
Makan malam di mansion Gonzalez berformasi lengkap dengan suasana santai.
" Raul, bisakah kau menjadi putra yang berguna untuk papa mu yang sedang terkena masalah? Setidaknya lakukan sesuatu." Sindiran langsung Guadalupe ditanggapi santai oleh Raul
" Nek, bukannya akuu tidak mau membantu papa, tetapi papa tidak pernah mempercayakan satu bisnisnya padaku, jadi aku tidak paham dengan apa yang sedang terjadi." Jawabannya terkesan masa bodo dengan skandal Papa-nya yang memancing kegeraman Guadalupe.
" Tapi Papa mu akan dibui, kenapa kamu tidak bisa berkorban untuk ayahmu "
" Ma, sudahlah, kami sudah membahas tentang ini, dan dia memang tidak berguna." Cemooh Eric.
" Eric, kamu jangan terlalu memanjakan dia."
" Ma, dia seorang pecandu, jika dia yang di penjara akan panjang urusannya."
" Dan itu hasil didikan mu."
" Yeah, tepat sekali. Ini hasil didikan Papa, dan aku menikmatinya." Seru Raul cuek.
Guadalupe dan Eric menatapnya tajam.
" Dan kau Sivia,...jadilah ****** yang bermanfaat." Tudingan pedas itu Sivia telan bulat-bulat. Toh memang dia tidak peduli sama sekali.
Di bawah meja, tangan Raul mengepal menahan emosi atas ucapan menghina dari Guadalupe.
Sivia menaruh garpu dan pisau makannya, lalu mengelap bibirnya menggunakan serbet makan dengan anggun.
" Nek, urusi saja urusan mu yang tidak tahu malu itu." Setelah mengucapkan itu Sivia bersandar dan bersedekap. Raul dan Rodrigo tersenyum tipis mendengar jawaban Sivia.
" Kamu mulai berani melawan nenek?" Geram Guadalupe dengan mata yang melotot.
" Ma, sudahlah. Perekonomian kita akan kembali stabil aku punya bisnis yang lain, dan aku tidak akan dipenjara. Lihat saja nanti." uajr Eric percaya diri.
" Baguslah kalau begitu. Rodrigo, untuk apa kamu di sini jika kamu tidak bermanfaat." Guadalupe masih mencari kambing hitam dari kekesalannya karena keberadaannya yang tidak terlalu dianggap penting.
" Kakek yang menyuruhku untuk mengawasi mu. Nek, berhenti mengejar pria itu atau kakek akan menghukum mu." Rodrigo memberi tatapan memperingati pada neneknya.
" Tapi tenang saja, dini hari nanti aku akan terbang ke Meksiko, organisasi membutuhkanku." Rodrigo pun membersihkan sekitaran bibirnya dengan serbet makan.
" Aku akan ikut dengan mu." Ucap Raul sambil menenggak wine-nya.
Eric dan Guadalupe mengerutkan keningnya heran.
" Tumben kamu ingin ke Meksiko." Tanya Eric mewaspadai.
" Kamu tidak berniat mengambil alih kekuasaan Rodrigo bukan?" Selidik Guadalupe.
Raul terkekeh, " tidak, aku tidak berminat. Aku hanya ingin menjenguk nenek Esperanza."
" Papa nanti menyusul, Papa masih belum menerima keputusan kakek kalian mencopot kepemimpinan Papa."
" Dan lihatlah, hanya kamu, sivia yang tidak berguna di sini."sarkas Guadalupe mencemooh.
Sivia yang muak direndahkan memilih meninggalkan ruang makan.
" Wow Nek, keahlian mu menjadikan suasana santai menjadi berantakan masih terasah baik, padahal sudah lama kita tidak berkumpul bersama. Aku akan mengepak barang ku untuk ke Meksiko."" Raul melempar serbet ke atas meja lalu meninggalkan ruang makan disusul Rodrigo.
*****
Di markas Gaunzaga, pukul 00.00 wib, tim gabungan RaHasiYa dan Gaunzaga sedang melakukan briefing akhir sebelum eksekusi. .
