Terikat Mumtaz

Terikat Mumtaz
215. Awal Dendam Ibnu.


__ADS_3

Ibnu menatap malas Rio yang berbaringan di ranjangnya dengan headphone terpasang di telinganya yang menyambung ke laptop yang menampilkan mobile legend.


Ibnu menendang bokongnya, melepas headphone-nya." pergi, Lo pikir kamar gue kostan Romli."


" Gak bisa, gue dititipin Lo sama si Mumuy. Lo bilang aja sendiri sama dia Lo gak mau bareng gue." jawab Rio sambil mengenakan headphone-nya. Ibnu mencebik malas merespon alasan Rio.


Ibnu kembali duduk di kursi meja belajarnya melanjutkan membaca satu file yang sudah berhasil kembali dia buka. ini file yang ketiga yang berhasil Ibnu buka.


Empat puluh lima menit sudah Ibnu habiskan untuk membaca tanpa jeda, sepanjang itu tanpa sepengetahuan Ibnu Rio mengamati air mukanya yang berubah-ubah.


Rio kaget saat dengan gerak gesitnya Ibnu berdiri lalu berlari menuruni tangga, saat dianak tangga terakhir berpapasan dengan Romli yang membawa nampan berisi tiga gelas susu putih dan tiga piring cemilan untuk petinggi RaHasiYa atas permintaan Mumtaz.


" Nu, mau kemana? teriak Romli saat Ibnu berlari ke arah pintu.


Tidak menanggapi teriakan temannya, Ibnu menarik acak kunci motor yang digantung di kastok, lalu mengambil ceru-lit, serta jaket kulit kemudian keluar rumah.


Romli yang melihat itu mengoper nampan pada anak RaHasiYa junior yang kebetulan lewat." kasih ke bang Afa dan bang Daniel." Romli bergegas menyusul Ibnu.


Saat Ibnu hendak menstarter motornya Romli langsung loncat ke boncengan motor sport Rio, Ibnu menoleh." gue ikut, jalan." tangan Romli melingkari erat pinggang Ibnu.


Dari dalam rumah, Rio menuruni tangga dengan langkah tergesa-gesa, mendengar suara motornya ia berlari cepat keluar rumah. saat sampai di halaman motornya sudah melaju kencang dengan suara nyaring.


" Siapa yang bawa motor gue?" tanya Rio kembali ke dalam rumah.


" Bang Ibnu sama bang Romli." jawab si kriting yang baru membersihkan halaman.


" Owh, si4l." Rio kembali ke arah pintu mengambil kunci motor ngasal pergi yang ternyata motor sport milik Daniel. ia melajukan kencang motor itu mengikuti GPS motornya.


Rio segera menelpon Leo yang ternyata baru menyentuhkan bok0ngnya dengan kursi meja makan.


" Hallo."


" Ibnu pergi, Lo ikuti GPS hp gue." sahut Rio diseberang, Leo beranjak cepat ke arah kastok khusus Jaket dan kunci kendaraan.


******


Mumtaz duduk bersama Matunda di bangku taman di taman kota tua membahas kondisi terkini Navarro.


Di tangan Mumtaz kini beberapa kertas berisi daftar kekayaan Navarro yang sudah lepas dari kekuasaannya.


" Pengambilalihan pusat organisasinya oleh Gaunzaga, keruntuhan gedungnya di Jakpus, pemblokiran rekening, penutupan bisnisnya membuat dirinya jatuh bangkrut. Dia menggunakan Maura dengan harapan bisa mengambil seluruh harta warisannya untuk mendanai aksinya, namun gagal."


" Satu-satunya harapan dia hanya Sivia dia berharap lewat Sivia dia bisa menekan tuan Gurman untuk menyerahkan emas simpanan nyonya Guadalupe yang disimpan di mansion Guadalupe yang terletak di berbatasan dengan Amerika yang saat ini dikuasai kartel Sinolan Jaquino."


Matunda mematikan puntung nikotinnya di tempatnya, ia menengok ke Mumtaz. 


