis.


" Lo pikir Afa dan Daniel tahu alasan apa untuk hal yang gue lakukan  hari ini? Mereka gak tahu, Bara. Tapi mereka berdiri mendukung gue, karena gue."


" Apa Mumtaz pernah meminta alasan setiap kali dia membantu lo tawuran? Enggak, kemungkinan dibalik tawuran itu ada alasan konyol dia tida peduli, tapi apapun itu Mumuy menekankan dia selalu ada sama Lo.


" Apa Lo pikir Mumuy gak sakit hati saat Afa mentalak Tia adik kandungnya sendiri, tapi Lo tahu persis Mumuy tidak pernah menjauh dari Afa."


Alfaska menatap menyesal pada Mumtaz yang tersenyum menenangkan padanya.


" Apa pernah Mumuy dan keluarga menjauh dari kalian Atma Madina padahal mereka harus mengorbankan Mama Aida karena keegoisan Tante Sandra?


" Sekarang Lo tanya alasan, hanya karena gue mau menyentuh Maura, sedangkan beberapa detik lalu mulut besar Lo bicara kalau kita keluarga. Tidak cukupkah file yang Lo baca dari Mumuy dan kenyataan dia anak Bram Brotosedjo sebagai alasan untuk Lo bertindak sebagai saudara gue, tidak cukupkah sikap manipulasi dia menyakiti Cassy untuk Lo habisi dia? Sekeras apapun Lo membantah, tapi sikap Lo yang menunjukan Maura masih lebih berharga ketimbang kita. Dan gue tidak peduli. Bagi gue dia harus hancur seperti ayahnya menghancurkan kehidupan gue."


Bara tertegun kaget, ia menegang kaku, dia syok, wajahnya memucat, ia mengutuk dirinya sendiri yang masih terbawa kenangan masa lalunya dengan Maura sebagai wanita yang tidak beruntung memiliki ayah seperti Brotosedjo. Padahal dia akan kehilangan banyak untuk seseorang yang seharusnya dia abaikan. 


Melihat Bara yang linglung, Ibnu tanpa ampun menendang Bara agar cekalan Bara di kakinya terlepas.


Dengan aura murka dia menjambak rambut Maura, lalu menariknya ke hadapan Bram dengan berdiri di atas lututnya sambil menangis.


" Bara, tolong... Bara..." Pekik Maura kesakitan akibat jambakan di kepalanya, sementara kedua tangannya memegang kaitan kain yang mulai melo-rot

__ADS_1


Maura tidak henti meminta tolong pada Bara yang diam masih mencerna omongan Ibnu.


" Lihat lah, Bram. Ulah kau biarkan nyokap gue, dan ribuan wanita diperkosa oleh para jahanam itu, sekarang kau akan lihat bagaimana putrimu akan rusak, serusak-rusaknya." Desis Ibnu dingin.


Ibnu mengeluarkan sarung tangan, lalu mengenakannya, kemudian ia mengeluarkan sebotol kecil berisi pil dari saku celananya, Jeno tahu itu adalah pil yang diberikan Ibnu pada Toni.


Ibnu memaksa kedua tangannya membuka mulut Maura yang tertutup rapat, dengan sadis Ibnu menginjak kuat tulang keringnya, akhirnya mulut Maura terbuka berteriak kesakitan, ia lantas memasukan semua pil tersebut ke dalam mulut Maura.


" Bara, ku mohon tolong Maura. Kau mencintainya, dia kekasih sejati mu. Maafkan om yang dulu menentang kalian." Bram berteriak sekuat tenaga.


Bara tidak bergeming, tatapannya kosong isi kepalanya masih memikirkan luka yang dialami Mumtaz karena keluarganya.


Matanya kini menatap Mumtaz yang mengawasi Ibnu yang berselimut kemarahannya.


" Muy, apa Lo akan membiarkan Ibnu menyakiti orang?" Jeno mendekat, ia tidak habis pikir Mumtaz membiarkan Ibnu bertindak langsung setelah sekian lama dia berupaya keras menggantikan posisi Ibnu untuk menghabisi semua lawannya.


Mumtaz menyeringai miring." Lo salah kalau Lo berpikir gue menjaga dia demi keselamatan orang lain. Selama ini gue menjaga dia agar tidak menyakiti dirinya sendiri, bukan tidak menyakiti orang lain."