" Seperti yang kemarin kita bahas, hasil dari perkembangan investigasi kami, Gonzalez memiliki lima titik distributor level menengah di di lima wilayah jakarta sebelum akhirnya narkoba disebar.
" Ini blueprint denah ke lima gedung yang kita amati, semuanya berada di perumahan kawasan baik, terletak di lahan kosong sekitarnya
Mumtaz menayangkan di layar hologram meja rapat lima gedung yang terpencar di lima wilayah Jakarta.
" Ini bom regenerasi ke tiga buatan RaHasiYa." Mumtaz meletakan tas traveling besar ke atas meja. Ia mengeluarkan benda dari berbagai bentuk.
" Bom ini seperti bom yang lalu akan berubah sesuai benda yang ditempelinya, tetapi pada saat ledakan dia akan berubah menjadi zat dari objek dominan pemicu ledakan, Contoh: target kali ini adalah rumah yang penuh narkoba, maka dri bom tersebut akan berubah seperti zat bagaian dari narkoba, sehingga para investigator lapangan hanya mendapati sumber ledakan dari narkoba." Terang Mumtaz.
" Bang, siapa saja ketua pelaksana masing-masing target." Pandangan Mumtaz mengarah pada Dominiaz yang sedang mempelajari situasi.
" Oke, pimpinan utama koordinasi pasukan Gaunzaga adalah Leo, sedangkan Raka, Andi, Tino, Ahsan, dan Adam. Pemimpin di lapangan.
" Wey, lama tak jumpa kita." Sapa Alfaska pada Raka, Tino , dan Andi yang dulu membantu membebaskan Akbar dari jebakan Tanura. Sedangkan Adam adalah teman sekelas mereka sewaktu di SMA.
" Kenapa kalian menjadi bagian Gaunzaga, gabung aja bareng kita, capek Lo jadi anggota Gaunzaga." Seru Daniel memprovokasi.
" Dilarang mensabotase partner." Omel Dominiaz.
" Back to topic, please para alayers." Sindir Ibnu.
" Baik, emak!" Daniel dan Alfaska menjawab sok patuh meski mulut mereka mencibir Ibnu.
" Lagian Lo darimana aja baru lihat mereka?" ujar Ibnu sinis.
" Emang Lo tahu mereka anak Gaunzaga?" Cibir Alfaska
" Kan tadi di depan kita cipika-cipiki." Jawaban Ibnu dibalas ringisan jiji dari Raka dan yang lainnya.
" Nu,...jangan terjebak. Sesungguhnya mereka bagian dari godaan syetan, awws." Alfaska dan Daniel langsung menggeplak punggung Mumtaz.
" Okey, Jeno, akan menjadi pimpinan utama, di belakangnya ada Jarud, Galang, Rio, Raja, dan Haikal. Sebagai pelapis kedua kalian." Imbuh Ibnu.
" Masing-pasukan beranggotakan 10 orang." jelas Samudera."
Mumtaz membagi beberapa alat ledak kepada mereka.
" Kalian harus menempel bom di tempat yang telah ditentukan sebelum jam dua, beri mereka waktu untuk bermutasi sesuai yang diharuskan. Semua bom itu akan berpusat pada satu titik pemicu." Mumtaz menunjukan benda berbentuk silinder dan memberikannya pada Dominiaz.
" Khusus ruang bawah tanah, kalian menggunakan bom yang panjang, itu di desain berkekuatan sangat besar."
" Benda Segede upil bang Rio ini?" Celetuk Raja."
" Biar kecil daya ledakan bisa menghancurkan satu desa." Jelas Mumtaz.
" Oke, kalian sudah punya blueprint target di tabs masing-masing, jangan sampai lalai."
" Untuk bagian Jakarta pusat, bom yang disediakan lebih banyak, karena gedung berisi juga senjata api dan tidak jauh dengan istana, jadi teliti penempatannya, supaya hancur lebur." Peringatan Mumtaz
" Meski ada penembak jitu dari TNI, kalian tidak boleh lengah, oke? Seru Daniel.