" Jadi kalau tuan ingin menyerang dia saat ini dengan mudah anda mengalahkannya."


Mumtaz menutup laporan itu dan memasukannya ke ranselnya." Saya tidak menargetkan fisik, tapi mentalnya. seperti apa yang terjadi pada Ibnu."


" Ku pikir dia juga sudah mulai hilang fokus, meski dia menonton langsung acara pelelangan di The Flawless dia tidak menyadari kalau Maura ada di tengah mereka."


" Apa dia curiga kalau kamu kerja padaku?"


Matunda mengangkat kedua bahunya." Entahlah, dan saya juga tidak peduli. Bagaimana pun dengan dipecatnya Mateo hanya saya yang bisa dia andalkan terkait cyber."


" Tetap saja kamu harus hati-hati."


Matunda mengalihkan perhatiannya, ia menunduk menahan tangis." Terima kasih masih peduli padaku." Ucapnya serak.


Matunda akan selalu emosional kala ada yang menaruh perhatian padanya., setelah keluarganya membuangnya.


Mumtaz berdiri dengan ransel di tangannya." Jangan begitu, kau tahu saya selalu peduli padamu dan keluarga mu."


Matunda mengangguk," katakan saja anda mau apa, saya pasti mewujudkannya." 


Mumtaz menggeleng." Berjanjilah padaku kau akan mengunjungi orang tua mu, walau mereka memalingkan wajah darimu. Percayalah ketika mereka tiada, tetap saja itu akan menjadi luka yang dalam."


" Baiklah akan aku lakukan."


Matunda sebelum diselamatkan oleh Ibnu dan Mumtaz dari kejaran interpol  karena berhasil meretas dan mencuri uang dalam jumlah yang banyak dari beberapa bank di dunia, merupakan anak terpandang salah satu bangsawan Spanyol, kejahatan cyber-nya yang membuat dia dibuang dan dihapus dari silsilah keluarga.


Rekening bank-nya yang di Swiss diblokir atas permintaan negara dari bank yang dia curi dan hidup dalam pengejaran interpol yang mengakibatkan dirinya jatuh pada kehidupan tunawisma.


Satu hari dimana dirinya terlacak oleh interpol Italia, Matunda segera disembunyikan oleh Mumtaz yang saat itu diundang oleh intelijen Italia untuk peningkatan kemanan cyber negaranya dalam pengejaran para mafia.


Mumtaz menghapus semua jejak digital Matunda dan mengembalikan uang yang telah dicurinya ke masing-masing bank, uang yang telah ditarik Matunda diganti oleh Mumtaz menggunakan uang pribadinya.


Saat Matunda muncul kembali ke permukaan, dirinya berstatus bebas tanpa dakwaan atas jaminan seseorang yang tidak diketahui identitasnya. Hanya Matunda, Mumtaz, dan Ibnu yang mengetahui siapa penjamin Matunda.


Drrt...


Satu panggilan masuk dari Leo,


" Halo."


" Ibnu menuju gudang persembunyian Andre dan Mulyadi."


"  Oh, shitt. Lo ikuti dia, gue nyusul."

__ADS_1


Mumtaz mencangkolkan ranselnya, dan berkata pada Matunda.


" Kau pastikan Navarro tidak menyentuh Sivia atau keluarga Gurman lainnya, karena kami sudah menjadi partner bisnis untuk bisnisku di Amerika Selatan ( latin) yang akan ku serahkan pertanggungjawaban padamu. Temb4k di tempat jika ada yang membangkang."


Matunda kaku di tempat duduknya dengan raut kaget." Tuan..."


" Satu-satunya cara kau mendapatkan pengakuan dari keluarga mu adalah dengan menjadi orang sukses di tempat yang benar dengan cara halal dan patut. Jadi setelah urusan Navarro berakhir kau langsung pergi ke sana, saat ini Spanyol tidak terlalu ramah untukmu."


" Tuan, ini berlebihan. Aku sungguh tidak bisa menerima kemurahan hati mu lagi."