Jawaban datar tanpa perasaan itu menghentakan para sahabat, mereka kini merasa tidak mengenal teman dari SMA itu.


" Soal Maura, bahkan kalau dia ingin membvnvhnya, gue silakan saja."


Teriakan Maura mengalihkan obrolan mereka, pandangan mereka kembali pada Ibnu, mata mereka semuanya terbuka lebar saat melihat Ibnu dengan santainya mematahkan satu persatu ruas jari Maura 


" BARA...Kau bisa menghukum om sepuas mu, tapi tolong selamatkan Maura."


Brotosedjo sudah pias melihat nasib putrinya yang kesakitan, di sisi lain obat perangsang itu mulai bekerja, hal itu terlihat dari Maura yang mulai menggeliat tidak beraturan.


Ceklek...


Ernest bersama kepala maid masuk, kedua mata mereka membelalak melihat kondisi Maura yang menyedihkan, mereka melihat  jari-jemarinya kedua tangannya terjuntai lemah bak tidak bertulang.


Ernest berjalan mendekat, " tuan Ibnu saya bilang untuk tidak melecehkannya secara s3xual. Dia budak saya."


" Saya bahkan tidak berminat menyentuhnya." 


" Ini apa?" Ernest meminta keterangan akan kondisi Maura yang ia tahu pasti sedang dibawah pengaruh obat perangsang.


" Itu untuk anda, atau Bara kalau dia doyan."


" Ini." Ibnu memberikan sebuah Vibrator mini pada Ernest.


" Meski saya enggan, tadinya saya yang akan memasukan sendiri ke lo-bang dia, tapi karena ada anda, tuan saja aja yang memasukkannya.


Ernest yang merasa kasihan pada Maura memerintahkan kepala maid untuk membawa Maura ke atas ranjang dan mengikat kedua tangannya menggunakan dasi ke sandara besi ranjang.


Tanpa aba-aba, dan kasar Ernest memasukan persegi lonjong itu inti Maura.


" Aaaa....kh..." Semuanya meringis ngilu.


" Apa kalian ingin melihat langsung kelanjutannya?" Sindir Ernest pada para pemuda itu.


" Saya hanya tertarik pada reaksi Brotosedjo melihat putri kesayangannya digagahi." Ujar Ibnu yang duduk di tepi ranjang menghadap tabs, ia mengeluarkan ro-kOk dari jaket dan menghisapnya kuat-kuat.


Ernest menggeleng atas respon dingin Ibnu.


" Ogah, zina mata. Paman apa muffin pesanan aku udah dibikin?" 


" Sudah, sana pergi."


" Iya, ayo Niel. Kita pergi."


" Leo, pastikan Ibnu dalam radar Lo." Ujar daniel berjalan di belakang Alfaska keluar dari kamar.


" Dan kamu Mumtaz?" Tanya Ernest saat Mumtaz mengambil telpon dari saku kemejanya karena terus bergetar.


" Saya harus menjawab telpon dari Akbar."


Sebelum Mumtaz keluar, dia menatap Bara.


" Hasil dari kerjasamanya dengan Navarro, dia berhasil menemukan Cassandra, dan melukainya. Beruntung gue dengan cepat menutup jejaknya hingga Navarro tidak mengetahui kalau kita berhasil menyelamatkan para bocil atau semua rencana kita hancur."


Bara menatap kaget Mumtaz," Cassy? Ada apa dengannya?"


" Heuh, Akbar yang notabene lebih dekat sama lo aja gak ngasih tahu Lo, apalagi gue. Urus aja si Maura, lupakan Cassandra." Tekan Mumtaz.


Bara beranjak menarik jaket Mumtaz, dengan kesal dia mengha-jar Mumtaz." Ada apa dengan Cassandra ku?" Teriak Bara berapi-api.


Di belakang mereka terdengar erangan Maura karena getaran vibrator yang dinyalakan langsung dengan kecepatan full oleh Ibnu.


Mumtaz melihat ke belakang Bara, sungguh menjijikan kondisinya dimana mata Maura merem-melek antara nikmat dan tersiksa dengan airmata terus mengalir.