" Siap." jawab mereka serempak.
Kini mereka sedang mempersiapkan diri dengan seragam anti peluru berwana hitam serta topeng, earphone sebagai alat komunikasi antar pasukan yang bebas dari gannguan luar, serta drone pengawas. mereka mengendarai motor trail yang sudah di modifikasi tanpa suara dan getar.
Di masing-masing tempat, pasukan sudah bersiap di tempat kumpul yang sudah di arahkan.
Misi kali ini dipimpin oleh Dominiaz, dia mengamati keadaan lewat dua laptop melalui kamera yang tersebar di empat sudut masing-masing target serta drone pengintai jarak jauh yang biasa dilakukan oleh angkatan bersenjata dalam operasi militernya.
" Cek, *sniper*." Dominiaz, melalui laptopnya melihat beberapa titik menangangkat jempolnya di atas atap gedung berjarak beberapa rumah dengan lokasi target.
" Cek, Gardenia house."
" Ready." Dan seterusnya.
" Tepat pukul 01.00 wib dimulai waktu kalian memasang semua target hanya waktu maximal 45 menit dimulai hitungan mundur...3...2...1...Go."
Tertayang beberapa pergerakan pasti dan tertuju menuju masing-masing lokasi.
Samudera mengamati monitor laptop dengan seksama Jakarta Barat dan selatan, sedangkan Hito mengamati timur dan barat, Heru mengamati bagian pusat. Sementara petinggi RaHasiYa dan Bara mengamati dari dekat dimasing-masing lokasi sesuai kesepakatan mengantisipasi pergerakan lawan secara mendadak.
Gardenia house, sebagai lokasi gudang pertama level menengah dari gudang level atas tentu mendapat perhatian tersendiri.
Tanpa diketahui oleh yang lain Mumtaz menanam bom disekeliling Pagar area rumah yang dapat bermutasi menjadi hewan bawah tanah yang berjarak tiga meter dari masing-masing bom, khususnya di again belakang rumah.
Ia menanam bom silinder sebanyak sepuluh yang ia pendam di lima titik dengan kedalaman lima meter, selanjutnya bom tersebut akan bergerak dengan sendirinya mendekati terget.
Sejauh ini tidak terlihat pergerakan mencurigakan, tiba-tiba dari lokasi jakarta pusat terdengar suara,
Jleb!!! Jleb!!!
" Akkh..." Terdengar suara erangan dari beberapa orang sebelum sunyi.
" Bagian pusat, harap ke bagian belakang halaman sembunyikan dua jenazah tikus mati beserta alat bukti." Suara tegas Zayin menyadarkan para pihak.
Tino dan Haikal, terkejut dengan laporan itu, pasalnya mereka berdiri di tempat yang disebutkan, begitu mereka menoleh, tak jauh dari sana dua pria tergeletak tak bernyawa.
" Gardenia. Raka, tiga langkah dibalik tembok ada tikus mengintai." Suara Daniel melapor.
Raka yang betugas dengan Jarud langsung bersembunyi, Jarud mengawasi, Raka mendekati target tiba-tiba perutnya ditendang lawan dari arah belakang samping saat ia berbalik hingga dia terjatuh dan pisaunya terlepas
Tak punya waktu mengambil senjata cadangan, dia hanya bisa berguling demi menghindari serangan lawan tiba-tiba,
Cleb!!?
" Aakh.." Jarud melempar sebilah belati yang menghunus leher lawan.
Teriakan lawan yang terkapar mengundang perhatian rekannya, dua orang dari mereka ditugasi mendatangi lokasi mereka.
Jleb!!! Jleb!!!!
" Dua Tikus masuk got tenggelam, gardenia lanjut waktu menipis." William menimpali.
Tak punya banyak waktu Raka dan Jarud melanjutkan tugas mereka dengan resiko mereka ketahuan menyusup karena tidak menghilangkan jejak mereka.