Pletak...


Mumtaz menjitak kepala Matunda karena gemas bercampur kesal. Ia paling tidak suka jika ada orang yang tidak percaya diri bahwa dirinya berharga dan berarti, baginya setiap orang punya nilai, dan nilai itu disediakan dengan karakternya sendiri-sendiri.


" Lakukan untuk ku, hmm?!" Matunda mengangguk cepat.


" Adios."


Mumtaz langsung berlari menuju tempat parkir, hatinya gelisah dengan apa yang akan Ibnu lakukan pada dua tawanan mereka.


Marahnya orang yang teramat sabar akan selalu beda dengan marahnya orang yang s lalu marah seperti Alfaska.


Dia sangat ingat akan apa yang telah mereka lakukan pada orang tua Ibnu sebelum api itu membakar seluruh rumah.


*****


BRAKH.....


Dengan nafas ngos-ngosan Mumtaz melangkah masuk ke dalam gudang gelap disambut bau amis khas darah segar yang menyebar ke seluruh ruangan itu.


" NU, IBNU...INU...IBNUUU..."


" MUMTAZ .." teriakan bersuara serak tercekat dari seseorang yang dari siluetnya duduk lemah di lantai lembab gudang.


PRAKH...


Mumtaz menoleh pada pintu, ada dua siluet yang masuk gudang mendekati dirinya dengan nafas ngos-ngosan seperti dirinya.


" IBNU...IBNU...IBNUUUU...." Teriak Alfaska sampai urat lehernya menonjol nyata.


Daniel menuju saklar lampu mereka bertiga melindungi mata dari sinar silau lampu.


Setelah menyesuaikan diri, mereka menghadap ke arah sayup-sayup rintihan, dan mata mereka melebar besar seperti hendak keluar.


Daniel memutar badan dan berlari keluar memuntahkan isi perutnya, ia segera menelpon rumah sakit.


Dengan tubuh lemas, Daniel kembali ke dalam gudang.


" Sshuutt...tidak apa-apa, semuanya telah berlalu, semuanya baik-baik saja, ada gue."


" Muy,..Ib...Ibnu yang melakukan semuanya..." Suara bergetar Romli melahirkan rasa kasihan dari mereka bertiga karena dirinya harus menyaksikan kekerasan yang selama ini mereka sembunyikan dari para teman kampusnya.


Beberapa jarak dari Romli duduk, dua orang terbaring meraung kesakitan yang berlantaikan simbahan da-rah segar sedang memegangi erat alat vi-talnya yang sudah bun-tvng yang masih mengalirkan da-rah segar. Sebuah cerulit yang berlumur darah tergeletak sembarangan, yang tidak jauh darinya terdapat dua potongan kepala alat vi-tal yang diyakini milik Andre dan Mulyadi.


Di pojokan Sintia menangis tersedu-sedu memegangi pipinya yang dari mulut dan hidungnya ada bekas darah, rambutnya sudah berantakan, wajahnya babak belur, tubuhnya yang penuh lebam hanya berbalut robekan dress. Kain bagian atas sudah lenyap hanya br4 yang menutupi da-danya.


Di sekitarannya banyak cairan putih pekat lengket yang mulai mengering, di antara selang-kangan masih terlihat nyata dan sedikit basah jejak cairan spe-rma.


" To...to...Lo...ngh...." Rintih Andre lemah, satu  tangannya hanya mampu terangkat sedikit.


Mumtaz menelpon Leo," Lo dimana?"


" Di mansion tuan Ernest."


Bagi Mumtaz beberapa kata itu menjelaskan segalanya, hal yang tidak diinginkan akan terjadi jika tidak dicegah.


" Rom, sorry, Lo harus melihat semuanya, gue belum bisa menghibur Lo karen gue harus ngejar Ibnu, ada Ragad di luar yang akan bawa Lo pergi dari sini."


meski lemah, Romli masih bisa mengangguk." pergilah, hari ini Ibnu bukanlah Ibnu." ucapnya dengan tatapan kosong.