" Berhenti, ku mohon berhenti...dia tidak bersalah. Hukum saja saya." Teriak Brotosedjo memohon. Padahal kondisi dirinya lebih buruk dari Maura.


" Hahahhaha, apakah ibuku bersalah hingga Lo harus menghukumnya?" Sahut Ibnu.


" Siapa kamu? Siapa ibumu?" Brotosedjo bingung dengan apa yang sedang disinggung Ibnu.


Mata Ibnu melirik Mumtaz yang menggeleng padanya, kemudian dia kembali pada Brotosedjo.


" Aku, putra dari para ibu yang menjadi korban dari keserakahan mu." Ucap Ibnu mendramatisir.


" Yakin Lo gak peduli pada Maura? Lihatlah kebelakang Lo, dia sungguh terlihat keturunan jalanknya." Mumtaz menyeringai sinis.


" Persetan dengannya, katakan, ada apa dengan Cassandra ku?"


" Dia tertabrak, tepatnya ditabrak saat menuju apartemennya. Kini dia di rumah sakit. Gaunzaga sudah menemukan pelakunya, dan mereka mengatakan mereka melakukannya atas perintah Maura."


Saking terkejutnya, kaki Bara melangkah mundur lunglai, Beruntung Rizal memapahnya ke sofa terdekat.


" Lo bilang lo gak tahu kemana Cassy?"


" Memang, sampai Akbar menghubungi gue untuk meminta bantuan gue melacak penabrak mereka, dan menghilangkan jejak keberadaan Cassy."


" Bagaimana keadaannya?"


" Gue baru mau ngangkat telpon dari Akbar saat Lo nonjok gue."

__ADS_1


" Sudahlah, gue cabut. Dan kalian juga pergi, kecuali kalian ingin melihat adegan por-n0 langsung. Lo gak liat Rio sedang merekam dia." mereka melirik ke arah Rio yang berdiri di belakang Ernest sibuk mengarahkan kamera ponselnya pada Maura.


Para sahabat melangkah mengikuti Mumtaz keluar kamar sembari menggeleng.


Meninggalkan Bara  yang tenggelam dengan informasi baru terkait kekasihnya, teriakan dan erangan Maura menyadarkannya kembali pada realita.


Bara menatap dalam Ibnu yang menyeringai lebar menikmati jeritan penderitaan Bram dengan sesekali menyesap ro-k0knya entah batang yang ke berapa.


Matanya kini beralih pada Maura yang sedang dibawah Ernest yang terus menusuk miliknya pada benda intimnya menggantikan vibrator.


" Ku...mo..hon..hentikan..i..ni..sa..kith..." Rintih Maura sambil merem4s da-danya yang diangguri Ernest yang lebih  tertarik memainkan bagian bawahnya.


Maura bisa merasakan intinya sudah membengkak, bahkan dia merasa 'milik'nya robek akibat benda panjang dan tiga jari yang bermain di dalamnya.


Rio bahkan merasa tidak terganggu akan aktifitas senonoh itu, baginya dia hanya harus memanipulasi pikirannya bahwa ini hanya konten biasa untuk channel You*ube-nya.


Bara beranjak mendekati Ibnu yang segera mengalihkan pandangannya pada Bara.


" Apa kau membenciku?" Bara menelisik manik hitam itu.


" Enggak, gue gak punya waktu mikirin Lo."


Balasan itu menyesakan Bara, itu menandakan kalau kini jarak diantara mereka kian jauh.


" Apa yang bisa gue lakuin supaya kalian maafin gue?"


Ibnu melihatnya menilai, namun detik kemudian menyeringai meremehkan.


" Gak ada, Lo cuma bacot doang gede."


Mata Bara terpejam, menyerap rasa sesak di dadanya. Kini dia tahu betapa berartinya keprcayaan Ibnu bagi dirinya, apalagi Mumtaz.


" Apa mematahkan kedua tangan dan kakinya cukup?"


" Heh, hahaha. Lo lupa Zayin saja mampu meretakkan tangan wanita paruh baya sekelas Sandra Atma Madina, Lo sang legenda tarung cuma bisa matahin, malu sama gelar." Sindir Ibnu.


" Sebut apa yang Lo mau, bangs4t." Bentak Bara.