__ADS_1
Dalam waktu 40 menit masing-masing kelompok melapor.
" Selatan, *done*. Lapor Adam
" Barat, *done*." Seru Tino.
" Utara, *done*. Lapor Ahsan.
" Pusat, *done*." Andi melapor.
" Cek, timur." Titah Dominiaz.
" Tinggal satu tempat, ruang bawah tanah. Penjagaan ketat." Jawab Raka.
" Mereka telah mengetahui keberadaan kalian." Tutur Daniel.
" Pasukan keluar, kalian *done*." Ujar Mumtaz.
" Tapi tempat bawah tanah belum..."
Dor!! Dor!!
Terdengar suara tembakan dari arah samping.
" Kami terdeteksi, posisi aman." seru Raka.
" Kalian keluar, sekarang!! Play, lindungi mereka!!" Perintah Dominiaz.
Hening...
" Waktu kalian pass, dalam waktu dua menit bersihkan medan, *playman* mengawasi." Seru William.
" Siap, laksanakan." Suara Raka tersirat rasa kekecewaan terhadap dirinya yang tidak bisa menyelesaikan misi.
Dalam waktu 60 menit semua orang telah berkumpul titik yang sudah ditentukan, yaitu A&D resto, milik Erros Al-Tairo dan Dennis yang sudah dibooking oleh Gaunzaga.
" Kalian seperti sekelompok mafia saja." Tutur Erros menghidangkan berbagai pasta di atas meja panjang hasil dari gabungan beberapa meja.
" Yeah, tentu saja." Zayin melahap habis sepiring spageti Bologna.
" Bang, enggak ada pizza?" Zayin mengusap-usap perutnya yang masih lapar.
" Ada, yang *large*?" Zayin mengangguk karena sibuk mengunyah pasta milik Raja.
" Dua, Bang." Teriak Adam, Erros mengacungkan jempolnya.
Saat ini tepat pukul 04, 40. Wib, sebagian orang sedang melaksanakan shalat subuh berjamaah.
" Baru kali ini resto kita jadi mushala." Gumam Erros kepada Dennis.
" Bang Dennis, Lo pake resep yang dikasih Mumtaz ya?" Alfaska melirik hidangan dihadapannya.
" Iya, kalau dipake di resto keluarga terlalu beresiko, mengingat Alfred tahu tentang kakak gue."
" Ini juga udah di modif kok pake resep tradisional." Timpal Erros.
"Tapi ciri khasnya masih kerasa, gue kan pernah makan di Navarro's resto."
" Pantes rame. harga lebih bersahabat, rasa bintang lima." Haikal ikut nimbrung.
" Gue masih enggak paham, kenapa Mumtaz mencuri resep rahasia Navarro." Pertanyaan itu selalu terbesit dibenaknya sejak dia mendapatkan resep itu dari Mumtaz yang diberinya secara cuma-cuma.
" Bahkan dua orang tersebut tidak memberitahu kita apa misi sesungguhnya saat ini." Timpal Daniel.
" Kalian tidak merasa terganggu mereka merahasiakan sesuatu dari kalian?" Selidik Erros.
Alfaska menggeleng, begitu juga Daniel," bukan merahasiakan hanya menunda, biasanya selalu demi kebaikan kami." Daniel mengembuskan nafas resah.
" Jadi sering begini?"
" Beberapa kali, ya..walau pada akhirnya dia memberitahu kita apa yang terjadi."
Ibnu melangkah mendekat, lalu berdiri tegap di hadapan mereka, mereka hanya bisa mengernyitkan kening bingung.
" Mau ikut pertunjukan ledakan gak?"
" Maulah, ngapain gue di sini kalau bukan buat nuntasinnya." Alfaska dan Daniel beranjak melangkah mendekati Mumtaz.
" Er, Den. Semuanya masukin ke rekening gue ya." ucap lantang Hito.
Dennis dan Erros mengacungkan jempolnya, gue nonton di sini aja, apapun itu."