" Kita harus segera pergi, Inu ke mansion pak Ernest." Ujar Mumtaz setelah menutup telponnya pada Daniel dan Alfaska, lalu berlari keluar disusul Daniel dan Mumtaz.


Di luar mereka bertemu Ragad yang menyandar menunggu di badan mobil. Tubuhnya langsung tegak saat mendapati atasannya terlihat tergesa-gesa.


" Lo tunggu ambulance, kita pergi dulu." ucap Alfaska naik ke atas motor Mumtaz.


Ragad melirik Mumtaz yang mengamanatinya untuk menjaga ketiga petinggi RaHasiYa, Mumtaz mengangguk tipis. Sembari memasang earpieces lalu mengenakan full face helmet-nya.


" Siap, bos."


" Nanti, setelah ambulance pergi, Lo bawa Romli ke psikiater, dan beberapa anak RaHasiYa untuk membersihkan gudang." seru Daniel sebelum masuk mobil yang dikemudikan Bisma yang mendapat mandat dari Jeno untuk selalu melayani petinggi RaHasiYa.


****


Bara, para sahabat, beserta Randy memasuki mansion Ernest disambut Ernest yang masih mengenakan bathrobe padahal jam sudah menunjukan pukul 11.30 WIB.


" Sorry tuan Atma Madina, saya tidak bisa menjamu Anda dengan pakaian layak seharusnya." Sambut Ernest duduk di sofa tunggal berhadapan dengan Bara di ruang tamunya yang luas dan megah.


Bara mendengkus malas akan basa-basi Ernest, " saya yakin anda mau pamer dengan tidak sungkannya."

__ADS_1


" Hahahaha ketebak juga, saya masih butuh ego, tuan."


" Paman Ernest berhentilah memanggilku tuan, panggil saja aku Bara seperti biasa." 


" Baiklah, apa gerangan yang membuatmu kemari tanpa sepupu mu yang menyebalkan itu." Ucapan pihak yang menyebalkan itu adalah Alfaska yang selalu tidak mau kalah dalam mendapatkan tender.


" Saya kemari untuk mendatangi Maura."


" Perjanjiannya sebulan, dan penanggung jawabnya adalah pewaris tunggal Wibowo." Mata Erenst menunjuk pada Randy.


" Say tidak untuk mengambilnya, hanya ingin meminta klarifikasinya karena teman saya bilang dia melakukan sesuatu yang membuat saya marah setelah saya berbaik hati padanya."


" Baiklah, kalau untuk hal itu saja, tapi anda harus menunggu karena dia sedang dibersihkan." Ernest yang menganggap Maura sebagai objek tidak menyulut kemarahan Bara.


Tidak lama kepala maid mendatangi Ernest." Tuan, kamar telah siap."


" Antarkan tuan Atma Madina menemuinya." Titah Ernest yang diangguki kepala maid.


Bara memasuki kamar tidur luas berlapis emas dan warna merah maroon yang harum wangi semerbak khas menciptakan suasana sensual. 


Maura duduk di atas ranjang dengan kaki berselonjor tampak segar sehabis mandi yang hanya berbalut kain tipis melingkari da-da sampai pa-ha atas tanpa penghalang  lain dibalik kain yang berwarna tipis itu.


Maura menoleh saat seseorang yang ia hafal baunya dengan tatapan kosong, wajah pucat, mata bengkak, sekitaran leher sampai pundak penuh bercak keunguan peninggalan kemesraan.


Tangannya refleks terangkat menggapai, dan airmatanya mengalir saat Bara tidak membalasnya. Bara malah duduk di kursi yang ditarik Ubay di letakan dekat ranjang.


" Apa kau ingin saya menolongmu?"


" I...iya...pleassseee...." Suaranya pelan dan serak karena habis untuk menangis.


" Katakan kejujuran padaku, kau tahu kan aku membenci pembohong." Maura mengangguk cepat.


Bara menoleh ke Haikal yang ia kemudian berjalan mendekati Maura memberi foto-foto kebersamaannya dengan Bara di apartemennya.