" Hunvskan puntung ini ke li-dah dan te-linga dia." Ibnu menyodorkan rokoknya yang menyala pada Bara.


Bara kaget bukan main Ibnu bisa sekejam itu, begitupun dengan Rio. Pria yang dikenal paling sabar, baik, dan santun diantara petinggi RaHasiYa ternyata menyimpan pribadi gelap dalam kemarahannya.


" Okay, done." Bara mengambil ro-k0k tersebut.


Maura yang melihat Bara menaiki ranjang diiringi teriakan pengampunan dari Brotosedjo menarik sudut bibirnya bersyukur.


" Ba..rah..to...longh...sen..tuh a..kuh..."


" Permisi paman." Ernest mengangguk sambil mengerang karena puncak kenikmatannya mengeluarkan cairannya lalu ambruk di samping ranjang tidak peduli dengan apa yang akan dilakukan Bara 


Menggunakan kain bekas pakai Maura ia membuka mulut maura, lalu menarik paksa li-dah Maura, tanpa hati Bara menekan-nekan puntung itu ke tengah-tengah li-dahnya.


Maura berontak tersiksa, airmatanya mengalir deras. Brotosedjo sudah meraung minta dihentikan dia sungguh mengemis ampunan.


" Rio, korek api." seru Bara dingin, Ro-k0k tersebut padam.


Saat Bara tengah menyalakan kembali pun-tung itu, Ibnu berjalan mendekati Maura seraya mengeluarkan suntikan dari saku bagian lutut celananya.


Sesaat ia menjentikkan, lalu mengambil puncak da-d4 Maura, lalu menyuntikkan cairan ke kedua da-danya.


Bara dan Rio bingung melihatnya." Ini adalah pemicu perkembangbiakannya hormon penyebab kan-ker payu-dara. Secantik apapun wanita jika tidak punya da-da, tidak akan ada yang mau. Dan ini, karena Lo berani mengganggu Cassandra kami."


" Aa..ampun..." Maura melemah.


" Terlambat, seharusnya Lo bersyukur Mumtaz baik sama Lo, bukan menunjukkan kalau Lo punya bakat mu-rah4n setelah kami mengasihani lo." Desis Ibnu tajam.


Semuanya terhenyak, pribadi ini diluar ekspektasi mereka.


Bara yang sudah menyalakan kembali ro-k0k itu memiringkan kepala Maura, kini telinga sebelah kiri yang menjadi i sasaran.


" Bram, semuanya karma kau." ucap Ibnu.


*****


Di lantai dasar mereka mengelilingi meja makan panjang menikmati muffin cokelat dan secangkir cappuccino.


" Muy, apa sekejam itu perbuatan mereka sama keluarga Ibnu?" Tanya Haikal.


" Kalau kejahatan, relatif. selain itu, dampak dari itu yang membuat gue tidak bisa membiarkan siapapun lepas. Buktinya memberi sedikit hati pada Maura merupakan kesalahan besar gue."


" Bagaimana keadaan Cassy? Tanya Ubay.


" Kemungkinan dia gagal menjadi dokter." Ucapan Mumtaz mengagetkan semuanya.


" Dan itu salah gue." Mumtaz memutar-mutar cangkir cappuccino-nya merenungi keputusannya yang salah.


"  Bagaimana mereka bisa tahu?" Tanya Alfaska.


" Ternyata Maura lebih cerdik dari yang kita bayangkan, dia meminta seseorang dari Navarro mengikuti gerak-gerik keluarga Hartadraja sebagai imbalan informasi para bocil dari Bara, Matunda mensabotase semua laporan orang itu sampai ke Navarro yang sibuk karena semakin lemahnya kondisi tubuh dia."


" Bagaimana orang itu sekarang?" 


" Nasibnya ada di tangan anak buah om Damian."


" Muy..." Ibnu bersama Rio, dan Leo memasuki ruangan.


" Sudah?"


" Hemm, untuk saat ini."


" Bersihkan diri, Berto nunggu kita."


" Iya."


Yuk partisipasinya untuk cerita ini....vote,like, komen, hadiah, tipsnya juga ya. jangan lupa baca karya aku yang lainnya ya!!!


 

__ADS_1


__ADS_2