Hito terkekeh, pantengin jam tujuh nanti."
Tanpa mencolok mereka sudah berganti pakaian keluar dari restoran.
" Belum apa-apa, gue udah bergidik ngeri aja." Dennis mengusap-udap lengannya.
" Gue melihat air muka Mumtaz gak bisa bedain misi mereka besar atau kecil, tenang banget. Dan itu lebih menakutkan." Cerocos Erros.
Pukul 06. 45 WIB. Semua anak Gaunzaga dan RaHasiYa yang mengetahui misi ini berdiri di dinding kaca gedung mereka, menantikan persembahan apa yang akan terjadi.
Di lantai teratas, lantai 25 markas Gaunzaga. Gama berdiri di samping Elena atas undangan Dominiaz.
" Domin, jangan berbuat sesuatu yang membuat kakek dan ayahmu senewen." Belum apa-apa Elena sudah sewot.
" Mom, beberapa bulan lalu mereka *menghack* perusahaan kakek, meski hanya sebentar karena diselamatkan oleh Mumtaz, mereka menjual apa yang mereka punya kepada pesaing kakek, sehingga kakek mengalami kerugian."
Elena menegang, ia tidak percaya apa yang dikatakan Dominiaz, pasalnya ayahnya tidak mengatakan apapun.
" Ini, hanya sedikit pembalasannya, tetapi bagi mereka, ini adalah mimpi buruknya." Desis Dominiaz.
Gama memperhatikan ujung kiri ruangan, ia melihat mumtaz dan Ibnu sibuk ngutak-atik laptop, sementara Daniel menyambungkan beberapa kabel ke layar LED.
" Bang, siap! Waktunya 15 detik dari sekarang." Alfaska memberitahukan.
" Mommy, lihat ya!" Bisik Dominiaz mengecup punggung tangannya.
Dominiaz mempersiapkan jari telunjuknya di atas tuas tombol picu.
Alfaska menginstruksi, " Terhitung mundur. 5...4...3...2...1..."
DDUAARRRR...!!!DUAAARRRRR!!! DUAARRRR.…!!!DUARRRR!!!!DUUAAARRR!!!!!
Baik Elena maupun Gama terjengkit terkejut dengan ledakan yang maha dahsyat dengan api bergelung ke angkasa bagaikan raksasa yang mengamuk.
Gama memeluk tubuh elena yang gemetaran dengan air muka syok.
Pukul tujuh, milyaran manusia bergerak untuk memula hari seketika terhenti, mereka yang dijalan berhenti karena terkejut, mereka yang memegang gawainya melempar gawainya karena kaget dengan tayangan mendadak peledakan, mereka yang menonton televisi hanya membolakan matanya lebar dengan mulut menganga maksimal melihat tidak percaya seperti yang dialami oleh Erros dan Dennis, semua stasiun tv dalam waktu bersamaan menayangkan ledakan tersebut dari berbagai sudut bagaikan layar teve yang terbakar yang pada akhirnya mereka semua sangat ketakutan karena merasa terkepung api.
Ledakan maha dahsyat di lima wilayah Jakarta dengan melahirkan gunung api merah di cuaca yang kebetulan cerah untuk sesaat menghentikan semua gerak, hal pertama yang dilakukan ketika sadar adalah merekamnya, sangat gambaran anak generasi Z.
" Kayak kiamat enggak sih?" Dennis bersuara ketakutan. Di bola matanya masih memancarkan warna oranye kemerahan sebagai pantulan kobaran api.
" Justru gue lagi merasa seperti nabi Ibrahim yang berdiri di tengah api." Erros nekat membuka pintu restoran, lalu keluar.
Selang 10 detik, ia mengumpat sekaligus terkaget, " Anjrit panas!!!" Erros masuk kembali dan menutup pintu.
__ADS_1
" *Seriously*?" Saking *Tidak* percayanya Dennis mengerutkan dahinya dalam.
" Coba saja kalau tidak percaya."