" Apa kau memberi gambar ini pada Cassy-ku?" Ucap Bara dingin.


Maura tidak menjawab, ia malah menatap Bara dengan mata melasnya dihiasi butiran kristal bening di pelupuknya.


 Bara mengetatkan rahangnya, " Kau tidak menjawab, saya asumsikan kau melakukannya."


" Ba..wa aku pergi dari tempat laknat ini baru aku jawab."


" Bukan begitu aturan mainnya Maura. Di sini saya yang mengendalikan."


 Bara merapihkan jasnya, lalu berdiri." Kalau kau tidak mau menjawabnya tidak berdampak apapun padaku, tapi kau tidak menghormati ku. Saya bisa mengajukan perpanjangan waktumu di sini pada Randy selaku penanggung jawab mu."


Maura menggeleng cepat." Ti.. tidak ku mohon jangan..."


Semalam bagai hari akhir dari kehidupannya dan dia berharap begitu adanya, mengingat Ernest memperlakukan dirinya kasar saat mengambil kesuciannya dan terus meng-gempvrnya hingga matahari terbit agar tinggi.


Bara kembali duduk di kursi itu, lalu menyilangkan kakinya.


Maura memejamkan mata tidak tahan melihat keasingan di mata mantan kekasihnya itu.


" Iya, aku... melakukannya, karena melihat kepedulianmu padaku, ku yakin kita masih saling mencintai. Kita tidak akan bisa bersama selama Cassandra masih ada diantara kita."


Terdengar tawa terbahak yang menggelikan masuk ke gendang telinganya.


" HaHAHAHAHHAHA... lucu, lucu sekali perkataan mu. Meski di dunia ini tinggal ada kau, saya tidak sudi mempersunting mi, manipulator." ucap Bara dingin.


" Kau memilih bersamaku ketimbang dia setiap kali aku memintanya. apa itu kalau bukan kamj masih mencintai ku."


Wajah Bara berubah dingin dan kejam." Ralat, kau menelpon memohon dan merengek agar aku merawat mu karena asma mu kambuh, bukan setiap kali!"


" Aku di sini karena kamu, Bara. dan kamu harus mempertanggungjawabkannya. tidak akan ada lagi lelaki yang mau menikahi ku, aku kotor."


" Berapa kali ku bilang itu atas kebaikan Mumtaz sebagai teman sekolahnya bukan aku. Kau dungu atau 1diot, HAH.


" Dan jika tidak ada orang yangmau dengan mu karena kotor, mengapa saya harus memungut sampah seperti mu, tidak sudi."


Bara berdiri, Maura panik. Ia tertatih-tatih membawa tubuhnya menyebrangi ranjang 


" Bara, please...kau sudah berjanji."


" Apa yang saya janjikan Maura?"


" Membebaskan ku jika aku berkata jujur."


" Benarkah aku berjanji?, ingat kembali perkataan ku, adakah aku berjanji?"


Tubuh Maura tertegun kaku, wajahnya menegang saat dengan sendirinya otaknya memutar memori percakapan mereka barusan.


Maura menggeleng cepat karena panik, sedangkan Bara tersenyum smirk padanya." Saya hanya bertanya, Maura. Bukan menjanjikan. jadi orang jang suka menafsirkan seenak jidat apa yang ada di depanmu."


" Bara, pleasee..kau mencintaiku, demi masa depan kita bebaskan aku..." Rintihnya dengan suara seraknya.


BRAKH...


Semuanya terlonjak kaget, kemudian mengernyitkan kening saat Ibnu dengan langkah pelan dramatis memasuki kamar dengan pakaian penuh jejak darah, hal itu tercium bau amisnya dan sedikit menghiasi wajahnya.

__ADS_1


Matanya menatap tajam Maura, dan langkahnya terus menuju ranjang, berhenti saat dia sangat dekat dengan targetnya....


Baca juga karya ku yang lain Kamu Yang Aku Mau!!!!


__ADS_2