Saat tangannya memegang daun pintu, tangan Daniel langsung melepaskannya lagi dan mengibaskan-kibaskannya.
" Astagfirullah, panas." Erros pun menyentuhnya sedikit, lalu mengangguk.
" Gimana dengan nasib orang yang berada di dalam sana.?" Gumam Erros.
" Ya jadi dendeng hanguslah!"
\*\*\*\*\*
Keseluruhan aura Eric adalah aura hitam, meski wajahnya merah menyala, piring di atas meja sudah dilempar kala mendapat video dengan keterangan alamat lengkap yang dikirim oleh nomor tidak dikenal.
Jilatan kobaran api diponselnya ia sesuaikan dengan luapan api yang terus hadir dilayar televisi, meski ia terus berganti Chanel.
selama lima menit ia terus mengganti chanel sampai ia tersadar akan sesuatu, mereka sama-sama menayangkan kobaran api, tetapi penjelasan alamat dibagian bawah layar berbeda tempat.
Ia tahu pasti alamat itu, dan ia pun yakin bahwa dia lah targetnya. Ia melempar remote tv dengan bertenaga sampai rusak berserakan, segala kosa kata huja.tan dan um.patan yang terburuk terlontar dari mulut pria itu.
Penampilannya yang semula sempurna formal, kini berantakan kusut, rambut yang semula klimis, kini acak-acakan.
jadwal hari ini pukul 07. 15 wib. rencananya akan diadakan rapat bersama para bawahan terbaiknya di Gardenia House.
Sesuai tradisi, mereka akan berkumpul 30 menit sebelum rapat agar *big bos* mereka puas, kini rencana tinggal rencana, semuanya rata dengan tanah.
Melihat keadaan putra tersayangnya kacau, Guadalupe memanggil Mateo,
" Hubungi Rodrigo!" pintanya.
" jangan!" cegah Eric.
" Eric.."
" Mama, kalau kau memanggil Rodrigo, aku akan mati ditangan Papa." seru Eric.
Guadalupe melupakan fakta itu, fakta dimana Eric mengirim segala *drug* dan senjata itu tanpa sepengetahuan Alejandro.
Selepas makan malam yang hangat dengan istri tercinta dan tercantik dipandangan matanya, Esperanza. Alejandro masih tersenyum manis untuknya.
" Ale, kenapa kamu begitu manis?" Esperanza menatap Alejandro penuh cinta yang terbalaskan.
" Dan itu hanya untukmu." Esperanza tertawa kecil malu.
" Setelah puluhan tahun kebersamaan kita, dan kamu masih malu-malu mendengar rayuanku?"
Esperanza tertunduk,
cup!
Kecupan kecil di bibir Esperanza membuat kedua pipinya memerah. Alejandro tertawa senang akan hal itu.
" Tuan, maaf, mengganggu."
Diego membisikan sesuatu ditelinganya, lalu dia memberikan ponsel pada Alejandro. terdapat pesan dari nomor Mumtaz untuknya.
" Maaf, harus menghabiskan seluruh drug milik anda, tapi saya tidak menyesal."
" Sayang, aku ke ruang kerjaku dulu ya, nanti aku menyusul kamu untuk berjalan santai."
Paham karena ini bukan yang pertama kali, Espernza pun mengangguk," jangan terburu-buru. aku menunggu mu."
Sebelum pergi Alejandro mencium punggung tangan Esperanza penuh cinta, " Te Amo ( aku mencitaimu.)"
"Diego nyalakan televisi." Alejandro sudah duduk tenang di kursi kebesarannya.
Di layar tv terpampang *streaming* kebakaran maha dahsyat.
" Bukankah itu tempatnya Eric seperti laporan yang diberikan oleh Rodrigo!?" Alejandro ingin memastikan.
Setelah memeriksa, Diego mengangguk, "betul, Tuan."
Alejandro menghembuskan nafas lega, " ini sedikit melegakan hatiku, setidaknya kita bisa persembahkan ini untuk mendiang istrimu."
Diego terdiam mematung dengan gestur berduka," sebaiknya kau beristirahat, besok kau bisa ambil libur. Maafkan aku." lirih Alejandro penuh sesal, menepuk-nepuk pundak Diego sebelum menyusul istrinya.
sepeninggal Alejandro, Diego mengeluarkan dompetnya, ia memandangi foto seorang wanita cantik yang tersenyum lebar.
" Aku merindukanmu, Mi Amor." lirihnya, ia mencium foto itu begitu syahdu.
\*\*\*\*\*\*
Di Sisilia, Italia.
Da pria beda generasi menatap layar tv dengan tawa terbahak-bahak senang,
" Filippo, lihatlah kelakuan keponakan mu." seru Salvatore Gaunzaga pada putra bungsunya sekaligus penerusnya.
" Sejak kapan Dominiaz mengembangkan peledak sekeren itu?" ucapnya takjub.
" Dia memang menyebalkan, dengan dalih tidak ingin membahayakan keluarga, segala gerak Gaunzaga *security* dirahasiakan."
" Bukan rahasia, tetapi misterius, Papa." koreksi Fillipo.
" Sekarang kamu bisa tenang, jangan lagi terhasut oleh Navarro yang mengatakan Dominiaz ingin menyingkirkan kamu dari calon penerus ku." seru Salvatore.
Fillipo terdiam tidak menampik,
" Sejak Dominiaz berusia 17 tahun, sebagai putra tertua dari anak tertua ku. dia sudah Papa tawarin posisi ini, tetapi dia menolak, alasannya dia terlahir untuk menjadi seorang playboy bukan mafia." Salvatore tertawa diakhir kalimatnya.
" Jauhi Navarro, dia yang selama ini mengganggu transaksi Cesa Netra di wilayah Amerika Latin, bukan Gurman." Salvatore memberi sebundel dokumen ke atas dada Fillipo.
" Baca ini, dan beritahu Papa apa tindakan kamu selanjutnya." Salvatore keluar dari ruang kerja mewahnya meninggalkan Fillipo dengan segudang teka-teki.
Dominiaz berdiri termangu, meski dia yang menarik picu ledaknya, tetapi ledakan maha dahsyat itu tetap membuatnya terkejut.
Ini melebihi ekspektasinya, terutama di Gardenia House, wilayah itu yang paling besar ledakannya yang dia perhitungan melebihi bom yang ditanam Raka, jadi pasti ada seseorang yang melakukan tugas tambahan.
Ia memutar tubuhnya, menatap Mumtaz dari kejauhan yang sibuk dengan laptopnya, entah apa yang dilakukannya, tetapi dapat dilihat olehnya senyum devil tipis tersungging di bibirnya.
Ternyata tidak hanya Dominiaz yang mengamatinya, tetapi para petinggi Gaunzaga dan RaHasiYa yang lain pun melihat itu, Mumtaz yang terlalu fokus akan tugasnya tidak menyadari itu.
Ibnu menatap bersalah pada Mumtaz, rasa takut akan pribadi Mumtaz mulai menghinggapinya, dan itu semua dia penyebabnya.
****
Di lain tempat, kamar hotel presidential suite the Sultan, Raul dan Rodrigo menatap kebakaran itu dalam diam sambil memegang segelas wine red ditangan masing-masing vbagai merayakan sesuatu.
" Apa kamu yakin, mereka bukan sekelompok penjahat?" Ucap Rodrigo merujuk pada RaHasiYa.
" Entahlah, aku tidak pernah berurusan dengan mereka hingga sekarang."
" Hidup Mama Belinda ada ditangan mereka." Rodrigo mengingatkan.
" Tapi aku percaya Dominiaz."
" Dia seorang Gaunzaga, dan kita seorang Gonzalez. banyak alasan Gaunzaga membalas dendam pada kita."
" Bukan kita, tetapi Papa."
Jeda sesaat
__ADS_1
" Mereka melakukan seperti yang kamu mau, rata dengan tanah." tukas Rodrigo tenang sambil menyesap wine-nya...